Mangut ala Warung Pa’e

727
Warung Pa'e
Warung Pa'e

Anton Ismael jadi menarik bagi saya, bukan karena dia fotografer elite atau fotografer yang membuka Kelas Pagi, kelas fotografi gratis bagi semua orang. Dia jadi menarik karena hobinya memasak. Bahkan saking seriusnya dia memasak, sampai merasa perlu ikut kelas di Jakarta Culinary Centre.

Yang dia masak bukanlah makanan ningrat atau yang instagramable –indah, anggun, seperti hasil fotonya, walau sesekali dia memasak pizza atau pasta– tapi dia memasak makanan yang jauh dari bayangan orang kaya Jakarta: mangut.

Manusia memang menarik. Dia tidak melulu hitam versus putih. Flamboyan vs norak. Elite vs jelata. Hartawan vs papa. Manusia bisa meleburkan itu semua.

Warung Pa’e –yang didirikan Anton tahun lalu, dan saya pikir dia sengaja memakai kata warung– meleburkan semua dikotomi itu. Di antara rumah-rumah gedong dan apartemen yang mencakar langit di Dharmawangsa XI, warung yang dari luar tampak hidup segan mati tak mau ini –kaleng kerupuk kosong, rak etalase hanya berisi potongan ikan,sayuran untuk pecel, tiga bungkus indomie, serta diapit warung ayam goreng dan tempat foto kopi– menyajikan makanan yang aduhai.

Selain menggunakan kata warung, pemakaian nomenklatur Pa’e ini melambangkan tentang rumah. Tentang masakan yang dimasak sang bapak. Menjamin satu hal: masakan ini akan terasa lezat di mulut dan perut, juga dekat dan hangat di hati.

Saya memesan mangut pe. Ikan pe dipotong kecil-kecil. Dimasak dengan amat cantik, dengan kuah yang medhok. Santannya mlekoh. Rasa pedasnya juga tidak malu-malu. Tak jauh beda dengan mangut pe yang bisa kamu temukan di sepanjang jalur Pantura hingga Bantul. Ikan pe di Warung Pa’e juga bisa dimasak rica. Saya menerka, mangut ini pasti akan lebih enak kalau bumbu cabainya diulek, bukan diblender. Tapi perkara ini masih bisa dimaafkan lah.

Penyajiannya juga per porsi. Jadi di panci besar, disiapkan kuah santan. Di wadah lain, ada cabai yang sudah diblender bersama daun jeruk. Ketika ada yang pesan, baru makanan dibuat di wajan kecil.

Pelanggannya bukan mereka yang melulu berduit –seperti kebanyakan klien Anton– melainkan juga para pekerja di sekitaran warung. Penjaga konter pulsa, tukang tambal ban, satpam, hingga penjaga kedai pempek bernama Ibu Lela yang kebetulan berbagi meja dengan saya siang ini. Karena itu ada menu-menu di luar kelaziman dengan harga yang enteng bagi kantong. Semisal paket nasi+kuah mangut+telur orak arik pedas, cuma dibanderol Rp10 ribu. Menu lain juga tak kalah menarik. Nasi goreng bumbu Bali, mangut tengiri, mangut lele, hingga nasi pecel. Semua murah. Dan saya menduga, pasti enak.

Dan kabar baik ini perlu disebarkan: Warung Pa’e akan buka cabang di Kemang Timur. Dekat sekali dengan kantor saya. Sekiranya bakal tiap hari saya ke sana.

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR