Minggu lalu kantor saya mengadakan rekreasi ke Bali. Yang ikut sekitar 110 orang. Banyak ya? Kantor kami memang mengalami penambahan orang dalam jumlah besar, setidaknya setahun terakhir. Waktu baru dimulai di awal 2016 silam, hanya ada sekitar 40-50 orang yang terbagi di dua kantor, Jakarta dan Yogyakarta.

Bukan itu yang ingin saya ceritakan, sih. Melainkan soal Bali.

Bali selalu punya tempat istimewa di hati saya. Ini adalah kota idaman saya sejak dulu kala. Waktu Mamak belum disetujui menikah dengan Ayah, kakak perempuan Mamak yang tinggal di Bali memboyongnya selama dua bulan lebih. Menanti kelunakan hati Kaik dan Nenek untuk memberikan restu. Ketika akhirnya Ayah dan Mamak menikah lalu punya anak, mereka sering liburan ke Bali.

Bali akhir 1980
Saya yang mencekik, tentu saja. Kuta, 1989.
Naik feri menuju Bali, 1989.
Pantai Kuta, 1989. Bareng Mamak, Kiki, Tante Syemim, dan tiga orang sepupu.

Waktu SMA, saya sudah punya bayangan akan tinggal di Bali. Saya akan kuliah di jurusan Pariwisata, Universitas Udayana. Untuk biaya hidup, saya akan jadi pelayan atau main musik di kafe-kafe. Dan tentu saja sebagai anak muda cabul, saya membayangkan petualang seks yang gila-gilaan. Goblok memang.

Ternyata lulus SMA, saya tak jadi ke Bali. Ada beberapa alasan, sih. Pertama, saya sudah keterima di jurusan Sastra Inggris Universitas Jember lewat jalur PMDK. Karena saya orangnya pemalas, saya ogah belajar lagi untuk SPMB. Jadinya ambil yang PMDK saja. Alasan lain, tak perlu diceritakan di sini lah. Hehehe.

Namun karena jarak Jember-Bali yang dekat, saya sering liburan ke sana bareng kawan-kawan kuliah. Naik motor, tentu saja. Menyenangkan sekali. Salah satu yang paling saya ingat adalah menonton Soundrenaline di GWK, 2009 lalu. Di sana, saya pertama kalinya menonton The S.I.G.I.T, juga Seringai, The Upstairs, dan Koil. Semuanya band favorit. Saya juga bertemu dengan Soleh Solihun, yang kala itu masih jadi wartawan Rolling Stone Indonesia.

Omong-omong, outing di Bali kemarin sangat menyenangkan. Saya keliling cari makanan enak, bercanda kayak orang goblok bareng teman-teman, mandi di kolam tengah malam biar kayak Hotman Paris, hingga menyaksikan kelakuan tolol kawan-kawan yang lagi mabuk: mulai dari berdebat soal Habermas dan Nietzsche, pura-pura surfing, menebak chord lagu, hingga muntah dan tidur di pinggir pantai.

Pada akhirnya, saya belum kesampaian tinggal di Bali. Namun setiap ke Bali, segala mimpi-mimpi lawas itu selalu menyeruak sih. Mungkin sekarang belum bisa, tapi siapa tahu beberapa belas tahun kemudian akan kesampaian.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. Kalimat “mandi di kolam tengah malam biar kayak Hotman Paris” akan mencapai klimaksnya jika Hotman Paris diganti dengan Caca Handika, Mz. Wqwqwq.

    Jika Mas Nuran masih bermimpi untuk bisa tinggal di kota impiannya, saya harusnya sangat bersyukur dikabulkan oleh Tuhan untuk hidup di Yogya yang telah saya obsesikan sejak SMA. Hehe.

    Cuma, terkadang, sesuatu akan nampak indah jika jauh dan hanya bisa sesekali tersentuh. Maka, mungkin Tuhan sedang membuat Bali seperti itu untuk Mas Nuran.

TINGGALKAN KOMENTAR