Foto dari Getlostmagz.com

Kemarin sore saya membaca status Facebook seorang kawan: Ajo Ramon meninggal dunia. Ini kehilangan besar bagi dunia kuliner sate Padang, terutama di Jakarta. Nama aslinya Ramon Tanjung. Ajo, bahasa Minang, artinya Abang. Menurut sejarah, Bang Ramon ini sudah buka gerai sate Padang di Jakarta sejak 1980-an. Usahanya tumbuh pesat. Sekarang, kalau tidak salah, ada 3 gerai Ajo Ramon di seluruh Jakarta. Menandakan selain jago memasak, Ajo Ramon juga pandai berbisnis.

Saya pernah satu kali mencicipi sate ini, di pelataran Pasar Santa, Jakarta Selatan. Sebelum makan sate Ajo Ramon, saya cuma beberapa kali makan sate Padang. Maklum, sebagai orang Jawa Timur yang terbiasa makan sate Madura atau sate Ponorogo, sate Padang adalah sesuatu yang jauh dan asing. Terutama bagi lidah. Bumbunya kuat, dari jarak 10 meter saja sudah bisa tercium aroma jintan dan kunyitnya. Bumbunya pun memiliki tekstur yang sedikit berbeda dengan sate ala Jawa Timuran.

Lha kok ternyata saya nikah dengan perempuan Minang. Mau tak mau saya mulai berakrab ria dengan sate Padang. Waktu nikah pun, salah satu menu katering kami adalah sate padang Danguang-Danguang. Ibu mertua lantas banyak berkisah tentang varian sate Padang ini.

Danguang-Danguang adalah sebuah nama daerah di Payakumbuh, ibu kota Sumatera Barat. Bahan dan cara penyajian sate ini sedikit berbeda dengan gagrak Padang Panjang dan Pariaman yang kerap dijadikan standar sate Padang. Sate ala Danguang-Danguang ini memakai daging sapi, sedangkan sate Padang biasanya banyak memakai jeroan. Kalau sate Padang umumnya beraroma dan berbumbu kuat, sate Danguang-Danguang cenderung lebih ringan, juga sedikit manis karena bumbunya mengandung gula aren. Pengalaman pertama makan sate Danguang-Danguang itu begitu menyenangkan. Sayang saya tak sempat nambah karena sibuk bersalaman dengan tamu.

Orang Minang, seperti istri saya atau kawan saya Panjul, selalu bangga, kadang berlebihan, dengan lidah mereka. Mereka tak malu mengakui kalau lidah orang Minang itu lidah borjuis, lidah angkuh karena besar oleh kultur Minang yang punya banyak sekali makanan enak. Mereka juga punya rasa memiliki yang kuat terhadap makanan Minang.

Tak heran kalau bahkan istri saya –yang pemakan segalanya kecuali yang bercitarasa manis– cenderung selektif dan cerewet terhadap makanan Padang. Termasuk satenya. Terlalu inilah, terlalu itulah, kurang ini, kurang itu. Ceriwis sekali.

Di sinilah kenangan saya terhadap Ajo Ramon datang.

Suatu sore, sekira dua tahun lalu, setelah menghadiri acara bazaar di Pasar Santa, kami kelaparan. Menuju parkiran, mata saya menumbuk kios Ajo Ramon. Saya belum pernah mencoba, namun nama Ajo Ramon sudah lama terdengar harum sebagai penyaji sate Padang nomor wahid. Gagrak satenya adalah Pariaman, yang berbumbu warna merah. Rani yang pantang menolak santapan berbau Padang, tentu saja mengangguk.

Bagi saya, sate Ajo Ramon itu enak. Termasuk di atas rata-rata sate Padang Jakarta. Tentu penilaian saya terkacaukan karena setidaknya dua alasan: 1) saya tak punya batas standar enak atau tidaknya sate Padang, 2) semua makanan dengan bahan daging atau jeroan paling tidak sudah 90 persen enak bagi saya. Sate Ajo Ramon, menurut saya, sudah benar secara penyajian dan rasa. Daging dan jeroan sapinya lembut. Dibakar dengan baik untuk menguarkan aroma. Bumbunya pun medhok. Tapi ternyata…

“Biasa aja ah rasa satenya,” kata Rani setelah makan dua tiga tusuk, dengan wajah yang cuek.

Saya kaget. Saya coba tanya lagi: gimana rasanya? Rani melemparkan jawaban yang sama. Baginya, sate Padang yang paling cocok dengan lidahnya adalah sate Padang Murni yang ada di Cikini. Saya yang mengenalkan Rani ke sate itu. Dulu kantor saya di sekitaran Menteng-Cikini. Membuat saya sering menjelajah makanan di sekitar kawasan itu. Ketika saya ajak ke sana, Rani tersenyum lebar. Enak banget, katanya.

Padahal bagi saya sate Ajo Ramon dan Sate Murni sama saja enaknya. Ah namanya juga selera.

Bagaimanapun kenangan Rani terhadap rasa sate Padang Ajo Ramon, tetap saja meninggalnya Ajo Ramon ini pukulan menyakitkan. Ujian langgengnya suatu bisnis ini muncul ketika sang pendiri meninggal dunia. Apakah resep dan cara menanganani bisnis dipelajari dengan baik oleh penerusnya? Kalau iya, pertanyaan lanjutannya adalah apakah kemudian penerusnya bisa meneruskan usaha dan mewarisi cita rasa yang sama? Tentu jawaban itu yang harus ditunggu oleh para pecinta sate Ajo Ramon.

Selamat jalan Ajo! []

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR