“Jika Tidak Lokal Bukan Inovasi Namanya” : Wawancara Dengan Gunter Pauli

539
Gunter Pauli
Gunter Pauli

Prof Dr Gunter Pauli, pencetus ekonomi biru, adalah orang yang serius namun sangat jenaka. Pada satu kesempatan ia berkata, “Saya tidak ada masalah dengan warna yang dipakai. Kalau ekonomi biru, dan biru tidak cocok dengan partai pilihanmu, silakan ganti saja warnanya sesuai warna partai politikmu. Asal konsepnya dijalankan.”

Di lain waktu, ia berkelakar bahwa ekonomi biru adalah gerakan kotoran, karena mengubah banyak limbah, sampah, dan kotora menjadi sesuatu yang berguna.

Seusai Kongres Dunia Ekonomi Biru Ke-9, 13-14 April 2015 di Surabaya, Jawa Timur, saya berkesempatan mewawancarai Gunter Pauli. Lelaki asal Swiss ini bercerita banyak hal. Mulai dari mengapa orang sering salah kaprah soal ekonomi biru, hingga pentingnya adaptasi terhadap kondisi lokal.

Mengapa masih banyak orang salah kaprah menganggap ekonomi biru adalah ekonomi kelautan?

Karena mereka berpikir warna biru identik dengan laut. Padahal, warna biru juga bisa diasosiasikan dengan langit, kan? Tapi, saya tidak terlalu peduli soal warna, asalkan kita mengimplementasikan gerakannya.

Mungkinkah negara berkembang seperti Indonesia, yang dikenal dengan polusi udara, bisa mencapai nihil emisi?

Well, kita harus kembali mengingatkan orang-orang bahwa nihil emisi bukan sama sekali tak punya emisi, atau tak punya limbah. Artinya, sampah atau emisi apa pun bisa kita gunakan dan bisa kita beri nilai. Dan, itu kuncinya.

Itu juga mengapa presentasi Jorge sangat penting. Dia memberi contoh bagaimana 4 juta ton emisi dan sampah bisa dijadikan 2 juta ton sumber makanan bagi orang-orang. Itu sungguh sangat mengubah pandangan orang tentang limbah.

Jadi, ini soal reuse?

Tidak sekadar reuse. Tapi bagaimana kita bisa memberi nilai pada sesuatu yang awalnya sama sekali tak bernilai. Contohnya rumput di alam liar awalnya tak punya nilai, selain sebagai makanan ternak. Tapi belakangan bisa dibuat bahan kimia, makanan ternak.

Anda punya 107 inovasi tentang ekonomi biru. Apa inovasi itu harus diadaptasi ke konteks lokal?

Jika tidak lokal, bukan inovasi namanya. Tapi bagaimana agar inovasi ini bisa menjadi adaptif terhadap konteks lokal? Kuncinya adalah kita harus punya model bisnis. Ini bukan model bisnis yang biasa diajarkan di Harvard Business Review, atau yang diaplikasikan di perusahaan multinasional. Sama sekali bukan.

Kita harus punya model bisnis yang harus diadaptasi pada kondisi setempat.

Berarti jika ada inovasi di Afrika, itu harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia?

Saya beri contoh konkret. Kita punya teknologi terbarukan dengan memanfaatkan tenaga surya. Di antara panel tenaga surya ini ada pipa air. Jadi, selain mendapat energi, kita juga mendapat air panas.

Jadi, di Eropa kami aplikasikan itu untuk mendapat air panas. Tapi, di Afrika, air panas itu dibuat untuk membuat kue. Pendek kata, teknologi yang sama, penggunaan yang sangat berbeda.

Di Eropa, teknologi itu juga dipakai untuk menghangatkan kolam renang. Saya sama sekali tidak tertarik dengan menghangatkan kolam renang. Saya lebih tertarik membuat kue. Jadi, teknologi yang sama, model bisnis yang berbeda. Jadi, semua teknologi yang dikemukakan oleh ekonomi biru adalah platform.

Ada platform, dan siapa pun bisa menggunakannya untuk berbagai keperluan. Selain itu, Anda juga bisa mengombinasikan dengan teknologi lain. Selalu fleksibel dengan tempat dan waktu. Papua Nugini tentu akan berbeda kondisinya dengan Jakarta. Jadi, Anda harus bisa beradaptasi.

Berapa lama waktu yang biasanya dibutuhkan untuk mengaplikasikan inovasi ekonomi biru di sebuah area?

Tergantung. Bisa dua minggu. Bisa juga 20 tahun tidak terasa apa-apa. Tergantung pada situasi politik, seberapa solid ilmuwannya, dan tentu tergantung pada semangat entrepreneur-nya. Apakah orang di sana siap untuk melakukan hal yang baru.

Menurutmu apa Indonesia sudah siap?

Sebagai negara, saya tidak tahu. Tapi seperti yang saya bilang kemarin, saya senang bertemu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sudah jelas siap melakukan hal baru. Dan saya akan melakukan hal ini bersama orang-orang yang siap.

Mana yang terbaik, aplikasi ekonomi biru dalam skala kecil atau skala industrial?

Anda membutuhkan keduanya. Saya tak mempermasalahkan besar atau kecil. Tergantung. Contohnya di industri tambang. Industri macam ini menghasilkan jutaan ton limbah. Anda jelas tak bisa melakukan proyek skala kecil. Karena ini bicara soal jutaan ton limbah. Maka, carilah solusi yang memanfaatkan jutaan ton limbah.

Jadi, sekali lagi, adaptasi pada waktu dan tempat.

Jika Anda punya jutaan ton limbah dan melakukannya dalam skala kecil, itu bisa membutuhkan 200 tahun untuk membersihkannya. Waktu Anda habis. Jadi, Anda harus bisa memanfaatkan limbah itu dalam waktu 40 tahun saja, 30 tahun. Itu baru masuk akal.

To me, size doesn’t matter. Gunakan apa yang Anda punya. Hasilkan sesuatu yang berguna. Responslah kebutuhan dasarmu.

Sebagian besar inovasi Anda mengandung ilmu pasti. Kimia, fisika, biologi. Apakah seseorang yang ingin menerapkan konsep ekonomi biru harus paham ilmu pasti itu?

Hal yang paling penting dari ekonomi biru ini hanya tahu: di mana matahari terbit dan terbenam, dari mana angin berembus. Jika Anda tahu dasar cara kerja alam, itu sudah cukup.

Anda tahu jika ada sinar matahari, daun bisa tumbuh. Anda bisa mendapat makanan, karena ada air di tanah. Dan seterusnya.

Anda hanya perlu memahami dasar kehidupan. Menurut saya, dasar kehidupan ditentukan oleh fisika. Bukan kimia. Fisika adalah kuncinya. Karena Anda tak bisa mengubahnya, seperti di mana matahari terbit. Fisika bisa diprediksi. Kimia tergantung katalis. Biologi ditentukan oleh keberagaman hayati, selalu berubah tiap waktu.

Jadi, kuncinya, jika ingin hasil yang bisa diprediksi, maka Anda harus tahu soal fisika. Sebab, jika tanah panas, udara akan naik ke atas, dan akan menghasilkan angin. Gravity works everytime.

Seperti kearifan lokal, ya? Di Indonesia, banyak para tetua adat yang tidak pernah sekolah tapi tahu bagaimana alam bekerja.

Yap! Sama seperti kasus kelapa. Mengapa kelapa bisa ada airnya? Tidak ada yang mengisi air di kelapa. Dan orang-orang pesisir tahu kapan kelapa bisa dipetik. Orang kota? Mana ada yang tahu soal beginian?!

Siapa yang seharusnya mulai menyebarkan pengetahuan ekonomi biru? Pemerintah, akademisi, atau lembaga swadaya masyarakat?

Bukan mereka, melainkan para guru di sekolah. Guru yang mengajari anak-anak. Para guru bisa menghadirkan keajaiban ilmu pengetahuan. Jika anak-anak telah tertarik pada ilmu pengetahuan, jalannya akan lebih mudah.

Yang harus diingat, kodrat guru adalah untuk jadi pengajar. Bukan untuk jadi kaya. Para guru harus memberikan pengetahuan yang bagus. Mulai dari fakta menarik, kejutan, dan lain-lain. Anak-anak suka sekali kejutan.

(Gunter sangat memberi perhatian pada dunia anak-anak. Saat ini ia sudah menulis sekitar 100 buku dongeng untuk anak-anak)

Ekonomi biru punya kelemahan atau tidak? Semisal the green economy trap, apakah ada kemungkinan the blue economy trap?

(Terdiam beberapa saat). Sebenarnya bukan kelemahan seperti itu. Tapi lebih pada kita harus terus berkembang dan memperbaiki diri. Jadi, ada perbedaan.

Ini bukan tentang baik, buruk, lemah, kuat. Tapi bisakah kita melakukan hal yang lebih baik? Kita harus tahu bahwa tidak ada yang sempurna. Selalu ada banyak ruangan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Meskipun Anda menganggap diri sebagai yang terbaik, selalu ada yang bisa diperbaiki.

Ada anggapan menerapkan ekonomi biru membutuhkan biaya tinggi. Menurut Anda?

Orang itu belum paham ekonomi biru. Kami di sini sama sekali tidak fokus pada biaya. Kami fokus pada banyak pendapatan. Jadi, fokus ekonomi biru adalah bagaimana kita bisa mendapatkan banyak cabang pendapatan, dan banyak keuntungan (benefit). Kami tidak terlalu memusingkan soal biaya.

Mana yang lebih baik, bahan murah tapi tak ramah lingkungan, atau mahal bagi masyarakat tapi ramah lingkungan?

Ah, itu green economy. Di ekonomi biru, ada prinsip dasar yang kira-kira subtitute something with nothing. Mengganti sesuatu dengan sesuatu yang sebelumnya tidak bernilai.

Misalnya, saya tidak tertarik mengganti asbes dengan kaca untuk dinding peternakan udang. Saya tidak membutuhkan keduanya. Mengapa? Karena saya bisa membuat kolam microalgae sederhana lalu memasukkan bibit udang di sana.

Sebagian besar orang masih belum memahami ekonomi biru. Itulah mengapa saya hadir di sini, untuk mendengarkan dan belajar bersama. Membuat yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Apa tantangan terbesar untuk mengaplikasikan ekonomi biru di Indonesia?

Tantangannya adalah, orang-orang belum tahu kesempatan yang ada di ekonomi biru. Kalau mereka tahu, jalan akan semakin mudah. Karena itu, kita harus membuat portofolio kesempatan. Kalau orang-orang sudah tahu kesempatan itu, mereka jelas akan tertarik. []

Ekonomi Biru Nyata dari Pasuruan

Sambil tersenyum lebar Gunter Pauli memegang udang windu seukuran 20 sentimeter. Ia memberikan kesempatan para wartawan untuk mengabadikan momen itu. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan mimik menyantap udang.

Kunjungan Gunter beserta peserta Kongres Dunia Ekonomi Biru ke Pasuruan, Jawa Timur, adalah untuk menengok budi daya mangrove dan udang secara terpadu. Kawasan ini dikelola Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.

“Awalnya ini lahan tidak produktif. Lalu kami mulai menanam mangrove,” ujar Endang Suhaedy, Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.

Kawasan tambak ini ditata secara apik. Ada tiga kawasan. Pertama, saluran tambak. Ada sekitar 8.500 batang mangrove jenis Rhizopora sp di kawasan ini. Lalu di kawasan penyangga, ada sekitar 57.500 pohon mangrove dari tiga jenis spesies. Sedangkan di kawasan tambak, terdapat sekitar 33.000 batang mangrove dengan dua jenis spesies.

Politeknik memakai dua metode tambak. Model pertama berupa tambak alas berbentuk persegi dengan mangrove ditanam di tengah. Ada 4 baris mangrove yang ditanam di bagian tengah tambak.

Model kedua adalah tambak alas semi terbuka. Dengan model ini mangrove ditanam di bagian pinggir tambak. Kedua tambak ini berukuran sama, yakni 5.000 meter persegi, dengan kedalaman sekitar 1 meter.

Selain membudidayakan mangrove, Politeknik melakukan polikultur dengan membudidayakan rumput laut, udang windu, bandeng, kepiting soka, dan kakap putih. Pertumbuhan budi daya itu menggembirakan. Udang sudah bisa dipanen dalam waktu tiga bulan. Begitu pula kepiting soka. Dalam setahun bisa tiga kali panen.

“Udang yang ditaruh di kolam mangrove jenis Silvofishery rhizophora bisa tumbuh dengan berat mencapai 22,8 gram. Jauh melampaui berat udang di kolam tanpa mangrove,” ujar Endang.

Hasil tambak milik Politeknik ini sudah sejak lama diserap oleh pasar. Harga jualnya pun tinggi. Udang windu dihargai Rp 125 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram. Setiap panen, satu kolam bisa menghasilkan 150 kilogram udang. Setiap kali panen pendapatan kotor tiap kolam bisa mencapai Rp 22,5 juta.

Karena berdaya ekonomi tinggi, warga lokal mulai tertarik membudidayakan mangrove dengan sistem polikultur. Sekarang kelompok warga sudah punya lahan seluas 2,5 hektare.

Untuk memulai usaha, warga diberi 6.000 batang mangrove Rhizopora, gratis. Selain itu, warga juga mendapatkan bantuan benih udang 10.000 ekor dan bandeng 3.000 ekor.

“Sekarang warga sudah bisa punya pendapatan dari lahan yang dulunya tidak produktif,” kata Haji Ismail, ketua komunitas petani tambak di Desa Pulokerto, Kabupaten Pasuruan.

Politeknik Kelautan dan Perikanan ini punya sentra pengolahan hasil tambak. Produksi bandeng, misalnya, yang terkenal adalah batari, akronim “bandeng tanpa duri”. Tenaga pencabut duri bandeng adalah ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya.

Rumput laut bisa diolah menjadi 14 produk, yang semuanya diberi nama rula, akronim dari “rumput laut”. Dibuat dodol, manisan kering, kopi, sirup, selai, hingga mi, yang semunya berbahan rumput laut.

Produk mangrove juga bisa dijadikan dodol dan sirup. Selain itu, udang dan kepiting juga dijadikan banyak produk unggulan. Dari nugget ikan, udang crispy, samosa, abon, hingga kerupuk tulang.

Politeknik yang mempunyai barcode legal dan internasional ini juga menerapkan ekonomi biru dalam menangani limbah. Duri, tulang, kepala, dan ekor bandeng yang dulunya hanya jadi sampah, kini diolah menjadi kerupuk hingga pakan ikan. Karena itu, nyaris tidak ada limbah dalam proses produksinya.

Gunter Pauli tampak gembira dalam kunjungan ini. Berkali-kali pria humoris ini tak segan mengambil udang lalu berakting seolah menyantapnya. Ia juga memuji peternakan udang yang sama sekali tidak membutuhkan pakan dari pabrik. “Mungkin bisa mulai membuat kolam berisi algae, yang bisa sangat bagus untuk makanan alami ikan dan udang,” ujarnya.

Kolega Gunter, Li Kangmin asal Tiongkok, juga bersemangat mengikuti tur keliling tambak. Pakar budi daya ikan nila berusia 70 tahun lebih ini seperti tak kenal lelah.

“Saya mempraktikkan taichi, jadi masih tetap sehat dan bugar,” kelakarnya. []

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR