<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Guns N Roses Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/guns-n-roses/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/guns-n-roses/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Jul 2017 20:03:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>30 Tahun Merayakan Appetite for Destruction</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/30-tahun-merayakan-appetite-destruction/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/30-tahun-merayakan-appetite-destruction/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jul 2017 20:03:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Appetite for Destruction]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N Roses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3980</guid>

					<description><![CDATA[<p>Juli tahun ini, perayaan Appetite for Destruction Day memasuki tahun ke 30. Bayangkan album itu adalah manusia. Kebanyakan manusia di usia 30 perlahan mulai mapan. Kerja. Menikah. Punya anak. Album [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/30-tahun-merayakan-appetite-destruction/">30 Tahun Merayakan Appetite for Destruction</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Juli tahun ini, perayaan <em>Appetite for Destruction Day</em> memasuki tahun ke 30. Bayangkan album itu adalah manusia. Kebanyakan manusia di usia 30 perlahan mulai mapan. Kerja. Menikah. Punya anak. Album ini juga menjalani kemapanan yang sama. Ia selalu ada di hampir semua daftar album rock terbaik sepanjang masa.</p>
<p>Pernah dengar pepatah, &#8220;Usia boleh tua, tapi jiwa tetap muda&#8221;? Kira-kira album ini seperti itu. Appetite boleh tua, tapi isinya seperti membekukan waktu. Ia serupa kotak pandora yang menyimpan segala kebengalan, kemarahan, keliaran, juga pesta pora penuh seks, drugs, alkohol, dan menjadikannya abadi.</p>
<p>Ada album-album yang bisa memberikan impresi berbeda ketika kamu dengarkan di usia belasan dan usia 30-an. Saat usia belasan, kamu seperti ingin melawan dunia. Persetan segala aturan. Namun di usia 30, semua kemarahan dan mentalitas Aku Melawan Dunia itu perlahan mulai luntur. Kamu mulai bisa berdamai dengan dirimu sendiri, juga memandang dunia dengan lebih ramah.</p>
<p>Tapi <em>Appetite for Destruction</em> bukan album yang seperti itu. Album ini akan tetap memercikkan bara yang sama. Ia bisa membakarmu kapan saja, entah di usiamu yang belasan, atau kala kamu sudah 30-an, atau bahkan ketika kelak kamu sudah berusia 60 dan bersiap menyambut Izrail kapan saja. Ia bisa membakarmu kala masih berambut gondrong, atau saat di kepalamu hanya tersisa beberapa helai rambut yang serupa Shiratal Mustaqim. <em>Appetite</em> masih bisa membuat bulu kudukmu meremang, baik ketika kamu masih perjaka atau sudah punya anak tiga.</p>
<p>Album ini adalah tipikal album klasik. Tak banyak album seperti ini: yang akan dikenang dari generasi ke generasi. Didengarkan turun temurun, dari ayah ke anak, kemudian ke cucu. Dan akan terus demikian, entah sampai kapan. The Beatles punya itu. The Doors juga. Jimi Hendrix. Led Zeppelin. Black Sabbath. Deep Purple. Dan tentu saja Guns N Roses.</p>
<p><em>Appetite for Destruction</em> adalah anomali. Di era 1980-an, band hair metal di Los Angeles yang punya dandanan termenor dan tercantik akan bisa menjaring penggemar sebanyak-banyaknya. Tapi Guns N Roses memilih jalan yang berbeda, jalan yang lebih sepi. Mereka tak sekadar memainkan musik pop-metal dengan jurus 3 jari dan reff yang nyantol di telinga. Mereka berhasil memadukan keseksian rock n roll dan blues, lengkap dengan kemasa-bodohan punk rock. Mereka tak peduli apapun. Mereka tak punya beban.</p>
<p>Ada satu cerita tersohor soal kecuekan ini. Suatu hari, saat akan merekam Appetite, Paul Stanley datang menawarkan jasa jadi produser. Bagi banyak band, gitaris dan vokalis Kiss itu serupa dewa. Saat akhirnya bertemu dengan empat orang personel Guns &#8211;minus Axl&#8211; Paul menyatakan keinginannya itu, ditambah keinginan menulis ulang lagu &#8220;Welcome to the Jungle&#8221;. Saat itu ada ratusan band yang akan senang hati melakukan apapun supaya Stanley jadi produser album mereka. Tapi Guns N Roses bukan band ratusan itu. Mereka <em>one in a million</em>. Mereka menolak Stanley, langsung di depan mukanya. Stanley tentu saja dendam.</p>
<p>Suatu hari, Slash yang baru saja meloakkan gitarnya, ingin meminjam gitar BC Rich. Kebetulan, Stanley adalah salah satu duta produk BC Rich. Maka Slash menelpon dan menyampaikan keinginannya.</p>
<p>&#8220;Tentu saja bisa, bukan masalah,&#8221; kata Stanley, yang kemudian diam sejenak. &#8220;Tapi aku gak mau meminjamkan gitar ke kamu.&#8221; Telepon dimatikan.</p>
<p>Karena sudah berusia 30 tahun, tak banyak hal yang bisa digali dari album ini. Nyaris semuanya sudah diceritakan. Tapi menyusuri masa lalu memang selalu menarik. Maka mari menengok ke belakang sejenak, mendengarkan cerita-cerita yang mungkin pernah kamu dengar sekilas. Atau malah belum pernah kamu dengar sama sekali.</p>
<p><strong>Tentang Perempuan dan Seks</strong></p>
<p>Axl Rose dikenal punya masalah kejiwaan seperti psikosis dan depresi mania. Beberapa orang menyebut Axl adalah seorang bipolar.</p>
<p>&#8220;Suatu waktu Ia bisa merangkulmu hangat, dan beberapa detik kemudian tiba-tiba, tanpa alasan apapun, menendangmu di buah zakar dengan penuh kemarahan,&#8221; kata Steven.</p>
<p>Karena itu kita bisa melihat bagaimana Axl membuat kisah yang kontras dalam lagu. Mulai dari &#8220;My Michelle&#8221; hingga &#8220;Rocket Queen&#8221;. Kamu bisa melihat bagaimana Axl memperlakukan perempuan. Ketika sedang manis, Axl akan membuatkanmu lirik yang bisa membuat diabetes. Ketika hewan liar dalam dirinya muncul, maka makiannya bisa membuat Gordon Ramsay terasa seperti badut belaka.</p>
<p>Perempuan punya peran amat penting dalam karier Guns N Roses. Saat merintis karier sebagai musikus profesional, Slash tinggal bersama ibu dan neneknya. Slash amat menghormati dua perempuan itu, yang terus-terusan mendukung kariernya. Begitu pula Steven. Saat Appetite mendapat sertifikat Gold, plakat itu diberikan untuk kakek dan nenek Steven. Plakat itu dipajang di ruang tamu. Saat mereka tampil di sebuah klub, ibu dan nenek Steven menonton. Bahkan sang nenek berdiri di barisan paling depan sembari terus-terusan menunjuk Steven dan berkata ke penonton lain dengan senyum lebar, &#8220;Itu cucuku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak pernah melihat wajah nenek sebangga itu,&#8221; kenang Steven.</p>
<p>Selain itu, para penari telanjang di kawasan Sunset Strip juga punya peran penting dalam perjalanan Guns N Roses. Mereka kerap memberi uang kepada para personel band yang miskin ini. Kadang, Slash atau Steven atau Izzy akan jadi mucikari, dan mengambil uang barang 5 dolar dari dompet para perempuan penghibur itu untuk membeli makan. Banyak perempuan juga dengan senang hati membuka pintu apartemen mereka untuk ditumpangi para personel Guns N Roses.</p>
<p>Maka tak heran kalau ada banyak sekali kisah tentang perempuan dalam hidup Guns N Roses, juga yang terkait dengan penggarapan album perdana mereka.</p>
<p>1. Axl Rose tergila-gila dengan seorang perempuan bernama Barbie. Di usia 18, Barbie sudah punya reputasi mencengangkan sebagai pecandu narkoba dan Ratu Skena Hollywood. Barbie kemudian berkarier sebagai Madam, alias mucikari di kawasan Sunset Strip. Axl menulis lagu &#8220;Rocket Queen&#8221; untuknya. Bagian awalnya kelam &#8211;lengkap dengan suara desahan pacar Steven yang bercinta dengan Axl&#8211; namun bagian akhir seperti kidung indah serupa doa.</p>
<p>2. Menjelang rekaman, Slash beberapa kali tinggal bersama Steven dan Monica, seorang bintang porno Swedia. Mereka sering melakukan threesome. Slash menyebut momen menyenangkan itu sebagai, &#8220;awesome threesome.&#8221;</p>
<p>3. Sebelum masuk studio rekaman, Axl dan Slash dituduh atas tuduhan pemerkosaan. Namun setelah proses dengar pendapat, tuduhan itu tidak terbukti. Izzy, dalam wawancara bersama The Guardian 1988 silam, bilang kasus itu muncul karena, &#8220;drummer kami meniduri ibu salah satu gadis itu, dan kasusnya jadi ribet.&#8221;</p>
<p>4. Perempuan yang ada di video klip &#8220;Welcome to the Jungle&#8221; adalah Julie, kawan Steven Adler. Ia beperan sebagai gadis dengan stoking yang membuat Axl melongok, dan yang berbaring di sebelah Steven.</p>
<p>5. Lagu &#8220;My Michelle&#8221; berkisah tentang hidup Michelle Young, kawan lama Slash yang sempat menjalin hubungan dengan Axl. Michelle meminta Axl menulis lagu tentang dirinya. Maka lahirlah lagu yang berkisah Michelle: ayah yang bekerja di industri pornografi, ibu yang overdosis, dan Michelle yang pecandu kokain. Awalnya Slash berpikir Michelle akan marah. Namun di luar dugaan, Michelle suka lagu itu.</p>
<p>6. Slash menggunakan Gibson SG 1960-an (Slash lupa tipe tahunnya) di lagu &#8220;My Michelle&#8221;, karena ia menganggap gitar itu bisa memberikan suara yang lebih gelap dan kelam. Lagu &#8220;My Michelle&#8221; pertama kali dimainkan di The Cathouse, 4 Januari 1986.</p>
<p><strong>Tentang Belajar Jadi Binatang</strong></p>
<p>Di Los Angeles, kata Axl, kamu akan belajar bagaimana caranya jadi binatang. Datang dari kota kecil di Indiana, membuat Axl cukup gegar budaya. Ia menuliskan pengalaman pertama datang ke Los Angeles. Melihat perempuan seksi di mana-mana, hingga ditawari narkoba dalam lagu &#8220;Welcome to the Jungle&#8221;. Tak hanya Axl yang bermasalah. Begitu pula sobatnya sejak kecil, Izzy Stradlin. Pemain gitar ritem ini pernah menjalani karir sebagai bandar narkoba dalam waktu cukup lama. Duff, pernah bekerja sebagai supir sekaligus kurir untuk kelompok mafia.</p>
<p>7. Slash mencuri sabuk concho &#8211;seperti yang kerap dipakai Jim Morrison&#8211; dari toko bernama Leathers and Treasures. Ia juga mencuri top hat dari toko bernama Retail Slut. Topi sulap hitam dan sabuk concho itu kemudian menjadi aksesoris favoritnya, bahkan topi hitam jadi identitas khas Slash. Puluhan tahun kemudian, topi itu dicuri usai acara Grammy Award. Karma is a bitch.</p>
<p>8. Personel Guns N Roses punya julukan untuk Axl: Twain Wreck. Karena kalau Axl sudah berbicara, ia akan terus ngoceh panjang tak berkesudahan, seperti dongeng-dongeng Mark Twain. Slash juga menjuluki Axl sebagai Ayatollah Axl &#8211;merujuk pada Ayatollah Khomeini&#8211; karena kecenderungannya untuk jadi diktator.</p>
<p>9. Steven Adler awalnya tipikal drummer metal dengan bass drum dobel, dan banyak tom-tom. Izzy dan Duff menyembunyikan satu bass drum, floor tom, dan beberapa tom-tom. Memaksa Steven untuk bermain 4/4, tipikal drum rock n roll. Hasilnya adalah ketukan yang groovy, sekaligus bisa berpadu dengan permainan bass punk rock ala Duff.</p>
<p>10. Guns N Roses sudah menorehkan reputasi di kancah musik Los Angeles sebelum dikontrak. Ketika masa itu tiba juga, label rekaman Chrysalis menawarkan uang muka kontrak sebesar 400 ribu dolar, sedangkan Geffen 250 ribu dollar. Tapi berkat rayuan Tom Zutaut yang kala itu menjabat A&amp;R Geffen, Guns N Roses memilih Geffen.</p>
<p>11. Jumlah itu kemudian dipecah: 75.000 dolar dibagi rata untuk tiap personel, dan 175.000 dolar dibuat untuk ongkos band dan rekaman. Masalahnya adalah: semua personel Guns N Roses tak ada yang punya rekening di bank, jadilah semua uang ditumpuk di bawah kasur. Mereka yang tunawisma ini kemudian menyewa apartemen. Izzy dan Steven satu kamar, sedangkan Axl sekamar dengan Slash. Duff saat itu sudah tinggal di apartemen kekasihnya, Katerina.</p>
<p>12. Duff McKagan memakai uang muka itu untuk membeli bass Fender Jazz Special dan ampli bass Gallien-Krueger 800RB, boots koboi, kalung rantai dan gembok yang kemudian juga jadi identitas Duff. Sedangkan Slash menghabiskan nyaris semuanya untuk heroin.</p>
<p>13. Saat merekam album di Studio Rumbo, manajer Alan Niven menugaskan bodyguard seberat 180 kilogram bernama Lewis. Tujuannya untuk menjaga Izzy, Slash, dan Steven. Mereka bertiga memang dikenal sering cari gara-gara. Namun di saat mereka berkelahi, entah kenapa, Lewis selalu sedang makan. &#8220;Untungnya perkelahian ini tak pernah berakhir buruk. Kalau tidak, mungkin kami sudah menginterupsi ritual makan Lewis,&#8221; kata Slash di buku biografinya.</p>
<p>14. Duff mengenal Izzy sejak sang gitaris ini masih jadi drummer band punk cross-dressing bernama Naughty Women.</p>
<p><strong>Tentang Musik</strong></p>
<p>Guns N Roses adalah band naratif. Dengan kata lain, mereka akan mengamati hidupmu. Mencatat namamu. Lalu menjadikannya lagu. Mereka bisa menulis lagu dengan cepat, pun mengambil inspirasi dari apapun. Entah itu heroin, minuman keras, atau mucikari dengan reputasi mentereng.</p>
<p>15. Lagu &#8220;Think About You&#8221; punya lirik yang manis, lengkap dengan bait <em>I can remember and the love we shared is lovin&#8217; that&#8217;ll last forever</em>. Itu bukan lagu cinta. Lagu itu dibuat Izzy Stradlin setelah pertama kali mencoba heroin.</p>
<p>16. Lagu &#8220;Think About You&#8221;, &#8220;Out Ta Get Me&#8221;, juga &#8220;Welcome to the Jungle&#8221; dibuat dengan gaya jam session di studio milik Nicky Beat, mantan drummer L.A Guns dan The Joneses. Biasanya Izzy akan mulai memainkan riff, diikuti oleh Slash dan Duff, ditimpali ketukan Steven. Axl biasanya menulis lirik sembari bernyanyi spontan.</p>
<p>17. Sebagai band yang langsung punya ikatan kimia kuat, mereka bisa menulis lagu dengan cepat. Lagu &#8220;Out Ta Get Me&#8221; dibuat dalam waktu kurang dari 20 menit. Sedangkan &#8220;Welcome to the Jungle&#8221; dibuat dalam tempo 3 jam.</p>
<p>18. Lagu &#8220;Nightrain&#8221;, &#8220;My Michelle&#8221;, dan &#8220;Rocket Queen&#8221;, dibuat di tempat latihan berupa gudang penyimpanan barang yang dijadikan tempat tinggal Axl dan Slash yang saat itu baru saja dipecat sebagai pekerja di kios koran.</p>
<p>19. Judu &#8220;Nightrain&#8221; diambil dari Night Train Express, merek minuman keras dengan kadar alkohol 18 persen. Waktu itu harganya 2 dolar per botol. Suatu malam ketika mereka nongkrong bersama beberapa orang teman perempuan dan Lizzy Grey &#8211;gitaris band London&#8211;, seorang mulai berteriak &#8220;I&#8217;m on the Night Train&#8221;. Lalu Axl ikut berteriak B<em>ottom up!, Fill my cup!, Love that stuff!</em>, dan <em>I&#8217;am ready to crash and burn</em>. Celetukan-celetukan itu yang kemudian jadi lirik di bagian reff. Lagu ini pertama kali dibawakan live di konser yang bertempat di Music Machine, 20 Desember 1985.</p>
<p>20. Guitar World memasukkan &#8220;Nightrain&#8221; dalam daftar Top 10 Drinking Songs of All Time.</p>
<p>21. Lagu &#8220;Welcome to the Jungle&#8221; dibawakan pertama kali pada konser di Troubadour, akhir Juni 1985. Saat itu Guns N Roses manggung bersama Jetboy.</p>
<p>22. Reff awal lagu &#8220;Paradise City&#8221; adalah buatan Slash, yakni: where the girls are fat and the&#8217;ve got big titties. Tapi kemudian diganti &#8220;Where the grass is green and the girls are pretty&#8221;.</p>
<p>23. Lagu &#8220;Mr. Brownstone&#8221; dibuat saat Izzy dan Slash ngoceh tentang betapa tidak profesionalnya bandar narkoba langganan mereka. Lirik lagunya ditulis di atas kertas belanja.</p>
<p>24. Konser Guns N Roses pertama dengan formasi Appetite for Destruction adalah pada 6 Juni 1985. Mereka manggung di The Troubadour, bersama band Fineline dan Mistreater.</p>
<p>25. Sebelum masuk studio rekaman, Guns N Roses pernah membuka konser untuk Red Hot Chili Peppers dan The Dickies di UCLA, pada hari Helloween 1986.</p>
<p>26. Henry Rollins dari Black Flag menulis konser itu di catatan yang kelak diterbitkan dengan judul Art to Choke Hearts. Ia menulis, &#8220;Band pembukanya bernama Guns and Roses. Dan mereka tampil amat sangar, sehingga membuat band utamanya tampak menyedihkan.&#8221;</p>
<p>27. Harga jual album <em>Appetite for Destruction</em> kala itu adalah 7,99 dolar untuk kaset, dan 11,99 dolar untuk CD.</p>
<p>28. Seusai Appetite dirilis, petinggi Geffen memperkirakan album ini akan terjual ratusan ribu kopi. Izzy memprediksi album akan terjual 2 juta keping. Dua-duanya salah. Album ini terjual hingga 30 juta keping hingga saat ini</p>
<p>29. Saat <em>Appetite for Destruction</em> sedang masuk proses mixing, Duff bermain gitar di band hura-hura bernama The Drunk Fux bersama Todd Crew (bass), Steven Adler (drum), Del James (vokal), dan West Arkeen (gitar). Tommy Lee dari Motley Crue dan Lemmy dari Motorhead juga pernah bergabung di band ini.</p>
<p>30. Gitar yang digunakan oleh Slash saat rekaman adalah replika Les Paul 1959 yang dibuat oleh Jim Foot, pemilik toko Music Works yang berlokasi di Pantai Redondo, Los Angeles.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/30-tahun-merayakan-appetite-destruction/">30 Tahun Merayakan Appetite for Destruction</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/30-tahun-merayakan-appetite-destruction/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3980</post-id>	</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s So Easy: And Other Lies (Bagian 2)</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/easy-lies-bagian-2/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/easy-lies-bagian-2/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Mar 2017 09:38:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Duff McKagan]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N Roses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3850</guid>

					<description><![CDATA[<p>BAB 9 Tidak seberapa lama setelah diberhentikan dari Black Angus, aku langsung dapat pekerjaan baru. Kantorku ada di gang belakang dekat Hollywood Boulevard. Perusahaan ini &#8220;menjual&#8221; peralatan kantor. Pakai tanda [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/easy-lies-bagian-2/">It&#8217;s So Easy: And Other Lies (Bagian 2)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>BAB 9</strong></p>
<p>Tidak seberapa lama setelah diberhentikan dari Black Angus, aku langsung dapat pekerjaan baru. Kantorku ada di gang belakang dekat Hollywood Boulevard. Perusahaan ini &#8220;menjual&#8221; peralatan kantor. Pakai tanda kutip karena aku sedikit curiga dengan detil pekerjaanku. Hari kerjaku dimulai ketika seorang lelaki beraksen Eropa Timur yang mengenakan tracksuit dan membawa pistol menyuruhku untuk menyetir truk atau van tanpa plat nomor, menuju sebuah alamat tanpa identitas penerima. Aku tak pernah menanyakan barang apa yang aku antar. Sepertinya itu bukan pertanyaan cerdas.</p>
<p>Dengan pekerjaan keliling kota, aku jadi bisa melihat bagaimana warga di L.A hidup dengan sekat-sekat. Banyak teman kantorku menolak mengantarkan &#8220;barang&#8221; ke Watts. Itu membuatku heran. Di Seattle, Watts bukanlah tempat yang harus dihindari. Seattle memang punya kawasan hitam seperti Central District. Tapi di sana tak seterasing seperti di L.A. Aku bersekolah di Central District. Di L.A, orang yang tinggal di Hollywood tidak pernah keluar dari sana, orang-orang Yahudi di Fairfax juga tidak pernah meninggalkan kawasannya, orang di Watts tidak ingin beranjak dari Watts dan seperti tidak ingin tahu di mana itu Hollywood. Dasar kota yang diselimuti ketakutan.</p>
<p>Suatu hari di bulan Februari 1985 selepas pulang kerja, aku bertemu Izzy. Dia bilang kalau sedang membuat band baru dengan beberapa orang dari L.A Guns, band yang aku tonton bersama Slash. Axl Rose, vokalis L.A Guns, ternyata adalah kawan masa kecil Izzy di Indiana. Izzy yang pertama kali keluar dari Indiana. Lalu Axl mengikutinya. Axl baru saja pindah ke RW kami, kawasan rumah-murah-banyak-kriminalitas di daerah Orchid Street. Band baru Izzy ini juga mengajak Tracii Guns sebagai gitaris. Nama grup mereka adalah Guns N&#8217; Roses.</p>
<p>Hampir berbarengan dengan terbentuknya band ini, pemain bass-nya malah cabut. Izzy mendatangiku karena itu.</p>
<p>&#8220;Kamu main bass kan?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Aku punya bass,&#8221; kataku. Saat itu aku memang sudah mulai nyaman bermain bass, tapi aku belum punya gaya bermain sendiri. Untungnya &#8211;ini kemewahan yang hanya didapat oleh anak muda&#8211; aku nekat dan pede saja. Apalagi aku sudah tak punya gitar. Di titik ini, ya mau gak mau aku harus main bass.</p>
<p>Saat datang ke latihan pertama GNR pada akhir Maret 1985, Axl dan aku langsung ngobrol dan bercanda. Aku langsung menyukainya. Orang yang sedang memeriksa <em>sound</em> kemudian menyela obrolan kami, meminta Axl untuk ngetes mikrofon. Axl lalu berteriak. Asu! Aku gak pernah dengar suara seperti itu. Ada dua suara yang keluar dalam satu hempasan suara! Di dunia musikologi, ada istilah untuk jenis suara seperti itu. Aku langsung tahu kalau Axl berbeda dengan vokalis lain, dan bertenaga, dan amat serius soal bernyanyi. Bahkan saat itu dia belum benar-benar memanfaatkan suaranya. Menurutku suara Axl kala itu lebih sebagai unik ketimbang bagus. Tapi jelas kalau dia pindah dari Indiana ke L.A bukan karena perkara cuaca. Dia ke sini untuk menciptakan dunia baru dan jadi raja di dunianya itu.</p>
<p>Sedangkan Izzy, dia bukan gitaris yang hebat, tapi aku menyukainya. Aku juga bukan gitaris yang jago. Hal biasa dalam dunia punk. Suatu malam saat kami ngobrol setelah latihan, Izzy menyebut band bernama Naughty Women. Aku ingat sesuatu.</p>
<p>&#8220;Aku tahu band itu,&#8221; kataku sembari mengingat nama band itu. &#8220;Kalau gak salah aku pernah main bareng mereka satu kali. Tunggu&#8230; apakah mereka yang berdandan ala waria itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yoi,&#8221; kata Izzy.</p>
<p>Dia diam sejenak.</p>
<p>&#8220;Aku drummernya,&#8221; katanya.</p>
<p>Wow, keren, pikirku. Orang ini ternyata adalah veteran di kancah musik punk. Sangar.</p>
<p>Izzy dan Axl sudah punya beberapa lagu: &#8220;Think About You&#8221;, &#8220;Anything Goes&#8221;, &#8220;Move to the City&#8221;, &#8220;Shadow of Your Love&#8221;, dan &#8220;Don&#8217;t Cry&#8221;. Kami juga melakukan kover ala punk dari lagu Stones, &#8220;Jumping Jack Flash&#8221;, dan lagu Elvis Presley, &#8220;Heartbreak Hotel&#8221;.</p>
<p>Rob Gardner, pemain drum, memainkan drum dengan double-kick, tipikal pemain metal. Tracii adalah pemain gitar yang hebat, tapi <em>sound</em>-nya juga amat metal. Kesanku: dia tak punya aura yang aku rasakan saat melihat Slash bermain. Sekali lagi aku tenggelam dalam perasaan bahwa ini bukan band yang aku cari, bukan sebuah band yang bisa berpengaruh dalam dunia musik.</p>
<p>Tapi mereka sudah punya jadwal gigs, dan karena aku menyukai Izzy dan punya banyak kesamaan dengannya, dan Axl juga amat unik, aku memutuskan untuk tetap bergabung di band ini sementara. Setelah kami bermain di klub Dancing Waters dan di satu klub yang tidak penting sehingga aku gak ingat namanya, semua sisa ketertarikanku pada band ini akhirnya benar-benar menguap. Aku gak datang di latihan berikutnya. Setelah itu, Axl menelponku. Dia tahu kalau aku mundur dari band ini dan memohonku untuk datang di latihan berikutnya. Aku setuju dengan setengah hati.</p>
<p>Di luar studio, Axl mengajakku ngobrol.</p>
<p>&#8220;Kamu <em>HARUS</em> jadi bagian dari band ini,&#8221; katanya. &#8220;Ayo coba sekali lagi.&#8221;</p>
<p>Satu hal tentang Axl yang kemudian aku pelajari: jika dia melihat sesuatu dalam diri seseorang, dia akan memastikan orang itu tetap menjadi bagian dari visinya.</p>
<p>Tapi masalahnya adalah, aku gak yakin dengan komitmen Tracii dan Rob, yang merupakan <em>akamsi</em> dan merasa nyaman dengan kehidupannya sebagai warga urban. Aku sudah bisa melihat perbedaan orang yang berasal dari L.A dan pendatang. Axl dan Izzy amat berbeda, bahkan dibandingkan dengan pendatang lain &#8211;mereka lebih serius. Axl kadang tidur di jalanan pada masa awal pindah ke L.A. Izzy juga akan melakukan apapun untuk mempertahankan band ini, tak peduli kamu pecandu narkoba atau bukan. Di mata mereka terlihat pandangan, <em>Kamu boleh ikut atau tidak, tapi kami akan membuat jalan sendiri dan mewujudkan mimpi kami</em>. Aku menyukai pemikiran itu. Tetap saja, aku tak tahu bagaimana cara ngomong ini ke Axl. Aku lantas bilang: sepertinya Rob dan Tracii tak akan cocok di band ini dan akan enggan mengorbankan apapun demi kesuksesan band ini. Axl tak menyanggah. Kami masuk ke studio.</p>
<p>Saat latihan, aku punya ide. Aku sudah pernah mengalami masa keras punk: aku terbiasa tidur di lantai dan melakukan apapun agar bandku bisa terkenal. Berdasar pengalamanku, kondisi susah seperti itu bisa membuatmu melihat komitmen kawan satu bandmu. Sebuah perjalanan penuh kesengsaraan adalah apa yang dibutuhkan Guns N Roses.</p>
<p>Aku menarik Axl dan Izzy.</p>
<p>&#8220;Cuk, kalian ingin main di tempat baru selain Dancing Waters asu itu?&#8221;</p>
<p>Mereka mengangguk.</p>
<p>&#8220;Kalau kita memang akan bermain di depan tiga orang, setidaknya ayo main di tempat lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Budalno wis!&#8221; kata Izzy.</p>
<p>Aku langsung merasa kalau Izzy paham apa tujuanku. Dia pernah mengalami masa keras yang sama denganku. Dia tahu ini adalah cara untuk menguji ikatan antara kami dan mengetahui mana simpul yang paling lemah.</p>
<p>Dalam gelombang pertama band punk-ku, kami bikin gigs sendiri, sekaligus jadi manajer tur, manajer keuangan, dan membuat kaus merchandise sendiri. Perilaku DIY ini amat kuat dalam bandku dulu. Hasilnya aku tahu luar dalam soal bisnis musik ini. Guns N Roses sudah punya beberapa lagu sendiri dan pengalaman main di konser-konser kecil. Aku rasa bis mengandalkan jaringan yang aku tenun selama bertahun-tahun untuk membuat konser bagi band in. Sebuah tur punk rock di sepanjang Pantai Barat.</p>
<p>&#8220;Kurasa aku bisa bikin tur,&#8221; kataku. &#8220;Mungkin bakal melelahkan, tapi kita bisa manggung.&#8221;</p>
<p>Mereka suka ide itu.</p>
<p>&#8220;Ayo sikat wis!&#8221;</p>
<p>Aku juga bergairah. Seusai tur ini, kami akan tahu apakah band ini akan jadi band penting atau tidak. Di masa itu, tur ala punk rock benar-benar murni petualangan dan memompa adrenaline. Kamu dianggap beruntung kalau bisa menghasilkan uang untuk beli bensin dan sisa recehan untuk beli mie gelas. Kamu akan tidur di rumah kosong, atau jika pemilik klub menyukai bandmu ia akan menyilakanmu tidur di lantai klub. Tapi itu semua gak penting. Yang paling penting adalah tur macam ini akan menguji dirimu, mendorong dirimu melampaui batas-batas kenyamanan, mengusung musik yang kau yakini ke kota lain, membuang segala kehati-hatian dan kecemasan. Kalau sekarang dipikir-pikir, dulu gak ada yang memperingati kami soal betapa gilanya tur ini.</p>
<p>Aku akhirnya berhasil menjadwalkan beberapa konser. Sebagian besar ada di kota tempat aku pernah bermain bersama bandku, atau yang pernah aku lewati saat bekerja sebagai kru untuk The Fastbacks. Konser pertama kami adalah gigs pulang kampung, 12 Juni untuk membuka The Fastbacks di klub baru Seattle bernama Gorilla Gardens. Sisa konser akan dimainkan di tempat kecil gigs-gigs punk biasa dimainkan, rumah bersama, dan aula veteran. Kami akan bermain di RW 13 di Portland, juga di lantai bawah tanah sebuah rumah komunal komunitas punk di Eugene, rumah lain di Sacramento, dan klub bernama Mabuhay Gardens di San Francisco. Jadwal kami amat padat. Soal lain, seperti di mana kami akan tidur dan bagaimana cari duit untuk makan, itu bisa dipikir belakangan.</p>
<p>Rob dan Tracii langsung pesimis sejak awal. Tebakanku: mereka tidak siap untuk keluar dari zona nyaman, meninggalkan kampung halaman dengan bondo nekat, hanya mengandalkan kawan satu band dan kecerdikan untuk bisa bertahan hidup. Beberapa minggu sebelum kami berangkat, mereka berdua mengirim kabar: mereka tidak siap untuk ikut perjalanan tanpa duit ini. Mereka beranggapan tidak tahu di mana akan tidur adalah kegiatan sembrono dan berbahaya. Aku meyakinkan mereka kalau akan ada tempat untuk numpang. Lagipula kami kan akan tur, sebuah konsep yang sebenarnya amat ajaib bagiku kala itu. Perjalanan ini bukan piknik.</p>
<p>Tapi mereka tak perduli. Pertama Rob keluar dari band. Disusul oleh Tracii.</p>
<p>Kami hanya punya waktu 10 hari sebelum berangkat tur.</p>
<p>&#8220;Gak usah bingung,&#8221; kataku pada Izzy dan Axl, dua orang yang memasang komitmen sepenuh hati dan juga merasa kalau tur ini adalah perjalanan magis.</p>
<p>&#8220;Aku kenal dua orang yang bisa gabung band ini.&#8221;</p>
<p><em>Bersambung&#8230;</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/easy-lies-bagian-2/">It&#8217;s So Easy: And Other Lies (Bagian 2)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/easy-lies-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>23</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3850</post-id>	</item>
		<item>
		<title>It&#8217;s So Easy: And Other Lies</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/its-so-easy-and-other-lies/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/its-so-easy-and-other-lies/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2017 13:14:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Duff McKagan]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N Roses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3843</guid>

					<description><![CDATA[<p>BAB 3 Pada September 1984, aku pergi ke arah selatan dengan Ford Maverick 1971 milikku dan 360 dolar di saku. Aku berusia 20 tahun saat itu. Hijrah dari kampung halaman, aku [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/its-so-easy-and-other-lies/">It&#8217;s So Easy: And Other Lies</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>BAB 3</strong></p>
<p>Pada September 1984, aku pergi ke arah selatan dengan Ford Maverick 1971 milikku dan 360 dolar di saku. Aku berusia 20 tahun saat itu.</p>
<p>Hijrah dari kampung halaman, aku merasakan sensasi menjunjung nama baik Seattle di bahuku. Perasaan berlebihan itu muncul karena aku baru saja lepas dari masa remaja. Dan sama seperti remaja manapun, khayalan dan mimpi itu sepertinya lebih berkuasa ketimbang realita. Tapi aku adalah anak ajaib di kancah musik Seattle kala itu. Bocah kelas 2 SMP yang bermain dengan orang-orang berusia 20-an, bocah yang bisa memainkan semua instrumen &#8211;gitar, bass, drum, ya walaupun tak mahir-mahir amat, tapi cukup baik lah untuk bermain dalam band. Sekarang, dengan pandangan tertuju ke Los Angeles dan <em>Space Needle</em>* berada di belakangku, aku merasa seolah-olah semua orang mengandalkanku untuk jadi <em>the guy</em>, pemusik berhasil. Mungkin tekanan itu hanya perasaanku saja, tapi orang-orang mulai bertaruh selepas aku pergi. Apakah aku akan berhasil di L.A ataukah aku akan merangkak pulang ke Seattle.</p>
<p>Pemberhentian pertamaku adalah San Francisco. Niat: menginap semalam di tempat kawan punk-ku. Kenyataan: aku menumpang seminggu. Apa boleh buat, ada seorang gadis di sana, Bung. Lagipula aku kenal dan menyenangi beberapa orang di kancah punk Bay Arena. Tapi tetap saja, aku tak tertarik bergabung dengan band di sana dan memainkan musik yang itu-itu saja.</p>
<p>Saat aku akhirnya pergi dari San Francisco, 360 dolarku sudah menyusut jadi 60 dolar. Suasananya jadi bikin gentar. Dari telepon koin di sebuah pom bensin, aku menelpon abangku, Matt, yang saat itu sedang kuliah di Cal State Northridge.</p>
<p>&#8220;Bang, kamu tahu kan kalau aku menuju ke Los Angeles?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, aku denger kabar itu,&#8221; katanya. &#8220;Memang tujuanmu mau ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gak tahu, mungkin ke Hollywood. Ada lowongan gak di Black Angus?&#8221;</p>
<p>Matt memang membayar biaya sekolahnya dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran steak, di belakang lembah Hollywood. Dia bisa bermain trombon, dan bercita-cita jadi guru musik.</p>
<p>&#8220;Mungkin,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Aku punya surat rekomendasi dari Kafe Lake Union,&#8221; kataku. Itu adalah restoran tempatku bekerja selama 2 tahun ketika tinggal di Seattle.</p>
<p>&#8220;Mungkin aku bisa mencarikanmu pekerjaan,&#8221; ujar Matt.</p>
<p>&#8220;Gimana caraku menuju ke sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ambil jalan 5 hingga 405, dan keluar di Roscoe Boulevard. Pergi ke arah barat menuju Roscoe hingga kamu ketemu Corbin Avenue. Lalu belok kanan. Restorannya ada di 9145 Corbin.&#8221;</p>
<p>Aku kemudian langsung menuju sana dan langsung menjadi asisten juru masak malam itu juga, 14 September 1984. Di akhir jam kerja, aku ingin menengok rumah baruku: Hollywood. Aku menanyakan arah menuju ke sana.</p>
<p>&#8220;Yaaaa, sekitar 40 kilometer lah dari sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Hah? Lha aku ini berada di planet mana? Aku pikir ini di Los Angeles.</p>
<p>&#8220;Kamu tinggal menuruni Ventura dan belok kiri. Ikuti saja jalan menuju ngarai Laurel, ada di atas gunung&#8230;&#8221;</p>
<p>Heh? Ngarai di atas gunung? <em>Piye iku mbut</em>?</p>
<p>Aku toh akhirnya pergi juga. Mencari apapun yang berbentuk seperti gunung. Aku melihat banyak bukit, tapi tak ada gunung. Hingga aku akhirnya sampai di Ngarai Laurel &#8211;sebuah jalan yang membelah naik lembah, lalu&#8230; Los Angeles! Dari atas bukit aku bisa melihat pusat kota L.A yang tak lebih besar ketimbang Seattle. Tapi pendar cahaya dari padatnya perumahan murah itu seperti tak ada ujungnya. Sepanjang mata memandang, sepanjang itu pula kota terbentang.</p>
<p>Selama minggu-minggu pertama, aku tinggal beberapa malam di tempat kakakku. Tapi tempatnya terlalu jauh dari Hollywood, yang, menurut orang asing sepertiku, adalah pusat dari kancah musik L.A. Ditambah dengan durasi tempuh dari tempat abangku dan Black Angus, sama saja dengan perjalanan antar kota. Lagipula, aku tak bisa ujug-ujug muncul dan tinggal di tempatnya.</p>
<p>Jadi aku sering tidur dalam mobil yang kuparkir di Hollywood Hills. Polisi tidak pernah patroli di jalanan penuh pepohonan menuju Franklin Avenue ini. Saat itu keriangan Olimpiade musim panas sudah usai, dan polisi hanya hadir di pusat Hollywood. Ini membuat banyak penjahat, bromocorah, dan preman membanjiri kawasan yang tak diawasi. Obat bius dijual bebas di Hollywood. Aku tinggal di tengah-tengah itu semua, dengan sebuah bass yang masih belajar aku mainkan.</p>
<p>Namun aku tetap pede dengan kemampuanku bersosialisasi dan bahwa aku punya banyak hal untuk ditawarkan. Aku merasa punk rock sudah menjelang sakaratul maut pada 1984. Dua gelombang pertama sudah usai &#8211;band punk orisinil dan kemudian band hardcore. Apapun yang akan terjadi pada genre ini, orang-orang seumuranku &#8211;yang sudah melewati periode punk dan sedang mencari arah baru&#8211; adalah yang akan melakukannya. Masa depan terletak di pundak kami. Aku mencari orang lain sepertiku, yang tertarik membuat paradigma baru. Aku yakin aku akan memainkan peranan penting dan vital dalam inovasi musik apapun di masa depan.</p>
<p>Dengan semua yang berkecamuk dalam kepala, mataku menumbuk iklan di koran lokal gratisan bernama <em>The Recycler</em>. Itu adalah iklan sebuah band yang sedang mencari pemain bass. Orang yang harus dihubungi bernama Slash. Dengan nama sesangar itu, aku berasumsi kalau dia adalah seorang lelaki punk rock sepertiku. Dan jika kami punya latar belakang musik yang sama, mungkin visi kami akan sama pula.</p>
<p>Seingatku, tidak ada yang menarik di kancah musik Los Angeles pada musim gugur 1984. Hanya beberapa sisa band punk, dan gerakan heavy metal yang tumbuh subur tapi kualitasnya buruk, dan sesuatu yang disebut sebagai &#8220;cow punk&#8221;. Aliran itu pada dasarnya berisikan lelaki berpenampilan punk rock mengenakan hem kotak-kotak mencoba memainkan lagu-lagu Patsy Clines dengan latar belakang suara nyanyian pacar gendut mereka.</p>
<p>Iklan yang dipasang Slash menyebut pengaruh musiknya adalah Alice Cooper, Aerosmith, dan Motorhead. Itu paling lumayan sejauh yang pernah aku temui di L.A. Lagipula aku cuma ingin cari kawan baru.</p>
<p>Aku menelpon Slash dan ngobrol. Suaranya lembut, tetap sama hingga sekarang. Saat dia menyebut nama bandnya, aku mendengar Rodker. <em>Wah</em>, batinku, <em>itu nama yang aneh untuk sebuah band</em>. Kemudian aku berencana kopi darat dengan Slash dan kawan drummernya, Steven Adler, di sebuah resto 24 jam bernama Canter&#8217;s yang berada di kawasan Fairfax.</p>
<p>&#8220;Aku akan pastikan kami duduk di meja pertama di sebelah kiri,&#8221; katanya.</p>
<p>Aku bilang padanya kalau rambutku berwarna biru dan akan mengenakan mantel kulit panjang berwarna hitam dan merah.</p>
<p>&#8220;Dengan ciri seperti itu, kayaknya aku gak bakal salah mengenalimu deh,&#8221; katanya.</p>
<p>Satu hal yang sudah aku sadari: orang-orang dari Seattle terlihat amat berbeda kala itu. Saat band seperti Black Flag atau Dead Kennedys bermain di Seattle, mereka selalu berkomentar betapa berbedanya penonton di sana. Tapi aku baru kepikiran waktu sudah pindah ke L.A sih. Di sini, aku memutuskan akan tetap berpenampilan berbeda untuk meyakinkan pemeriksa KTP di bar bahwa aku tak berasal dari Amerika Serikat dan karenanya tak bisa berbahasa Inggris. Saat mereka minta KTP-ku, aku akan mengangkat kacamata dan memasang tatapan bingung. Mereka mungkin mengira aku dari Swedia dan sekitarnya. Dan benar: cara ini amat ampuh menipu mereka.</p>
<p>Aku pergi ke Canter dengan mantel germo seperti janjiku: sehelai mantel kulit hitam yang panjangnya menyentuh kaki, dengan hiasan samping warna merah. Sebenarnya ada huruf A merah &#8211;logo Anarki&#8211; di bagian punggung, tapi aku menindasnya dengan spidol hitam begitu bandku di Seattle bubar. Band itu bernama The Fartz, dan logo kami menyertakan logo A anarkis itu.</p>
<p>Saat aku masuk dan menengok ke arah kiri, aku seperti melihat bongkahan rambut. Bagaimanapun aku mengharapkan pria yang berpenampilan seperti personel Social Distortion. Ternyata, meski mereka seumuranku, para personel Rodker ini berambut gondrong dan punya pacar yang berdandan sama.</p>
<p>Dandanan dua rocker gondrong dari Hollywood cukup bikin aku terkejut, dan aku jelas bingung bagaimana memulai pembicaraan. Namun sama saja, dengan dandananku yang berambut biru lengkap dengan mantel panjang, aku pasti terlihat seperti alien bagi mereka. Kami sama-sama lumayan terkejut dan penasaran satu sama lain.</p>
<p>Di balik rambut gondrong Slash, tersembunyi sebuah pribadi introvert yang pemalu. Dia keren, sih. Ia menyembunyikan sebotol vodka di bawah meja. Ia dan Steven belum genap berusia 21 tahun, cuma vodka yang bisa ia beli. Kami minum vodka dan menyantap sup gandum kacang polong ala Canter. Hingga sekarang aku masih menyukai sup itu.</p>
<p>Bukan cuma tukang pukul klub yang heran dengan dandanan punk Seatlle-ku. Pacar Slash juga amat kaget. Ia mencondongkan badannya padaku dan bertanya, &#8220;Apakah kamu gay?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan gay,&#8221; kataku sembari tertawa.</p>
<p>&#8220;Rambutmu pendek. Kurasa kamu gay. Gak papa kok, kamu bisa jujur padaku. Kamu punya pacar gak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum,&#8221; ujarku. &#8220;Aku baru saja pindah ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Santai saja. Kami akan carikan pacar untukmu.&#8221;</p>
<p>Steven Adler amat ramah dan ekspresif, dengan antusiasme yang serupa bocah kecil.</p>
<p>Dia bilang, &#8220;Dengar, kita akan jadi hebat. Akan membuat kaki menghentak dan tangan bertepuk.&#8221;</p>
<p>Ia masih mengatakan kalimat itu hingga sekarang, saat mulai duduk di balik perangkat drum dan merasa bersemangat: membuat kaki menghentak dan tangan bertepuk.</p>
<p>Kami kemudian pulang ke rumah Slash &#8211;dia tinggal bersama ibunya. Malam itu aku melihat dengan jelas: Slash adalah pemain gitar yang istimewa meski hanya memainkan gitar akustik. Aku terkejut oleh kekuatan emosi mentah dan liar yang begitu mudah ia uarkan. Slash sudah berada di kelompok pemain gitar hebat, dan menontonnya menggenjreng gitar adalah momen &#8220;Iki sangar cuk&#8221;.</p>
<p>Meski begitu, aku khawatir dia dan Steven punya pengaruh musikal yang berbeda denganku. Ketakutan itu berakar pada pengalaman di Seattle, bahwa orang gondrong cenderung kuno dan ketinggalan zaman. Rambut gondrong di Seattle berarti orang ndeso, atau petani, atau penebang pohon. Rambut gondrong berarti heavy metal. Kami yang berada di kancah punk memanggil orang-orang seperti itu dengan sebutan &#8220;hesher&#8221;**. Kami adalah orang kota. Kami menganggap diri sendiri sebagai orang modern, gaul. Tentu saja ketakutanku itu juga berdasarkan pengalaman langsung: Slash dan Steven masih sering memainkan lagu Anvil, &#8220;Metal on Metal&#8221;. Dan ternyata nama band mereka adalah Road Crew, bukan Rodker.</p>
<p>Terlepas dari itu semua, semakin sering kami nongkrong, ngobrol, dan mendengarkan musik, semakin banyak kemiripan di antara kami. Slash juga menunjukkan beberapa gambarnya malam itu. Tentu saja waktu itu aku gak kepikiran kalau tak sampai setahun kemudian dia akan menggambar logo band kami: dua pistol dengan batang mawar berduri yang merambati selongsong peluru.</p>
<p>Slash adalah pria eksentrik. Dia punya ular di kamarnya.</p>
<p>&#8220;Dia amat manis,&#8221; katanya.</p>
<p>Aku cuma diam. Tapi dalam hati, aku mikir. <em>Ular? Manis? Matamu suwek</em>.</p>
<p>Tapi dia tetap orang yang keren dan kalem. Dia juga seorang pemain gitar jenius, dan aku menyukainya. Dan yang paling penting, aku tahu di mana Slash tinggal dan aku tahu cara menuju ke sana. Karena itu, hubungan perkawanan kami awet. Aku tak punya kawan di kota baru ini. Tahu di mana rumah Slash, aku bisa datang kapan saja, dan karenanya perkawanan kami jadi awet.</p>
<p>Dan sebagai bonus tambahan, aku menyukai Ola, ibunya. Ia amat baik. Bahkan dia menelpon ibuku, mengabari kalau aku baik-baik saja. Juga menelpon Black Angus untuk mengabari hal yang sama. Ola menjadi ibu angkatku selama awal-awal minggu di L.A (dia tetap jadi ibu angkatku selama bertahun-tahun sih).</p>
<p>Slash, Steven, dan aku mulai ngejam di studio di ujung Highland dan Selam. Sewa studio ini 5 dolar per jam, 15 dolar kalau kamu ingin PA. Aku menghabiskan semingguan ngejam dengan mereka selagi aku tinggal di mobilku.</p>
<p>Pada akhirnya, aku merasa tak cocok bermain dengan mereka. Meskipun Slash amat berbakat, arah musiknya dan Steven bukanlah tujuanku. Lagu yang mereka punya, suara gitar, drum double-kick Steven lengkap dengan tom-tom dan simbal, semua terlalu konvensional. Musik mereka masih mencari bentuk, sekaligus terpaku pada pakem lama. Sedangkan aku mencari orang-orang yang siap membuat pakem musik baru.</p>
<p>Selain itu band kami tak punya vokalis. Kami seperti band SMA, tapi lengkap dengan gitaris hebat. Sudah berada di lusinan band dan bermain dengan musisi profesional yang tak terhitung jumlahnya, aku menganggap diriku adalah musisi veteran. Aku merasa kalau Slash dan Steven punya cita-cita, mereka ingin lebih dari ini, walau mereka belum tahu musiknya akan seperti apa. Aku tak pergi ke Los Angeles untuk bermain bersama orang-orang yang belum tahu mau ngapain.</p>
<p>Setelah seminggu, aku bilang ke mereka, &#8220;Aku gak cocok ngeband bareng kalian, tapi aku masih ingin berkawan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, oke,&#8221; kata mereka.</p>
<p>Di umur segitu, tak ada kecanggungan. Menjadi blak-blakan adalah hal biasa. Aku mencintai Slash dan Steven, tapi saat itu Road Crew bukanlah band yang aku cari.</p>
<p>Kami masih tetap nongkrong bareng. Beberapa minggu kemudian, di bulan Oktober, Slash dan Steven mengajakku ke konser di Troubadour, klub malam di bilangan West Hollywood, untuk menonton band bernama L.A Guns. Slash dan Steven pernah bermain berasma vokalisnya, Axl Roses, dalam band bernama Hollywood Rose, yang sekarang sudah bubar. Sekarang Axl berada di band lain, yang mengambil nama gitarisnya, Tracii Guns. Ternyata Tracii adalah pahlawan lokal. Dia satu SMA dengan Slash dan band mereka adalah rival.</p>
<p>Troubadour adalah klub rock sejati, dan ini adalah pertama kalinya aku pergi ke klub rock. Konser punk di Seattle biasa dihelat di tempat yang jauh berbeda &#8211;di tanah lapang, gudang bawah tanah di rumah, atau aula milik veteran perang yang disewa semalam. Jelas berbeda dengan di L.A. []</p>
<hr />
<p><em>* Space Needle adalah bangunan ikonik di Seattle yang berbentuk seperti kendaraan luar angkasa. Ikoniknya bangunan ini mirip dengan Monas bagi Jakarta.</em></p>
<p><em>** Hesher adalah istilah slang bagi orang yang masih tampak terjebak di era 80-an: berambut mulet, mengenakan sepatu Reebok hi-top, mengenakan kaus Judas Priest, dan masih tinggal bersama orang tuanya.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/its-so-easy-and-other-lies/">It&#8217;s So Easy: And Other Lies</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/its-so-easy-and-other-lies/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3843</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Not in This Lifetime: Konser Akbar Guns N Roses di Singapura</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/not-lifetime-konser-akbar-guns-n-roses-di-singapura/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/not-lifetime-konser-akbar-guns-n-roses-di-singapura/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2017 20:23:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N Roses]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Guns N Roses Singapura]]></category>
		<category><![CDATA[Not in This Lifetime]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3806</guid>

					<description><![CDATA[<p>I April 1986. Band dengan reputasi berandalan jalanan, Guns N Roses, baru saja menandatangani kontrak dengan Geffen Records. Saat itu GNR memang sedang naik daun. Mereka menjadi penampil utama di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/not-lifetime-konser-akbar-guns-n-roses-di-singapura/">Not in This Lifetime: Konser Akbar Guns N Roses di Singapura</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>I</strong></p>
<p>April 1986. Band dengan reputasi berandalan jalanan, Guns N Roses, baru saja menandatangani kontrak dengan Geffen Records. Saat itu GNR memang sedang naik daun. Mereka menjadi penampil utama di berbagai bar besar di kawasan Los Angeles, California. Namun setelah mendapat kontrak, bermain di bar tentu tak akan menjadi prioritas utama bagi manajemen maupun label.</p>
<p>Maka untuk merayakan kejadian besar ini &#8211;nyaris semua dari mereka berpikir akan berakhir sebagai residivis atau penjual narkoba atau germo atau gelandangan&#8211; sekaligus membuat pesta perpisahan, GNR membuat 3 pertunjukan terakhir sebelum masuk ke dapur rekaman. Dua kali di Roxy, dan satu di Whisky a Go Go.</p>
<p>Nama klub terakhir itu amat penting. Sebab Whisky adalah saksi hidup dari sejarah rock n roll di kawasan Los Angeles. Banyak band besar lahir dan besar di tempat ini. Mulai The Doors hingga Motley Crue. Tapi di awal dekade 1980-an, tempat ini sempat beralih fungsi sebagai kantor bank selama beberapa tahun, hingga akhirnya kembali ke khittahnya sebagai klub malam. GNR diputuskan untuk membaptis ulang kelahiran Whisky. Untuk mengundang banyak orang, dibuatlah poster berukuran besar dengan kata-kata seronok berhuruf kapital.</p>
<p><strong>KAPAN TERAKHIR KALI KAMU MENONTON BAND ROCK N ROLL SEJATI DI WHISKY A GO GO?</strong></p>
<p><strong>BISA JADI INI KESEMPATAN TERAKHIRMU!</strong></p>
<p>Ditakut-takuti tak akan bisa menonton band rock n roll sejati yang segera akan melanglang dunia, plus ini pembukaan ulang Whisky yang legendaris itu, maka klub ini dengan segera penuh oleh penonton Los Angeles yang terkenal amat selektif dalam memilih band.</p>
<p>Lagipula siapa yang tahu ke mana GNR akan benar-benar berlabuh. Alih-alih menjadi terkenal, bisa saja mereka akan berakhir jadi narapidana, pengedar narkoba, atau mati konyol karena overdosis.</p>
<p>Iya, bisa jadi ini kesempatan terakhir, baik bagi penonton maupun GNR sendiri.</p>
<p><strong>II</strong></p>
<p>Saat tiga orang personel asli GNR memutuskan untuk reuni &#8211;vokalis Axl Rose, gitaris Slash, dan bassist Duff McKagan&#8211; dunia terhenyak. Semua makmum rock n roll tahu kalau Axl dan Slash, dua matahari kembar di band ini, tak akur sejak puluhan tahun lalu. Penampilan terakhir mereka terjadi pada 1993. Dan sejak saat itu, Axl lebih banyak menyerang Slash. Suatu waktu, vokalis dari Indiana ini pernah menyebut mantan kompatriotnya ini sebagai kanker dan harus dijauhi.</p>
<p>Axl dan Slash punya karir bermusik yang kemudian menapak di jalan berbeda. Axl berusaha sekeras mungkin menjaga marwah GNR, menjaganya sebagai band yang pernah mendapat julukan band paling berbahaya di dunia. Sedangkan Slash bisa berjalan lebih bebas. Dia memang masih dikenal sebagai gitaris ikonik GNR, tapi juga lebih santai dan membuatnya bebas membuat proyek musikal apapun. Sejak beberapa tahun terakhir, selain mengomandani supergrup Velvet Revolver, Slash membuat album solo yang menggandeng banyak penyanyi. Salah satu yang kemudian menjadi partner bermusiknya dalam waktu lama adalah Myles Kennedy, penyanyi Alter Bridge yang dikenal punya jangkauan vokal yang panjang.</p>
<p>Tapi media selalu melontarkan pertanyaan sama terhadap band yang sudah pecah: kapan kalian akan reuni? Kalau pertanyaan itu dilempar ke band biasa, mungkin yang ditanya hanya akan senyum-senyum saja sembari menjawab penuh retorika. Tapi akan lain halnya kalau yang ditanya adalah Axl Rose. Jawabannya lantang, sedikit pedas, dan banyak sinisnya:</p>
<p>&#8220;Not in this lifetime. Tidak di kehidupan ini.&#8221;</p>
<p>Karena itu, banyak orang tak percaya kalau akhirnya tiga orang personel asli ini benar-benar reuni. Kabar itu dianggap mitos yang sama tidak meyakinkannya dengan keberadaan unicorn. Hingga akhirnya dunia melihat kalau mereka bertiga, mengusung bendera GNR, bermain sebagai bintang utama di The Troubadour, klub malam yang berjasa membesarkan mereka. Dengan cepat, 500 lembar tiket langsung ludes. Lalu selang seminggu, dibuatlah konser di T-Mobile Arena selama dua hari. Sebanyak 28.849 tiket dijual, dan langsung habis. Pada 16 April 2016 dan 23 April 2016, GNR menjadi penampil utama di festival Coachella.</p>
<p>Setelahnya, tak perlu waktu lama untuk dibuat tur keliling dunia. Ini adalah tur ambisius, walau tak seambisius tur Use Your Illusion yang berjalan 2 tahun. Tapi mengingat ini adalah tur pertama sejak 1993, jangka waktu April 2016 hingga September 2017 sudah amat panjang. Di Asia, mereka akan main di Jepang, Singapura, Thailand, dan Uni Emirat Arab. Kali ini Indonesia dilewati.</p>
<p>Karena tak mampir ke Indonesia, banyak penggemar GNR yang kemudian rela menyebrang ke Singapura untuk menonton mereka. Mengutip kalimat promosi di brosur penampilan GNR pada April 1986, bisa jadi ini kesempatan terakhir menonton GNR dengan tiga orang personel asli.</p>
<p>Tapi kali ini sudah tak ada lagi ketakutan mereka akan jadi residivis atau narapidana. Ketakutannya berganti, siapa tahu mereka akan kembali tengkar lalu kembali bubar jalan. Atau mati. Tahun ini, rata-rata umur tiga personel ini sudah 53 tahun. Kematian jadi terasa lebih dekat seperti nadi.</p>
<p><strong>III</strong></p>
<p>&#8220;You know where the fuck you are?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yeaaaaaaahhhhhhh!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;You are in the jungle baby!&#8221;</p>
<p>&#8220;Yeaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;You&#8217;re gonna dieeeeeeeeeeeee!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Yeaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh!!!&#8221;</p>
<p>Kalau ada bagian lirik yang begitu bisa mengundang histeria massa, mungkin salah satunya adalah &#8220;Welcome to the Jungle&#8221;. Lagu pembuka di album debut Appetite for Destruction ini nyaris tak pernah gagal mengundang teriakan penonton. Di versi album, teriakan ini berada di bagian tengah lagu. Di konser, teriakan itu dipindah ke awal, sebelum intro ikonik dari Slash dimulai.</p>
<p>Di Singapura, teriakan itu tetap tak gagal mengundang teriakan massa meski kebanyakan sudah tahu apa saja lagu-lagu yang akan dimainkan GNR. Di era internet, daftar lagu yang dimainkan sudah tak lagi jadi misteri. Di situs seperti Setlist, penonton bisa tahu apa saja lagu yang dimaikan dalam tiap konser. Bahkan dibuat persentase.</p>
<p>Misalkan, di seluruh 47 konser GNR selama 2016, lagu &#8220;It&#8217;s So Easy&#8221; selalu jadi pembuka. Dengan persentase 100 persen, kita tahu bahwa &#8220;It&#8217;s So Easy&#8221; akan jadi pembuka di konser GNR Singapura. Benar saja. Saat Duff, Slash, dan Axl muncul 30 menit terlambat dari jadwal yang seharusnya pukul 8 malam, lagu dari <em>Appetite for Destruction</em> ini langsung digeber sebagai pembuka. Jelas, Duff mendapat sorotan awal. Sebab intro lagu ini khas: bass yang dibetot bertalu-talu. Musik pembukanya, lengkap dengan drum yang berderap, selalu cocok dijadikan lagu latar adegan pemuda berandalan yang dikejar-dikejar polisi dalam berbagai film aksi.</p>
<p>Malam itu, Changi Exhibition Center dipenuhi sekitar 50.000 penonton. Menurut LAMC Productions, promotor hiburan terbesar di Singapura yang berada di balik aneka ria pertunjukan besar di negeri Singa itu, konser GNR adalah yang terbesar sepanjang sejarah Singapura. Sebelumnya, rekor penonton terbanyak diraih saat Metallica manggung pada 2014. Saat itu, konser dihadiri oleh sekitar 40.000 orang.</p>
<p>Tapi dasar Singapura, agak susah mau berbuat sedikit ugal-ugalan di sini. Di tengah set, saat lagu &#8220;Live and Let Die&#8221; dimainkan, seorang penonton perempuan dibopong di atas bahu kawannya. Mereka bernyanyi bersama dan berjoget. Tiba-tiba saja seorang tenaga keamanan mendatangi mereka, dan setengah memaksa perempuan itu turun. Padahal pemandangan penonton dibopong itu adalah hal biasa dalam konser rock. Di Indonesia, pemandangan seperti itu bahkan bisa ditemui di hajatan dangdut di kampung-kampung.</p>
<p>Ah dasar negara yang terlalu terobsesi dengan keamanan.</p>
<p>Malam itu GNR banyak membawakan lagu yang nyaris jarang dimaikan. Lagu &#8220;Coma&#8221;, misalkan, membuat saya kaget ketika dimainkan. Lagu dari album <em>Use Your Illusion I</em> ini adalah lagu terpanjang dalam seluruh diskografi GNR, merentang 10 menit 14 detik. Karena panjang dan cukup rumit dibawakan, lagu ini termasuk lagu yang paling langka ditonton di sepanjang konser GNR. Sepanjang 1991-1993 saja, hanya empat kali lagu ini dimainkan secara langsung. Dalam konser di T-Mobile Arena, 8 April 2016, &#8220;Coma&#8221; dimainkan untuk pertama kalinya sejak 23 tahun. Sejak saat itu, &#8220;Coma&#8221; kemudian rutin dimainkan di tur Not in This Lifetime.</p>
<p>Begitu pula &#8220;Double Talkin&#8217; Jive&#8221; yang nyaris tak pernah dibawakan selepas usainya tur Use Your Illusion. Lagu ini dibuat Izzy setelah polisi menemukan sesosok mayat di tempat sampah, pas di belakang studio tempat mereka merekam<em> Use Your Illusion</em>. Ini adalah salah satu lagu GNR paling eksperimentatif. Kocokan gitar hard rock dari Izzy, ditimpali dengan solo gitar Slash yang berlanggam flamengo dengan bahan bakar diesel beroktan tinggi. Nyaris susah menemukan komposisi seperti ini di kalangan band seangkatan GNR yang terlalu terobsesi dengan make up, musik standar rock n roll, dan lirik soal pesta, mabuk, dan ngewe’.</p>
<p><strong>IV</strong></p>
<p>Ini pengakuan memalukan, tapi saya menangis lima kali di konser ini. Salah satunya adalah saat mereka membawakan lagu &#8220;Yesterdays&#8221;, dari album <em>Use Your Illusion II</em>. Lirik lagu ini bercerita tentang masa muda yang terbuang sia-sia, dan sesosok orang tua yang mengenangnya dengan gundah.</p>
<p><em>&#8216;Cause yesterday&#8217;s got nothin&#8217; for me</em><br />
<em>Old pictures that I&#8217;ll always see</em><br />
<em>Some things could be better</em><br />
<em>If we&#8217;d all just let them be</em></p>
<p><em>Yesterday&#8217;s got nothin&#8217; for me</em><br />
<em>Old pictures that I&#8217;ll always see</em><br />
<em>I ain&#8217;t got time to reminisce old novelties</em></p>
<p>Membaca liriknya, bisa saja kita beranggapan bahwa ini adalah nubuat bahwa GNR yang sudah pecah tak akan bisa kembali bermain bersama. Bagi seorang penggemar, tak ada yang lebih menyedihkan ketimbang itu. Karenanya, bisa melihat tiga orang personel asli bermain bersama lagi di kehidupan ini, ada rasa haru yang menyeruak. Tiba-tiba saja, saat Axl menyanyikan bait &#8220;some things could be better if we&#8217;d all just let them be&#8221; dengan nada yang hanya bisa lahir berkat kebijaksanaan berusia setengah abad, air mata tiba-tiba mengucur. Tai kucing segala machoisme. Itu tak ada artinya di hadapan mimpi masa kecil yang terpenuhi.</p>
<p>Kemudian saya kembali menangis saat lagu &#8220;Estranged&#8221; dimainkan. Axl menuliskan lagu ini di salah satu masa paling rendah: cerai dengan Erin Everly, perempuan yang untuknya dibuat lagu manis, &#8220;Sweet Child o&#8217; Mine&#8221;.</p>
<p>“Estranged”, lagu dari album <em>Use Your Illusion II</em> berdurasi 9 menit 24 detik ini adalah salah satu lagu paling populer dari GNR. Dimainkan dalam nyaris setiap panggung. Tapi ada energi berbeda yang terasa saat Slash sendiri yang memainkan solo gitarnya. Air mata sedikit susah dibendung saat Axl berujar, &#8220;Mister Dizzy Reed on keyboard&#8221;.</p>
<p>Permainan keyboard Dizzy itu adalah jembatan antara kecemasan eksistensial nan gelap di awal-awal lagu, menuju bagian lain lagu yang lebih cerah dan penuh pengharapan. Axl berusaha memahami dirinya sendiri, juga memberi gambaran kepada manusia lain, bahwa saat manusia terperosok ke lubang kesedihan yang paling dalam, tak ada lagi gunanya segala pencapaian dan kebanggaan.</p>
<p><em>When I find out all the reasons</em><br />
<em>Maybe I&#8217;ll find another way</em><br />
<em>Find another day</em><br />
<em>With all the changing seasons of my life</em><br />
<em>Maybe I&#8217;ll get it right next time</em></p>
<p><em>And now that you&#8217;ve been broken down</em><br />
<em>Got your head out of the clouds</em><br />
<em>You&#8217;re back down on the ground</em><br />
<em>And you don&#8217;t talk so loud</em><br />
<em>And you don&#8217;t walk so proud</em><br />
<em>Any more, and what for</em></p>
<p>Lalu solo gitar indah itu dimainkan. Saya mewek. Seperti mendengar sebuah kidung puja puji bagi yang maha suci. Agung. Luhur. Syahdu. Sialan benar gitaris kribo ini. Siapa yang menyangka kalau dari jemari yang sering mengobel ratusan meki di masa mudanya, bisa terlahir pula solo gitar kudus yang begitu menghangatkan. Tak heran kalau Axl yang dikenal egosentris pun menyematkan pujian di bawah lirik lagu ini: Slash, thanks for the killer guitar melodies.</p>
<p><strong>V</strong></p>
<p>Saat &#8220;Nightrain&#8221; dimainkan, semua penonton tahu konser akan segera berakhir. Lalu para personel GNR akan kembali ke balik panggung. Beristirahat sebentar, selagi menikmati teriakan penonton &#8220;We want more!&#8221; Lalu mereka akan kembali ke atas panggung disambut teriakan suka cita dari puluhan ribu pemujanya. Lalu empat lagu dimainkan, termasuk &#8220;Patience&#8221; dan ditutup oleh &#8220;Paradise City&#8221; yang rancak lagi membikin bersemangat itu. Oh ya, di bagian ini Slash sialan itu memainkan solo gitar dari balik kepalanya. Dasar gitaris sableng.</p>
<p>Usai itu, para personel GNR akan kembali ke balik panggung. Namun tak lama. Mereka akan kembali ke atas panggung, mengucapkan sayonara dan sampai jumpa lagi, dan tentu saja dibalas dengan riuh tepuk tangan yang bisa menyaingi suara mesin pesawat. Kupikir ada banyak penonton yang mengharapkan ada album baru dari mereka.</p>
<p>Lalu yang tersisad dari konser selama 3 jam ini adalah kaki pegal. Pinggang sakit serasa habis dihantam Mike Tyson. Perut lapar serasa habis dikuras kosong. Tapi dada dipenuhi rasa bahagia yang membuncah. Axl rose memang tak muda lagi, tarian ularnya sudah tak seksi dan tak lagi bisa membikin perempuan manapun orgasme. Suaranya pun beberapa kali kepleset nada. Tapi siapa yang peduli, apalagi dia masih bisa berteriak &#8220;You know where the fuck you are&#8221; dan masih mengundang histeria massa yang memecah udara. Slash masih bermain dengan energi yang sama, walau jemari-jago-mengobel itu sudah lama membengkak. Duff masih tetap dengan uber coolness, kekerenan yang tiada banding. Tapi kali ini dibarengi oleh kerut di muka dan suara yang sedikit berubah.</p>
<p>Mereka menua, tapi begitu juga kita. Begitu pula saya, yang pertama kali mendengar GNR saat SMP dan langsung tahu kalau band ini akan saya cintai sampai saya dikubur kelak. Menonton GNR dengan tiga personel lengkap mungkin adalah pengalaman yang nyaris langka. Sebab, mengutip flyer saat mereka membaptis ulang Whisky a Go Go: kapan lagi.</p>
<p>Siapa tahu mereka akan bertengkar dan bubar lagi. Siapa tahu salah satu dari mereka, atau malah kita, akan dipanggil ke alam barzah. Siapa yang tahu masa depan? Dan karena itu: kapan lagi bisa menonton GNR dengan tiga personel asli? []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/not-lifetime-konser-akbar-guns-n-roses-di-singapura/">Not in This Lifetime: Konser Akbar Guns N Roses di Singapura</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/not-lifetime-konser-akbar-guns-n-roses-di-singapura/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3806</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Terhibur Oleh Arrow Guns</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/terhibur-oleh-arrow-guns/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/terhibur-oleh-arrow-guns/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2015 07:50:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Arrow Guns]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N Roses]]></category>
		<category><![CDATA[McAxl]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2665</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya gembira sekali waktu melihat poster acara Tribute to Guns N Roses. Band yang akan tampil adalah Arrow Guns, salah satu band replikasi Guns N Roses yang paling kesohor di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/terhibur-oleh-arrow-guns/">Terhibur Oleh Arrow Guns</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya gembira sekali waktu melihat poster acara Tribute to Guns N Roses. Band yang akan tampil adalah Arrow Guns, salah satu band replikasi Guns N Roses yang paling kesohor di Jakarta.</p>
<p>Saya pertama kali menyaksikan Arrow Guns di Soundrenaline 2009 di Bali. Waktu itu saya takjub sekali dengan penampilan band ini. Mereka sangat menjiwai penampilannya. Vokalisnya &#8211;belakangan saya tahu namanya adalah McAxl, setelah dikenalkan oleh Rezanov&#8211; mirip sekali dengan Axl. Ia tak segan memakai celana pendek putih yang sangat ketat, bandana merah, dan wig berwarna cokelat.</p>
<p>Karena saya sudah lama sekali tidak nonton konser yang menghibur, maka saya niatkan untuk pergi ke acara yang diadakan di @America ini. Saya ajak Rani dan Miko untuk ikut serta. Dan kami seperti direstui untuk menonton. Jalanan Jakarta di Jumat petang yang biasanya biadab, jadi lancar jaya.</p>
<p>Kami sampai beberapa menit sebelum acara dimulai. Seperti biasa, di @America penjagaannya sangat ketat. Harus melalui dua kali pindai badan, dan tas harus dititipkan di loker.</p>
<p>Saya tertawa senang saat melihat personel Arrow Guns naik ke atas panggung. Kuncinya adalah: totalitas. Sebagai band replika, mereka sangatlah total.</p>
<p>Gitaris yang menjadi Slash, misalkan. Ia tampil dengan piranti ala Slash. Mulai celana kulit, rantai dompet, gitar Gibson Les Paul berwarna emas, ampli Marshall, wig kribo, topi ala pesulap, bahkan kaos hitam bergambar sigung yang sering dipakai oleh Slash.</p>
<p>Atau karakter Izzy Stradlin. Tampil dalam balutan kemeja putih lengan panjang, yang dilapisi oleh rompi berwarna hitam, lengkap dengan topi pet khas Izzy.</p>
<p>Karakter Duff McKagan pun begitu. Dengan wig pirang. Sedangkan si drummer, saya belum yakin ia meniru siapa. Apakah Steven Adler atau Matt Sorum. Saya duga, ia meniru Matt. Rambutnya yang mekar, lebih mirip dengan Matt, ketimbang Steven yang panjang dan tidak mekar.</p>
<p>McAxl tentu jadi bintang panggung malam itu. Saya terkesima dengan dedikasinya. Ia berkali-kali berganti kaos, celana, serta sepatu. Mulai dari kaos bergambar Yesus yang bertuliskan &#8220;Kill Your Idol&#8221;, hingga kaos bergambar Charles Manson yang dipopulerkan oleh Axl di video klip &#8220;Estranged&#8221;.</p>
<p>Belum lagi sepatunya. Entah dari mana McAxl mendapatkan sepatu keren itu. Sepatu berwarna putih dengan aksen merah, serta bertuliskan AXL di bagian tongue sepatu itu adalah sepatu yang langka. Malah sepertinya tidak dijual di manapun. Mungkin McAxl membuat sendiri sepatu keren itu.</p>
<p>Tak heran kalau McAxl jemawa dengan totalitas Arrow Guns dalam mengemas ulang kejayaan Guns N Roses ini.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu bisa menemukan band tribute Guns N Roses yang total seperti kita, di Indonesia, tidak, bahkan di Asia Tenggara, aku bakal ngasih uang 100 juta dollar,&#8221; kata McAxl dalam bahasa Inggris dan cara bicara yang dimiripkan dengan Axl Rose.</p>
<p>Saya ngekek.</p>
<p>Arrow Guns tampil tanpa basa basi di awal. Menggebrak dengan lagu &#8220;Night Train&#8221; yang langsung disambung dengan &#8220;Mr. Brownstone&#8221;. Semua tampil dalam kadar yang nyaris sempurna. Suara Axl Rose tiruan ini bahkan lebih bagus ketimbang Axl Rose yang beneran, di hari ini.</p>
<p>Saya juga salut dengan McAxl yang juga total dalam membawakan karakternya sebagai Axl Rose. Ia tak mau berbicara bahasa Indonesia. Ia memanggil kawan-kawannya dengan sebutan nama personel asli Guns N Roses. Ia juga tak lupa dengan <em>gimmick</em> kecil tapi penting, seperti peluit di lagu &#8220;Paradise City&#8221;.</p>
<p>Meski di awal tampil tanpa basa basi, ternyata McAxl adalah seorang penghibur kelas wahid. Beberapa kali penonton dibuat tertawa. Termasuk saya, Rani, dan Miko. Salah satu momen yang membuat saya tertawa sangat keras adalah waktu baterai mikrofon nirkabelnya sudah mau habis.</p>
<p>&#8220;Bah, baterenya low bat, Bah,&#8221; kata McAxl yang kelepasan ngomong pakai Bahasa Indonesia.</p>
<p>Saya ngakak, penonton lain tertawa keras. Abah Jaya Roxx, yang jadi <em>soundman</em> hari itu, juga ngakak gak karuan.</p>
<p>Konser tribute to Guns N Roses ini berlangsung 2 jam. Puas sekali. Pilihan lagunya juga ciamik. Mulai dari &#8220;You Could Be Mine&#8221;, &#8220;November Rain&#8221;, &#8220;Live and Let Die&#8221;, &#8220;Knockin On Heaven&#8217;s Door&#8221;, hingga &#8220;Estranged&#8221; yang epik, namun sempat salah dibawakan di bagian awal. Bahkan saya mengacungi jempol karena Arrow Guns berani mendepak &#8220;Sweet Child O Mine&#8221; dari daftar lagu, dan menggantinya dengan lagu yang kurang populer, semisal &#8220;So Easy&#8221; dan &#8220;Rocket Queen&#8221;.</p>
<p>Sudah lama sekali saya tak terhibur seperti ini. Rani dan Miko juga tampak bahagia menonton konser ini. Kami tertawa dan bernyanyi di sepanjang pertunjukan. Sepertinya acara seperti ini harus sering-sering diadakan. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/terhibur-oleh-arrow-guns/">Terhibur Oleh Arrow Guns</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/terhibur-oleh-arrow-guns/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2665</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Seperempat Abad Menunggu Guns N Roses (1)</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/seperempat-abad-menunggu-guns-n-roses-1/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/seperempat-abad-menunggu-guns-n-roses-1/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2012 03:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Appetite for Destruction]]></category>
		<category><![CDATA[Guns N Roses]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1162</guid>

					<description><![CDATA[<p>September 2012. Wendi Putranto mendapat kabar mengejutkan dari seorang kawannya yang merupakan seorang promotor musik. Kabar itu mengenai rencana kedatangan Guns N Roses (selanjutnya ditulis GNR) ke Indonesia. Wendi adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/seperempat-abad-menunggu-guns-n-roses-1/">Seperempat Abad Menunggu Guns N Roses (1)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr" style="text-align: left;">
<div style="text-align: justify;">
<p>September 2012. Wendi Putranto mendapat kabar mengejutkan dari seorang kawannya yang merupakan seorang promotor musik. Kabar itu mengenai rencana kedatangan Guns N Roses (selanjutnya ditulis GNR) ke Indonesia. Wendi adalah Executive Editor di Rolling Stone Indonesia. Ia sudah sejak lama dikenal sebagai seorang metalhead yang tangguh. Pria berkacamata ini juga dikenal sebagai pendiri zine pertama di Indonesia, Brainwashed. Sebagai seorang petinggi di majalah musik waralaba terbesar dunia, Wenz –sapaan akrab Wendi&#8211; memang sering mendapat kabar-kabar terbaru tentang dunia musik. Bahkan kabar yang termasuk rahasia.</p>
<p>&#8220;Waktu itu GNR masih belum confirmed jadi, masih rahasia,&#8221; ujar Wenz.</p>
<p>Sang kawan menanyakan pendapat Wenz tentang tanggal konser yang sedianya akan bentrok dengan konser Sting, tanggal 15 Desember 2012. Wenz meneguhkan sang kawan. &#8220;Sikat!&#8221; tegasnya.</p>
<p>Wenz memang bersemangat ketika menyambut kabar baik ini. Konser GNR adalah salah satu konser yang ia tunggu sejak lama, sudah sejak 24 tahun lalu. Bagi Wenz, album <em>Appetite for Destruction</em> (1987) yang pertama kali ia dengar pada tahun 1988, benar-benar mengubah hidupnya. Album itu ibarat pintu gerbang yang lantas membuka wawasan Wenz ke mayapada musik rock yang lebih luas. GNR juga membawa banyak kenangan tentang masa remaja Wenz. Ketika masih duduk di kelas 2 SMP, Wenz sering melakukan air guitar dan headbang dengan sapu ijuk sembari mendengarkan lagu-lagu dari album <em>Appetite for Destruction</em> dalam volume maksimal.</p>
<p>Sejak kerusuhan konser Metallica pada tahun 1993, konser band cadas di Indonesia dapat dihitung dengan jari. Hanya di tahun-tahun belakangan ini beberapa band rock luar negeri mau mengadakan konser di Indonesia. Animo penonton Indonesia pun ternyata luar biasa. Bisa jadi itu yang mendorong Indika Production mau mendatangkan GNR, band hard rock terbesar dunia sejak era 80-an, ke Indonesia.</p>
<p>Indika jelas melakukan perjudian disini. GNR nyaris tidak terlampau akrab dengan mayoritas generasi muda Indonesia yang mungkin lebih familiar dengan artis-artis K-Pop hingga bintang rock masa kini seperti Avenged Sevenfold atau Mastodon. Tapi pangsa penonton GNR juga sangat besar. Mengingat para penggemar mereka yang dulu adalah remaja sekarang sudah jadi kalangan thirty something yang sudah mapan, dan rela mengeluarkan banyak uang untuk menonton GNR. Selain itu, formasi GNR mutakhir yang sudah tidak menyertakan personel lama (Slash, Izzy, Duff, Steven) dan digantikan nama-nama baru, membuat banyak penggemar GNR bertanya-tanya: masihkan GNR bertaji, berbahaya dan layak ditonton?</p>
<p>&#8220;Setiap konser artis internasional apapun itu sebenarnya promotor berjudi, karena konser penuh dan ramai itu tidak pasti, tidak ada yang bisa menjamin sebuah konser bakal penuh dan laris tiketnya walau artisnya sangat populer. Pertimbangannya banyak hal, salah satunya faktor promosi. Kasusnya dengan GNR, ini adalah band rock yang sangat dikenal luas lagu-lagunya di Tanah Air, tak hanya di kalangan orang tua tapi juga anak-anak muda jaman sekarang. Ini karena lagu-lagu mereka masih sangat sering dimainkan di berbagai stasiun radio, seperti ‘Sweet Child O Mine,’ ‘November Rain,’ ‘Dont Cry,’ ‘Patience.’ Nama besar GNR (walau hanya tinggal Axl) dan berbagai cerita kontroversial tentang band ini membuat ribuan orang jadi penasaran untuk menyaksikan konsernya, disini lah hype kemudian terbentuk,&#8221; terang Wenz panjang lebar.</p>
<p>Dan ketika GNR sudah dipastikan jadi menyambangi Indonesia, orang yang pertama kali diberitahu oleh Wenz tentang kedatangan GNR adalah Mister. &#8220;Kalau Guns N Roses jadi konser di Indonesia, pasti Mister orang pertama yang gue kasih tau,&#8221; seloroh Wenz suatu ketika.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Namanya Mister Brownstone (nama samaran). Tapi para karib memanggilnya dengan sebutan Mister. Sama seperti banyak remaja yang besar di era 80-an, Mister akrab dengan musik rock. Ia mengenal Metallica ketika masih duduk di bangku SD. Ia ingat, album Metallica yang ia gemari masa itu adalah <em>Master of Puppets</em> (1986). Ketika Metallica menyambangi Indonesia pada tahun 1993, Mister pergi menonton konser itu. Kala itu, ia masih berumur 14 tahun. Tapi sepulang konser ia malah digampar oleh sang kakak.</p>
<p>&#8220;Masih kecil udah sok metal lu!&#8221;</p>
<p>Usut punya usut, ternyata Mister mencuri uang sang bapak. Mister kecil memang cerdik. Ia hafal dimana sang bapak yang punya usaha bengkel menaruh uang. Jadi ia mencurinya, lalu dibelikan tiket konser Metallica. Jadilah ia dihardik oleh sang kakak. Meski demikian, sang kakak lah yang mengenalkan Mister pada band yang kelak ia cintai dengan sepenuh hati: GNR.</p>
<p>&#8220;Bokap gue punya bengkel nih. Jadi suatu hari abang gue ngasih tau lagu keren, &#8216;Rocket Queen&#8217; di mobil yang lagi di bengkel. Belum selesai didengerin, mobil itu diambil sama yang punya. Akhirnya abang gue nyuruh gue minta kaset GNR ke ibu,&#8221; ujar Mister.</p>
<p>Saat itu tahun 1988. Album <em>Appetite for Destruction</em> baru masuk ke Indonesia. Mister baru berumur 9 tahun, masih duduk di kelas 3 SD. Ketika album itu dibeli, sang ibunda Mister marah-marah.</p>
<p>&#8220;Ini apa kok ada gambar salib dan tengkorak? Ini <em>anti-christ</em> ya? Musik setan ya?&#8221; seloroh Mister menirukan amukan ibunya dulu. Tapi Mister tak acuh. Setelah album debut itu dibeli dan track pertama &#8216;Welcome to the Jungle&#8217; diputar, Mister &#8216;meledak&#8217;.</p>
<p>Sejak saat itu ia jatuh cinta kepada band dari Los Angeles tersebut. Ia sering memplesetkan namanya menjadi Axl &#8220;Mister&#8221; Rose. Atau ada pula sebutan, yang diciptakan oleh kawan-kawannya, Mister N Rombongan. Akhirnya Mister lebih dikenal sebagai Mister Rose. Itu untuk menunjukkan kecintaan terhadap Axl Rose, sang frontman GNR.</p>
<p>&#8220;Itu sebutan dari si Wenz tuh!&#8221; kata Mister sambil tergelak.</p>
<p>Di awal bulan Oktober, kabar itu pasti sudah: GNR akan datang ke Indonesia pada bulan Desember. Konser itu akan jadi konser pertama dan satu-satunya Guns N Roses di Asia Tenggara. Wenz menepati janjinya dulu. Mister adalah orang pertama yang ia kabari tentang kedatangan Guns N Roses ke Indonesia.</p>
<p>&#8220;Kalo gue bisa ketemu Axl, bisa mati dengan tenang nih. Gue nggak bisa tidur neh ntar, bisa gila kepikiran terus,&#8221; kata Mister perihal kedatangan GNR ke Indonesia.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Mister bisa jadi adalah salah satu <em>aficionado</em> GNR paling fanatik di Indonesia. Ia mengoleksi banyak pernak-pernik GNR. Mulai dari buku, kaos, hingga piringan hitam. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, dia menunjukkan pada saya beberapa koleksinya. Salah satunya adalah piringan hitam langka album <em>GNR Lies</em> (1988) keluaran Inggris. Di album itu, tak ada garis hitam sensor yang menutupi dada perempuan telanjang di kover album.</p>
<p>Selain itu ia juga punya piringan hitam<em> Appetite for Destruction</em>, first pressing, dengan kover asli bikinan Robert Williams. Kover kontroversial itu menunjukkan gambar absurd: robot pemerkosa, perempuan setengah telanjang, dan semacam monster alien berwarna merah yang muncul dari balik pagar. Gambar itu dianggap kasar dan brutal oleh banyak orang. Demi strategi pemasaran, gambar kover itu akhirnya diubah dengan gambar yang lantas jadi klasik: salib bergambar tengkorak para personil GNR.</p>
<p>Tapi fanatisme Mister pada GNR tidak hanya berupa barang. Mister juga tak segan mendatangi sang idola. Tahun 2010, mantan gitaris GNR, Slash, konser di Indonesia. Mister mendengar kabar itu. Selain menontonnya, Mister mengejar sang idola hingga ke bandara Juanda, Surabaya. Pertemuannya dengan Slash menjadi sangat sentimentil.</p>
<p>&#8220;Dia itu salah satu the most humble rock star in the world, man. Dia bahkan bawa case gitarnya sendiri&#8221; kata Mister mengenang pertemuannya dengan Slash. Waktu itu, tak ada penggemar lain yang menyambut Slash. Mister mengenang ia berlari-lari kecil di samping Slash sembari terus teriak &#8220;please sign my stuff.&#8221;</p>
<p>Slash tak menoleh sedikit pun. Berkali-kali Mister memohon, Slash tetap bergeming. Ketika sampai di mobil, tanpa dinyana, Slash berbalik arah menuju Mister setelah menaruh gitar di mobil. Gantian Mister yang tergagap. Ia terdiam. Bahkan lupa menyodorkan buku untuk ditandatangani. Akhirnya Slash mencomot bolpoin dari tangan Mister dan menandatangani buku. Mister tak bisa menahan emosinya: ia menangis.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Muka Mister datar. Tapi tak bisa dipungkiri kalau ada aura marah dan kecewa yang tertahan. Sedari pagi ia kalut. Sebabnya ia mendengar kabar kalau konser GNR akan ditunda. Tempat konsernya pun akan pindah. Namun Mister masih yakin kalau konser akan berlangsung sesuai jadwal. Awalnya, konser GNR ditetapkan pada hari Sabtu, 15 Desember 2012 bertempat di Lapangan D Senayan.</p>
<p>Tapi menjelang sore, Wenz mengirim sms pemberitahuan dari promotor Indika Pro tentang kepastian pembatalan. Konser akan diadakan pada hari Minggu, 16 Desember 2012, bertempat di Mata Elang Internasional Stadium (MEIS), Ancol. Mister bukan satu-satunya penonton konser yang kecewa.</p>
<p>Ribuan orang lain turut merasakan geram dan kecewa yang sama. Apalagi para penggemar GNR yang datang dari luar Jawa. Ada banyak penonton datang dari Sumatera hingga Kalimantan demi menonton GNR. Konser memang hanya ditunda sehari, tapi efeknya jelas besar. Bayangkan dampaknya bagi para penonton dari luar Jawa yang memesan tiket pulang hari Minggu karena hari Senin mereka sudah harus kembali bekerja. Belum lagi para pejuang rock yang datang ke Jakarta tanpa tempat untuk menginap dan rela istirahat di emperan dan trotoar.</p>
<p>Ada banyak kabar burung yang berhembus mengenai kenapa konser ini ditunda. Ada yang bilang kondisi lapangan yang becek setelah terkena hujan, tidak memenuhi syarat keamanan konser skala internasional. Ada pula yang bilang “upeti” ke pihak keamanan kurang. Juga ada yang bilang kalau GNR takut hujan. Dan, ini yang paling kurang ajar, Axl takut terkena air hujan karena badannya bisa bertambah melar.</p>
<p>&#8220;Tapi tak apa lah, ini mungkin ada hikmahnya. Gue jadi bisa beristirahat. Udah 2 hari ini gue kurang tidur.&#8221; kata Mister legawa.</p>
<p>Saya menemui Mister di hotel Mulia, sebuah hotel bintang lima yang terletak di lebuh jalan Asia Afrika. Hotel itu juga menjadi tempat menginap personil GNR. Sudah 2 hari Mister menginap di hotel Mulia. Sudah bisa ditebak motivasinya: bertemu dengan para personel GNR.</p>
<p>&#8220;Gue udah ketemu sama semua personilnya,&#8221; ujar Mister tanpa bermaksud sombong sembari memperlihatkan foto-fotonya bersama para personel GNR. Mulai dari Dizzy Reed, satu-satunya personil GNR era album <em>Use Your Illusion</em> (1991) yang masih tersisa; hingga Bumblefoot; DJ Ashba, dan Richard Fortus.</p>
<p>&#8220;Hanya Axl yang belum. He is <em>untouchable</em>. Dia gak keluar kamar sama sekali,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Meski sudah seperempat abad berlalu sejak GNR menyandang gelar sebagai The Most Dangerous Band in the World (dan sepertinya sebutan itu sudah tak valid lagi), tapi frontman paling berbahaya masih layak dikalungkan pada Axl Rose. Emosinya yang tak tertebak, juga &#8211;mungkin&#8211; kebenciannya pada keramaian dan juga ketenaran, membuat ia sudah absen pada setiap konferensi pers GNR sejak bertahun-tahun lalu. Kalau sedang mengadakan tur, Axl juga jarang keluar dari kamarnya.</p>
<p>&#8220;Kalau Axl tanda tangan di buku dan piringan hitam ini, gue janji bakal jadi anak paling baik sedunia&#8221; kata Mister penuh harap. (Bersambung ke <a href="http://nuranwibisono.net/2012/12/seperempat-abad-menunggu-guns-n-roses-2/">bagian dua</a>)</p>
<p><em>Post-scriptum: Tulisan GNR ini sudah dimuat di situs Jakartabeat kemarin. Tapi ternyata setelah dimuat, salah seorang narasumber berkeberatan namanya saya tulis, pun kisahnya untuk saya muat. Agar tak jadi aral di kemudian hari, sekaligus karena saya tak ingin hubungan personal dengan dia jadi terganggu, maka saya meminta staff redaksi Jakartabeat untuk menghapusnya. Sebagai gantinya, saya muat berseri di Foi Fun, tapi dengan nama narasumber disamarkan.</em></p>
</div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/seperempat-abad-menunggu-guns-n-roses-1/">Seperempat Abad Menunggu Guns N Roses (1)</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/seperempat-abad-menunggu-guns-n-roses-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1162</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
