Oleh: Jill Robbin

Aku sedang duduk di depan komputer saat melihat delapan kata menyeruak di layar. Iklan memang ada di mana-mana, dan para pemasar cum penguntit itu selalu tahu apa-apa yang kita ingin beli kan?

All bad things must come to an end. Semua hal buruk harus berakhir.

Itu adalah iklan tur perpisahan Motley Crue yang akan mampir di kotaku pekan ini. Jujur saja, aku sudah tak begitu mengikuti kabar terbaru band-band metal favoritku. Aku bisa menyalahkan pola pikir ibu-ibu, latihan sepak bola, Pinterest, apalah apalah itu, tapi aku tidak tahu Motley Crue akan bubar. Aku malah tidak tahu apakah mereka masih membuat lagu atau tidak. Daftar putar laguku tetap sama sejak 2008.

All bad things must come to an end.

Band ini beneran bubar atau cuma taktik agar tiket terjual banyak? Aku sih melihat kalau tur perpisahan itu hanya awal dari tur reuni. Iya ndak? Band bubar itu bukan hal baru: bertengkar, ditahan polisi, masuk rehabilitasi, atau ego kala membuat lagu. Para personel biasanya pergi masing-masing, dan kemudian dor: tur reuni dan atau album baru yang ditunggu-tunggu.

Aku menyalahkan anakku karena tidak tahu perkembangan dunia musik. Aku tak tahu apa yang baru dan sedang dibicarakan, tapi aku tetap bisa menyanyikan lagu tema atau lagu yang sedang wara wiri di acara Nick Jr. Aku tak punya radio di mobil vanku karena aku toh tak pernah dengar radio. Penumpang mobilku –ya keluargaku– biasanya ribut ingin menyetel DVD atau apalah musik kesukaan mereka.

Jika aku harus memberikan senarai band brandalan favoritku dari era 80-an, Motley Crue akan jadi nomor satu. Aku menonton langsung mereka dua kali. Aduh, aku kangen sekali masa akhir 80-an dan awal 90-an ketika rocker dengan rambut panjang dan celana ketat bermotif macan tutul adalah definisi keren.

All bad things must come to an end.

Ini adalah undangan penting dari Nikki Sixx yang menyaru sebagai iklan di Facebook. Aku bilang ke suamiku kalau kita butuh penjaga anak dan membeli tiket.

Pergi ke konser metal di umur 40-an itu sangat berbeda saat aku masih berumur 20-an. Aku tidak merencanakan kostum jauh-jauh hari. Aku hanya memakai baju yang bersih dan pantas, diputuskan setengah jam sebelum kami berangkat. Aku tak peduli seberapa dekat kursiku dengan panggung. Aku ingin menonton konser tanpa harus takut terinjak oleh gadis-gadis edan yang berusaha melempar kancut mereka ke vokalis band. Eh, kebiasaan itu masih ada gak sih?

Pergi ke sebuah konser di umur 40-an itu adalah tentang menyediakan dana bagi penjaga anak dan mencari restoran yang menawarkan diskon khusus, jadi kami bisa makan sebelum nonton konser, karena konser baru usai melewati jam tidur kami. Memang berbeda sih, tapi tak semuanya berbeda. Kegirangan yang aku rasakan berjam-jam sebelum konser mulai, masih saja sama seperti dulu. Aku mendengarkan musik metal 80-an favoritku, dan mengenang lagi dua konser Crue pertamaku, yang kalau jujur sebenarnya tak bisa aku ingat-ingat banget.

Di perjalanan menuju lokasi konser, aku dan suami berincang tentang anak-anak kami (ya iyalah), dan apakah kami harus mengganti pemanas air sekarang atau menunggu sampai tahun depan. Kalau cerita itu tidak mencirikan Decade of Decadence, maka aku tak tahu situasi apa lagi yang bisa dipakai untuk menggambarkan sebuah masa kemunduran.

Aku bersiap-siap menggila, terhibur, dan menonton pertunjukan keren. Aku tak kecewa, tapi akhirnya jadi paham, kalau tur ini bukan sekadar gimmick. Layar jumbotron menayangkan saran tagar untuk Twitter, dan hal itu menyadarkanku beberapa hal sudah berubah.

#RIPMOTLEYCRUE

Aku tak tahu lagi berapa kali kalimat “untuk terakhir kalinya” diucapkan selama dua jam pertunjukan. Vince, Tommy, dan Nikki selalu mengingatkan kami akan hal itu sepanjang pertunjukan. Mereka membuatnya jelas: ini adalah pertunjukan terakhir. RIP.

Saat aku bernyanyi dan memainkan air guitar di kursiku (yeah, tak perlu malu), mendadak melankolia menjalar. Motley Crue sudah bermain bersama selama 34 tahun. Nyaris selama itu pula aku telah mendengarkan mereka. Beberapa bagian dari dekade 80-an memang tak begitu melekat, tapi aku masih ingat satu hari pada 1983 saat aku membeli piringan hitam Too Fast for Love. Aku berjoget di kamarku, bernyanyi dengan menggunakan sisir sebagai tiruan mikrofon, berfantasi bagaimana Nikki Sixx dengan cara berandalannya membuatku jatuh cinta begitu cepat, dan aku akan menjalani kehidupan glam dan jet set, lengkap dengan rok mini dan stiletto.

All bad things come to an end.

Pertunjukan terakhir mereka diadakan di malam tahun baru, aku merasa patah hati. Bukan karena aku akan merindukan musik mereka. Lagipula Motley Crue sudah lama sekali melewati masa kejayannya. Mereka sudah pernah membuat musik-musik terbaiknya. Dan aku bisa mendengarkan di daftar laguku yang tak pernah berubah sejak 2008.

Vince, Tommy, dan para personel lainnya semakin bertambah tua dan lebih kalem. Mereka punya keriput, sama dengan para fansnya, termasuk aku. Badan Vince Neil sudah tidak seseksi seperti pada 1988, tapi begitu juga aku. Tak perlu malu mengakui itu.

Jika Motley Crue terus memaksakan diri melakukan konser, maka akan tiba waktunya mereka tak bisa bermain di venue yang besar. Rasanya begitu depresif ketika melihat band pujaanmu ketika remaja bermain di pasar malam atau kasino. Percayalah, aku tahu rasanya: aku pernah melihat Bret Michaels bermain di Rib America, Missouri pada 2010.

Jadi, aku menaruh hormat pada Crue yang menghadapi masa senjakalanya dengan elegan. Namun mereka juga membuatku memikirkan masa tak mudaku sendiri dalam perjalanan pulang dari konser. Memang rasanya menyenangkan untuk berkisah dan mengenang masa muda, namun rasanya ada bagian masa muda itu yang ikut tersapu oleh angin bersamaan dengan nada terakhir “Home Sweet Home” yang dimainkan.

Musik dapat membawa nostalgia yang kuat dan semua jenis emosi: saat jaya, saat merasa lacur, dan waktu-waktu di antaranya. Aku bahagia delapan huruf itu menyeruak pada layar komputerku.

All bad things must come to an end.

Itu benar. Motley Crue telah mengatakannya dengan teramat baik. Seasons must change –separate paths, separate ways. Musim harus berganti. Berpisah langkah, berpisah jalan.

Cheers, Motley Crue. It doesn’t look like you’re going away mad, but you are going away. Terima kasih untuk 34 tahun yang sangat menyenangkan. Aku jelas ingat sebagian besarnya. Dan aku yakin aku tak sendirian. []

Jill Robbins adalah penulis dan pengarang, pembicara di berbagai seminar, dan seorang wine snob. Tulisan ini pertama kali dimuat di sini. Beberapa kalimat di dua paragraf terakhir tidak saya terjemahkan, karena itu lirik lagu Motley Crue. Kalau diterjemahkan, akah menghilangkan esensi ceritanya.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. Baru kemarin sempat nonton documentary Motley Crue di Netflix: The Dirt. Amenangi jaman edan, yen ora melu edan ora keduman. Begitulah mereka. Kagum banget mereka bisa melewati itu semua dan masih hidup hingga sekarang..

TINGGALKAN KOMENTAR