Album Lokal Favorit 2015

551
Album Lokal Favorit 2015

Entah bagaimana dengan anda, tapi saya selalu menganggap lagu bagus itu sama dengan makanan enak. Sama-sama mementingkan proses. Entah itu rumit atau sederhana. Kalau di masakan, perlu garam, merica, dan aneka rempah agar sedap. Sama pula lagu yang butuh musik dan lirik, bahkan juga desain album agar jadi kesatuan yang utuh. Karena itu, kadang, saya menulis review musik dengan membayangkannya sebagai sebuah masakan.

Omong-omong, tulisan ini sudah dimuat di Mojok. Saya menulisnya di akhir 2015. Sekarang saya muat ulang di blog. Sebagai arsip. Tulisan ini sebenarnya dibuat karena permintaan Panjul, yang sekarang bekerja sebagai redaktur di Mojok.

Saya mengiyakan, tapi sekaligus menolak. Sebab, membuat daftar album terbaik adalah pekerjaan yang teramat susah. Bahkan jika kamu sudah punya pengalaman setara Jann Wenner atau Ben Fong-Torres sekalipun, daftar album terbaikmu pasti akan tetap mendapat protes. Kok album ini gak masuk? Kok malah album ini masuk? Ribet.

Itulah kenapa saya mulai menghindari kata “terbaik”, dan mulai memakai kata “favorit”. Dengan kata favorit, saya bisa tegas bahwa pilihan ini sangat subjektif. Tergantung selera musik saya.

Sebenarnya saya ingin membuat 10 album lokal favorit. Tapi rasanya kebanyakan dan akan terlalu makan ruang. Lagipula tak banyak album yang banyak saya dengarkan. Jadi saya mampatkan jadi 5 saja. Oh ya, urutan tidak menandakan peringkat. Semua favorit.

5. Efek Rumah Kaca — Sinestesia

IMG_20151218_095636

Album ini benar-benar muncul menjelang almanak 2015 masuk tempat sampah. Tiba-tiba saja, tanpa pengumuman atau hingar bingar, trio yang terdiri dari Cholil Mahmud, Adrian Yunan, dan Akbar Sudibyo ini merilis album Sinestesia, album pertama mereka sejak Kamar Gelap (2008). Sebelumnya mereka menyebar gratis lagu “Pasar Bisa Diciptakan”. Dari sana, sebenarnya bisa dilihat kalau Efek Rumah Kaca sudah sangat berubah.

Tak ada lagu durasi pendek, dengan irama dan notasi yang ear catchy. Sinestesia punya 6 lagu yang hanya diberi judul aneka warna: Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, Kuning. Semuanya berdurasi panjang. Yang paling pendek adalah “Hijau”, 7 menit 46 detik. Paling panjang adalah “Jingga”, yang akan memakan waktumu selama 13 menit 29 detik.

Lagu favorit saya adalah “Jingga” yang diawali dengan lagu lama mereka, “Hilang”. Ada rasa kemarahan yang besar, namun disampaikan dengan cara yang lirih dan elegan. Lagu ini masih teramat relevan seiring dengan dilarangnya aksi Kamisan.

Dengan perubahan musik yang teramat drastis, plus durasi yang sedemikian panjang, ERK sebenarnya berjudi. Trio ini tak lagi memainkan musik yang mudah dicerna dan radio friendly. Apalagi lagu durasi panjang berpotensi melelahkan kuping. Tapi ibarat penjudi, ERK sudah lebih dari mahir untuk sekadar menang. Tak ada kebosanan dan kelelahan ketika mendengar album ini. ERK menang besar. Selagi kamu membaca artikel ini, album Sinestesia baru bisa diunduh secara digital. Baru Rabu album ini akan dijual dalam bentuk fisik. Selamat berburu!

Ibarat: Fillet of Angus beef and seared foie gras Rossini ala Alain Ducasse. Elegan. Artistik. Elok. Tapi sekaligus menyimpan banyak kejutan. Bayangkan, kamu sedang makan seiris daging sapi, lalu di baliknya ada hati angsa. Dalam hal ini, ERK masih galak perihal pelbagai isu sosial.

4. Barasuara — Taifun

Barasuara - Taifun

Tak ada orang yang tak menaruh banyak harapan pada band bentukan Iga Massardi ini. Dengan segala keteguhan dan kesabaran, ia berhasil mengumpulkan para musisi jempolan—kisahnya membentuk band ini bisa dibaca di blog Iga. Band ini jelas band all-stars, dream team.

Hasilnya adalah album fantastis dengan judul yang ultra keren: Taifun. Sebagai pendiri, Iga berhasil menipiskan ego antar bintang di sini. Buktinya adalah: Gerald Situmorang, gitaris jazz muda yang pernah tampil bersama Oran Etkin, mau memegang bass. Drummer Marco Steffiano Handoko keluar dari zona lepas sebagai drummer Raisa. Di Barasuara, Marco tampil ibarat petinju yang masuk ring setelah bertahun-tahun tidak pernah bertanding. Liar. Beringas. Mengentak.

Musik mereka, aduh susah sekali untuk menjelaskannya. Mewah. Indah. Segar. Di sana dan sini kadang ada tumbukan-tumbukan yang mengejutkan. Sayang, lirik mereka terkesan patah-patah. Tidak menyatu. Dan bicara perasaan, entah kenapa, energi mereka di panggung terkesan tidak ikut terbawa di album. Album mereka terkesan terlalu lempeng, halus, dan seperti main aman. Tapi apapun itu, Taifun adalah album dahsyat!

Ibarat: Holker suckling lamb with lamb sweetbreads, chard, carrots, lamb juices with garlic ala The French Manchester. Canggih cara masaknya. Anggun tampilannya. Sayang, sedikit kurang garam. Album ini membuktikan bahwa tak ada album yang sempurna. Kecuali Appetite for Destruction. Hehe.

3. Sigmun — Crimson Eyes

12191490_994660117243657_3327223746221715518_n

Saya selalu takut dan segan dengan Sigmun. Mendengar nama dan judul-judul lagunya membuat saya minder. Maklum, selera musik saya berkisar di hair metal. Sedangkan Sigmun, band yang sudah dibentuk sejak 2011 ini, memainkan musik rock yang terinfus psikadelik dan prog rock. Ini ibarat saya harus mengerjakan soal Matematika atau Fisika. Saya bakal mati duluan bahkan sebelum usai membaca soal pertama.

Tapi saya toh tergoda juga untuk membeli album mereka. Benar saja, sebelum memutar, saya sudah bergidik duluan. Judul-judulnya saja mengerikan: “Devil in Disguise”, “The Gravestones”, hingga judul-judul yang rawan membikin lidah keseleo: “Aerial Chateau”, atau “Inner Sanctum”.

Namun saya berusaha memberanikan diri. Setelah saya putar, dang! Saya mendapatkan pengalaman yang melenakan. Sebagai juru dengar musik amatir, saya mendengar mereka sebagai gabungan pelbagai pengaruh. Dari Led Zeppelin, Black Sabbath, Pink Floyd, sampai ke Ozzy Osbourne. Berat. Megah. Kompleks. Menohok. Track favorit saya adalah “Ozymandias”. Lagu ini brengsek benar. Apalagi solo gitar dari menit 03.24 hingga akhir.

Ibarat: Rendang asli Minang dekade 1920-an. Dimasak lama. Dengan api dari kayu. Ditabur banyak rempah. Rumit. Butuh waktu panjang. Namun hasilnya bikin anda melongo.

2. Kelompok Penerbang Roket — Teriakan Bocah

maxresdefault

Di antara kerumitan dan keindahan Taifun, Crimson Eyes, atau Sinestesia, Teriakan Bocah yang paling punya nuansa berbeda. Tak ada liukan yang cergas. Tanpa basa-basi. Langsung hantam tanya belakangan. Ibarat senar gitar tinggal lima, tetap hajar bleh. Saya menyebut mereka sebagai kelompok rock purba yang keliling kota pakai RX King.

Anda bisa tahu karakter mereka dari judul-judul lagunya saja. Mulai “Anjing Jalanan”, “Di Mana Merdeka”, “Target Operasi”, sampai “Mati Muda”. Lagu-lagunya pendek, namun tepat sasaran. Hal yang asyik lagi dari mereka adalah sound yang terdengar sangat klasik.

Album ini semakin terasa kuat nuansa jalanannya karena begitu banyak kisah-kisah rock n roll para personelnya. Silahkan cari di Google, anda tak akan kesusahan menemukannya.

Ibarat: Sambal setan di depan rusun Benhil. Amigos, alias agak minggir got sedikit. Masakan ala jalanan. Lengkap pakai sliweran pengamen nyanyi lagu Iwan Fals dengan berisik dan benar-benar fals. Tapi masakannya langsung mencakar dan membakar di lidah serta lambung. Straight hook!

1. Silampukau — Dosa , Kota, Kenangan

Silampukau-Dosa-Kota-Kenangan1

Ada yang bisa menyanggah?

Ibarat: Sego sambelan Wonokromo yang sederhana, merakyat, tapi tetap diburu semua kalangan karena uenaaaakkkk. []

Post-scriptum: Ada beberapa album lokal lain rilisan tahun lalu yang sebenarnya juga masuk daftar putar favorit saya. Mulai dari Constellation dari Stars and Rabbit, Antara Dapur & Lingkungannya milik Wukir Suryadi, Sabdatanmantra dari Ramayana Soul, hingga Los Skut Le Boys milik Sore.

Dari luar negeri, saya tak begitu banyak mendengar musiknya. Hanya beberapa. Mencoba dengar album-album rekomendasi situs-situs musik. Berkenalan dengan nama seperti Sufjan Steven dan Sleater Kinney. Biasa saja. Tak benar-benar menempel di kepala. Sempat berharap banyak pada Anthems for Doomed Youth milik The Libertines, tapi akhirnya hanya menghela nafas saja.

Album luar negeri yang lumayan favorit di tahun ini adalah Crosseyed Heart dari Keith Richards, album baru milik W.A.S.P, Golgotha; juga Karma dari Winger, The Last of Our Kind dari The Darkness, To Pimp A Butterfly dari Kendrick Lamar, dan Music in Exile milik grup blues rock asal Mali, Songhoy Blues. []

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR