Sambungan dari bagian satu.

Sejak merilis lagu instrumental “Eruption” pada 1978, Eddie menjadi pionir bagi musisi yang mengandalkan dua hal: pengaruh ke generasi berikutnya, serta kemampuan membuat orang terheran-heran. Pertanyaan pertama yang selalu dilontarkan gitaris rival Eddie adalah, “Bagaimana dia membuat suara gitar seperti itu?”

Pertanyaan kedua biasanya, “Bagaimana aku bisa menirunya?” Dampaknya adalah, dekade 1980-an diisi oleh banyak sekali kloningan Eddie. Semua coba membuktikan kalau mereka bisa bermain seperti Eddie. Bisa menyetubuhi leher gitar dengan ketangkasan maksimal. Tapi tentu saja semua gagal.

“Itu adalah pengalaman yang unik,” kenang Eddie. “Aku seperti heran, ‘apaan yang aku mulai ini?’ Karena teknik itu sudah menjadi bagian permainanku sejak lama, kok tiba-tiba orang lain memainkan teknik yang sama. Aku tidak tersanjung sih, biasa saja. Tapi sekarang itu tidak penting lagi, karena aku masih bermain seperti itu dan sekarang tidak ada lagi orang yang bermain seperti itu.”

Kemudian dia memberikan catatan bagi para gitaris pengekornya bahwa mereka mengabaikan bagian penting dari metodologinya. Eddie selalu memegang leher gitar dengan dua tangan selagi menghantam fret gitar (berkebalikan dengan hanya menjentikkan senar dengan tangan terbuka). Sekarang, kenapa detail itu bisa membuat perbedaan besar? Itu adalah misteri yang sukar dipecahkan.

Anggap saja itu salah satu daftar dari aneka ria misteri Van Halen. Daftar misteri lain adalah: ada banyak orang yang segera bisa ingat kapan pertama kali mereka mendengar “Panama”, “Unchained”, dan “D.O.A”. Tapi Eddie bukan salah satunya.

“Aku sama sekali tidak ingat pernah menciptakan riff-riff itu,” katanya. “Bahkan lagu-lagu yang aku tulis di album terakhir, aku juga tak ingat. Riff dan lagu seperti datang begitu saja padaku. Aku tidak pernah duduk dan memutuskan untuk menulis lagu. Aku tidak pernah melakukan itu.”

Pernyataan aneh itu mungkin mendapat penjelasannya saat kamu mendengar bagaimana Eddie biasa berkarya. Dalam sebagian besar karirnya, dia menulis lagu saat tur. Setelah konser, tiga anggota Van Halen lain akan jalan-jalan dan mabuk-mabukan (“Kakakku adalah yang paling jago mabuk di antara mereka,” katanya). Tapi tidak dengan Eddie. Dia akan tetap di kamar hotel, di mana dia akan minum vodka semalaman, mengisap kokain, dan menghidupkan alat perekam.

“Aku tidak minum alkohol untuk berpesta,” ujarnya sekarang, yang sudah bebas alkohol sejak 2008. “Alkohol dan kokain adalah hal privat bagiku. Aku menggunakannya untuk kerja. Efek kokain bisa membuatmu terbangun, dan alkohol bisa menghilangkan segala beban. Aku yakin ada beberapa lagu yang tidak akan bisa aku buat kalau tidak dalam kondisi seperti itu. Kamu hanya bermain sendirian dengan alat perekam yang berjalan, dan setelah sekitar satu jam, kamu sudah tidak berpikir apapun.”

Lagi-lagi kontradiksi menyembul di sini: meskipun jadi motor utama band pesta dari California, Eddie Van Halen tidak begitu menyenangi pesta. Narkotika dan alkohol memang berkelindan dalam hidupnya. Dan sebagian besar gosip tentang kebiasaan mabuk Eddie berasal dari kisah gelap dari otobiografi Sammy Haggar yang dirilis pada 2011, Red: My Uncensored Life in Rock. Di buku itu, Eddie digambarkan sebagai vampir kasar pengisap alkohol, hidup dalam rumah reyot yang mirip mansion dalam Grey Gardens (film dokumenter tentang keluarga miskin dengan rumah tua di kawasan elit di New York).

“Aku dulu memang peminum, dan aku butuh alkohol agar tubuhku berfungsi,” katanya sekarang.

Selama bertahun-tahun dia bangun setiap pagi dengan tenggorokan kering. “Aku mulai minum alkohol dan merokok sejak umur 12 tahun. Aku bahkan minum dulu sebelum berangkat ke sekolah. Guru IPA di kelas 9-ku bisa mencium bau alkohol dariku, dan dia bilang, ‘jangan minum alkohol yang tidak tembus pandang.’ Dan aku menyahut, ‘jadi minum vodka saja?’ Dan dia bilang, yeah. Sip! Karena aku memang peminum vodka…”

“Aku sama sekali tidak menyalahkan ayahku, tapi memang dia juga seorang pemabuk. Jadi di rumah kami, mabuk itu hal yang normal. Tapi alkohol tidak pernah mengganggu kerja ayahku, begitu pula dengan kerjaku. Sekitar 2004, aku memang jadi pemabuk yang gampang marah. Tapi kisah yang ada di buku Hagar itu hiperbola. Dia mengarang sesuatu yang tak pernah terjadi.”

Dan tentu saja, sama sekali tidak mengejutkan, Sammy Hagar bersikukuh dengan apa yang ia tulis. “Ada hal yang dikatakan oleh Eddie, dan ada pula kenyataan,” katanya. “Aku senang melihat dia sehat, sadar, dan bermain musik lagi.”

Hal yang membuat sifat  Eddie sukar untuk ditebak adalah betapa sering terjadi perubahan dalam dirinya, antara perfeksionisme dan rasa santai berlebih. Saat membuat album-album awal Van Halen, dia kerap kembali ke studio pada pukul empat pagi untuk memperbaiki kesalahan –yang tentu saja hanya bisa didengar oleh Eddie. Namun dia juga bisa sangat selo* terhadap beberapa pencapaian penting bagi karirnya.

Contohnya, banyak orang tahu kalau Eddie tidak mendapat kompensasi apapun dari bermain solo gitar di lagu “Beat It” milik Michael Jackson. Apa yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang adalah Eddie sepertinya ikut menulis lagu itu juga. Tapi dia sama sekali tak peduli soal itu. Malahan dia seperti menganggap lagu itu tak penting, tak acuh pada ketenaran sang penyanyi, dan tak menghiraukan betapa istimewa kontribusinya dalam lagu itu.

“Rasanya lucu kalau orang-orang membicarakan hal itu,” katanya.

“Rekaman solo gitar itu cuma mengambil 20 menit dalam hidupku. Aku tidak mau kompensasi karena melakukan hal itu… Bahkan aku berpikir, ‘Memang siapa yang bakal tahu kalau aku yang memainkan solo gitar di lagu bocah ini?’ Jadi aku pergi ke studio dan mendengarkan lagu itu dua kali, tapi aku tidak suka bagian di mana seharusnya aku memainkan solo gitar. Mereka memintaku untuk memainkan solo dengan kord dinaikkan. Aku kemudian meminta produser Thriller, Quincy Jones untuk mengubah kord jadi lebih rendah. Baru aku bisa bermain solo gitar di kord E. Tapi yang membuat solo gitarnya menarik memang kord yang diturunkan itu. Jadi, ya, aku memang mengubah lagu itu.”

Saat ini, musik baru yang bisa membuat Eddie bersemangat adalah proyek solo Wolfgang, 24, anak lelaki yang juga menyusun daftar lagu pada tur Van Halen (ada beberapa lagu yang tidak pernah dimainkan live sebelumnya, seperti “Dirty Movies”, “Drop Dead Legs”, Top Jimmy”).

Mungkin agak berlebihan untuk menyebut Eddie sebagai lelaki penyayang keluarga. Tapi dia menganggap serius ikatan keluarga. Alex adalah saudara sekaligus sahabat sejatinya. Hubungan mereka ditempa oleh kepindahan dari Amsterdam pada 1962, saat mereka masih anak-anak. Saat tiba di Amerika Serikat, mereka berdua hanya bisa empat kata Bahasa Inggris: yes, no, motorcycle, dan accident.

Sampai sekarang Eddie masih mempunyai hubungan baik dengan istri pertamanya (ibu Wolfgang), aktris Valerie Bertinelli. Pada 2009, saat Eddie menikahi Janie Liszewski, istrinya yang sekarang, Valerie adalah satu dari 100 tamu yang diundang. Eddie tidak suka “Big Bad Bill”, lagu Milton Ager dan Jack Yellen yang ia kover pada 1982, tapi Eddie sangat sangat gembira ketika ayahnya, yang juga musisi, bisa memainkan lagu itu dengan klarinet. Dan dia bersikeras kalau Woflgang lebih jago bermain bass ketimbang Michael.

“Aku harus mengajari setiap nada yang dimainkan Mike (Anthony),” kata Eddie.

“Sebelum kami pergi tur, Mike akan datang ke aku sambil membawa kamera video dan aku harus mengajari bagaimana cara memainkan semua bagian lagu-lagu yang akan dibawakan.”

Eddie bahkan tidak mengakui jasa Michael, yang vokal latarnya menjadi bagian penting dari karakter Van Halen. “Suara Mike itu memang tinggi, seperti terumpet pikolo. Tapi dia bukan penyanyi. Dia hanya punya jangkauan oktaf dari neraka,” katanya.

“Mike memang lahir dengan suara yang sangat tinggi. Tapi aku lebih punya soul sebagai penyanyi ketimbang dia. Dan kamu tahu, orang-orang selalu membicarakan soal suara Mike di lagu-lagu Van Halen, padahal itu campuran antara suaraku dan suaranya. Tidak semua adalah suaranya.”

Michael Anthony menjawab semua omelan Eddie dengan diplomatis:

“Aku bangga bahwa permainan bass dan vokalku turut membantu karakter Van Halen. Aku selalu memilih jalan damai dan menjauh dari pertikaian tanpa henti ini, karena aku percaya hal itu bisa menghentikan kekecewaan fans Van Halen.”

Alasan Michael berpisah dengan Van Halen pada 2006 memang pelik, tapi bisa dengan mudah ditebak. Antara lain hubungan baiknya dengan Hagar (yang juga dibenci oleh Eddie), sedikitnya kontribusi Michael terhadap pembuatan lagu Van Halen, dan karena dia tidak menelepon Eddie saat menderita kanker (atau saat ibu Eddie dan Alex meninggal). Tapi konflik itu lantas melahirkan pertanyaan besar yang lebih rumit: kenapa Eddie Van Halen sering sekali bekerja dengan orang-orang yang sepertinya tak ia sukai?

Jelas kalau Eddie bukan orang yang butuh uang atau mencari popularitas. Dia mengakui kalau baru belakangan ini dia tahu lirik di sebagian besar lagu Van Halen. Ini artinya dia tidak peduli pada lirik di lagu-lagunya, yang tak pernah dia ingat kapan atau bagaimana diciptakan. Dia bisa menghabiskan berhari-hari membuat musik sendirian, di studionya yang terisolir, dan tidak akan ada seorang pun yang akan memprotesnya. Jadi kenapa, pada umur 60, dia terus melakukan tur bersama David Lee Roth, penyanyi yang membuat dia gila?

Karena dia merasa wajib melakukannya.

“Sepertinya sekarang sudah mengakar di pikiran banyak orang: bukan Van Halen kalau bukan Roth yang nyanyi,” katanya.

“Percakapan ini membawaku kembali ke masa belajar di Pasadena Community College bersama Alex, di mana para musisi jazz garis keras di sana akan menyebut kami sebagai pelacur musik, karena kami tampil di klub musik rock setiap malam dan keesokan harinya kembali belajar jazz di kelas. Tapi ada elemen musik yang seharusnya dipersembahkan untuk orang-orang. Kamu membuat musik untuk khalayak. Kalau tidak mau begitu, ya mainkan saja musikmu di toilet. Dan bagaimana supaya kamu bisa meraih hati penggemarmu? Dengan memberikan band yang sudah mereka kenal. Kalau tidak melakukan hal itu, maka kami adalah band yang egois.”

Van Halen sekarang sedang tur. Dan mereka melakukan tur itu untuk kamu. []

Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Chuck Klosterman, Billboard Cover: Eddie Van Halen on Surviving Addiction, Why He’s Still Making Music and What He Really Thinks of David Lee Roth (and Other Past Van Halen Bandmates), yang diunggah pada 19 Juni 2015. Kalau ada koreksi, atau saran tentang penerjemahan, dengan senang hati saya akan menerimanya. 

* Saya memakai kata selo untuk padanan kata laissez-faire, sebuah istilah Bahasa Perancis yang secara harfiah berarti “biarkan terjadi”, atau “ya sudahlah”. Sebenarnya ini istilah ekonomi, artinya adalah perdagangan swasta yang bebas campur tangan pemerintah.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR