Cinta yang Diam-Diam

490

Jakarta adalah kota yang aneh dan juga kasihan. Kita kerap mengutuknya dengan keras. Memakinya dengan lantang. Membencinya hingga ubun-ubun. Tapi toh kita kerap mencintainya diam-diam. Tentu saja begitu, sebab siapa yang mau dengan senang hati dan sukarela mencintai kota yang teramat buruk rupa macamnya.

Kalau Jakarta dianggap sebagai iblis buruk rupa, maka Jogja adalah malaikat. Kota ini adalah kesayangan semua orang. Tak ada orang yang membencinya. Ya mungkin ada satu dua sih. Namun tentu jumlahnya minor belaka. Jogja kerap dipuji sebagai kota yang istimewa. Yang bisa membuatmu jatuh cinta sekali pandang. Dan jika kau pernah tinggal di sana, wassalam, kamu tak akan pernah benar-benar bisa lepas darinya.

Saya mengalami itu. Tiga tahun tinggal di Jogja, membuat saya cinta setengah mati padanya. Dan betapa bergidiknya saya ketika harus pindah ke Jakarta. Dari taman firdaus pindah ke neraka.

Tapi toh akhirnya benar. Cinta bisa datang karena kebiasaan. Tapi tentu saja cinta pada Jakarta adalah hal yang berbeda. Kamu pasti¬†jarang menemui orang yang terang-terangan bilang cinta Jakarta. Kecuali C’mon Lennon, tentu saja. Kalau orang cinta Jogja, dia akan mendeklamasikannya terang-terang. Kalau cinta Jakarta, cukup dipendam dalam hati saja. Cinta yang diam-diam.

Tapi itulah. Sekarang masih Sabtu pagi, saya duduk di lantai Stasiun Tugu. Di sebelah saya adalah satu kantong kresek berisi sekotak nasi gudeg Yu Djum, dengan lauk telur dan ayam suwir. Masih hangat, baru saya beli beberapa menit jelang stasiun. Tapi saya tak bisa memakannya sekarang. Perut saya terlatih tak sarapan. Kalau itu dilanggar, sakit perut bertamu.

Sepagi ini Tugu sudah hiruk pikuk. Penumpang datang dan pergi. Tapi tentu kamu tak bisa melihat sepasang kekasih yang saling berpelukan setelah lama tak jumpa. Nihil pula orang tua yang menjemput atau mengantar anaknya. Stasiun kini sudah tak sudi menyediakan romantika macam itu. Tempat yang dulu kerap dijadikan latar perpisahan yang bikin jeri, kini tak lebih dari bangunan bertiang baja dan beralas tegel. Dingin. Tanpa nyawa. Begitulah.

Saya memaksa untuk pulang ke Jakarta. Padahal sekarang masih hari libur. Saya mungkin rindu Jakarta. Walau satu dari sedikit alasan saya merindukan kota itu sedang tak ada di tempat. Saya mungkin merindukan kemacetannya. Caci maki di jalan. Wajah-wajah para pekerja keras.

Tapi saya bohong.

Saya tak rindu Jakarta. Lagipula siapa yang begitu tolol mendahulukan Jakarta ketimbang Jogja. Alasan saya pulang buru-buru adalah karena motor saya terparkir di Stasiun Senen. Sudah empat hari. Di luar perkiraan. Semakin lama saya meninggalkannya di sana, semakin mahal pula tiket parkir saya tebus.

Sekarang tanggal tua. Dan saya tentu tak rela menghabiskan ratusan ribu untuk parkir belaka.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR