Naskah ini adalah terjemahan bebas dari naskah pertama David Grann untuk The New Yorker, “An Aging Bank Robber’s Last Heist”, yang kemudian diubah jadi “The Old Man and the Gun”. Naskah ini lantas difilmkan, dengan bintang utama Robert Redford yang mempesona itu. Dirilis pada September 2018, konon ini bakal jadi film terakhirnya. Redford memilih pensiun dengan mengerjakan film tentang perampokan terakhir seorang bandit tua. Untuk menunjang suasana tulisan, coba baca sambil dengar lagu yang saya bagi di antar bagian. Lagu-lagu itu diambil dari playlist ini.

Selamat membaca.

TEPAT sebelum Forrest Tucker berusia 79, dia bekerja untuk terakhir kalinya. Meski masih berpenampilan menarik, dengan bola mata biru nan jernih dan rambut putih yang disisir rapi ke belakang, dia mulai sakit-sakitan, termasuk darah tinggi dan borok kulit yang perih. Dia sudah empat kali operasi jantung, dan sang istri memintanya untuk tetap tinggal di rumah mereka, di Pantai Pompano, Florida: sebuah rumah berwarna peach di pinggir sebuah lapangan kursus golf yang mereka beli untuk hunian masa pensiun. Ada tempat makan dekat rumah, dengan USD15,50 mereka bisa menyantap iga panggang kualitas yahud dan berdansa dengan para manula lain. Di dekat rumah mereka bahkan ada sebuah danau tempat Tucker bisa duduk di pinggir dan berlatih saksofon.

Namun di musim semi 1999, saat para tetangganya berlatih golf atau bermain dengan cucu, Tucker berkendara ke Bank Republic Security di kawasan Jupiter, sekitar 80 kilometer dari rumahnya. Tucker, yang selalu membanggakan penampilannya, berpakaian serba putih: celana putih dengan lipatan di bagian bawah, kemeja olahraga putih, sepatu suede putih, dan dasi lebar (ascot) putih.

Dia berhenti sejenak di depan ATM dan menarik dasi lebarnya ke atas, menutupi wajah, mirip bandit. Lalu dia merogoh pistol Army Colt .45 tua miliknya dari tas kanvas, dan menyerbu ke dalam bank. Dia mendatangi teller pertama dan bilang, “Taruh uangmu di konter. Semuanya.”

Tucker mengacungkan pistolnya agar semua orang bisa melihatnya. Teller meletakkan beberapa gepok uang pecahan 5 dan 20 dolar di konter, dan Tucker memeriksa apakah ada jebakan mercon pewarna. Dia mengecek jam, berpaling ke teller berikutnya dan bilang, “Ke sini. Kamu juga.”

Kemudian dia mengumpulkan gepokan tebal —lebih dari lima ribu dolar— dan bergegas menuju pintu. Jelang keluar, Tucker berpaling ke belakang dan menengok dua teller itu. “Terima kasih,” katanya. “Terima kasih.”

Dia kemudian menyetir ke lahan parkir dekat bank, tempat ia menyiapkan mobil pelarian, sebuah Grand Am merah yang tak bisa dilacak. Setelah melap mobil curian yang dipakainya merampok, Tucker melempar bawaannya ke dalam Grand Am. Barang bawannya antara lain pistol Magnum .357, senapan otomatis .30 yang barelnya sudah dipotong lebih pendek, dua topi nilon warna hitam, sebuah sabuk pistol, sekaleng Mace (merek gas air mata), sepasang borgol merek Smith & Wesson, dua gulung lakban hitam, sebuah lencana polisi, lima baterai AAA, penyadap radio polisi, pemotong kaca, sarung tangan, dan topi pancing. Juga ada botol kecil berisi obat untuk jantungnya. Sepertinya tak ada yang mengawasinya. Dia pulang, dan tampak lolos dengan aman.a

Setelah berhenti sebentar untuk menghitung uang, dia kembali ke meluncur pulang. Saat mendekati tempat kursus golf, ia melihat sebuah mobil yang tak ia kenal membuntutinya. Dia belok ke jalan lain, meyakinkan dirinya aman. Mobil itu turut berbelok. Tucker kemudian melihat mobil polisi di belakangnya. Dia menginjak pedal gas sedalam mungkin, berusaha melarikan diri dari mereka, belok kiri, kemudian kanan, kanan, dan kiri. Dia melewati Gereja North Pompano Baptist dan Rumah Duka Kraeer, melewati beberapa rumah pantai berlantai satu bercat merah muda dengan speedboat di depan rumah mereka, hingga akhirnya dia bertemu jalan buntu. Ketika dia coba putar arah, mobil polisi sudah membarikade jalan. Salah satu petugas, Kapten James Chinn, meraih shotgun. Ada ruang sempit antara mobil Chinn dan sebaris pagar kayu. Tucker merundukkan badannya dan mengebut ke ruang itu. Chinn, yang menjalani karier sebagai detektif nyaris dua dekade, kelak bilang, aku tak pernah melihat hal seperti itu: sosok berambut putih berpacu ke arahnya dengan tersenyum, seolah ia menikmati betul adegan ini. Kemudian, seiring mobil yang tergelincir di turap, Tucker kehilangan kendali dan menabrak pohon palem. Kantong udara mengembang dan membuatnya tak bisa bergerak dari kursinya.

Setelah sadar dari keterpukauannya, para polisi sadar orang yang baru saja melakukan aksi ini bukan hanya berusia 78 tahun —ia tampak seperti baru saja datang dari makan malam, kata Chinn— tapi juga salah satu perampok bersenjata paling sohor sejak abad 20. Selama karier yang merentang lebih dari enam dekade, lelaki itu kemungkinan adalah seniman meloloskan diri terbaik dari generasinya, seorang konsorsionis —ahli membengkokkan tubuh— yang berhasil kabur dari setiap penjara yang dimasukinya.

 

BEBERAPA waktu lalu, aku bertemu Tucker di Fort Worth, Texas, tempat ia ditahan di rumah sakit penjara setelah menyatakan bersalah atas satu dakwaan perampokan dan diganjar hukuman penjara 13 tahun. Rumah sakit ini, sebuah bangunan tua dengan bata kuning dan atap keramik merah, berada di puncak bukit dan memunggungi jalan utama, dikelilingi oleh penjaga bersenjata dan kawat berduri. Aku diberi catatan yang bertuliskan tidak boleh ada “senjata”, “amunisi”, atau “alat pemotong dari metal”, lalu dikawal melewati beberapa pintu —tiap pintu di belakang ditutup sebelum pintu berikutnya dibuka— hingga aku tiba di ruang tunggu yang kosong.

Tak lama, seorang lelaki muncul di atas kursi roda yang didorong oleh seorang penjaga. Ia mengenakan pakaian tahanan berwarna cokelat pudar dan jaket hijau dengan kolar digelung di leher. Badannya tampak bungkuk, seolah ia hanya punya satu sisa tarikan nafas. Ketika bangkit dari kursi roda, ia bilang, “Senang bertemu denganmu. Aku Forrest Tucker.”

Suaranya lembut, dengan aksen Selatan yang halus. Setelah ia mengulurkan tangan, ia berjalan pelan dengan bantuan kruk ke arah sebuah meja kayu. “Aku minta maaf kita harus ketemu di sini,” katanya, menunggu aku duduk duluan.

Kapten Chinn bilang padaku ia belum pernah bertemu dengan kriminal yang sopan dan baik sebelumnya. “Kalau kamu bertemu Tucker, titip salam ya.” Bahkan salah satu juri yang memutusnya bersalah bilang, “Kamu harus akui, kalau Tucker memang unik.”

“Jadi apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Tucker.

“Aku ada di dalam penjara nyaris seumur hidupku, kecuali waktu aku kabur. Aku lahir pada 1920, dan pertama kali dipenjara di usia 15 tahun. Aku sekarang berusia 81, dan masih dipenjara, tapi aku berhasil kabur 18 kali dan 12 kali gagal kabur. Ada banyak kesempatan aku merencanakan pelarian, tapi itu tak penting.”

Ketika kami duduk di pojokan bawah jendela yang bisa melongok ke lapangan penjara, rasanya sukar membayangkan bahwa hidup pria ini diisi oleh poster-poster bertuliskan Wanted dan pelarian tengah malam. Jemarinya berkerut seperti bambu karena usia tua, ia memakai dua lensa kontak yang berbeda —satu untuk pandangan jarak jauh, satu untuk jarak dekat.

“Apa yang kumaksud sebagai pelarian yang sukses adalah melarikan diri dari penjara,” lanjutnya, seraya memicingkan mata ke arah jendela. “Mungkin mereka pada akhirnya berhasil menangkapku, tapi setidaknya aku berhasil kabur beberapa menit.”

Dia menunjuk lengannya yang tertembak ketika mencoba kabur. “Masih ada sisa peluru di sini,” ujarnya. “Para polisi menembak ke arahku dan kena tiga kali, di bahu kanan kiri dengan senapan M16, dan pistol di kaki.”

Suaranya terdengar kering, aku menawarkan minuman dari mesin. Ia mengikutiku dan melihat jejeran minuman dari kaca, tanpa menyentuhnya. Dia pilih Dr Pepper. “Itu yang rasanya seperti cherry soda kan?”

Dia tampak senang. Ketika aku kasih minumannya, ia melongok ke arah jejeran permen. Aku tanya apa ia mau yang lain. “Kalau gak merepotkan,” katanya, “aku mau Mounds.”

Setelah usai makan dan minum, dia mulai mengisahkan apa yang disebutnya “kisah nyata Forrest Tucker.” Dia bicara berjam-jam, dan ketika lelah ia menawarkan untuk melanjutkan besok. Selama percakapan kami, yang berlangsung selama beberapa hari, kami selalu duduk di pojokan dekat jendela, dan setelah beberapa saat ia akan terbatuk dan aku akan menawarinya minuman. Setiap kali, ia selalu mengikutiku ke arah mesin penjual minum, dan penjaga mengawasinya dari kejauhan. Pada momen terakhir, aku menjatuhkan sejumlah uang, aku sadar bola mata Tucker mengembara ke mana-mana —tembok, jendela, penjaga, pagar, kawat berduri. Menurutku, Tucker, sang seniman melarikan diri par excellence itu, telah menggunakan pertemuan kami untuk survei agar kelak bisa kabur.

 

AKU masih 15 tahun ketika pertama kali kabur dari penjara,” kenang Tucker. “Di usia 15, kamu amat gesit.”

Saat itu musim panas 1936, dan ia dipenjara karena mencuri mobil di Stuart, Florida, sebuah kota kecil yang dilewati aliran Sungai St. Lucie. Kota ini menderita saat era Depresi Besar. Tucker bilang ke polisi kalau dia mencuri “hanya untuk senang-senang dan mencari ketegangan.” Tapi ketika dia sudah dipenjara, dia panik. Ketika seorang sipir melepaskan borgol, Tucker melesat kabur. Beberapa hari kemudian, seorang sipir menemukannya dengan pakaian oranye khas narapidana, sedang makan sepotong buah.

“Itu pelarian perdana,” kata Tucker. “Ya seperti itu.”

Sheriff kemudian memutuskan memindahnya ke sekolah perbaikan perilaku. Selama masa singkat itu, Tucker menyelundupkan setengah lusin gergaji melalui jendela sel ke kelompok remaja pria yang ia temui di dalam. “Mereka belum berhasil kabur dan masih punya gergaji,” katanya. Malam itu, setelah memotong sebuah jeruji besir, ia menyelinap, membantu dua bocah lelaki lain kabur melalui celah sempit

Tak seperti tahanan lain, Tucker amat kenal area itu. Saat masih bocah, ia menghabiskan cukup banyak waktu di sepanjang aliran sungai. Di sungai itu pula, satu setengah jam kemudian, polisi menemukan Tucker dan seorang kawan lain bersembunyi di bawah air dan hanya menyisakan hidung di atas permukaan air.

Keesokan harinya Stuart Daily News menjelaskan detail pelariannya dengan judul huruf besar “TRIO ESCAPE BY SAWING BARS OF CELL LAST NIGHT… SUPPLIED WITH HACK-SAWS, COLD CHISELS AND FILES BY BOY.”

“Itu adalah pelarian nomor 2,” kata Tucker. “Pelarian yang singkat.”

Dari novel-novel picisan, dia mengenal bandit-bandit yang terpaksa masuk ke dunia kriminal karena ketidakadilkan. Sama seperti itu pula, Tucker bilang bahwa “Legenda Forrest Tucker” dimulai pada sebuah pagi ketika dia diusir hanya karena pengutilan kecil. Kisah itu, yang kelak ia ulangi lagi bahkan di usia yang masih anak-anak, tersebar ke seluruh penjuru kota. Seiring waktu, detailnya makin kabur dan pencuriannya jadi terasa lebih remeh. Morris Walton, yang sering bermain bareng Tucker saat mereka masih bocah, bilang, “Seingatku dia masuk penjara karena mencuri sepeda dan mencoba kabur. Jika Tucker jadi jahat, itu karena dia adalah korban sistem.”

Apa yang Walton ketahui tentang Tucker menambah kuat kesan itu. Ayah Tucker adalah operator alat berat yang minggat saat usia Tucker enam tahun. Saat ibunya berjuang kerja serabutan di Miami, Tucker dikirim untuk tinggal bareng neneknya, seorang pengawas lalu lintas air di Stuart. Di sana, Tucker membuat kano dan perahu layar dari rongsokan metal dan kayu yang ia pungut di sepanjang pinggiran sungai. Dia juga belajar saksofon dan klarinet secara autodidak.

“Saat itu aku gak butuh ayah yang memerintahku,” kata Tucker.

Seiring reputasi kecerdikannya yang makin tumbuh, begitu pula catatan kenakalannya. Saat usianya 16, ia sudah dikenai dakwaan “menerobos dan masuk tanpa izin” dan “pencurian kecil”. Setelah dia kabur dari sekolah perbaikan kepribadian dan pergi ke Georgia, dia dihukum menjadi chain gang (para tahanan yang dikenai hukuman bekerja fisik seperti membangun jembatan, jalan, atau membersihkan lahan). Seperti para tahanan baru lain, dia dibawa ke pandai besi. Di sana, pergelangan kakinya digelung oleh kalung dan rantai besi. Kelak, borgol besi itu secara bertahap memamah kulitnya, kondisi yang dikenal sebagai shackle poisoning.

“Para penjaga akan memberimu waktu tiga hari agar jarimu kapalan,” kenang Tucker. “Setelah itu, mandor akan menghukummu, memukulmu dengan tongkat atau kepalan tinju. Dan jika kamu tak kerja cukup keras, penjaga akan menyeretmu ke toilet, mengikat tanganmu di belakang, dan menyemprot wajahmu dengan penyemprot air bertekanan tinggi hingga kamu tersedak dan tak bisa bernafas.”

Meski Tucker dibebaskan setelah enam bulan, dia kembali dihukum karena mencuri mobil lagi, dan dihukum sepuluh tahun. Saat itu, “kita melihat orang yang sudah benar-benar dibuang oleh masyarakat,” tulis pengacara Tucker di dengar pendapat pengadilan. “Dicap sebagai kriminil di usia 17 tahun dan dipaksa mengikuti proses hukum yang tak adil, Forrest Tucker menjadi pemuda yang marah. Tucker sendiri bilang, “ya sudah kadung seperti ini, mau gimana lagi.”

Dalam foto yang diambil saat ia ditahan di usia 24, rambutnya dipotong pendek dan dia mengenakan kaus oblong putih; lengan yang dulu kurus telah jadi berotot. Matanya tajam. Orang-orang yang mengenal Tucker bilang bahwa ia amat karismatik —para gadis berkumpul di sekitarnya— tapi mereka juga menyadari adanya kemarahan yang tumbuh dalam diri Tucker. “Kupikir, Tucker amat putus asa ingin menunjukkan bahwa dia bukan orang biasa,” ujar salah satu tolannya.

Pada awalnya, Tucker bekerja jadi pemain saksofon dalam sebuah band di Miami, dan tampaknya dia sudah mengubur ambisi ingin menjadi Glenn Miller berikutnya. Tapi pekerjaannya membosankan dan tak memberi apa-apa, dan setelah pernikahan singkat yang gagal, Tucker gantung saksofon dan mengangkat pistol.

DALAM imajinasi Amerika, para bandit adalah subyek dari romantisme —seorang lelaki jahat yang “baik”, dia biasanya ahli kabur, mahir menembak, dan disukai oleh para perempuan. Pada 1915, seorang polisi bertanya pada seorang perampok kereta bernama Frank Ryan, apa alasanmu merampok?

“Karena berkawan dengan orang yang salah, dan karena novel picisan. Jesse James adalah pahlawan favoritku,” jawabnya.

Ketika Tucker tumbuh dewasa di era Depresi Besar, daya tarik perampok bank mencapai titik puncak, apalagi didorong oleh kemarahan besar yang tersebar luas karena kondisi ekonomi yang buruk. Saat FBI menembak mati John Dillinger, orang-orang datang ke TKP, mengelap darahnya dengan baju mereka. Hollywood setidaknya bikin 10 film tentang kehidupan Dilinger. Salah satu film itu menjual kalimat, “Kisah Dilinger Ditulis dengan Peluru, Darah, dan Perempuan Blonde!”

Karena perampokan bersenjata butuh sandera, pekerjaan itu membutuhkan sifat-sifat khusus: nekat, congkak, dan ceroboh. Pada saat bersamaan, sebagian besar perampok paham bahwa masyarakat yang merasa terancam, jelas menuntut pemberantasan perampok, hidup atau mati. “Mereka bakal menangkapku suatu hari,” Pretty Boy Floyd pernah bilang suatu kali. “Cepat atau lambat, aku bakal mati tertembak. Akhir hidupku bakal seperti itu.”

Benar memang, saat Tucker memulai karier sebagai bandit di akhir 1940-an, sebagian besar bandit legendaris sudah mati ditembak. Toh tetap saja, Tucker meniru gaya mereka, berdandan dengan setelan jas bergaris dan memakai sepatu dua warna (two-tones), dan dia akan berdiri di depan kaca, menodongkan pistol ke pantulan dirinya. Akhirnya, pada 22 September 1950, dengan wajah ditutup sapu tangan dan pistol yang ditenteng dengan gaya Jesse James, Tucker masuk ke sebuah bank di Miami dan berhasil kabur dengan membawa 1.278 dolar. Beberapa hari kemudian, dia datang ke tempat yang sama, kali ini menggondol brankas.  Dia ditangkap saat berusaha membuka brankas itu dengan tabung pemadam api di pinggir jalan.

Karier kriminalnya tampak akan berakhir lebih cepat ketimbang perampok bank lain. Namun di penjara, Tucker memutuskan akan menjadi lebih dari sekadar bandit bersenjata. “Gak peduli mereka menghukum aku lima tahun, sepuluh tahun, atau seumur hidup,” katanya. “Aku adalah seniman melarikan diri.”

Di penjara, ia mencari apa yang disebut sebagai “titik lemah”. Sehari usai Natal, setelah seminggu survei, dia mulai mengerang kesakitan. Petugas medis penjara buru-buru membawanya ke rumah sakit, dokter memotong usus buntunya. “Harga yang murah untuk kebebasan,” kata Tucker. Pada masa pemulihan, masih diborgol pada ranjang, dia berusaha membuka borgol. Dia belajar autodidak bagaimana membuka kunci dengan alat apapun –bolpoin, paper clip, seutas kawat, pemotong kuku, watch spring— dan beberapa menit kemudian, dia sudah keluar, tanpa diketahui.

Dia berhasil kabur ke California, melakukan beberapa perampokan beruntun, dengan gesit pergi ke teller, menodongkan pistol, dan bermaklumat, “I mean business!” Dia mengenakan setelan kotak-kotan cerah, dan kabur dengan mobil flamboyan yang punya pipa di bagian sisi. Bahkan dia bicara meniru tokoh-tokoh di novel picisan.

“Ini perampokan bersenjata, manisku,” katanya suatu ketika, seperti ditirukan seorang saksi. “Aku punya pistol. Kamu diam dan tenang ya agar kamu gak terluka.”

Berharap hasil rampokannya meningkat, Tucker mulai mencari rekan. “Aku tidak mencari rekan yang gila atau orang yang tidak setia,” katanya. “Aku tipe perampok lawas.” Pada akhirnya, dia bertemu dengan mantan napi bernama Richard Bellew, seorang pria tinggi, tampan, dengan I.Q tinggi dan rambut hitam berombak. Seperti Tucker, Bellew memacak dirinya sebagai bandit dari era 1930-an, dan dia punya nama panggung Jet Blanca. Namun Tucker punya alasan lain memilihnya, “Dia selalu membiarkanku menghitung hasil rampokan.”

Mereka mulai merampok bank, satu demi satu. Dalam salah satu perampokan, beberapa orang saksi bilang mereka melihat jejeran jas yang digantung di bagian belakang mobil pelarian. Perampokan bank mereka, yang berlangsung selama dua tahun, mendominasi headline berita lokal, bahkan seringkali mengalahkan liputan tentang Pemilihan Presiden 1952 dan hearing McCarthy.

Tucker dan Bellew digambarkan sebagai “dua pria bersenjata” yang “meneror” “korban” mereka, tapi juga “seniman perampokan bank” yang “amat rapi” dan “amat lihai melucuti” uang dari teller, dan hanya meninggalkan “kesan sebagai bandit yang kompeten…dan satu mobil pelarian.”

Pada 20 Maret 1953, lebih dari dua tahun usai pelarian Tucker dari rumah sakit, agen-agen FBI mengepungnya ketika dia mengeluarkan uang dari brankas di San Francisco. Kemudian mereka menggeledah tempat yang ditulis Tucker sebagai kediamannya. Di sana, di sebuah apartemen luas di San Mateo, para agen FBI bertemu seorang perempuan muda berambut blonde yang mengaku tak pernah mendengar nama Forrest Tucker. Perempuan ini menikah dengan seorang penulis lagu yang kaya raya, yang melaju ke pusat kota tiap hari, dan mereka baru saja pindah ke apartemen yang lebih luas demi anak lelaki mereka yang berusia lima bulan. Nama suaminya adalah Richard Bellew. Namun, ketika polisi menunjukkan foto seorang perampok bank dan buronan lama bernama Forrest Tucker, perempuan ini meledak dalam tangis.

“Aku gak percaya,” katanya. “Dia pria yang amat baik, amat bertanggung jawab.”

Dia mengingat-ingat suaminya pulang tiap malam dan bermain dengan anak mereka, yang diberi nama Rick Bellew, Jr. “Bagaimana nasib anak ini?” tanyanya. “Siapa namanya dong?”

Bersambung…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR