Lisboa Patisserie, 22 Desember 2019

96

Aku bangun pagi ini dengan linu di sekujur tubuh. Sisa demam sejak dua hari lalu. Beberapa hari ini, London hujan terus. Tahu begitu, aku malah sok muda dan tak jeri keluar tanpa payung.

Lihatlah akibatnya sekarang, Pak Tua. Batuk, pilek, dan demam. Terima sajalah kenyatannya: tulang dan badanmu sudah tak lagi leluasa diajak begajulan.

Seharusnya kemarin saya ikut beberapa kawan nyekar ke makam Karl Marx. Terpaksa saya urung ikut.

Hari ini aku harusnya bisa menyantap lontong sayur yang disiapkan Mbak Vina dan suaminya, bareng Mbak Shinta, Mas Eric, dan beberapa kawan lain. Terpaksa batal pula. Padahal aku sudah janji mau bawa dendeng batokok bikinan sendiri.

Bangun siang, aku paksa untuk makan: sisa ayam rica dua hari lalu. Masih enak. Aku nambah nasi, pertanda baik tubuh yang berusaha pulih.

Lalu minum obat lagi. Bangun jam 3 sore, dan merasa jauh lebih enak, walau masih ada sisa pilek dan batuk. Aku paksa bangun buat nonton Manchester United. Jancuk, malah dihajar 2-0, oleh tim juru kunci. Mungkin ini waktunya MU gabung Liga Shopee bareng AC Milan?

Tidur lagi sebentar.

Waktu bangun lagi, aku sadar: tubuh gak boleh dimanja. Akhirnya mandi, lalu keluar menuju Lisboa Patisserie di Ladbroke Groove, tak jauh dari rumah berpintu biru di Notting Hill milik William Thacker.

Tentu saja aku sudah kehabisan pastel de nata, alias egg custard ala Portugal yang kondang itu. Di toko kue lawas yang usianya sudah hampir tiga dekade ini, egg custardnya biasanya sudah ludes jam 1-2 siang.

Aku memesan dua kue –satu adonan natas dengan rasa yang amat legit, satu lagi pastry dengan taburan bubuk kayu manis dan kacang almon– dan satu kopi susu. Minuman ini penting, sebab rasanya yang sedikit pahit bisa menetralkan lidah –aku tak terlalu suka kue manis.

Aku lalu melanjutkan baca buku Michael Booth yang sempat tertunda beberapa lama. Selama di sini aku sudah khatam baca dua buku, kejadian yang amat jarang. Seingatku, tahun ini aku baru baca 10 atau 11 buku. Yang paling berkesan adalah Orang-Orang Oetimu yang kubaca habis dalam satu hari saja, saking bagusnya. Kalau buku Booth bisa kutandaskan sebelum 2019 habis, ini bakal jadi catatan baik agar tahun depan bisa menuntaskan lebih banyak buku.

Di sampingku ada bapak tua sedang khusyuk baca selebaran gereja, Sunday Message. Di sebelahnya lagi ada dua perempuan Portugal yang pesan seporsi meringue cake dan dua kopi susu. Di meja paling ujung ada dua pria beruban yang sibuk mencorat-coret entah apa di selembar kertas, mengingatkanku pada gaya Om Ammar dan Mbah Adam ketika bikin kolom buat menebak angka togel.

Hari ini 22 Desember 2019. Selepas 27, kata seorang pujangga, hidup hanya sekadar menunda kekalahan. Hari ini, pas sudah lima tahun sejak aku menjalani fase itu. Di luar dugaan, mengetahui bahwa kita hidup hanya sekadar menunda kekalahan dan karenanya mari bersuka ria saja, cukup membantu menjalani hidup dengan tenang dan santai.

Saya menandaskan kue almond seiring mbak pramusaji dengan sepatu Karrimor hitam-biru mengepel lantai. Tadi dia hampir kepeleset, dan kawannya menertawai tingkahnya.

Sejam lagi, Lisboa akan tutup. Saya juga akan beranjak, menutup buku Booth yang sudah saya lahap hingga halaman 245 (ayo, delapan puluhan halaman lagi!) dan pergi entah ke mana. Saya belum memutuskan. Mungkin ke Camden, mungkin ke Chinatown atau mencari sushi diskon di Japan Centre, atau pulang dan beristirahat agar besok pulih sepenuhnya.

Tugas dan riset saya di London sudah selesai beberapa hari lalu. Saatnya menyelesaikan laporan akhir, menyelesaikan utang editan pada seorang kawan, lalu bersiap pulang ke Indonesia sehari setelah tahun baru.

Di sana aku akan menyambut 2020 seperti biasa.

Atau mungkin waktunya mencari petualangan baru? Entah. Aku belum memutuskan, sama seperti aku yang belum tahu mau ke mana setelah Lisboa menutup tirai.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.