Robert Johnson, gitaris yang dari tangannya musik blues lahir, dipercaya membuat perjanjian dengan iblis. Isi perjanjian itu: Johnson mendapat kemampuan membuat musik yang belum pernah dihasilkan gitaris manapun dan membuat suara yang tak pernah didengar sebelumnya. Sebagai balasannya, iblis meminta jiwa Johnson kelak.

Johnson dan Iblis berjabat tangan di sebuah perempatan: US 61 dan 49 di Clarksdale, Mississippi. Perempatan itu sekarang dikenal Devil’s Crossroads, alias persimpangan iblis. Dalam pelbagai ilustrasi, digambarkan Johnson dan Iblis berdiri di tengah perempatan. Sepi. Tak tampak makhluk lain. Hanya padang rumput, semak, dan gonggongan anjing dari kejauhan.

Saya mengalami perasaan ganjil seperti yang mungkin dirasakan oleh Johnson. Di sebuah perempatan di Gresik bagian selatan, nyaris tak ada kehidupan manusia siang itu. Rasanya aneh, mengingat daerah ini berdempetan dengan Surabaya. Hanya 30 kilometer dari Terminal Bungurasih.

Jalan aspal panjang ini membelah prairi di kanan kiri jalan. Tak ada tiang lampu. Kalau malam datang, sudah pasti kawasan ini gelap gulita. Saya memeriksa Google Maps, yang terlihat dungu kali ini dengan melabelinya “Unknown road”—jalan yang tak diketahui.

Setelah melewati jalan ini sekitar 2 kilometer, saya akhirnya bertemu dengan satu tanda kehidupan: sebuah warung dengan dipan bambu dan dua meja panjang yang terletak di perempatan. Saya berhenti dan menanyakan arah.

“Rumah Cak Met? Oh itu di Sumput. Kamu terus saja, nanti mentok…”

Suaranya seperti hilang tertelan angin. Saya hanya sempat menangkap kata “mentok, kiri, mentok lagi, terus kanan”. Selebihnya, kapasitas otak saya tak berhasil menangkap arahannya. Tapi satu hal yang harus digarisbawahi: semua orang di sekitar Desa Sumput kenal Cak Met. Meski saya harus bertanya ke empat orang lagi, semua menunjuk arah yang benar.

Rumah Cak Met, tunjuk seorang perempuan tua, masuk ke gang. Pas di seberang masjid. “Rumah paling bagus,” katanya. “Nanti ikutin aja suara musik.”

Sekitar 10 meter dari bibir gang, tampak rumah yang dimaksud. Berpagar warna perak, lantai keramik, dan tembok cokelat. Dari belakang, terdengar lamat-lamat suara musik dangdut koplo. Suara musik datang dari enam subwoofer yang ditumpuk jadi empat tingkat. Di sana, bak seorang raja, Cak Met duduk santai sembari mengisap rokok.

Cak Met adalah sang raja dangdut koplo—meski mungkin bukan satu-satunya. Raja ini memegang kendang. Dan dalam dangdut koplo, kendang memerankan fungsi total sekaligus pembeda dari dangdut biasanya, elemen krusial dari gagrak tandingan dari gelombang dangdut yang telah membanjiri telinga pendengar rakyat Indonesia.

Pembeda paling mendasar dangdut koplo dari dangdut sepupunya—atau kita sebut saja dangdutnya Rhoma Irama—adalah pola ketukan; birama. Untuk bertanya tentang kendang koplo, mungkin nama Slamet Rudi Hartono adalah yang paling tepat dijadikan rujukan.

Cak Met, panggilan akrabnya, sudah bermain kendang sejak belia. Saat kelas 5 SD, ia sudah naik panggung. Beranjak remaja, ia ngamen keliling kampung dengan menggunakan gerobak. Dari kampung ke kampung, kemampuannya terasah. Sebagai pemain kendang yang pernah bermain di orkes dangdut biasa maupun kendang koplo, ia mengisahkan letak perbedaan kendang koplo.

“Kalau di dangdut biasa itu 3/4. Sedangkan di dangdut itu 4/4,” kata Cak Met. Dengan birama 4/4, permainan kendang koplo jadi lebih rapat, dan terkadang lebih cepat.

Andrew Weintraub melakukan pendedahan komprehensif terhadap pola pukulan kendang koplo ini dalam makalah “The Sound and Spectacle of Dangdut Koplo: Genre and Counter-Genre in East Java” (2013). Ia menyebut pola ritmik yang disebut koplo ini adalah “fitur musikal terpenting dalam dangdut koplo. Pola ritmiknya dimainkan melalui kendang.”

Mengutip Lono Simatupang dalam disertasi “The Development of Dangdut and Its Meanings: A Study of Popular Music in Indonesia”, Weintraub menjelaskan bahwa ada pola kendang standar dalam musik dangdut, yakni chalte. Dalam pola itu, ada lima jenis suara yang kemudian membentuk chalte:

Tiga jenis suara, yakni “dang”, “du-ut”, dan “dut” dihasilkan oleh kendang besar yang diletakkan di sisi kiri pemain kendang. Lalu “tak” dan “tung” dihasilkan oleh kendang kecil di sebelah kanan.

Dang adalah nada rendah yang dihasilkan dari pangkal telapak tangan kiri yang diletakkan perlahan pada ujung kendang, dan memukul bagian tengah kendang dengan telunjuk atau jari tengah. Kemudian bunyi du-ut dihasilkan dari pangkal telapak tangan yang diletakkan pelan di bagian tengah, dengan lebih dulu memukul ujung kendang dengan jari tengah atau telunjuk, serta pemain bisa memajukan atau memundurkan tangan. Untuk menghasilkan bunyi dut, pemain kendang akan menghantam ujung atas kendang dengan jari tengah atau telunjuk.

Sedangkan di bagian kanan, suara tak dihasilkan dari memukul tengah kendang dengan telunjuk, mengarah ke bagian pinggir. Kalau nada tung, dimainkan dengan cara yang sama dengan tak, tapi suaranya berbeda karena kendang yang berbeda pula.

“Pola kendang koplo adalah menggandakan semua unsur itu. Ia mengandung dua kali suara ‘dut’ dibanding pola standar chalte. Biasanya tempo koplo dimainkan lebih cepat ketimbang tempo standar chalte,” tulis Weintraub.

Jawa Timur yang dianggap sebagai tempat kelahiran koplo juga dianggap tempat asal pola kendang koplo. Namun, Weintraub juga menyebut beberapa pemain kendang di Jawa Barat punya teori: ritme kendang koplo berasal dari kendang Jaipong.

Dalam liputan lapangannya, Weintraub bertemu dengan beberapa musisi di Surabaya dan Banyuwangi yang setuju dengan teori itu. Jaipongan diperkirakan muncul di Jawa Timur melalui format kaset pada era 1980-an. Tapi sang Profesor Dangdut ini memberi catatan bahwa pola kendang Jaipongan juga memasukkan ritme dangdut.

“Karena itu koplo bisa jadi berasal dari interpretasi ulang pola ritme dangdut, yang kemudian diterjemahkan melalui jaipongan. Pendekatan kreatif ini menunjukkan adanya proses silang budaya di antara kelompok etnis, alih-alih saling usaha mendominasi,” jelas Weintraub.

Dengan tempo yang lebih cepat dan rapat, musik yang dihasilkan koplo jelas lebih membuat bersemangat—baik bagi penyanyi ataupun pendengar. Hasilnya tentu jelas: joget bersama.

“Kendang koplo itu bikin orang yang awalnya enggak mau joget, jadi bikin pingen joget,” ujar Sodiq dari Orkes Melayu Monata.

Karena posisi vital kendang dalam orkes dangdut koplo, wajar kalau para pemain kendang kerap jadi ikon. Weintraub menyebutkan nama Cak Met dan Waryo (OM Armega) sebagai dua pemain kendang yang memopulerkan ketukan koplo. Cak Met punya basis banyaik penggemar dan menembus batas daerah. Para penggemar itu malah membuat julukan luhur bagi Cak Met: Ky Ageng. Di Facebook, laman penggemarnya berisi sekitar 15 ribu anggota.

Di YouTube, coba ketik kata kunci Cak Met. Hasil yang muncul sekitar 16 ribu entri. Banyak yang ditonton hingga jutaan kali. Semisal “Cak Met Semakin Menjadi-jadi” yang ditonton 2 juta kali, “Cak Met Melakukan Adegan Berbahaya” (2,2 juta kali), atau “Crew Ramayana Terhipnotis Kendang Cak Met New Pallapa” (2 juta kali).

Nama lain yang juga punya basis penggemar besar adalah Cak Juri, drummer merangkap pemain kendang OM Monata. Sama seperti Cak Met, Cak Juri yang berasal dari Probolinggo ini sudah bermain kendang sejak 1990-an, tetapi bergabung dengan OM Monata pada 2001.

 

DARI singgasana yang diduduki Cak Juri, tampak jelas ratusan penonton berkerumun di depan dan kanan panggung. Niken Aprilia sudah bersiap. Cak Juri memukulkan stik; aba-aba untuk mulai. Ia melirik pada pemain keyboard di sayap kanan panggung. Tuts dipencet.

Yen tak sawang sorote mripatmu
Jane ku ngerti ono ati sliramu
Nanging onone mung sewates konco
Podo ra wanine ngungkapke tresno

Penonton langsung berjoget. Lagu berjalan dengan suasana yang biasa, hingga di tengah lagu, Cak Juri dengan gesit meletakkan stik drumnya. Tangannya langsung bergerak ke kendang di kanan kiri.

Tak tung, tak tung!

Penonton tambah menjadi-jadi. Ada yang menaiki bahu kawannya. Ada seorang penonton dengan topeng Guy Fawkes menari dengan heboh, seakan-akan itu hari terakhirnya sebelum meledakkan Gedung Parlemen. Tapi momen puncaknya bukan itu. Di beberapa momen, saat Niken diam sejenak untuk merambah ke lirik berikutnya, para personel Monata kompak berteriak.

“Hak e! Hak e!”

Penonton seperti tahu kapan sorakan itu muncul. Ada yang goyang patah-patah, ada yang menggerakkan pergelangan tangan seperti menarik tuas gas motor. Ada yang memajukan selangkangan dengan gaya patah-patah. Sorakan itu, kata salah satu dari mereka, seperti puncak dalam sebuah lagu koplo. Bedanya, ia terjadi berkali-kali.

Sorakan dalam dangdut koplo ini disebut sebagai senggakan. Michael H.B. Raditya dalam makalah “Esensi Senggakan Pada Dangdut Koplo Sebagai Identitas Musikal“, menyebut bahwa senggakan punya fungsi kuat dalam tiap lagu yang dimaikan oleh Orkes Melayu.

“Senggakan-senggakan ini dalam permainannya, memberikan patahan-patahan serta ciri khas tersendiri yang membedakan antara dangdut dan dangdut koplo dalam musikalitasnya,” tulis Raditya.

Sebenarnya senggakan bukanlah sesuatu yang baru dalam kesenian. Unsur ini terdapat dalam seni karawitan. Muriah Budiarti dalam “Komposisi Musik Senggak Olah Alok” (2009) mengatakan bahwa senggakan berasal dari kata dasar senggak. Artinya, kurang lebih, suara yang membarengi bunyi gamelan dan sinden. Menurut dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta ini, senggakan di dalam karawitan berfungsi memberikan kesan ramai.

“Dengan demikian, senggakan dapat diartikan vokal bersama atau tunggal dengan menggunakan cakepan parikan, dan atau serangkaian kata-kata (terkadang tanpa makna) yang berfungsi untuk mendukung terwujudnya suasana ramai.”

Maka, wajar belaka jika senggakan dalam dangdut koplo zonder makna. Misalkan terma asolole, yang dipopulerkan oleh Wiwik Sagita (ada pula yang menyebut istilah ini diciptakan oleh koleganya, Eny Sagita) dari OM Sagita, Nganjuk. Weintraub menyebut asolole kemungkinan adalah pengucapan Indonesia untuk kata asshole. Namun, terbuka kemungkinan bahwa asolole adalah singkatan dari asosiante lonte lebay, atau asli lo lebay, hingga Assalamualaikum dan selamat sore.

Senggakan lain yang populer, mulai dari, “hak e! hak e!”, “hok ya! hok ya!”, “jah! jah, jah!”, juga “o a e! o a e!”. Semua adalah sorakan yang membuat suasana di atas panggung jadi lebih hidup. Meski banyak senggakan yang tak berpola dan zonder makna, ada pula senggakan yang punya kesan seksual. Yang paling populer adalah: buka sitik joss.

Pola senggakan ini mulai populer demam bunyi nasional saat dangdut koplo mulai dibawa ke televisi. Salah satu yang kentara adalah acara “Yuk Kita Sahur”. Menurut catatan Irfan R. Drajat dalam “Membawa ‘Asolole’ ke Layar Kaca” (2016), pelawak Caesar berjoget dengan diiringi lagu Rhoma Irama berjudul “Kata Pujangga” yang sudah dikoplo.

“Meski band pengiringnya bukan orkes koplo, tetapi mereka coba menirukan formula khas dangdut koplo, lengkap dengan senggakan yang khas, seperti ‘buka sitik joss’, ‘icik-icik ehem ehem’, ‘geli dikit nyoh’, dan lain-lain.”

Senggakan menjadi bagian penting dan tidak terpisahkan dalam koplo. Pemain kendang, lagi-lagi menjadi kunci penting dalam menentukan kapan senggakan disorakkan. Ada semacam perbedaan ritme dan jenis pukulan yang menjadi penanda kapan senggakan dimulai.

Setiap orkes koplo punya variasi berbeda dalam jenis pukulan dan ritme untuk menandai kapan senggakan dimulai. Di OM Monata, misalnya, jika ada bunyi ‘tak’ yang dipukul dengan intensif dan berulang, itulah aba-aba untuk mengajak senggakan.

“Pokoknya kalau nadanya begitu, semua pada paham,” kata Cak Juri.

Sama seperti kata-kata senggakan yang tanpa pola, tak ada waktu baku kapan senggakan dimulai. Bisa sejak awal lagu, bisa di tengah, bisa menjelang reff, atau malah ketika solo gitar. Pada akhirnya, senggakan punya fungsi penting. Michael Raditya menyebut senggakan adalah patahan-patahan dan efek dalam lagu. Ledakan itu—juga disebut klimaks oleh banyak orang—memberikan dampak lagu lebih energetik.

“Pembentukan senggakan pada dangdut koplo menjadikan senggakan sebagai karakteristik musikal dangdut koplo yang terkuat, bahkan menjadi identitas musikal tersendiri.”

Raditya benar. Malam itu di Pandaan, Pasuruan, penonton selalu bersemangat ketika mendengar senggakan. Mereka berteriak lantang sembari berjoget dengan cara masing-masing. Seakan mengalami klimaks, berkali-kali.

“Hak e! Hak e!”

 

SELAIN kendang koplo yang tumbuh di kawasan Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya, ada pula gagrak koplo lain yang tumbuh di kawasan Nganjuk, Madiun, Ponorogo, hingga Sragen. Gagrak ini disebut sebagai jandhut, alias jaranan dangdut.

Secara pola dan ritme ketukan, kendangan jandhut tak berbeda dari koplo. Hanya saja ada tambahan kendang sabet dan kendang bem, instrumen kendang dalam kesenian jaranan. Dari gagrak ini, muncul nama Mas Malik dari OM Lagista, Nganjuk.

Di luar nama-nama besar itu, ada ratusan pemain kendang koplo lain. Mutik Nida, misalkan. Ia berbeda dari tipikal pemain kendang dalam orkes dangdut koplo. Perempuan berkerudung ini dijuluki Ratu Kendang oleh beberapa penggemar berkat pukulannya yang trengginas. Namun, perempuan kelahiran 1994 ini memilih untuk tidak bergabung dengan orkes. Ia juga lebih lentur dalam penampilan, kadang ikut orkes dangdut koplo, kadang ikut grup kasidah.

Mutik mengawali kariernya sebagai penabuh kendang dengan lebih dulu belajar kendang Jaipong. Kemudian tertarik belajar kendang dangdut dan kendang koplo. Menurutnya, ada tantangan sendiri karena belajar kendang yang berbeda-beda aliran dan menjadikannya padu.

Ia menyebut pada koplo, ada kendang-kendang seperti kempul yang bisa untuk isian kendang Jaipong. Sejak beberapa tahun terakhir, Mutik belajar pada Papi—panggilan yang ia berikan untuk Cak Met.

“Sejak kenal Papi, main kendangnya jadi serasa punya nyawa,” ujar perempuan asli Semarang ini.

Nama lain adalah Evi Epep, pemain kendang New Kendedes, OM dari Kediri yang seluruh personelnya adalah perempuan. Epep, panggilan akrabnya, juga menjadi salah satu idola baru anak muda, terutama berkat beberapa video tutorial cara memainkan kendang. Meski baru diluncurkan 6 bulan lalu, akun Epep Kendang di YouTube (per 27 November 2017) sudah diikuti oleh 10.157 ribu pelanggan.

Dengan peran penting mereka dalam sebuah orkes dangdut koplo, berapa honor pemain kendang sekali manggung? Semua tergantung skala OM dan juga popularitas pemain kendangnya.

Imam Wahyudi, pemain kendang di beberapa OM di Jember, mengatakan honornya tergantung jam terbang, juga jarak tempuh. Di Jember, honor pemain kendang yang masih hijau berkisar Rp100 ribu per manggung. Imam yang sudah menakik jam terbang sejak 2005 ini biasanya mendapatkan honor Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali manggung. Jumlah itu bisa bertambah jadi Rp350 ribu hingga Rp700 ribu jika manggung di luar kota. Honor terbesar Imam didapatkan ketika bermain di Lampung, yakni Rp2,5 juta.

Lain lagi dengan OM besar seperti Monata. Menurut Sodiq, honor Cak Juri sebagai pemain kendang utama adalah Rp2,5 juta sekali manggung. Ini angka yang wajar, sebab Cak Juri punya pengalaman belasan tahun. Namanya pun sudah banyak dikenal penggemar Monata. Untuk pemain kendang yang menggantikan Cak Juri kalau berhalangan tampil, honornya adalah Rp1,5 juta. Sedangkan Cak Met maupun Mutik Nida, enggan mengungkapkan honornya.

“Enggak enak kalau nyebutin angka,” ujar Mutik.

Seiring makin populernya dangdut koplo di Indonesia, tawaran manggung pun terus mengalir. Dalam sebulan, Monata bisa manggung 20 hingga 30 kali. Selepas lebaran 2017, mereka malah manggung 47 kali dalam sebulan. Sedangkan Mutik, jika sedang ramai undangan, dalam sebulan bisa tampil 40 hingga 50 kali.

Ini artinya seorang pemain kendang populer, bisa dengan mudah mengumpulkan honor hingga Rp75 juta dalam sebulan. Popularitas dan pendapatan yang besar kemudian jadi daya tarik bagi mereka yang ingin menekuni profesi sebagai pemain kendang dangdut koplo. Tentu jalannya panjang, perlu jam terbang banyak untuk mencapai honor besar. []

TINGGALKAN KOMENTAR