Bagaimana dangdut koplo lahir, dan sekarang menjadi primadona baru.

Pandaan, Pasuruan, 31 Oktober 2017, 19.00

Lapangan Kuti sudah ramai selepas Magrib. Ada pasar malam. Dari bagian tengah terdengar raungan motor dari atraksi Tong Setan. Sodiq berjalan dengan diiringi tatapan kagum banyak orang. Lelaki berambut gimbal ini kemudian duduk di bangku penjual mi ayam. Ia memesan satu porsi.

Tapi Sodiq tak bisa makan dengan tenang. Tiap beberapa menit, selalu ada saja yang mengajaknya foto. Lelaki, perempuan, remaja, bapak atau ibu, juga bapak dan ibu yang membawa bayi. Sodiq melayani foto dengan senang hati. Pose andalannya adalah meletakkan jempol di depan dada. Selepas foto, ia melanjutkan makan sembari memeriksa gawai. Tak lama. Sebab ada lagi yang mengajak foto. Nihil keluhan dari Sodiq.

“Ya ginilah risiko jadi orang ganteng,” kelakarnya.

Malam itu OM Monata akan tampil. Sodiq adalah motor utama orkes dangdut asal Sidoarjo ini. Selain bermain gitar, Sodiq juga jadi biduan. Lebih dari itu, Sodiq adalah ikon. Namanya lekat dengan Monata.

Sejak 1989, pria kelahiran Pasuruan ini mengamen di kafe-kafe di sekitar tempat wisata Tretes, dekat dari rumahnya. Ia sering jadi gitaris untuk beberapa orkes dangdut. Hingga pada pertengahan 1990-an, ia diajak Gatot Hariyanto, seorang wirausahawan asal Sidoarjo, untuk membuat orkes dangdut.

“Dulu namanya Penanggungan. Aku ledek, nama kok Penanggungan. Akhirnya aku ganti Monata,” ujar pria dengan tahi lalat di pipi kanan ini.

Nama Monata adalah akronim. “Moh ditoto. Mokong,” tambah Sodiq. Artinya, susah ditata. Bengal.

Meski ini band dangdut, tapi pernah pada satu masa kelakuan mereka tak jauh dari perilaku bintang rock. Seks, drug, dangdut koplo. Beberapa kali mereka manggung dengan mabuk. Tapi Sodiq menyesal saat melihat rekaman video itu.

“Kami main jelek, tempo jelek. Kacau. Akhirnya saya ngobrol dengan personel lain, gimana kalau kita coba main enggak mabuk. Ternyata bagus. Sejak itu enggak pernah lagi tampil mabuk.”

Ada beberapa momen yang membuat Sodiq kemudian perlahan menjauhi alkohol. Pertama, beberapa kawannya meninggal karena gaya hidup ugal-ugalan itu. Ia juga terkena dampak langsungnya.

“Ini,” katanya menunjuk segaris besar sayatan di perut, “bekas operasi usus buntu. Kebanyakan minum alkohol, jarang makan.”

Sekarang Sodiq jauh dari dunia ingar bingar itu. Kalau minum alkohol, katanya, badan terasa nggreges. Sodiq kini lebih mirip sebagai bapak di Monata. Setelahnya, Nono (gitaris) dan Hanafi (tamborin) yang termasuk senior di Monata. Selain itu, usia Sodiq yang menjelang 50 lebih tua ketimbang banyak personel lain.

Pengusaha Gatot Hariyanto juga memberinya kepercayaan untuk mengatur orkes. Beberapa pesanan manggung kadang melalui Sodiq. Pria penggemar Ebiet G. Ade ini juga tak segan memarahi personel band yang tidak disiplin.

“Disiplin itu kunci,” ujarnya.

Sodiq tak sesumbar belaka. Jadwal manggung di Lapangan Kuti adalah pukul 8 malam. Satu jam sebelumnya, ia sudah ada di tempat. Selama berkarier lebih dari 20 tahun, ia boleh bangga: tak sekalipun ia pernah terlambat. Padahal sejak 2000-an, jadwal manggung Monata padat. Pernah mereka harus manggung 47 kali dalam satu bulan.

“Pokoknya harus siap tidak pulang ke rumah.”

07.00

Sepagi itu Sodiq sudah memandang layar komputer di studio pribadi di rumahnya. Studio Sodiq sederhana. Satu ruang operator berukuran 2×3 meter persegi, dan satu bilik rekam berukuran sama. Di ruang operator, ada satu komputer dengan layar besar serta satu set sound. Di atas layar komputer, ada satu lukisan Sodiq bertelanjang dada dan mendekap seekor ayam jago.

Agenda Sodiq pagi itu adalah merekam lagu-lagu duetnya dengan Rere Amora, salah satu biduanita Monata. Ada 10 lagu yang akan digarap mereka.

Suara Sodiq sedang bindeng. Ia kena pilek. Istrinya membuatkan segelas besar jahe hangat. Sodiq meminumnya pelan-pelan. Ia sesekali berdehem, berharap penyakit di tenggorokan dan hidungnya minggat.

Setelah merasa suaranya agak mendingan, Sodiq masuk ke bilik rekaman. Salah satu lagu yang direkam adalah “Cintaku Padamu”. Sama seperti judulnya, kisahnya tak jauh-jauh dari cinta, yang disebut Sodiq, “tanpa batas dan waktu akan abadi selalu.” Lagu lain adalah “Gerimis Melanda Hati”. Lagu ini punya langgam asmara terpisah jarak.

“Jarak memisahkan kita, ku takut kau tak setia. Curiga menguras jiwa. Walaupun aku percaya, jodoh tak akan ke mana.”

Operator mengatur tata suara rekaman. Ia memberi tanda kapan Sodiq harus berhenti, dan kalau-kalau liriknya salah. Sodiq tampak konsentrasi penuh. Ia berusaha bernyanyi dengan baik, walau agak sengau.

“Masih kedengar bindengnya, ya?”

Operator memutar hasil rekaman. Sodiq tertawa kecil. Tak apa, katanya, nanti direkam lagi. Hasil rekaman awal ini akan dikirim ke produser.

Jika tak ada jadwal manggung—dan hal seperti ini jarang banget—Sodiq biasa mengurusi rekaman. Sama seperti jadwal manggung, jadwal rekamannya padat. Bisa jadi ia adalah pekerja paling keras dan disiplin dalam dunia dangdut Indonesia saat ini.

Sodiq dikenal sebagai penulis lagu mumpuni. Ritme kerjanya cepat. Ia menulis lagu berdasarkan momen, mirip-mirip para jurnalis yang menggarap isu terkini. Saat terjadi tragedi lumpur Lapindo, ia menulis “Porong Ajor”, alias Porong hancur. Lagu ini membuat nama Sodiq makin dikenal, jadwal manggung makin padat, honor pun naik drastis.

“Biasanya dibayar seratus ribu sekali manggung, gara-gara lagu itu bisa dapat honor satu sampai satu setengah juta,” ujarnya.

Sebagai penulis lagu dengan ritme cepat, wajar kalau Sodiq kehilangan hitungan berapa jumlah lagu buatannya. Ia menyebut jumlahnya sak arat-arat, alias banyak sekali hingga tak tahu lagi jumlah pastinya. Ia sering menjual lagu itu ke penyanyi yang butuh lagu. Harganya beragam. Rata-rata Rp5 juta per lagu. Kadang ada pula penyanyi yang datang ke Sodiq, memintanya untuk mau duet.

Tapi Sodiq tak lantas menerima semua tawaran duet. Ia mengaku selalu ngomong blak-blakan. Pahit. Kalau penyanyi itu suaranya tak apik, Sodiq akan berbicara jujur. Cara mengujinya gampang: bawa ke studio. Di sana, Sodiq akan mendengar biduanita itu bernyanyi. “Buat ngecek dia tahu notasi apa tidak.”

Namun Sodiq mengakui, duet adalah salah satu caranya untuk meremajakan pasar. Ia sadar, ceruk biduan di dunia dangdut amatlah sempit, apalagi ia sudah berumur nyaris setengah abad.

Selain duet, ia berusaha tetap mengikuti gaya berbusana anak muda. Ia kerap memadupadankan celana jins, kaus gelap, dan blazer. Rambutnya yang gimbal menjadi salah satu daya tarik dan karakter unik yang membedakannya dari biduan dangdut lain.

“Ya dari dulu banyak orang yang nyuruh saya potong rambut. Tapi saya enggak mau. Ini karakter saya dari dulu, tidak semudah itu mengubahnya.”

19.30

Periksa tata suara dimulai. Keyboard dipencet. Bas dibetot. Sodiq mengetes mikrofon. Sebuah lagu dimainkan sepotong-sepotong. Sodiq bernyanyi. Ia kemudian memberi kode kepada penata suara.

“Tes. Satu dua.”

Blocking, woy.”

“Suara keyboard kurang kedengeran.”

Ratusan penonton sudah menyemut di depan panggung. Para biduanita menunggu di bawah, menanti check sound rampung. Ada lima biduanita yang akan tampil malam itu. Salah satunya adalah Niken Aprilia.

Niken dikenal sebagai penyanyi Monata yang sering menyanyikan lagu rock. Repertoar yang kerap ia bawakan mulai dari “Neraka Jahanam”, “Bang Bang Tut”, “The Final Countdown”, hingga lagu rock klasik Indonesia, “Kerangka Langit”. Dalam suatu kesempatan manggung di Lamongan, Niken menyebut lagu “Angkara” dari band Power Metal sebagai “lagu wajib kalau manggung di sini.”

Niken didapuk sebagai penyanyi pertama malam itu. Ia tampil anggun dengan gaun terusan berwarna hitam. Ia tak membawakan lagu rock sebagai pembuka, melainkan “Konco Mesra”. Ini lagu ciptaan Husin Albana, menjadi salah satu lagu dangdut koplo paling populer, apalagi sejak dinyanyikan oleh Nella Kharisma. Seperti biasa, setiap konser Monata selalu dibuka oleh MC Bram Sakti. Setelah pria berkumis lebat itu menyapa, ia langsung memanggil Niken maju ke depan.

“Selamat malam, Pandaan!”

Tak butuh waktu lama, penonton langsung menggila. Beberapa penonton di baris depan, langsung naik ke bahu kawannya. Di sisi kanan panggung, beberapa remaja yang memakai topeng Guy Fawkes mengepalkan tangan ke udara dan menggoyangnya 360 derajat. Sepertinya nyaris tak ada penonton yang tak berjoget, meski itu hanya anggukan kepala. Melihat ini, rasanya aman menyebutkan bahwa penonton dangdut koplo adalah penonton konser paling antusias.

Pada lagu ketiga, keributan terjadi di bagian tengah penonton. Gelut. Polisi sigap. Membelah penonton, beberapa pengisruh semburat. Niken geleng-geleng kepala. “Ini baru lagu ketiga, lho,” celetuknya dari atas panggung. Setelah itu, konser relatif aman.

Dari balik drum dan kendang, Juri menyaksikan semuanya dengan ketenangan macam pertama. Dengan rambut dikuncir kuda dan mata sipit, ia cocok dijuluki Steven Seagal van Probolinggo. Sebagai drummer merangkap kendanger, Juri-lah yang menjadi pengontrol ritme. Kalau sedang dalam bagian “normal”, ia akan memukul drum. Tapi kalau akan memasuki koplo, dengan gesit ia akan meletakkan stik dan tangannya beralih ke kendang.

Tak tung, tak tung, tak tung tung!

This slideshow requires JavaScript.

Kendang adalah pembeda koplo dengan langgam dangdut lain. Slamet, pemain kendang OM New Pallapa, menyebut birama koplo adalah 4/4, berbeda dari lagu dangdut yang biasanya 3/4. Karena birama yang lebih rapat itu, dan saat kendang dimainkan serta ritme lagu berubah, ada luapan perasaan yang sukar dijelaskan. Tangan seperti bergerak sendiri, dan kaki tiba-tiba bergoyang tanpa bisa dilawan. Joget otomatis.

“Lagu apa saja bisa dibikin koplo. Kalau udah dikoplo, pasti yang denger jadi joget,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Met ini.

Baik Juri, Cak Met, maupun Sodiq, sama-sama tak bisa menjawab siapa pencipta koplo sesungguhnya, atau kapan pastinya dangdut koplo muncul. Tapi mereka menyetujui satu hal: dangdut koplo lahir di lokalisasi Jarak, Surabaya.

Saat itu pertengahan menuju akhir era 1990-an. Ngetren penggunaan pil koplo, yang membuat pemakainya merasa bersemangat. Irama koplo yang rancak seakan membuat pendengarnya menenggak pil koplo. Bersemangat dan penuh energi. Di lokalisasi Jarak, tempat malam terasa panjang dan riuh, musik yang diputar harus bisa membuat pengunjung merasa bersemangat—dan tentu saja bergairah. Koplo lahir dari suasana rakyat seperti itu.

Agar suasana makin meriah, maka diselipkan juga senggakan. Sorakan ini sebenarnya muncul dari kesenian karawitan. Ada berbagai macam senggakan. Wiwik Sagita, biduanita popular dari OM Sagita, dikenal punya senggakan khas “Asolole”. Ada pula senggakan seperti “hok ya, hok ya”, atau “hak e, hak e”, dan tentu saja “buka sitik, jos!”

Peneliti dangdut asal Amerika Serikat, Andrew Weintraub, menyebut koplo berakar pada tarian ronggeng di pedesaan Jawa. Koplo menjadi kaya karena tak sakadar menyerap pengaruh Melayu atau India seperti dangdut. Melainkan juga musik metal, house, dan seni rakyat lain seperti jaranan, jaipong, atau ludruk.

Koplo perlahan populer berkat mode penyebaran yang unik, yakni melalui rekaman video hajatan yang kemudian diperbanyak dalam format VCD. Persebarannya masif. Dari Jawa Timur hingga ke Jakarta. Dari sana, muncul ikon baru, biduanita asal Pasuruan, Inul Daratista. Terlepas dari gaya goyang ngebor yang berkarakter itu, Weintraub mencatat musik yang dibawakan Inul berbeda dari dangdut yang pernah ia dengar.

Weintraub menyebut musik Inul punya dasar rock yang kencang, gitar yang menjerit, tempo cepat, dengan seksi-seksi lagu yang berubah-ubah dengan cepat. Perubahan tempo dan seksi lagu yang berubah cepat itu yang dikenal sebagai koplo.

Kehadiran koplo dari pinggiran Jawa Timur ini bisa mengguncang kerajaan dangdut yang selama ini dipegang oleh sang raja Rhoma Irama. Saat Inul muncul pada awal 2000-an, Rhoma langsung menunjukkan ketidaksukaanya. Weintraub menyebut bahwa Inul dianggap sebagai pendatang gelap di “kalangan komunitas dangdut yang tertutup dan picik di Jakarta, tidak seperti sosok kalem, santun, dan glamor yang ditampilkan oleh biduan-biduan era 1990-an (misalnya Cici Paramida, Ikke Nurjanah, Itje Tresnawati). Inul menampilkan citra perempuan kuat, tegas, dan seksual.”

Inul kemudian diboikot. Diserang. Goyangannya dianggap membangkitkan syahwat lelaki. Michael H.B. Raditya dalam “Dangdut Koplo: Memahami Perkembangan hingga Pelarangan“, menyebut boikot, serangan-serangan, serta tuntutan agar dangdut koplo bisa mengedukasi, sebagai hal yang ambigu.

Dangdut koplo memang membawa nilai yang berbeda dari dangdut ala Rhoma. Raditya menyebut bahwa beberapa lagu dangdut koplo menawarkan keterbukaan dan keadaan yang dialami oleh masyarakat di Jawa Timur. Hal itu yang mungkin tidak dirasakan oleh para borjuis dangdut di ibu kota. Lagu-lagu seperti “Wedi Karo Bojomu”, “Oplosan”, “Ditinggal Rabi”, hingga “Bojo Galak” adalah perwujudan paling paripurna dari slogan seni menjiplak kehidupan.

Kehadiran internet juga membawa perubahan besar. Ikwan Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, menyebut bahwa internet berperan krusial membuat masyarakat memahami keberagamaan budaya yang lentur. Dalam hal ini: dangdut koplo.

“Jadi musik yang dulu dianggap hanya konsumsi pinggiran, sekarang didengar oleh para masyarakat digital. Ini hebatnya internet. Bisa menjadikan sesuatu yang dulu dianggap tidak menarik, menjadi tren baru,” ujar pendiri Matatimoer Institute ini.

Maka, sekarang kita bisa menyaksikan video klip “Jaran Goyang” yang dibawakan oleh Nella Kharisma ditonton lebih dari 90 juta kali di Youtube. Atau bagaimana lagu “Sayang” yang dinyanyikan Via Vallen bisa ditonton lebih dari 98 juta kali. Internet juga menjadikan pemain kendang, yang biasanya dianggap kalah penting dibanding vokalis atau pemain seruling, sebagai selebritas baru. Cak Met, salah satunya.

Beberapa penggemar membuat laman di Facebook bernama Fans Ky Ageng Cak Met New Pallapa. Anggotanya sudah melebihi 15 ribu orang, dan terus bertambah setiap harinya. Pemain kendang juga bisa jadi amat populer karena bangunan struktur dangdut koplo yang menjadikan mereka sebagai panglima. Membuat para pemain kendang menjelma sebagai bintang panggung baru.

“Padahal aku ya agak kagok kalau dianggap artis. Aku biasa wae. Ya berteman saja, enggak usah fans-fans segala,” kata Cak Met.

22.00

Lima orang biduanita berkumpul di atas panggung. Ini tandanya konser bakal segera berakhir. Keyboard dimainkan. Lagu populer dari Armada, “Asalkan Kau Bahagia” dimainkan. Dan di tengah-tengah lagu, Juri meletakkan stik drumnya, menabuh kendang.

Tak tung! Tak tung!

Tempo jadi enak buat joget. Apalagi dikompori oleh senggakan. Di pinggir kiri panggung, joget penuh seluruh berarti senggolan. Darah muda, mungkin juga alkohol, membuat kepala panas. Pukulan dilayangkan. Tentu saja berbalas. Ricuh. Kali ini paling ramai ketimbang tiga kali keributan malam itu. Polisi gemas. Mereka menyerbu bagian kiri. Penonton kocar-kacir. Tapi yang berkelahi biarlah berkelahi. Di bagian depan panggung, tak ada yang peduli. Mereka tetap berjoget. Dunia milik mereka yang berjoget, yang lain hanya numpang berkelahi.

Jagat penonton dangdut koplo memang menarik. Ada yang datang untuk berkelahi, seakan dengan adu jotos semua masalah bisa minggat. Jenis lain adalah penonton dengan moto: apa pun masalahnya, joget solusinya. Malam itu, dua jenis penonton dalam jagat koplo menemukan pelampiasannya masing-masing.

Hak e! Hak e!

Selain bekerja sebagai jurnalis, saya menghabiskan waktu dengan menyedot film-film dari Kickass Torrent, lalu menontonnya dengan istri, berburu buku bekas di Blok M, mendengar musik hair metal, jalan-jalan dengan istri, mencari tempat makan enak, bantu-bantu di situs minumkopi.com, sesekali mengirim tulisan ke mojok.co, dan terus merisak beberapa orang kawan baik.

1 KOMENTAR

  1. Saya jarang menonton dangdut, tapi kalau tidak ada hiburan lain, ya, mau gimana juga daripada bengong. Kalau dihitung, pentas dangdut yang saya tonton itu lima kali, di Jogja mungkin tiap malam bisa ada, dan entah kenapa pasti ada ketegangan. Entah kenapa itu, Mas.

TINGGALKAN KOMENTAR