Aku selalu mengenang istriku dari hal-hal kecil.

Hingga dua tahun pacaran, cerita yang paling aku ingat adalah tentang sedotan. Rani memang pernah bekerja jadi manajer logistik di sebuah hotel bintang di kota halamannya, Jambi. Sewaktu berkisah tentang itu, dia menyebutkan tentang sedotan warna hitam.

“Itu adalah sedotan yang paling mahal dari semua jenis sedotan.”

Tentu aku tak punya banyak waktu untuk menyisir harga semua jenis sedotan lalu membandinkannya. Terlalu melelahkan dan makan waktu. Tapi beberapa kali aku coba membandingkan kualitasnya dengan sedotan lain.

Sedotan hitam memiliki tekstur bodi yang lebih kuat. Ia tak gampang bengkok, apalagi ngeleot macam sedotan warna warni di warteg yang kalau mbleot akan menyumbat aliran es teh tawar yang kau pesan. Begitu pula dengan sedotan putih yang lembek. Sedotan hitam juga punya kadar bouncing yang tinggi. Apa ya istilahnya? Pantulan mungkin. Jadi kalau sedotan itu kau gigit, tak serta merta ia kempes. Ia melawan. Maka kalo kau ingin meringkusnya, kau harus mengigit sekuatnya.

d4c8168eb64b8a08ee226873f57facaa-horz

Pantas kalau harganya paling mahal.

Selain dongeng tentang sedotan hitam itu, aku juga selalu ingat hobinya yang begitu membahagiakan: menyetrika, dan menggosok lantai kamar mandi kalau sedang kesal.

Aku lebih rela disuruh mencuci motor, jadi bandar uang palsu, atau penjual obat kuat, ketimbang harus menyetrika. 9 dari 10 kawan lelaki yang kukenal memilih sikap yang sama. Satu sisanya memilih abstain karena ia memang tak punya setrika.

Tapi Rani menghayati betul pekerjaan menyebalkan ini. Dia biasa melakukan hobinya di akhir pekan. Kadang Sabtu, kadang Minggu. Kadang dua hari itu. Dia selalu memulai hobinya dengan membuka laptop, lalu memutar film, atau serial. Serial favoritnya adalah Friends. Desperate Housewives. Shameless. Sherlock. Orange is New Black. Jessica Jones. Yang terbaru, dia sedang menggemari Quantico.

Sudah barang tentu, karena terlatih, refleknya membuat tangan lincah. Sehingga tangan tak kena sengat setrika walau mata menumbuk layar laptop. Sekali duduk, semua cucian kering kelar dia pesut. Motonya mungkin: kau berani memulai, kau harus berani pula mengakhiri. Karena itu jarang ada cucian yang tak tersetrika.

Pernah suatu kali aku mengajaknya bersenang-senang (bukan bercinta di kasur, pikiranmu ngeres. Baca Al Fatihah sana!). Tapi dia menolak dan memilih untuk menyetrika.

Hobi keduanya juga tak kalah aneh. Kalau sedang kesal, maka dia ke kamar mandi kemudian menggosok lantainya. Sebuah hobi yang teramat kudus. Hobinya mengingatkanku pada hobi yang sama dari ibuku. Sejak ayah kena stroke, ibu selalu rutin menggosok kamar mandi supaya tak licin, agar ayah tak terjatuh di kamar mandi.

Belakangan Rani jarang menekuni hobinya ini. Bisa jadi karena dia sadar kalau aku sering mengadalinya supaya marah kemudian menggosok lantai kamar mandi. Bisa juga karena dia sudah kebal menghadapiku, sehingga kekesalannya sudah berkurang tiap kali aku berlaku macam anak setan.

***

Sewaktu usia pernikahan kami baru beberapa minggu, pertanyaan yang paling sering dilontarkan orang-orang adalah kapan punya anak. Atau: sudah isi belum?

Setelah kami menikah dua tahun, orang sudah mulai bosan –atau terlampau malas– menanyakan kapan kami punya anak. Kami sebenarnya tak keberatan menjawab itu semua. Toh jawabannya sudah ada template-nya.

“Masih usaha terus.”

“Doain aja.”

“Mungkin belum dikasih.”

Pernah kami berencana pergi ke dokter dan uji fertilitas. Tapi kami kaget waktu tanya biaya: bisa mencapai Rp6 juta. Namanya juga ikhtiar, maka kami coba menabung. Kami mulai mengencangkan ikat pinggang. Coret dulu segala macam kegiatan hedon.

Tapi pasutri bisa berusaha, Tuhan menertawakan. Sebelum uang kami terkumpul, Rani harus pergi jauh. Ke kota tempat lahir Jim Morrison. Sepertinya dalam waktu yang cukup lama. Namun sebelum dia pergi, kami sempat berbincang soal uji kesuburan ini.

“Menurutku mending aku dulu yang tes.”

“Kenapa gitu?”

“Soalnya pasti lebih murah. Kan cuma tes sperma. Kalo kamu kan tesnya banyak, gak cuma satu.”

“Iya juga sih.”

“Kalau ngeluarin sperma itu ada bantuan gak sih?”

“Katanya sih dikasih majalah gitu.”

“Kirain ada suster yang bantuin ngeluarin, siapa tau kayak filmnya Julia Kyoka, he he he.”

“Ndasmu.”

Dik Nuran mau saya "bantu"?
                                                          Dik Nuran mau saya “bantu”?

Apa daya, sampai sekarang aku masih terlalu malas untuk pergi ke dokter. Bayangan harus mengeluarkan itu tanpa bantuan suster macam Julia membuat aku mutung. Jadi nanti saja lah, menunggu Rani pulang ke Indonesia. Lalu periksa bareng.

Setidaknya bakal ada yang bisa “membantu”-ku. He he he.

***

“Aku inget ulang tahun pernikahan kita, itu bikin aku mellow.”

Rani mengirimkan pesan pendek itu di sebuah malam menjelang dini hari. Kami terpisah 11 jam zona waktu. Rani harus pergi jauh dan pasti akan melewatkan ulang tahun kedua pernikahan kami. Sebenarnya ini bukan hal besar, sih. Tapi tentu saja sebagai pasangan yang baru menikah, kami masih norak soal beginian.

“Tenang saja, kita punya waktu banyak banget untuk merayakan ulang tahun pernikahan,” kataku. “Kita akan stuck terus sampe mati nanti.”

“Kamu kangen aku gak?”

Aku selalu menoyor kepala Rani dan meledeknya dengan sebutan norak, alay, setiap dia melontarkan pertanyaan macam itu. Pertanyaan lain adalah: kamu sayang aku ndak? Bukan karena aku tak kangen atau tak sayang. Bagiku, pertanyaan macam itu hanya cocok ditanyakan anak-anak SMA atau kuliahan. Kalau aku mau menikah denganmu, apa iya kamu masih butuh jawaban dari pertanyaan macam itu? Menurutku, nanyanya nanti saja sewaktu aku puber kedua. He he he.

Tapi tak urung, pertanyaan itu juga membuatku berpikir. Apa aku kangen Rani?

Bagiku, kata kangen atau rindu itu amat sangat remeh. Malahan cenderung dibesar-besarkan. Sepertinya sih perasaan yang aku alami sekarang ini sudah melebihi rindu. Beyond longing. Siyaaaah mak acacah cena.

Tapi serius. Pernikahan itu melenakan dalam arti kita jadi terbiasa punya teman untuk melakukan segala hal. Dari berbelanja ke pasar sampai pusing mikir utang dan cicilan.

Begitu Rani pergi jauh, aku seperti kehilangan teman untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Hal kecil, namun karena sudah menjadi rutinitas, jadi menjelma nyaris seperti kewajiban. Sehingga apapun yang kamu lakukan, kamu selalu mengingatnya.

Aku melihat Rani pada tumpukan sayur atau jejeran telur di Pasar Minggu. Di sana, setiap akhir pekan kami berbelanja.

Setiap melihat tandan-tandan pisang yang meranum, aku membayangkan rasa pak lempung yang dibuat Rani. Aku yang mengajari cara membuatnya. Tapi rasa pak lempung buatannya mengalahkan buatanku. Kalau ada lomba dunia membuat pak lempung, pasti Rani juaranya.

Setiap melewati halte SMK 57, aku membayangkannya berjalan dan melambaikan tangan dengan senyum lebar. Di halte itu aku biasa menjemputnya kalau jam pulang kami berbarengan dan masih ada bus.

Setiap taksi Blue Bird lewat, aku selalu mengingat sms Rani minta jemput di depan gang, dan aku nggerundel karena itu merepotkan, namun toh aku tetap menunggunya di mulut gang.

Setiap lewat kedai D’Pojokan aku selalu ingat gayanya bertanya dalam bahasa isyarat: mau perkedel gak? Kalau aku mengangguk, maka dia membungkuskan dua butir perkedel untuk kukudap sembari menyetir.

Rindu? Pfft. Itu sepele benar. []

Post scriptum: Di foto atas itu, Rani pamer kalau dia pergi ke rumah tempat Jim Morrison tumbuh besar. Sialan benar. Awas saja kalau pergi ke Sunset Strip duluan, gak bakal tak sopo koen.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

  1. What a lovely wife nuran, happy anniversary… Langgeng dan unyu selalu kalian, btw have I told u before, istrimu macam raisa wajahnya.. Cucok bo’

TINGGALKAN KOMENTAR