Sewaktu pulang ke rumah beberapa waktu silam, saya menemukan foto almarhum Masdar Damang, kakek dari pihak ibu. Saya tak pernah benar-benar akrab dengan beliau. Maklum, dia meninggal sewaktu saya masih terlalu kecil untuk mengingat banyak hal. Saya hanya ingat beberapa remah kenangan, seperti cokelat yang dikasih ke saya jika bisa baca sepatah dua patah kalimat ayat suci.

Dari kisah yang dituturkan Mamak, Kaik –bahasa Banjar (bukan Banjarnegara, tapi Banjar Kalimantan)– orangnya tegas. Maklum, pensiunan angkatan laut. Setelah pensiun dan pindah ke Lumajang, kakek membuka usaha pabrik limun dan jualan kudapan. Mamak bercerita dia dan adik-adiknya yang bertugas membungkus kacang dan menutup kemasan itu dengan sedikit dibakar dengan api lilin.

Ada banyak kisah lain tentang Kaik yang diceritakan Mamak. Mulai ketegasannya, galaknya, agamisnya, dan banyak hal lain. Saya memang tak pernah benar-benar kenal dengan beliau. Tapi semua cerita tentangnya, membuat beliau selalu hidup di hati saya. Juga anak-anak dan cucu-cucunya.

Satu hal yang bikin saya senyum-senyum karena foto ini adalah…kumis Kaik! Bisa ramping dan melintang. Dengan bentuk kumis yang seperti itu, ditambah dengan tatapan mata yang tajam, Kaik mengingatkan saya akan Salvador Dali. []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. agak aneh melihat njenengan menuliskan Kai dengan Kaik, karena di Banjar tak biasa menggunakan akhiran huruf -k, seperti juga Mama, bukannya Mamak hehehe protes aja saya kerjaannya

    sepertinya menarik sekali cerita tentang silsilah keluarga njenengan kui, mas..

    • Hahaha. Mungkin, ini tebakan belaka ya, karena keluarga kami akhirnya pindah ke Jawa dan akhirnya terbiasa medok, jadi ada akhiran K-nya. Trus soal Mamak dari Mama, itu mungkin karena panggilan Mama terkesan kebarat-baratan ya? :)))

      • ya ndak mas, soalnya kalo di Banjar, kata Mama nya tidak ada penekanan di huruf m kyk di barat, tapi diucapkan dengan nada datar, kadang agak panjang di bagian akhir, jadi kedengeran seperti mamaa, gitu mas #dibahas hahaha

  2. Maaf Mas nuran , Kai anda adalah sepupu 1 x dari ayah saya , Dulu kai anda masih diberau kami panggil Julak (OM) Masdar , Dengan Kang adjad ( Sjahrazad Masdar ) saya bersepupu 2x. Saya tidak mengenal Banyak Keluarga Om Masdar Terkecuali yang ada diberau sekarang ada dijogya (Ka iyah) . Karena kami masih dalam proses penyusunan silsilah dan keturunan keluarga dari kai dan buyut serta antui .. mungkin mas nuran bisa memberi sedikit infonya tentang silsilah keluarga mas. terutama keluarga Om Masdar (Masdar damang). Tolong balas ke Email saja kalau berkenan.. Salam keluarga dari Berau.

TINGGALKAN KOMENTAR