Pariwisata Musik

984
Pariwisata Musik
Pariwisata Musik

Seperti yang sudah pernah saya tulis di beberapa kesempatan, saat ini saya sedang menulis tesis tentang pariwisata musik di Indonesia. Sudah masuk tahap akhir. Semoga bulan depan semua sudah kelar. Saya juga sudah jenuh dan capek dikejar urusan kampus. Hehe.

Tentu saja saya tak ingin meracau tentang penggarapan tesis di tulisan ini. Apa yang ingin saya bagi adalah sekilas tentang pariwisata musik.

Pariwisata musik adalah bagian dari new tourism, pariwisata baru. Bisa dibilang gerakan itu adalah pemberontakan atas kejumudan pariwisata lawas yang salah satu cirinya adalah mass tourism. New tourism biasanya bersifat personal. Wisatawan –terutama berusia muda– mencari wisata yang sesuai dengan hobi atau kesukaannya. Maka lahirlah berbagai bentuk wisata baru. Mulai dari ekowisata, wisata alam liar, hingga wisata musik.

Sejak kapan wisata musik ada? Sebelum sampai ke sana, perlu digarisbawahi bahwa industri pariwisata masih relatif baru. Meski perjalanan sudah ada sejak nabi Adam diturunkan ke dunia dan dikutuk mencari Hawa. Industri pariwisata bisa dikatakan mulai berkembang di negara-negara industrialis abad ke 17. Pencetusnya adalah institusi yang disebut Grand Tour.

Institusi ini adalah sekumpulan orang-orang elit seperti mahasiswa, pejabat, dan para pedagang besar. Mereka jamak berpergian keliling Eropa untuk mencari pendidikan terbaik sekaligus juga rekreasi. Saat itu fokus dari Grand Tour adalah sastra, arkeologi, dan arsitektur. Musik hanya mengambil sedikit bagian.

Wisata musik mulai berkembang di Eropa pada abad ke 19. Para agen perjalanan kala itu sudah mulai mempromosikan musik-musik opera. Di Venesia misalnya, ada banyak band dari kesatuan militer untuk menghibur para wisatawan. Di Napoli, para pemain musik bayaran mulai muncul saat festival-festival diadakan.

Pertunjukan musik klasik seperti ini adalah bentuk pertama pariwisata musik. Sejak saat itu wisata musik perlahan mulai berkembang. Terutama setelah Perang Dunia I dan era Great Depression. Pasca dekade 60-an, di mana transportasi makin beragam dan seperti melipat jarak, wisata musik semakin menemukan tempatnya.

Secara sederhana, wisata musik dapat diartikan sebagai berpergian ke suatu tempat dengan tujuan dan atau alasan musik. Baik itu mendatangi festival dan konser musik, datang ke tempat bersejarah, hingga ke makam para musisi legendaris. Mulai dari menonton festival Glastonbury, menyambangi Abbey Road, atau berziarah ke makam Jim Morrison.

Wisata musik sekarang dianggap sebagai kekuatan ekonomi penting bagi kota-kota kecil. Salah satu bentuk paling populer dari wisata musik adalah festival musik. Seiring dengan berkembangnya wisata musik, festival juga turut berkembang. Bahkan beberapa kota mengadakan festival musik sebagai acara wisata tahunan. Hal ini dikarenakan festival musik bisa jadi identitas bagi kota yang tidak punya destinasi wisata unggulan

Salah satu contoh paling menarik adalah Liverpool, kota industri dan pelabuhan di Inggris. Paska dekade 60-an, Liverpool mengalami krisis karena pabrik dan pelabuhan sudah mulai dikuasai oleh tenaga mesin. Akibatnya sumber daya manusia menjadi tidak dibutuhkan. Hal ini membuat jumlah pengangguran meningkat dengan drastis.

Pada dekade 80-an, keadaan sosial ekonomi warga Liverpool sudah semakin compang-camping. Pemerintah mulai mencari cara baru untuk melakukan pemulihan ekonomi. Akhirnya pemerintah kota Liverpool fokus kepada pariwisata musik sebagai pendongkrak ekonomi kota.

Hal ini wajar, sebab Liverpool dikenal sebagai kota kelahiran Beatles, salah satu band terbesar di dunia. Karena itu kota ini punya banyak situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Beatles. Sejak kematian vokalis Beatles, John Lennon, pada tahun 1980, kunjungan wisatawa ke kota Liverpool guna mendatangi situs-situs Beatles semakin meningkat. Lalu mulailah Liverpool mengemas diri sebagai kota kelahiran Beatles. Liverpool telah sukses “menjual” Beatles untuk jadi brand baru bagi kota tersebut.

Di luar Beatles, Liverpool juga punya beberapa festival musik skala internasional yang selalu sukses mendatangkan ribuan wisatawan.

Baca Buku Apa?

Sebenarnya, jika dibandingkan dengan kajian pariwisata lain, referensi wisata musik masih amat minim. Sejak tiga tahun lalu saya mulai berburu referensi, hanya ada belasan buku atau tesis tentang wisata musik. Sangat jauh jika dibandingkan dengan, misalkan, ekowisata atau wisata budaya. Ada ratusan buku dan kajian soal itu.

Dari jumlah yang sedikit itu, saya sangat menyarankan anda untuk membaca buku Music and Tourism: On the Road Again karya dua akademisi Australia, Chris Gibson dan John Connel. Buku ini mengupas secara tuntas mengenai pariwisata musik. Mulai dari virtual tourism; musical landscape; musik dalam kajian pasar, ekonomi, sosial, dan pariwisata; hingga pembahasan mengenai musik dan identitas keaslian suatu daerah. Kawasan kajiannya pun sangat luas, mencakup nyaris semua benua: Amerika, Eropa, Afrika, hingga Asia.

Ada juga tesis milik Concepcion Regidor Rivero yang berjudul Impacts of Music Festival on Tourist’ Destination Image and Local Community yang diterbitkan pada 2009. Rivero membahas mengenai dampak festival musik terhadap pembentukan citra dan identitas baru suatu daerah. Rivero menyatakan bahwa festival musik berpengaruh besar, terutama pada bisnis loka. Ia juga mengkaji mengenai bagaimana sebuah festival musik bisa mengangkat peran serta dan memberdayakan komunitas lokal.

Selain Rivero, referensi cukup bagus mengenai pariwisata musik berasal dari Richard Bret Campell yang menuliskan paper berjudul A Sense of Place: Examining Music-based Tourism and its Implication in Destination Venue Placement (2011). Paper itu meneliti tentang pariwisata berbasis musik dan hubungannya dengan perkembangan manusia, agama, hingga politik.

Selain itu ada beberapa kajian lain yang cukup menarik. Mulai dari Daniels Bowen yang menulis Does the Music Matter? Motivation for Attending a Music Festival. Event Management; S. Cohen yang menulis beberapa paper tentang Beatles dan industri musik di Merseyside, hingga Irina Krupnova yang menulis tentang pengaruh line up terhadap jumlah penonton dalam festival musik.

Oh ya, kalau anda suka statistik –kalau ahli, tolong ajari saya sekalian– anda perlu membaca laporan dari UK Music tentang festival musiknya. Laporan mereka sangat dahsyat. Menampilkan data yang komprehensif dan dikemas dalam bentuk yang sangat pop. Dengan warna yang menarik mata dan penjelasan yang sangat cemerlang.

Britania Raya memang yang terdepan kalau bicara soal wisata musik. Bahkan mereka punya lembaga khusus bernama UK Music untuk mendokumentasikan apapun terkait wisata musik. Lembaga itu bekerja sama dengan Universitas Oxford untuk membuat kajian tentang wisata musik. Dari sana, kita bisa membaca tentang jumlah pengunjung tiap tahun, negara mana saja yang paling banyak dikunjungi, hingga kontribusi terhadap ekonomi lokal. Kajian UK Music tahun 2015 bisa dibaca dan diunduh di sini.

Di lain kesempatan, mungkin saya akan menulis sedikit tentang beberapa hasil penelitian saya. []

Post-scriptum: Kalau anda tak bisa menemukan referensi yang saya sebutkan, sila tulis alamat email anda di kolom komentar. Nanti akan saya kirim beberapa referensi tentang wisata musik.

22 KOMENTAR

  1. lha saya pikir sdh selesai urusan kampusnya mas, apa jangan2 ini nerusin S2 lg di Jkt? 😮 *sok2an nanya padahal sayanya jg belum kelar huehehehe*

    ini tulisannya sudah semacam gabungan bab pendahuluan & tinjauan teori, keren ki, kalo aja saya jd pengujinya saya kasi nilai A++ deh

  2. Dlm menyusun tesis ini apakah juga meng-interview pihak2 yg belakangan ini (entah sengaja entah tidak) mengadakan event music tourism seperti ini, model Rock in Solo, Rock in Celebes dll?

    • Contoh kasusku Java Jazz, Mas. Jadi cuma wawancara orang Java Jazz. Rencananya aku mau memperlebar cakupan bahasan soal pariwisata musik, tapi buat buku. Hehehe. Sementara ini, contoh kasusnya Java Jazz dulu.

      • Wih jadi naq jazz nih sekarang 😛 Kapan ya ada pariwisata musik bertema 80s glam rock atau 70s progressive rock gitu? 😀

        • Di Oklahoma ada festival yang merayakan hair metal. Nama festivalnya Rocklahoma Fest. Sekarang sudah berjalan 10 tahun Mas, alias sudah dari 2007. Pengisinya ya band-band rock 80-an, dan beberapa di luar genre itu 😀

  3. Salam Pariwisata Mas Nuran,Saya masih mengira pariwisata musik hanya sekedar event dan MICE saja, setelah saya melihat artikel ini ternyata masih banyak yang bisa ditelusuri oleh pariwisata musik.
    Sangat Menarik,Inspiratif dan Bermanfaat sekali Mas Nuran. Saya dukung semoga menjadi Inovator bagi Pariwisata musik ke depannya 🙂 🙂 (y) .
    Saya sangat tertarik ingin melihat referensi mas lebih banyak lagi,boleh saya minta kirim ke email saya? vincentatmadja@yahoo.com .
    Saya tunggu mas,Terima kasih ~

  4. Halo, Mas Nuran. Saya mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi dan kebetulan saya juga membahas tentang wisata musik karena tertarik setelah melihat beberapa artikel juga makin maraknya event-event berbau musik di Indonesia. Oleh karena itu, boleh saya melihat referensinya? E-mail saya adalah dheaampp@gmail.com

    Terima kasih 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR