Juli tahun ini, perayaan Appetite for Destruction Day memasuki tahun ke 30. Bayangkan album itu adalah manusia. Kebanyakan manusia di usia 30 perlahan mulai mapan. Kerja. Menikah. Punya anak. Album ini juga menjalani kemapanan yang sama. Ia selalu ada di hampir semua daftar album rock terbaik sepanjang masa.

Pernah dengar pepatah, “Usia boleh tua, tapi jiwa tetap muda”? Kira-kira album ini seperti itu. Appetite boleh tua, tapi isinya seperti membekukan waktu. Ia serupa kotak pandora yang menyimpan segala kebengalan, kemarahan, keliaran, juga pesta pora penuh seks, drugs, alkohol, dan menjadikannya abadi.

Ada album-album yang bisa memberikan impresi berbeda ketika kamu dengarkan di usia belasan dan usia 30-an. Saat usia belasan, kamu seperti ingin melawan dunia. Persetan segala aturan. Namun di usia 30, semua kemarahan dan mentalitas Aku Melawan Dunia itu perlahan mulai luntur. Kamu mulai bisa berdamai dengan dirimu sendiri, juga memandang dunia dengan lebih ramah.

Tapi Appetite for Destruction bukan album yang seperti itu. Album ini akan tetap memercikkan bara yang sama. Ia bisa membakarmu kapan saja, entah di usiamu yang belasan, atau kala kamu sudah 30-an, atau bahkan ketika kelak kamu sudah berusia 60 dan bersiap menyambut Izrail kapan saja. Ia bisa membakarmu kala masih berambut gondrong, atau saat di kepalamu hanya tersisa beberapa helai rambut yang serupa Shiratal Mustaqim. Appetite masih bisa membuat bulu kudukmu meremang, baik ketika kamu masih perjaka atau sudah punya anak tiga.

Album ini adalah tipikal album klasik. Tak banyak album seperti ini: yang akan dikenang dari generasi ke generasi. Didengarkan turun temurun, dari ayah ke anak, kemudian ke cucu. Dan akan terus demikian, entah sampai kapan. The Beatles punya itu. The Doors juga. Jimi Hendrix. Led Zeppelin. Black Sabbath. Deep Purple. Dan tentu saja Guns N Roses.

Appetite for Destruction adalah anomali. Di era 1980-an, band hair metal di Los Angeles yang punya dandanan termenor dan tercantik akan bisa menjaring penggemar sebanyak-banyaknya. Tapi Guns N Roses memilih jalan yang berbeda, jalan yang lebih sepi. Mereka tak sekadar memainkan musik pop-metal dengan jurus 3 jari dan reff yang nyantol di telinga. Mereka berhasil memadukan keseksian rock n roll dan blues, lengkap dengan kemasa-bodohan punk rock. Mereka tak peduli apapun. Mereka tak punya beban.

Ada satu cerita tersohor soal kecuekan ini. Suatu hari, saat akan merekam Appetite, Paul Stanley datang menawarkan jasa jadi produser. Bagi banyak band, gitaris dan vokalis Kiss itu serupa dewa. Saat akhirnya bertemu dengan empat orang personel Guns –minus Axl– Paul menyatakan keinginannya itu, ditambah keinginan menulis ulang lagu “Welcome to the Jungle”. Saat itu ada ratusan band yang akan senang hati melakukan apapun supaya Stanley jadi produser album mereka. Tapi Guns N Roses bukan band ratusan itu. Mereka one in a million. Mereka menolak Stanley, langsung di depan mukanya. Stanley tentu saja dendam.

Suatu hari, Slash yang baru saja meloakkan gitarnya, ingin meminjam gitar BC Rich. Kebetulan, Stanley adalah salah satu duta produk BC Rich. Maka Slash menelpon dan menyampaikan keinginannya.

“Tentu saja bisa, bukan masalah,” kata Stanley, yang kemudian diam sejenak. “Tapi aku gak mau meminjamkan gitar ke kamu.” Telepon dimatikan.

Karena sudah berusia 30 tahun, tak banyak hal yang bisa digali dari album ini. Nyaris semuanya sudah diceritakan. Tapi menyusuri masa lalu memang selalu menarik. Maka mari menengok ke belakang sejenak, mendengarkan cerita-cerita yang mungkin pernah kamu dengar sekilas. Atau malah belum pernah kamu dengar sama sekali.

Tentang Perempuan dan Seks

Axl Rose dikenal punya masalah kejiwaan seperti psikosis dan depresi mania. Beberapa orang menyebut Axl adalah seorang bipolar.

“Suatu waktu Ia bisa merangkulmu hangat, dan beberapa detik kemudian tiba-tiba, tanpa alasan apapun, menendangmu di buah zakar dengan penuh kemarahan,” kata Steven.

Karena itu kita bisa melihat bagaimana Axl membuat kisah yang kontras dalam lagu. Mulai dari “My Michelle” hingga “Rocket Queen”. Kamu bisa melihat bagaimana Axl memperlakukan perempuan. Ketika sedang manis, Axl akan membuatkanmu lirik yang bisa membuat diabetes. Ketika hewan liar dalam dirinya muncul, maka makiannya bisa membuat Gordon Ramsay terasa seperti badut belaka.

Perempuan punya peran amat penting dalam karier Guns N Roses. Saat merintis karier sebagai musikus profesional, Slash tinggal bersama ibu dan neneknya. Slash amat menghormati dua perempuan itu, yang terus-terusan mendukung kariernya. Begitu pula Steven. Saat Appetite mendapat sertifikat Gold, plakat itu diberikan untuk kakek dan nenek Steven. Plakat itu dipajang di ruang tamu. Saat mereka tampil di sebuah klub, ibu dan nenek Steven menonton. Bahkan sang nenek berdiri di barisan paling depan sembari terus-terusan menunjuk Steven dan berkata ke penonton lain dengan senyum lebar, “Itu cucuku.”

“Aku tak pernah melihat wajah nenek sebangga itu,” kenang Steven.

Selain itu, para penari telanjang di kawasan Sunset Strip juga punya peran penting dalam perjalanan Guns N Roses. Mereka kerap memberi uang kepada para personel band yang miskin ini. Kadang, Slash atau Steven atau Izzy akan jadi mucikari, dan mengambil uang barang 5 dolar dari dompet para perempuan penghibur itu untuk membeli makan. Banyak perempuan juga dengan senang hati membuka pintu apartemen mereka untuk ditumpangi para personel Guns N Roses.

Maka tak heran kalau ada banyak sekali kisah tentang perempuan dalam hidup Guns N Roses, juga yang terkait dengan penggarapan album perdana mereka.

1. Axl Rose tergila-gila dengan seorang perempuan bernama Barbie. Di usia 18, Barbie sudah punya reputasi mencengangkan sebagai pecandu narkoba dan Ratu Skena Hollywood. Barbie kemudian berkarier sebagai Madam, alias mucikari di kawasan Sunset Strip. Axl menulis lagu “Rocket Queen” untuknya. Bagian awalnya kelam –lengkap dengan suara desahan pacar Steven yang bercinta dengan Axl– namun bagian akhir seperti kidung indah serupa doa.

2. Menjelang rekaman, Slash beberapa kali tinggal bersama Steven dan Monica, seorang bintang porno Swedia. Mereka sering melakukan threesome. Slash menyebut momen menyenangkan itu sebagai, “awesome threesome.”

3. Sebelum masuk studio rekaman, Axl dan Slash dituduh atas tuduhan pemerkosaan. Namun setelah proses dengar pendapat, tuduhan itu tidak terbukti. Izzy, dalam wawancara bersama The Guardian 1988 silam, bilang kasus itu muncul karena, “drummer kami meniduri ibu salah satu gadis itu, dan kasusnya jadi ribet.”

4. Perempuan yang ada di video klip “Welcome to the Jungle” adalah Julie, kawan Steven Adler. Ia beperan sebagai gadis dengan stoking yang membuat Axl melongok, dan yang berbaring di sebelah Steven.

5. Lagu “My Michelle” berkisah tentang hidup Michelle Young, kawan lama Slash yang sempat menjalin hubungan dengan Axl. Michelle meminta Axl menulis lagu tentang dirinya. Maka lahirlah lagu yang berkisah Michelle: ayah yang bekerja di industri pornografi, ibu yang overdosis, dan Michelle yang pecandu kokain. Awalnya Slash berpikir Michelle akan marah. Namun di luar dugaan, Michelle suka lagu itu.

6. Slash menggunakan Gibson SG 1960-an (Slash lupa tipe tahunnya) di lagu “My Michelle”, karena ia menganggap gitar itu bisa memberikan suara yang lebih gelap dan kelam. Lagu “My Michelle” pertama kali dimainkan di The Cathouse, 4 Januari 1986.

Tentang Belajar Jadi Binatang

Di Los Angeles, kata Axl, kamu akan belajar bagaimana caranya jadi binatang. Datang dari kota kecil di Indiana, membuat Axl cukup gegar budaya. Ia menuliskan pengalaman pertama datang ke Los Angeles. Melihat perempuan seksi di mana-mana, hingga ditawari narkoba dalam lagu “Welcome to the Jungle”. Tak hanya Axl yang bermasalah. Begitu pula sobatnya sejak kecil, Izzy Stradlin. Pemain gitar ritem ini pernah menjalani karir sebagai bandar narkoba dalam waktu cukup lama. Duff, pernah bekerja sebagai supir sekaligus kurir untuk kelompok mafia.

7. Slash mencuri sabuk concho –seperti yang kerap dipakai Jim Morrison– dari toko bernama Leathers and Treasures. Ia juga mencuri top hat dari toko bernama Retail Slut. Topi sulap hitam dan sabuk concho itu kemudian menjadi aksesoris favoritnya, bahkan topi hitam jadi identitas khas Slash. Puluhan tahun kemudian, topi itu dicuri usai acara Grammy Award. Karma is a bitch.

8. Personel Guns N Roses punya julukan untuk Axl: Twain Wreck. Karena kalau Axl sudah berbicara, ia akan terus ngoceh panjang tak berkesudahan, seperti dongeng-dongeng Mark Twain. Slash juga menjuluki Axl sebagai Ayatollah Axl –merujuk pada Ayatollah Khomeini– karena kecenderungannya untuk jadi diktator.

9. Steven Adler awalnya tipikal drummer metal dengan bass drum dobel, dan banyak tom-tom. Izzy dan Duff menyembunyikan satu bass drum, floor tom, dan beberapa tom-tom. Memaksa Steven untuk bermain 4/4, tipikal drum rock n roll. Hasilnya adalah ketukan yang groovy, sekaligus bisa berpadu dengan permainan bass punk rock ala Duff.

10. Guns N Roses sudah menorehkan reputasi di kancah musik Los Angeles sebelum dikontrak. Ketika masa itu tiba juga, label rekaman Chrysalis menawarkan uang muka kontrak sebesar 400 ribu dolar, sedangkan Geffen 250 ribu dollar. Tapi berkat rayuan Tom Zutaut yang kala itu menjabat A&R Geffen, Guns N Roses memilih Geffen.

11. Jumlah itu kemudian dipecah: 75.000 dolar dibagi rata untuk tiap personel, dan 175.000 dolar dibuat untuk ongkos band dan rekaman. Masalahnya adalah: semua personel Guns N Roses tak ada yang punya rekening di bank, jadilah semua uang ditumpuk di bawah kasur. Mereka yang tunawisma ini kemudian menyewa apartemen. Izzy dan Steven satu kamar, sedangkan Axl sekamar dengan Slash. Duff saat itu sudah tinggal di apartemen kekasihnya, Katerina.

12. Duff McKagan memakai uang muka itu untuk membeli bass Fender Jazz Special dan ampli bass Gallien-Krueger 800RB, boots koboi, kalung rantai dan gembok yang kemudian juga jadi identitas Duff. Sedangkan Slash menghabiskan nyaris semuanya untuk heroin.

13. Saat merekam album di Studio Rumbo, manajer Alan Niven menugaskan bodyguard seberat 180 kilogram bernama Lewis. Tujuannya untuk menjaga Izzy, Slash, dan Steven. Mereka bertiga memang dikenal sering cari gara-gara. Namun di saat mereka berkelahi, entah kenapa, Lewis selalu sedang makan. “Untungnya perkelahian ini tak pernah berakhir buruk. Kalau tidak, mungkin kami sudah menginterupsi ritual makan Lewis,” kata Slash di buku biografinya.

14. Duff mengenal Izzy sejak sang gitaris ini masih jadi drummer band punk cross-dressing bernama Naughty Women.

Tentang Musik

Guns N Roses adalah band naratif. Dengan kata lain, mereka akan mengamati hidupmu. Mencatat namamu. Lalu menjadikannya lagu. Mereka bisa menulis lagu dengan cepat, pun mengambil inspirasi dari apapun. Entah itu heroin, minuman keras, atau mucikari dengan reputasi mentereng.

15. Lagu “Think About You” punya lirik yang manis, lengkap dengan bait I can remember and the love we shared is lovin’ that’ll last forever. Itu bukan lagu cinta. Lagu itu dibuat Izzy Stradlin setelah pertama kali mencoba heroin.

16. Lagu “Think About You”, “Out Ta Get Me”, juga “Welcome to the Jungle” dibuat dengan gaya jam session di studio milik Nicky Beat, mantan drummer L.A Guns dan The Joneses. Biasanya Izzy akan mulai memainkan riff, diikuti oleh Slash dan Duff, ditimpali ketukan Steven. Axl biasanya menulis lirik sembari bernyanyi spontan.

17. Sebagai band yang langsung punya ikatan kimia kuat, mereka bisa menulis lagu dengan cepat. Lagu “Out Ta Get Me” dibuat dalam waktu kurang dari 20 menit. Sedangkan “Welcome to the Jungle” dibuat dalam tempo 3 jam.

18. Lagu “Nightrain”, “My Michelle”, dan “Rocket Queen”, dibuat di tempat latihan berupa gudang penyimpanan barang yang dijadikan tempat tinggal Axl dan Slash yang saat itu baru saja dipecat sebagai pekerja di kios koran.

19. Judu “Nightrain” diambil dari Night Train Express, merek minuman keras dengan kadar alkohol 18 persen. Waktu itu harganya 2 dolar per botol. Suatu malam ketika mereka nongkrong bersama beberapa orang teman perempuan dan Lizzy Grey –gitaris band London–, seorang mulai berteriak “I’m on the Night Train”. Lalu Axl ikut berteriak Bottom up!, Fill my cup!, Love that stuff!, dan I’am ready to crash and burn. Celetukan-celetukan itu yang kemudian jadi lirik di bagian reff. Lagu ini pertama kali dibawakan live di konser yang bertempat di Music Machine, 20 Desember 1985.

20. Guitar World memasukkan “Nightrain” dalam daftar Top 10 Drinking Songs of All Time.

21. Lagu “Welcome to the Jungle” dibawakan pertama kali pada konser di Troubadour, akhir Juni 1985. Saat itu Guns N Roses manggung bersama Jetboy.

22. Reff awal lagu “Paradise City” adalah buatan Slash, yakni: where the girls are fat and the’ve got big titties. Tapi kemudian diganti “Where the grass is green and the girls are pretty”.

23. Lagu “Mr. Brownstone” dibuat saat Izzy dan Slash ngoceh tentang betapa tidak profesionalnya bandar narkoba langganan mereka. Lirik lagunya ditulis di atas kertas belanja.

24. Konser Guns N Roses pertama dengan formasi Appetite for Destruction adalah pada 6 Juni 1985. Mereka manggung di The Troubadour, bersama band Fineline dan Mistreater.

25. Sebelum masuk studio rekaman, Guns N Roses pernah membuka konser untuk Red Hot Chili Peppers dan The Dickies di UCLA, pada hari Helloween 1986.

26. Henry Rollins dari Black Flag menulis konser itu di catatan yang kelak diterbitkan dengan judul Art to Choke Hearts. Ia menulis, “Band pembukanya bernama Guns and Roses. Dan mereka tampil amat sangar, sehingga membuat band utamanya tampak menyedihkan.”

27. Harga jual album Appetite for Destruction kala itu adalah 7,99 dolar untuk kaset, dan 11,99 dolar untuk CD.

28. Seusai Appetite dirilis, petinggi Geffen memperkirakan album ini akan terjual ratusan ribu kopi. Izzy memprediksi album akan terjual 2 juta keping. Dua-duanya salah. Album ini terjual hingga 30 juta keping hingga saat ini

29. Saat Appetite for Destruction sedang masuk proses mixing, Duff bermain gitar di band hura-hura bernama The Drunk Fux bersama Todd Crew (bass), Steven Adler (drum), Del James (vokal), dan West Arkeen (gitar). Tommy Lee dari Motley Crue dan Lemmy dari Motorhead juga pernah bergabung di band ini.

30. Gitar yang digunakan oleh Slash saat rekaman adalah replika Les Paul 1959 yang dibuat oleh Jim Foot, pemilik toko Music Works yang berlokasi di Pantai Redondo, Los Angeles.

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

1 KOMENTAR

  1. keren mas, saya suka banget ama guns n roses, fakta” afd and all about gn’r bener” tepat banget ! oiya lanjutin it’s so easy and other lies dong mas ! hehe sekalian autobiografi slash ! lebih nyaman kalau diupload mas langsung soalny bahasanya enak dan gak kaku. hehe terima kasih mas 😀

TINGGALKAN KOMENTAR