Saya mungkin bisa membuat 1001 alasan kenapa blog ini tidak diperbarui sekitar dua bulan. Tapi yang akan saya jadikan senjata utama adalah: pekerjaan. Dulu kalau tak salah saya pernah menuliskan perihal ini. Dulu menulis menjadi hiburan, makanya saya ngeblog. Tapi ketika menulis jadi pekerjaan utama, kok rasanya aneh masih menjadikan menulis sebagai penghiburan.

Tapi ya sudahlah. Lama-lama saya jadi ngenes dengan blog ini sendiri. Sudahlah jarang dibaca. Jarang diisi pula. Makanya mau tak mau, saya mencoba menguatkan hati dan otak untuk kembali rutin mengisinya. Walau ya tak perlu ditargetkan juga. Hehehe.

Yah semoga usaha kali ini tak berakhir mengenaskan seperti yang sudah-sudah. Hehehe.

***

Postingan pertama, seperti yang saya bilang, yang enteng-enteng saja. Tadi sore saya menerima paket. Isinya seperti biasa, buku dari minumkopi. Jadi meskipun bergabung di tim redaksi, kalau mengirim tulisan kami tetap dapat honor dan buku. Enak kan? Makanya, ayo kirim tulisan tentang kopi, kuliner, juga gaya (pertunjukan musik, pameran seni rupa, atau fashion show) ke minumkopi. Cara mengirimnya bisa klik tautan ini.

Isi paket kali ini adalah Menanam Padi di Langit. Buku ini pertama kali saya baca di pertengahan 2008 atau 2009 ya. Saya lupa. Waktu itu saya dapat versi digitalnya dari Arys. Saya baca sekali duduk. Edan sekali, batin saya. Sosok tiga orang seniman yang sama gila dan sama hebatnya, berhasil dikisahkan begitu dalam dan menarik.

Selain perihal seni rupa dan pergolakan politik 98, buku ini juga sedikit mengupas tentang Steak Daging Kacang Ijo, band yang dibentuk oleh tiga tokoh utama dalam buku ini: Bob Sick, S. Teddy , dan Yustoni Volunteero, serta satu orang lagi kawan mereka: Edo Pillu.

Proses terbentuknya band selalu menarik untuk diceritakan. Biasanya, dari cerita-cerita itu, kita bisa menerka kenapa sejumlah orang bisa bersepakat untuk membentuk band. Apa nilai-nilai yang mereka percayai bersama. Chemistry. Hingga meramalkan kenapa kelak band itu bisa bubar.

Menurut saya, ada dua kisah terbentuknya band yang sangat puitik dan amat menarik untuk terus diceritakan. Pertama tentu adalah saat James Douglas Morrison, mahasiswa tingkat awal di jurusan film UCLA dan filmnya baru saja dicemooh karena dianggap aneh, bertemu dengan Ray Manzarek –kawan satu kelasnya– di pantai Venice, Los Angeles. Di sana, Jim menyanyikan “Moonlight Drive” dan membuat Ray cengo. Dari sana mereka membentuk The Doors, dan sisanya tentu adalah sejarah.

Kalau membaca buku biografi The Doors, atau menonton film garapan Oliver Stone, kita bisa tahu kenapa Ray bisa kepincut dengan Jim. Padahal secara suara, Jim biasa saja. Secara persona, dia juga masih tampak sebagai seorang penyair yang pemalu. Tapi entah bagaimana, Ray yang kemampuan musikalitasnya paling tinggi, bisa dibilang jenius dalam bermusik, bisa melihat sesuatu dari dalam diri Jim. Itu yang disebut chemistry kan? Dan intuisi Ray tak salah. Kita mengenal Jim sebagai salah satu vokalis rock yang paling dipuja, hingga sekarang.

Selain The Doors, kisah terbentuknya band yang juga amat menarik adalah Guns N Roses. Mungkin kita bisa membidiknya dari Duff McKagan.

Pada 1983, Duff minggat dari Seattle menuju Los Angeles. Kisah yang sering diceritakan adalah, Duff ingin mengejar karir di dunia musik. Dan Los Angeles memang sudah lama dikenal sebagai episentrum musik rock Amerika Serikat. Tapi cerita lain: para kawan Duff banyak yang tumbang karena overdosis. Pemain bass ini tak ingin ikut-ikutan OD, dan karena itu memutuskan menjauh dari kampung halamannya.

Suatu hari, Duff membaca iklan di koran lokal, The Recycler. Seorang bernama Slash memasang iklan itu, mengatakan dia dan seorang drummer sedang mencari pemain bass. Maka Duff pun mendatangi klub tempat Slash menunggu. Kemudian Duff, lelaki Irlandia bernama asli Michael itu, melihat seorang lelaki dengan rambut kribo yang panjang dan menutupi mata bersama dengan seorang lelaki berambut pirang, dia mengenalkan dirinya: Steven Adler. Dua orang lain, Axl dan Izzy, melengkapi formasi ini. Dari The Recyler itulah, salah satu grup rock terbaik sepanjang sejarah terbentuk.

Bayangkan, saat itu ada ratusan band yang sedang mencoba meniti karir di Los Angeles saja. Saat itu baik Slash, Steven, Axl, dan Izzy sama-sama belum punya nama besar. Tapi toh Duff percaya pada empat orang brandalan ini. Mungkin ujian pertama mereka saat mengadakan konser di Seattle, kampung halaman Duff.

Itu konser pertama mereka. Diadakan di luar kota. Di tengah jalan, mobil van yang mereka tumpangi mogok dan tak bisa diselamatkan lagi. Mereka terpaksa nebeng sembari bawa peralatan musik yang banyak dan berat. Harus belasan kali menumpang dan berganti moda transportasi, barulah mereka sampai di Seattle. Sampai sana, mereka langsung dijamu dengan pesta. Mabuk dan teler. Bahkan sebelum konser dimulai. Jalanan dan peristiwa-peristiwa macam itu yang akhirnya membuat Guns N Roses menjadi salah satu band paling berbahaya sepanjang masa.

Di Indonesia, bisa jadi terbentuknya Steak Daging Kacang Ijo adalah yang paling puitis, absurd, sekaligus magis mengalahkan semua kisah novel manapun. Saya pikir, satu-satunya kisah terbaik yang bisa menceritakan kisah band ini, berikut para personelnya, adalah dari buku Menanam Padi di Langit yang ditulis oleh seorang yang dari luar mengaku sebagai fans AS Roma, tapi merupakan fans Manchester United dari dalam hati.

Saya cuplikan satu paragraf tentang momen terbentuknya band ini:

Untuk merayakan pembentukan nama grup musik sekaligus kelahiran grup musik mereka, kemudian mereka berempat menuju ke kampus untuk mabuk-mabukan. Tidak lama setelah emreak sampai di sana, hujan turun dengan deras. Setelah mereka mabuk, mereka bersepakat telanjang bulat dan berhujan-hujanan, berlari mengelilingi Gedung Adi Yasa sebagai prosesi lahirnya grup musik mereka. Benar, mereka pun berhujan-hujanan dalam keadaan telanjang bulat mengitari Gedung Adi Yasa. Banyak orang yang mengenang peristiwa dahsyat itu, termasuk para dosen.

Steak Daging Kacang Ijo adalah band yang sangat menarik. Perihal personelnya tak bisa bermain musik, itu biasa. Sex Pistols hingga Teenage Death Star punya personel yang tak bisa bermain musik, dan mereka membanggakannya. Skill is dead, let’s rock, kata mereka.

Yang bikin band ini menarik adalah latar belakang dan juga kurun waktu mereka aktif. Mereka adalah seniman seni rupa, yang tentu pendekatan artistiknya jauh berbeda dengan musik. “Ini happening band,” kata Toni, dalam buku ini, menyitir istilah happening art.

Saat mereka aktif, Indonesia sedang dalam gejolak politik terbesar setelah peristiwa 1965. Perlawanan mahasiswa semakin menguat dan terbentuk di mana-mana. Di saat seperti itu, SDKI (capek juga menulis nama panjang band ini) tak kemudian memposisikan diri sebagai band politik. Atau band perlawanan. Mereka enggan mengaku sebagai aktivis mahasiswa. Mereka tetap nggambleh. Tetap gendeng. Ya walau di panggung pertama, mereka sempat menyanyikan “Darah Juang”. Tapi lagi-lagi, saya pikir mereka menyanyikan lagu itu tanpa ada pretensi ingin dianggap sebagai aktivis. Ya karena pada mabuk dan acak saja memilih lagu. Seingatnya otak dan lambe.

Tentu ada banyak hal lain yang menarik dari band ini (mulai dari kesadaran propaganda melalui poster dan penyebaran kabar konser yang berakhir sebagai kabar burung belaka, hingga pertautan mereka dengan berbagai gerakan seni).

Tapi diakhiri sampai sini saja lah. Sebelum tulisan saya jadi terlalu serius dan jadinya malah nggambleh.

TINGGALKAN KOMENTAR