<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Dangdut Koplo Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/dangdut-koplo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/dangdut-koplo/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 08 Dec 2017 08:29:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Sejarah Dangdut Koplo: Dari Harmonium Hingga Melayu</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/sejarah-dangdut-koplo-dari-harmonium-hingga-melayu/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/sejarah-dangdut-koplo-dari-harmonium-hingga-melayu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2017 08:28:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Dangdut Koplo]]></category>
		<category><![CDATA[Ellya Khadam]]></category>
		<category><![CDATA[Ikke Nurjanah]]></category>
		<category><![CDATA[Rhoma Irama]]></category>
		<category><![CDATA[Syech Albar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4059</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejarah kelahiran dangdut koplo tak bisa dipisahkan dari akarnya, yakni orkes harmonium hingga orkes Melayu. Dangdut koplo juga lahir karena pengaruh jaipongan dan jaranan. Bagi Rhoma Irama, kesedapan tak cuma [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/sejarah-dangdut-koplo-dari-harmonium-hingga-melayu/">Sejarah Dangdut Koplo: Dari Harmonium Hingga Melayu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sejarah kelahiran dangdut koplo tak bisa dipisahkan dari akarnya, yakni orkes harmonium hingga orkes Melayu. Dangdut koplo juga lahir karena pengaruh jaipongan dan jaranan.</em></p>
<p>Bagi Rhoma Irama, kesedapan tak cuma perkara makanan. Tapi juga musik. Ia menuliskan tentang kesedapan musik di Taman Ria dalam &#8220;Terajana&#8221;, lagu klasiknya yang dirilis pada 1973.</p>
<p><i>Iramanya Melayu, duhai sedap sekali</i><br />
<i>Sulingnya suling bambu<br />
</i><i>gendangnya kulit lembu</i><br />
<i>dangdut suara gendang</i><br />
<i>seru bukan kepalang</i><br />
<i>Terajana</i><br />
<i>Terajana</i> <i>Ini<br />
lagunya, lagu India</i></p>
<p>Melalui &#8220;Terajana&#8221;, kita bisa melihat anatomi sekaligus biografi dangdut. Secara anatomi, dua alat musik yang penting adalah seruling dan kendang. Sedangkan secara biografis, musik ini punya akar, atau setidaknya terpengaruh, kebudayaan Melayu dan India. Soal rujukan biografis, Rhoma menyinggungnya lebih tajam dalam lagu &#8220;Viva Dangdut&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ini musik Melayu. Berasal dari Deli. Lalu kena pengaruh dari Barat dan Hindi,&#8221; begitu Rhoma bernyanyi.</p>
<p>Dalam <i>Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia</i> (2012), <a href="http://www.music.pitt.edu/faculty/weintraub" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Andrew Weintraub</a> menulis bahwa Rhoma melakukan penjejakan sejarah pada kisah kebudayaan Melayu Deli—dulu masuk dalam wilayah Sumatera Timur, kini bagian dari Sumatera Utara—di mana Orkes Melayu muncul sejak zaman sebelum penjajahan hingga periode 1950-an dan 1970-an.</p>
<p>Irama Melayu memang jadi inti dari musik dangdut, betapapun kemudian Rhoma meraciknya dengan unsur musik rock. Bagian dari mengoplos musik rock ini tampak jelas pada awal karier Rhoma: menenteng gitar Fender putih yang mengesankannya terpengaruh Ritchie Blackmore dari Deep Purple hingga peralihan ke Steinberger hitam andalannya.</p>
<p>Akar sejarah dangdut bisa ditarik jauh lebih ke belakang. Mengutip <i>The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia 1891-1903</i> (2006), Weintraub mengatakan bahwa leluhur Melayu musik dangdut adalah orkes keliling dari Malaya (Malaysia) yang berlabuh ke Pulau Jawa pada 1890-an. Orkes ini memainkan banyak jenis musik: Melayu, Tionghoa, India, Timur Tengah, juga Eropa.</p>
<p>Selepas di Jawa, para orkes keliling ini lantas pergi ke Sumatera. Di sana, rombongan teater dan orkes musik ini mencari peluang bisnis. Sumatera pada era 1930-an adalah pasar musik yang bergairah. Weintraub menyebut Sumatera bersama Malaya dan Permukiman Selat adalah pasar tunggal untuk rilisan musik beberapa label rekaman Melayu kala itu. Ditambah alasan geografis, penyanyi di Sumatera lebih sering tampil di Malaya dan Singapura ketimbang di Jakarta. Hal ini membuat akulturasi budaya di kawasan-kawasan itu terjadi secara alamiah.</p>
<p>Pada 1930-an, radio berpengaruh besar terhadap popularitas tiga jenis musik yang jadi pondasi awal dangdut: orkes harmonium, orkes gambus, dan orkes Melayu.</p>
<p>Orkes harmonium (OH) disebut-sebut oleh musisi Husein Bawafie sebagai &#8220;asal-usul dangdut&#8221;. Harmonium adalah nama alat musik sejenis organ asal Eropa yang masuk melalui India dan menyebar ke banyak negara. Peralatan musik OH biasanya terdiri dari harmonium, biola, terompet, gendang, rebana, dan sesekali tamborin. Weintraub mengatakan bahwa OH biasanya memainkan lagu-lagu dengan irama Hindustan, dan lagu-lagu campuran musik Melayu, Arab, India, dan Eropa. Namun, pada era 1940-an, nama OH mulai meredup. Beberapa OH memilih berganti istilah orkes Melayu.</p>
<p>Pondasi dangdut kedua datang dari orkes gambus. Musik yang dimainkannya adalah musik ala Timur Tengah, mengandalkan alat musik gambus serta kendang-kendang bermembran ganda nan kecil, biasa disebut marwas atau marawis. Alat musik gambus dan marwas diperkirakan berasal dari Hadramaut (Yaman). Sebagai penyemarak, ditambahkan pula harmonium, biola, suling, rebana, tamborin, dan bas betot.</p>
<p>Salah satu musisi paling masyhur dari orkes gambus adalah Syech Albar, ayahanda Ahmad Albar. Menurut sejarawan Fandy Hutari, Albar sempat belajar alat musik gambus kepada Sayid Thah bin Alwi Albar di Yaman pada 1926. Albar pertama kali mendapat kontrak rekaman dengan label His Master’s Voice pada 1931. Weintraub mencatat, musik yang dihasilkan Albar berasal dari banyak pengaruh, dan tampak pada karyanya. Mulai Melayu, Arab, hingga Rumba ala Kuba.</p>
<p>Orkes Melayu (OM) adalah kepingan pelengkap dua pondasi awal. Dari pelbagai catatan radio, OM mulai muncul di Indonesia pada 1930-an. Salah satu yang punya nama mentereng adalah Orkest Melajoe Sinar Medan yang dipimpin oleh Abdul Halim. Meski namanya Sinar Medan, orkes ini berasal dari Jakarta.</p>
<p>Dalam kajian Weintraub, orkes ini memakai instrumen Eropa tetapi tetap mempertahankan unsur musikal Melayu. Antara lain pantun dan frasa semisal &#8216;aduhai sayang&#8217;. Weintraub mencatat, lagu Melayu seperti &#8220;Sayang Manis&#8221; dan &#8220;Sinar Malacca&#8221; diiringi oleh vokalis dengan suara melengking, dan senggakan untuk menyemangati penyanyi.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, OM mulai memasukkan sentuhan baru dalam musik mereka: membuat melodi baru berdasarkan melodi film India. Ini disebut-sebut sebagai pintu kelahiran dangdut. Lima tahun setelah Indonesia merdeka, pertukaran budaya semakin kencang. Arab, Melayu, India, Amerika Latin, juga Eropa—yang memperkaya musikalitas orkes Melayu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KOMUNITAS </strong>Arab berperan penting dalam perkembangan dangdut di Indonesia. Selain Syech Albar, ada banyak nama warga keturunan Arab yang menjadi tokoh penting dalam jagat musik dangdut. Nama-nama itu, antara lain, Husein Bawafie yang memimpin orkes Chandralela, Said Effendi (Irama Agung), Umar Alatas (Chandraleka), juga Husein Aidid (Kenangan).</p>
<p>Komunitas warga keturunan Arab ini membentuk jaringan yang saling bertukar ilmu. Mereka bermain musik bersama, diskusi, dan ini yang kemudian tanpa disadari punya pengaruh penting dalam dangdut: mengaji. Rupa-rupanya, pelajaran seni baca Alquran (tilawah) adalah faktor utama yang membuat para penyanyi orkes Melayu jadi penyanyi dangdut yang lihai, dengan cengkok aduhai. Weintraub menyebutkan nama-nama seperti Ellya Khadam, Munif Bahasuan, A. Rafiq, Mansyur S., Elvy Sukaesih, dan Rita Sugiarto.</p>
<p>&#8220;Yang mereka pinjam dari seni baca Alquran bukan cengkok vokal spesifik, melainkan teknik-teknik vokal penetapan frasa lagu, diksi, pernafasan, dan pelafalan,&#8221; tulis Weintraub.</p>
<p>Penggunaan cengkok yang berpijak pada seni baca Alquran ini yang seiring waktu menghasilkan perbedaan antara musik Melayu dan genre musik populer lain saat itu. Maka, tak sukar bagi mereka untuk menyanyikan lagu Arab sekalipun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>ERA</strong> 1970-an, musik-musik Melayu dan India sudah bertransformasi menjadi dangdut. Musik ini kemudian dianggap sebagai musik rakyat, terutama karena basis mayoritas penggemarnya adalah rakyat kelas bawah. Weintraub menyitir beberapa penyebutan media Indonesia terhadap para penggemar dangdut: rakyat kecil, rakyat jelata, rakyat jembel, golongan bawah, kaum marginal, pinggiran, dan kelas menengah bawah.</p>
<p>Dangdut jadi populer di kalangan rakyat karena liriknya dekat dengan keseharian sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain itu, Weintraub menyatakan, musik pop dan rock Indonesia tidak punya akar historis atau ciri musik, &#8220;yang mengaitkannya dengan derita rakyat.&#8221; Dangdut tidak demikian. Ia punya akar kuat, dan banyak menceritakan kehidupan rakyat biasa. Maka, ia berkembang di lingkungan urban yang &#8220;terpinggirkan secara sosial dan ekonomi.&#8221;</p>
<p>Hal ini yang melahirkan pertentangan klasik, antara kaum borjuis dan kaum proletar. Dangdut dianggap mewakili selera rakyat kelas bawah, dianggap tidak keren, sekaligus kampungan. Pertikaian ini dilambangkan oleh kisruh antara musisi rock Benny Subardja dari Giant Step, yang menyebut dangdut sebagai &#8220;musik tai anjing&#8221;.</p>
<p>Istilah dangdut itu sendiri baru lahir pada awal 1970-an. Nama dangdut merupakan onomatope (kata yang berasal dari bunyi) kendang: dang-dut. Beberapa pemusik tidak menyukai istilah yang dianggap melecehkan ini. Dalam Majalah <i>Tempo</i> edisi 5 Mei 1979, Said Effendi, pemimpin OM Sinar Agung, mengatakan istilah dangdut &#8220;muncul karena perasaan sinis dari mereka yang anti musik Melayu.&#8221;</p>
<p>Weintraub menulis bahwa istilah dangdut diciptakan oleh majalah musik <i>Aktuil</i>. Namun, dalam wawancaranya dengan Meggy Z, Mansyur S. dan Dadang S., istilah dangdut jadi populer berkat jasa Bung Mangkudilaga, penyiar radio yang kerap mempromosikan dangdut di Radio Agustina, Tanjung Priok, Jakarta, pada 1973-1974.</p>
<p>Mangkudilaga mengasuh acara bernama &#8220;Sop Dangdut&#8221;. Nama ini menarik sebab mencerminkan jiwa dangdut itu sendiri: percampuran. Sop dibuat dari pelbagai jenis sayur, sama halnya dangdut yang terbentuk dari pelbagai pengaruh musikal. Dengan jumlah penggemar yang teus membesar, banyak radio yang kemudian tertarik menyiarkan dangdut.</p>
<p>Faktor lain yang membuat dangdut makin populer adalah larisnya rekaman-rekaman Ellya Khadam. Salah satu indikator mulai populernya dangdut, terang Weintraub, adalah banyak musisi pop Indonesia (yang dianggap mewakili kaum sugih dan gedongan) mau membuat lagu berirama Melayu. Pada 1975, menurut Weintraub, dangdut sudah menguasai 75 persen pasar industri rekaman.</p>
<p>Dunia dangdut semakin membesar saat muncul sang ksatria bergitar dari Tasikmalaya, Jawa Barat, bernama panggung Rhoma Irama. Sebagai musisi dangdut, Rhoma istimewa karena punya akar musikalitas yang berbeda ketimbang penyanyi dangdut lain. Meski Rhoma kecil suka berdendang musik India, ia tumbuh dengan mendengarkan musik rock.</p>
<p>Saat ia muncul dengan pengaruh musik rock yang kental, banyak orang menudingnya tidak orisinal, termasuk wartawan Remy Sylado dari <em>Aktuil</em>. Moh. Shofan dalam<i> Rhoma Irama: Politik Dakwah Dalam Nada </i>(2014), menyebut bahwa Remy mengatakan Rhoma tak layak menyandang gelar raja dangdut karena ia tak orisinal.</p>
<p>Tapi ketidakorisinalitas Rhoma yang kemudian membawanya terus melejit. Ia berhasil membawa nilai-nilai dangdut, yakni percampuran banyak pengaruh musik dan hasil dari akulturasi budaya. Rhoma menyuntikkan pengaruh rock dan pop dalam dangdut.</p>
<p>&#8220;Rhoma melakukan banyak persilangan. Sebuah <em>crossover </em>yang memperkaya anasir musik dangdut itu sendiri. Rhoma melakukan perubahan besar-besaran pada semua aspek dengan melakukan elektronisasi. Unsur gitar dan drum yang menjadi ciri musik rock, begitu kental mewarnai musik dangdut ini,&#8221; tulis Shofan.</p>
<p>Rhoma kemudian jadi nama yang dominan dalam dunia dangdut, dan menyandang julukan si Raja Dangdut. Sayangnya, terlalu lama menjadi raja membuat Rhoma lupa soal nilai akulturasi yang sempat ia bawa dulu. Ketika Inul Daratista muncul membawa musik koplo sebagai gagrak baru dangdut, Rhoma meradang. Dangdut koplo terpengaruh oleh budaya Jaipong dan Jaranan, dan cepat populer.</p>
<p>Segala pakem dan patron yang dibangun si Raja Dangdut selama puluhan tahun perlahan terkikis karena gagrak dangdut yang datang dari pinggiran Jawa Timur, tempat asing dan teramat jauh dari Deli Serdang. Padahal koplo adalah hasil dari akulturasi budaya, meleburkan pengaruh satu dengan yang lain; sama seperti proses lahirnya dangdut.</p>
<p>Fachry Ali dalam &#8220;Musik Melayu atau Dangdut Sebagai Counter-Culture&#8221; menulis bahwa Rhoma adalah seorang &#8220;ideolog&#8221; ketimbang seorang penyanyi. Dan sang raja sadar betul bahwa musik dangdut adalah &#8220;tahapan terdekat dari transformasi genre lagu-lagu keagamaan.&#8221; Boleh dibilang, sudah sejak akhir 1970-an, Rhoma meletakkan agama berdampingan dengan politik dan dangdut. Karenanya, awal kemunculan koplo yang dianggap seronok, dianggapnya merusak trivium yang ia bangun.</p>
<p>Tapi bahkan seorang Raja Dangdut pun tidak bisa membendung selera yang terus berubah. Sekitar 15 tahun sejak pertikaiannya dengan Inul, dangdut koplo tidaklah mati. Malah makin berkembang, mengalami transformasi yang mencengangkan. Dari gaya bernyanyi yang berbeda jauh dibanding era Ellya Khadam atau Ikke Nurjanah, gaya busana yang jauh dari kata seronok, hingga cara pemasaran yang lebih mengandalkan internet.</p>
<p>Belakangan, kita pun mengenal biduanita-biduanita baru dari rahim dangdung koplo, yang popularitasnya dan jadwal kegiatannya tak kalah dari orang paling penting di negeri ini. Nama-nama ini termasuk Via Vallen dan Nella Kharisma.</p>
<p>Dari kawin silang kerajaan dangdut ini, dari lagu &#8220;Terajana&#8221; hingga &#8220;Anoman Obong&#8221;, dari &#8220;Viva Dangdut&#8221; hingga &#8220;Jarang Goyang&#8221;, kita tak pernah tahu arah (akulturasi) musik dangdut bakal ke mana. Tetapi, satu hal yang pasti, semua ini membuat kita makin luwes berjoget, dan penyanyinya bertambah sugih. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/sejarah-dangdut-koplo-dari-harmonium-hingga-melayu/">Sejarah Dangdut Koplo: Dari Harmonium Hingga Melayu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/sejarah-dangdut-koplo-dari-harmonium-hingga-melayu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4059</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Di Bawah Kerajaan Dangdut Koplo, Iman Kita Adalah Bergoyang</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2017 08:13:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Met]]></category>
		<category><![CDATA[Dangdut Koplo]]></category>
		<category><![CDATA[Juri Monata]]></category>
		<category><![CDATA[Monata]]></category>
		<category><![CDATA[Nella Kharisma]]></category>
		<category><![CDATA[New Pallapa]]></category>
		<category><![CDATA[Sodiq Monata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4046</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bagaimana dangdut koplo lahir, dan sekarang menjadi primadona baru. Pandaan, Pasuruan, 31 Oktober 2017, 19.00 Lapangan Kuti sudah ramai selepas Magrib. Ada pasar malam. Dari bagian tengah terdengar raungan motor [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/">Di Bawah Kerajaan Dangdut Koplo, Iman Kita Adalah Bergoyang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bagaimana dangdut koplo lahir, dan sekarang menjadi primadona baru.</em></p>
<p><em><strong>Pandaan, Pasuruan, 31 Oktober 2017, 19.00</strong></em></p>
<p>Lapangan Kuti sudah ramai selepas Magrib. Ada pasar malam. Dari bagian tengah terdengar raungan motor dari atraksi Tong Setan. Sodiq berjalan dengan diiringi tatapan kagum banyak orang. Lelaki berambut gimbal ini kemudian duduk di bangku penjual mi ayam. Ia memesan satu porsi.</p>
<p>Tapi Sodiq tak bisa makan dengan tenang. Tiap beberapa menit, selalu ada saja yang mengajaknya foto. Lelaki, perempuan, remaja, bapak atau ibu, juga bapak dan ibu yang membawa bayi. Sodiq melayani foto dengan senang hati. Pose andalannya adalah meletakkan jempol di depan dada. Selepas foto, ia melanjutkan makan sembari memeriksa gawai. Tak lama. Sebab ada lagi yang mengajak foto. Nihil keluhan dari Sodiq.</p>
<p>&#8220;Ya ginilah risiko jadi orang ganteng,&#8221; kelakarnya.</p>
<p>Malam itu OM Monata akan tampil. Sodiq adalah motor utama orkes dangdut asal Sidoarjo ini. Selain bermain gitar, Sodiq juga jadi biduan. Lebih dari itu, Sodiq adalah ikon. Namanya lekat dengan Monata.</p>
<p>Sejak 1989, pria kelahiran Pasuruan ini mengamen di kafe-kafe di sekitar tempat wisata Tretes, dekat dari rumahnya. Ia sering jadi gitaris untuk beberapa orkes dangdut. Hingga pada pertengahan 1990-an, ia diajak Gatot Hariyanto, seorang wirausahawan asal Sidoarjo, untuk membuat orkes dangdut.</p>
<p>&#8220;Dulu namanya Penanggungan. Aku ledek, nama kok Penanggungan. Akhirnya aku ganti Monata,&#8221; ujar pria dengan tahi lalat di pipi kanan ini.</p>
<p>Nama Monata adalah akronim. &#8220;<em>Moh ditoto. Mokong</em>,&#8221; tambah Sodiq. Artinya, susah ditata. Bengal.</p>
<p>Meski ini band dangdut, tapi pernah pada satu masa kelakuan mereka tak jauh dari perilaku bintang rock. Seks, drug, dangdut koplo. Beberapa kali mereka manggung dengan mabuk. Tapi Sodiq menyesal saat melihat rekaman video itu.</p>
<p>&#8220;Kami main jelek, tempo jelek. Kacau. Akhirnya saya ngobrol dengan personel lain, gimana kalau kita coba main enggak mabuk. Ternyata bagus. Sejak itu enggak pernah lagi tampil mabuk.&#8221;</p>
<p>Ada beberapa momen yang membuat Sodiq kemudian perlahan menjauhi alkohol. Pertama, beberapa kawannya meninggal karena gaya hidup ugal-ugalan itu. Ia juga terkena dampak langsungnya.</p>
<p>&#8220;Ini,&#8221; katanya menunjuk segaris besar sayatan di perut, &#8220;bekas operasi usus buntu. Kebanyakan minum alkohol, jarang makan.&#8221;</p>
<p>Sekarang Sodiq jauh dari dunia ingar bingar itu. Kalau minum alkohol, katanya, badan terasa <i>nggreges</i>. Sodiq kini lebih mirip sebagai bapak di Monata. Setelahnya, Nono (gitaris) dan Hanafi (tamborin) yang termasuk senior di Monata. Selain itu, usia Sodiq yang menjelang 50 lebih tua ketimbang banyak personel lain.</p>
<p>Pengusaha Gatot Hariyanto juga memberinya kepercayaan untuk mengatur orkes. Beberapa pesanan manggung kadang melalui Sodiq. Pria penggemar Ebiet G. Ade ini juga tak segan memarahi personel band yang tidak disiplin.</p>
<p>&#8220;Disiplin itu kunci,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sodiq tak sesumbar belaka. Jadwal manggung di Lapangan Kuti adalah pukul 8 malam. Satu jam sebelumnya, ia sudah ada di tempat. Selama berkarier lebih dari 20 tahun, ia boleh bangga: tak sekalipun ia pernah terlambat. Padahal sejak 2000-an, jadwal manggung Monata padat. Pernah mereka harus manggung 47 kali dalam satu bulan.</p>
<p>“Pokoknya harus siap tidak pulang ke rumah.”</p>
<p><em><strong>07.00</strong></em></p>
<p>Sepagi itu Sodiq sudah memandang layar komputer di studio pribadi di rumahnya. Studio Sodiq sederhana. Satu ruang operator berukuran 2&#215;3 meter persegi, dan satu bilik rekam berukuran sama. Di ruang operator, ada satu komputer dengan layar besar serta satu set sound. Di atas layar komputer, ada satu lukisan Sodiq bertelanjang dada dan mendekap seekor ayam jago.</p>
<p>Agenda Sodiq pagi itu adalah merekam lagu-lagu duetnya dengan Rere Amora, salah satu biduanita Monata. Ada 10 lagu yang akan digarap mereka.</p>
<p>Suara Sodiq sedang bindeng. Ia kena pilek. Istrinya membuatkan segelas besar jahe hangat. Sodiq meminumnya pelan-pelan. Ia sesekali berdehem, berharap penyakit di tenggorokan dan hidungnya minggat.</p>
<p>Setelah merasa suaranya agak mendingan, Sodiq masuk ke bilik rekaman. Salah satu lagu yang direkam adalah &#8220;Cintaku Padamu&#8221;. Sama seperti judulnya, kisahnya tak jauh-jauh dari cinta, yang disebut Sodiq, &#8220;tanpa batas dan waktu akan abadi selalu.&#8221; Lagu lain adalah &#8220;Gerimis Melanda Hati&#8221;. Lagu ini punya langgam asmara terpisah jarak.</p>
<p>&#8220;Jarak memisahkan kita, ku takut kau tak setia. Curiga menguras jiwa. Walaupun aku percaya, jodoh tak akan ke mana.&#8221;</p>
<p>Operator mengatur tata suara rekaman. Ia memberi tanda kapan Sodiq harus berhenti, dan kalau-kalau liriknya salah. Sodiq tampak konsentrasi penuh. Ia berusaha bernyanyi dengan baik, walau agak sengau.</p>
<p>&#8220;Masih kedengar bindengnya, ya?&#8221;</p>
<p>Operator memutar hasil rekaman. Sodiq tertawa kecil. Tak apa, katanya, nanti direkam lagi. Hasil rekaman awal ini akan dikirim ke produser.</p>
<p>Jika tak ada jadwal manggung—dan hal seperti ini jarang banget—Sodiq biasa mengurusi rekaman. Sama seperti jadwal manggung, jadwal rekamannya padat. Bisa jadi ia adalah pekerja paling keras dan disiplin dalam dunia dangdut Indonesia saat ini.</p>
<p>Sodiq dikenal sebagai penulis lagu mumpuni. Ritme kerjanya cepat. Ia menulis lagu berdasarkan momen, mirip-mirip para jurnalis yang menggarap isu terkini. Saat terjadi tragedi lumpur Lapindo, ia menulis &#8220;Porong Ajor&#8221;, alias Porong hancur. Lagu ini membuat nama Sodiq makin dikenal, jadwal manggung makin padat, honor pun naik drastis.</p>
<p>&#8220;Biasanya dibayar seratus ribu sekali manggung, gara-gara lagu itu bisa dapat honor satu sampai satu setengah juta,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai penulis lagu dengan ritme cepat, wajar kalau Sodiq kehilangan hitungan berapa jumlah lagu buatannya. Ia menyebut jumlahnya <i>sak arat-arat</i>, alias banyak sekali hingga tak tahu lagi jumlah pastinya. Ia sering menjual lagu itu ke penyanyi yang butuh lagu. Harganya beragam. Rata-rata Rp5 juta per lagu. Kadang ada pula penyanyi yang datang ke Sodiq, memintanya untuk mau duet.</p>
<p>Tapi Sodiq tak lantas menerima semua tawaran duet. Ia mengaku selalu ngomong blak-blakan. Pahit. Kalau penyanyi itu suaranya tak apik, Sodiq akan berbicara jujur. Cara mengujinya gampang: bawa ke studio. Di sana, Sodiq akan mendengar biduanita itu bernyanyi. &#8220;Buat ngecek dia tahu notasi apa tidak.&#8221;</p>
<p>Namun Sodiq mengakui, duet adalah salah satu caranya untuk meremajakan pasar. Ia sadar, ceruk biduan di dunia dangdut amatlah sempit, apalagi ia sudah berumur nyaris setengah abad.</p>
<p>Selain duet, ia berusaha tetap mengikuti gaya berbusana anak muda. Ia kerap memadupadankan celana jins, kaus gelap, dan blazer. Rambutnya yang gimbal menjadi salah satu daya tarik dan karakter unik yang membedakannya dari biduan dangdut lain.</p>
<p>&#8220;Ya dari dulu banyak orang yang nyuruh saya potong rambut. Tapi saya enggak mau. Ini karakter saya dari dulu, tidak semudah itu mengubahnya.&#8221;</p>
<p><em><strong>19.30</strong></em></p>
<p>Periksa tata suara dimulai. Keyboard dipencet. Bas dibetot. Sodiq mengetes mikrofon. Sebuah lagu dimainkan sepotong-sepotong. Sodiq bernyanyi. Ia kemudian memberi kode kepada penata suara.</p>
<p>&#8220;Tes. Satu dua.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Blocking</em>, woy.&#8221;</p>
<p>&#8220;Suara keyboard kurang <em>kedengeran</em>.&#8221;</p>
<p>Ratusan penonton sudah menyemut di depan panggung. Para biduanita menunggu di bawah, menanti <em>check sound </em>rampung. Ada lima biduanita yang akan tampil malam itu. Salah satunya adalah Niken Aprilia.</p>
<p>Niken dikenal sebagai penyanyi Monata yang sering menyanyikan lagu rock. Repertoar yang kerap ia bawakan mulai dari &#8220;Neraka Jahanam&#8221;, &#8220;Bang Bang Tut&#8221;, &#8220;The Final Countdown&#8221;, hingga lagu rock klasik Indonesia, &#8220;Kerangka Langit&#8221;. Dalam suatu kesempatan manggung di Lamongan, Niken menyebut lagu &#8220;Angkara&#8221; dari band Power Metal sebagai &#8220;lagu wajib kalau manggung di sini.&#8221;</p>
<p>Niken didapuk sebagai penyanyi pertama malam itu. Ia tampil anggun dengan gaun terusan berwarna hitam. Ia tak membawakan lagu rock sebagai pembuka, melainkan &#8220;Konco Mesra&#8221;. Ini lagu ciptaan Husin Albana, menjadi salah satu lagu dangdut koplo paling populer, apalagi sejak dinyanyikan oleh Nella Kharisma. Seperti biasa, setiap konser Monata selalu dibuka oleh MC Bram Sakti. Setelah pria berkumis lebat itu menyapa, ia langsung memanggil Niken maju ke depan.</p>
<p>&#8220;Selamat malam, Pandaan!&#8221;</p>
<p>Tak butuh waktu lama, penonton langsung menggila. Beberapa penonton di baris depan, langsung naik ke bahu kawannya. Di sisi kanan panggung, beberapa remaja yang memakai topeng Guy Fawkes mengepalkan tangan ke udara dan menggoyangnya 360 derajat. Sepertinya nyaris tak ada penonton yang tak berjoget, meski itu hanya anggukan kepala. Melihat ini, rasanya aman menyebutkan bahwa penonton dangdut koplo adalah penonton konser paling antusias.</p>
<p>Pada lagu ketiga, keributan terjadi di bagian tengah penonton. Gelut. Polisi sigap. Membelah penonton, beberapa pengisruh semburat. Niken geleng-geleng kepala. &#8220;Ini baru lagu ketiga, lho,&#8221; celetuknya dari atas panggung. Setelah itu, konser relatif aman.</p>
<p>Dari balik drum dan kendang, Juri menyaksikan semuanya dengan ketenangan macam pertama. Dengan rambut dikuncir kuda dan mata sipit, ia cocok dijuluki Steven Seagal van Probolinggo. Sebagai drummer merangkap kendanger, Juri-lah yang menjadi pengontrol ritme. Kalau sedang dalam bagian &#8220;normal&#8221;, ia akan memukul drum. Tapi kalau akan memasuki koplo, dengan gesit ia akan meletakkan stik dan tangannya beralih ke kendang.</p>
<p>Tak tung, tak tung, tak tung tung!</p>
<a href="https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/#gallery-4046-1-slideshow">Click to view slideshow.</a>
<p>Kendang adalah pembeda koplo dengan langgam dangdut lain. Slamet, pemain kendang OM New Pallapa, menyebut birama koplo adalah 4/4, berbeda dari lagu dangdut yang biasanya 3/4. Karena birama yang lebih rapat itu, dan saat kendang dimainkan serta ritme lagu berubah, ada luapan perasaan yang sukar dijelaskan. Tangan seperti bergerak sendiri, dan kaki tiba-tiba bergoyang tanpa bisa dilawan. Joget otomatis.</p>
<p>&#8220;Lagu apa saja bisa dibikin koplo. Kalau udah dikoplo, pasti yang <em>denger </em>jadi joget,&#8221; kata pria yang akrab dipanggil Cak Met ini.</p>
<p>Baik Juri, Cak Met, maupun Sodiq, sama-sama tak bisa menjawab siapa pencipta koplo sesungguhnya, atau kapan pastinya dangdut koplo muncul. Tapi mereka menyetujui satu hal: dangdut koplo lahir di lokalisasi Jarak, Surabaya.</p>
<p>Saat itu pertengahan menuju akhir era 1990-an. Ngetren penggunaan pil koplo, yang membuat pemakainya merasa bersemangat. Irama koplo yang rancak seakan membuat pendengarnya menenggak pil koplo. Bersemangat dan penuh energi. Di lokalisasi Jarak, tempat malam terasa panjang dan riuh, musik yang diputar harus bisa membuat pengunjung merasa bersemangat—dan tentu saja bergairah. Koplo lahir dari suasana rakyat seperti itu.</p>
<p>Agar suasana makin meriah, maka diselipkan juga senggakan. Sorakan ini sebenarnya muncul dari kesenian karawitan. Ada berbagai macam senggakan. Wiwik Sagita, biduanita popular dari OM Sagita, dikenal punya senggakan khas “Asolole”. Ada pula senggakan seperti “hok ya, hok ya”, atau “hak e, hak e”, dan tentu saja “buka sitik, jos!”</p>
<p>Peneliti dangdut asal Amerika Serikat, <a href="http://www.music.pitt.edu/faculty/weintraub" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Andrew Weintraub</a>, menyebut koplo berakar pada tarian ronggeng di pedesaan Jawa. Koplo menjadi kaya karena tak sakadar menyerap pengaruh Melayu atau India seperti dangdut. Melainkan juga musik metal, house, dan seni rakyat lain seperti jaranan, jaipong, atau ludruk.</p>
<p>Koplo perlahan populer berkat mode penyebaran yang unik, yakni melalui rekaman video hajatan yang kemudian diperbanyak dalam format VCD. Persebarannya masif. Dari Jawa Timur hingga ke Jakarta. Dari sana, muncul ikon baru, biduanita asal Pasuruan, Inul Daratista. Terlepas dari gaya goyang ngebor yang berkarakter itu, Weintraub mencatat musik yang dibawakan Inul berbeda dari dangdut yang pernah ia dengar.</p>
<p>Weintraub menyebut musik Inul punya dasar rock yang kencang, gitar yang menjerit, tempo cepat, dengan seksi-seksi lagu yang berubah-ubah dengan cepat. Perubahan tempo dan seksi lagu yang berubah cepat itu yang dikenal sebagai koplo.</p>
<p>Kehadiran koplo dari pinggiran Jawa Timur ini bisa mengguncang kerajaan dangdut yang selama ini dipegang oleh sang raja Rhoma Irama. Saat Inul muncul pada awal 2000-an, Rhoma langsung menunjukkan ketidaksukaanya. Weintraub menyebut bahwa Inul dianggap sebagai pendatang gelap di &#8220;kalangan komunitas dangdut yang tertutup dan picik di Jakarta, tidak seperti sosok kalem, santun, dan glamor yang ditampilkan oleh biduan-biduan era 1990-an (misalnya Cici Paramida, Ikke Nurjanah, Itje Tresnawati). Inul menampilkan citra perempuan kuat, tegas, dan seksual.&#8221;</p>
<p>Inul kemudian diboikot. Diserang. Goyangannya dianggap membangkitkan syahwat lelaki. Michael H.B. Raditya dalam &#8220;<a href="http://jsbn.ub.ac.id/index.php/sbn/article/view/2" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Dangdut Koplo: Memahami Perkembangan hingga Pelarangan</a>&#8220;, menyebut boikot, serangan-serangan, serta tuntutan agar dangdut koplo bisa mengedukasi, sebagai hal yang ambigu.</p>
<p>Dangdut koplo memang membawa nilai yang berbeda dari dangdut ala Rhoma. Raditya menyebut bahwa beberapa lagu dangdut koplo menawarkan keterbukaan dan keadaan yang dialami oleh masyarakat di Jawa Timur. Hal itu yang mungkin tidak dirasakan oleh para borjuis dangdut di ibu kota. Lagu-lagu seperti &#8220;Wedi Karo Bojomu&#8221;, &#8220;Oplosan&#8221;, &#8220;Ditinggal Rabi&#8221;, hingga &#8220;Bojo Galak&#8221; adalah perwujudan paling paripurna dari slogan seni menjiplak kehidupan.</p>
<p>Kehadiran internet juga membawa perubahan besar. Ikwan Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, menyebut bahwa internet berperan krusial membuat masyarakat memahami keberagamaan budaya yang lentur. Dalam hal ini: dangdut koplo.</p>
<p>&#8220;Jadi musik yang dulu dianggap hanya konsumsi pinggiran, sekarang didengar oleh para masyarakat digital. Ini hebatnya internet. Bisa menjadikan sesuatu yang dulu dianggap tidak menarik, menjadi tren baru,&#8221; ujar pendiri Matatimoer Institute ini.</p>
<p>Maka, sekarang kita bisa menyaksikan video klip &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=8nA-apwq0aY" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Jaran Goyang</a>&#8221; yang dibawakan oleh Nella Kharisma ditonton lebih dari 90 juta kali di Youtube. Atau bagaimana lagu &#8220;<a href="https://www.youtube.com/watch?v=UtjFu8c_goE" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Sayang</a>&#8221; yang dinyanyikan Via Vallen bisa ditonton lebih dari 98 juta kali. Internet juga menjadikan pemain kendang, yang biasanya dianggap kalah penting dibanding vokalis atau pemain seruling, sebagai selebritas baru. Cak Met, salah satunya.</p>
<p>Beberapa penggemar membuat laman di Facebook bernama <a href="https://www.facebook.com/groups/575985569144283/about/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Fans Ky Ageng Cak Met New Pallapa</a>. Anggotanya sudah melebihi 15 ribu orang, dan terus bertambah setiap harinya. Pemain kendang juga bisa jadi amat populer karena bangunan struktur dangdut koplo yang menjadikan mereka sebagai panglima. Membuat para pemain kendang menjelma sebagai bintang panggung baru.</p>
<p>&#8220;Padahal aku ya agak kagok kalau dianggap artis. Aku biasa <em>wae</em>. Ya berteman saja, enggak usah fans-fans segala,&#8221; kata Cak Met.</p>
<p><em><strong>22.00</strong></em></p>
<p>Lima orang biduanita berkumpul di atas panggung. Ini tandanya konser bakal segera berakhir. Keyboard dimainkan. Lagu populer dari Armada, &#8220;Asalkan Kau Bahagia&#8221; dimainkan. Dan di tengah-tengah lagu, Juri meletakkan stik drumnya, menabuh kendang.</p>
<p>Tak tung! Tak tung!</p>
<p>Tempo jadi enak buat joget. Apalagi dikompori oleh senggakan. Di pinggir kiri panggung, joget penuh seluruh berarti senggolan. Darah muda, mungkin juga alkohol, membuat kepala panas. Pukulan dilayangkan. Tentu saja berbalas. Ricuh. Kali ini paling ramai ketimbang tiga kali keributan malam itu. Polisi gemas. Mereka menyerbu bagian kiri. Penonton kocar-kacir. Tapi yang berkelahi biarlah berkelahi. Di bagian depan panggung, tak ada yang peduli. Mereka tetap berjoget. Dunia milik mereka yang berjoget, yang lain hanya numpang berkelahi.</p>
<p>Jagat penonton dangdut koplo memang menarik. Ada yang datang untuk berkelahi, seakan dengan adu jotos semua masalah bisa minggat. Jenis lain adalah penonton dengan moto: apa pun masalahnya, joget solusinya. Malam itu, dua jenis penonton dalam jagat koplo menemukan pelampiasannya masing-masing.</p>
<p>Hak e! Hak e!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/">Di Bawah Kerajaan Dangdut Koplo, Iman Kita Adalah Bergoyang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/di-bawah-kerajaan-dangdut-koplo-iman-kita-adalah-bergoyang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4046</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
