<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Cak Met Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/cak-met/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/cak-met/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 Dec 2017 08:42:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Wawancara Cak Met: Bunyi Kendang Bisa Ditiru, Rasa Tidak</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/wawancara-cak-met-bunyi-kendang-bisa-ditiru-rasa-tidak/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/wawancara-cak-met-bunyi-kendang-bisa-ditiru-rasa-tidak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2017 08:42:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Met]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4066</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemunculan dangdut koplo turut membawa pemain kendang ke lampu sorot. Di atas panggung dangdut koplo, pemain kendang adalah pusat dari segalanya. Ia menentukan ritme, mengatur kapan mesin joget digeber. Dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/wawancara-cak-met-bunyi-kendang-bisa-ditiru-rasa-tidak/">Wawancara Cak Met: Bunyi Kendang Bisa Ditiru, Rasa Tidak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemunculan dangdut koplo turut membawa pemain kendang ke lampu sorot. Di atas panggung dangdut koplo, pemain kendang adalah pusat dari segalanya. Ia menentukan ritme, mengatur kapan mesin joget digeber.</p>
<p>Dari sekian banyak pemain kendang, Slamet Rudi Hartono alias Cak Met, yang bergabung dengan New Pallapa sejak 1998, menjadi banyak jujugan pemain kendang lain. Penggemarnya membuat julukan luhur bagi Cak Met: Ky Ageng. Di Facebook, <a href="https://www.facebook.com/groups/575985569144283/about/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">laman penggemarnya</a> berisi sekitar 15 ribu anggota.</p>
<p>Gaya bermainnya yang santai (seringkali menaruh kaki di atas kendang, atau main sambil merokok), juga kegemarannya melakukan improvisasi pukulan serta eksplorasi kendang, membuat namanya disebut-sebut sebagai salah satu pelopor kendang koplo. Namun Cak Met menampik anggapan itu. Ia menilai tak akan bisa menyebut siapa penemu dangdut koplo, karena itu akan berujung saling klaim.</p>
<p>“Yang penting main saja, dan bikin orang senang,” ujarnya.</p>
<p>Saya bertamu ke rumahnya, di Gresik, Jawa Timur, untuk berbincang tentang masa kecilnya, perkenalannya dengan dangdut, bagaimana caranya menentukan set kendang, hingga bagaimana ia menyukai lagu-lagu Rhoma Irama.</p>
<p><strong>Sejak kapan Cak Met belajar main kendang?</strong></p>
<p>Aku belajar main kendang dari kecil. Kelas 5 SD sudah naik panggung. Umur 10 tahun sudah ngamen ke mana-mana. Keliling kampung-kampung. Bawa gerobak, isinya aki dan ampli. Pengamennya cowok-cowok semua. Enggak mikir apa-apa. Sampai sekolah enggak selesai, putus SMP kelas 1. Ya di kampung itulah. Nongkrong. Ada kendang, aku main. Ayahku pemain kendang Jawa, di wayang dan ludruk. Ibuku sinden.</p>
<p><strong>Sebagai orang yang bermain koplo sejak awal kemunculannya, bisa dijelaskan seperti apa perbedaan kendang dangdut koplo dan dangdut biasa? Apakah ada perbedaan?</strong></p>
<p>Beda. Beda jauh. Tapi mungkin bedanya masalah bunyi. Ketukannya sih sama. Yang membedakan adalah suara. Kalau dangdut ini banyak tabla. Cara mukulnya juga khas tabla. Selain itu banyak yang sekolah tabla juga. Kalau koplo, mau sekolah di mana? Wong enggak ada sekolahnya.</p>
<p><strong>Ada pengaruh kendang Jawa itu di dangdutan koplo? Kalau di daerah Sidoarjo dan sekitarnya, apakah ada pengaruh dari Jaipong atau kendang Jawa?</strong></p>
<p>Kalau aku, pengaruh dicampur aja. Udah enggak mikir pengaruh dari mana. Yang penting enak didengar. Apakah pas atau enggak. Kalau dipukul enak, ya udah. Sikat saja.</p>
<p><strong>Menurut Cak Met, siapa sih yang menciptakan, atau yang pertama kali main kendang koplo?</strong></p>
<p>Koplo ya muncul di Jarak. Kalau ngomong siapa pencipta, malah bakal jelek. Karena semua bakal mengklaim. Nanti si A bilang dia yang bikin, terus di B bilang dia yang bikin. Wah, ruwet. Sama-sama enggak tahu.</p>
<p>Jadi saya tidak bisa nyebut siapa yang pertama. Jadi kalau aku mikirnya gimana mainku bisa bikin orang joget. Dulu sih (musik koplo itu) dimainkan di kafe, ya mabuk-mabuk gitu. Pada mabuk semua mainnya. Kalau koplo itu memang enak buat joget.</p>
<p>Kalau koplo itu ada <i>eco</i>-nya, perasaan enak. Kalau dangdut, kalau sedih ya nangis. Kalau koplo, lagu sedih ya tetap joget. Sudah enggak mikir itu lagu sedih apa enggak. Tidak aneh-aneh.</p>
<p><strong>Bagaimana seorang Cak Met menjelaskan teknik permainan kendangnya?</strong></p>
<p>Kalau menurut aku pribadi, akan beda belajar kursus dengan otodidak. Kalau belajar dari kursus, ada kuncinya, ada pakemnya. Kalau aku, enggak mikir ke sana. Kalau aku tepuk enak, ya <em>wis </em>itu yang ditepuk. Enggak mikir kunci atau pakem. Paling ya kalau siang panas, kendangnya dilonggarkan. Kalau malam, <em>dikencengin</em>. Enggak pakai main <i>tune</i> ini atau itu. Semua sesenang hati.</p>
<p>Kalau anak lain kadang tanya, &#8216;Cak ini <em>tak</em>-nya main di kunci A atau B atau C?&#8217; Aku enggak bisa jawab. Karena yang main ya hati. Tapi ya sebenarnya ada tekniknya. Tabla juga, ada cara mukulnya segala. Tapi kalau aku pribadi, enggak punya.</p>
<p>Di wilayah Surabaya ini ada <em>buanyak </em>yang bisa main kendang. Anak-anak kecil juga sudah jago main kendang, jago main tabla. Anak-anak kecil itu banyak yang pengin belajar. Kadang anakku bawa kendang, belajar main kendang sama temen-temennya.</p>
<p><strong>Di sini berarti anak-anak kecil langsung belajar kendang koplo?</strong></p>
<p>Iya koplo, pasti koplo. Soalnya sudah terpengaruh, <em>ngedengerin </em>koplo tiap hari. Akhirnya ya main bebas, seenak sendirinya aja. Koplo itu enggak ada pakemnya. Koplo itu yang penting satu: bisa bikin orang joget dan <em>seneng</em>. Tapi tetep enggak semudah yang dibayangkan.</p>
<p><strong>Orkes koplo pertama ini siapa, sih? Katanya Palapa, Monata?</strong></p>
<p>Enggak bisa mengamati gitu. Kalau di sini cara mengamatinya, musik koplo itu di Jarak. Di kafe-kafe. Semua main koplo. Tapi ya buat di sana saja. Kalau saya, coba niru dan mengembangkan. Kalau orang menerima, kan, artinya bagus. Dulu ya banyak yang enggak nerima. Saya sih cuma bagian pemasaran saja, enggak aneh-aneh (tertawa). Lewat VCD bajakan. Kalau enggak ada VCD bajakan itu, ya mungkin terkenal di area lokal saja.</p>
<p><strong>Ramainya VCD bajakan itu sekitar 2000, ya?</strong></p>
<p>Sebelum itu malah. Tapi ramainya ya 2002, 2003. Enggak keruan itu. Banyak label bikin VCD bajakan. Terserah, saking banyaknya.</p>
<p><strong>Tapi waktu itu di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, ada enggak sih label resmi yang bikin video koplo, misal di Banyuwangi ada Samudera Records?</strong></p>
<p>Di sekitaran sini ya ada Perdana Records dan CHGB Record. Lainnya pasti mikir. Ini mereka resmi. Izin. Legalitasnya jelas. VCD bajakan itu ada untung ruginya sih. Untungnya, ya lagunya cepat terkenal. Tapi orang jiwa seni ini sebenarnya enggak mikir untung rugi. Rezeki itu punya jalannya sendiri, kadang enggak langsung.</p>
<p><strong>Peredaran koplo itu awal-awal susah?</strong></p>
<p>Iya. Abah Reso (menunjuk Reso yang duduk di sebelahnya, pemimpin OM Armega yang termasuk generasi OM awal di Jawa Timur) ini bikin CD koplo, awal-awal ya ditelepon, ditanya musik apaan ini. Kami disepelekan. Dianggap merusak musik (dangdut). Tapi aku mikirnya ya main sajalah. Kalau sore, santai main kendang sambil nongkrong.</p>
<p>Sekarang, setelah koplo populer, orang-orang itu bikin julukan macam-macam. Bikin julukan Ky Ageng, misalnya. Kadang bikin takut (di hati, takut sombong). Padahal aku ya enggak pengin aneh-aneh. Biasa ajalah harusnya. Aku sebenarnya penginnya biasa saja. Cuma ya terkadang orang-orang kayak gitu.</p>
<p>Aku ya berteman dengan banyak orang yang suka dangdut koplo. Aku bilang ke mereka, enggak usah <em>nganggep </em>aku sebagai artis atau apa. Aku malu. Mending biasa saja, jadi teman.</p>
<p><strong>Di kendang itu ada rivalitas enggak sih, seperti dibanding-bandingkan?</strong></p>
<p>Kalau pemain kendang dibanding-bandingin itu wajar. Aku enggak pernah mikir sih. Yang <em>bandingin </em>penonton. Karakter pemain kendang kan beda-beda. Tapi fokusku ya cuma <em>siji</em>: main.</p>
<p>Di YouTube, misalnya. Ada yang menulis judul, Cak Met versus siapa. Seolah-olah musuhan. Ngadu. Padahal ya pemain kendangnya santai <em>wae</em>, aku ya ngopi sama Cak Juri, ketawa-ketawa saja. Kalau Cak Juri berhalangan main untuk Monata, ya aku yang <em>gantiin</em>. Kadang ditelepon, Cak Juri lagi sakit dan aku diminta menggantikan. Ya aku main. Jadi kalau ada kayak gitu, mengadu, ya enggak usah dibaca. Kalau <em>kepancing</em>, ya pasti ribut. Enggak usah diurusi kayak gitu.</p>
<p><strong>Kebanyakan pemain kendang yang terkenal ini otodidak?</strong></p>
<p>Soalnya musik koplo enggak ada sekolahnya. Harus <em>dengerin </em>permainan orang lain.</p>
<p><strong>Bagaimana proses memasukkan senggakan dalam lagu? Apakah ada semacam tanda atau momentum?</strong></p>
<p>Itu terserah yang main kendang. Di tengah, bisa. Langsung dikoplo ya sikat <em>wae</em>. Kalau di New Pallapa ya enggak ada janjian. Semua langsung paham. Kadang di tengah, kadang di-koplo. Kadang kalau aku senang lagunya, dari awal langsung tak koplo. Paham semua.</p>
<p><strong>Koplo ini ketukannya enggak selalu cepat?</strong></p>
<p>Ya bisa juga. Gimana ya nyebutnya. Bingung aku. Kadang ikut tempo. Kadang ya <em>dicepetin</em>. Misal kecepatan 80, aku jadikan 160. Aku pernah rekaman lagu 3/4. Temponya lambat. Ya gimana ya, enggak enak buat joget.</p>
<p><strong>Pemain kendang ini kunci ritme di koplo?</strong></p>
<p>Iya, dangdut juga. Pokoknya kendang. Semua <em>ngikutin </em>apa kata pemain kendang, ketukannya ada di kendang. Semua yang <em>megang </em>kendali itu kendang. Makanya, di OM, kalau yang pegang kendali itu bukan kendang, pasti enggak jadi (amburadul).</p>
<p>Yang paling susah itu jangan bermain dengan mengandalkan ego masing-masing. Saling memasrahkan diri saja. Kalau mengunggulkan kemampuan sendiri-sendiri, ya enggak jadi. Kuncinya: saling menutupi kesalahan teman-teman. Memang susah, sih. <em>Wong</em> kadang band yang sudah besar saja masih bisa ribut perkara ego. Terus bubar. Aku juga banyak ganti musisi.</p>
<p><strong>Biasanya di orkes koplo ini ada cadangan pemain kendang?</strong></p>
<p>Ada. Kalau di New Pallapa, pemain <i>cadangane</i> adikku sendiri. Segala sesuatu, dari pendengaran, ya enggak munafik, pasti ada perbedaan. Tapi ya jangan sampailah. Aku pernah sakit seminggu, malam mau berangkat langsung <em>kerasa </em>sakit.</p>
<p><strong>Itu kalau mendadak gimana latihannya?</strong></p>
<p>Sudah biasa itu, sudah profesional. Sudah hafal, lagu ini seperti apa. Kalau sekarang, kalau ada lagu baru, belajar sendiri-sendiri di rumah. Baru latihan. Tetap harus latihan.</p>
<p>Dulu enggak gitu, lebih bebas. Kalau dulu dengar musik sendiri-sendiri, terus langsung dimainkan di panggung. Kalau sekarang enggak berani. Karena tiap lagu punya coraknya masing-masing. Lagu sama, kadang musiknya beda. Tapi ya ada lagu yang tetap <i>eco</i>, <em>uenak</em>. Kayak lagu-lagunya Rhoma Irama. Lagunya Rhoma itu gampang <em>diinget</em>, dibikin apa pun tetap enak. Kalau main lagu Rhoma, pasti enak <em>dikoploin</em>. Rasanya adem di hati.</p>
<p><strong>Semua lagu itu bisa dijadikan koplo?</strong></p>
<p>Semua lagu bisa. Asalkan tahu selanya. Ketukannya. Ada lagu yang tidak bisa dikoplo, misal 3/4, dibikin koplo. Beda, sih, <em>ngganjal</em>. Tapi kami harus pintar-pintar. Disiasati, misalkan melodi <em>dipanjangin </em>sedikit. Misalkan lagu &#8220;Menunggu&#8221; yang harusnya tidak bisa <em>dikoplo</em>, karena ketukan 3/4. Tapi akhirnya dikulik, dicari caranya. Ketukannya harus pas 4/4.</p>
<p><strong>Kalau koplo itu pasti ketukannya 4/4?</strong></p>
<p>Pasti. Sebenarnya koplo itu, kalau berani, 3/4 pun bisa juga. Cuma pukulannya akan jadi monoton. Variasinya enggak akan bisa banyak. Kalau banyak ya buyar. Aku sering mengubah lagu. Lagu kalem, aku <em>speed</em>. Modalku ya keberanian aja. Ya walaupun mungkin ada beberapa yang enggak terima musiknya diobrak-abrik gitu.</p>
<p><strong>Pernah diprotes karena dianggap mengobrak-abrik lagu?</strong></p>
<p>Pernah dulu. Awal-awal ya sering. Beberapa musisi (dangdut konvensional) juga pernah datang, istilahnya menertibkan. Juga minta royalti.</p>
<p>Tapi sekarang di YouTube, istilahnya menang. VCD dan kaset bajakan sudah enggak ada. Tapi ada YouTube. Sudah kadung meledak. Uangnya itu banyak. Kalau aku mau ngurusin (royalti), ya bisa kaya. Tapi aku enggak pernah ngurusin itu. Kadang-kadang ada yang <em>ngirim </em>pulsa. Aku enggak aneh-aneh. Kadang-kadang juga ada yang ngasih uang. Sebulan ngasih Rp2 juta, Rp3 juta. Kadang aku bingung, aku enggak kerja apa-apa tiba-tiba dikasih uang.</p>
<p><strong>Kalau bikin lagu, Cak Met langsung pakai kendang?</strong></p>
<p>Tetap pakai gitar sih. Saya bisa sedikit-sedikit main gitar, atau keyboard. Karena pengin ngerti gimana cara mainnya. Kadang waktu main, temenku bilang ini suaranya agak fals. Itu yang benar, saling mengingatkan. Aku juga selalu bilang ke temen-temen, kalau aku salah <i>fill</i> atau fals, tolong <em>dibilangin</em>, <em>diingetkan</em>. Sama-sama belajar.</p>
<p>Karena seenak-enaknya (permainan) manusia, pasti sesekali ada enggak enaknya. Enggak ada pemain yang sempurna. Jadi kadang kalau di panggung terus aku salah, ya ketawa-ketawa aja. Kalau dipikir sambil emosi, bikin pusing. Kadang, kan, lupa lagunya, jadinya ikut aja mainnya. <em>Bondo </em>nekat.</p>
<p><strong>Sejak dangdut koplo makin populer di kalangan anak muda, apa pengaruh ke jadwal manggung jadi makin banyak?</strong></p>
<p>Jadwal manggung itu bukan dari penyanyi. Tapi ya kadang ada gini, orang <i>booking</i> OM Sera, ada syarat harus ada Via Vallen, misalkan. Tapi pertanyaanku: si pengundang ini mau <em>nanggap </em>orkes atau penyanyi? Kalau mau <em>nanggap </em>orkes, ya ikut saja siapa penyanyi mereka. Kalau kamu <em>nanggap </em>penyanyi, ya silakan undang dia, lalu cari orkesnya.</p>
<p>Tapi memang patokan orkes ini penyanyi. Ada ikon. Misalkan Monata, ikonnya itu Sodiq. Kadang kalau ikonnya berhalangan hadir, honornya pasti turun. Kalau enggak ada ikon, ada pengundang yang enggak mau, membatalkan. Ada yang pernah membatalkan tiga kali, biar ikon ini jadwalnya pas.</p>
<p><strong>Bayaran per manggung meningkat?</strong></p>
<p>Diamati saja seluruh OM di Indonesia. Misalkan ya Sera, New Pallapa, Monata, Lagista. Masalah, mohon maaf, honor ya? Tergantung dari OM dan orangnya masing-masing. Tergantung individu. Jadi relatif.</p>
<p><strong>Sistem bayarannya bagaimana, apakah honornya dibagi rata?</strong></p>
<p>Ya beda. Tergantung pengalaman juga. Pasti ada beda dan selisihnya. Tapi enggak enak kalau <em>nyebutin </em>angka.</p>
<p><strong>Tapi Cak Met boleh ya misalkan disewa OM lain? Ada kontrak enggak ?</strong></p>
<p>Bebas. Justru kalau kontrak itu malah enggak enak. Aku dulu pernah dikontrak, tapi ya kurang enak. Asalkan enggak bentrok jadwal, bebas ikut OM mana saja.</p>
<p><strong>Benar enggak sih ada semacam pembagian tak terlihat, misalkan: di kawasan Nganjuk, Madiun, sampai Sragen, itu wilayahnya Lagista atau Sagita. Kalau di kawasan Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, tapal kuda, itu wilayahnya Monata, New Pallapa, Sera.</strong></p>
<p>Itu ada benarnya. Seperti wilayah Kertosono, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Ngawi, bahkan Solo, Sragen, Boyolali, secara musik itu, kan, ada jaranannya. Seperti Lagista. Kalau New Pallapa enggak bisa nembus. Masalah wilayah. Jadi kalau manggung, susah. Ya mungkin juga soal harga. Bisa juga perbedaan musikal. Orang, kan, punya selera masing-masing.</p>
<p><strong>Kenapa koplo itu kok tumbuh di Jawa Timur?</strong></p>
<p>(Terdiam beberapa lama, berpikir) Aku sendiri enggak tahu jawabannya. Lahirnya memang di Jawa Timur. Itu pun tidak bisa didefinisikan. Gimana ya. Bingung. Merambat, sih. Pelan-pelan. Dari Jawa Timur, lalu sampai Jawa Tengah, kemudian ke Jakarta.</p>
<p><strong>Jadi masih belum ada jawabannya. Kan ada yang bilang karena orang Jawa Timur ekspresif.</strong></p>
<p>Kalau soal itu, kayaknya enggak juga. Tapi bisa juga ditanyakan kenapa kok banyak yang merujuk ke OM koplo Jawa Timur? Misalkan dulu, OM Moneta (bukan Monata) dari Surabaya yang tampil di TPI. Kenapa enggak <em>ngundang </em>OM dari Jakarta saja? Mungkin soal <em>skill </em>permainan. Bukan buat rekaman ya, <em>skill </em>di panggung. Kan, itu berbeda. Misalkan ada yang jago main di studio, main di panggung jelek. Kalau Moneta ini di panggung oke, di studio juga oke.</p>
<p><strong>Settingan kendang Cak Met bagaimana?</strong></p>
<p>Ada yang 7 kendang, ada yang 9. Isinya 8 <i>tak</i>, 1 <i>dem</i>. Aku kadang cuma sekadar pengin nyoba. Pakai 3 pun enak-enak saja. Kadang aku eksplorasi. Kadang aku sendiri <i>getun</i>, ngapain kok <em>nambah-nambahi</em>. Kadang dikasih tabla, aku pasang. Aku dapat lagi, aku pasang lagi. Mikrofonnya sendiri-sendiri, tukang <i>sound</i>-nya bingung (tertawa).</p>
<p><strong>Tapi Cak Met paling nyaman main berapa kendang?</strong></p>
<p>Main berapa aja, enggak ada cerita enggak nyaman. Sama saja, sih. Meski main dua ya bisa saja. Tapi kalau ada tambahan, kan ada seni barunya. Kendangku dari mana-mana, ada kendang dari Banyuwangi, Pati, Cirebon, Bandung. Ada semua. Jadi seninya koplo itu merangkum semua kendang. Jaipongan ada. Banyuwangian ada. Tapi ya kembali lagi selera saja. Kalau aku, aku campur aduk saja. Asal kedengarannya enak.</p>
<p>Aslinya pelajaran kendang itu, dipelajarin siapa saja bisa. Yang enggak bisa ditiru itu: rasanya. <i>Eco</i>-nya.</p>
<p><strong>Bisa enggak sih kendang koplo diajarkan di sekolah-sekolah?</strong></p>
<p>Mungkin saja, kalau gurunya berani, ya bisa. Kalau aku pribadi, enggak berani. Beberapa orang minta tolong aku buat <em>ngajari</em>. Aku enggak berani, aku bukan guru. Caraku <em>ngajari </em>ini bukan aku <em>nyuruh </em>murid untuk main seperti ini seperti itu. Tidak. Aku tidak bisa <em>ngajari</em>. Jadi aku suruh dia lihat saja. Meniru bunyi suara, atau cara memukul.</p>
<p>Jadi intinya adalah rasa. Itu paling sulit. Suatu pekerjaan apa pun kalau enggak main rasa, ya enggak akan jadi. Harus ada rasanya dulu. Kalau sudah ada rasa, nanti jadi. Banyak orang yang punya <i>skill</i>hebat, tapi kalau enggak pakai rasa, ya kering. Istilahnya, enggak ada rasa. enggak <i>eco</i>.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/wawancara-cak-met-bunyi-kendang-bisa-ditiru-rasa-tidak/">Wawancara Cak Met: Bunyi Kendang Bisa Ditiru, Rasa Tidak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/wawancara-cak-met-bunyi-kendang-bisa-ditiru-rasa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4066</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cak Met dan Kendang yang Menjadi Jantung Koplo</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/cak-met-dan-kendang-yang-menjadi-jantung-koplo/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/cak-met-dan-kendang-yang-menjadi-jantung-koplo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2017 08:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Met]]></category>
		<category><![CDATA[Evi Epep]]></category>
		<category><![CDATA[Juri Monata]]></category>
		<category><![CDATA[Mutik Nida]]></category>
		<category><![CDATA[New Pallapa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4063</guid>

					<description><![CDATA[<p>Robert Johnson, gitaris yang dari tangannya musik blues lahir, dipercaya membuat perjanjian dengan iblis. Isi perjanjian itu: Johnson mendapat kemampuan membuat musik yang belum pernah dihasilkan gitaris manapun dan membuat [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/cak-met-dan-kendang-yang-menjadi-jantung-koplo/">Cak Met dan Kendang yang Menjadi Jantung Koplo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Robert Johnson, gitaris yang dari tangannya musik blues lahir, dipercaya membuat perjanjian dengan iblis. Isi perjanjian itu: Johnson mendapat kemampuan membuat musik yang belum pernah dihasilkan gitaris manapun dan membuat suara yang tak pernah didengar sebelumnya. Sebagai balasannya, iblis meminta jiwa Johnson kelak.</p>
<p>Johnson dan Iblis berjabat tangan di sebuah perempatan: US 61 dan 49 di Clarksdale, Mississippi. Perempatan itu sekarang dikenal Devil&#8217;s Crossroads, alias persimpangan iblis. Dalam pelbagai ilustrasi, digambarkan Johnson dan Iblis berdiri di tengah perempatan. Sepi. Tak tampak makhluk lain. Hanya padang rumput, semak, dan gonggongan anjing dari kejauhan.</p>
<p>Saya mengalami perasaan ganjil seperti yang mungkin dirasakan oleh Johnson. Di sebuah perempatan di Gresik bagian selatan, nyaris tak ada kehidupan manusia siang itu. Rasanya aneh, mengingat daerah ini berdempetan dengan Surabaya. Hanya 30 kilometer dari Terminal Bungurasih.</p>
<p>Jalan aspal panjang ini membelah prairi di kanan kiri jalan. Tak ada tiang lampu. Kalau malam datang, sudah pasti kawasan ini gelap gulita. Saya memeriksa Google Maps, yang terlihat dungu kali ini dengan melabelinya &#8220;Unknown road&#8221;—jalan yang tak diketahui.</p>
<p>Setelah melewati jalan ini sekitar 2 kilometer, saya akhirnya bertemu dengan satu tanda kehidupan: sebuah warung dengan dipan bambu dan dua meja panjang yang terletak di perempatan. Saya berhenti dan menanyakan arah.</p>
<p>&#8220;Rumah Cak Met? Oh itu di Sumput. Kamu terus saja, nanti mentok&#8230;&#8221;</p>
<p>Suaranya seperti hilang tertelan angin. Saya hanya sempat menangkap kata &#8220;mentok, kiri, mentok lagi, terus kanan&#8221;. Selebihnya, kapasitas otak saya tak berhasil menangkap arahannya. Tapi satu hal yang harus digarisbawahi: semua orang di sekitar Desa Sumput kenal Cak Met. Meski saya harus bertanya ke empat orang lagi, semua menunjuk arah yang benar.</p>
<p>Rumah Cak Met, tunjuk seorang perempuan tua, masuk ke gang. Pas di seberang masjid. &#8220;Rumah paling bagus,&#8221; katanya. &#8220;Nanti <em>ikutin </em>aja suara musik.&#8221;</p>
<p>Sekitar 10 meter dari bibir gang, tampak rumah yang dimaksud. Berpagar warna perak, lantai keramik, dan tembok cokelat. Dari belakang, terdengar lamat-lamat suara musik dangdut koplo. Suara musik datang dari enam <i>subwoofer</i> yang ditumpuk jadi empat tingkat. Di sana, bak seorang raja, Cak Met duduk santai sembari mengisap rokok.</p>
<p>Cak Met adalah sang raja dangdut koplo—meski mungkin bukan satu-satunya. Raja ini memegang kendang. Dan dalam dangdut koplo, kendang memerankan fungsi total sekaligus pembeda dari dangdut biasanya, elemen krusial dari gagrak tandingan dari gelombang dangdut yang telah membanjiri telinga pendengar rakyat Indonesia.</p>
<p>Pembeda paling mendasar dangdut koplo dari dangdut sepupunya—atau kita sebut saja dangdutnya Rhoma Irama—adalah pola ketukan; birama. Untuk bertanya tentang kendang koplo, mungkin nama Slamet Rudi Hartono adalah yang paling tepat dijadikan rujukan.</p>
<p>Cak Met, panggilan akrabnya, sudah bermain kendang sejak belia. Saat kelas 5 SD, ia sudah naik panggung. Beranjak remaja, ia ngamen keliling kampung dengan menggunakan gerobak. Dari kampung ke kampung, kemampuannya terasah. Sebagai pemain kendang yang pernah bermain di orkes dangdut biasa maupun kendang koplo, ia mengisahkan letak perbedaan kendang koplo.</p>
<p>&#8220;Kalau di dangdut biasa itu 3/4. Sedangkan di dangdut itu 4/4,&#8221; kata Cak Met. Dengan birama 4/4, permainan kendang koplo jadi lebih rapat, dan terkadang lebih cepat.</p>
<p>Andrew Weintraub melakukan pendedahan komprehensif terhadap pola pukulan kendang koplo ini dalam makalah &#8220;<a href="https://www.researchgate.net/publication/265974922_The_Sound_and_Spectacle_of_Dangdut_Koplo_Genre_and_Counter-Genre_in_East_Java_Indonesia" target="_blank" rel="noopener noreferrer">The Sound and Spectacle of Dangdut Koplo: Genre and Counter-Genre in East Java</a>&#8221; (2013). Ia menyebut pola ritmik yang disebut koplo ini adalah &#8220;fitur musikal terpenting dalam dangdut koplo. Pola ritmiknya dimainkan melalui kendang.&#8221;</p>
<p>Mengutip Lono Simatupang dalam disertasi &#8220;The Development of Dangdut and Its Meanings: A Study of Popular Music in Indonesia&#8221;, Weintraub menjelaskan bahwa ada pola kendang standar dalam musik dangdut, yakni <i>chalte</i>. Dalam pola itu, ada lima jenis suara yang kemudian membentuk <i>chalte</i>:</p>
<p>Tiga jenis suara, yakni &#8220;dang&#8221;, &#8220;du-ut&#8221;, dan &#8220;dut&#8221; dihasilkan oleh kendang besar yang diletakkan di sisi kiri pemain kendang. Lalu &#8220;tak&#8221; dan &#8220;tung&#8221; dihasilkan oleh kendang kecil di sebelah kanan.</p>
<p><i>Dang </i>adalah nada rendah yang dihasilkan dari pangkal telapak tangan kiri yang diletakkan perlahan pada ujung kendang, dan memukul bagian tengah kendang dengan telunjuk atau jari tengah. Kemudian bunyi <i>du-ut</i> dihasilkan dari pangkal telapak tangan yang diletakkan pelan di bagian tengah, dengan lebih dulu memukul ujung kendang dengan jari tengah atau telunjuk, serta pemain bisa memajukan atau memundurkan tangan. Untuk menghasilkan bunyi <i>dut</i>, pemain kendang akan menghantam ujung atas kendang dengan jari tengah atau telunjuk.</p>
<p>Sedangkan di bagian kanan, suara <i>tak</i> dihasilkan dari memukul tengah kendang dengan telunjuk, mengarah ke bagian pinggir. Kalau nada <i>tung</i>, dimainkan dengan cara yang sama dengan <i>tak</i>, tapi suaranya berbeda karena kendang yang berbeda pula.</p>
<p>&#8220;Pola kendang koplo adalah menggandakan semua unsur itu. Ia mengandung dua kali suara &#8216;dut&#8217; dibanding pola standar <i>chalte</i>. Biasanya tempo koplo dimainkan lebih cepat ketimbang tempo standar <i>chalte</i>,&#8221; tulis Weintraub.</p>
<p>Jawa Timur yang dianggap sebagai tempat kelahiran koplo juga dianggap tempat asal pola kendang koplo. Namun, Weintraub juga menyebut beberapa pemain kendang di Jawa Barat punya teori: ritme kendang koplo berasal dari kendang Jaipong.</p>
<p>Dalam liputan lapangannya, Weintraub bertemu dengan beberapa musisi di Surabaya dan Banyuwangi yang setuju dengan teori itu. Jaipongan diperkirakan muncul di Jawa Timur melalui format kaset pada era 1980-an. Tapi sang Profesor Dangdut ini memberi catatan bahwa pola kendang Jaipongan juga memasukkan ritme dangdut.</p>
<p>&#8220;Karena itu koplo bisa jadi berasal dari interpretasi ulang pola ritme dangdut, yang kemudian diterjemahkan melalui jaipongan. Pendekatan kreatif ini menunjukkan adanya proses silang budaya di antara kelompok etnis, alih-alih saling usaha mendominasi,” jelas Weintraub.</p>
<p>Dengan tempo yang lebih cepat dan rapat, musik yang dihasilkan koplo jelas lebih membuat bersemangat—baik bagi penyanyi ataupun pendengar. Hasilnya tentu jelas: joget bersama.</p>
<p>&#8220;Kendang koplo itu bikin orang yang awalnya enggak mau joget, jadi bikin pingen joget,&#8221; ujar Sodiq dari Orkes Melayu Monata.</p>
<p>Karena posisi vital kendang dalam orkes dangdut koplo, wajar kalau para pemain kendang kerap jadi ikon. Weintraub menyebutkan nama Cak Met dan Waryo (OM Armega) sebagai dua pemain kendang yang memopulerkan ketukan koplo. Cak Met punya basis banyaik penggemar dan menembus batas daerah. Para penggemar itu malah membuat julukan luhur bagi Cak Met: Ky Ageng. Di Facebook, <a href="https://www.facebook.com/groups/575985569144283/about/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">laman penggemarnya</a> berisi sekitar 15 ribu anggota.</p>
<p>Di YouTube, coba ketik kata kunci Cak Met. Hasil yang muncul sekitar 16 ribu entri. Banyak yang ditonton hingga jutaan kali. Semisal &#8220;Cak Met Semakin Menjadi-jadi&#8221; yang ditonton 2 juta kali, &#8220;Cak Met Melakukan Adegan Berbahaya&#8221; (2,2 juta kali), atau &#8220;Crew Ramayana Terhipnotis Kendang Cak Met New Pallapa&#8221; (2 juta kali).</p>
<p>Nama lain yang juga punya basis penggemar besar adalah Cak Juri, drummer merangkap pemain kendang OM Monata. Sama seperti Cak Met, Cak Juri yang berasal dari Probolinggo ini sudah bermain kendang sejak 1990-an, tetapi bergabung dengan OM Monata pada 2001.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DARI</strong> singgasana yang diduduki Cak Juri, tampak jelas ratusan penonton berkerumun di depan dan kanan panggung. Niken Aprilia sudah bersiap. Cak Juri memukulkan stik; aba-aba untuk mulai. Ia melirik pada pemain keyboard di sayap kanan panggung. Tuts dipencet.</p>
<p><i>Yen tak sawang sorote mripatmu</i><br />
<i>Jane ku ngerti ono ati sliramu</i><br />
<i>Nanging onone mung sewates konco</i><br />
<i>Podo ra wanine ngungkapke tresno</i></p>
<p>Penonton langsung berjoget. Lagu berjalan dengan suasana yang biasa, hingga di tengah lagu, Cak Juri dengan gesit meletakkan stik drumnya. Tangannya langsung bergerak ke kendang di kanan kiri.</p>
<p><em>Tak tung, tak tung</em>!</p>
<p>Penonton tambah menjadi-jadi. Ada yang menaiki bahu kawannya. Ada seorang penonton dengan topeng Guy Fawkes menari dengan heboh, seakan-akan itu hari terakhirnya sebelum meledakkan Gedung Parlemen. Tapi momen puncaknya bukan itu. Di beberapa momen, saat Niken diam sejenak untuk merambah ke lirik berikutnya, para personel Monata kompak berteriak.</p>
<p>&#8220;Hak e! Hak e!&#8221;</p>
<p>Penonton seperti tahu kapan sorakan itu muncul. Ada yang goyang patah-patah, ada yang menggerakkan pergelangan tangan seperti menarik tuas gas motor. Ada yang memajukan selangkangan dengan gaya patah-patah. Sorakan itu, kata salah satu dari mereka, seperti puncak dalam sebuah lagu koplo. Bedanya, ia terjadi berkali-kali.</p>
<p>Sorakan dalam dangdut koplo ini disebut sebagai senggakan. Michael H.B. Raditya dalam makalah &#8220;<a href="https://kajiseni.blogspot.co.id/2014/01/esensi-senggakan-pada-dangdut-koplo.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Esensi Senggakan Pada Dangdut Koplo Sebagai Identitas Musikal</a>&#8220;, menyebut bahwa senggakan punya fungsi kuat dalam tiap lagu yang dimaikan oleh Orkes Melayu.</p>
<p>&#8220;Senggakan-senggakan ini dalam permainannya, memberikan patahan-patahan serta ciri khas tersendiri yang membedakan antara dangdut dan dangdut koplo dalam musikalitasnya,&#8221; tulis Raditya.</p>
<p>Sebenarnya senggakan bukanlah sesuatu yang baru dalam kesenian. Unsur ini terdapat dalam seni karawitan. Muriah Budiarti dalam &#8220;<a href="http://muriah.dosen.isi-ska.ac.id/2010/08/10/contoh-proposal-seni/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Komposisi Musik Senggak Olah Alok</a>&#8221; (2009) mengatakan bahwa senggakan berasal dari kata dasar <em>senggak</em>. Artinya, kurang lebih, suara yang membarengi bunyi gamelan dan sinden. Menurut dosen di Institut Seni Indonesia Surakarta ini, senggakan di dalam karawitan berfungsi memberikan kesan ramai.</p>
<p>&#8220;Dengan demikian, senggakan dapat diartikan vokal bersama atau tunggal dengan menggunakan cakepan parikan, dan atau serangkaian kata-kata (terkadang tanpa makna) yang berfungsi untuk mendukung terwujudnya suasana ramai.&#8221;</p>
<p>Maka, wajar belaka jika senggakan dalam dangdut koplo zonder makna. Misalkan terma <i>asolole</i>, yang dipopulerkan oleh Wiwik Sagita (ada pula yang menyebut istilah ini diciptakan oleh koleganya, Eny Sagita) dari OM Sagita, Nganjuk. Weintraub menyebut <i>asolole </i>kemungkinan adalah pengucapan Indonesia untuk kata <i>asshole</i>. Namun, terbuka kemungkinan bahwa <i>asolole</i> adalah singkatan dari <em>asosiante lonte lebay</em>, atau <em>asli lo lebay</em>, hingga <em>Assalamualaikum dan selamat sore</em>.</p>
<p>Senggakan lain yang populer, mulai dari, &#8220;hak e! hak e!&#8221;, &#8220;hok ya! hok ya!&#8221;, &#8220;jah! jah, jah!&#8221;, juga &#8220;o a e! o a e!&#8221;. Semua adalah sorakan yang membuat suasana di atas panggung jadi lebih hidup. Meski banyak senggakan yang tak berpola dan zonder makna, ada pula senggakan yang punya kesan seksual. Yang paling populer adalah: <em>buka sitik joss</em>.</p>
<p>Pola senggakan ini mulai populer demam bunyi nasional saat dangdut koplo mulai dibawa ke televisi. Salah satu yang kentara adalah acara &#8220;Yuk Kita Sahur&#8221;. Menurut catatan Irfan R. Drajat dalam &#8220;<a href="http://www.remotivi.or.id/amatan/267/Membawa-" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Membawa &#8216;Asolole&#8217; ke Layar Kaca</a>&#8221; (2016), pelawak Caesar berjoget dengan diiringi lagu Rhoma Irama berjudul &#8220;Kata Pujangga&#8221; yang sudah dikoplo.</p>
<p>&#8220;Meski band pengiringnya bukan orkes koplo, tetapi mereka coba menirukan formula khas dangdut koplo, lengkap dengan senggakan yang khas, seperti &#8216;buka sitik joss&#8217;, &#8216;icik-icik ehem ehem&#8217;, &#8216;geli dikit nyoh&#8217;, dan lain-lain.&#8221;</p>
<p>Senggakan menjadi bagian penting dan tidak terpisahkan dalam koplo. Pemain kendang, lagi-lagi menjadi kunci penting dalam menentukan kapan senggakan disorakkan. Ada semacam perbedaan ritme dan jenis pukulan yang menjadi penanda kapan senggakan dimulai.</p>
<p>Setiap orkes koplo punya variasi berbeda dalam jenis pukulan dan ritme untuk menandai kapan senggakan dimulai. Di OM Monata, misalnya, jika ada bunyi &#8216;tak&#8217; yang dipukul dengan intensif dan berulang, itulah aba-aba untuk mengajak senggakan.</p>
<p>&#8220;Pokoknya kalau nadanya begitu, semua pada paham,&#8221; kata Cak Juri.</p>
<p>Sama seperti kata-kata senggakan yang tanpa pola, tak ada waktu baku kapan senggakan dimulai. Bisa sejak awal lagu, bisa di tengah, bisa menjelang <em>reff</em>, atau malah ketika solo gitar. Pada akhirnya, senggakan punya fungsi penting. Michael Raditya menyebut senggakan adalah patahan-patahan dan efek dalam lagu. Ledakan itu—juga disebut klimaks oleh banyak orang—memberikan dampak lagu lebih energetik.</p>
<p>&#8220;Pembentukan senggakan pada dangdut koplo menjadikan senggakan sebagai karakteristik musikal dangdut koplo yang terkuat, bahkan menjadi identitas musikal tersendiri.&#8221;</p>
<p>Raditya benar. Malam itu di Pandaan, Pasuruan, penonton selalu bersemangat ketika mendengar senggakan. Mereka berteriak lantang sembari berjoget dengan cara masing-masing. Seakan mengalami klimaks, berkali-kali.</p>
<p>&#8220;Hak e! Hak e!&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SELAIN</strong> kendang koplo yang tumbuh di kawasan Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya, ada pula gagrak koplo lain yang tumbuh di kawasan Nganjuk, Madiun, Ponorogo, hingga Sragen. Gagrak ini disebut sebagai <i>jandhut</i>, alias jaranan dangdut.</p>
<p>Secara pola dan ritme ketukan, kendangan jandhut tak berbeda dari koplo. Hanya saja ada tambahan kendang sabet dan kendang bem, instrumen kendang dalam kesenian jaranan. Dari gagrak ini, muncul nama Mas Malik dari OM Lagista, Nganjuk.</p>
<p>Di luar nama-nama besar itu, ada ratusan pemain kendang koplo lain. Mutik Nida, misalkan. Ia berbeda dari tipikal pemain kendang dalam orkes dangdut koplo. Perempuan berkerudung ini dijuluki Ratu Kendang oleh beberapa penggemar berkat pukulannya yang trengginas. Namun, perempuan kelahiran 1994 ini memilih untuk tidak bergabung dengan orkes. Ia juga lebih lentur dalam penampilan, kadang ikut orkes dangdut koplo, kadang ikut grup kasidah.</p>
<p>Mutik mengawali kariernya sebagai penabuh kendang dengan lebih dulu belajar kendang Jaipong. Kemudian tertarik belajar kendang dangdut dan kendang koplo. Menurutnya, ada tantangan sendiri karena belajar kendang yang berbeda-beda aliran dan menjadikannya padu.</p>
<p>Ia menyebut pada koplo, ada kendang-kendang seperti kempul yang bisa untuk isian kendang Jaipong. Sejak beberapa tahun terakhir, Mutik belajar pada Papi—panggilan yang ia berikan untuk Cak Met.</p>
<p>“Sejak kenal Papi, main kendangnya jadi serasa punya nyawa,” ujar perempuan asli Semarang ini.</p>
<p>Nama lain adalah Evi Epep, pemain kendang New Kendedes, OM dari Kediri yang seluruh personelnya adalah perempuan. Epep, panggilan akrabnya, juga menjadi salah satu idola baru anak muda, terutama berkat beberapa video tutorial cara memainkan kendang. Meski baru diluncurkan 6 bulan lalu, akun <a href="https://www.youtube.com/channel/UC7grlif9STwc1mRPZWHuSwg" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Epep Kendang</a> di YouTube (per 27 November 2017) sudah diikuti oleh 10.157 ribu pelanggan.</p>
<p>Dengan peran penting mereka dalam sebuah orkes dangdut koplo, berapa honor pemain kendang sekali manggung? Semua tergantung skala OM dan juga popularitas pemain kendangnya.</p>
<p>Imam Wahyudi, pemain kendang di beberapa OM di Jember, mengatakan honornya tergantung jam terbang, juga jarak tempuh. Di Jember, honor pemain kendang yang masih hijau berkisar Rp100 ribu per manggung. Imam yang sudah menakik jam terbang sejak 2005 ini biasanya mendapatkan honor Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sekali manggung. Jumlah itu bisa bertambah jadi Rp350 ribu hingga Rp700 ribu jika manggung di luar kota. Honor terbesar Imam didapatkan ketika bermain di Lampung, yakni Rp2,5 juta.</p>
<p>Lain lagi dengan OM besar seperti Monata. Menurut Sodiq, honor Cak Juri sebagai pemain kendang utama adalah Rp2,5 juta sekali manggung. Ini angka yang wajar, sebab Cak Juri punya pengalaman belasan tahun. Namanya pun sudah banyak dikenal penggemar Monata. Untuk pemain kendang yang menggantikan Cak Juri kalau berhalangan tampil, honornya adalah Rp1,5 juta. Sedangkan Cak Met maupun Mutik Nida, enggan mengungkapkan honornya.</p>
<p>&#8220;Enggak enak kalau <em>nyebutin </em>angka,&#8221; ujar Mutik.</p>
<p>Seiring makin populernya dangdut koplo di Indonesia, tawaran manggung pun terus mengalir. Dalam sebulan, Monata bisa manggung 20 hingga 30 kali. Selepas lebaran 2017, mereka malah manggung 47 kali dalam sebulan. Sedangkan Mutik, jika sedang ramai undangan, dalam sebulan bisa tampil 40 hingga 50 kali.</p>
<p>Ini artinya seorang pemain kendang populer, bisa dengan mudah mengumpulkan honor hingga Rp75 juta dalam sebulan. Popularitas dan pendapatan yang besar kemudian jadi daya tarik bagi mereka yang ingin menekuni profesi sebagai pemain kendang dangdut koplo. Tentu jalannya panjang, perlu jam terbang banyak untuk mencapai honor besar. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/cak-met-dan-kendang-yang-menjadi-jantung-koplo/">Cak Met dan Kendang yang Menjadi Jantung Koplo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/cak-met-dan-kendang-yang-menjadi-jantung-koplo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4063</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Di Bawah Kerajaan Dangdut Koplo, Iman Kita Adalah Bergoyang</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2017 08:13:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Met]]></category>
		<category><![CDATA[Dangdut Koplo]]></category>
		<category><![CDATA[Juri Monata]]></category>
		<category><![CDATA[Monata]]></category>
		<category><![CDATA[Nella Kharisma]]></category>
		<category><![CDATA[New Pallapa]]></category>
		<category><![CDATA[Sodiq Monata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4046</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagaimana dangdut koplo lahir, dan sekarang menjadi primadona baru. Pandaan, Pasuruan, 31 Oktober 2017, 19.00 Lapangan Kuti sudah ramai selepas Magrib. Ada pasar malam. Dari bagian tengah terdengar raungan motor [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/">Di Bawah Kerajaan Dangdut Koplo, Iman Kita Adalah Bergoyang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bagaimana dangdut koplo lahir, dan sekarang menjadi primadona baru.</em></p>
<p><em><strong>Pandaan, Pasuruan, 31 Oktober 2017, 19.00</strong></em></p>
<p>Lapangan Kuti sudah ramai selepas Magrib. Ada pasar malam. Dari bagian tengah terdengar raungan motor dari atraksi Tong Setan. Sodiq berjalan dengan diiringi tatapan kagum banyak orang. Lelaki berambut gimbal ini kemudian duduk di bangku penjual mi ayam. Ia memesan satu porsi.</p>
<p>Tapi Sodiq tak bisa makan dengan tenang. Tiap beberapa menit, selalu ada saja yang mengajaknya foto. Lelaki, perempuan, remaja, bapak atau ibu, juga bapak dan ibu yang membawa bayi. Sodiq melayani foto dengan senang hati. Pose andalannya adalah meletakkan jempol di depan dada. Selepas foto, ia melanjutkan makan sembari memeriksa gawai. Tak lama. Sebab ada lagi yang mengajak foto. Nihil keluhan dari Sodiq.</p>
<p>&#8220;Ya ginilah risiko jadi orang ganteng,&#8221; kelakarnya.</p>
<p>Malam itu OM Monata akan tampil. Sodiq adalah motor utama orkes dangdut asal Sidoarjo ini. Selain bermain gitar, Sodiq juga jadi biduan. Lebih dari itu, Sodiq adalah ikon. Namanya lekat dengan Monata.</p>
<p>Sejak 1989, pria kelahiran Pasuruan ini mengamen di kafe-kafe di sekitar tempat wisata Tretes, dekat dari rumahnya. Ia sering jadi gitaris untuk beberapa orkes dangdut. Hingga pada pertengahan 1990-an, ia diajak Gatot Hariyanto, seorang wirausahawan asal Sidoarjo, untuk membuat orkes dangdut.</p>
<p>&#8220;Dulu namanya Penanggungan. Aku ledek, nama kok Penanggungan. Akhirnya aku ganti Monata,&#8221; ujar pria dengan tahi lalat di pipi kanan ini.</p>
<p>Nama Monata adalah akronim. &#8220;<em>Moh ditoto. Mokong</em>,&#8221; tambah Sodiq. Artinya, susah ditata. Bengal.</p>
<p>Meski ini band dangdut, tapi pernah pada satu masa kelakuan mereka tak jauh dari perilaku bintang rock. Seks, drug, dangdut koplo. Beberapa kali mereka manggung dengan mabuk. Tapi Sodiq menyesal saat melihat rekaman video itu.</p>
<p>&#8220;Kami main jelek, tempo jelek. Kacau. Akhirnya saya ngobrol dengan personel lain, gimana kalau kita coba main enggak mabuk. Ternyata bagus. Sejak itu enggak pernah lagi tampil mabuk.&#8221;</p>
<p>Ada beberapa momen yang membuat Sodiq kemudian perlahan menjauhi alkohol. Pertama, beberapa kawannya meninggal karena gaya hidup ugal-ugalan itu. Ia juga terkena dampak langsungnya.</p>
<p>&#8220;Ini,&#8221; katanya menunjuk segaris besar sayatan di perut, &#8220;bekas operasi usus buntu. Kebanyakan minum alkohol, jarang makan.&#8221;</p>
<p>Sekarang Sodiq jauh dari dunia ingar bingar itu. Kalau minum alkohol, katanya, badan terasa <i>nggreges</i>. Sodiq kini lebih mirip sebagai bapak di Monata. Setelahnya, Nono (gitaris) dan Hanafi (tamborin) yang termasuk senior di Monata. Selain itu, usia Sodiq yang menjelang 50 lebih tua ketimbang banyak personel lain.</p>
<p>Pengusaha Gatot Hariyanto juga memberinya kepercayaan untuk mengatur orkes. Beberapa pesanan manggung kadang melalui Sodiq. Pria penggemar Ebiet G. Ade ini juga tak segan memarahi personel band yang tidak disiplin.</p>
<p>&#8220;Disiplin itu kunci,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sodiq tak sesumbar belaka. Jadwal manggung di Lapangan Kuti adalah pukul 8 malam. Satu jam sebelumnya, ia sudah ada di tempat. Selama berkarier lebih dari 20 tahun, ia boleh bangga: tak sekalipun ia pernah terlambat. Padahal sejak 2000-an, jadwal manggung Monata padat. Pernah mereka harus manggung 47 kali dalam satu bulan.</p>
<p>“Pokoknya harus siap tidak pulang ke rumah.”</p>
<p><em><strong>07.00</strong></em></p>
<p>Sepagi itu Sodiq sudah memandang layar komputer di studio pribadi di rumahnya. Studio Sodiq sederhana. Satu ruang operator berukuran 2&#215;3 meter persegi, dan satu bilik rekam berukuran sama. Di ruang operator, ada satu komputer dengan layar besar serta satu set sound. Di atas layar komputer, ada satu lukisan Sodiq bertelanjang dada dan mendekap seekor ayam jago.</p>
<p>Agenda Sodiq pagi itu adalah merekam lagu-lagu duetnya dengan Rere Amora, salah satu biduanita Monata. Ada 10 lagu yang akan digarap mereka.</p>
<p>Suara Sodiq sedang bindeng. Ia kena pilek. Istrinya membuatkan segelas besar jahe hangat. Sodiq meminumnya pelan-pelan. Ia sesekali berdehem, berharap penyakit di tenggorokan dan hidungnya minggat.</p>
<p>Setelah merasa suaranya agak mendingan, Sodiq masuk ke bilik rekaman. Salah satu lagu yang direkam adalah &#8220;Cintaku Padamu&#8221;. Sama seperti judulnya, kisahnya tak jauh-jauh dari cinta, yang disebut Sodiq, &#8220;tanpa batas dan waktu akan abadi selalu.&#8221; Lagu lain adalah &#8220;Gerimis Melanda Hati&#8221;. Lagu ini punya langgam asmara terpisah jarak.</p>
<p>&#8220;Jarak memisahkan kita, ku takut kau tak setia. Curiga menguras jiwa. Walaupun aku percaya, jodoh tak akan ke mana.&#8221;</p>
<p>Operator mengatur tata suara rekaman. Ia memberi tanda kapan Sodiq harus berhenti, dan kalau-kalau liriknya salah. Sodiq tampak konsentrasi penuh. Ia berusaha bernyanyi dengan baik, walau agak sengau.</p>
<p>&#8220;Masih kedengar bindengnya, ya?&#8221;</p>
<p>Operator memutar hasil rekaman. Sodiq tertawa kecil. Tak apa, katanya, nanti direkam lagi. Hasil rekaman awal ini akan dikirim ke produser.</p>
<p>Jika tak ada jadwal manggung—dan hal seperti ini jarang banget—Sodiq biasa mengurusi rekaman. Sama seperti jadwal manggung, jadwal rekamannya padat. Bisa jadi ia adalah pekerja paling keras dan disiplin dalam dunia dangdut Indonesia saat ini.</p>
<p>Sodiq dikenal sebagai penulis lagu mumpuni. Ritme kerjanya cepat. Ia menulis lagu berdasarkan momen, mirip-mirip para jurnalis yang menggarap isu terkini. Saat terjadi tragedi lumpur Lapindo, ia menulis &#8220;Porong Ajor&#8221;, alias Porong hancur. Lagu ini membuat nama Sodiq makin dikenal, jadwal manggung makin padat, honor pun naik drastis.</p>
<p>&#8220;Biasanya dibayar seratus ribu sekali manggung, gara-gara lagu itu bisa dapat honor satu sampai satu setengah juta,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai penulis lagu dengan ritme cepat, wajar kalau Sodiq kehilangan hitungan berapa jumlah lagu buatannya. Ia menyebut jumlahnya <i>sak arat-arat</i>, alias banyak sekali hingga tak tahu lagi jumlah pastinya. Ia sering menjual lagu itu ke penyanyi yang butuh lagu. Harganya beragam. Rata-rata Rp5 juta per lagu. Kadang ada pula penyanyi yang datang ke Sodiq, memintanya untuk mau duet.</p>
<p>Tapi Sodiq tak lantas menerima semua tawaran duet. Ia mengaku selalu ngomong blak-blakan. Pahit. Kalau penyanyi itu suaranya tak apik, Sodiq akan berbicara jujur. Cara mengujinya gampang: bawa ke studio. Di sana, Sodiq akan mendengar biduanita itu bernyanyi. &#8220;Buat ngecek dia tahu notasi apa tidak.&#8221;</p>
<p>Namun Sodiq mengakui, duet adalah salah satu caranya untuk meremajakan pasar. Ia sadar, ceruk biduan di dunia dangdut amatlah sempit, apalagi ia sudah berumur nyaris setengah abad.</p>
<p>Selain duet, ia berusaha tetap mengikuti gaya berbusana anak muda. Ia kerap memadupadankan celana jins, kaus gelap, dan blazer. Rambutnya yang gimbal menjadi salah satu daya tarik dan karakter unik yang membedakannya dari biduan dangdut lain.</p>
<p>&#8220;Ya dari dulu banyak orang yang nyuruh saya potong rambut. Tapi saya enggak mau. Ini karakter saya dari dulu, tidak semudah itu mengubahnya.&#8221;</p>
<p><em><strong>19.30</strong></em></p>
<p>Periksa tata suara dimulai. Keyboard dipencet. Bas dibetot. Sodiq mengetes mikrofon. Sebuah lagu dimainkan sepotong-sepotong. Sodiq bernyanyi. Ia kemudian memberi kode kepada penata suara.</p>
<p>&#8220;Tes. Satu dua.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Blocking</em>, woy.&#8221;</p>
<p>&#8220;Suara keyboard kurang <em>kedengeran</em>.&#8221;</p>
<p>Ratusan penonton sudah menyemut di depan panggung. Para biduanita menunggu di bawah, menanti <em>check sound </em>rampung. Ada lima biduanita yang akan tampil malam itu. Salah satunya adalah Niken Aprilia.</p>
<p>Niken dikenal sebagai penyanyi Monata yang sering menyanyikan lagu rock. Repertoar yang kerap ia bawakan mulai dari &#8220;Neraka Jahanam&#8221;, &#8220;Bang Bang Tut&#8221;, &#8220;The Final Countdown&#8221;, hingga lagu rock klasik Indonesia, &#8220;Kerangka Langit&#8221;. Dalam suatu kesempatan manggung di Lamongan, Niken menyebut lagu &#8220;Angkara&#8221; dari band Power Metal sebagai &#8220;lagu wajib kalau manggung di sini.&#8221;</p>
<p>Niken didapuk sebagai penyanyi pertama malam itu. Ia tampil anggun dengan gaun terusan berwarna hitam. Ia tak membawakan lagu rock sebagai pembuka, melainkan &#8220;Konco Mesra&#8221;. Ini lagu ciptaan Husin Albana, menjadi salah satu lagu dangdut koplo paling populer, apalagi sejak dinyanyikan oleh Nella Kharisma. Seperti biasa, setiap konser Monata selalu dibuka oleh MC Bram Sakti. Setelah pria berkumis lebat itu menyapa, ia langsung memanggil Niken maju ke depan.</p>
<p>&#8220;Selamat malam, Pandaan!&#8221;</p>
<p>Tak butuh waktu lama, penonton langsung menggila. Beberapa penonton di baris depan, langsung naik ke bahu kawannya. Di sisi kanan panggung, beberapa remaja yang memakai topeng Guy Fawkes mengepalkan tangan ke udara dan menggoyangnya 360 derajat. Sepertinya nyaris tak ada penonton yang tak berjoget, meski itu hanya anggukan kepala. Melihat ini, rasanya aman menyebutkan bahwa penonton dangdut koplo adalah penonton konser paling antusias.</p>
<p>Pada lagu ketiga, keributan terjadi di bagian tengah penonton. Gelut. Polisi sigap. Membelah penonton, beberapa pengisruh semburat. Niken geleng-geleng kepala. &#8220;Ini baru lagu ketiga, lho,&#8221; celetuknya dari atas panggung. Setelah itu, konser relatif aman.</p>
<p>Dari balik drum dan kendang, Juri menyaksikan semuanya dengan ketenangan macam pertama. Dengan rambut dikuncir kuda dan mata sipit, ia cocok dijuluki Steven Seagal van Probolinggo. Sebagai drummer merangkap kendanger, Juri-lah yang menjadi pengontrol ritme. Kalau sedang dalam bagian &#8220;normal&#8221;, ia akan memukul drum. Tapi kalau akan memasuki koplo, dengan gesit ia akan meletakkan stik dan tangannya beralih ke kendang.</p>
<p>Tak tung, tak tung, tak tung tung!</p>
<a href="https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/#gallery-4046-1-slideshow">Click to view slideshow.</a>
<p>Kendang adalah pembeda koplo dengan langgam dangdut lain. Slamet, pemain kendang OM New Pallapa, menyebut birama koplo adalah 4/4, berbeda dari lagu dangdut yang biasanya 3/4. Karena birama yang lebih rapat itu, dan saat kendang dimainkan serta ritme lagu berubah, ada luapan perasaan yang sukar dijelaskan. Tangan seperti bergerak sendiri, dan kaki tiba-tiba bergoyang tanpa bisa dilawan. Joget otomatis.</p>
<p>&#8220;Lagu apa saja bisa dibikin koplo. Kalau udah dikoplo, pasti yang <em>denger </em>jadi joget,&#8221; kata pria yang akrab dipanggil Cak Met ini.</p>
<p>Baik Juri, Cak Met, maupun Sodiq, sama-sama tak bisa menjawab siapa pencipta koplo sesungguhnya, atau kapan pastinya dangdut koplo muncul. Tapi mereka menyetujui satu hal: dangdut koplo lahir di lokalisasi Jarak, Surabaya.</p>
<p>Saat itu pertengahan menuju akhir era 1990-an. Ngetren penggunaan pil koplo, yang membuat pemakainya merasa bersemangat. Irama koplo yang rancak seakan membuat pendengarnya menenggak pil koplo. Bersemangat dan penuh energi. Di lokalisasi Jarak, tempat malam terasa panjang dan riuh, musik yang diputar harus bisa membuat pengunjung merasa bersemangat—dan tentu saja bergairah. Koplo lahir dari suasana rakyat seperti itu.</p>
<p>Agar suasana makin meriah, maka diselipkan juga senggakan. Sorakan ini sebenarnya muncul dari kesenian karawitan. Ada berbagai macam senggakan. Wiwik Sagita, biduanita popular dari OM Sagita, dikenal punya senggakan khas “Asolole”. Ada pula senggakan seperti “hok ya, hok ya”, atau “hak e, hak e”, dan tentu saja “buka sitik, jos!”</p>
<p>Peneliti dangdut asal Amerika Serikat, <a href="http://www.music.pitt.edu/faculty/weintraub" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Andrew Weintraub</a>, menyebut koplo berakar pada tarian ronggeng di pedesaan Jawa. Koplo menjadi kaya karena tak sakadar menyerap pengaruh Melayu atau India seperti dangdut. Melainkan juga musik metal, house, dan seni rakyat lain seperti jaranan, jaipong, atau ludruk.</p>
<p>Koplo perlahan populer berkat mode penyebaran yang unik, yakni melalui rekaman video hajatan yang kemudian diperbanyak dalam format VCD. Persebarannya masif. Dari Jawa Timur hingga ke Jakarta. Dari sana, muncul ikon baru, biduanita asal Pasuruan, Inul Daratista. Terlepas dari gaya goyang ngebor yang berkarakter itu, Weintraub mencatat musik yang dibawakan Inul berbeda dari dangdut yang pernah ia dengar.</p>
<p>Weintraub menyebut musik Inul punya dasar rock yang kencang, gitar yang menjerit, tempo cepat, dengan seksi-seksi lagu yang berubah-ubah dengan cepat. Perubahan tempo dan seksi lagu yang berubah cepat itu yang dikenal sebagai koplo.</p>
<p>Kehadiran koplo dari pinggiran Jawa Timur ini bisa mengguncang kerajaan dangdut yang selama ini dipegang oleh sang raja Rhoma Irama. Saat Inul muncul pada awal 2000-an, Rhoma langsung menunjukkan ketidaksukaanya. Weintraub menyebut bahwa Inul dianggap sebagai pendatang gelap di &#8220;kalangan komunitas dangdut yang tertutup dan picik di Jakarta, tidak seperti sosok kalem, santun, dan glamor yang ditampilkan oleh biduan-biduan era 1990-an (misalnya Cici Paramida, Ikke Nurjanah, Itje Tresnawati). Inul menampilkan citra perempuan kuat, tegas, dan seksual.&#8221;</p>
<p>Inul kemudian diboikot. Diserang. Goyangannya dianggap membangkitkan syahwat lelaki. Michael H.B. Raditya dalam &#8220;<a href="http://jsbn.ub.ac.id/index.php/sbn/article/view/2" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Dangdut Koplo: Memahami Perkembangan hingga Pelarangan</a>&#8220;, menyebut boikot, serangan-serangan, serta tuntutan agar dangdut koplo bisa mengedukasi, sebagai hal yang ambigu.</p>
<p>Dangdut koplo memang membawa nilai yang berbeda dari dangdut ala Rhoma. Raditya menyebut bahwa beberapa lagu dangdut koplo menawarkan keterbukaan dan keadaan yang dialami oleh masyarakat di Jawa Timur. Hal itu yang mungkin tidak dirasakan oleh para borjuis dangdut di ibu kota. Lagu-lagu seperti &#8220;Wedi Karo Bojomu&#8221;, &#8220;Oplosan&#8221;, &#8220;Ditinggal Rabi&#8221;, hingga &#8220;Bojo Galak&#8221; adalah perwujudan paling paripurna dari slogan seni menjiplak kehidupan.</p>
<p>Kehadiran internet juga membawa perubahan besar. Ikwan Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, menyebut bahwa internet berperan krusial membuat masyarakat memahami keberagamaan budaya yang lentur. Dalam hal ini: dangdut koplo.</p>
<p>&#8220;Jadi musik yang dulu dianggap hanya konsumsi pinggiran, sekarang didengar oleh para masyarakat digital. Ini hebatnya internet. Bisa menjadikan sesuatu yang dulu dianggap tidak menarik, menjadi tren baru,&#8221; ujar pendiri Matatimoer Institute ini.</p>
<p>Maka, sekarang kita bisa menyaksikan video klip &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=8nA-apwq0aY" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Jaran Goyang</a>&#8221; yang dibawakan oleh Nella Kharisma ditonton lebih dari 90 juta kali di Youtube. Atau bagaimana lagu &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=UtjFu8c_goE" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Sayang</a>&#8221; yang dinyanyikan Via Vallen bisa ditonton lebih dari 98 juta kali. Internet juga menjadikan pemain kendang, yang biasanya dianggap kalah penting dibanding vokalis atau pemain seruling, sebagai selebritas baru. Cak Met, salah satunya.</p>
<p>Beberapa penggemar membuat laman di Facebook bernama <a href="https://www.facebook.com/groups/575985569144283/about/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Fans Ky Ageng Cak Met New Pallapa</a>. Anggotanya sudah melebihi 15 ribu orang, dan terus bertambah setiap harinya. Pemain kendang juga bisa jadi amat populer karena bangunan struktur dangdut koplo yang menjadikan mereka sebagai panglima. Membuat para pemain kendang menjelma sebagai bintang panggung baru.</p>
<p>&#8220;Padahal aku ya agak kagok kalau dianggap artis. Aku biasa <em>wae</em>. Ya berteman saja, enggak usah fans-fans segala,&#8221; kata Cak Met.</p>
<p><em><strong>22.00</strong></em></p>
<p>Lima orang biduanita berkumpul di atas panggung. Ini tandanya konser bakal segera berakhir. Keyboard dimainkan. Lagu populer dari Armada, &#8220;Asalkan Kau Bahagia&#8221; dimainkan. Dan di tengah-tengah lagu, Juri meletakkan stik drumnya, menabuh kendang.</p>
<p>Tak tung! Tak tung!</p>
<p>Tempo jadi enak buat joget. Apalagi dikompori oleh senggakan. Di pinggir kiri panggung, joget penuh seluruh berarti senggolan. Darah muda, mungkin juga alkohol, membuat kepala panas. Pukulan dilayangkan. Tentu saja berbalas. Ricuh. Kali ini paling ramai ketimbang tiga kali keributan malam itu. Polisi gemas. Mereka menyerbu bagian kiri. Penonton kocar-kacir. Tapi yang berkelahi biarlah berkelahi. Di bagian depan panggung, tak ada yang peduli. Mereka tetap berjoget. Dunia milik mereka yang berjoget, yang lain hanya numpang berkelahi.</p>
<p>Jagat penonton dangdut koplo memang menarik. Ada yang datang untuk berkelahi, seakan dengan adu jotos semua masalah bisa minggat. Jenis lain adalah penonton dengan moto: apa pun masalahnya, joget solusinya. Malam itu, dua jenis penonton dalam jagat koplo menemukan pelampiasannya masing-masing.</p>
<p>Hak e! Hak e!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/">Di Bawah Kerajaan Dangdut Koplo, Iman Kita Adalah Bergoyang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4046</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
