Hari Sabtu kemarin saya diajak ngobrol soal tulis menulis di acara Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI). Rasanya menyenangkan bisa ngobrol dengan para pekerja yang bersemangat itu. Acara ini dibuat atas kerjasama KASBI dan Kabar Buruh. Nama yang disebut terakhir ini adalah media yang fokus pada informasi buruh. Berita yang dimuat di sini adalah berita yang lebih berimbang terhadap gerakan buruh. Selama ini kita tahu kalau sebagian besar media arus utama kerap memberitakan gerakan buruh secara miring. Kabar Buruh menjadi penyeimbang.

Jika selama ini pelatihan terhadap para pekerja adalah soal, katakanlah, kursus politik, pergerakan dsb, kali ini Kabar Buruh berniat memberikan pelatihan tentang dunia media dan literasi. Dua fasilitator lain adalah Wisnu Prasetya, kawan yang menjadi satu dari sedikit sekali pengamat media di Indonesia. Nama lain adalah Muammar Fikrie, jurnalis Beritagar yang paham tentang seluk beluk media sosial. Jika Wisnu memberikan materi tentang media –mulai sejarah hingga konglomerasi– maka Mas Fikrie mengampu materi tentang penggunaan media sosial secara efektif.

Pesertanya sekitar 35 orang. Semua bersemangat. Seragamnya berwarna merah. Khas kaum pekerja dan melambangkan keberanian. Awalnya mereka sedikit malu-malu dalam bertanya. Tapi setelah satu pertanyaan meluncur, yang lain menyusul. Suasana jadi gayeng.

Untuk praktik, saya minta mereka menulis kehidupan sehari-hari. Dari bangun tidur hingga menuju tidur lagi. Banyak yang menarik. Ada yang mengutip The Cure dan bicara falsafah “Friday I’m in Love”. Ada yang memakai pendekatan naratif. Ada pula yang menunjukkan semangat: pulang malam tapi dilanjut dengan rapat dan diskusi perburuhan.

Rasanya mengharukan melihat para pekerja keras ini menyisihkan waktu dan tenaga untuk belajar hal baru. Tak banyak pekerja yang bisa dan mau seperti itu. Apalagi di hari Sabtu dan Minggu yang biasanya digunakan untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Para peserta ini datang dari berbagai kota. Dari Bekasi, Karawang, hingga Purwokerto.

Melihat mereka, saya jadi ingat lagu “Livin’ On A Prayer” dari Bon Jovi dan “Nothin’ But A Good Time milik Poison. Baik personel Bon Jovi dan Poison, mereka berasal dari kaum pekerja kerah biru. Jon, sebelum jadi superstar, pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih dan penjaga studio. Personel Poison, termasuk Bret Michaels, pernah jadi pencuci piring. Karena itu, meski kesannya mereka adalah superstar yang hedon dan hidup di dunia gemerlap, nyatanya mereka pernah merasakan beratnya jadi buruh.

Bon Jovi memotret pasangan dari kelas buruh. Tommy pekerja galangan yang baru kena pecat. Sedangkan Gina pelayan di kedai yang bekerja demi bisa menghidupi mereka berdua. Kadang kalau malam, Gina menangis. Hidup memang berat. Tommy yang menenangkannya. Kalau Tommy sedang kalut, maka Gina yang menguatkannya.

She says, “We’ve gotta hold on to what we’ve got.
It doesn’t make a difference if we make it or not.
We’ve got each other and that’s a lot.
For love we’ll give it a shot.”

Kalau Poison lebih memotret keluh kesah seorang pekerja yang mirip budak. Dalam video klipnya, tokohnya adalah tukang cuci piring yang bahkan tidak boleh mendengarkan radio. Di ujung kekesalannya, baik terhadap pekerjaan maupun bosnya, dia menendang pintu. Brakkk! Di luar sana, tampaklah Poison dengan segala rambut awut-awutan dan pakaian yang berwarna-warni. Di lagu ini juga ada selarik lirik yang layak dipakai sebagai jargon kaum buruh yang menuntut kesejahteraan:

If wanting the good life is such a crime
Lord, then put me away

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR