Menjadi tua itu rasanya menyeramkan ya.

Bukan apa-apa, saya beberapa kali menyaksikan orang beranjak tua yang tidak bertambah bijak, namun malah menjadi lebih pahit. Semacam mengutuk dan merutuki hidup. Tua di sini bukan tua seperti Bob Dylan atau Keith Richard gitu. Melainkan mereka yang sedang menapaki usia kepala 3 dan akan lepas landas ke usia 40-an.

Selain merutuki hidup, mereka juga sering mengejek anak-anak muda di bawahnya. Seolah generasi di bawah mereka berisi sampah belaka, dan sama sekali tak ada yang bisa menyamai kehebatannya, juga generasi pendahulunya.

Saya berusaha memaklumi semua kepahitan itu. Tak semua orang siap melepaskan masa muda yang penuh gelora itu. Di usia muda rasanya semua bisa dibikin senang. Selepas usia 20, mana bisa begitu. Tanggung jawab makin besar. Dunia berputar cepat.

Jujur, saya sendiri gugup menghadapi usia 30. Usia 29 saja rasanya sudah kayak digebuki tanggung jawab –dan tentu cicilan yang membuat saya masuk dalam Paguyuban Sobat Mizqin. Adik saya, Shasa, yang masuk ke generasi Z, juga sering mendebat saya perihal selera musik. Ia suka beberapa musik berbau elektronik. Dan saya, dengan kesengakan khas orang yang lebih tua, mengejek musik seperti itu. Kalau sudah begitu, saya biasanya ngoceh soal betapa luhurnya musik-musik era 60 hingga 90.

Tanpa sadar saya perlahan menjadi orang tua yang pahit. Shasa mungkin memandang saya seperti saya memandang orang-orang pahit yang usianya lebih tua. Mbulet.

Omong-omong soal usia yang menua, saya sepertinya harus belajar dari Bret Michaels deh. Ia pernah menulis lirik yang bagus sekali di lagu “Something to Believe In”, tapi yang alternatif.

Secara kesatuan, lirik asli “Something to Believe In” lebih padu ketimbang lirik asli. Dua-duanya punya lirik agak gelap sih. Tentang kematian. Juga pengkhianatan pemuka agama dan politisi. Namun di lirik alternatifnya, ada beberapa larik yang amat saya suka, semisal, “Isn’t it funny what power and money can do to the soul of a man?”

Namun yang paling saya suka adalah yang ini:
I guess I learned to trade youth for wisdom
And lust in for romance
It’s all written in the stages and
Phases in life’s little dance

When I want to bitch about growing old,
I think about how many never had a chance…

 

Lirik itu semacam kebajikan orang yang pernah menjalani masa muda dengan penuh gairah dan gelora (kau tahu sendiri lah masa mudah para bintang rock itu seperti apa), dan beranjak tua serta menjalani tahapan itu dengan kerelaan hati. Tak banyak orang seperti itu.

Saya mungkin harus mulai meneladani Bret sedari sekarang.

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR