<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Jember Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/jember/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/jember/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jun 2017 07:37:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>2005</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/2005/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/2005/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jun 2017 07:15:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Sma Arjasa]]></category>
		<category><![CDATA[Smaja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3964</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemarin waktu membersihkan kotak surel, saya menemukan surel dari Fahmi. Isinya adalah pindaian buku kelulusan SMA. Saya lupa pernah dikirimi email ini. Setelah saya unduh, saya buka satu-satu. Bikin tertawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/2005/">2005</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin waktu membersihkan kotak surel, saya menemukan surel dari Fahmi. Isinya adalah pindaian buku kelulusan SMA. Saya lupa pernah dikirimi email ini. Setelah saya unduh, saya buka satu-satu. Bikin tertawa kecil, sekaligus meringis geli. Isi buku itu adalah definisi kenorakan masa muda yang memalukan.</p>
<p>Saya menghabiskan 3 tahun masa SMA di SMA Arjasa. Biasa disingkat Smaja. Arjasa adalah salah satu nama kecamatan di Jember. Letaknya berbatasan dengan Bondowoso. Karena itu pula, Smaja kerap diledek sebagai SMA pinggiran. Letak sekolah ini tepat di depan terminal Arjasa, dan bersebelahan dengan lapangan Arjasa yang luas bukan buatan itu. Kalau sering diledek sebagai SMA pinggiran, kami sering membalas: SMA kami punya terminal dan lapangan sendiri. Mana ada SMA lain di Jember yang punya fasilitas semewah itu?</p>
<p>Pertimbangan saya memilih SMA ini sederhana saja: dekat dari rumah. Saya cukup berjalan kaki sekitar 10-15 menit. Sudah bosan sejak TK sekolah saya jauh terus. Bersekolah di Smaja, artinya saya bisa bangun lebih siang dan tak perlu terburu-buru.</p>
<p>Secara prestasi akademik, Smaja berada di peringkat tengah. Semenjana. Ia jelas bukan jujugan bagi siswa berprestasi akademis. Namun sejak awal berdiri di tahun 1990-an, Smaja dikenal sebagai sekolah yang unggul di bidang ekstra kurikuler. Kami punya tim basket kuat, tim sepak bola yang tangguh, para pendaki gunung pemberani, anggota <a href="http://www.kompasiana.com/acacicu/santi-sang-paskibraka-indonesia-tahun-1996_552affd7f17e61d75fd623e4">paskibra yang sudah sampai tingkat nasional</a> (hingga sekarang, Santi Dwi Setyaningrum, adalah siswa Jember pertama dan satu-satunya, yang menjadi paskibraka Nasional. Santi menjadi paskibraka nasional tahun 1996), dan tim bridge yang <a href="http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_detail/590/Piala-Rektor-Universitas-Surabaya--Bridge-Jember-Juara-Umum.html">disegani</a>.</p>
<p>Saya masuk Smaja tahun 2002, lulus 2005. Bagi yang belum tahu, untuk SMA tahun angkatan diambil dari tahun kelulusan. Sedangkan di kuliah, tahun angkatan adalah tahun masuk. Di kelas 1, saya duduk di kelas 1.2, setahun berikutnya duduk di kelas 2.1, dan saat kelas 3 saya masuk ke IPS 2. Sewaktu memilih jurusan di kelas 3, kami, para siswa, diharuskan mengisi pilihan 1 dan 2. Untuk pilihan 1, saya jelas mengisi IPS. Pilihan ke 2? Tetap IPS. Ngotot <em>puol</em>.</p>
<p>Jurusan IPS memang jadi primadona, terutama bagi anak-anak bandel yang biasanya langsung migrain kalau kena hantam rumus Fisika atau Kimia atau Matematika. Kelas IPS juga dianggap lebih santai ketimbang IPA, yang suasananya tampak seperti kamp tawanan perang. Karena cuma ada 2 kelas IPS, maka kuotanya terbatas. Saya sampai sekarang tidak tahu bagaimana para guru mengambil keputusan siapa yang harus masuk IPS dan siapa yang masuk IPA.</p>
<p>Pilihan masuk IPS ini sempat ditentang oleh, siapa lagi kalau bukan, ayah. Menurutnya, masuk IPS jadi mempersempit pilihan kuliah. Dengan kata lain: anak IPS nyaris mustahil masuk kuliah jurusan Biologi, atau Kimia, atau Kedokteran. Sedangkan kalau masuk IPA, kamu bisa memilih jurusan mana pun, termasuk Ekonomi atau Ilmu Sosial dan Politik atau Sejarah atau manapun.</p>
<p>Tapi perdebatan itu usai setelah saya bilang: saya tidak tertarik jurusan lain selain pariwisata dan sastra. Ayah pun menurut, mengingat ia paham betul anaknya ini imbisil dalam hal hitung-hitungan.</p>
<p>Di kelas 3 IPS 2 itu saya menemukan kebahagiaan. Tentu ada cerita sedih dan tak enak. Tapi semua tertutup oleh rasa senang. Kalau diceritakan, wah bisa panjang sekali. Mulai dari hobi lompat tembok sekolah, naik gunung, mengirim salam lewat radio (ketahuan umurnya), sampai gelut rame-rame melawan angkatan adik kelas di lapangan basket. Benar kata orang, masa SMA itu masa paling menyenangkan.</p>
<p>Tahun 2005 saya lulus dari Smaja. Mengejutkannya, nilai Ujian Nasional saya cukup baik. Terutama di mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Setelah lulus, saya masuk ke jurusan Sastra Inggris Universitas Jember. Kuliah di sana menyenangkan, dengan aneka jenis kawan baru. Dengan tingkat tekanan yang lebih berat ketimbang SMA. Makanya saya lulus 6 tahun. Hehe.</p>
<p>Kemarin malam saya baca-baca ulang buku alumni. Cita-cita saya adalah jadi orang sukses dan petualang seperti Indiana Jones. Yang pertama belum kesampaian, yang kedua jelas tidak bakal kesampaian. Di buku itu, tukang desain salah menuliskan nama saya. Harusnya Aunurrahman, jadi Ainurahman. Kampret. Dulu saya sering dipanggil Spiderman karena jago meloncat tembok sekolah yang tinggi itu. Mungkin karena badan saya dulu kurus dan mungil, jadi lebih ergonomis. Kalau sekarang disuruh manjat tembok, mungkin saya mati duluan.</p>
<p>Kesan dan pesan saya jelas tak penting. Cenderung bikin geli. Sebenarnya kesan pesan saya lumayang panjang, tapi ruangnya tak cukup. Yang saya ingat adalah: <em>janganlah kamu nonton VCD porno, karena kualitas gambarnya jelek. Mending DVD saja, kualitas dan resolusinya lebih apik!</em> Jelas saja kalimat itu tak lolos sensor.</p>
<p>Beberapa kawan, seperti Ade Defrizal, dikerjai. Di pertengahan Caturwulan kelas 3, Ia mengalami kecelakaan. Menabrak mobil box yang parkir di pinggir jalan. Giginya rontok beberapa butir. Sejak itu Ade dipanggil Bogang, menemani julukan Keceng yang selama ini sudah melekat karena badannya yang kurus. Di buku alumni itu, Ia menulis pesan, &#8220;Tolong carikan gigi saya yang hilang, saya siap menerima sedot lemak.&#8221; Tentu saja itu bukan Ade yang menulis. Saat Ade akhirnya tahu, Ia tak bisa apa-apa kecuali lemas dan misuh-misuh.</p>
<p><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003.jpg"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-3971 aligncenter" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003.jpg" alt="" width="1821" height="504" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003.jpg 1821w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003-300x83.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003-768x213.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003-1024x283.jpg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003-696x193.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003-1068x296.jpg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2017/06/IMG_0003-1518x420.jpg 1518w" sizes="(max-width: 1821px) 100vw, 1821px" /></a></p>
<p>Sudah 12 tahun sejak saya lulus SMA. Iya, tua. Ada banyak perubahan yang terjadi pada kami, juga sekolah. Sekarang Smaja jadi Sekolah Standar Nasional. Sangar kan? Prestasi akademis mereka bagus, begitu pula ekstra kurikulernya. Mereka tak lagi menyandang julukan sekolah pinggiran. Tentu saja ada banyak yang dikorbankan. Para muridnya harus lebih disiplin. Hobi lompat tembok, bolos, dan kegiatan negatif-tapi-amat-membahagiakan itu sudah harus hilang. Apa boleh buat tak ada yang abadi kecuali perubahan.</p>
<p>Tapi waktu di buku alumni tak akan berubah. Ia seperti membekukan kami di tahun 2005. Di dunia nyata, sudah ada di antara kami yang meninggal. Tapi di buku alumni, kami kekal, tak bertambah tua. Benar kata Pram, apa yang tertulis akan abadi. Ia takkan padam ditelan angin. Begitu pula catatan di buku alumni. Ia akan terus hadir. Senantiasa jadi pengingat betapa norak dan memalukannya kita dulu.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/2005/">2005</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/2005/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3964</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mudik ke Jember</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/mudik-ke-jember/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/mudik-ke-jember/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2015 07:18:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Cak No Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Sis Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Mudik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2752</guid>

					<description><![CDATA[<p>Grup band Arkarna memang tak pernah merasakan mudik. Tapi mereka paham betul apa yang dirasakan oleh kaum pemudik: so little time so much to do. Ada banyak yang ingin dikerjakan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/mudik-ke-jember/">Mudik ke Jember</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Grup band Arkarna memang tak pernah merasakan mudik. Tapi mereka paham betul apa yang dirasakan oleh kaum pemudik:<em> so little time so much to do</em>. Ada banyak yang ingin dikerjakan, tapi waktunya terlalu sedikit.</p>
<p>Begitu pula mudik saya dan Rani tahun ini.</p>
<p>Awal mula mudik, kami sempat bingung. Perkaranya adalah moda transportasi. Tiket kereta api menuju Surabaya sudah ludes beberapa jam setelah dibuka. Naik pesawat, kami masih ketakutan karena beberapa tragedi yang belum lama berselang. Pilihan terakhir adalah naik bus.</p>
<p>&#8220;Tapi awas kecirit lagi lu,&#8221; kata Panjul, salah seorang kawan, menakut-nakuti. Kampret.</p>
<p>Sebenarnya saya sudah mendaftar mudik gratis untuk awak media. Disediakan oleh sebuah perusahaan gas milik negara. Saya mendaftar untuk dua orang dengan tujuan Surabaya. Rencananya kami mudik bareng Miko. Tapi karena gentar, ditambah ketakutan macet yang mengular &#8211;tahun lalu seorang teman bercerita harus menghabiskan dua hari di jalan untuk mudik ke Surabaya&#8211; saya akhirnya membatalkan diri ikut mudik dengan bis. Tiket saya akhirnya diambil alih oleh Aang dan Totok, dua orang kawan saya yang lain.</p>
<p>Kami akhirnya, dengan berat hati, memilih untuk naik pesawat. Kebetulan pula dapat harga yang lumayan miring. Plus, dengan kartu kredit, tiket itu bisa dicicil sampai 12 kali. Jadi lebaran tahun depan baru lunas. Dasar orang miskin. Hahaha.</p>
<p>Begitu sampai Jember, tanggal 14 siang, kami tak bisa langsung santai-santai. Ada banyak sekali agenda. Saya sih pengen nongkrong bareng teman-teman lama. Tapi ternyata masih banyak yang di rantau, belum pulang.</p>
<p>Tapi saya sempat bertemu dengan kawan-kawan masa kecil. Ada David, Pandu, Fajar, Real, dan Ade. Sayang, Kiki alias abang saya, berhalangan hadir. David, Pandu, Fajar, dan Real sudah jadi PNS. Satu di Jember dan tiga yang lain di Jakarta. Kami banyak ngobrol soal kerjaan dan juga hidup setelah lepas kuliah. Malam yang menyenangkan.</p>
<figure id="attachment_2754" aria-describedby="caption-attachment-2754" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000.jpg"><img loading="lazy" class="wp-image-2754 size-full" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000.jpg" alt="David, Pandu, Saya, Real, Ade, Fajar" width="700" height="523" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000.jpg 700w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000-300x224.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000-80x60.jpg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000-265x198.jpg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000-696x520.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150720-WA0000-562x420.jpg 562w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2754" class="wp-caption-text">David, Pandu, Saya, Real, Ade, Fajar</figcaption></figure>
<p>Tanggal 16 saya bersua beberapa kawan SMA. Itu pun tak lama. Hanya beberapa jam saja. Pun, tak semua hadir. Kami sempat merencanakan ketemu lagi setelah lebaran. Sayang, seorang kawan harus dinas, dan yang lain harus mudik ke luar kota. Saat semuanya sudah tak sibuk, saya yang tak bisa datang karena ada rencana pergi ke Bali.</p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150717-WA0000.jpg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2755 size-full" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150717-WA0000.jpg" alt="IMG-20150717-WA0000" width="700" height="560" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150717-WA0000.jpg 700w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150717-WA0000-300x240.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150717-WA0000-696x557.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG-20150717-WA0000-525x420.jpg 525w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a></p>
<p>Omong-omong soal Bali, ini adalah rencana lama yang sudah tertunda lebih dari setahun. Sewaktu awal menikah, dulu kami sempat merencanakan bulan madu. Tapi manusia bisa berencana, Tuhan akan menertawakan. Kami tak sempat bulan madu.</p>
<p>Barulah menjelang mudik itu saya tawarkan pada Rani: mau ke Bali naik motor? Rani setuju. Saya menjadwalkan ke Bali setelah reuni SMA. Ndilalah, reuni SMA gagal. Pfffttt.</p>
<p>Namanya rencana yang sudah dipatok jauh-jauh hari, ya ndak boleh meleset lagi. Maka tanggal 20 Juli, kami berdua naik motor ke Bali. Capek? Iya. Menyenangkan? Sangat. Selama empat hari tiga malam di Bali, kami pindah-pindah hotel agar tak bosan. Semua dapat harga miring karena promo dan tetek bengek lain.</p>
<figure id="attachment_2756" aria-describedby="caption-attachment-2756" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150805_140051.jpg"><img loading="lazy" class="wp-image-2756 size-full" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150805_140051.jpg" alt="IMG_20150805_140051" width="700" height="394" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150805_140051.jpg 700w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150805_140051-300x169.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150805_140051-696x392.jpg 696w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2756" class="wp-caption-text">Sekali-kali narsis bareng bini</figcaption></figure>
<p>Seumur hidup, Rani baru tiga kali ke Bali. Yang pertama waktu masih SD. Naik bis dari Jambi hingga Bali. Buset, perjuangan bener. Kali kedua, dia pergi bersama kawan-kawan kantornya. Sekira 4 atau 5 tahun lalu. Ketiga, ya bulan madu kemarin itu.</p>
<p>Kami lumayan terhibur dengan perjalanan di Bali itu. Banyak makan makanan enak. Ayam betutu Gilimanuk. Nasi pedas Andika. Nasi ayam Ibu Oki. Si Rani banyak belanja untuk buah tangan. Kami juga sempat menghabiskan sore di Kuta. Beralas kain bali dan minum bir. Melihat matahari tenggelam. Biar lengkap jadi turisnya.</p>
<figure id="attachment_2757" aria-describedby="caption-attachment-2757" style="width: 600px" class="wp-caption aligncenter"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150721_144157.jpg"><img loading="lazy" class="wp-image-2757 size-full" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150721_144157.jpg" alt="IMG_20150721_144157" width="600" height="800" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150721_144157.jpg 600w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150721_144157-225x300.jpg 225w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/IMG_20150721_144157-315x420.jpg 315w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a><figcaption id="caption-attachment-2757" class="wp-caption-text">Nasi ayam Bu Oki yang membuatmu rela mati muda</figcaption></figure>
<p>Di Bali kami juga sempat ngopi dengan Kak Pito. Beliyo yang dikenal sebagai penerjemah handal &#8211;hei kapan selesai <em>Satanic Verse</em>-nya?&#8211; sudah dua atau tiga tahunan ini tinggal di Bali. Dulu di Ubud. Sekarang tinggal di perbatasan Ubud-Denpasar. Saya sendiri sudah lama sekali ndak ketemu cewek berambut pendek ini. Terakhir ketemu bareng sama Mas Hadid. Nonton film <em>Djam Malam</em> di Senayan, medio 2012. Ini kali pertama Rani ketemu dengan perempuan yang punya anjing bernama Tuhan ini.</p>
<p>Kami <em>nggosip</em> ini dan itu. Diakhiri dengan makan enak di daerah Sanur. Tahu-tahu sudah jam 2 pagi. Sampai hotel ndak sempet bikin anak. Langsung ambruk, ngorok.</p>
<p>Gara-gara perjalanan ini, saya dan Rani punya pikiran pengen pindah ke sana. Sejak dulu sebenarnya kami tak begitu menempatkan Jakarta sebagai kota ideal. Lagipula mana ada manusia waras yang punya keberanian menetapkan Jakarta sebagai kota favorit.</p>
<p>Ancang-ancangnya, tiga atau empat tahun lagi kami akan pindah ke kota dengan skala yang lebih kecil, skala kemacetan yang nyaris nihil, dan biaya hidup yang jauh lebih murah. Entah itu di Jogja, Surabaya, Malang, Jember, atau Bali. Doakan saja keinginan ini terkabul.</p>
<p>Sama seperti lagu Arkarna tadi, ada begitu banyak kegiatan yang tak bisa dilakukan karena keterbatasan waktu. Saya dan Rani tak sempat melakukan banyak hal di Jember dan Bali.</p>
<p>Saya tak sempat makan rujak Madura langganan, tak sempat mampir ke Apong, tak ketemu dengan banyak teman SMA, gak bisa ngopi dengan teman-teman lain, pun hanya bisa bertemu dengan beberapa orang saudara, dan Rani tak sempat beli oleh-oleh. Di Bali ia belum puas jalan-jalan. Sampai sekarang, ia masih suka membuka tempat-tempat wisata Bali.</p>
<p>&#8220;Dua minggu lalu kita sedang makan nasi ayam,&#8221; katanya kalau sedang kumat kangen sama Bali.</p>
<p>Oh ya, kami semua sempat mudik ke Lumajang. Silaturahmi ke Bude Padmi. Tahun ini pasti berat bagi beliau. Ini tahun pertamanya tanpa Pakde. Pasti sangat kehilangan. Di Lumajang saya ketemu dengan Kak Lia dan Mbak Dira, istrinya. Kak Arif dan Kak Rani sedang di luar rumah waktu itu.</p>
<p>Yang lucu, kami awalnya mau mudik ke Lumajang dengan motor. Tapi batal karena dianggap tidak efektif. Akhirnya dipinjami mobil oleh Tante Indah. Masalah muncul: siapa yang nyetir? Di keluarga saya, yang bisa nyetir mobil cuma Kiki. Itu pun ugal-ugalan, dan gak punya surat izin mengemudi.</p>
<p>Rani akhirnya dipasrahkan untuk jadi supir. Saya sempat waswas. Ia memang mahir menyetir. Tapi gak punya SIM. Untunglah perjalanan lancar. Walau Rani nyetirnya pelan-pelan karena takut Mamak dan dua adik panik. Haha. Malam itu dipungkasi dengan makan malam, dan saya yang numpang kamar mandi di rumah temen Orin karena kebelet ngising. Hahaha.</p>
<p>Kunjungan yang patut dijadikan bahasan adalah sowan ke Tegalboto. Kok kebetulan pula, pas saya mau ke sana, sudah ada Arys dan Fuk Widi. Kami membawa istri masing-masing. Kali ini dengan buntut: Arys dan Rani &#8211;nama istri Arys juga Rani, kami berencana membuat paguyuban Suami Rani&#8211; membawa Ilona yang lucu dan menggemaskan itu, kemudian Fuk Widi dan Tina membawa Tulis, bocah lelaki yang suka sekali tersenyum.</p>
<p>Senang sekali ketemu Arys dan Fuk Widi. Meski sama-sama tinggal di Jakarta, saya dan Arys susah sekali bertemu. Jakarta memang benar kota yang kejam. Bahkan ketemu kawan lama pun susah sekali. Sedangkan Mas Widi, desainer handal ini tinggal di Gresik. Tambah susah lagi ketemunya.</p>
<p>Seperti biasa, kalau sudah berkumpul begini, kami nostalgia. Menatap ruang redaksi yang sekarang sangat kotor dan berdebu. Tanda jarang ada kehidupan atau aktivitas di sana. Sedikit sedih sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Kehendak zaman. Zeitgeist, kata orang pintar.</p>
<p>Dulu di ruangan itu, kami sibuk menulis, mendengarkan lagu, menonton video musik, hingga Miko, yang menurut pengakuan Fino, pernah pernah kepergok melakukan sesuatu di sana sembari menonton video Sora Aoi.</p>
<p>Di atas jam dinding, masih berjejer foto-foto para filsuf dan pemikir. Mereka yang bukunya kami baca sembari mengurut kepala. Foto mereka sudah dirambati jaring laba-laba. Tak ada yang mau repot-repot membersihkannya. Oh ya, konon ada sebab kenapa foto para filsuf dan pemikir itu diletakkan di atas jam dinding.</p>
<p>&#8220;Itu artinya pemikiran dan karya seseorang itu melampaui waktu,&#8221; ujar Mas Romdhi, yang katanya menirukan ucapan Mas Sigit. Dua-duanya senior kami.</p>
<p>Saya yang waktu itu masih sangat hijau hanya mengangguk-angguk saja. Sedangkan Arman Dhani asyik makan kerupuk sembari ngeremuti ceker.</p>
<p>Ada yang tak lengkap kalau ke Tegalboto tapi tidak bertemu dengan Mister Kandar. Tapi lelaki menyenangkan itu tak ada di Tegalboto. Saya cari dia. Ternyata ada di UKM Reog. Menonton televisi sendirian sembari bertelanjang dada.</p>
<p>&#8220;Masih ingat saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inget lah. Kamu kan Nuran.&#8221;</p>
<p>Saya tersenyum. Tajam ingatannya tak menumpul sama sekali. Maka ia pun beranjak ke Tegalboto. Bersalaman dengan Arys, Mas Widi, Tina, dan dua orang Rani. Seperti kebiasaannya sejak dulu, ia selalu mengenalkan diri pada orang baru.</p>
<p>&#8220;Nama saya Nandar. Dulu waktu SD namanya Kusnandar,&#8221; katanya lancar sembari senyam senyum.</p>
<p>Siang makin tua. Kami kelaparan. Berencana makan siang di sebuah warung dekat Tegalboto. Kami pun berpamitan pada Cak Kandar.</p>
<p>&#8220;Mana THR-nya?&#8221; katanya jenaka.</p>
<p>Saya ketawa ngakak. Kami pun memberikan sedikit rejeki, sembari berpetuah: jangan dibuat mabuk lho Cak! Dia mengangguk saja. Sebelum benar-benar pulang, kami menyempatkan diri berswafoto bersama.</p>
<p><strong><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/12.jpg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2760 size-full" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/12.jpg" alt="12" width="700" height="394" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/12.jpg 700w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/12-300x169.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/08/12-696x392.jpg 696w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cak Kandar langsung membalikkan diri. Menampakkan tulisan besar di baju bagian belakang. Tulisannya besar: KOMUNIS JEMBER. Hahahaha.</p>
<p>Setelah dari Bali, saya dan Rani hanya punya satu hari tambahan di Jember. Itu saya patok sebagai malam keluarga. Kami berencana makan di luar. Sudah lama sekali tidak makan bareng-bareng. Apalagi sekarang Orin sudah kerja. Shasa, si bungsu, sedang KKN di antah berantah. Tambah susah kumpul dan makan bersama.</p>
<p>Makan malam keluarga ini dinodai dengan insiden tolol, karena Orin tidak bisa membedakan mana Cak Sis dan mana Cak No. Hahaha.</p>
<p>Sekadar pendapat, Cak No sudah lewat masa kejayaannya. Entah kenapa, ia terasa malas berinovasi. Jenis masakan sea food yang ia jual hanya punya dua varian: asam manis dan mentega. Ini sama sekali membosankan. Apalagi yang mentega, nyaris tak ada rasanya. Hanya sekedar bawang putih dicacah dan diberi mentega.</p>
<p>Di sisi lain, Cak Sis yang dulu berada di bawah Cak No perihal kepopuleran, kini meroket. Mereka punya banyak jenis varian. Yang paling saya suka adalah varian sea food masak telur asin. Kaya rasa. Tak heran kalau sekarang Cak Sis membuka cabang baru yang megah di pusat kota.</p>
<p>Saat saya dan Rani harus pulang ke Jakarta, kami meninggalkan banyak kegiatan yang tak sempat dilakukan. Sedikit waktu. Terlalu banyak yang dikerjakan. Aduh. Tapi tetap saja, kami senang dengan mudik tahun ini. Semoga kesenangan ini terus jadi abadi. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/mudik-ke-jember/">Mudik ke Jember</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/mudik-ke-jember/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2752</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua Toko Kaset Terakhir di Kota Jember</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2015 08:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blur]]></category>
		<category><![CDATA[Cangkrukan]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa 19]]></category>
		<category><![CDATA[Is This It]]></category>
		<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Kaset]]></category>
		<category><![CDATA[Melody]]></category>
		<category><![CDATA[Muse]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pandawa Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Pinokio]]></category>
		<category><![CDATA[Poison]]></category>
		<category><![CDATA[Radiohead]]></category>
		<category><![CDATA[Senam Kesehatan Jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[The Darkness]]></category>
		<category><![CDATA[The Strokes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1048</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu, saat pulang ke Jember, saya menyempatkan mampir ke toko kaset Melody dan Metal. Itu adalah dua toko kaset yang tersisa di Jember. Saat masa jaya kaset, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/">Dua Toko Kaset Terakhir di Kota Jember</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr">
<div>
<p>Beberapa hari lalu, saat pulang ke Jember, saya menyempatkan mampir ke toko kaset Melody dan Metal. Itu adalah dua toko kaset yang tersisa di Jember. Saat masa jaya kaset, ada banyak sekali toko kaset di Jember. Tapi yang paling terkenal ada tiga: Pinokio, Metal, dan Melody.Uniknya, ketiga toko kaset ini berada dalam ruas jalan yang sama.</p>
<p>Saya pertama mampir ke Melody. Toko ini pernah jadi toko kaset terbesar di Jember. Berdiri sejak 1986, toko ini berdiri dengan modal yang besar. Karena itu bisa sangat ekspansif.</p>
<p>Semasa masih laris, Melody sampai punya tiga cabang. Salah satunya ada di Johar Plaza Jember, atau orang Jember menyebutnya sebagai Matahari.</p>
<p>Saya membayangkan koleksi kaset Melody masih banyak. Sewaktu terakhir berkunjung ke sini tahun 2010-an, koleksi kasetnya masih banyak. Sayang, harganya masih tetap normal. Saya sebagai mahasiswa tak bisa belanja sesuka hati.</p>
<p>Sebelum datang ke Melody, saya sudah membayangkan kaset-kaset yang akan saya borong. Warrant. Bon Jovi. Cinderella. Steelheart. The Black Crowes. Wah, saya gembira.</p>
<p>Tapi kecewa segera datang karena ternyata Melody sudah tak jual kaset lagi.</p>
</div>
<div>&#8220;Itu tinggal yang ada di sana,&#8221; ujar Cik Linda, pemilik Melody, sembari menunjuk rak di ujung toko.</div>
<div>
<p>Buyar semua bayangan kaset yang akan saya beli. Dengan langkah gontai saya berjalan ke pojokan. Melewati beberapa tape deck dan headsetnya. Dulu, ada banyak orang duduk di kursi dan mencoba kaset sembari mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>Koleksi kaset Melody tinggal beberapa ratus. Jauh menurun ketimbang dulu yang mencapai ribuan kaset.</p>
<p>&#8220;Dulu karena saya distributor Billboard, saya setiap tahun diundang ke acara penghargaan musik di Jakarta,&#8221; kata Cik Linda.</p>
<p>Saya melongok kaset yang tersisa. Ada Mike Tramp, albumnya <em>Remembering White Lion</em>. Sama sekali tak menarik. Ada pula kaset<em> Greatest Hits Blondie</em>, saya sudah punya, mengambil dari koleksi kaset Mas Taufiq beberapa tahun silam.</p>
<p>Sempat mau mengambil kaset Tracy Chapman, mata saya terbentur oleh kaset berwarna biru pucat, dengan garis kuning di pinggir kiri.</p>
<p><em>To Records Only Water for Ten Days by John Frusciante.</em></p>
<p>Saya akhirnya mengambil kaset ini. Saya suka John Frusciante, tentu karena karya-karyanya bersama Red Hot Chili Peppers. Beberapa kali saya mendengarkan proyek solonya. Cukup menyenangkan didengar, walau tak sampai meninggalkan kesan mendalam.</p>
<p>Di kasir, saya sempat ngobrol dengan Cik Linda yang turun tangan langsung. Cik Linda, yang merupakan generasi kedua pemilik toko, adalah orang yang ramah. Ia selalu menyiapkan air mineral gelas dan sekantung permen untuk para pembeli.</p>
<p>&#8220;Sekarang omzet jauh menurun. Sekarang tinggal 25 persen saja,&#8221; kata Cik Linda.</p>
<p>Saya membayangkan di masa kejayaan Melody. Andai toko ini beromzet Rp 10 juta per bulan, sekarang hanya mendapat Rp 2,5 juta per bulan. Berat sekali memang. Ini berpengaruh besar pada jumlah karyawan yang ia punya.</p>
<p>&#8220;Dulu ada lima karyawanku, sekarang cuma dua,&#8221; katanya.</p>
<p>Sekarang Melody banyak menjual CD dan VCD original. Walau koleksinya juga tak terlalu mengagumkan. Pembelinya adalah orang-orang bermobil yang masih setia memutar cakram di dalam mobil. Selain itu, kaset-kaset pengajian dan burung berkicau juga masih lumayan laris. Malah menempati rak paling depan di dalam toko.</p>
<p>&#8220;Sudah lama mau ganti bisnis, tapi masih terkendala modal,&#8221; kata Cik Linda.</p>
<p>Saya sempat menanyakan apakah ia menjual Walkman, ternyata ia sudah tak ada. Dulu Walkman adalah salah satu barang yang laris manis di Melody.</p>
<p>&#8220;Coba kamu ke Metal, siapa tahu ada,&#8221; ujar Cik Linda.</p>
<p>Saya menyebrang jalan. Iya, Melody dan Metal memang cuma dipisah seruas jalan saja. Benar-benar berhadapan. Tapi setahu saya mereka tak pernah saling sikut.</p>
<p>Metal dimiliki oleh satu keluarga besar Tionghoa. Selain kaset, mereka juga membuka usaha fotografi dengan nama yang sama. Usaha fotografinya cenderung tahan lama. Sampai sekarang masih ada dan tetap besar. Tokonya pas di samping Melody.</p>
</div>
<div></div>
<div><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/02/B80fJAYCAAAshqF.jpg"><img loading="lazy" class=" aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/02/B80fJAYCAAAshqF.jpg" alt="" width="400" height="300" border="0" /></a></div>
<div></div>
<div>
<p> Metal sudah banyak berubah. Dulu toko ini mentereng dengan cat warna putih yang cemerlang, dan papan nama besar berlampu neon. Sekarang, cat pudar dan lampu neon sudah lama mati. Temboknya pun dimamah lumut.Om Willy, pemiliknya, adalah satu-satunya karyawan yang tersisa. Ia menyilahkan saya melihat kaset-kaset yang tersisa.&#8221;Masuk ae, lihat-lihat,&#8221; ajaknya sembari membuka pintu.</p>
<p>Koleksi kaset Metal sekarang jauh lebih sedikit ketimbang Melody. Dulu, Metal sempat berjaya. Maklum, toko kaset ini pecahan dari toko kaset yang lebih lama, Pinokio. Toko kaset itu sudah ada sejak tahun 70-an. Bisa dibilang toko kaset pertama di Jember. Nama awalnya adalah Maranz. Entah kenapa diubah jadi Pinokio.</p>
<p>Pinokio merupakan tempat bersejarah bagi saya. Masih lekat dalam ingatan, sepulang dari Johar Plaza, kami sekeluarga berjalan kaki. Saya melihat poster promo album <em>Pandawa Lima</em> milik Dewa 19. Beberapa malam sebelumnya, saya melihat video klip &#8220;Kirana&#8221; yang tampak aneh, sekaligus mengagumkan. Musiknya enak.</p>
<p>Saya meminta kaset itu, dan ayah dengan senang hati mengabulkannya. Jadilah Pandawa Lima sebagai kaset pertama yang saya punya.</p>
<p>Tapi Pinokio lantas pecah kongsi. Om Willy akhirnya mendirikan toko kaset baru, Metal pada tahun 1983. Pinokio sendiri lebih dulu menemui ajal. Ia bangkrut sekitar 3-4 tahun lalu.</p>
<p>Saya menengok koleksi kaset di rak Metal. Tak ada yang istimewa. Ada beberapa album Blur, Muse, Radiohead, tapi tak saya ambil karena bukan favorit saya. Plus, saya sudah punya beberapa album mereka. Hasil merampok mas Taufiq. Hehe.</p>
<p>Lalu ada pula kaset-kaset Senam Kesehatan Jasmani. Saya sempat tergoda membelinya karena pernah membaca tulisan mas Budi Warsito soal kaset senam ini. Dalam tulisan itu, seakan-akan lagu senam zaman Orde Baru ini begitu menghipnotis dan membuat kita otomatis bersemangat.</p>
<p>Tapi saya ternyata tak sehipster mas Budi, jadinya batal membeli kaset ajaib ini.</p>
<p>Pilihan akhirnya diputuskan sewaktu melihat kaset <em>Native Tongue</em> milik Poison. Ini album keren. Kebetulan saya belum punya kaset ini. Langsung saja saya sambar.</p>
<p>Saat mau membayar, lha kok ndilalah saya lihat album <em>Permission to Land</em>-nya The Darkness. Ini album yang menyelamatkan rock n roll di awal tahun 2000. Iya, album ini. Bukan album <em>Is This It</em> milik The Strokes yang biasa saja itu.</p>
<p>Akhirnya saya beli dua album itu. Harganya masih harga lama. Native Tongue dihargai Rp 19 ribu, Permission to Land Rp 23 ribu. Lebih murah ketimbang harga kaset di Melody.</p>
<p>Selepas membayar, saya sempat menengok bagian dalam Metal. Bagian kanan toko, yang dulu dipenuhi kaset lintas genre, kini dipenuhi oleh pigura foto dan kardus-kardus berisi pigura dan album foto.</p>
<p>&#8220;Ya sekarang lebih banyak bantu-bantu kakak di studio foto sih,&#8221; kata Om Willy.</p>
<p>Saya tak pernah membayangkan bisa menjadi saksi surutnya sebuah kebudayaan, sebuah cara menikmati musik. Iya surut, bukan mati total. Di Jakarta, kini sedang demam mendengarkan kaset kembali. Tata niaga kaset bekas kembali menggeliat. Beberapa band bawah tanah juga mulai kembali merilis album dalam bentuk kaset. Walau dalam skala kecil.</p>
<p>Tapi di Jember, kota kecil berjarak ratusan kilometer dari Jakarta, mendengarkan musik melalui kaset sepertinya sudah akan menemui ujungnya. Gaung bangkitnya kaset di Jakarta, seperti tak terdengar di sini.</p>
<p>Melody dan Metal kini seperti sedang menghela satu-dua napas terakhir. Sebelum akhirnya menunduk kalah dan menutup tirai. []</p>
</div>
<div></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/">Dua Toko Kaset Terakhir di Kota Jember</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1048</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
