Ketika Robbin Crosby sadar umurnya tak lama lagi, dia bilang ke orang-orang terdekatnya, “Kalau aku mati, jangan nangis. Mendingan kalian pesta saja. Aku sudah menjalani hidup sebaik-baiknya, mimpiku semua sudah kesampaian, bahkan lebih dari itu.”

Robbin, gitaris yang bersama Warren DeMartini menjadi dinamo bagi grup Ratt hingga jadi salah satu band paling populer di kancah rock 80-an, meninggal pada 6 Juni 2002 di usia 42 tahun karena komplikasi kecanduan heroin, AIDS, dan juga pneumonia.

Kisah hidup Robbin menjadi salah satu hikayat favorit saya dari kancah hair metal. Entah ini adalah romantisasi hidup yang dijalani secara ugal-ugalan atau tidak, tapi Robbin mencerminkan sikap pantang menyesal pada apa yang sudah dijalani. Tak ada waktu untuk menengok ke belakang, apalagi sambil menyesal.

Kisah favorit lain adalah tentang Vito Bratta, gitaris White Lion. Vito, yang menurut banyak pundit musik adalah gitaris paling underated dari era 1980-an, memutuskan pensiun dari dunia musik di puncak kejayaannya pada 1991. Alasannya? Merawat ayahnya yang sudah sepuh. Baru pada 2007, dalam wawancaranya bersama Eddie Trunk (ini wawancara pertama yang dia lakukan sejak pensiun), dia bilang punya faktor lain: masalah di pergelangan tangannya.

Mungkin, di atas dua kisah favorit itu, yang paling favorit adalah tentang Izzy Stradlin. Selalu tentang Izzy. Penggemar Guns N Roses tahu kenapa dia keluar dari band paling berbahaya di dunia itu. Dia benci hidup di bawah lampu sorot yang membuat banyak orang terlena. Izzy tak mau jadi bagian itu semua. Cabut dari tur dunia yang dijalani Guns N Roses, Izzy membuat Izzy Stradlin and the Ju Ju Hounds dan main dari satu bar ke bar lain.

If you crawl to get on up
You’re gonna level and get there
The feeling’s gone
And you better get cleaned up
Start thinkin’ of a new thing

Ada satu benang merah dari kisah-kisah itu. Tentang bagaimana rocker era 80-an menyikapi hidup dan kekalahan. Sekarang jam 4 pagi, saya tidak bisa tidur, dan merasa harus menuliskan ini. Saya sempat mencuit di Twitter, tapi rupanya saya tak punya bakat bikin utas. Jadi mending saya tulis di sini saja.

MUNGKIN baru-baru ini saya menyadari kenapa bisa jatuh cinta dengan hair metal. Salah satunya karena saya melihat bagaimana para hair rocker menyikapi hidup dan kekalahan.

Dekade 1990 datang, gerombolan Seattle bermunculan, selera musik berganti, industri mengikuti. Para hair rocker ini tersingkir, tersapu jauh ke bawah karpet merah. Satu dua band mungkin masih bisa aktif dan relevan. Bon Jovi adalah contoh paling sukses. Sisanya, ditinggalkan dan dilupakan. Orang bijak bilang, mati lebih baik ketimbang dilupakan. Sayangnya, itu yang terjadi pada rocker-rocker yang beranjak tua ini.

Sebagai gambaran, Poison, yang albumnya terjual jutaan kopi dan dianggap menjadi representasi paling pas dari era ugal-ugalan itu, terpaksa bermain di arena pasar malam: hanya di depan ratusan penonton, yang juga sama-sama menua dan menjalani hidup biasa-biasa saja.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Brett Michaels, vokalis Poison yang pada masa jayanya menjadi simbol bom seks, mendapati dirinya yang biasa memandu koor bagi belasan ribu orang, harus bernyanyi “Every Rose Has Its Thorn” di hadapan bapak-ibu yang cuek karena sibuk mengawasi anak-anak yang berlarian macam setan kecil.

Mungkin macam luka disayat pisau: ia sembuh tapi lukanya terus membekas. Like a knife that cuts you: the wound heals, but the scar, that scar remains.

Itu Poison, yang pernah menjadi salah satu band terbesar era 1980. Bayangkan bagaimana nasib band semenjana, kelas menengah, macam Bang Tango, King Kobra, atau Pretty Boy Floyd. Dan ada ratusan band seperti ini, buah dari Sunset Strip dreams yang membius itu.

Maka yang sering kita dengar adalah kabar sedih. Kevin DuBrow botak (hair rocker mengalami kematian dua kali, yang pertama adalah ketika rambut menipis dan botak), bangkrut, mati overdosis, dan baru ditemukan enam hari kemudian.

Jani Lane, salah satu lirikus favorit saya, hidup dirisak banyak orang karena popularitas Warrant dan “Cherry Pie”, jatuh ke kubangan alkohol dan susah bangkit. Dia pernah sober, manggung di sana-sini dengan senyumnya yang tetap menawan meski perut lebih mancung ketimbang hidung, walau akhirnya dia kembali jatuh ke kegelapan yang lebih dalam. Dia meninggal keracunan alkohol.

Hidup mereka, sekilas tampak menyedihkan. Tapi, mereka punya keberanian untuk jalan terus meski hidup menggasak mereka tanpa ampun, menendang mereka dari puncak hingga jatuh ke titik paling rendah. Prinsip mereka sepertinya: mati itu mudah, yang susah adalah bertahan hidup. Dan mereka, walau babak belur, memilih tapak yang susah itu.

Maka saya senang melihat para tentara tua ini tetap aktif bermusik dan menjalani. Tesla bikin album baru. Dokken reuni, begitu pula L.A Guns. Steven Adler sehat kembali setelah kena stroke, masih bisa cengengesan sambil main satu set lagu dari Appetite for Destruction. Guns N Roses tur lagi. Dan tentu saja Izzy dengan senang hati meledek reuni dan tur itu. Banyak band memulai karier lagi dari bawah, main di bar-bar kecil bertiket 5-10 dolar. Sewaktu di London kemarin, The Quireboys kerap konser di bar kecil dengan banderol tiket 8 Pounds saja.

“Aku malah senang main di bar kecil dan bau pesing. Tempat macam itu bisa menempa mental,” ujar Joe Leste, vokalis Bang Tango suatu ketika.

Feel the motors winding on
There ain’t no news
If you see those old friends out there
Tell them that I send my love

Maka, ketika hidup blangsak saya selalu memutar lagu “Shuffle It All” yang ditulis oleh Izzy selepas dari Guns N Roses. Bait itu memberikan saya alasan yang lebih cukup untuk terus berjalan, untuk menyikapi kekalahan di sana-sini. Hanya membayangkan kelak saya bisa ngider, singgah di tiap kota, mampir ke kawan-kawan lama, bercengkrama dan menertawakan masa lalu yang penuh kebahagiaan dan juga kesia-siaan.

Dari para hair rocker ini, saya selalu belajar bagaimana menyikapi hidup, apalagi seusai lampu panggung padam. Belajar jadi biasa-biasa saja. Karena toh di dunia ini, sebagian besar dari kita adalah orang kalah. Dan hidup, kata sang maestro Chairil, hanya menunda kekalahan.

Karena kekalahan pasti datang, cepat atau lambat, disadari sekarang atau tujuh belas tahun kemudian, dan yang bisa kita lakukan, adalah menghadapinya. Boleh pakai tangis atau pakai cengiran, entah dengan sadar atau dengan teler.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR