<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Iwan Fals Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/iwan-fals/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/iwan-fals/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 Apr 2022 16:34:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Kembang Pete</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/kembang-pete/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/kembang-pete/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2015 17:19:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Fals]]></category>
		<category><![CDATA[Kembang Pete]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2880</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di pekarangan depan rumah, Mamak menanam pohon petai. Ia tumbuh tinggi. Daun dan kembangnya lebat. Tapi tak berhasil menghasilkan buah sama sekali. Saya sering meledek pohon ini. Tapi toh Mamak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kembang-pete/">Kembang Pete</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Di pekarangan depan rumah, Mamak menanam pohon petai. Ia tumbuh tinggi. Daun dan kembangnya lebat. Tapi tak berhasil menghasilkan buah sama sekali. Saya sering meledek pohon ini. Tapi toh Mamak tak menebangnya hanya karena ia tidak berbuah. Bisa jadi karena buah petai sejatinya tidak lebih penting ketimbang kembang petai.</p>
<p>Sebab bagi Iwan Fals, kembang petai adalah tanda cinta abadi namun kere.</p>
<p>Tadi malam, di perjalanan menuju timur Jawa, Bang Jibal mendendangkan &#8220;Kembang Pete<span class="text_exposed_show">&#8220;. Saya menyanyi dalam hati. Beberapa jam setelahnya, saya menelpon Mamak. Ia baru saja sholat tahajud. Kami berbincang cukup lama. Saya rindu sekali dengan perempuan yang berani bertaruh nyawa demi anak-anaknya ini.</span></p>
<div class="text_exposed_show">
<p>Lagu &#8220;Kembang Pete&#8221; juga membuat saya rindu pada Rani. Beberapa lirik lagu itu membuat saya meringis. Iwan muda selalu bisa memahami kaum miskin yang berani jatuh cinta. Ia bisa paham betapa sedihnya sakit ketika uang di dompet nyaris tak ada. Atau terpaksa harus menjahit dagu karena kecelakaan, saat uang hanya cukup beli mie instan dan dua butir telur.</p>
<p>Sewaktu memutuskan untuk melamar Rani, saya tidak punya pekerjaan tetap. Ketika akhirnya punya gaji pertama, semua langsung ludes untuk membeli cincin kawin. Saya tak punya apa-apa, kecuali keberanian dan cinta&#8230; Taeeeeek!</p>
<p>Tapi hidup selalu menemukan jalannya masing-masing. Kami masih bisa bertahan dengan segala keterbatasan. Berusaha menguatkan saat ada yang melemah. Semoga selamanya begitu.</p>
<p>Saat halimun perlahan turun malam ini, saya kembali mendengarkan &#8220;Kembang Pete&#8221; sembari menyebarkan pikiran pada Mamak dan Rani, dua orang perempuan yang saya cintai sepenuh hati.</p>
<p><em>Semoga hidup kita bahagia.</em><br />
<em>Semoga hidup kita sejahtera.</em></p>
<p>*ditulis sembari terus diintip oleh mas Puthut*</p>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kembang-pete/">Kembang Pete</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/kembang-pete/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2880</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nyanyi Orang-Orang Kampungan</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/nyanyi-orang-orang-kampungan/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/nyanyi-orang-orang-kampungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2015 03:30:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Fals]]></category>
		<category><![CDATA[Kelompok Kampungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2856</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kelompok Kampungan adalah nama kelompok musisi yang nyaris serupa mitos. Nama mereka terus terdengar, dituturkan antar generasi, tapi tak banyak yang pernah melihat mereka bermain, terutama generasi pasca 80-an. Musik [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/nyanyi-orang-orang-kampungan/">Nyanyi Orang-Orang Kampungan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kelompok Kampungan adalah nama kelompok musisi yang nyaris serupa mitos. Nama mereka terus terdengar, dituturkan antar generasi, tapi tak banyak yang pernah melihat mereka bermain, terutama generasi pasca 80-an. Musik dan lirik mereka banyak diperbincangkan. Apalagi dandanan yang nyeleneh, kerap memakai sarung yang diselempangkan begitu saja. Dandanan orang kampung, kata mereka.</p>
<p>“Kampungan lahir dari orang kota yang mengartikan kampungan sebagai ungkapan dari ketidaksiapan, lugu, bodoh, kurang ajar, disharmonis, dan masih banyak lagi,” tulis Bram Makahekum dalam web milik Sawung Jabo.</p>
<p>Bram pula lah yang masih setia mengibarkan panji Kelompok Kampungan. Menengok ke belakang, banyak musisi beken yang berkarya di kelompok itu. Dua yang paling akrab, setidaknya bagi saya, adalah Inisisri dan Areng Widodo, yang lantas lebih dikenal sebagai partner Ian Antono dan Achmad Albar dalam menggarap album <em>Indonesian Art Rock</em>.</p>
<p>Setelah dilarang tampil oleh Orde Baru, kelompok ini seperti hilang ditelan bumi. Nama mereka kembali menarik perhatian sewaktu album <em>self titled</em> dan <em>Mencari Tuhan</em> dirilis ulang versi piringan hitamnya oleh Strawberry Rain, label asal Kanada yang banyak merilis ulang album-album <em>cult</em>.</p>
<p>Strawberry Rain merilis terbatas album itu, hanya 700 keping vinyl dan 1.000 CD. Di berbagai forum musik, piringan hitam Kelompok Kampungan dibanderol dengan harga mahal. Pernah satu keping dihargai hingga setengah juta. Strawberry Rain menyebut Kelompok Kampungan sebagai “…a progressive folk monster from Indonesia!”</p>
<p>Saya sendiri tak pernah benar-benar akrab dengan Kelompok Kampungan. Hanya mendengar lagunya sepintas lalu. Karena itu, sewaktu mendengar kabar bahwa mereka akan bermain di Taman Ismail Marzuki saya langsung antusias. Kebetulan pula ada seorang kawan yang memberikan tiket gratis. Klop!</p>
<p>Kelompok Kampungan akan berbagi panggung dengan Iwan Fals. Saya menduga akan banyak Orang Indonesia yang datang. Perkiraan saya benar. Saat saya datang, puluhan fans Iwan Fals sudah berkerumun di depan Graha Bhakti Budaya.</p>
<p>Pertunjukan ini patut dipuji dari segi ketepatan waktu. Jam 20.00, Bram dan personel lainnya sudah naik ke atas panggung. Tanpa banyak babibu, mereka langsung memainkan repertoar andalan yang sekaligus jadi nama album: “Mereka Mencari Tuhan”.</p>
<p>Ketika mendengar lagu ini dan melihat Bram mulai melantunkan lirik, saya jadi terbawa suasana. Membayangkan anak-anak muda yang berkumpul di pinggir pantai dan membuat api unggun.</p>
<p><em>Ada yang seperti SAWITO</em></p>
<p><em>Ada yang seperti HAMKA</em></p>
<p><em>Ada yang seperti HATTA</em></p>
<p><em>Ada yang seperti SUKARNO</em></p>
<p><em>Ada yang seperti RENDRA</em></p>
<p><em>Ada yang seperti BANG ALI</em></p>
<p><em>Ada yang seperti BUDHA</em></p>
<p><em>Ada yang seperti JESUS</em></p>
<p>Saya sempat mikir, kenapa tidak ada yang mirip Harto? Ah sudahlah.</p>
<p>Musik mereka sangat mengasyikkan. Beberapa orang mengatakan mereka adalah band Indonesia pertama yang memadukan musik pop dengan instrumen tradisional seperti kendang atau gong. Saya harus memeriksa lagi informasi itu. Tapi apapun itu, Kelompok Kampungan memang berhasil memadukan musik folk pop dengan alat musik tradisional, tanpa ada yang dianaktirikan. Sesekali, biola masuk ke pertengahan lagu dan mengambil alih pusat perhatian. Tak heran kalau Strawberry Rain menyebut mereka sebagai monster folk.</p>
<p>Di tengah penampilan, ada orasi budaya dari Radhar Panca Dahana. Ia duduk dan memberikan ceramah yang panjang, namun tajam dan menusuk. Beberapa kalimat malah terasa mengagitasi (dalam tone positif). Ia bahkan sempat menantang seorang penonton yang terus-terusan berisik.</p>
<p>“Berisik kok cuma di sana. Ke sini kalau berani!” tantangnya.</p>
<p>Ia memberikan pandangan yang menarik tentang generasi yang tumbuh besar di Orde Baru. Menurutnya, generasi itu tidak hanya tumbuh dengan ketakutan. Melainkan jadi generasi yang tumpul imajinasi. Sebab segala imajinasi atau pikiran yang nyeleneh tak bisa berkembang.</p>
<p>Dari kondisi itu, musisi seperti Kelompok Kampungan, INPRES, hingga Iwan Fals tumbuh dan membangkang. Lagu mereka banyak berkisah tentang kehidupan di sekitar, kehidupan orang-orang yang tertekan dan kalah.</p>
<p>Di lagu “Catatan Perjalanan”, misalkan. Bram, Joko Haryono, dan Dodo menuliskan kisah yang nyaris serupa dengan “Sarjana Muda” milik Iwan. Hanya saja, Kelompok Kampungan memilih jalan yang lebih tragis. Seorang anak SMA yang tak tahu apa-apa, ikut demonstrasi, dan berakhir dengan sebutir peluru yang merobek jidat.</p>
<p>Iwan Fals muncul di sepertiga bagian akhir. Kehadirannya tentu disambut tepuk tangan meriah dan teriakan membahana. Iwan tampil sederhana seperti biasa. Celana jeans, kaos polo, dan sepatu olahraga. Tapi Iwan tetaplah Iwan. Hanya dengan gitar bolong, suara, dan kharismanya, ia bisa menyihir penonton.</p>
<figure id="attachment_2858" aria-describedby="caption-attachment-2858" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan.jpg"><img class="wp-image-2858 size-full" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan.jpg" alt="iwan-fals_kampungan" width="800" height="600" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan.jpg 800w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan-300x225.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan-768x576.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan-80x60.jpg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan-265x198.jpg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan-696x522.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/10/iwan-fals_kampungan-560x420.jpg 560w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2858" class="wp-caption-text">Foto oleh: Andrey Gromico</figcaption></figure>
<p>Saya sudah lupa Iwan menyanyikan apa saja. Sialnya pula, saya tak sempat mencatat lagu-lagu yang dinyanyikan. Yang paling saya ingat adalah saat Kelompok Kampungan dan Iwan pura-pura mengundurkan diri dari panggung. Tentu itu strategi klasik untuk memancing antusiasme penonton.</p>
<p>Benar saja, Iwan muncul kembali dan menyanyikan “Bongkar”. Serempak, para penonton menyanyi bareng tanpa komando. Tak saya sadari, bulu kuduk mulai meremang. Sialan benar lagu ini. Saya pikir lagu ini akan kehilangan taji setelah dipakai untuk iklan kopi. Ternyata dugaan saya salah. Ketika dinyanyikan oleh Iwan, lagu ini masih tetap tajam dan menyengat. “Bongkar” kemudian disambung dengan lagu “Kalau” milik Kelompok Kampungan.</p>
<p>Dari sana, suasana menjadi sedikit canggung dan garing. Muncul seorang yang disebut dalang dan mulai mengobrol dengan para personel. Ada naskah di sana, itu jelas. Tapi masalahnya mereka tampak canggung dan beberapa personel bahkan lupa dialog. Penampilan itu jadi terasa lebih menyebalkan karena durasi yang panjang.</p>
<p>Kekurangan itu menggenapi beberapa kekurangan lain. Yang fatal tentu masalah tata suara sebelah kanan yang hidup segan mati tak mau. Beberapa orang penonton malah sempat teriak, “sound-nya juga kampungan!”</p>
<p>Iwan Fals juga tampil terlalu sebentar. Saya sedikit kasihan dengan Orang Indonesia yang rela membayar cukup mahal untuk menonton Iwan. Sang legenda hanya menyanyikan potongan “Bongkar” saja. Saat pertunjukan selesai, beberapa Orang Indonesia menggerutu. “Mengecewakan,” kata mereka. Seharusnya Kelompok Kampungan sedikit “peka” dengan membiarkan Iwan tampil menyanyikan barang dua tiga lagu. Atau paling tidak ya berkolaborasi.</p>
<p>Kelompok Kampungan seharusnya bisa lebih baik dalam mengemas pertunjukan ini. Penonton yang kebanyakan anak muda tak begitu mengenal mereka. Harusnya di sana mereka dikisahkan hikayat tentang Kelompok Kampungan. Sayang, kesempatan itu dilepaskan begitu saja. Padahal Bram pasti punya banyak kisah menarik. Seperti pelarangan tampil, kisahnya tampil di luar negeri, hingga dirilis ulangnya album mereka dalam bentuk piringan hitam oleh label asal Kanada.</p>
<p>Mungkin di pertunjukan yang lain, Om?</p>
<p><em>Post-scriptum: Pertama kali tayang di <a href="http://www.bolehmerokok.com/nyanyi-orang-orang-kampungan/">sini</a></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/nyanyi-orang-orang-kampungan/">Nyanyi Orang-Orang Kampungan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/nyanyi-orang-orang-kampungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2856</post-id>	</item>
		<item>
		<title>14 Tahun Menghilangnya Galang Rambu Anarki</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/14-tahun-menghilangnya-anarki/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/14-tahun-menghilangnya-anarki/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 10:28:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Galang Rambu Anarki]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Fals]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1391</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebagian besar tulisan ini adalah saduran dari tulisan Andreas Harsono, Dewa dari Leuwinanggung. *** Pria berkumis lebat dan berambut gondrong itu berdiri dengan gemetar. Perasaannya campur aduk. Saat itu tanggal [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/14-tahun-menghilangnya-anarki/">14 Tahun Menghilangnya Galang Rambu Anarki</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebagian besar tulisan ini adalah saduran dari tulisan Andreas Harsono, Dewa dari Leuwinanggung.</em></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Pria berkumis lebat dan berambut gondrong itu berdiri dengan gemetar. Perasaannya campur aduk. Saat itu tanggal 1 Januari 1982. Pria bernama Virgiawan Listianto itu merasakan perasaan aneh ketika menjadi ayah. Antara senang karena punya anak, heran, hingga munculnya rasa tanggung jawab untuk merawat anaknya. Pria yang berprofesi sebagai musisi itu lantas menamakan anaknya Galang Rambu Anarki. Nama itu juga dijadikan sebuah judul lagu dalam album <em>Opini</em>, yang dirilis pada tahun yang sama.</p>
<p>Lagu ini masih terdengar begitu indah sekaligus relevan hingga sekarang. Semacam ode ayah untuk sang anak tercinta yang dibumbui oleh kritik sosial. Kadar keindahan lagu ini mungkin bisa mengalahkan &#8220;Tears in Heaven&#8221;-nya Mr. Slowhand.</p>
<p><em>Galang Rambu Anarki anakku</em></p>
<p><em>Lahir awal januari menjelang pemilu</em></p>
<p><em>Galang Rambu Anarki dengarlah</em></p>
<p><em>Terompet tahun baru menyambutmu</em><br />
<em>Galang Rambu Anarki ingatlah</em></p>
<p><em>Tangisan pertamamu ditandai bbm</em></p>
<p><em>Membumbung tinggi (melambung)</em><br />
<em>Maafkan kedua orangtuamu kalau</em></p>
<p><em>Tak mampu beli susu</em><br />
<em>Bbm naik tinggi</em></p>
<p><em>Susu tak terbeli</em></p>
<p><em>Orang pintar tarik subsidi</em></p>
<p><em>Mungkin bayi kurang gizi (anak kami)</em><br />
<em>Galang Rambu Anarki anakku</em><br />
<em>Cepatlah besar matahariku</em></p>
<p><em>Menangis yang keras, janganlah ragu</em></p>
<p><em>Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku</em><br />
<em>Doa kami di nadimu</em><br />
<em> </em><br />
Galang tumbuh menjadi anak yang cerdas. Juga tampan. Endi Aras, seorang kawan bapaknya, bercerita kalau ia sering bermain tembak-tembakan dengan Galang. Muhammad Ma&#8217;mun, karib lain bapaknya, berkisah kalau ia menciptakan sejenis <em>imaginary friend</em> bernama Gringgong, seorang jagoan seperti Tarzan, untuk Galang. Dan cerita itu selalu ditagih Galang ketika Ma&#8217;mun datang ke rumah bapaknya.<br />
<em> </em><br />
Waktu berjalan, Galang pun tumbuh dewasa. Meski anak seorang musisi terkenal, Galang tak pernah hura-hura. Ia hanya minta uang buat naik taksi ke sekolah saja.</p>
<p>&#8220;Untuk beli-beli dia nggak punya uang,&#8221; ujar Iwan, panggilan akrab sang bapak.</p>
<p>Selayaknya remaja yang keras kepala, begitu pula Galang. Merasa memiliki bakat di bidang musik, Galang remaja memutuskan untuk berhenti sekolah dari SMP Pembangunan Jaya, sebuah sekolah swasta mahal di daerah Bintaro. Saat itu Galang masih berumur 14 tahun. Tapi dia sudah membuat rekamannya yang pertama bersama bandnya, Bunga.</p>
<p>Terlahir sebagai anak dari musisi terkenal ternyata tak membuat Galang serta merta bahagia. Pernah suatu kali ia kabur dari rumah. Semacam pelarian dari bayang-bayang sang bapak. Tapi dalam pelariannya, Galang merasa diawasi. Itu karena poster dan foto bapaknya ada di mana-mana. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah.</p>
<p>Iwan yang berprofesi sebagai musisi pernah memakai narkoba. Kebiasan buruk itu ditiru Galang. Awalnya hanya rokok, lantas berlanjut ke obat. Iwan hanya bisa menghela nafas. Saat itu dia sudah insyaf dan berhenti memakai obat. Lah ini kok sekarang anak pertamanya yang gantian memakai. Tapi saat itu Galang bilang kalau ia hanya sekedar mencoba.</p>
<p>&#8220;Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol dirinya sangat kuat,&#8221; terang Iwan.</p>
<p>Kebetulan juga saat itu Galang punya pacar bernama Inne Febrianti, seorang cewek gaul berparas rupawan yang usianya lebih tua 2 tahun dibanding Galang. Inne juga keberatan kalau Galang memakai obat-obatan. Ia mendorong Galang untuk berhenti. Dan sepertinya Galang memang berhenti memakai obat-obatan.</p>
<p>KAMIS malam 24 April 1997. Galang yang saat itu capai setelah latihan band, langsung pamit tidur setelah makan malam. Saat itu Rosana, sang ibu, sedang tidak enak badan.</p>
<p>Sekitar pukul 4.30 pagi hari, Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana masuk ke kamar Galang.</p>
<p>Bermaksud meminjam sisir, ia pun memanggil Galang. Tapi tak ada sahutan. Kelly lantas menghampiri Galang dan menggoyangkan badannya. Tak ada respon. Kelly kaget dan langsung mengetuk kamar Yos, panggilan akrab Rosana.</p>
<p>Yos pun langsung bangun dan menuju kamar Galang. Saat itu badan Galang sudah dingin.</p>
<p>Galang meninggal dunia.</p>
<p>Iwan saat itu terpukul sekali. Pagi itu juga saudara-saudara berdatangan. Ma&#8217;mun masih tidak percaya kalau Galang sudah meninggal.</p>
<p>&#8220;Saya masih tidur, antara percaya dan tidak percaya,&#8221; ujar Ma&#8217;mun.</p>
<p>Kepada Ma&#8217;mun lah Iwan berkesah.</p>
<p>&#8220;Jagain mas, jagain anak-anak mas,&#8221; kata Iwan dengan lirih. Ia seperti terhantam kenyataan bahwa ia belum bisa jadi bapak yang baik.</p>
<p>Ketika memandikan jasad Galang pun, ia kembali berujar pedih, &#8220;Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum&#8230; Lang, kamu sudah selsai, Papa yang belum&#8230;&#8221; Kalimat itu diujarkan berkali-kali.</p>
<p>Setelah pemandian jenazah selesai, muncul masalah. Iwan yang saat itu sedang emosional dan berada di titik teredah dalam hidupnya, ingin Galang dimakamkan di rumah.</p>
<p>Ia pun menelpon Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk menanyakan bagaimana hukum agama memakamkan orang di rumah. Gus Dur yang saat itu belum jadi presiden Indonesia pun menjelaskan bahwasanya dalam aturan Islam, diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Lokasi pemakaman tergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga.</p>
<p>Tapi saat itu Gus Dur menjelaskan kalau di Jakarta tidak bisa memakamkan jenazah di rumah sendiri karena lahan yang terbatas.</p>
<p>&#8220;Di Jakarta nggak boleh&#8230; Kalau Bogor boleh,&#8221; ujar Gus Dur. Entah apa alasan Gus Dur menyebut Bogor.</p>
<p>Akhirnya Iwan memutuskan bahwa Galang akan dimakamkan di Leuwinanggung. Jenazah Galang disemayamkan terlebih dahulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 orang jemaah yang shalat di masjid itu juga ikut menyembahyangkan Galang.</p>
<p>Kematian Galang yang mendadak dan misterius sempat menimbulkan desas desus tidak jelas. Ada yang bilang Galang meninggal karena overdosis. Gosip itu diperkuat dengan kondisi tubuh Galang yang kurus ceking. Tapi tak pernah ada yang tahu apa penyebab kematian Galang. Tapi Yos berkata bahwa Galang meninggal karena asma.</p>
<p>Iwan sendiri mengatakan fisik Galang agak lemah dan ia lemah di pencernaan.</p>
<p>Yos berkata bahwa &#8220;pemberontakan&#8221; Galang adalah bentuk protes terhadap Iwan yang terlalu sibuk hingga sedikit mengabaikan keluarganya. Yos sendiri tampak lebih tabah menghadapi meninggalnya putra pertama mereka. Sedang Iwan lebih terpukul dan menyesal.<br />
&#8220;Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil,&#8221; ujar Iwan di suatu wawancara medio 2002 silam.</p>
<p>Iwan mengatakan meninggalnya Galang seperti menjadi cermin instropeksi bagi dirinya. Ia selalu berkaca pada tragedi yang memilukan itu.</p>
<p>&#8220;Kematian Galang membuat saya lebih menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya,&#8221; kata Iwan.</p>
<p>Kehilangan itu lantas dijadikan semacam bara semangat untuk dirinya dalam bermusik.</p>
<p>&#8220;Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya gak berani&#8230; rasanya disini senep&#8230; apalagi kalau kenangan itu datang&#8221; kisah Iwan.</p>
<p>Kehilangan memang tak pernah mudah.</p>
<p>BUNGA adalah nama band bentukan Galang. Band yang dibentuk pada tahun 1996 ini terpengaruh oleh warna musik Stone Temple Pilots, Suede, hingga Pearl Jam. Tipikal musik alternatif yang saat itu meraja. Formasi awalnya saat itu adalah Tony, Nial, Galang, Oka, dan Eri. Single mereka yang terkenal adalah &#8220;Kasih Jangan Kau Pergi&#8221;, sebuah balada romantis yang penuh pengharapan. Lagu cinta sederhana dengan denting piano dan suara Tony yang serak-serak basah.</p>
<p>Sayang, sebelum Bunga merilis album, Galang keburu berpulang. Tapi Bunga tetap jalan terus. Album pertama mereka keluar pada tahun 1997. Bertajuk <em>Untukmu Galang</em>, album ini dipersembahkan untuk almarhum Galang.</p>
<p>Album debut ini berhasil terjual sebanyak 500 ribu keping, angka yang cukup banyak untuk sebuah band baru.</p>
<p>Album kedua yang berjudul <em>Ojo Ngono</em> dirilis pada tahun 2000 dan berhasil terjual sebanyak 60 ribu keping. Lagu &#8220;Ojo Ngono&#8221;, bahasa Jawa yang artinya Jangan Begitu, sempat masuk ke berbagai tangga lagu.</p>
<p>Lagu dengan intro yang <em>memorable</em> dan lirik yang mudah diingat, berhasil membuat Bunga kembali muncul ke permukaan. Tidak lagi dianggap sebagai, &#8220;Oh, bandnya Galang Rambu Anarki, anaknya Iwan Fals itu toh.&#8221;</p>
<p>Formasi Bunga saat itu sudah berubah. Galang, Oka, dan Eri keluar. Mereka digantikan oleh Anda Perdana, Deden, dan Arthur.</p>
<p>Belakangan Anda jadi jauh lebih terkenal karena menjadi salah satu pengisi OST Ada Apa Dengan Cinta dan jadi cameo di film yang mengorbitkan Nicholas Saputra dan Dian Sastro itu.</p>
<p>Tahun 2009 dia malah membuat album solo yang dipuji banyak kritikus,<em> In Medio.</em></p>
<p>Bunga lantas merilis album ketiga bertajuk <em>Bunga 3</em>. Saat itu Tony sedang menjalani rehabilitasi. Tampuk vokalis lantas diserahkan pada Anda. Sayang, album ini tidak begitu terdengar gaungnya.<br />
Tahun 2008, Bunga berencana membuat album baru. Tapi hingga sekarang album itu belum juga keluar. Hanya ada beberapa single yang pengerjaannya dibantu oleh Didit Saad.</p>
<p>Sepertinya nasib Bunga tak sebagus Anda.</p>
<p>***</p>
<p>TADI siang seorang teman mengingatkan bahwa ulang tahun blog saya bertepatan dengan tanggal kematian Galang. 25 April. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk membaca dan menekuni kembali tulisan Andreas Harsono mengenai Iwan Fals yang berjudul <em>Dewa Dari Leuwinanggung</em>.</p>
<p>Pada tulisan sastrawi nan memukau ini, ada sebuah bagian dimana Andreas menulis mengenai Galang. Bagian itulah yang menjadi sumber tulisan ini. Saya semacam membaca tulisan itu, menambahkan imajinasi saya, lantas menuliskannya lagi.</p>
<p>Bagian kecil di tulisan itu ternyata jauh lebih membantu ketimbang sumber manapun mengenai Galang. Tak ada sumber lain yang kompeten jika berbicara mengenai Galang. Yang ada hanya kesimpang siuran. Malah beberapa ada yang mengatakan Galang itu meninggal tahun 1996.</p>
<p>Sedang mengenai Bunga, saya hanya punya sedikit kenangan mengenai band ini. Tadinya saya berusaha membongkar memori kolektif saya mengenai band berumur pendek ini. Tapi gagal. Akhirnya saya memutuskan mencari di internet, dan menemukan blog Bunga serta fans page di Facebook. Sepertinya cukup untuk menjadi bumbu penyedap obituari singkat ini.</p>
<p>Di luar sore sedang mendung. Sudah 14 tahun berlalu, apa kabarmu Galang?</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/14-tahun-menghilangnya-anarki/">14 Tahun Menghilangnya Galang Rambu Anarki</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/14-tahun-menghilangnya-anarki/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>13</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1391</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
