Waktu pertama kali mendengar nama bakmi mewah, saya ndak tertarik. Mungkin sama seperti banyak orang lain, saya beranggapan tak ada yang lebih baik ketimbang indomie+telur di jagat mi instan. Tak juga mi instan dengan iming-iming daging ayam asli.

Namun akhirnya pertahanan jebol juga. Bukan karena ingin. Melainkan karena penasaran. Kebetulan, beberapa hari lalu saat sedang mengambil uang di atm dalam minimarket, saya ketemu dengan bakmi mewah ini. Saya ambil satu kotak dan dimasak di rumah.

Bentuk mi-nya lebih kecil ketimbang indomie. Saya masak tiga menit. Bumbu saya campur, dan saya tambahkan sedikit minyak wijen. Dan di luar dugaan saya, rasanya enak. Apalagi daging ayam dan jamurnya. Gurih. Mengingatkan saya akan mi gagrak Tiongkok yang mengandalkan rasa asin dan gurih. Selain itu, saya suka sekali dengan daun bawang yang jumlahnya royal. Beberapa orang menulis betapa biasanya rasa bakmi ini. Kalau saya kok malah suka.

Meski begitu, ada beberapa kekurangan mi ini. Antara lain soal tekstur yang terlalu cepat lembek. Apalagi kalau dibanding mi instan pada umumnya. Dan yang kedua: saus sambalnya mengganggu. Sama sekali ndak signifikan untuk rasa. Plus teksturya terlalu susah bercampur dengan mi-nya.

Kekurangan lain mungkin soal segmentasi pasar. Dengan harga Rp8 ribu, pasti pembelinya akan mikir-mikir. Segmentasinya sebagian besar pasti akan ada di kota besar. Itu pun harus bersaing dengan mi ayam mamang-mamang yang harganya semangkuk mi ayamnya hanya lebih mahal Rp2 ribu.

Kalau saya jadi kepala divisi pengembangan produk mereka, saya akan buang saus sambalnya. Akan saya perkuat rasa minyaknya. Menggunakan minyak wijen atau minyak ikan sepertinya ide bagus. Menguarkan aroma dan memberikan rasa gurih yang lazis. Selain itu, saya pasti akan memarahi web developer situs bakmi mewah ini, karena tak bisa dibuka, dengan alasan (saya kutip dari situsnya), “…Failed to connect to MYSQL. Too many connection error.” Sebagai produk yang ingin punya nama di jagat mi instan dan menyasar pembeli kelas menengah di kota besar, situs yang porak poranda macam ini adalah kegagalan. Serius.

Oh ya, gara-gara nyoba sekali dan ternyata enak, sekarang saya jadi ketagihan. Apesnya, beberapa kali cari bakmi mewah di minimarket dekat rumah, mereka selalu tak punya stoknya.

Krai ~

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

7 KOMENTAR

  1. kalau liat iklan bakmi mewah ini saya ingat dengan seorang selebtwit bernama @imanbr. Suatu hari pak Iman ini ngetwit kalau udah nyoba bakmi mewah, dan ternyata ga sama kayak bungkusnya. Dia foto bakmi yang dia masak. Katanya topping ayamnya ga sebanyak dan ga kayak di bungkus. Beberapa hari kemudian dia ngetwit lagi kalau dihubungi pihak Bakmi mewah dan dapat komplimen atas protesnya di twit.
    Jadi selebtwit enak juga ya.

    • Lucu juga ya kalau mas Iman komentar gitu. Dia kan pakar periklanan juga. Harusnya tahu kalau apa yang ada di iklan pasti kebanyakan tak sama dengan produk aslinya. Tuh produk-produk McD kurang beda apa coba. Indomie juga, di gambarnya pasti ada ayam, telur, dll. Isinya ya cuma mi doang :))) Tapi ya itu, enak ya jadi selebtwit, kritik kurang signifikan kayak gitu aja dapat komplimen :)))

TINGGALKAN KOMENTAR