Di Tanjung Sport, kami bertiga –Ayah, Mamak, saya– bersepakat membeli kaus Manchester United warna merah, itu suatu malam di tahun 1996. Saya terpikat dengan David Beckham.

Kaus Manchester United warna merah itu lekat sekali di ingatan. Dengan sponsor utama Sharp yang melintang di tengah kaus, di atasnya ada lambang MU, emblem Umbro di bagian kiri, dan ini yang paling membuat saya melongo: tulisan Theatre of Dreams di bagian bawah kaus.

Panggung impian. Old Trafford, kandang Manchester United, adalah arena tempat kamu menorehkan mimpi. Tak selalu tercapai, memang. Karena permainan tak akan selalu diisi oleh kemenangan. Mimpi kerap berguguran. Tapi tetap saja, para penghuni Old Trafford, mereka yang mendaku sebagai anggota komunal Setan Merah, tak pernah sungkan memacak mimpi tertinggi –termasuk dua tahun kemudian, saat mereka meraih treble.

Itu adalah kaus bola pertama dalam hidup. Tanjung Sport kini sudah tak ada. Tak lama kemudian, ayah berturut-turut membelikan baju bola, tetap Manchester United. Baik dari musim 1998-2000 dengan logo Umbro di bagian lengan; juga jersey Sharp Digital dengan garis-garis yang dipakai di tahun 1999, dan jersey Vodafone. Seingat saya, tak ada lagi kaus bola yang saya punya setelah itu. Tidak juga Persebaya, tim favorit ayah.

Beckham menjadi pemain favorit saya. Cara bermainnya yang taktis, umpannya yang nyaris selalu menemui tujuan, hingga tendangan bebasnya yang bisa melengkung. Di lingkungan perumahan kami, saya dan anak-anak sebaya punya tim favorit masing-masing. Saya dan Pandu sama-sama suka MU. David suka Arsenal, sekaligus musuh bebuyutan saya kalau taruhan bola. Fajar suka Liverpool dan Juventus.

Karena suka Beckham, setiap ada uang, nyaris selalu saya habiskan untuk membeli pernak-pernik pemain bernomor punggung 10 dan 7 di MU ini. Entah itu poster, tabloid, atau majalah. Saya ingat suatu lebaran, saya keliling kota Lumajang naik becak bersama sepupu saya, Hendrik, untuk membeli edisi khusus David Beckham yang diterbitkan oleh Soccer. Bahkan, saya pernah jadi konsumen setia Brylcreem –ada yang ingat merek minyak rambut ini?– karena Beckham yang jadi bintang iklannya.

Saat Beckham pindah ke Real Madrid, kecintaan saya terhadap sepak bola mulai luntur. Saya hanya mengikuti Madrid bermain sesekali, diselingi oleh pertandingan MU. Ketika akhirnya Becks pensiun, maka bisa dibilang kecintaan saya terhadap sepak bola sudah dikubur –walau tak dalam-dalam amat. Saya sih masih rutin mengikuti kabar MU, dan sesekali menonton MU kalau melawan tim besar. Tapi kecintaan saya pada bola sudah tak lagi sama seperti dulu.

Tapi tetap, Beckham selalu ada di hati. Mungkin ia satu-satunya pemain bola yang saya idolakan sedemikian rupa.

Maka saat ada surel undangan konferensi pers yang menghadirkan Beckham, saya jelas mengajukan diri untuk datang. Saya deg-degan. Idola sejak dua dekade lebih akan datang dan saya berkesempatan berhadapan dengannya.

Saya sudah bersiap. Membeli jersey MU tahun 1996-1998, sama seperti kaus bola pertama saya itu. Lengkap dengan slogan Theatre of Dreams yang tak pernah gagal menggetarkan itu. Dari rumah, saya berangkat pukul 7.30, meski acara dimulai jam 10 pagi. Di tas, selain jersey, ada buku biografi Beckham, My Side, siap untuk ditandatangani.

Saya sampai lokasi pukul 9. Menukar ID, lalu banyak minum air putih. Waktu makin dekat, saya makin deg-degan. Ketika pintu ruangan konferensi pers dibuka, saya tak membuang kesempatan. Saya langsung duduk di bangku paling depan.

Di sebelah saya, duduk Wendra, senior saya di Tegalboto yang jadi fotografer di The Jakarta Post. Ia lalu bertanya apa saya dapat kesempatan wawancara eksklusif. Saya menggeleng. Ia menunjukkan surel: Kompas dan The Jakarta Post mendapat kesempatan wawancara khusus.

“Aku nitip jersey sama buku buat ditandatangani ya?” kataku.

Wendra menyambut dengan tangan terbuka.

Saat yang ditunggu tiba. Beckham, lelaki yang membuat banyak anak memasang sepatu bola, datang dengan amat memukau. Rambutnya rapi, dipotong presisi seperti rumus matematika. Cambangnya dibiarkan tumbuh, tapi tak menguarkan kesan kotor, malah menambah aura maskulin dan dewasa. Setelan jas krem gelap yang ia pakai, berpadu apik dengan kemeja putih dan dasi biru. Badannya tegap, seperti tiang bendera.

Saya melongo.

Ckrek! Ckrek! Ckrek! Shutter kamera bunyi beriringan dengan flash yang mengkilat. Saya ikut merekam saat Beckham memasuki ruangan. Mata saya jelas berbinar waktu itu. Saya berteriak memanggilnya, “Sir David Beckham!” Ia menoleh, dan tersenyum.

Saya bisa meninggal dengan tenang.

Setelah itu saya sama sekali tak bisa berkonsentrasi mendengarkan pemaparan Direktur AIA. Saya terus-terusan memandang Becks, macam orang kasmaran. Tapi ada satu kalimat yang terus terngiang, tentang bagaimana Beckham sebagai figur populer membagi waktu untuk publik, dan untuk dirinya serta keluarganya.

“Buatku, keluarga itu segalanya. Istri dan anak-anakku. Tapi mereka tahu kalau ayah harus kerja untuk cari uang,” kata Beckham.

Kalau baca My Side, memang tampak betul kalau Beckham adalah figur yang sayang keluarga. Di pembukaannya, mengisahkan tentang kepindahannya ke Real Madrid, porsi terbesar adalah tentang keluarganya. Bagaimana mereka mencari rumah. Atau bagaimana anaknya bosan dengan seremoni. Keluarga, bagi Beckham, di atas segalanya.

Tak ada pertanyaan bagi wartawan siang itu. Beckham langsung ngacir. Untung saya sempat menitipkan jersey dan buku ke Wendra. Saya lalu bertukar pesan dengan Wendra.

“Kamu di mana mas? Kira-kira bisa nyelundupin aku gak?”

“Hahaha, gak bisa kayaknya cuk. Aku di lantai 11, kamu ke sini aja.”

Saya naik ke lantai 11. Tapi memang pengamanan ketat. Yang boleh masuk hanya orang-orang dengan tanda pengenal khusus. Jadilah saya menunggu Wendra di dekat lift.

Rupanya Wendra dan koleganya hanya diberi waktu sekitar 5 menit untuk wawancara. Ia mengangsurkan buku dan jersey. Mata saya berbinar. Ada tanda tangan Beckham yang ditorehkan dengan spidol warna silver yang saya beli beberapa menit sebelum acara dimulai!

“Tapi di jerseynya kurang terang, harusnya spidol warna hitam aja,” ujar Wendra.

Saya sudah tak peduli lagi. Yang penting ada tanda tangannya. Girang sekali. Saking girangnya, saya mengirim pesan ke Mamak kalau anaknya ini bertemu Beckham.

“Haha. Beckham kan idolamu sejak SD ya, Le. Sampai buku tulismu banyak digambari Beckham,” kata Mamak, pasti ikut senang.

Rencananya, jersey ini akan saya pigura. Begitu pula sampul buku My Side. Bisa jadi cerita ke anak cucu kelak, bahwa dulu ada pesepakbola yang begitu digemari oleh banyak orang. Bahkan ketika ia sudah lama pensiun sekalipun.

TINGGALKAN KOMENTAR