Hari ini saya ikut buka bersama dengan kawan-kawan Jakartabeat. Ada mas Philips, Mas Taufiq, juga Awe, Yandri, dan Manan. Beberapa berhalangan hadir. Jaki sedang mengurusi bisnis soang. Dhani lagi ada deadline. Mas Yus kebetulan sedang di Jatinangor. Sebenarnya ada dua orang kontributor yang kebetulan ada di Indonesia. Gde Dwitya, yang sekarang menempuh studi S3 di Chicago, sejak kemarin ada di Yogyakarta. Lalu ada mas Fathun Karib, yang juga sedang studi S3 di negeri yang sama, sejak beberapa minggu lalu juga sedang pulang untuk penelitian. Sayang keduanya tak bisa bergabung.

Kami berbuka di Plaza Senayan, Jakarta Selatan. Saya berangkat dari kantor pukul 16.30. Jalanan di Mampang macet luar biasa. Sejak pagi saya baca, daerah ini sedang macet total, lebih parah ketimbang biasa. Sampai di TKP, tepat sejam.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan. Tapi soal Yahoo.

Jadi beberapa tahun silam, 2013 sepertinya, saya melamar pekerjaan sebagai penulis di Yahoo News Indonesia. Saat itu saya sedang kehilangan motivasi untuk menyelesaikan studi di Yogyakarta. Jadi ingin mencari pengalaman segar nan baru. Kebetulan pula saya baru punya pacar di Jakarta. Jadi lagi ingin terus berdekatan.

Kebetulan saya baca lowongan sebagai penulis di Yahoo. Saya kirim CV. Sehari kemudian dapat panggilan wawancara. Kami bikin janji. Seminggu kemudian saya pergi ke Jakarta. Saya punya banyak harapan untuk Yahoo. Di bayangan saya, Yahoo adalah satu dari sedikit kantor yang punya suasana menyenangkan dan etos kerja yang serius tapi santai. Kasual. Khas kantor yang diisi anak-anak muda.

Saya datang pukul 10 pagi. Diantar, siapa lagi kalau bukan, Miko. Dia kemudian pergi kerja ke daerah Palmerah. Kantor Yahoo berada di kompleks perkantoran Sentral Senayan, Jalan Asia Afrika, persis di sebelah Plaza Senayan. Waktu naik ke atas, saya menukar ID dengan KTP. Saya sudah lupa Yahoo ada di lantai berapa.

Ketika sampai, benar bayangan saya. Kantornya amat menyenangkan. Banyak sofa bulat aneka warna. Pekerja sliweran dengan celana jeans dan kaos. Tentu ada yang berpakaian resmi, biasanya pemimpin dan bagian Sumber Daya Manusia. Mereka, dua orang perempuan, yang mewawancara saya.

Kalau tak salah ingat, ini pertama kalinya saya wawancara kerja dengan serius. Pertanyaan dilontarkan: tentang diri saya, apa kegiatan saya, hobi, dan lain sebagainya. Sialnya, mereka juga menanyakan soal bidang hukum dan politik, dua bidang yang paling saya hindari. Saya sedikit gelagapan. Tak mau menjadi seorang pembohong, saya memilih berkata jujur: tak pernah mengikuti berita politik dan hukum. Rupanya mereka sedang mencari penulis untuk dua bidang itu. Dalam hati saya sudah yakin, tak akan diterima. Apalagi sewaktu saya bilang dengan polos, atau malah naif dan bodoh, bahwa saya tak pernah nonton teve kecuali untuk sepak bola atau film.

Benar saja, setelah pulang dari wawancara, tak ada panggilan berikutnya. Setelah seminggu di Jakarta, saya memutuskan pulang ke Yogyakarta. Kembali menekuri jurnal dan tesis –walau tesis saya baru selesai 3 tahun kemudian.

Pengalaman wawancara kerja di Yahoo itu memberi banyak kesan, juga pengalaman. Saya merasakan pahitnya ditolak. Kecewa tentu saja, apalagi saya sudah membayangkan betapa kerennya jadi penulis di Yahoo. Tapi wawancara itu memberi banyak pengalaman, antara lain soal wawancara kerja. Butuh dua kali ditolak lagi (oleh The Jakarta Post dan Destinasian Indonesia) hingga akhirnya saya bekerja sebagai penulis di The Geo Times, 2014 silam, dan sekarang di Tirto.

Tadi sewaktu menyusuri Jalan Asia Afrika, saya melihat Sentral Senayan dengan seksama. Yahoo Indonesia resmi gulung tikar pada Desember 2014. Sekira 5 hari lalu, saya baca akhir yang menyedihkan bagi raksasa internet di awal 2000-an ini: dijual ke Verizon dengan harga amat murah. Dulu, pada masa jayanya, Yahoo punya valuasi sekitar 125 miliar dolar. Beberapa hari lalu, Verizon membelinya dengan banderol 4,8 miliar dolar.

Yahoo punya banyak cerita dalam kehidupan saya. Email pertama saya dibuat di Yahoo. Saya masih ingat betul alamatnya: [email protected] Alay banget. Email perdana itu dibuatkan oleh Kak Rizal di Lumajang. Kak Rizal sudah meninggal beberapa tahun lalu. Al Fatihah untukmu kakakku tersayang. Sekarang Yahoo menyusul Kak Rizal pergi. Menjadi bagian dari masa lalu. Mereka hilang, namun mustahil dilupakan.

Suara klakson membuat saya tak lagi melamun. Saya memalingkan muka dari Sentral Senayan di arah kiri. Takut menabrak motor dan mobil yang ada di depan. Jalanan Asia Afrika amat macet sore itu.  []

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR