Di pekarangan depan rumah, Mamak menanam pohon petai. Ia tumbuh tinggi. Daun dan kembangnya lebat. Tapi tak berhasil menghasilkan buah sama sekali. Saya sering meledek pohon ini. Tapi toh Mamak tak menebangnya hanya karena ia tidak berbuah. Bisa jadi karena buah petai sejatinya tidak lebih penting ketimbang kembang petai.

Sebab bagi Iwan Fals, kembang petai adalah tanda cinta abadi namun kere.

Tadi malam, di perjalanan menuju timur Jawa, Bang Jibal mendendangkan “Kembang Pete“. Saya menyanyi dalam hati. Beberapa jam setelahnya, saya menelpon Mamak. Ia baru saja sholat tahajud. Kami berbincang cukup lama. Saya rindu sekali dengan perempuan yang berani bertaruh nyawa demi anak-anaknya ini.

Lagu “Kembang Pete” juga membuat saya rindu pada Rani. Beberapa lirik lagu itu membuat saya meringis. Iwan muda selalu bisa memahami kaum miskin yang berani jatuh cinta. Ia bisa paham betapa sedihnya sakit ketika uang di dompet nyaris tak ada. Atau terpaksa harus menjahit dagu karena kecelakaan, saat uang hanya cukup beli mie instan dan dua butir telur.

Sewaktu memutuskan untuk melamar Rani, saya tidak punya pekerjaan tetap. Ketika akhirnya punya gaji pertama, semua langsung ludes untuk membeli cincin kawin. Saya tak punya apa-apa, kecuali keberanian dan cinta… Taeeeeek!

Tapi hidup selalu menemukan jalannya masing-masing. Kami masih bisa bertahan dengan segala keterbatasan. Berusaha menguatkan saat ada yang melemah. Semoga selamanya begitu.

Saat halimun perlahan turun malam ini, saya kembali mendengarkan “Kembang Pete” sembari menyebarkan pikiran pada Mamak dan Rani, dua orang perempuan yang saya cintai sepenuh hati.

Semoga hidup kita bahagia.
Semoga hidup kita sejahtera.

*ditulis sembari terus diintip oleh mas Puthut*

3 KOMENTAR

  1. “sebab ongkos dokter disini..”
    “terkait di awan tinggi”
    kok yo pas cari artikel mengenai Mbah Iwan nyasarnya kesini..Kembang Pete.

TINGGALKAN KOMENTAR