Mungkin Sam Panopoulos disebut sebagai pencipta pizza Hawaaian, yang menambahkan nanas sebagai toping. Tapi saya, juga banyak orang Jember lain, mengenal pizza nanas bukan dari Sam. Melainkan dari Wina, sebuah toko roti kecil yang sudah berdiri sejak 1975.

Pizza ala Wina berbeda dengan pizza umumnya. Dough-nya adalah roti, karenanya lebih lembut dan empuk ketimbang adonan pizza pada umumnya. Roti empuk berbentuk bundar itu kemudian diberi saus tomat atau saus cabai, daging ala Bolognese, kacang kapri kalengan, potongan bawang bombay, dan tentu saja nanas. Rasanya mengejutkan. Gurih dari saus daging bercampur dengan pedas saus cabai, dan nanas memberikan aksen manis-asam.

Pizza ala Wina.

Di Jember pizza ala Wina ini begitu populer. Lokasinya yang berada di Imam Syafii (sekarang Jl. Diponegoro), memang dekat dengan pusat keramaian. Selain tak jauh dari bioskop Rex yang sudah ada sejak 1940-an (kemudian menjadi bioskop Jaya pada 1960-an) juga bioskop Sampurna, Wina juga terletak tak jauh dari Pasar Johar yang merupakan lokasi perbelanjaan terbesar di Jember.

Sejak dulu, nihil perdebatan di antara orang Jember apakah pizza itu layak atau tidak sebagai topping pizza. Yang kami tahu pizza ala Wina itu enak dan tak tergantikan walau sekarang sudah ada berbagai jenis pizza di Jember, termasuk pizza waralaba terkenal asal Amerika Serikat.

Namun di kalangan orang Barat, semua tampak ribet. Mereka terbelah: yang tak suka dan yang suka. Sebenarnya ini adalah kasus lawas. Ketidaksukaan pizza bertoping nanas namun seperti terkubur dalam sekam. Orang tak membicarakannya secara luas dan terang-terangan.

Namun pada 2016, ketidaksukaan itu terlihat. The Harris Poll kala itu mengadakan polling, apa toping pizza kesukaan orang Amerika Serikat. Pepperoni adalah toping yang paling disuka. Diikuti oleh sosis dan jamur. Peringkat keempat adalah keju.

Sedangkan yang paling dibenci adalah anchovy. Bagi yang belum tahu, anchovy adalah istilah orang Barat untuk menyebut ikan teri. Iya, mereka membuat pizza dengan toping teri. Saya pernah mencobanya sekali hanya karena penasaran. Setelah itu saya percaya, habitat terbaik ikan teri adalah di sambal terasi, bukan pizza. Selain anchovy, jamur menempati posisi kedua sebagai toping paling tidak disuka. Ini sekaligus membelah masyarakat AS yang sebagian menyukai toping jamur. Di peringkat ketiga toping paling dibenci, apalagi kalau bukan nanas.

Tapi ketidaksukaan itu masih mengemuka di AS saja. Di luar sana, orang tampak kalem-kalem saja. Hingga Presiden Finlandia Guðni Th. Jóhannesson datang ke sebuah SMA di kawasan Akureyri. Di sana, seorang murid menanyakan apa tim sepak bola favoritnya dan bagaimana pendapatnya tentang pizza dengan toping nanas.

Mantan profesor sejarah di University of Iceland ini mengatakan tim bola favoritnya adalah Manchester United (pilihan yang amat brilian dan tidak mungkin salah) dan perihal nanas di atas pizza ia menyebut dirinya, “menolak amat keras.” Ia bahkan bercanda akan melarang pizza Hawaiian di negaranya.

Komentar iseng itu menggelinding bak bola panas. Sebagian bersorak, seperti menemukan kebenaran yang selama ini tertutupi. Sebagian lagi mengutuk keras karena pizza Hawaiian melambangkan pizza yang amat plural. Terutama warga Kanada yang tentu saja bangga dengan pizza itu.

Pizza Hawaiian memang dibuat oleh Sam Panopoulos, warga London, kota kecil di Ontario, Kanada yang terletak di antara Detroit dan Toronto. Saat itu tahun 1962, dan hasrat iseng Sam sedang besar. Maka ia menambahkan potongan nanas di atas pizza yang sudah dioles saus tomat dan ditaburi potongan ham serta keju mozarella. Sam menamainya Hawaiian karena buah nanas ia anggap identik dengan Hawaii, antara lain lewat berbagai koktail.

“Orang bilang aku gila gara-gara menambahkan nanas,” ujar Sam pada Atlas Obscura.

Tapi pizza itu kemudian jadi populer dan menemui jalannya sendiri. Orang lain mulai bereksperimen. Ada yang memakai daging ayam, alih-alih ham. Ada pula yang memakai daging sosis, paprika, dan jamur. Bebas saja. Toping ini menjadi populer di seluruh dunia. Gerai Pizza Hut, waralaba pizza terbesar di dunia, juga menambahkan nanas dalam toping pizza Supreme, yang berisikan pepperoni, daging sapi, jamur, paprika, dan mozarella. Pizza ini juga tersedia di Indonesia.

Pada 1999, pizza Hawaiian merupakan 15 persen dari seluruh pizza yang terjual di Australia. Pada 2015, perusahaan pengantaran makanan asal Inggris Just Eat melakukan review terhadap sebagian besar restoran pizza di sana. Hasilnya adalah pizza Hawaiian adalah jenis yang paling paling umum, alias nyaris ada di seluruh gerai pizza di seluruh Inggris.

Namun sejak Presiden Finlandia bercanda soal pelarangan pizza Hawaiian itu, bola panas itu menggelinding kembali. Orang-orang fundamental pizza –padahal mereka bukan berasal dari Naples– bersorak karena mendapat dukungan orang besar. Untung saja perdebatan soal makanan ini cenderung lucu dan mengundang tawa.

“Presiden Finlandia adalah pahlawan sejati,” tulis sebuah akun bernama Metalmanian9999 di Reddit. “Nanas di atas pizza itu adalah bentuk kejahatan dalam dunia gastronomi.”

Seseorang membalasnya, “Kalau begitu mari bertemu di The Hague.” Yang ia maksud tentu adalah Hague alias Den Haag, Belanda, yang menjadi markas Mahkamah Pidana Internasional

“The Hague hanya untuk pengadilan umum. Orang yang meletakkan nanas di atas pizza harus ditembak langsung. Tanpa pengadilan, tanpa penutup mata,” balas akun Heiminator.

Bahkan juru masak terkenal seperti Gordon Ramsay ikut sumbang suara. Dalam acara The Nightly Show, Gordon memesan pizza lewat telepon. Ia meminta saran toping pada penonton, yang salah satunya menjawab “nanas”.

“You don’t put fucking pinnaaple on pizza,” kata Gordon, yang langsung disambut tertawaan seluruh penonton.

Belakangan si Presiden Finlandia meralat pernyataannya. Ia mengatakan tak akan melarang pizza dengan toping nanas. Dan ia menegaskan kalau ia tak membenci nanas.

“Aku suka nanas, cuma tidak suka nanas pada pizza. Aku tidak punya hak atau kekuatan untuk membuat hukum yang melarang orang untuk menaruh nanas di atas pizzanya. Aku senang karena tak punya kekuatan itu. Untuk pizza, aku merekomendasikan sea food,” katanya dalam status Facebook.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau tak urung ikut pula perdebatan lucu ini. Di Twitternya, ia menjawab akun bernama Jon Wiseman yang menanyakan, “Pertanyaan penting bagi orang Kanada, apakah nanas termasuk bagian dari pizza?”

“I have a pinneapple. I have a pizza. Dan aku berada di kubu yang menyukai pizza lezat buatan Southwestern Ontario ini. #TeamPineapple.”

Terlepas dari perdebatan khas negara maju ini, sebenarnya bisa dipahami ada orang-orang yang tak suka toping pizza tertentu. Pizza sudah berkembang demikian pesat dan jadi makanan dunia. Ibarat anak, ia sudah tumbuh besar dan menemui jalan masing-masing.

Orang Naples bolehlah menepuk diri sebagai kaum pencipta pizza. Mereka juga pasti akan mencak-mencak melihat orang Amerika menambahkan aneka macam toping di atas pusaka kuliner warisan nenek moyang. Orang Naples hanya mengenal saus tomat, keju, dan basil sebagai bentuk pizza paling luhur. Di luar itu dianggap penistaan. Tapi apa boleh buat, pizza punya takdirnya sendiri, dan tak ada satu orang pun yang boleh memaksakan kehendaknya.

Steve Green yang menerbitkan majalah industri pizza, PMQ, mengatakan pada Huffington Post bahwa, “Membenci pizza nanas itu seperti membenci Santa Claus. Tak ada toping yang tak enak di pizza,” ujarnya.

Steve mewakili kubu moderat yang cenderung lebih santai terhadap apapun toping pizza. Selama masih bisa dimakan dan ada orang yang menyukainya, kenapa tidak? Kalau ikan teri saja boleh jadi toping pizza, kenapa nanas tidak?

Tidak di agama, tidak di politik, tidak di makanan, yang namanya kaum fundamentalis itu memang merepotkan dan menyebalkan. []

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR