<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Fuji Rock Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/fuji-rock/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/fuji-rock/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2026 09:44:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Catatan dari Fuji Rock 2025 #2</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 09:23:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=6008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kenapa Fuji Rock?  Jawabannya punya dua kata kunci yang saling bertaut: pengalaman dan reputasi. Kata kunci pertama: pengalaman. Umumnya, motivasi terbesar orang datang ke festival musik tentu saja adalah musik/ [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Kenapa Fuji Rock? </span></p>
<p>Jawabannya punya dua kata kunci yang saling bertaut: pengalaman dan reputasi.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata kunci pertama: pengalaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umumnya, motivasi terbesar orang datang ke festival musik tentu saja adalah musik/ bintang tamu, seperti yang pernah ditulis Bowen dan Daniels (2005). Tapi buatku dan jutaan orang yang pernah mengunjungi Fuji Rock, festival yang sudah diadakan sejak 1997 ini sudah melampaui soal bintang tamu dan perkara musik.  </span><span style="font-weight: 400;">Fuji Rock berhasil memadukan keasyikan kemping, keindahan alam, ramah anak dan keluarga, dan tentu saja kuratorial musik yang jarang gagal. </span><span style="font-weight: 400;">Mau cerah, mau hujan, mau badai, semua menghasilkan cerita seru. Hasilnya: pengalaman dan kenangan yang menyenangkan. </span></p>
<p>Kata kunci kedua: reputasi.</p>
<p>Ini yang agak tricky. Di banyak buku manajemen, petuahnya jelas: membangun itu mudah, menjaga lebih susah. Ini berhasil dijalankan oleh Fuji Rock. Berjalan nyaris tiga dekade, Fuji Rock berhasil menjaga reputasi sebagai festival musik yang inklusif, ramah anak dan lansia, rapi, juga teratur. Ini pada akhirnya saya saksikan sendiri, mulai dari akses yang mudah, pilihan genre musik yang beragam, dan yang juga mengesankan: kebersihan dan keteraturannya.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain: Fuji Rock berhasil membangun (dan menjaga) reputasinya secara gemilang. Hasilnya berkelindan dengan kata kunci pertama, bahwa orang akan tertarik datang karena reputasi baik Fuji Rock akan menjamin pengalaman yang mengasyikkan.</span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika aku menelusuri riwayat percakapan di WhatsApp, keinginan untuk pergi ke Fuji Rock sudah tertanam bahkan sejak 2019 silam. Seperti biasa, orang yang paling sering kurongrong adalah Rani. Tapi dia juga orang paling realistis soal rencana-rencanaku yang kerap kali lebih mirip khayalan, atau bahkan igauan siang bolong, ketimbang rencana yang diperam hingga matang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seiring aku yang semakin sering ngoceh soal Fuji Rock ke Rani di malam-malam jelang kami tertidur, semakin kuat keinginanku. Maka, pada 2023, aku mencanangkan: aku mau pergi ke Fuji Rock 2025, entah sendiri, atau bareng Rani, atau bareng kawan lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika akhirnya memutuskan akan pergi di 2025, aku tak peduli siapa yang akan jadi penampil. Waktu membuat tabungan di awal 2024, tentu saja belum ada pengumuman line up untuk 2025. Reputasi Fuji Rock membuatku percaya ini adalah festival yang layak disambangi kalau mampu, terlepas dari siapa yang bermain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, akan selalu ada orang yang mau saja menyambut ajakan bodoh, sama seperti di film-film </span><i><span style="font-weight: 400;">buddies</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">coming of age.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dan dalam kasus ini, kawan yang dengan senang hati mau ikut petualangan kurang akal ini adalah Faisal Irfani. Nanti kapan-kapan kuceritakan soal Ical –panggilan kesayangan kawan-kawannya untuk pria tetangga Jokowi ini.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-6012 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-582x1024.jpeg" alt="" width="582" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-582x1024.jpeg 582w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-171x300.jpeg 171w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-768x1351.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-873x1536.jpeg 873w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o.jpeg 1161w" sizes="(max-width: 582px) 100vw, 582px" /></a></p>
<h1><b>Mulai Pondasi</b></h1>
<p><span style="font-weight: 400;">Pondasi dari semua rencana ini adalah uang. Dalam skema yang kubuat, ada tiga komponen utama perjalanan ini:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Transportasi</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Fuji Rock</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Tokyo Stay</span></li>
</ol>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-6009 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-1024x915.png" alt="" width="790" height="706" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-1024x915.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-300x268.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-768x686.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-1536x1372.png 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-2048x1830.png 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sana aku memastikan jumlah hari, dan ketemulah hitungan kasarnya. Kira-kira waktu itu aku dan Ical menganggarkan seperti ini:</span></p>
<h2><strong>1. Transportasi: </strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu itu sedang ada promo akhir tahun. Jadi kami beli tiket di Desember 2024, dapat Garuda Indonesia, </span><i><span style="font-weight: 400;">direct flight </span></i><span style="font-weight: 400;">berangkat Rabu 23 Juli 2025 dan kepulangan Kamis 31 Juli 2025, dengan harga Rp6,2 juta. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini harga yang menurut kami terjangkau. Sebagai perbandingan, di akhir 2022 aku dan Rani sempat membeli tiket ke Tokyo, dapat Singapore Airlines, transit di Singapura, dengan harga Rp7,5 juta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain tiket pesawat Jakarta-Tokyo, komponen transportasi yang harganya cukup tinggi adalah kereta Shinkansen dari Stasiun Tokyo menuju Echigo Yuzawa, stasiun terdekat dari venue Fuji Rock di Naeba. Tiket ini bisa dibeli di aplikasi Klooks, harga sekali jalan sekitar 6.900 Yen, atau sekitar Rp750 ribu ditambah pajak dll. Jadi PP sekitar Rp1,5 juta. Dari Echigo Yuzawa, transportasi menuju venue adalah shuttle bus yang harganya 2.000 yen PP, atau sekitar Rp215 ribu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, komponen transportasi yang juga harus dianggarkan adalah transportasi lokal. Aku membeli Tokyo Subway Ticket 72 Hour Pass di Klook, harganya sekitar Rp320 ribuan.</span></p>
<h2><strong>2. Fuji Rock</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua pengeluaran utama untuk Fuji Rock adalah tiket dan <em>campsite</em>. Fuji Rock menjual tiket harian dan juga 3 <em>day pass</em>. Aku dan Ical sempat gundah, apakah cukup menonton hari Jumat-Sabtu, atau Sabtu-Minggu, atau mau sekalian tiga hari. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih 3 <em>day pass</em>, tapi praktiknya kami sudah ada di venue sejak hari Kamis dan menonton pesta pembukaannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga tiket 3 <em>day pass</em> Fuji Rock 2025 adalah 59.400 Yen, sudah termasuk pajak dan segala tetek bengeknya. Ketika itu kurs Rupiah cukup membaik, 1 yen ada di kisaran Rp105 hingga Rp107. Jadi kalau diambil patokan Rp107, harga tiket 3 day pass adalah Rp6.355.800.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu untuk <em>campsite</em>, banderolnya adalah 5.500 Yen atau sekitar Rp588 ribu. Dengan tiket ini, aku bisa masuk ke area kemping sejak hari Kamis untuk mendirikan tenda (sekaligus bisa nonton pesta pembukaannya) sampai dengan maksimal hari Senin siang (total 5 hari 4 malam). <em>Campsite</em> adalah pilihan menginap yang harganya paling terjangkau sekaligus yang memberi pengalaman khas Fuji Rock. Di luar kemping, ada pilihan hotel di sekitar venue atau di sekitar Echigo Yuzawa. Tapi harganya lumayan <em>ngamplengi raimu</em>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di luar itu, ada biaya merch, dan FnB (ini yang ternyata anggarannya melar. Aku meremehkan rasa lapar yang timbul berkali-kali karena jalan kaki seharian).</span></p>
<h2><strong>3. Tokyo Stay</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku dan Ical sepakat menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di Tokyo setelah selesai Fuji Rock. Komponen terbesar di part ini adalah penginapan. Yang menarik dari Tokyo adalah, meski kota ini adalah salah satu kota termahal di dunia, termasuk perkara menginapnya, kalau pesan jauh-jauh hari via aplikasi (aku pakai Agoda), harganya bisa cukup terjangkau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Booking pada Desember 2024 selama 5 hari 4 malam untuk akhir Juli 2025, aku dapat harga Rp3,7 juta di hotel APA Hotel Roppongi Six atau sekitar Rp740 ribuan per hari, atau Rp370 ribu per orang.  APA adalah jaringan hotel cukup populer di Jepang, dan biasanya berlokasi di kawasan turis, jadi dekat dengan stasiun kereta atau bus, dan tentu saja aneka konbini dan tempat makan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kenapa aku booking 5 hari? Ini karena dari linimasa, aku beli hotel terlebih dulu, ketika masih gundah mau nonton Fuji Rock 2 hari atau 3 hari. Jadi kami booking check in hari Minggu, dan check out hari Kamis. Kenyataannya, kami baru check in hari Senin. Tapi lagi-lagi, untuk ukuran hotel di kawasan strategis Tokyo, Rp370 ribu per orang ini bisa dibilang murah. Di luar penginapan, komponen Tokyo Stay juga mencakup Food and Drinks.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mendapat anggaran kasar itu, aku berhitung. Jika mulai menabung bulan Februari atau Maret 2024, aku ada waktu 17 bulan sebelum berangkat. Dari sana aku bisa melakukan kalkulasi berapa dana yang harus kutabung setiap bulan, atau target akhir agar bisa berangkat dengan nyaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan target di kepala yang terasa begitu jauh dan bikin aku mbatin piye carane, aku mulai menaruh beberapa ratus ribu yang kuambil dari uang saku bulananku. Aku membuat rekening bLu, lalu membuka dompet yang dinamakan Fuji Rock 2025. Jalan masih panjang. []</span></p>
<p>Baca juga <a href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan #1</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">6008</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 17:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5685</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tau ndelok tendo ngawang, cuk!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph Sudiro, dengan gaya Suroboyoan yang khas dan berapi-api lengkap dengan cak-cuknya, mengisahkan pengalaman menonton Fuji Rock Festival pada 2019 silam. Hitung maju enam tahun kemudian, kami berdua ada di satu gondola dengan Aya dan Faisal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aya adalah partner hidup sekaligus rekan terbaik Joseph menonton festival musik. &#8220;Wis teruji arek iki,&#8221; puji Joseph. </span><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Faisal adalah kawan baikku sejak lama, partner dalam banyak kebodohan. Salah satu buktinya, ya, Fuji Rock 2025 ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faisal adalah anak rumahan, lebih suka mendengar musik di kamar atau membaca buku ketimbang datang ke festival musik penuh manusia. Entah setan belantara mana yang nemplok di bahunya sepulang liputan, kok tiba-tiba saja dia mau ikut pas aku cerita rencana datang ke Fuji Rock 2025. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ical padahal jarang keluar kamar kos, sekali-kalinya keluar kamar kok malah langsung ke Fuji Rock,” ujar seorang kawan, membalas <em>story</em> Instagram-ku ketika kami baru mendirikan tenda di permukaan tanah yang tak terlalu landai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5688 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bawah kami, tampak rimbun pohon pinus. Hijau. Ada sungai mengalir. Saking beningnya, bebatuan di dasar terlihat jelas. Aku membayangkan di suhu 34 derajat, betapa surgawinya nyemplung di sungai itu. Di sebelah kanan, ada dua panggung yang satu per satu terlihat. </span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5686 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Itu White Stage,” ujar Aya menunjuk panggung di arah jam 3.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau itu Field of Heaven.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iku deloken rek, danau.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Danau opo?” tanya Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gak eruh, cuk, lali aku,” kata Aya ketawa.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-5687 size-large" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Josep dan Aya bisa dibilang veteran perihal Fuji Rock. Sembari meraba ingatan –cuk, mereka bahkan lupa sudah berapa kali nonton– mereka sepertinya sudah sembilan kali menonton perhelatan musik tahunan yang diadakan di Naeba ini. Banyak yang berkesan bagi mereka. Di 2023 line up-nya seru, ada Foo Fighter, The Strokes, Alanis Morisette, Weezer, Slowdive, Yeah Yeah Yeahs, hingga Lizzo. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Fuji Rock 2024 berkesan karena mereka ngobrol dengan sepasang suami istri berusia lanjut yang mengagumi kaus Ash (halo Jelly!) yang dipakai Joseph. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu tibalah momen Fuji Rock 2019 disebut. Chemical Brothers dan The Cure jadi penampil pamungkas. Itu bikin hati girang, tentu saja. Namun ada lagi yang lebih lekat di ingatan mereka: topan! </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di beberapa video yang pernah kutonton, termasuk video dari Fujirocker Indonesia, aku melihat para penonton yang menginap di tenda harus dievakuasi ke lobi hotel Prince Naeba saking dahsyatnya topan menghajar kawasan Naeba.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan di situlah Joseph dan Aya menyaksikan tenda terbang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepuluh menit di dalam gondola, aku masih merasakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ndok ngerenyeng </span></i><span style="font-weight: 400;">jika melongok ke bawah. Gimana kalau terjadi adegan khas </span><i><span style="font-weight: 400;">Final Destination</span></i><span style="font-weight: 400;"> di gondola ini? Seorang petugas lupa memberi pelumas pada roda, menghasilkan gesekan ke kabel baja yang berlebihan, putus, lalu kami terjatuh ke bawah, ditangkap oleh bebatuan. Warna merah kemudian mengalir mengikuti arus.</span></p>
<p>Tapi aku mengusir pikiran goblok itu.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gondola merayap naik, kemudian setelah sampai di puncak kabel, dia turun lagi pelan-pelan seperti seorang kakek yang terserang rematik di seluruh sendirinya.  </span><span style="font-weight: 400;">Angin berhembus pelan. Tapi tak ayal gondola kami goyang. Bajingan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku melongok ke atas. Mendung. Aku membayangkan naik gondola puluhan meter dari bumi kemudian dihantam hujan badai, jelas bikin jeri dan jantung seperti ditarik. Tapi pikiranku justru ke kawasan kemping. </span><span style="font-weight: 400;">Pasalnya: Joseph bercerita soal obsesinya pada kemping. Karena itu, Fuji Rock adalah festival paling menyenangkan baginya, sebab ajang yang sudah diadakan sejak 1997 ini memadukan dua hal paling dia cintai: musik dan kemping.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku <em>invest</em> nang tendo dan pasak. <em>Puenting</em> iku,” kata Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph lantas berkisah bagaimana dia kerap menghimpun teman-temannya untuk nonton Fuji Rock. Yang diperlukan hanya meeting online satu kali dan menentukan titik ketemu di Tokyo. Joseph biasanya sampai di Tokyo pada Kamis pagi, lalu naik Shinkansen ke Stasiun Echigo-Yuzawa, untuk kemudian nyambung naik bis <em>shuttle</em> ke area Naeba Ski Resort, kawasan yang jadi area Fuji Rock ketika musim panas, dan akan berganti menjadi kawasan ski ketika memasuki musim dingin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Hari Kamis, sehari sebelum Fuji Rock resmi dimulai, area kemping sudah dibuka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di momen itu, Joseph akan mencari lokasi datar –bersaing dengan ribuan orang lain– meletakkan <em>footprint</em> (alas agar bagian bawah tenda tak langsung bersentuhan dengan tanah, berfungsi mencegah dingin atau air tembus ke bagian bawah tenda), memasang tenda-tenda kualitas apik miliknya, memalu pasak hingga dalam dan ajek, dipungkasi dengan memasang <em>flysheet</em> sampai rapi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph, pemain bass Vox yang sering cekakakan, selalu jadi serius ketika bicara tempat tinggal serta kenyamanan selama Fuji Rock. Dia akan jadi komandan bagi kawan-kawan yang dia pimpin, tapi juga tak segan turun tangan ketika ada sesuatu yang terasa kurang pas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mangkane tendoku selalu aman, gak tau </span><i><span style="font-weight: 400;">teles</span></i><span style="font-weight: 400;">,” kata Joseph cengengesan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau soal tenda dan kenyamanan Fuji Rock, dia bukan lagi Joseph Sudiro,” kata Aya. “Tapi sudah jadi Joseph Stalin.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cerita Joseph tak ayal bikin aku tambah tercenung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ratusan meter dari Day Dreaming dan Silent Breeze, kawasan puncak yang rata, dingin, berangin, tapi juga syahdu; tempat satu restoran besar, tenda yang menampilkan beberapa pertunjukan seni kecil-kecilan, dua kedai kopi dan kudapan; tempat </span><span style="font-weight: 400;">kami menginjakkan kaki setelah menempuh dua puluh lima menit perjalanan dengan gondola yang menegangkan, tenda kuning kami sudah pasti bergoyang letoy kena angin sepoi.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5690 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku tak memasang tenda dengan ideal. Maklum, sudah lama tidak. Pasak kupasang sekenanya, asal masuk ke tanah. <em>Flysheet</em> juga dihela dengan ala kadarnya. <em>Footprint</em> jelas tak ada. Bagaimana kalau hujan topan? Hampir bisa dipastikan: dalam sedetik sejak topan lewat, tenda pinjaman dari Muhammad Harmein itu sudah terbang entah ke mana, memuntahkan semua isinya ke tanah –<em>carrier</em>, <em>sleeping bag</em>, matras, dan segala obat-obatan untuk aku yang makin ringkih ini– mungkin bisa sampai ke Echigo Yuzawa dan pasrah disapu untuk kemudian dimusnahkan bersama sampah-sampah jalanan hari itu.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bersambung</span></i><span style="font-weight: 400;">…</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5685</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
