Pariwisata Musik: Servis

287
Pariwisata Musik

Apa yang membuat pariwisata musik, dalam hal ini festival musik, jadi menarik, selain tentu saja perkara musik? Salah satunya adalah servis. Dalam festival musik, menurut Connel dan Gibson yang dianggap sebagai mbah soal pariwisata musik, servis bisa mencakup jadwal pertunjukan, peta lokasi, hingga tersedianya booth makanan dan minuman di dalam lokasi acara.

Banyak festival musik kelas dunia yang menggabungkan atraksi musik dan kuliner. Misalkan Opera in the Otways yang menggabungkan antara festival opera, makanan enak, wine, dan bir buatan rumah. Begitu pula dengan Mildura Jazz, Food, and Wine Festival yang sudah berlangsung selama 30 tahun. Pengeluaran penonton festival musik pun kebanyakan ya untuk makanan, minuman, juga merchandise.

Di luar negeri, penjualan makanan dalam festival musik adalah kesempatan untuk mencari laba yang besar. Di Venice Festival of Contemporary Music, harga tiketnya gratis. Namun harga makanan dan minuman selalu lebih mahal dibandingkan dengan hari biasa. Makanan yang beranekaragam juga berperan untuk membuat para penonton betah. Karena sifat festival yang berlangsung dalam waktu yang panjang, makanan dan minuman adalah faktor penting yang menahan penonton untuk tetap berada dalam tempat acara.

Berapa jumlah pengeluaran yang dihabiskan oleh pengunjung untuk makanan dan minuman? Sayangnya, hal ini susah dijawab secara akurat. Sebabnya, pengunjung biasanya menjawab rentang pengeluaran, bukan jumlah pasti. Dan biasanya pengeluaran yang disebutkan oleh pengunjung lebih kecil dibandingkan pengeluaran sebenarnya. Dari penonton yang saya wawancara, rata-rata menghabiskan pengeluaran Rp200 ribu dalam sehari.

Kalau berdasar rumus dari Connel dan Gibson, cara mudah menghitung pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah dengan mengambil rata-rata pengeluaran dikalikan jumlah pengunjung. Itu kenapa statistik jumlah penonton sangat penting.

Pada tahun 2015, Java Jazz diperkirakan ditonton oleh 110.000 orang selama tiga hari. Semisal tiap penonton menghabiskan Rp200 ribu, maka jumlah pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah Rp22 miliar. Hanya dari makanan dan minuman saja. Andai nominal itu menyetor pajak 10 persen saja, maka paling tidak Pemprov DKI mendapatkan Rp2,2 miliar hanya dari satu acara.

Selain makanan dan minuman, suvenir juga menjadi pemasukan yang menguntungkan bagi penyelenggara festival. Namun sayang penyelenggara Java Jazz membatasi jumlah suvenir yang diproduksi. Salah satu suvenir paling popular di Java Jazz adalah kaos. Pada 2015, penyelenggara memproduksi kaos sebanyak 6.000 helai dengan harga Rp150 ribu. Kaos itu selalu terjual habis. Ini artinya ada pemasukan Rp900.000.000 dari kaos.

Menurut Americans for the Arts (2002), pengeluaran terbesar wisatawan budaya adalah untuk biaya servis. Biaya servis terbesar adalah makanan dan minuman, kemudian diikuti oleh suvenir. Ini artinya, sebuah festival musik yang potensial menjadi wisata musik (dan menjadi bagian dari wisata budaya), perlu memperhatikan sektor servis.

Post scriptum: ini nukilan tesis saya yang membicarakan tentang pariwisata musik dengan contoh kasus Java Jazz. Kalau sudah selesai ujian, bentuk pdf-nya akan saya sebar gratis. 

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR