Jadi…

563

Jadi ceritanya saya sedang malas menulis. Kecuali untuk kerjaan, karena itu tuntutan. Selain menulis, saya juga malas bersosialisasi di dunia maya. Saya nyaris tak pernah buka media sosial sejak sekitar 2 minggu lalu.

Alasan utamanya mungkin topik yang berseliweran di linimasa. Menjenuhkan. Kalau tidak politik, ya soal agama. Kalau tidak agama, ya heboh tema A. Tak jauh-jauh dari kehebohan, kemarahan, kebodohan. Membuat kesal. Membuat capai. Tak ada lagi cerita kecil yang menyenangkan. Ada sih, namun semuanya tenggelam dengan segala keributan ala dunia maya yang cepat datang dan lebih cepat berganti itu.

Jadinya saya lebih banyak mencari tawa. Banyak buka aplikasi 9gag. Baca lagi komik-komik terbitan Indira. Tintin. Lucky Luke. Asterix dan Obelix. Kebetulan beberapa waktu lalu saya ke Bandung. Selain datang ke acara bedah bukunya Kang Ucok, saya sekalian mampir ke rumah Om Subur. Merampok beberapa eksemplar komik lawas Indira. Itu pun masih ada sekitar tiga bundelan komik yang tak saya bawa dengan alasan berat.

Gara-gara kemalasan ini, blog jadi terbengkalai. Lama sekali. Padahal ada banyak hal yang ingin saya tulis. Mulai dari lebaran di Jambi (saya mabuk kwetiau), wisuda (akhirnya, bung!), sampai si Rani yang pergi ke Amerika lagi.

Iya, si Rani pergi lagi ke Orlando. Mungkin dua bulan lagi, seperti kepergiannya yang pertama. Tapi kali ini Rani tidak sendirian. Itu juga jadi salah satu alasan yang membuat saya membolehkannya pergi. Kalau sendirian, saya kasihan dengannya. Masih membekas betapa dia lumayan depresi, malah kayaknya hampir gila, karena beban kerja dan tak ada kawan di sana. Sewaktu kepergian pertama Rani memang sendirian. Kali ini ada tiga orang kawan lain. Jadi total berempat. Setidaknya ada kawan untuk ngobrol dan jalan-jalan.

Gara-gara Rani pula saya berusaha kembali menulis. Ceritanya sedang ngobrol kenapa saya lama tak nulis blog. Akhirnya saya iseng lemparkan tantangan: saya rutin nulis blog 2 minggu, hadiahnya piringan hitam ya. Dia menyetujui saja. Namun setelah saya pikir-pikir, piringan hitam belum saya butuhkan. Belum beli pemutarnya pula. Akhirnya saya minta 5 buku Chuck Klosterman sebagai hadiah. Hehehe.

Jadi mulai hari ini, saya akan berusaha rutin menulis lagi. Doakan saya.

Demi Chuck Klosterman.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR