Setiap pekerjaan punya kodratnya masing-masing. Kodrat petani adalah bercocok tanam. Kodrat politisi adalah berbual-bual dan ahli berbohong. Kodrat calo tiket adalah menjual tiket dengan harga sedikit lebih mahal. Tapi ternyata kodrat bisa juga disalahi.

Saya dan istri saya, Rani, baru saja parkir ketika seorang calo menghampiri kami.

“Ada tiket lebih gak Mas? Saya beli.”

Kami menggeleng heran. Calo kok nyari tiket ke penonton. Kebalik jeh. Apalagi tiket Java Jazz kami hanya dua lembar. Itu pun diberi cuma-cuma oleh Ardyan Erlangga, alias Yandri, kawan baik saya yang menjabat sebagai redaktur termuda di sebuah media besar.

Ternyata ada banyak calo yang menanyakan hal yang sama pada kami berdua, juga ke penonton lain. Pada Java Jazz 2014 dan 2015, saya tak melihat pemandangan ini. Pasti tahun ini lebih ramai, batin saya.

Sebenarnya tahun ini saya tak berniat untuk menonton Java Jazz. Sejak tesis saya yang meneliti Java Jazz selesai, saya merasa tak punya ‘kewajiban’ untuk menonton pagelaran tahunan ini. Tentu saya tergoda untuk nonton Java Jazz tahun ini. Karena ada Buena Vista Social Club, band asal Kuba yang sekarang menjadi Orquesta Buena Vista Social Club sejak 6 orang anggota awalnya sudah meninggal dunia.

Konon mereka akan segera bubar, dan penampilan di Java Jazz adalah salah satu konser dari rangkaian tur terakhir mereka. Tapi kok ndilalah bulan ini ada banyak pengeluaran mendadak. Jadilah saya tinggal memendam penyesalan dalam-dalam.

***

Hari Sabtu lalu rencananya akan saya jalani dengan biasa saja. Sejak pagi ikut pelatihan jurnalisme data, rencananya saya dan istri akan makan malam, lalu nonton bioskop. Eh ternyata Yandri menawarkan dua tiket gratis untuk pertunjukan Sabtu malam. Ya saya jelas tak menolak.

Segera saya buka jadwal penampilan di hari Sabtu. Karena saya baru bisa datang sekira pukul 9 malam, maka jumlah penampil yang bisa saya saksikan pun sedikit. Setelah menengok jadwal, saya memantapkan diri untuk menonton Seun Kuti & Egypt 80. Seperti diketahui dari namanya, Seun Kuti adalah anak dari Fela Kuti, multiinstrumentalis dahsyat dari Nigeria. Kalau saya tak silap, ini penampilan Seun pertama kali di Java Jazz. Sudah pasti tak akan saya lewatkan.

Saya juga merencanakan menonton White Shoes & The Couples Company, Level 42, Tokyo Ska Paradise Orchestra, dan Mocca. Yang sempat menggoda untuk ditonton, atas nama elegi masa kecil, adalah Replay feat Coboy, Lingua, dan ME.

Sewaktu kami masuk dalam venue, tebakan saya benar. Ramai sekali. Nyaris padat. Walau masih lega sih. Saya melihat segala jenis penonton. Ada penonton jazz –bisa dilihat dari kaos bertuliskan Dizzy Gillespie for President. Ada penonton ska –bisa ditengok dari topi fedora yang dipakai dan kaos Tokyo Ska Paradise. Juga banyak sekali rombongan MILF yang heboh ingin menonton Chris Botti dan Sting. Ada para pasangan yang bergandengan tangan dan tampak seperti sepasang love bird. Ada penonton berusia lanjut yang tampak tenang namun senang dan aktif berkeliling panggung.

Ada pula sepasang suami istri yang tampak kelaparan dan langsung menuju food court, alih-alih mencari pertunjukan. Itu saya dan Rani. Tapi kami urung mencari makan. Kami ingin menonton Kurt Elling. Orang tuanya pasti ingin agar anaknya tetap rendah diri. Mungkin nama lengkapnya adalah Kurt Elling lan Waspada.

Tapi kok check sound-nya lama sekali. Saya tentu paham Kurt dan bandnya ingin sound yang sempurna. Jauh-jauh dari Chicago, AS, mereka pasti ingin memberikan suguhan yang mengasyikkan. Kurt sendiri sempat keluar dan bernyanyi akapela. Sebelumnya, dia sempat berbicara dengan para penonton.

“Ngomong aja suaranya udah bagus, pasti nyanyinya lebih bagus,” kata saya.

Benar saja. Suaranya tipikal suara berat dan berwibawa. Sangat cocok untuk musik jazz atau swing. Tak heran kalau dia pernah dapat Best Vocal Jazz Album di Grammy Awards.

Tapi akhirnya saya tak tahan jua. Check sound-nya terlampau lama. Sedang perut meronta ingin diisi. Dengan berat hati akhirnya saya pergi. Kata Ciptadi Sukono, kawan saya yang penggemar jazz, penampilan Kurt adalah salah satu penampilan terbaik di Java Jazz kemarin. Saya jadi agak sedikit menyesal. Ah sudahlah.

Setelah mengisi perut, saya pergi ke venue pertunjukan Sean Kuti dan Egypt 80, band ‘peninggalan’ bapaknya. Ketika sang bapak meninggal pada 1997, Seun didapuk jadi penyanyi utama band itu, sekaligus memainkan sax. Saat itu Seun masih umur 14 tahun. Di usia yang sama, saya hanya meniti karir sebagai pengejar layangan paruh waktu dan sesekali mencuri kesempatan menonton video porno saat orang tua sedang tak ada di rumah.

Seun tampil mencolok mata dengan pakaian terusan Yoruba motif Ankara berwarna ungu. Dengan membawa sax, dia juga berjoget, sesekali menghentakkan kaki, dan tentu saja jadi raja panggung di depan mikrofon.

Egypt 80 berisi beberapa personel berusia lanjut dan tiga personel muda. Saya tak tahu nama mereka. Tapi menyenangkan sekali menyaksikan para tetua itu masih tetap berjoged dengan semangat. Band ini juga seperti tak peduli konsep berpakaian. Ada yang memakai pakaian Aruba, gitarisnya pakai kemeja garis dengan topi newsboy yang mengingatkan saya akan pria-pria di bar Memphis era 40-an, bassist-nya memakai topi reggae dan menyandang bass bercat trio merah, kuning, hijau. Mbuh wis.

Musik mereka ceria dan rancak. Musik hakuna matata. Membuat saya berpikir kalau musik jazirah Afrika yang rancak dan ceria itu mungkin dipengaruhi bentang alam yang gersang dan panas. Juga menandakan gaya hidup komunal. Makanya musik mereka tipikal musik yang enak dinyanyikan bareng dan buat berjoget bersama, membuat lupa kegersangan dan penderitaan.

Tapi sayang, lighting di panggung mereka terlalu silau. Benar-benar bikin sakit mata. Entah kenapa. Pengalaman ini tak saya dapatkan sebelumnya. Karena tak kuat, akhirnya kami pergi setelah tiga atau empat lagu. Semoga kelak saya bisa mendengar dan menonton mereka lagi.

Saya sempat menyaksikan White Shoes and The Couples Company yang tampil di bus yang disulap jadi panggung outdoor. Mirip karnaval. Asyik sekali. Cuaca cerah. Meski tampak berawan. Saya membayangkan kekacauan yang akan terjadi kalau hujan deras. Pasti semburat.

“Pawang hujannya kuat bener ini,” kata istri saya.

White Shoes tampil dengan prima, seperti biasa. Sari, aduhai anggun dan bisa menguasai panggung. Lagu “Senandung Maaf”, “Sabda Alam”, “Selangkah ke Seberang”, dibawakan dengan halus dan mulus. Lagu favorit saya “Kisah dari Selatan Jakarta” juga ditembangkan dengan sendu.

Sebelum penampilan mereka usai, saya terpaksa menyingkir. Menuju panggung Kementrian Kehutanan. Menunggu Tokyo Ska Paradise Orchestra. Para penggemar menyebut mereka sebagai Skapara. Boleh lah.

Meski saya tak terlalu dalam kenal band ini, tapi Skapara punya nilai melankolia yang lumayan besar bagi saya. Ada masa-masa album mereka tersebar ilegal di warnet-warnet sekitar kampus Universitas Jember. Di Jalan Jawa, Jalan Kalimantan, hingga Jalan Mastrip. Bersanding dengan folder album musisi-musisi jepang lain seperti Laruku, Tak Matsumoto, Tokyo Jihen, hingga beberapa album solo Shiina Ringo.

Skapara menemani saya dan teman-teman di Tegalboto ketika rapat, menulis, ngedit, berdebat, hingga menjelang tidur.

Lamunan saya tentang masa muda dan Skapara buyar karena sedikit kesal menanti, lagi-lagi, check sound. Entah kenapa kok tahun ini persiapan sound-nya terasa buruk sekali. Skapara jadi terlambat 30 menit lebih. Menyebalkan sekali. Seharusnya masalah vital seperti sound ini sudah harus diselesaikan jauh hari oleh panitia Java Jazz. Tapi ternyata malah terjadi masalah ketika manggung.

Sebelum Skapara tampil, REI ditunjuk sebagai pembuka. Perempuan berambut pendek ini cuma menenteng satu gitar bolong. Tapi permainan gitarnya adalah apa yang disebut Chuck Berry sebagai “…just like ringing a bell.” Mulus. Halus. Tanpa kesrimpet atau terpleset.

Dia memainkan musik four bar blues standar. Tapi mengasyikkan. Setelah pulang saya sempat mencari musisi ini di mesin pencari. Ketemu. Situs resminya adalah guitarei.com. Dia ternyata sudah mengeluarkan dua mini album.

Dan akhirnya yang ditunggu datang. Tokyo Ska Paradise! Lengkap, 9 personel naik ke panggung dengan pakai kemeja putih dan jas. Si istri sudah pasti tergila-gila dengan Atsushi Yanaka, salah satu pendiri grup yang memainkan saksofon bariton sekaligus, mengutip istri saya, “wajahnya lucu juga.”

DSCF9559
Foto oleh Farchan Norr Rachman

Para penonton yang sedari tadi duduk, langsung berdiri. Joget lah. Pogo-pogo. Ada yang joget entah apa namanya. Di depan panggung sudah penuh penonton yang mengacungkan tangan. Bahkan ada yang crowd surfing segala. Sepertinya ini pertama kali ada crowd surfing di Java Jazz.

Saya kehilangan hitungan berapa lagu yang mereka bawakan. Kalau tak salah ada “Down Beat Stomp”, “5 Days of Tequila”, “Soul Growl” yang digabung dengan sebagian lagu “54-46 Was My Number” milik Toots & The Maytals, juga gubahan “Speak Softly, Love” yang ugal-ugalan. Dari yang awalnya bernuansa murung, jadi musik ska yang bikin orang melonjak-lonjak kegirangan.

Saat Skapara undur diri, penonton tak rela. Teriakan encore menggema untuk band juara ini.

“We want more!”

Mereka balik kandang ke instrumen masing-masing. Dan nyanyi satu lagi. Saya tak tahu judulnya. Sebagai penggemar yang tak dalam-dalam amat, tentu sungguh susah menghafalkan semua lagu dari 21 album studio mereka.

***

Ketika nonton Mocca yang tampil terakhir, tenaga saya sudah luruh seluruhnya. Saya dan istri memutuskan untuk duduk di belakang. Pacaran dan romantis-romantisan sedikit. Kapan lagi jeh. Kami menyaksikan band asal Bandung itu memainkan lagu-lagu mereka yang ceria dan segar itu.

Ada “On the Night Like This”, “Me and My Boyfriend”, “I Remember”, hingga yang agak minor, “How Wonderful Would Be”. Mocca mengundang Vicky, vokalis band metal Burgerkill. Suaranya ketika tidak melolong ternyata gagah dan megah juga. Mereka menyanyikan dua lagu. Yang pertama adalah “Swing It, Bob” yang lagu aslinya dinyanyikan Mocca bersama Bob Tutupoly. Lagu kedua adalah lagu baru Mocca yang belum direkam, “When We Were Young”. Di akhir lagu ini, Vicky melolong dengan ganas. Asyik sekali.

Saat akhirnya Mocca undur diri, tinggal tersisa mungkin 5-10 persen tenaga saya. Kaki terasa lemas. Dengkul apalagi. Perjalanan pulang ke rumah masih jauh. Saya menyeret kaki dengan malas.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang cukup mengecewakan, Java Jazz 2016 tetap berhasil menyuguhkan pertunjukan yang seru dan komplit. Tak heran kalau festival ini jadi festival musik terbesar di Indonesia.

Di tengah perjalanan menuju tempat parkir, saya terhenyak dapat kabar lelayu. Legenda jazz Indonesia, Ireng Maulana, meninggal dunia karena serangan jantung. Ireng kerap tampil di Java Jazz. Nyaris setiap tahun. Ini tentu kehilangan besar bagi dunia jazz Indonesia. Selamat jalan, Om Ireng. Salam buat Om Bubby dan Om Jack. []

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR