Tahun 1973.

Kenji Endo masuk ke dalam ruang penyiaran. Menyekap penyiar, seorang perempuan, mengikat tangan dan kakinya, juga menyelotip mulutnya.

“Apa maksud ‘Musik Dari Suasana Hati yang Mempesona’ bangsat ini?”

“Apa ‘Paul Mauriat, Penelope’ keparat ini?”

Dia membanting semua koleksi musik dan piringan hitam yang ada di ruang penyiaran. Dia mengeluarkan piringan hitam yang dibawanya. Berharap sesuatu akan terjadi. Rock n roll! Kenji mengira semua murid di SMP-nya akan jatuh cinta pada lagu ini.

Jeng Jeng! Suara gitar masuk. Berisik. Mentah. Jeng jeng! Auuuu. Auman purba menyusul. T-Rex! Ini “20th Century Boy”! Tapi Kenji salah. Tak ada apapun yang terjadi. Semua murid tetap tak acuh. Tetap mengerjakan kegiatannya. No love for rock n roll.

Kenji kecewa.

Namun Kenji di masa depan, yang sudah berusia senja dan masih menyimpan impian untuk jadi rock star, berkesempatan pergi ke atap sekolah di hari “20th Century Boy” diputar. Di sana, Kenji menemukan seorang anak yang memutuskan untuk tak jadi bunuh diri karena mendengar lagu itu.

Dia, anak lelaki bertopeng itu, diselamatkan oleh rock n roll.

***

Saya membaca lagi komik 20th Century Boys-nya Naoki Urusawa sejak beberapa hari terakhir. Jika waktu pertama kali membacanya saya tersedot dalam cerita, sama seperti saat membaca Monster yang juga karya Naoki, kali ini saya fokus pada reaksi Kenji ketika berbicara soal rock n roll, tentang T-Rex. Rasanya menyenangkan melihat bagaimana musik rock bisa mengubah hidup seseorang.

Oh ya, mungkin kalian sudah tahu kalau Naoki punya band. Dia memakai nama panggung Bob Lennon, gabungan dari Bob Dylan dan tentu saja John Lennon. Nama Bob Lennon dalam suatu jilid 20th Century Boys ini pernah muncul sebagai salah satu judul lagu milik Kenji.

Melihat bagaimana Kenji terperangah karena rock n roll, membuat saya ingat betapa saya bengong sewaktu pertama kali menemukan “Welcome to the Jungle” di sebuah siang di Surabaya yang panas. Keringat saya menetes, membuat badan lengket. Dari layar kaca yang memutarkan VCD bajakan itu muncul Axl Rose dengan rambut kaku karena Aquanet, Slash yang tampil seperti orang mabuk, Izzy yang elegan seperti biasa, Duff yang bersemangat dan memakai headband, juga Steven yang tetap kenes di balik set drum.

Sejak itu tentu hidup saya tak pernah sama lagi.

Sekarang saya membayangkan apakah para remaja itu merasakan hal yang sama ketika mereka melihat Justin Bieber, Adele, Taylor Swift, atau para grup boyband Korea itu. Bisa jadi sih. Apapun itu, musik yang memukau kita di usia belasan akan jadi musik kesukaan kita selamanya. Sepertinya begitu.

Gara-gara membaca komik ini lagi, saya jadi melihat lagi koleksi video T-Rex milik saya. Marc Bolan memang dahsyat. Dia punya aura kenabian yang sukar dibantah. Karena itu dia yang dipuja sebagai Dewa Glam Rock, bukan Gene Simmons, Ace Frehley, Paul Stanley, Johnny Thunders, atau David Bowie. Tapi Bolan seorang.

Saya bisa merasakan bagaimana keterkejutan Kenji ketika pertama mendengar “20th Century Boy”. Gitar yang mentah dan berisik. Suara lolongan yang arkais. Cara menyanyi yang belel. Semuanya mempesona. Gimana lagi, Bung. Itu lagu yang hanya bisa diciptakan oleh Dewa.

Tapi sang Dewa ini juga tak bisa ada selamanya. Bolan tewas karena kecelakaan mobil, di usia yang masih teramat muda: 29 tahun. Kalau dia terus hidup mungkin dia bisa lebih terkenal ketimbang Bowie, atau bahkan Beatles sekalipun. []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR