Seperti biasa, lewat 2 dini hari adalah waktunya saya aktif. Maklum, nokturnal. Hari ini saya memakai jam melek untuk menengok Instagram beberapa musisi dari Jember. Sebagian lebih tua ketimbang saya, sebagian lebih muda. Kesamaannya: mereka menyandang predikat “keren” dan “cool” ketika ada di atas panggung. Dan, pada satu titik, saya ingin jadi mereka.

Saya kemudian merefleksikan diri betapa saya uncool, tidak keren. Perasaan itu sebenarnya muncul sejak lama, sejak saya masuk bangku SMA sepertinya. Saat itu perasaan ingin diakui sedang mekar dan saya melakukan banyak hal untuk diakui, untuk dianggap keren. Saya bikin band, juga gabung dengan organisasi pecinta alam –hingga sekarang rasanya jadi anak pecinta alam adalah jalan pintas untuk dianggap keren.

Main musik, naik gunung, juga mengampu mading pecinta alam, membuat saya merasa cool. Layak dikagumi, dan segala omong kosong pengakuan diri lainnya.

Ketika kuliah saya bergabung dengan Tegalboto, persma tingkat Universitas, sesuatu yang saat itu terasa seperti segerombolan liyan. The others. Al ghuroba. Orang asing dan “aneh”. Di kampus saya, Universitas Jember, anak-anak pers mahasiswa, terutama dari Tegalboto, punya reputasi sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa aneh, kritis, berbusa-busa ngomong filsafat, dan karenanya dikagumi, tapi juga dianggap aneh.

Tapi saya tetap merasa ingin jadi anak cool. Siapa sih yang tidak. Saya masih main musik. Bikin band. Beberapa kali manggung. Pernah juga ikut satu dua kali kumpul komunitas band-band indie di Jember.

Kumpul dengan para musisi saat itu bikin saya merasakan sesuatu yang janggal. Perasaan aneh yang merayap dari suatu tempat yang gelap, entah di mana. Saya merasa tidak cocok ada di sini. Saya merasa pakai topeng dan menjadikan diri sebagai sosok artifisial. Seonggok daging yang berusaha keras untuk jadi keren, walau saya tahu: ini bukan saya. Secara obrolan, sebenarnya saya masih nyambung dengan mereka, terutama soal musik. Tapi ada sesuatu yang, sampai sekarang saya juga tak tahu apa itu, bikin saya tidak betah.

Kisi-kisi perasaan ini bisa ditonton di film Almost Famous, yang sampai sekarang jadi salah satu film favorit saya karena ikatan dan persamaan perasaan dengan tokoh William Miller.

Tokoh itu memang sepertinya gambaran banyak remaja hampir di semua dunia: canggung, pemalu, ingin diterima oleh lingkup pertemanan orang-orang keren, juga ingin dianggap keren, dan berusaha keras menyukai berada di kerumunan walau aslinya akan memilih tinggal di rumah dan memasak atau membaca sambil mendengar musik tanpa diganggu.

Tentu ini bukan tentang saya merasa berbeda dan istimewa. Justru tidak. Malah saya bertanya: kok saya merasa tidak pas ada di tempat ini. Proses pencarian jawaban itu bikin saya perlahan menarik diri dari teman-teman musisi karena merasa tak layak ada di sana, dan akhirnya lebih aktif di Tegalboto. Ini pilihan yang tak pernah saya sesali, malah saya syukuri hingga sekarang. Namun jawabannya masih saya cari saat itu.

Padahal, yang tak saya sadari, jawabannya sudah ada. Saya hanya tak mengakuinya.

I’m uncool.

Perasaan uncool ini juga sempat bikin saya minder setengah mati ketika datang ke Jakarta. Bahkan mungkin sampai sekarang. Saya merasa tak bisa bergaul dengan banyak orang, sesuatu yang harusnya saya lakukan karena itu terkait dengan pekerjaan. Saya mudah grogi, saya suka gugup ketika harus memulai pembicaraan, apalagi dengan orang-orang yang selama ini saya idolakan dari jauh.

Seorang teman pernah membahas soal ini. Alkisah, dia menanyakan nomor kontak seorang artis. Saya bilang tak punya. Dia, dengan nada bercanda, meledek: bagaimana bisa seorang wartawan hiburan tak punya kontak artis yang sedang naik daun.

Betul juga, ya.

Penjelasan dari pertanyaan kawan saya itu malah datang dari Yandri, kawan baik yang sekarang jadi managing editor Vice Indonesia. Dalam sebuah diskusi, dia bilang bahwa saya berangkat dari titik yang berbeda dibanding kebanyakan wartawan musik yang dia kenal. Saya dari pers mahasiswa, sedangkan kebanyakan wartawan musik di ibu kota berasal dari kancah penulis zine atau majalah. Yandri sama seperti saya, dia berasal dari pers mahasiswa. Namun dia lebih luwes, pernah jadi reporter isu internasional dan ekonomi.

Saya tak pernah menyadari apa yang dibilang Yandri. Bagaimanapun, di dunia hiburan Indonesia, zine akan dianggap sebagai epitome cool, sedangkan pers mahasiswa kebalikannya.

Perasaan minder dan gugup itu melahirkan banyak konsekuensi, sih. Saya jadi gampang minder, gugup, dan ujungnya: saya tak bisa punya banyak koneksi. Saya sering kagum dengan beberapa kawan dengan profesi sama. Betapa mudah mereka akrab dengan band ini, berfoto dengan band itu, berkawan dengan aktor dan aktris populer, dan lain sebagainya. Dan sama seperti ketika dulu saya ingin jadi seperti anak-anak band di Jember itu, saya juga ingin jadi wartawan hiburan yang keren.

Lantas saya bertanya, lebih ke diri sendiri, kenapa saya tidak bisa seperti itu? Setelah lama mencari dan menerka, ternyata jawabannya sudah pernah saya temukan waktu kuliah dulu.

Because I’m uncool.

Untungnya, sama seperti William Miller yang punya mentor bernama Lester Bangs, saya juga punya mentor (bahkan beberapa orang) untuk mata kuliah Menyadari Kamu Tidak Keren dan Bagaimana Agar Hidup Tetap Baik-Baik Saja.

Beberapa mentor saya ini dikenal jago menulis soal musik, tapi mereka mengaku jarang menonton konser atau berteman dengan banyak musisi. Ketika akhir pekan, mereka lebih sering di rumah ketimbang ada di gigs. Membaca buku, bermain dengan anak, atau memasak.

Lagi-lagi, ini bukan tentang yang mana yang lebih baik, lebih keren, dan mana yang seharusnya kamu jadikan acuan. Melainkan tentang menyadari siapa dirimu, berdamai dengannya, dan melanjutkan hidup. Kamu tak keren? Ya sudah sih, tak semua orang bisa punya pesona seperti Keith Richards atau Steven Tyler.

Kamu merasa tak keren karena tak bisa bergaul dengan orang terkenal dan lebih nyaman berada di rumah ketimbang di tempat ramai penuh lampu sorot? Kamu tak sendirian.

Bahkan Izzy Stradlin, ketika sekondannya di Guns N Roses sedang keliling dunia untuk tur dan mengawetkan predikat sebagai bintang rock, memilih berdiam diri di rumah sambil main gitar sendirian.

Berdamai dengan kenyataan bahwa saya ini uncool, membuat saya lega sih. Saya jadi lebih tahu harus ngapain, tak memaksakan diri untuk berkerumun, lebih menikmati lingkar perkawanan yang lebih kecil, tak bersalah jika tak kenal dengan tokoh populer, dan juga merasa baik-baik saja ketika akhir pekan ada di rumah saja.

“I’m always home. I’m uncool.”

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

  1. “Menyadari Kamu Tidak Keren dan Bagaimana Agar Hidup Tetap Baik-Baik Saja”

    Ini kalau jadi judul buku kok menarik juga ya. :))

  2. Wah ini sama banget sama perasaan saya waktu di Indonesia. Merasa diri terlalu membosankan untuk gawul dengan artes. Tapi semakin dewasa (tua), semakin sebodo, ah saya mau ngelakuin yang saya suka saja. Punya teman-teman dekat yang menyenangkan dan nyaman, sudah cukup. Saya keren karena rajin tidur siang 😀

TINGGALKAN KOMENTAR