<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Estonia Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/estonia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/estonia/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jul 2018 09:49:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Merayakan Musik Analog di Negara Paling Digital</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/merayakan-musik-analog-di-negara-paling-digital/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/merayakan-musik-analog-di-negara-paling-digital/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2018 09:47:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Estonia]]></category>
		<category><![CDATA[Piringan Hitam]]></category>
		<category><![CDATA[Tallin]]></category>
		<category><![CDATA[Tartu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4175</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Fuck digital. Buy, play, sell, exchange vinyl records.” Tulisan provokatif itu terpampang di sebuah record store di tengah Kota Tua, Tallin, Estonia. Di dalam toko dengan cat tembok warna oranye [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/merayakan-musik-analog-di-negara-paling-digital/">Merayakan Musik Analog di Negara Paling Digital</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Fuck digital. Buy, play, sell, exchange vinyl records.”</p>
<p>Tulisan provokatif itu terpampang di sebuah record store di tengah Kota Tua, Tallin, Estonia. Di dalam toko dengan cat tembok warna oranye itu, berjejer ratusan piringan hitam yang dipilah sesuai genre. Ada jazz, blues, elektronik, rock, hingga yang sedikit nyeleneh di mata orang Indonesia, macam rilisan musisi Uni Soviet hingga Scandinavian jazz.</p>
<p>Ya, vinyl revival, kebangkitan piringan hitam, memang terjadi di banyak tempat di dunia. Forbes menyebut kebangkitan ini bernilai miliaran dolar. Sedangkan Billboard <a href="https://www.billboard.com/articles/columns/chart-beat/8085951/us-vinyl-album-sales-nielsen-music-record-high-2017" target="_blank" rel="noopener">mengatakan</a> bahwa pada 2017 penjualan piringan hitam di Amerika Serikat mencapai titik tertinggi sejak 1991, dengan jumlah sekitar 14,3 juta keping.</p>
<p>Namun Estonia jelas punya aura berbeda. Negara ini disebut-sebut sebagai negara paling digital di dunia. Sejak merdeka dari Uni Soviet pada 1991, Estonia ngebut mengembangkan ekosistem digital. Pada 1997, sebanyak 97 persen sekolah sudah online. Memasuki era Milenium, pertemuan dan rapat di pemerintahan sudah sonder kertas. Sejak 2005, negara beribukota Tallin ini mengenalkan e-voting. Tak heran kalau Wired <a href="http://www.wired.co.uk/article/estonia-e-resident" target="_blank" rel="noopener">menyebut</a> Estonia sebagai &#8220;The most advanced digital society in the world.&#8221;</p>
<p>Sekarang, mereka punya sistem bernama <a href="https://e-estonia.com/" target="_blank" rel="noopener">e-Estonia</a>, yang mengurusi hajat hidup penting macam kependudukan, keamanan, pajak, perbankan, pendidikan, hingga kesehatan, via online. Layanan ini bisa diakses 24 jam dalam sehari, 365 hari dalam setahun.</p>
<p>“Saat ini hanya pernikahan atau perceraian, dan menjual real estate yang tidak bisa dilakukan online. Lebih tepatnya, belum,” kelakar Tobias J. Koch, kepala Company Engagement e-Estonia.</p>
<p>Karena Estonia yang segala urusannya hampir bisa dilakukan via online, maka rasanya amat paradoks melihat poster bertuliskan <em>fuck digital</em> di pusat wisata Estonia. Tentu saja slogan itu hanya kelakar para <em>music snobbish</em>, walau ternyata di Estonia, segala yang berbentuk fisik memang masih dirayakan, walau memang tak sebesar apa-apa yang digital.</p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter size-large" src="https://scontent.fcgk12-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/36275065_10211332914791639_2103379401931489280_n.jpg?_nc_cat=0&amp;oh=83e6975eb0249a3aef1dcaccc38ddced&amp;oe=5BC7C35B" width="581" height="581" /></p>
<p>Di Kota Tua, saya bertemu duo pecinta musik usia 40-an, Morris dan Edward, yang punya gairah meluap jika bicara soal musik, terutama piringan hitam. Duo ini mengingatkan saya pada Dick dan Barry, duo penjaga toko piringan hitam di film <em>High Fidelity</em> (2000). Bedanya, Morris dan Edward tidak snob seperti Dick dan Barry.</p>
<p>Dengan sadar, dua orang sahabat ini membuka Tallin Old Town Records, yang masih berada di kawasan Kota Tua. Toko musik ini menempati sebuah bangunan seluas 3,5X6 meter. Ruangan itu diisi banyak peti dan kotak yang berisi piringan hitam. Laiknya toko musik yang menjual rekaman fisik, koleksinya dipilah berdasarkan genre.</p>
<p>Di sini, genre musik rock mendominasi. Ada yang dari era 60-an seperti Beatles, Rolling Stones, The Doors. Dari era 1980-an juga ada. Mulai dari Europe, Bon Jovi, Dokken, sampai Michael Jackson. Yang menarik adalah koleksi yang diletakkan di pojok ruangan: rilisan-rilisan Uni Soviet, lengkap dengan kover bertuliskan abjad Sirilik.</p>
<p>Eddward yang punya darah Rusia ini selalu antusias kalau bicara soal musik Soviet. Saat saya meminta rekomendasinya, Ia selalu bergegas. Memilih satu di antara ratusan koleksinya, lalu memutarkannya. Lalu Ia akan memasang mimik seolah bertanya: gimana, dahsyat kan musik dari negara adidaya zaman dulu?</p>
<figure id="attachment_4176" aria-describedby="caption-attachment-4176" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3.jpeg"><img loading="lazy" class="wp-image-4176 size-large" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-1024x768.jpeg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-1024x768.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-300x225.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-768x576.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-80x60.jpeg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-265x198.jpeg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-696x522.jpeg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-1068x801.jpeg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3-560x420.jpeg 560w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.30.05-3.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a><figcaption id="caption-attachment-4176" class="wp-caption-text">Edward semangat memberi kuliah Pugacheva 101, 2 SKS.</figcaption></figure>
<p>Namun tak ada yang paling memikatnya selain <a href="https://www.opendemocracy.net/od-russia/mikhail-loginov/queen-above-politics-alla-pugacheva" target="_blank" rel="noopener">Alla Pugacheva</a>. Dengan semangat ala tentara Merah yang menghajar habis Nazi, Edward mengisahkan tentang diva Soviet yang sudah merintis karier sejak 1965 ini. Sembari menyodorkan satu album Nyonya Pugacheva, Edward mulai bermonolog tentang perempuan yang dianugerahi Order For Merit to the Fatherland oleh pemerintah Rusia ini.</p>
<p>“She’s very, very, very, very, very, famous in Russia. Enggak ada orang yang enggak kenal Alla Pugacheva, bahkan sampai sekarang,” kata Edward.</p>
<p>Saya mengangguk dengan semangat. Antusiasme memang bisa menular, kawan. Saya meminta Edward memutar piringan hitam Pugacheva, sang diva yang, ujar Edward, sudah menikah lima kali, dan terbaru pada 2011, menikah di usia 62 tahun. “Dia keren banget kan?” kata Edward meminta persetujuan. Saya mengacungkan jempol.</p>
<p>Dari pengeras suara, terdengar suara Pugacheva yang memang tipikal penyanyi untuk kompetisi menyanyi: nyaris tak kenal fals. Suaranya lembut dan lempang. Musiknya cukup lintas genre, dari Balkan pop hingga elektronik. Dengan rentang musik yang luas itu dan tak ada kesusahan baginya beradaptasi, saya bisa mengerti kenapa Pugacheva berjudul Tsarina of Soviet Pop, dan memahami kenapa Edward mengucapkan very hingga lima kali. Pugacheva juga masih aktif menyanyi, termasuk di media sosial. Di Instagram, pengikutnya mencapai 1,5 juta orang.</p>
<p>Geliat piringan hitam Estonia tak hanya terjadi di Tallin, tapi juga di Tartu, kota terbesar kedua di Estonia sekaligus kota mahasiswa. Di sini, setidaknya ada tiga toko musik yang menjual album fisik. Yang paling terkenal ada dua, Gramophone Trees Records dan Psuhhoteek. Nama yang pertama lebih inklusif. Mereka banyak menjual album-album rock, metal, dan alternatif. Ada Manic Street Preachers, Franz Ferdinand, The Libertines, Foo Fighters, Motley Crue, hingga yang klasik macam gerombolan Beatles dan Stones. Sedangkan Psuhhoteek fokus ke rekaman langka rilisan Uni Soviet, tentu dengan harga yang agak sedikit lebih mahal.</p>
<p>Pemiliknya, Rob, amat ramah dan santai. Sewaktu saya datang jelang jam tutup, Ia masih membuka pintu lebar-lebar. “Kami harusnya nutup jam 3 sore, tapi karena kamu datang jauh-jauh, jadi santai saja,” katanya.</p>
<p>Di toko musik yang terletak di lantai dua sebuah kawasan hunian ini, tak hanya ada piringan hitam. Namun juga kaset dan CD. Harganya beragam. Untuk kaset dan CD, rata-rata 3 hingga 8 Euro. Sedangkan piringan hitam berkisar dari 8 hingga puluhan Euro, tergantung siapa artis dan albumnya. Untuk album langka, seperti album debut The Libertines <em>pressing</em> pertama, dijual sekitar 30 Euro.</p>
<p>Menurut Rob, penjualan piringan hitam di tokonya berjalan normal. Artinya, ya tidak sepi, tapi tak cukup untuk disebut spektakuler. Sehari-hari, ada saja beberapa orang yang belanja. Entah itu CD, kaset, atau piringan hitam. Sebagai kota mahasiswa, tempatnya juga sering kedatangan mahasiswa baru yang menggali lagi keasyikan mendengarkan piringan hitam.</p>
<p>Di laman Facebook, Gramophone Tree mendapat reputasi yang sempurna: 5 bintang dari 51 review. Rata-rata memuji keramahan Rob, juga betapa beragamnya koleksi di Gramophone Tree. Selain itu, mereka juga kerap memberikan diskon, bahkan piringan hitam gratis bagi mereka yang belanja dalam jumlah banyak.</p>
<p><span class="s1">“</span><span class="s2">This place is cool as shit and I encourage everyone to go there, the owner is pretty rad! There is a stunning collection of great cassette tapes and a bunch of fun vinyl records. I will be a regular from now on!” <a href="https://www.facebook.com/gramophonetree/" target="_blank" rel="noopener">tulis</a> salah satu pembeli.</span></p>
<a href="https://nuranwibisono.net/merayakan-musik-analog-di-negara-paling-digital/#gallery-4175-1-slideshow">Click to view slideshow.</a>
<p><span class="s3">Yang masih berada di tataran fisik tidak hanya piringan hitam dan toko musik. Namun juga radio. Saat berkunjung ke Raadio 2, saya cukup terkesima pengarsipan mereka. Di antara poster Lemmy Kilmister dan David Bowie, ada rak besar yang isinya adalah CD. Beberapa adalah kompilasi yang mereka buat. Banyak pula yang berasal dari band lokal. </span></p>
<p><span class="s3">“Iya, band-band masih banyak kok yang mengirimkan demo CD mereka ke sini, dan kami punya segmen yang memutar band-band independen baru,” ujar Maarja Merivoo-Parro, editor eksekutif Raadio 2.</span></p>
<p><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-4192 aligncenter" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-1024x768.jpeg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-1024x768.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-300x225.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-768x576.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-80x60.jpeg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-265x198.jpeg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-696x522.jpeg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-1068x801.jpeg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45-560x420.jpeg 560w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.48.45.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p><span class="s4">Raadio 2 adalah radio musik yang memutarkan musik pop dan rock. Target pasarnya adalah anak muda 15-29 tahun. Raadio 2 berada di bawah payung besar </span><span class="s3">Eesti Rahvusringhaaling (ERR), alias Estonian Public Broadcasting yang merupakan saluran penyiaran milik negara. ERR mencakup tiga saluran televisi dan lima radio.</span></p>
<p><span class="s3">Stasiun radio ini amat jauh dari bayangan saya soal radio negara. Kantornya amat ceria, lengkap dengan perabotan gaya Skandinavia yang warna-warni itu. Selain poster musisi, juga ada rak yang berisi buku-buku biografi para musisi besar. Dari Bowie sampai Springsteen. Program musiknya juga menarik. Dari Estonian Funk Embassy, hingga Metalion, yang dari namanya saja jelas genre apa yang diputar di sana.</span></p>
<figure id="attachment_4189" aria-describedby="caption-attachment-4189" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55.jpeg"><img loading="lazy" class="wp-image-4189 size-large" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-1024x768.jpeg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-1024x768.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-300x225.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-768x576.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-80x60.jpeg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-265x198.jpeg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-696x522.jpeg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-1068x801.jpeg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55-560x420.jpeg 560w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/WhatsApp-Image-2018-07-20-at-16.44.55.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a><figcaption id="caption-attachment-4189" class="wp-caption-text">Hello from King Lemmy!</figcaption></figure>
<p><span class="s3">Tentu saja sebagai radio publik, Raadio 2 mengutamakan kepentingan publik. Dalam hal ini: tidak melulu mengandalkan rekaman fisik. Sebagai sumber utama siaran, mereka mengandalkan layanan streaming, juga koleksi digital mereka. Yang tetap asyik, selain tetap menerima CD demo dari band-band baru, mereka<span class="Apple-converted-space"> </span>juga menyimpan segala arsip dari album fisik yang mereka punya.</span></p>
<p><span class="s3">“Yang dipajang memang cuma segini, yang lain masih ada di ruangan berbeda. Isinya sudah didigitalkan,” kata Maarja.</span></p>
<p><span class="s2">Mencari musik di Estonia memang menarik. Ia adalah perpaduan menarik antara nilai lama dan nilai baru. Di tengah semua yang serba digital, para penjaja musik masih tetap menyediakan pilihan analog yang menyimpan sisa-sisa nostalgia sekaligus superioritas kualitas rekaman. Sedangkan Raadio 2 tampak sebagai jalan tengah yang kompromis, dan mungkin yang terbaik. Mereka masih memberikan ruang bagi album fisik, sekaligus mengandalkan koleksi digital yang tentu saja ringkas dan praktis.</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/merayakan-musik-analog-di-negara-paling-digital/">Merayakan Musik Analog di Negara Paling Digital</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/merayakan-musik-analog-di-negara-paling-digital/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4175</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pergi ke Estonia</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pergi-ke-estonia/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pergi-ke-estonia/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2018 09:58:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Estonia]]></category>
		<category><![CDATA[Tallin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4156</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jadi ceritanya, minggu lalu saya baru datang dari Estonia. Di mana pula itu Estonia? Itu yang awalnya ditanyakan banyak orang. Bahkan sebelum saya pergi ke sana, saya cuma tahu Estonia [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pergi-ke-estonia/">Pergi ke Estonia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi ceritanya, minggu lalu saya baru datang dari Estonia. Di mana pula itu Estonia? Itu yang awalnya ditanyakan banyak orang. Bahkan sebelum saya pergi ke sana, saya cuma tahu Estonia itu di Eropa. Lain tidak.</p>
<p>Ngapain saya ke sana? Awalnya Windu kasih tahu soal beasiswa kursus singkat yang diadakan oleh Baltic Film, Media, Arts and Communication School dan Kementrian Luar Negeri Estonia. Kursusnya tentang jurnalistik dan media. Waktu itu syarat awalnya diminta CV dan surat motivasi.</p>
<p>Saya coba iseng mendaftar. Bikin surat motivasi &#8211;dibantu banyak sekali oleh Wan Ulfa dan Wisnu, dua kawan baik yang sekarang sedang sama-sama kuliah master di Inggris. CV juga saya perbarui, maklum terakhir bikin CV waktu melamar di Tirto.id, dua tahun lalu. Setelah dianggap beres, saya kirim ke panitia. Eh ternyata diterima.</p>
<p>Dari Indonesia, ada lima orang yang berangkat. Tiga di antaranya sudah saling kenal dengan baik: saya, Windu, dan Yandri. Dua lainnya adalah Reja Dalimunthe dan Priscilla Siregar. Kami berangkat beda waktu dan beda maskapai.</p>
<p>Saya dan Windu naik Turkish Air, berangkat tanggal 14 Juni. Iya, itu pas malam takbir. Sedih? Ndak juga sih. Cuma kebayang aja suasana malam takbiran di Jambi &#8211;tahun ini seharusnya saya mudik ke kampung Rani. Sampai di Istanbul pukul 4 pagi, langsung telepon Rani dan Mamak. Mohon maaf lahir batinan, dan cerita ngalor ngidul. Di Istanbul kami transit empat jam. Dari Istanbul ke Tallin, ibu kota sekaligus kota terbesar di Estonia, hanya ditempuh dalam waktu tiga jam.</p>
<p>Tallin adalah kota yang menyenangkan. Ia seluas 152 kilometer persegi, sedikit lebih luas ketimbang Tangerang Selatan, dan serupa dengan Sabang di Aceh, namun dengan penduduk sedikit: 450 ribu jiwa. Tallin punya satu area khusus berisi bangunan-bangunan dari abad pertengahan: Old Town. Kami suka menyebutnya Kota Tua.</p>
<p><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n.jpg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-4163 aligncenter" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n.jpg" alt="" width="640" height="640" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n.jpg 960w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n-150x150.jpg 150w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n-300x300.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n-768x768.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n-696x696.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35416009_10211253037994769_3723078334519705600_n-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p>Di Kota Tua, bangunan-bangunan tua dialihfungsikan tanpa mengubah bentuk. Ada yang dijadikan restoran bertema abad pertengahan. Ada pula yang jadi museum. Beberapa jadi toko buku maupun toko suvenir. Pusat keramaian Tallin ada di sini.</p>
<p>Di luar Kota Tua, ada keramaian yang berdenyut dengan caranya sendiri. Di Telliskivi yang digadang jadi kawasan kreatif Tallin, banyak anak muda berkumpul di sana. Saya datang di hari pertama, bareng Windu dan Berit Renser, perempuan asli Tallin kawan lama Windu yang pernah bermukim di Yogyakarta dan Solo.</p>
<p>Di Telliskivi ada banyak kantor perusahaan rintisan, kantor LSM, gudang yang disulap jadi toko barang antik, depo yang jadi kafe, juga gerbong kereta api yang jadi restoran. Di ruang terbuka, orang-orang merokok, main tenis meja, minum bir. Di speaker terdengar Jimi Hendrix, Led Zeppelin, hingga John Mayer.</p>
<p>Di sebuah kafe yang dulunya adalah gudang tua, kami berhenti. &#8220;Crosstown Traffic&#8221; menarik kami ke sana. Kami memutuskan duduk di luar. Di Tallin, musim panas kadang serupa mitos yang cuma diperbincangkan tapi tak diketahui kebenarannya. Angin kencang, suhu jadi 9 derajat celcius. Hangat, kata Berit. Tapi saya dan Windu yang mahluk tropis, sudah mengencangkan jaket.</p>
<p>Di konter pemesanan, saya pesan cokelat hangat, cocok buat cuaca yang dingin. Penjajanya, seorang perempuan muda dengan rambut semi mohawk warna-warni, bingung.</p>
<p>&#8220;Bir rasa cokelat ya?&#8221;</p>
<p>Saya menggeleng.</p>
<p>&#8220;Oooh, liquor rasa cokelat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan, cokelat hangat biasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oooh, I see.&#8221;</p>
<p>Lalu saya tanya ke Berit, kawan Windu yang baik hati sudah jadi pemandu kami, apakah pesan cokelat hangat di bar bukan hal yang umum. Ia menggeleng sambil tertawa.</p>
<p>&#8220;Apalagi musim panas begini, mana ada yang pesan cokelat hangat.&#8221;</p>
<p>Tallin memberi impresi awal yang lumayan kuat. Ia tipikal kota maju, dengan berbagai pilihan transportasi umum dan tempat jalan kaki yang luas. Namun ia juga sepi, dengan aura Groboganesque yang kental. Lengkap dengan bangunan-bangunan lawas tak terawat, kaca pecah, vandal, juga mural di sana- sini (sesuatu yang menyenangkan mata)</p>
<p><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n.jpg"><img loading="lazy" class="alignnone size-full wp-image-4159" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n.jpg" alt="" width="960" height="960" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n.jpg 960w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n-150x150.jpg 150w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n-300x300.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n-768x768.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n-696x696.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2018/07/35346485_10211253036914742_6404120693050441728_n-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></a></p>
<p>Di hari pertama, kami jalan kaki 13 kilometer. Rasanya ini rekor pribadi &#8211;di luar acara seperti Gerak Jalan Tanggul Jember sejauh 33 kilometer. Sampai di apartemen, rasanya kayak digebukin Babinsa.</p>
<p>Ini baru cerita awal. Nanti &#8211;kalau tak malas&#8211; akan ada cerita lanjutannya. Soal bagaimana mengajukan visa, juga kehidupan di Estonia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pergi-ke-estonia/">Pergi ke Estonia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pergi-ke-estonia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4156</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
