Bagi saya, memasak itu rekreasi. Ia bukan rutinitas yang dikerjakan tiap hari. Namanya juga rekreasi, kalau sedang doyan ya dilakukan dalam intensitas yang sering. Kalau malas dan tak sempat, ya ndak dilakukan. Sampai suatu hari, saya dan Rani ngobrol.

Semua berawal dari ide untuk penghematan. Kami sadar, amat sadar, bahwa bujet kami makan di luar cukup besar. Mungkin sekitar 80 persen dari uang saku bulanan. Apalagi di Jakarta, harga makanan cukup mahal.

Saya yang berkantor di Kemang, Jakarta Selatan, dan gemar blusukan, mungkin bisa mengakali dengan beli makan di warteg. Seporsi nasi lauk ayam atau telur, dengan pendamping sayur atau oseng, mungkin habis sekitar Rp12 ribu. Namun Rani yang berkantor di Kuningan –satu dari tiga titik Segitiga Emas– susah menemukan makanan semurah itu.

“Jadi gimana kalau aku masak buat kita berdua?” saya melontarkan ide itu.

Rani setuju. Memasak sendiri jelas lebih murah ketimbang beli makan di luar. Saya memberi catatan: harus ada bujet khusus untuk saya belanja. Ia yang berposisi sebagai Menteri Keuangan memberi persetujuan. Diberilah bujet untuk belanja. Saya pun merancang menu 30 hari –mungkin di Sabtu dan Minggu akan alpa kalau kami pergi keluar rumah.

“Ini gak repot apa bikin masakan beda-beda tiap hari?” tanya Rani setelah liat senarai menu.

Saya menggeleng. Coba optimis sekaligus belagu. Repot sih pasti. Apalagi saya susah sekali bangun pagi. Untungnya di dekat rumah ada beberapa welijo yang buka hingga malam hari. Biasanya di sana saya beli bahan masakan. Harganya jelas lebih murah. Bonus: digodain ibu-ibu yang iseng.

“Kok belanja sendiri? Istrinya ke mana?”

“Ada di rumah, Bu. Saya memang suka belanja dan masak kok,” biasanya saya jawab begitu sambil cengengesan.

“Wah, pintar masak ya? Suami idaman nih. Coba kalau belum punya istri, udah saya kenalin sama anak saya.”

Memasak rutin jelas jadi tantangan. Saya bukan tipikal orang yang gemar memasak ribet dan banyak bumbu. Sebenarnya bisa sih, tapi saya malas mengupas dan bersih-bersih. Sebenarnya untuk mengakali keribetan itu, saya selalu sedia tiga jenis bumbu dasar: merah, putih, kuning. Ini cukup membantu. Tapi banyak masakan yang butuh bumbu lain. Laos, lah. Daun salam, lah. Serai, lah. Asam kandis, lah. Ketumbar, lah.

Tantangan lain: menerka selera Rani. Lidah kami berdua sedikit bertolak belakang. Kami memang tumbuh di kultur masakan yang berbeda. Ia dari Sumatera, dan saya dari Jawa Timur. Rani heran sekali saya gemar masakan seperti kupang atau rawon. Saya geleng kepala lihat Rani gemar jengkol.

Setelah agak lama menikah baru saya bisa hafal karakter lidah Rani. Ia gemar masakan asin, gurih, dan pedas. Manis sedikit boleh, lah. Asal tidak kentara. Karena itu saya gemar masak dengan perpaduan bumbu dasar (bawang putih, merah), cabai, saus tiram, dan minyak wijen. Kalau sedang tak malas, saya akan membuat masakan seperti mangut dengan rasa pedas yang menonjok.

Pernah sekali saya menguji Rani. Saya masak telur puyuh saus petis. Kebetulan di kulkas ada petis dari Jember. Eh, ternyata dia suka. Itu karena saya pakai cabai rawit agak banyak, menyamarkan rasa manis petis. Oke, deh.

Rencananya, formasi masakan akan terdiri dari karbohidrat (bisa nasi, bisa mie), satu lauk utama, satu lauk pendamping (tempe goreng, tahu, atau sejenisnya), dan satu sayuran. Kalau ada sisa duit lebih, bisa lah pakai buah.

Tadi siang saya belanja daging giling, helaian daging ala yakiniku, dan paha ayam. Kemarin, saya mengisi persedian bumbu dan rempah. Beli tomat, cabai besar dan rawit, bawang-bawangan, serai, dan aneka sayuran seperti buncis dan kacang panjang. Barusan saya coba masak daging ala yakiniku, dengan pelintiran gaya Nusantara: kasih cabai dan tomat hijau. Bisa lah diadu dengan warung-warung makanan ala Jepang.

Ujian sebenarnya baru besok. Apakah saya akan konsisten masak rutin? Atau hanya rajin di minggu-minggu pertama? Kalau itu yang terjadi, saya bikin alasan apa lagi ya?

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR