Bagi Fidel Castro, lelaki terkeren sedunia tak lain tak bukan adalah Ángel Castro y Argiz, bapaknya sendiri. Castro senior adalah imigran dari Galicia, kawasan Barat Laut Spanyol, yang kemudian jadi juragan perkebunan tebu sukses di Kuba. Ia merayakan upacara kedewasaan Castro dengan cara unik: memberinya sebatang cerutu dan wine saat sang putra berusia 15 tahun.

“Ayahku merokok cerutu dan minum anggur Spanyol. Ia yang mengajarkanku tentang dua hal itu,” ujar Castro dalam wawancara bersama Cigar Aficionado.

Castro ingat betul hari itu: sebatang puro pertamanya. Puro adalah sebutan untuk cerutu yang seluruh bagiannya dibuat di satu negara. Dengan kata lain, puro—dari diksi Spanyol pure—yang diisap Fidel hari itu adalah cerutu Havana murni. Kelak, dalam buku biografi berjudul My Life, sang pemimpin Kuba mengakui pengalaman pertamanya mengisap cerutu itu laiknya perjaka yang bingung bagaimana cara bercinta.

“Untungnya aku tidak mengisap asapnya. Tapi tetap sih, kamu akan menyerap sedikit nikotin, meski tak mengisapnya sama sekali.”

Castro adalah salah satu tokoh dunia yang amat menggemari cerutu. Selain dirinya, tokoh lain yang paling sering mengisap cerutu adalah sahabatnya sendiri, kompanyon sekoci revolusi: Erneto “Che” Guevara. Sedikit berbeda dari Castro—yang memang penggemar berat cerutu sejak usia 15 tahun—Guevara sedikit lebih permisif. Apa pun bentuknya, asal terbuat dari tembakau, ia mau mengisapnya.

Dalam artikel berjudul “Che’s Habanos“, penulis Jesus Arboleya dan Roberto Campos mengisahkan hubungan mesra antara Guevara dan tembakau. Dalam catatannya, Guevara menyarankan beberapa barang yang harus dibawa oleh para pejuang gerilya.

Barang itu, antara lain, tempat tidur gantung buat istirahat, kover plastik untuk tempat berteduh sementara, selimut guna melindungi diri dari udara dingin pegunungan, garam buat mengawetkan makanan, minyak pelumas untuk senjata, botol berisi air segar, obat-obatan dan tembakau.

“Karena merokok kala senggang ialah sobat sejati bagi tentara yang kesepian,” tulis Che.

Castro lahir di Kuba, tanah yang sering dinobatkan sebagai penghasil cerutu terbaik di dunia. Setiap kotak cerutu yang bertuliskan Hecho en Cuba (terbuat di Kuba) dihargai mahal. Tentu sebagai negara yang mengontrol nyaris semua aspek ekonomi rakyat, perdagangan cerutu juga dikontrol pemerintah.

Empresa Cubana del Tabaco, alias Cubatabaco, adalah perusahaan negara yang mengontrol perdagangan semua produk tembakau Kuba. Pada 1994 dibentuk sayap perusahaan, Habanos, yang bertugas mendistribusikan cerutu Kuba ke dunia internasional.

Ada banyak merek cerutu Kuba yang dikenal dunia. Partagas, misalkan. Para cigar aficionado menyebut cerutu ini berkarakter berat: sedikit tendangan rasa peppery bercampur rasa tembakau yang kuat. Ada juga merek Punch, yang sudah ada sejak 1840: lebih ringan, sedikit jejak rasa manis. Kalau suka rasa floral dan nutty serta ada semerbak rasa dan aroma herbal, coba merek Romeo Y Julieta.

Kalau kamu bukan pemula dan suka cerutu yang menendang, harus coba Bolivar yang berat. Yang paling laris adalah Montecristo, dengan rasa tajam bercampur buah-buahan yang manis dan mengandung ruapan rasa kopi dan cokelat yang samar.

Namun, yang paling terbaik—cream of the top—adalah Cohiba. Rumornya, ini cerutu yang dilinting khusus untuk selera Fidel Castro. Para gringo boleh saja membenci dan tidak setuju atas apa pun yang dilakukan Pak Brewok ini. Tapi kamu harus setuju satu hal: seleranya untuk cerutu amat tinggi.

Awalnya cerutu ini dibuat untuk hadiah diplomasi. Tembakau Corojo dan Criollo terbaik diperam dalam waktu lama. Tak heran kalau rasanya berat karena nikotin makin matang. Harganya termasuk paling mahal. Satu batang bisa dipatok Rp980 ribu.

Meski Kuba sudah lama dikenal sebagai negara penghasil cerutu terbaik di dunia, asal muasal cerutu sendiri belum jelas benar. Salah satu sumber primer yang kerap jadi rujukan adalah penemuan guci di Guatemala—diperkirakan berasal dari abad 10. Di guci itu tampak lukisan seorang dari suku Maya yang minum gulungan daun tembakau diikat benang. Istilah suku Maya untuk menyebut kegiatan itu adalah sikar, yang kemudian dianggap sebagai akar kata cigar alias cerutu.

Masuknya tembakau ke Eropa tak lepas dari penjelajahan, penjarahan, dan penjajahan yang dilakukan oleh Christopher Columbus. Awak kapal yang dikomandani oleh Columbus kali pertama melihat daun tembakau di kepulauan Hispaniola—kini wilayah negara Haiti dan Dominika. Ketika Columbus datang ke Kuba, mereka melihat para Taino—warga asli kepulauan Karibiamengisap gulungan daun tembakau.

Apa yang diisap oleh para Taino itu bisa dianggap bentuk purwarupa rokok dan cerutu sekarang: gulungan daun tembakau yang dibungkus daun lain semisal palem. Meski berakar dari tanaman yang sama, dua produk ini memiliki jalan dan nasib berbeda.

Secara industri, rokok jadi jauh lebih besar ketimbang saudaranya. Nilai industri rokok pada 2015 mencapai 698 miliar dolar, dengan 5 miliar batang terjual pada 1 miliar perokok. Sedangkan cerutu memilih jalan lebih sepi, lebih kecil pangsa pasarnya. Penikmat cerutu diperkirakan hanya 100 juta orang, sepersepuluh jumlah para perokok. Nilainya pun lebih kecil. Tapi cerutu menempati ceruk kecil yang berisi banyak kemewahan.

Cerutu lekat dengan citra elegan. Terutama setelah cerutu banyak dinikmati oleh para pesohor Hollywood.

 

DALAM buku Cigar Cool (1999), Amerika Serikat disebut menjadi pintu masuk tersebarnya cerutu ke seluruh dunia. Gelombang pertama kedatangan cerutu ke negara Paman Sam itu terjadi pada abad 18. Salah satu gelombang terbesar ini terjadi ketika salah satu pebisnis cerutu bernama Vicente Martinez Ybor pada 1869 memindahkan operasi cerutunya dari Havana, Kuba, ke Key West, Florida. Lalu pada 1885 kembali pindah ke Tampa, Florida.

Martinez Ybor kemudian membangun kota mandiri bernama Ybor City. Menjelang pergantian abad, sudah ada 200 pabrik cerutu di Tampa dan sekitarnya, dengan jumlah pekerja lebih dari 5.000 orang. Hampir semua adalah orang Kuba.

Cerutu kemudian jadi lebih populer di Amerika Serikat sejak dinikmati oleh banyak pesohor. Dari atlet seperti Babe Ruth, aktor seperti Jack Nicholson, mafia Al Capone, hingga Presiden Bill Clinton dan John F. Kennedy.

Kennedy menyukai cerutu Kuba Petite Upmann. Bagaimana Kennedy memuaskan hasratnya pada cerutu sekaligus menegaskan sikap politik, bisa menjadi contoh lihai atau licik seorang politisi kelas wahid bertindaktergantung dari kaca mata Anda.

Pada 6 Februari 1962, Kennedy memerintahkan Pierre Salinger, yang menjabat sekretaris pers Gedung Putih saat itu, untuk membeli 1.200 batang cerutu Petite Upmann. Waktunya hanya 24 jam. Setelah mendapat 1.200 batang cerutu favoritnya pada pagi hari, Kennedy menandatangani embargo perdagangan terhadap Kuba.

Akibat dari embargo itu, warga Amerika Serikat dilarang membeli cerutu Kuba. Sedangkan pabrikan cerutu di AS tidak diperbolehkan mengimpor tembakau Kuba. Para pencinta cerutu Kuba kalang kabut. Pabrik cerutu di Kuba kekurangan pembeli. Tapi Kennedy bisa dengan santai mengisap cerutu yang sudah ia amankan.

Ditambah dengan nasionalisasi aset oleh pemerintah baru Kuba yang dipimpin oleh Castro, banyak pabrikan cerutu di sana pindah ke lokasi baru, terutama Dominika. Beberapa pabrik yang diambil alih oleh negara antara lain Hoyo de Monterrey, Upmann, juga Partagas.

Dua kejadian besar ini membawa perubahan besar dalam dunia cerutu. Pabrikan cerutu yang dulu di Kuba pindah negara tapi tetap memakai nama lama. Mereka juga tetap memakai bibit tembakau yang sama; juga teknik penanaman tembakau yang sama. Di Kuba, Cubatabacoperusahaan cerutu milik negarajuga meneruskan produksi cerutu dengan nama lama.

Perubahan lain yang muncul adalah susahnya mencari cerutu Kuba sejak embargo. Para pemalsu cerutu mudah saja membuat tiruan yang nyaris tak terdeteksi, kecuali oleh para ahli dan penikmat cerutu. Sasarannya kebanyakan adalah turis, atau mereka yang sekadar ingin coba-coba.

Steve Saka pada 2002 memperkirakan sekitar 95 persen produk berlabel cerutu Kuba yang dijual di Amerika Serikat adalah palsu. Namun, sejak era internet, mengimpor cerutu Kuba ke AS jadi lebih mudah. Apalagi jika produknya tanpa diberi label.

Pada 2015, Amerika Serikat mencabut embargo perdagangan terhadap Kuba. Untuk kali pertama sejak 1962, setiap orang yang masuk AS bisa membawa alkohol atau produk tembakau dari Kuba dengan nilai maksimal 100 dolar per orang. Kebijakan ini diperkirakan bakal kembali meningkatkan lagi nilai penjualan cerutu Kuba.

“Kami perkirakan bisa mengekspor cerutu senilai 250 juta atau bahkan lebih,” kata Jorge Luis Fernandez Maique dari Habanos.

Sampai sekarang, cerutu masih menyimpan citra elegan yang kuat. Cerutu dianggap lebih berkelas ketimbang rokok. Barang siapa yang bisa mengisap cerutu, ia dianggap sebagai orang sukses. Citra seperti itu tak hanya bisa ditemui di negara Barat. Bahkan di Jember, Jawa Timur, cerutu pun punya citra yang sama.

Abdul Kahar Muzakir, seorang ahli tembakau di Jember, punya kesenangan mengisap cerutu dari tembakau Havana yang ditanamnya sendiri. Ia ingin punya pabrik cerutu, tapi kebingungan mencari nama. Suatu pagi, saat asyik menikmati cerutu, ada beberapa anak kecil yang lewat di depannya. Mereka tampak kagum dengan cerutu, yang tampilan dan ukurannya amat berbeda dari rokok biasa.

Wah, mak engak bos,” kata mereka dalam bahasa Madura. Artinya: Wah kok seperti bos (merokok cerutu).

Maka momen Eureka muncul dalam kepala Kahar. Ia akhirnya menyematkan nama Boss Image Nusantara sebagai nama pabriknya. Pabrik ini jadi salah satu pemain baru dalam industri cerutu di Indonesia. Produk andalannya Robusto, yang dibuat dari daun tembakau Havana pilihan.

“Lahannya rahasia. Cuma sedikit orang yang tahu,” kata Kahar, tersenyum.

 

SUATU hari pada 1993, Abdul Kahar Muzakir datang ke Vietnam. Pria yang bekerja sebagai konsultan perusahaan tembakau asal Swiss, Burger Soehne Ag Burg, ini diundang untuk melihat kelayakan pendirian anak perusahaan. Di kota Ho Chi Minh ada lahan tembakau yang jadi bagian dari riset tembakau Kuba.

Sebagai ahli tembakau, Kahar amat paham bahwa tembakau Kuba adalah emas hijau. Dari sana, cerutu-cerutu terbaik dunia dibuat. Pensiunan PT Perkebunan Nusantara XXVII ini ingin sekali menanam tembakau Kuba di tempat tinggalnya di Jember. Ingin minta, jelas tak akan diberi. Maka Kahar memilih untuk sedikit nekat.

“Saya izin pergi kencing,” kata Kahar, kini 81 tahun, mengisahkan ulang kepada saya, akhir Juni lalu. Kami berbincang di Taman Botani milik Kahar di Sukorambi, sekitar 20 menit dari pusat Kota Jember. Suasananya adem. Ada pohon-pohon besar, beragam wahana untuk rekreasi, dan kolam renang.

Kahar masih mengingat peristiwa penting dalam hidupnya itu. Seorang petugas di lahan tembakau kemudian membolehkan Kahar kencing di sembarang tempat. Pria kelahiran Banyuwangi ini memilih tempat agak tersembunyi. Dengan gesit, ia memasukkan lima butir bibit tembakau ke dalam kapsul.

“Waktu itu saya sebenarnya takut banget. Kalau ketahuan enggak bakal bisa pulang. Tapi ya gimana. Keinginan punya bibit tembakau Kuba mengalahkan rasa takut itu,” ujar Kahar sembari menikmati Cigar Master, cerutu racikannya sendiri dari daun tembakau Kuba yang disebutnya sebagai ‘Sepanyol’ alias separuh nyolong.

Kahar membawa bibit tembakau Kuba itu ke Indonesia dan mencoba menanamnya di Jember dengan dibantu oleh seorang peneliti bernama Soeripno. Percobaan ini rada sulit sebab iklim Jember berbeda dari Kuba. Mereka harus menunggu 19 tahun agar tembakau Kuba bisa tumbuh dengan baik di Jember.

Tembakau hasil ratusan kali percobaan tanam ini adalah generasi yang sudah beradaptasi dengan iklim dan cuaca dan tanah di Jember. Dengan hati mantap, Kahar mencoba tanam tembakau Kuba di lahan seluas dua hektare. Ia pernah menyilangkan tembakau Kuba dengan tembakau cerutu Besuki dan jenis lain. Tapi ternyata hasilnya kurang sedap. Jadilah yang ditanam adalah murni daun tembakau Kuba.

“Produk daun bawah kami sebut Half Corona. Kalau daun kaki kami sebut Corona. Yang atas disebut Robusto,” ujarnya.

Kehadiran tembakau Kuba di Jember kemudian membawa banyak perubahan di dunia cerutu Indonesia.

 

DI INDONESIA, ada dua jenis tembakau berdasarkan masa tanam yang umum dikenal. Pertama adalah Voor-ogst yang dikenal sebagai tembakau musim kemarau. Kedua adalah Na-oogst alias tembakau musim penghujan. Tembakau pertama dipakai untuk bahan baku rokok, tembakau kedua sebagai bahan baku cerutu.

Dalam liputan yang ditulis oleh Puthut EA dan Nezar Patria, tembakau Na-oogst Indonesia adalah yang terbesar di pasar dunia—sekitar 34 persen. Dari 34 persen itu, sekitar 25 persen disumbang oleh tembakau Na-oogst Jember. Pada 2014, Jember menghasilkan 8.560 ton tembakau Na-oogst. Selain di Jember, tembakau Na-oogst juga bisa ditemui dalam jumlah kecil di Klaten (Jawa Tengah) dan Deli Serdang (Sumatera Utara).

Namun, sejak 2012, Kahar melalui perusahaan tembakau Tarutama Nusantara menanam tembakau Kuba di lahan seluas 2 hektare. Karena berhasil, luasan lahan pun diperbesar. Tahun ini mereka menanam tembakau Kuba di lahan seluas 2,5 ha. Di luasan itu, jumlah panen biasanya sekitar 4 ton tembakau kering.

Daun tembakau untuk cerutu pada umumnya memiliki tiga bagian: daun bawah, daun tengah, dan daun atas. Ketiga bagian itu memiliki karakteristik berbeda dengan cita rasa yang berbeda pula.

Dunia internasional mengenal bagian daun bawah dengan sebutan volado. Karakteristik rasanya ringan. Karena itu biasanya dipakai untuk pengikat dan pemberi daya bakar. Daun tembakau bagian tengah dikenal dengan sebutan seco. Fungsinya memberi rasa dan aroma. Sedangkan daun bagian atas adalah daun tertua, terpapar matahari dan angin paling lama sehingga jadi bagian daun paling matang. Penggemar cerutu menyebutnya ligero. Fungsinya adalah rasa alias lauk. Ia bagian paling berat yang biasanya dipakai untuk pembungkus cerutu.

Cerutu punya tiga bagian. Pertama adalah filler alias isi. Lalu ada binder alias pengikat. Ketiga adalah wrapper alias pembungkus. Setiap bagian cerutu berasal dari posisi daun yang berbeda. Bagian wrapper didapuk sebagai bagian terpenting dari sebuah cerutu.

“Sama seperti wine, cerutu akan semakin enak bila semakin lama disimpan,” ujar Kahar.

Ini pula yang membedakan antara rokok dan cerutu. Rokok, jika sudah berusia lama, rasanya semakin ambyar. Cerutu kebalikannya. Carlos Fuente Jr, salah satu pembuat cerutu legendaris, mengatakan bahwa semakin tua sebatang cerutu, rasanya akan semakin lembut dan kaya.

“Kalau kamu mengisap cerutu langsung dari meja pembuatan, rasa yang lembut dan kaya itu jelas tak akan bisa kau dapatkan,” ujarnya.

 

PADA 2012, Kahar Muzakir berkeinginan membuat pabrik cerutu. Setelah mendapat nama, Boss Image Nusantara (BIN), dimulailah produksi cerutu. Pabrik ini terletak di Jubung, sekitar 10 kilometer ke arah utara dari pusat Kota Jember. Saya mendatangi pabrik ini selama dua kali, empat hari selepas mengobrol dengan Kahar, pada akhir Juni lalu. Ada sekitar 15 pegawai di meja masing-masing yang tengah mengemas cerutu di pabrik tersebut.

Pembagian kerja dibuat nyaris sama seperti pembagian cerutu. Pertama di departemen Filling. Di sini para pekerja memilih daun tembakau berdasarkan warna serta membuang tulang daun. Dari sana, tembakau isian dibawa ke departemen Binder. Daun yang sudah tanpa tulang ini akan digulung dan dimasukkan ke kotak pressing, yang memiliki rongga berbentuk pipa. Gulungan tembakau ini kemudian dilem dengan lem tapioka.

“Jadi alami, tak ada bahan pengawet apa pun,” ujar kepala produksi Slamet Wijaya.

Setelah digulung dan diletakkan di kotak pressing, kotak-kotak itu ditumpuk dan ditekan dengan menggunakan mesin hidraulik, atau dongkrak botol, berkapasitas 10 dan 15 ton. Setelah cerutu padat, para pekerja membawanya ke bagian akhir pembuatan, yakni Wrapping. Di sana, isian yang sudah diikat dan ditekan kemudian dibungkus oleh daun tembakau berwarna cokelat.

Setelah mulai berbentuk, cerutu dijejer dan dimasukkan ke kotak pengering. Kotak ini dari luar tak jauh beda dari lemari biasa. Ada rak-rak. Di sana, cerutu yang masih basah dan mengandung sedikit sisa air dikeringkan. Proses pengeringan memakan waktu antara 3 hingga 7 hari.

Pabrik Boss Image Nusantara tak hanya memakai tembakau Havana. Ada pula dari Sumatera, Connecticut, dan tentu Na-oogst Besuki. Dari tembakau-tembakau itu, BIN memiliki 29 produk. Ada yang produk standar, ada pula yang berkualitas premium. Harganya beragam. Untuk yang premium seperti Robusto, harganya Rp450 ribu. Jika sudah dijual oleh pihak kedua, harganya bisa meningkat jadi Rp1 juta per kotak isi 10 batang.

BIN menggarap cerutu berdasarkan permintaan. Kalau permintaan tinggi, produksi dipercepat dengan cara menambah tenaga kerja harian. Pernah satu ketika mereka memproduksi 10.000 batang cerutu dalam sehari. Para pelanggannya di kota besar macam dari Surabaya hingga Jakarta. Mereka juga banyak mengekspor. Tujuan utama adalah Malaysia. Selain juga ke Jepang, Jerman, dan Turki. Saat ini mereka tengah menjajaki ekspor ke Slovakia dan Siprus.

“Tahun 2016, nilai penjualan kami di atas 1 miliar rupiah,” ujar Imam Wahyudi, manajer umum BIN.

Cerutu Havana bikinan BIN ini disebut memiliki 90 persen rasa cerutu Kuba. Ada faktor-faktor yang belum bisa disamai, misalkan soal tanah dan kandungan unsur hara. Tanah Kuba pasti berbeda dari tanah di Jember.

“Saat ini konsumen kami bilang bahwa cerutu kami rasanya gurih. Belum mantap seperti cerutu Kuba,” kata Imam.

Untuk itu mereka sedang mengulik bagaimana rasa cerutu Kuba-Jember bisa punya rasa yang sama kuat dengan cerutu Kuba. Menurut Imam, yang mengakui cerutu Cohiba dari Kuba adalah yang terbaik di dunia, salah satu cara memperkuat rasa adalah mencoba-coba racikan berdasarkan posisi daun. Sekarang produk contoh terbaru mereka sedang dikirim ke beberapa negara untuk uji coba rasa.

Imam berkata pasar cerutu lokal masih belum besar. “Bayangkan kalau harga sebatang cerutu Rp60 ribu, yang mau beli, kan, terbatas. Padahal cerutu Kuba harga per batangnya bisa ratusan ribu,” kata pria kelahiran Biting, Jember, ini.

Tapi perlahan-lahan produk cerutu lokal sudah mulai punya pasar sendiri, terutama di kota besar. Selagi BIN melayani ekspor cerutu, mereka sedang memperbesar jangkauan pasar lokal.

Pasar lokal dianggap lebih bisa memberi kenyamanan. Pesanan pasar sudah pasti. Semisal, mereka menjalin rekanan dengan, katakanlah, hotel, permintaannya pasti. Persentase pasar BIN berubah-ubah. Tahun lalu, sekitar 60 persen produk mereka diekspor. Tahun ini, sekitar 90 persen permintaan datang dari pasar lokal.

“Jadi sekarang dikebut di pasar lokal. Karena masyarakat susah berpindah ke cerutu, digempur segmennya saja, yaitu menengah atas,” tambah Imam.

TINGGALKAN KOMENTAR