<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Pariwisata Musik Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/pariwisata-musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/pariwisata-musik/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 May 2016 06:32:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Pariwisata Musik: Servis</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 May 2016 12:18:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariMenulis]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3639</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang membuat pariwisata musik, dalam hal ini festival musik, jadi menarik, selain tentu saja perkara musik? Salah satunya adalah servis. Dalam festival musik, menurut Connel dan Gibson yang dianggap [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/">Pariwisata Musik: Servis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang membuat pariwisata musik, dalam hal ini festival musik, jadi menarik, selain tentu saja perkara musik? Salah satunya adalah servis. Dalam festival musik, menurut Connel dan Gibson yang dianggap sebagai mbah soal pariwisata musik, servis bisa mencakup jadwal pertunjukan, peta lokasi, hingga tersedianya booth makanan dan minuman di dalam lokasi acara.</p>
<p>Banyak festival musik kelas dunia yang menggabungkan atraksi musik dan kuliner. Misalkan Opera in the Otways yang menggabungkan antara festival opera, makanan enak, wine, dan bir buatan rumah. Begitu pula dengan Mildura Jazz, Food, and Wine Festival yang sudah berlangsung selama 30 tahun. Pengeluaran penonton festival musik pun kebanyakan ya untuk makanan, minuman, juga merchandise.</p>
<p>Di luar negeri, penjualan makanan dalam festival musik adalah kesempatan untuk mencari laba yang besar. Di Venice Festival of Contemporary Music, harga tiketnya gratis. Namun harga makanan dan minuman selalu lebih mahal dibandingkan dengan hari biasa. Makanan yang beranekaragam juga berperan untuk membuat para penonton betah. Karena sifat festival yang berlangsung dalam waktu yang panjang, makanan dan minuman adalah faktor penting yang menahan penonton untuk tetap berada dalam tempat acara.</p>
<p>Berapa jumlah pengeluaran yang dihabiskan oleh pengunjung untuk makanan dan minuman? Sayangnya, hal ini susah dijawab secara akurat. Sebabnya, pengunjung biasanya menjawab rentang pengeluaran, bukan jumlah pasti. Dan biasanya pengeluaran yang disebutkan oleh pengunjung lebih kecil dibandingkan pengeluaran sebenarnya. Dari penonton yang saya wawancara, rata-rata menghabiskan pengeluaran Rp200 ribu dalam sehari.</p>
<p>Kalau berdasar rumus dari Connel dan Gibson, cara mudah menghitung pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah dengan mengambil rata-rata pengeluaran dikalikan jumlah pengunjung. Itu kenapa statistik jumlah penonton sangat penting.</p>
<p>Pada tahun 2015, Java Jazz diperkirakan ditonton oleh 110.000 orang selama tiga hari. Semisal tiap penonton menghabiskan Rp200 ribu, maka jumlah pengeluaran untuk makanan dan minuman adalah Rp22 miliar. Hanya dari makanan dan minuman saja. Andai nominal itu menyetor pajak 10 persen saja, maka paling tidak Pemprov DKI mendapatkan Rp2,2 miliar hanya dari satu acara.</p>
<p>Selain makanan dan minuman, suvenir juga menjadi pemasukan yang menguntungkan bagi penyelenggara festival. Namun sayang penyelenggara Java Jazz membatasi jumlah suvenir yang diproduksi. Salah satu suvenir paling popular di Java Jazz adalah kaos. Pada 2015, penyelenggara memproduksi kaos sebanyak 6.000 helai dengan harga Rp150 ribu. Kaos itu selalu terjual habis. Ini artinya ada pemasukan Rp900.000.000 dari kaos.</p>
<p>Menurut Americans for the Arts (2002), pengeluaran terbesar wisatawan budaya adalah untuk biaya servis. Biaya servis terbesar adalah makanan dan minuman, kemudian diikuti oleh suvenir. Ini artinya, sebuah festival musik yang potensial menjadi wisata musik (dan menjadi bagian dari wisata budaya), perlu memperhatikan sektor servis.</p>
<p><em>Post scriptum: ini nukilan tesis saya yang membicarakan tentang pariwisata musik dengan contoh kasus Java Jazz. Kalau sudah selesai ujian, bentuk pdf-nya akan saya sebar gratis. </em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/">Pariwisata Musik: Servis</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3639</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pariwisata Musik</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2015 19:47:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Music Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah saya tulis di beberapa kesempatan, saat ini saya sedang menulis tesis tentang pariwisata musik di Indonesia. Sudah masuk tahap akhir. Semoga bulan depan semua sudah kelar. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik/">Pariwisata Musik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti yang sudah pernah saya tulis di beberapa kesempatan, saat ini saya sedang menulis tesis tentang pariwisata musik di Indonesia. Sudah masuk tahap akhir. Semoga bulan depan semua sudah kelar. Saya juga sudah jenuh dan capek dikejar urusan kampus. Hehe.</p>
<p>Tentu saja saya tak ingin meracau tentang penggarapan tesis di tulisan ini. Apa yang ingin saya bagi adalah sekilas tentang pariwisata musik.</p>
<p>Pariwisata musik adalah bagian dari <em>new tourism</em>, pariwisata baru. Bisa dibilang gerakan itu adalah pemberontakan atas kejumudan pariwisata lawas yang salah satu cirinya adalah <em>mass tourism</em>. <em>New tourism</em> biasanya bersifat personal. Wisatawan &#8211;terutama berusia muda&#8211; mencari wisata yang sesuai dengan hobi atau kesukaannya. Maka lahirlah berbagai bentuk wisata baru. Mulai dari ekowisata, wisata alam liar, hingga wisata musik.</p>
<p>Sejak kapan wisata musik ada? Sebelum sampai ke sana, perlu digarisbawahi bahwa industri pariwisata masih relatif baru. Meski perjalanan sudah ada sejak nabi Adam diturunkan ke dunia dan dikutuk mencari Hawa. Industri pariwisata bisa dikatakan mulai berkembang di negara-negara industrialis abad ke 17. Pencetusnya adalah institusi yang disebut Grand Tour.</p>
<p>Institusi ini adalah sekumpulan orang-orang elit seperti mahasiswa, pejabat, dan para pedagang besar. Mereka jamak berpergian keliling Eropa untuk mencari pendidikan terbaik sekaligus juga rekreasi. Saat itu fokus dari Grand Tour adalah sastra, arkeologi, dan arsitektur. Musik hanya mengambil sedikit bagian.</p>
<p>Wisata musik mulai berkembang di Eropa pada abad ke 19. Para agen perjalanan kala itu sudah mulai mempromosikan musik-musik opera. Di Venesia misalnya, ada banyak band dari kesatuan militer untuk menghibur para wisatawan. Di Napoli, para pemain musik bayaran mulai muncul saat festival-festival diadakan.</p>
<p>Pertunjukan musik klasik seperti ini adalah bentuk pertama pariwisata musik. Sejak saat itu wisata musik perlahan mulai berkembang. Terutama setelah Perang Dunia I dan era Great Depression. Pasca dekade 60-an, di mana transportasi makin beragam dan seperti melipat jarak, wisata musik semakin menemukan tempatnya.</p>
<p>Secara sederhana, wisata musik dapat diartikan sebagai berpergian ke suatu tempat dengan tujuan dan atau alasan musik. Baik itu mendatangi festival dan konser musik, datang ke tempat bersejarah, hingga ke makam para musisi legendaris. Mulai dari menonton festival Glastonbury, menyambangi Abbey Road, atau berziarah ke makam Jim Morrison.</p>
<p>Wisata musik sekarang dianggap sebagai kekuatan ekonomi penting bagi kota-kota kecil. Salah satu bentuk paling populer dari wisata musik adalah festival musik. Seiring dengan berkembangnya wisata musik, festival juga turut berkembang. Bahkan beberapa kota mengadakan festival musik sebagai acara wisata tahunan. Hal ini dikarenakan festival musik bisa jadi identitas bagi kota yang tidak punya destinasi wisata unggulan</p>
<p>Salah satu contoh paling menarik adalah Liverpool, kota industri dan pelabuhan di Inggris. Paska dekade 60-an, Liverpool mengalami krisis karena pabrik dan pelabuhan sudah mulai dikuasai oleh tenaga mesin. Akibatnya sumber daya manusia menjadi tidak dibutuhkan. Hal ini membuat jumlah pengangguran meningkat dengan drastis.</p>
<p>Pada dekade 80-an, keadaan sosial ekonomi warga Liverpool sudah semakin compang-camping. Pemerintah mulai mencari cara baru untuk melakukan pemulihan ekonomi. Akhirnya pemerintah kota Liverpool fokus kepada pariwisata musik sebagai pendongkrak ekonomi kota.</p>
<p>Hal ini wajar, sebab Liverpool dikenal sebagai kota kelahiran Beatles, salah satu band terbesar di dunia. Karena itu kota ini punya banyak situs-situs bersejarah yang berkaitan dengan Beatles. Sejak kematian vokalis Beatles, John Lennon, pada tahun 1980, kunjungan wisatawa ke kota Liverpool guna mendatangi situs-situs Beatles semakin meningkat. Lalu mulailah Liverpool mengemas diri sebagai kota kelahiran Beatles. Liverpool telah sukses &#8220;menjual&#8221; Beatles untuk jadi brand baru bagi kota tersebut.</p>
<p>Di luar Beatles, Liverpool juga punya beberapa festival musik skala internasional yang selalu sukses mendatangkan ribuan wisatawan.</p>
<p><strong>Baca Buku Apa?</strong></p>
<p>Sebenarnya, jika dibandingkan dengan kajian pariwisata lain, referensi wisata musik masih amat minim. Sejak tiga tahun lalu saya mulai berburu referensi, hanya ada belasan buku atau tesis tentang wisata musik. Sangat jauh jika dibandingkan dengan, misalkan, ekowisata atau wisata budaya. Ada ratusan buku dan kajian soal itu.</p>
<p>Dari jumlah yang sedikit itu, saya sangat menyarankan anda untuk membaca buku <em>Music and Tourism: On the Road Again</em> karya dua akademisi Australia, Chris Gibson dan John Connel. Buku ini mengupas secara tuntas mengenai pariwisata musik. Mulai dari<em> virtual tourism</em>; <em>musical landscape</em>; musik dalam kajian pasar, ekonomi, sosial, dan pariwisata; hingga pembahasan mengenai musik dan identitas keaslian suatu daerah. Kawasan kajiannya pun sangat luas, mencakup nyaris semua benua: Amerika, Eropa, Afrika, hingga Asia.</p>
<p>Ada juga tesis milik Concepcion Regidor Rivero yang berjudul <em>Impacts of Music Festival on Tourist’ Destination Image and Local Community</em> yang diterbitkan pada 2009. Rivero membahas mengenai dampak festival musik terhadap pembentukan citra dan identitas baru suatu daerah. Rivero menyatakan bahwa festival musik berpengaruh besar, terutama pada bisnis loka. Ia juga mengkaji mengenai bagaimana sebuah festival musik bisa mengangkat peran serta dan memberdayakan komunitas lokal.</p>
<p>Selain Rivero, referensi cukup bagus mengenai pariwisata musik berasal dari Richard Bret Campell yang menuliskan paper berjudul<em> A Sense of Place: Examining Music-based Tourism and its Implication in Destination Venue Placement </em>(2011). Paper itu meneliti tentang pariwisata berbasis musik dan hubungannya dengan perkembangan manusia, agama, hingga politik.</p>
<p>Selain itu ada beberapa kajian lain yang cukup menarik. Mulai dari Daniels Bowen yang menulis<em> Does the Music Matter? Motivation for Attending a Music Festival. Event Management</em>; S. Cohen yang menulis beberapa paper tentang Beatles dan industri musik di Merseyside, hingga Irina Krupnova yang menulis tentang pengaruh<em> line up</em> terhadap jumlah penonton dalam festival musik.</p>
<p>Oh ya, kalau anda suka statistik &#8211;kalau ahli, tolong ajari saya sekalian&#8211; anda perlu membaca laporan dari UK Music tentang festival musiknya. Laporan mereka sangat dahsyat. Menampilkan data yang komprehensif dan dikemas dalam bentuk yang sangat pop. Dengan warna yang menarik mata dan penjelasan yang sangat cemerlang.</p>
<p>Britania Raya memang yang terdepan kalau bicara soal wisata musik. Bahkan mereka punya lembaga khusus bernama UK Music untuk mendokumentasikan apapun terkait wisata musik. Lembaga itu bekerja sama dengan Universitas Oxford untuk membuat kajian tentang wisata musik. Dari sana, kita bisa membaca tentang jumlah pengunjung tiap tahun, negara mana saja yang paling banyak dikunjungi, hingga kontribusi terhadap ekonomi lokal. Kajian UK Music tahun 2015 bisa dibaca dan diunduh <a href="http://www.ukmusic.org/research/music-tourism-wish-you-were-here-2015/">di sini</a>.</p>
<p>Di lain kesempatan, mungkin saya akan menulis sedikit tentang beberapa hasil penelitian saya. []</p>
<p><em>Post-scriptum: Kalau anda tak bisa menemukan referensi yang saya sebutkan, sila tulis alamat email anda di kolom komentar. Nanti akan saya kirim beberapa referensi tentang wisata musik.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik/">Pariwisata Musik</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pariwisata-musik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>22</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2901</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
