15 Hari Menulis

344

Dulu sekali, sekira empat tahun silam, saya dan seorang kawan baik, Putri, pernah bikin ide iseng: sebulan menulis tanpa henti untuk blog. Awal-awal minggu kami rajin. Memasuki minggu ketiga, kami mulai kedodoran. Dan sekali bolong, semakin banyak bolong lain yang menyusul. Perjanjian kami berantakan, dirusak oleh kami sendiri. Tapi masa-masa itu menyenangkan sekali. Memaksa diri untuk menulis. Writer’s block jadi guyonan saja. Karena memang mau gak mau, buntu atau gak buntu, tetap harus menulis.

Hitung maju empat tahun kemudian, saya dan Putri sama-sama sudah jarang menulis untuk blog. Kalau Putri alasannya bisa dimaklumi. Dia sudah jadi ibu dari seorang anak laki-laki yang lucu dan aktif. Mau tak mau energinya difokuskan ke Arsa, nama anaknya. Kalau ada waktu luang ya pasti dia pakai untuk nonton serial Korea, hihihi.

Tapi saya senang karena ternyata Putri tetap menulis untuk Arsa, walau memang tak dipublikasikan untuk umum. Alih-alih, Putri mengirimkan ke akun surel yang dibuat khusus untuk Arsa.

Lha saya? Eits, saya juga punya alasan lho. Dulu sewaktu aktif ngeblog, saya masih jadi pengangguran. Kalau sedang pusing dan sedang banyak masalah, menulis bisa jadi alat pelarian yang ampuh. Sekarang alhamdulillah saya sudah bekerja. Jadi penulis di sebuah media. Mungkin itu sebabnya saya tak bisa membuat menulis jadi sarana pelarian. Sebab energi saya kebanyakan dipakai untuk menulis urusan kerjaan.

Sedih untuk mengakuinya, tapi belakangan ini menulis memang jadi terasa melelahkan.

Tapi kemudian saya mendapatkan keplakan yang seharusnya jadi manjur. Penulis-penulis idola saya, yang kebanyakan tentu berusia jauh di atas saya, masih tetap aktif menulis dan begitu produktif. Mas Puthut EA misalkan. Dia aktif menulis, baik di Mojok, Minumkopi, atau di status Facebook. Entah soal anaknya, kawan-kawannya, hingga renungan politik. Kalau saya tidak salah hitung, setidaknya sudah dua buku yang dia tulis tahun lalu. Yang pertama adalah Dunia Kali, kedua adalah Kami Tak Ingin Tumbuh Dewasa. Oh ya, Mas Puthut juga menulis Taek! yang dibuat untuk jadi pengantar karya seni rupa Dodo Hartoko.

Mas Yusi Avianto Pareanom, bahkan lebih amsyong lagi. Dia berhasil menyelesaikan novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, yang sudah lama sekali ditunggu banyak orang. Dan ketika novel itu akhirnya terbit, kualitasnya memang jauh di atas rata-rata. Bajingan benar.

Anggaplah mereka berdua itu pemecut saya untuk terus menulis. Yang lebih senior dan lebih sibuk aja masih sempat nulis, kok saya yang masih muda dan ndak sibuk-sibuk amat ini kok pakai alasan ndak mau nulis.

Maka sore ini, selagi menyelesaikan Kitchen Confidential, saya ingin membuat ijab. Saya akan mulai menulis setiap hari. Karena level saya masih di bawah Mas Puthut dan mas Yusi, tak perlu lah menulis yang panjang atau berat. Cukup hal-hal kecil yang dulu pernah saya tulis untuk blog. Tentang kawan, musik yang saya dengar, buku yang saya baca, film yang saya tonton, dan juga makanan yang saya badhok. Apa yang akan saya tulis tak akan perlu riset panjang, mungkin ditulis dengan sekali duduk saja. Hanya sekadar untuk memanaskan lagi otot menulis di blog.

Tentu saya sadar diri. Saya tak langsung akan menulis rutin dalam waktu yang panjang. Saya akan coba untuk nulis rutin dalam waktu 15 hari dulu. Kalau ternyata dalam 15 hari itu tak ada bolong, maka mungkin akan lanjut sampai 30 hari. Pasti berat. Saya tahu itu. Tapi setidaknya saya ingin mencoba dulu.

Doakan saya!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR