Almanak hari itu bertarikh 17 September 1967. Di ruang belakang acara The Ed Sullivan Show, band baru bernama The Doors sedang bersiap. Band ini merilis dua album dalam waktu berdekatan. Pertama adalah The Doors yang dirilis pada Januari, dan Strange Days yang dirilis pada September. Dua album ini laris manis. Lagu mereka yang paling populer kala itu adalah “Light My Fire”, lagu dari album perdana yang mencapai posisi 1 di tangga lagu populer. Ada banyak persepsi tentang lagu ini. Yang paling sering dikisahkan adalah asumsi bahwa lagu ini tentang narkotika. Terutama pada kalimat, girl you could’nt get much higher.

The Doors memang mulai terkenal tahun itu. Tapi Elektra, label rekaman yang menaungi mereka, merasa itu tak cukup. Nama mereka belum terlalu bergaung. Maka label mengutus seorang publisis baru, Derek Taylor. Dia adalah seorang jurnalis dan publisis yang ramah. Kumisnya tebal namun rapi. Rambutnya nyaris selalu basah, belah pinggir. Pria asal London ini pernah bekerja sama dengan The Beatles, dan termasuk orang yang berperan besar dalam kesuksesan mereka di awal karir. Karenanya julukannya adalah The Fifth Beatle, alias personel Beatles kelima.

Target pertama Derek adalah lebih mempopulerkan nama The Doors. Medium yang disasar Derek adalah acara The Ed Sullivan Show. Saat itu MTV belum ada. Salah satu acara yang punya pengaruh paling besar, ya acara Ed Sullivan. Tiap episode acara talkshow ini ditonton oleh sekitar 70 juta orang. Tapi Ed dikenal sebagai seorang diktator perihal kata-kata. Dia adalah seorang pria setengah tua yang moralis. Membenci kata-kata kotor, apalagi provokatif.

Salah satu korbannya adalah Mick Jagger. Pada Januari 1967, Rolling Stones tampil di acara Ed. Di sana, Ed berhasil memaksa Mick mengganti lirik di lagu “Let’s Spend the Night Together”. Ed tak suka kata night, karena dianggap mengandung muatan seksual. Maka si diktator tua itu memaksa Mick menggantinya jadi let’s spend some time together. Dan paksaan itu berhasil. Sebab sudah jadi pengetahuan umum, kalau siapapun band yang berani menentang Ed, tak akan pernah diundang lagi di acaranya.

Ed kemudian bertemu dengan The Doors pada hari Minggu siang. Saat itu The Doors sedang ada di ruang ganti kostum, dan Ed baru saja selesai gladi bersih. Ed melihat mereka tertawa-tawa karena Robby Krieger, gitaris, menirukan gerakan lawak The Three Stooges.

“Nah gitu dong! Kalian terlihat jatmika kalau tersenyum. Lakukan seperti itu malam ini ya. Soalnya kalian ini terlalu serius,” kata Ed.

Kemudian Bob Precht, produser acara sekaligus menantu Ed, masuk ke dalam ruangan. Dia ini yang membuat Mick terpaksa mengganti lirik lagunya. Dia melakukan hal yang sama siang itu. Menurut Bob, kalimat girl you couldn’t get much higher itu tak memenuhi standar susila yang diterapkan oleh stasiun TV CBS.

“Telaso kau,” gumam Jim Morrison, vokalis The Doors.

“Ha? Apa katamu?” kata Bob mencoba meyakinkan pendengarannya.

“Kamu ingin diganti pakai kalimat apa?”

“Girl, we couldn’t get much better.”

Ray Manzarek, pemain synth sekaligus sahabat Jim, berjanji pada Bob kalau mereka akan bekerja sama. Tapi John Densmore, drummer, merasakan kalau ada aura kemarahan di ruang ganti itu. Terutama teruar dari Jim.

Di segmen pertama, The Doors menyanyikan “People Are Strange”, sebuah lagu yang diciptakan Jim ketika sedang depresi. Liriknya berkisah tentang keterasingan dan menjadi liyan yang rapuh. The Doors meramunya dengan musik yang terpengaruh musik kabaret. Pada segmen terakhir, barulah kuartet ini memainkan lagunya yang paling populer: “Light My Fire”.

Jim, dengan celana kulit hitam, kemeja putih, yang dilapisi dengan jaket kulit warna hitam, bernyanyi dengan mata terpejam. Macam sedang memasuki ritual suci bertemu dengan ruh leluhur. Mikrofon dilepas dari stangnya.

You know that it would be untrue

You know that I would be a liar

If I was to say to you

dan…

Girl, we couldn’t get much HIGHER

Jim tak mengganti liriknya. Di posisi kanan panggung, tampak gitaris Robby tersenyum-senyum saja. Seperti sudah memprediksi hal ini dan membatin: situ gak kenal Jim sih. Ray yang dikenal sebagai personel paling kalem dan bijak, memainkan synth-nya dengan tenang dan mungkin juga berpikir hal yang sama. Sedang John memainkan drum dengan ketukan yang ketat dan tanpa cela. Malam itu, Jim menyemburkan kata higher dua kali. Tanpa emosi. Di menit kedua lagu yang dimainkan tanpa solo synth yang panjang itu, Jim meneriakkan lirik dengan semangat purba. Matanya tajam menatap kamera, sesuatu yang jarang dia lakukan. Teriakan-teriakannya macam ajakan untuk berperang. Melihat Jim yang terbakar, Ray ikutan bersemangat. Dia berteriak menjelang lagu berakhir, “come on!”

Jim langsung menimpali dengan teriakan.

“Try to set the night on fireeeee!!!”

Wajah Ed Sullivan tampak merah padam walau disembunyikan dalam tepuk tangan dan kalimat bravo. Baru kali ini ada seorang bocah yang berani menentangnya. Bahkan Elvis Presley, Beatles, maupun Rolling Stones tak berani melakukannya. Saat The Doors turun panggung, Ed tak menjabat tangan Jim. Kemudian produser acara berbicara pada manajemen The Doors. Kata mereka, “Kami ingin mengontrak The Doors untuk enam kali pertunjukan. Tapi karena kasus malam ini, kami rasa kerja sama ini tak akan berlanjut.”

Respons Jim hanya, “we just did Sullivan.”

Bagaimana The Doors Lahir dan Jadi Abadi

Tahun ini album perdana The Doors menginjak angka 50 tahun. Tapi album ini masih terus didengar, dan masih akan begitu hingga entah kapan. Apa yang membuat album ini penting?

Sebelum membicarakan tentang album ini, rasanya penting untuk memposisikan The Doors dalam persaingan rock n roll antar negara. Sekilas tak penting memang, karena rock n roll tak kenal batas negara. Tapi jadi penting karena The Doors mewakili Amerika Serikat dan segala kondisi sosial-politiknya.

Saat itu, menjelang akhir 60-an, industri rock n roll mengenal The Beatles dan Rolling Stones. Mereka berdua adalah band Inggris dengan karakteristik berbeda. Beatles di awal karir memainkan musik pop manis, dan merambah folk dan soul sejak Rubber Soul (1965) dan mulai masuk ke psikadelik sejak Revolver (1966). Sedang Stones konsisten memainkan blues dan rock n roll dan mewakili citra berandalan Inggris.

Sedangkan di AS sendiri, nyaris tak ada band yang bisa menyamai dua band itu. Jimi Hendrix memang oke, tapi dia mengusung namanya sendiri. Begitu pula Janis Joplin. Nama baik band rock di negara ini terselamatkan oleh, setidaknya, tiga band: The Beach Boys, Velvet Underground, dan The Doors. Meski ada banyak sekali band AS yang lahir dan merilis album di periode itu, rasanya memang hanya tiga band itu yang bisa menandingi karya musik dan pesona Beatles serta Rolling Stones sebagai band.

Jika nama pertama mewakili grup rock yang dipengaruhi pop dan harmoni vokal, nama kedua memainkan musik psikadelik yang melampaui zamannya (karena itu pada 60-an nama mereka hanya sebatas dikenal oleh para seniman dan hipster avant garde, membuat pencapaian komersil mereka tak begitu bagus), maka The Doors mewakili band rock yang dipengaruhi banyak pengaruh musikal dan dimainkan secara lebih gelap.

Itu yang membuat The Doors kemudian jadi istimewa. Musik mereka menyemburkan aura psikadelik yang lebih gelap, lebih suram. Seakan mewakili kelamnya psikologi warga AS karena perang Vietnam. The Doors, terutama Jim Morrison dan Ray Manzarek, mewakili musisi yang “makan bangku sekolahan”. Mereka berdua bertemu di UCLA. Mereka bukan kelas pekerja. Maka dapat dimaklumi kalau lagu yang mereka tulis nyaris tidak pernah berkisah tentang kerasnya hidup pekerja kerah biru. Selain itu, secara musik, band ini tak punya pemain bass. Sesuatu yang aneh untuk sebuah band rock, bahkan untuk ukuran zaman sekarang. Suara bass di band ini dihasilkan oleh permainan keyboard Ray Manzarek.

Pada dekade 60-an, Generasi Bunga di AS sedang mekar-mekarnya. Kehidupan mereka terpusat pada seni, penentangan terhadap perang, anti kekerasan, seks, dan tentu saja drugs. Hal ini membuat The Doors banyak menulis musik yang berkisar tentang perang, kematian, spritualitas, seks, dan tentu saja narkoba.

Selain itu, kesukaan Jim dan Ray pada teater dan drama juga tampak dalam album perdana ini. Mereka menggubah lagu “Alabama Song (Whisky Bar)” yang merupakan puisi milik Bertolt Brecht, seorang dramawan asal Jerman. Dan tentu saja kita tak bisa melupakan “The End”, sebuah lagu rock teatrikal sepanjang 11 menit 41 detik. Lagu ini mencekam, gelap, dan eksotis sekaligus. Ada bus biru perlambang kematian, ular raksasa, danau purba, dan tentu saja drama Oedipus. Siapapun yang mendengar lagu ini tak akan bisa melupakan bagaimana Jim Morrison membacakan puisi di pertengahan lagu.

Tentang seorang anak lelaki yang berjalan di selasar. Mendatangi pintu. Berbisik: ayah, aku ingin membunuhmu. Ibu, aku ingin menyetubuhimu. Berakhir dengan teriakan Oedipus yang membuat bulu kuduk berdiri. Dari sana, The Doors kemudian seperti unit yang satu tapi berdikari. Mereka memainkan alat musik sendiri-sendiri. Robby asik meliuk-liukkan jari di fret gitar yang menghasilkan nada-nada aneh dan jarang ditemui di rock n roll, Ray seperti biasa tertunduk sembari berkonsentrasi menekan tuts synth, dan komandonya adalah drummer John Densmore yang menjaga tempo agar permainan mereka tak bablas.

Masterpiece!

Sebagai sebuah album, The Doors terkonsep dengan kuat. Dari awal, hingga akhir. Di awal, kita langsung disambut oleh “Break On Through”, lagu dengan sound yang kelak akan menjadi ciri permainan mereka. Gitar yang mentah dan pengaruh hard rock kental, dimainkan tanpa menggunakan pick. Synth yang kenes tapi sekaligus berani. Dan ketukan drum yang kencang sekaligus cermat. Jim Morrison bukan tipikal penyanyi bersuara merdu. Malah dia sering kali fals. Tapi dia penyanyi bertenaga yang punya kharisma tanpa tanding. Di akhir, mereka memasang “The End” sebagai pamungkas. Sebuah penutup yang sempurna.

The Doors juga tanpa sungkan mengumbar berbagai pengaruh musikal mereka. Tak sekadar blues atau rock. Melainkan bossanova (coba simak ketukan John di lagu “Break On Through” atau “I Looked At You”), flamengo di “Twentieth Century Fox”, rock opera di “Alabama Song” dan “The End”, psikadelik di “Light My Fire”, dan tentu blues rock di “Soul Kitchen” dan “Back Door Man”.

Album ini termasuk salah satu album terpenting dalam kitab suci bernama rock n roll. Rolling Stone memasukkan album perdana ini di nomor 42 dalam daftar 500 Album Terbaik Sepanjang Masa. Tidak hanya karena kita bisa mendengar ledakan-ledakan musikal yang luar biasa, tapi juga karena The Doors berhasil menjadi identitas Amerika pada saat itu.

Situs AllMusic memberi 5 bintang pada album ini. “The Doors rasanya tak akan bisa membuat album yang menyamai kedahsyatan album ini. Dan jelas tak mungkin membuat album yang lebih baik ketimbang ini,” tulis sang kritikus, Richie Unterberger.

Begitu pula Rolling Stone yang juga menggajar 5 bintang, sebuah tanda kesempurnaan. Menurut Parket Puterbaugh, sang reviewer, album ini menampilkan sisi gelap kemanusiaan. Menyajikan musik dengan kunci minor, dengan sentuhan blues. “Album ini adalah perkawinan paling sukses antara rock poetic dengan hard rock klasik. Sebuah karya, yang tak diragukan lagi, klasik.”

Dunia berutang budi pada The Doors tidak hanya karena mereka menghasilkan musik dahsyat, melainkan juga karena mereka melahirkan sosok Jim Morrison. Secara khusus, ucapan terima kasih perlu kita berikan pada Ray Manzarek. Pria berkacamata ini yang menemukan bakat menulis lirik Jim, seorang pria pemalu yang datang dari keluarga admiral Angkatan Laut AS. Pertemuan mereka berdua digambarkan sangat romantik dalam film The Doors (1991) garapan Oliver Stone.

Jim Morrison, diperankan dengan luar biasa meyakinkan oleh Val Kilmer, sedang duduk santai di pantai Venice. Dia baru saja mendapat tertawaan karena film garapannya dianggap aneh dan absurd. Yang menghargai film itu hanya seorang kawan satu kelasnya: Ray Manzarek. Mereka kemudian tak sengaja bertemu di pantai Venice. Kemudian Ray tahu kalau Jim sering menulis puisi, dan memintanya untuk membacakan salah satunya. Jim kemudian menukil sebagian lirik dari puisi “Moonlight Drive”, yang kelak muncul dalam album kedua mereka, Strange Days.

Dua orang ini kemudian menjadi dynamic duo, seperti Richards-Jagger di Stones dan Lennon-McCartney di Beatles. Hanya saja Ray dan Jim agak sedikit berbeda. Ray yang lebih tua 4 tahun seperti harus mengasuh adiknya yang bengal, keras kepala, sekaligus rapuh. Jim tumbuh dalam didikan militer sang ayah, yang amat disiplin sekaligus keras. Hal ini membuat Jim kerap memberontak pada aturan. Dia tak suka diatur. Hal ini menjelaskan kenapa dia dengan santai “mengorbankan” popularitas The Doors saat berani melawan perintah Ed Sullivan.

Namun, Ray pada akhirnya kewalahan juga. Dia tak bisa terus-terusan menjaga Jim yang berkembang menjadi lebih liar dan tak terkontrol. Mulai dari mabuk ketika di panggung, tak sadar saat manggung, hingga menunjukkan penisnya pada penonton. The Doors mengalami pasang surut. Namun tirai band ini ditutup dengan apik. Saat Jim Morrison, yang saat itu baru berusia 26 tahun, ingin pergi ke Paris karena tak tahan dengan segala publisitas buruk, dia ingin menggarap satu album lagi. Maka lahirlah LA Woman yang sensasional itu, dan perlu kita bahas lagi lain kali.

Seperti yang kita ketahui bersama, Jim Morrison meninggal di Paris dalam usia yang amat muda: 27 tahun. Banyak orang berteori, kalau saja Jim tak meninggal, The Doors akan lebih besar ketimbang The Beatles sekalipun. Tapi namanya pengandaian, tentu terdengar seperti bualan belaka. The Doors sudah besar, dan rasa-rasanya tak perlu sebesar The Beatles

Dua hari lalu, dua orang personel The Doors yang tersisa, Robby dan John, berkumpul bersama ratusan penggemar di Venice, California, untuk memperingati 50 tahun The Doors. Anggota DPRD setempat, meresmikan bahwa tanggal 4 Januari akan diperingati sebagai Hari The Doors. Dua orang personel itu kemudian memainkan lagu klasik mereka, “L.A Woman”.

“Meski Robby dan aku tak bermain bersama selama bertahun-tahun, bagiku cukup dengar beberapa nada, dan aku bisa mengikutinya.”Saat kamu memainkan lagu yang sama selama berpuluh tahun dalam hidupmu, mereka mengalir dalam darahmu. Hanya butuh beberapa detik untuk memainkan keajaiban itu,” kata John pada Rolling Stone.

Menurut Robby, Jim akan sangat senang dengan perayaan ini. “Walau tentu kami tak bisa memprediksi apa yang akan dikatakan atau dilakukan Jim karena dia selalu melakukan sesuatu yang tak bisa ditebak.” Dan aku pikir Ray akan menyukainya. Dia selalu senang bermain bersama band ini.”

Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan adalah: apakah ciri album yang bagus itu? Mungkin kalau kamu bertanya padaku, aku akan menjawab: album yang masih didengar meski usianya sudah puluhan tahun. Dan album The Doors, yang berusia setengah abad, adalah satu dari sedikit album seperti itu. Album itu, dan orang-orang yang memainkannya, tak pernah gagal menyalakan api.

Come on baby light my fire!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. Sedikit catatan tidak menyambung adalah Ayah Jim Morrison, Steve adalah Laksamana Madya (2 Bintang) Angkatan Laut AS dan Steve berperan ketika di perang Vietnam dengan memimpin satuan tugas pada insiden selat tonkin yng sangat terkenal, Steve juga penerbang pada perang PD II, dan ketika tgl 2 Juli 1971, Steve menjadi keynote pada tidak non aktivenya USS Bon Homme Ricard, kapal induk yang dipinpinnya ketika pertama kali berpangkat marsekal, besoknya, Jim, putranya meninggal di Paris. saya selalu bertanya tanya kegelisahan yang timbul dati sosok Jim Morrison, disebabkan oleh apa ? karena dia dibesarkan oleh keluarga yang harmonis.

TINGGALKAN KOMENTAR