Jadi ceritanya, minggu lalu saya baru datang dari Estonia. Di mana pula itu Estonia? Itu yang awalnya ditanyakan banyak orang. Bahkan sebelum saya pergi ke sana, saya cuma tahu Estonia itu di Eropa. Lain tidak.

Ngapain saya ke sana? Awalnya Windu kasih tahu soal beasiswa kursus singkat yang diadakan oleh Baltic Film, Media, Arts and Communication School dan Kementrian Luar Negeri Estonia. Kursusnya tentang jurnalistik dan media. Waktu itu syarat awalnya diminta CV dan surat motivasi.

Saya coba iseng mendaftar. Bikin surat motivasi –dibantu banyak sekali oleh Wan Ulfa dan Wisnu, dua kawan baik yang sekarang sedang sama-sama kuliah master di Inggris. CV juga saya perbarui, maklum terakhir bikin CV waktu melamar di Tirto.id, dua tahun lalu. Setelah dianggap beres, saya kirim ke panitia. Eh ternyata diterima.

Dari Indonesia, ada lima orang yang berangkat. Tiga di antaranya sudah saling kenal dengan baik: saya, Windu, dan Yandri. Dua lainnya adalah Reja Dalimunthe dan Priscilla Siregar. Kami berangkat beda waktu dan beda maskapai.

Saya dan Windu naik Turkish Air, berangkat tanggal 14 Juni. Iya, itu pas malam takbir. Sedih? Ndak juga sih. Cuma kebayang aja suasana malam takbiran di Jambi –tahun ini seharusnya saya mudik ke kampung Rani. Sampai di Istanbul pukul 4 pagi, langsung telepon Rani dan Mamak. Mohon maaf lahir batinan, dan cerita ngalor ngidul. Di Istanbul kami transit empat jam. Dari Istanbul ke Tallin, ibu kota sekaligus kota terbesar di Estonia, hanya ditempuh dalam waktu tiga jam.

Tallin adalah kota yang menyenangkan. Ia seluas 152 kilometer persegi, sedikit lebih luas ketimbang Tangerang Selatan, dan serupa dengan Sabang di Aceh, namun dengan penduduk sedikit: 450 ribu jiwa. Tallin punya satu area khusus berisi bangunan-bangunan dari abad pertengahan: Old Town. Kami suka menyebutnya Kota Tua.

Di Kota Tua, bangunan-bangunan tua dialihfungsikan tanpa mengubah bentuk. Ada yang dijadikan restoran bertema abad pertengahan. Ada pula yang jadi museum. Beberapa jadi toko buku maupun toko suvenir. Pusat keramaian Tallin ada di sini.

Di luar Kota Tua, ada keramaian yang berdenyut dengan caranya sendiri. Di Telliskivi yang digadang jadi kawasan kreatif Tallin, banyak anak muda berkumpul di sana. Saya datang di hari pertama, bareng Windu dan Berit Renser, perempuan asli Tallin kawan lama Windu yang pernah bermukim di Yogyakarta dan Solo.

Di Telliskivi ada banyak kantor perusahaan rintisan, kantor LSM, gudang yang disulap jadi toko barang antik, depo yang jadi kafe, juga gerbong kereta api yang jadi restoran. Di ruang terbuka, orang-orang merokok, main tenis meja, minum bir. Di speaker terdengar Jimi Hendrix, Led Zeppelin, hingga John Mayer.

Di sebuah kafe yang dulunya adalah gudang tua, kami berhenti. “Crosstown Traffic” menarik kami ke sana. Kami memutuskan duduk di luar. Di Tallin, musim panas kadang serupa mitos yang cuma diperbincangkan tapi tak diketahui kebenarannya. Angin kencang, suhu jadi 9 derajat celcius. Hangat, kata Berit. Tapi saya dan Windu yang mahluk tropis, sudah mengencangkan jaket.

Di konter pemesanan, saya pesan cokelat hangat, cocok buat cuaca yang dingin. Penjajanya, seorang perempuan muda dengan rambut semi mohawk warna-warni, bingung.

“Bir rasa cokelat ya?”

Saya menggeleng.

“Oooh, liquor rasa cokelat?”

“Bukan, cokelat hangat biasa.”

“Oooh, I see.”

Lalu saya tanya ke Berit, kawan Windu yang baik hati sudah jadi pemandu kami, apakah pesan cokelat hangat di bar bukan hal yang umum. Ia menggeleng sambil tertawa.

“Apalagi musim panas begini, mana ada yang pesan cokelat hangat.”

Tallin memberi impresi awal yang lumayan kuat. Ia tipikal kota maju, dengan berbagai pilihan transportasi umum dan tempat jalan kaki yang luas. Namun ia juga sepi, dengan aura Groboganesque yang kental. Lengkap dengan bangunan-bangunan lawas tak terawat, kaca pecah, vandal, juga mural di sana- sini (sesuatu yang menyenangkan mata)

Di hari pertama, kami jalan kaki 13 kilometer. Rasanya ini rekor pribadi –di luar acara seperti Gerak Jalan Tanggul Jember sejauh 33 kilometer. Sampai di apartemen, rasanya kayak digebukin Babinsa.

Ini baru cerita awal. Nanti –kalau tak malas– akan ada cerita lanjutannya. Soal bagaimana mengajukan visa, juga kehidupan di Estonia.

 

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

5 KOMENTAR

    • Tipnya sederhana kok. Kayak mengenalkan diri kita, terus “jualan” pencapaian kita apa saja, dan kenapa kita orang yang cocok ikut program/dapat beasiswa itu. Aku juga belajar dari kawan-kawanku itu. Hehe. Tipsnya ya begitu. Mau cari beasiswa ya, Yenni?

  1. Sebagai penduduk Grobogan (walau urip nang Yugjo), saya ingin sedikit mengkoreksi kalimat “Namun ia juga sepi, dengan aura Groboganesque yang kental..”, agar diketahui kemarin waktu lebaran, jalan depan rumah saya macet (padahal bukan jalan protokol), karena antrean kendaraan bangjo di jalan Purwodadi – Blora sampai berkilo-kilo meter.

    Di sana, di kota kecamatan kecil di timur Purwodadi itu, sudah ada Indomaret, Alfamart, dan Pom Bensin sejak lebih dari sepuluh tahun lalu,

    Pabrik Pungkook dan JAPFA juga sudah ada. Mereka meramaikan dan memperbanyak debu di teras kami, sampai ibu saya jengah untuk terus-menerus menyapunya. Sepeda motor dari jumlah pegawai mereka berkontribusi besar dalam mendebui tiap hari.

    Pungkook saat ini memiliki karyawan sejumlah 5000an, dan efeknya sebesar mendebui rumah kami, memunculkan kos-kosan, penjualan motor meningkat (pun dengan angka kecelakaan). Dan kabarnya, mereka akan terus menambah karyawan sampai 10.000 lagi ke depannya.

    Begitu ya, Mas. Agar tulisan berjudul Warga Grobogan Menggugat ini dijadikan periksa.. :)))

    • Hahahahaha, makasih koreksinya, Mas. Aku pernah sekali berkunjung ke Grobogan, setahun lalu. Ada kawanku yang kerja di JAPFA. Kami naik motor dari Semarang. Menurutku sih, Grobogan tetap kental aura kota kecil di Jawa (salah satu tipe kota idamanku, kayak Lumajang atau Bondowoso). Saat ini Grobogan rame karena pendatang ya mas?

      • Ya Mas saya sudah mbaca tulisan tentang kisah semalam kulineran di Semarang itu hehehe.

        Kalau jadi ramai sekarang ini, sebenarnya mayoritas bukan karena pendatang. Justru, karena penduduk asli yang bertahun gantungkan hidup di kota lain, dengan mulai munculnya pabrik-pabrik dari perusahaan multinasional, mereka pulang untuk kerja di kampung asal, Mas. Ya cerita yang bagus sih, walau tentu ada konsekuensi seperti kecamatan saya yang ramainya justru di luar perkiraan,

        Tapi, itu sementara ini hanya terjadi di Wirosari (kampung saya, yang kedatangan Pungkook asal Korea). Secara keseluruhan Grobogan tetap kota kecil yang nyaman dan cocok untuk pulang setelah nanti memasuki usia pensiun.

        Masih ndeso dan ngangeni, apalagi ditambah seluruh kenangan bersama de’e yang sekarang jadi mbok wedok wqwq~

TINGGALKAN KOMENTAR