<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Konser Musik Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/konser-musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/konser-musik/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Aug 2025 17:41:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 17:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5685</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tau ndelok tendo ngawang, cuk!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph Sudiro, dengan gaya Suroboyoan yang khas dan berapi-api lengkap dengan cak-cuknya, mengisahkan pengalaman menonton Fuji Rock Festival pada 2019 silam. Hitung maju enam tahun kemudian, kami berdua ada di satu gondola dengan Aya dan Faisal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aya adalah partner hidup sekaligus rekan terbaik Joseph menonton festival musik. &#8220;Wis teruji arek iki,&#8221; puji Joseph. </span><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Faisal adalah kawan baikku sejak lama, partner dalam banyak kebodohan. Salah satu buktinya, ya, Fuji Rock 2025 ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faisal adalah anak rumahan, lebih suka mendengar musik di kamar atau membaca buku ketimbang datang ke festival musik penuh manusia. Entah setan belantara mana yang nemplok di bahunya sepulang liputan, kok tiba-tiba saja dia mau ikut pas aku cerita rencana datang ke Fuji Rock 2025. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ical padahal jarang keluar kamar kos, sekali-kalinya keluar kamar kok malah langsung ke Fuji Rock,” ujar seorang kawan, membalas <em>story</em> Instagram-ku ketika kami baru mendirikan tenda di permukaan tanah yang tak terlalu landai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg"><img class="size-large wp-image-5688 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bawah kami, tampak rimbun pohon pinus. Hijau. Ada sungai mengalir. Saking beningnya, bebatuan di dasar terlihat jelas. Aku membayangkan di suhu 34 derajat, betapa surgawinya nyemplung di sungai itu. Di sebelah kanan, ada dua panggung yang satu per satu terlihat. </span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5686 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Itu White Stage,” ujar Aya menunjuk panggung di arah jam 3.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau itu Field of Heaven.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iku deloken rek, danau.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Danau opo?” tanya Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gak eruh, cuk, lali aku,” kata Aya ketawa.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-5687 size-large" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Josep dan Aya bisa dibilang veteran perihal Fuji Rock. Sembari meraba ingatan –cuk, mereka bahkan lupa sudah berapa kali nonton– mereka sepertinya sudah sembilan kali menonton perhelatan musik tahunan yang diadakan di Naeba ini. Banyak yang berkesan bagi mereka. Di 2023 line up-nya seru, ada Foo Fighter, The Strokes, Alanis Morisette, Weezer, Slowdive, Yeah Yeah Yeahs, hingga Lizzo. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Fuji Rock 2024 berkesan karena mereka ngobrol dengan sepasang suami istri berusia lanjut yang mengagumi kaus Ash (halo Jelly!) yang dipakai Joseph. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu tibalah momen Fuji Rock 2019 disebut. Chemical Brothers dan The Cure jadi penampil pamungkas. Itu bikin hati girang, tentu saja. Namun ada lagi yang lebih lekat di ingatan mereka: topan! </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di beberapa video yang pernah kutonton, termasuk video dari Fujirocker Indonesia, aku melihat para penonton yang menginap di tenda harus dievakuasi ke lobi hotel Prince Naeba saking dahsyatnya topan menghajar kawasan Naeba.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan di situlah Joseph dan Aya menyaksikan tenda terbang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepuluh menit di dalam gondola, aku masih merasakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ndok ngerenyeng </span></i><span style="font-weight: 400;">jika melongok ke bawah. Gimana kalau terjadi adegan khas </span><i><span style="font-weight: 400;">Final Destination</span></i><span style="font-weight: 400;"> di gondola ini? Seorang petugas lupa memberi pelumas pada roda, menghasilkan gesekan ke kabel baja yang berlebihan, putus, lalu kami terjatuh ke bawah, ditangkap oleh bebatuan. Warna merah kemudian mengalir mengikuti arus.</span></p>
<p>Tapi aku mengusir pikiran goblok itu.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gondola merayap naik, kemudian setelah sampai di puncak kabel, dia turun lagi pelan-pelan seperti seorang kakek yang terserang rematik di seluruh sendirinya.  </span><span style="font-weight: 400;">Angin berhembus pelan. Tapi tak ayal gondola kami goyang. Bajingan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku melongok ke atas. Mendung. Aku membayangkan naik gondola puluhan meter dari bumi kemudian dihantam hujan badai, jelas bikin jeri dan jantung seperti ditarik. Tapi pikiranku justru ke kawasan kemping. </span><span style="font-weight: 400;">Pasalnya: Joseph bercerita soal obsesinya pada kemping. Karena itu, Fuji Rock adalah festival paling menyenangkan baginya, sebab ajang yang sudah diadakan sejak 1997 ini memadukan dua hal paling dia cintai: musik dan kemping.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku <em>invest</em> nang tendo dan pasak. <em>Puenting</em> iku,” kata Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph lantas berkisah bagaimana dia kerap menghimpun teman-temannya untuk nonton Fuji Rock. Yang diperlukan hanya meeting online satu kali dan menentukan titik ketemu di Tokyo. Joseph biasanya sampai di Tokyo pada Kamis pagi, lalu naik Shinkansen ke Stasiun Echigo-Yuzawa, untuk kemudian nyambung naik bis <em>shuttle</em> ke area Naeba Ski Resort, kawasan yang jadi area Fuji Rock ketika musim panas, dan akan berganti menjadi kawasan ski ketika memasuki musim dingin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Hari Kamis, sehari sebelum Fuji Rock resmi dimulai, area kemping sudah dibuka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di momen itu, Joseph akan mencari lokasi datar –bersaing dengan ribuan orang lain– meletakkan <em>footprint</em> (alas agar bagian bawah tenda tak langsung bersentuhan dengan tanah, berfungsi mencegah dingin atau air tembus ke bagian bawah tenda), memasang tenda-tenda kualitas apik miliknya, memalu pasak hingga dalam dan ajek, dipungkasi dengan memasang <em>flysheet</em> sampai rapi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph, pemain bass Vox yang sering cekakakan, selalu jadi serius ketika bicara tempat tinggal serta kenyamanan selama Fuji Rock. Dia akan jadi komandan bagi kawan-kawan yang dia pimpin, tapi juga tak segan turun tangan ketika ada sesuatu yang terasa kurang pas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mangkane tendoku selalu aman, gak tau </span><i><span style="font-weight: 400;">teles</span></i><span style="font-weight: 400;">,” kata Joseph cengengesan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau soal tenda dan kenyamanan Fuji Rock, dia bukan lagi Joseph Sudiro,” kata Aya. “Tapi sudah jadi Joseph Stalin.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cerita Joseph tak ayal bikin aku tambah tercenung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ratusan meter dari Day Dreaming dan Silent Breeze, kawasan puncak yang rata, dingin, berangin, tapi juga syahdu; tempat satu restoran besar, tenda yang menampilkan beberapa pertunjukan seni kecil-kecilan, dua kedai kopi dan kudapan; tempat </span><span style="font-weight: 400;">kami menginjakkan kaki setelah menempuh dua puluh lima menit perjalanan dengan gondola yang menegangkan, tenda kuning kami sudah pasti bergoyang letoy kena angin sepoi.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5690 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku tak memasang tenda dengan ideal. Maklum, sudah lama tidak. Pasak kupasang sekenanya, asal masuk ke tanah. <em>Flysheet</em> juga dihela dengan ala kadarnya. <em>Footprint</em> jelas tak ada. Bagaimana kalau hujan topan? Hampir bisa dipastikan: dalam sedetik sejak topan lewat, tenda pinjaman dari Muhammad Harmein itu sudah terbang entah ke mana, memuntahkan semua isinya ke tanah –<em>carrier</em>, <em>sleeping bag</em>, matras, dan segala obat-obatan untuk aku yang makin ringkih ini– mungkin bisa sampai ke Echigo Yuzawa dan pasrah disapu untuk kemudian dimusnahkan bersama sampah-sampah jalanan hari itu.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bersambung</span></i><span style="font-weight: 400;">…</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5685</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Nov 2023 22:18:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5476</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang banyak orang tahu, konser Bring Me the Horizon (BMTH) yang berlangsung di Beach  City International Stadium pada 10 November 2023 berakhir dengan kurang baik. Di tengah set, setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/">Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Seperti yang banyak orang tahu, konser Bring Me the Horizon (BMTH) yang berlangsung di Beach  City International Stadium pada 10 November 2023 berakhir dengan kurang baik. Di tengah set, setelah membawakan 11 lagu dan rencananya masih ada delapan lagu lagi, BMTH memutuskan undur diri dari panggung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Promotor bilang bahwa mereka ingin <em>break</em> sejenak. Ternyata, setelah 30 menit, BMTH tak kunjung kembali. Yang hadir malah Ravel Junardy, pendiri Ravel Entertainment, promotor kelas internasional yang punya signature show Hammersonic.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ravel menjelaskan bahwa konser harus selesai lebih cepat, karena BMTH tidak bersedia melanjutkan set. Tanpa ada penjelasan detail, Ravel menyudahi pidatonya dengan kata sederhana: <em>chill</em>. Tenang. Namun apa daya, bujukan itu gagal. Barang-barang mulai melayang ke atas panggung. Puncaknya, massa menyerbu panggung.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pihak Ravel lantas buka suara. Konser yg tadinya dibilang cuma break, tapi katanya ga bisa dilanjutin. Alasannya? Mereka bilang ada masalah di stage. Sampe dua kali kasih klarifikasi dengan alasan yg sama. <a href="https://t.co/AbbVirH1oa">pic.twitter.com/AbbVirH1oa</a></p>
<p>&mdash; Celvin M. Sipahutar (@celvinms7) <a href="https://twitter.com/celvinms7/status/1723032744509255934?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di media sosial, banyak beredar video kejadian itu. Bahkan, ada pula yang mengunggah video kejadian antrean masuk yang kacau, dan orang-orang berhamburan tanpa mengikuti panduan. Ini artinya bibit kekacauan sudah terjadi bahkan jauh sebelum konser mulai.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">nonton DROWN repeat 1 jam!</p>
<p>salah satu knapa skip bmth selain garapan blm cair ya karena kebanyakan fomo doang begini deh jadi nya, tiket mahal kirain pinter eh ternyata gini <a href="https://t.co/5fkvHtwm7B">pic.twitter.com/5fkvHtwm7B</a></p>
<p>&mdash; kesayanganmu 🫠 (@luckytsar) <a href="https://twitter.com/luckytsar/status/1723010105208136084?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inti tulisan ini hanya catatan sporadis dari pikiran yang sekelebat, bukan sebagai analisis utuh yang bersifat ilmiah. Tujuan utama tulisan ini dibuat adalah sebagai arsip yang kelak akan saya pakai untuk buku saya soal festival dan event musik (buset gak selesai-selesai, bhaaang), juga agar pikiran saya segera kosong dan bisa tidur. Kalau ada salah kronologis, atau ada kalimat yang kurang tepat, saya dengan senang hati akan menerima koreksi.</span></p>
<p>Saya juga menulis ini bukan bermaksud ingin menyalahkan pihak tertentu, apalagi sok menggurui.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Postingan ini diketik mulai pukul 02.30 dini hari, dan tim Fantasy Premier League saya dapat 72 poin. Pemain terbaik adalah kapten saya, Mo Salah, 26 poin, belum dihitung bonus poin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<h3><b>Teori yang Patah atau Anomali?</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu teori yang jadi “pegangan” banyak pembuat event di Indonesia adalah: harga tiket akan menjadi titik seleksi awal penonton. Dengan kata lain, semakin mahal harga tiket, maka penonton yang datang akan semakin terseleksi, dianggap lebih <em>well behaved</em> (karena berkaitan dengan tingkat pendapatan, pendidikan, dll), dan karenanya event akan berjalan lebih lancar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di atas kertas, ini sekilas masuk akal (walaupun </span><i><span style="font-weight: 400;">classist</span></i><span style="font-weight: 400;"> banget, alias ada bias kelas atas teori ini).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mau membeli tiket mahal (tentu kategori mahal ini bisa dibahas lebih lanjut, misal definisi mahal ini berapa persen dari pendapatan seseorang, dll), motivasi utamanya adalah menonton pertunjukan musik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang sering dijadikan antitesanya tentu pertunjukan gratis. Seringnya di konser gratis, atau malah selalu, akan ada perkelahian di sana-sini. Di Instagram, bahkan ada beberapa akun (saya juga follow mereka) yang khusus mendokumentasikan perkelahian dan tawuran di acara dangdut gratisan. Intinya, penonton event gratisan punya lebih banyak motivasi, tak hanya bersenang-senang menikmati musik, tapi juga, salah satunya, mencari keributan.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">(Catatan, soal motivasi penonton dalam menonton konser/ festival musik bisa merujuk, di antaranya, Pitts, S.E (2014), Alicia Kulczynski dkk (2016), Alysa Eve Brown (2019), juga Lily-Ann Perrin (2020). Sedangkan soal demografi penonton salah satunya bisa baca paper Steve Oakes (2003)).</span></em></p>
<p>Pemisahan penonton ini bahkan bisa terbawa ke ranah genre dan imejnya. <span style="font-weight: 400;">Misal penonton jazz dan opera/ musik klasik, akan dianggap lebih “kalem”, “teratur”, dll. Sedangkan penonton musik metal, dangdut, relatif berisiko lebih tinggi. T</span><span style="font-weight: 400;">api bahasan ini lebih baik dibahas di tulisan yang lain lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Intinya: musik menyatukan, harga tiket (dan genre) yang memisahkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu, di setiap teori akan selalu ada anomali. Ada event musik gratisan yang berjalan tertib dan selalu bebas dari kericuhan, misal Ngayogjazz. Beberapa acara musik yang diadakan di seputaran Blok M juga tak pernah ada masalah berarti, meski gratis. Baru kemarin, Joyland membuat acara road to di Taman Martha Tiahahu, gratis. Semua lancar dan sama sekali tak ada kericuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, anomali untuk tiket mahal tapi ricuh ini ya terjadi di kasus BMTH. Bahkan kericuhan yang terjadi benar-benar di luar ekspektasi: penonton sampai naik ke atas panggung. Beberapa video sempat melahirkan asumsi adanya vandalisme terhadap alat-alat musik BMTH –walau ternyata tidak terbukti, alat aman. Tapi rasa-rasanya dalam dua dekade terakhir, tak banyak konser musik yang melahirkan kemarahan penonton hingga berani naik ke atas panggung (kerusuhan Musikologi 2019 mungkin mirip-mirip kadarnya).</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">disappointed in the fans&#8230; <a href="https://t.co/zL2vFMkWCX">pic.twitter.com/zL2vFMkWCX</a></p>
<p>&mdash; -. .- … 🗝 (@CUTMYLIPBKLYN) <a href="https://twitter.com/CUTMYLIPBKLYN/status/1723056254719775109?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">&#8212; A THREAD &#8212;</p>
<p>KLARIFIKASI Stand Mic Oliver Sykes &quot;di curi&quot;</p>
<p>Saya pemilik dari akun instagram <a href="https://twitter.com/hi?ref_src=twsrc%5Etfw">@hi</a>.kal20 atau Pasla Haikal Pirgiawan</p>
<p>Disini saya akan menjelaskan kejadian yang sebenar nya dan beberapa bukti bukti dari apa yang akan saya ucapkan <a href="https://t.co/C0S8l5oZAK">pic.twitter.com/C0S8l5oZAK</a></p>
<p>&mdash; Pasla Haikal Pirgiawan (@Hi_kal20) <a href="https://twitter.com/Hi_kal20/status/1723327156762325183?ref_src=twsrc%5Etfw">November 11, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu, apakah tiket konser BMTH ini bisa dibilang mahal? Lagi-lagi, perlu ada bahasan khusus terkait definisi harga mahal ini ada di rentang berapa.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari info yang beredar, harga tiket termurah konser ini adalah Rp1.250.000, dan yang termahal Rp2.750.000. Bagi orang yang punya pendapatan Rp5 juta per bulan, ini artinya harga tiket termurah sama dengan 25 persen pendapatan. Mahal? Bisa jadi. Kenapa begitu? Karena biaya cicilan KPR saja biasanya maksimal 30 persen dari pendapatan. Kementerian Keuangan juga pernah memberikan tips mengatur keuangan, dan 30 persen biasanya adalah alokasi untuk cicilan (rumah/kendaraan dsb).</span></p>
<p>Oke, itu intermezzo.</p>
<p>Selain itu, untuk kelas konser tunggal band rock/ metal, harga tiket BMTH termasuk tinggi.<span style="font-weight: 400;"> Saya iseng mengingat siapa saja band rock/metal yang konser tunggal di Indonesia, coba cari tiket kelas termurahnya, lalu bikin perbandingan sederhana. Hasilnya kira-kira seperti ini:</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5480 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-1024x626.png" alt="" width="790" height="483" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-1024x626.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-300x183.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-768x469.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1.png 1240w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga tiket termurah konser BMTH adalah termahal ketiga dari daftar di atas. </span><span style="font-weight: 400;">Ada tambahan siapa lagi band rock/ metal yang konser tunggal di Indonesia sepanjang 2023 ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaannya, kericuhan di konser BMTH ini adalah patahnya teori soal harga tiket, atau ini anomali belaka? Jawabannya tentu harus dicari lebih lanjut. Yang jelas, ada banyak <em>insight</em> menarik yang bermunculan di media sosial soal kericuhan ini. Yang saya tangkap dari percakapan di medsos, juga dengan obrolan bersama beberapa kawan, antara lain:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Pengaruh usia. Penonton lebih muda punya energi lebih besar, termasuk energi kemarahan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">FOMO: katanya, lagu-lagu BMTH yang populer di kalangan Gen Z belum sempat dibawakan, dan ini bikin banyak penonton usia muda jadi ngamuk.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Paylater. Sistem pembayaran ini membuat orang lebih mudah beli tiket. Artinya, ada kemungkinan teori harga tiket mahal dan seleksi awal penonton jadi tak berlaku lagi, karena semua orang bisa membeli tiket dengan cara nyicil. Ini juga membawa dampak lumayan ngeri, sih, karena sistemnya nonton dulu bayar belakangan, bikin orang ada kemungkinan terjerat utang.</span></li>
</ol>
<h3><b>Kekurangan Promotor</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ravel Entertainment bukan promotor kacangan, bukan juga kemarin sore. Mereka salah satu promotor kelas internasional di Indonesia, dan jadi bagian <em>Magnificent Seven</em> pendiri Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI). Bahkan tahun ini mereka berhasil mengadakan festival metal internasional Hammersonic dan mengundang Slipknot ke Indonesia untuk pertama kalinya.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5481 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-1024x809.png" alt="" width="790" height="624" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-1024x809.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-300x237.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-768x607.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia.png 1240w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaannya, jika bisa mengadakan Hammersonic yang secara skala dan jumlah penampil lebih banyak dan karenanya jauh lebih kompleks ketimbang konser tunggal, kenapa BMTH bisa ricuh dan berhenti di tengah jalan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang bisa menjawab secara pasti hanya Ravel Entertainment. Sampai ketika tulisan ini dibuat, setahu saya Ravel belum memberikan penjelasan detail selain postingan klarifikasi di IG mereka dan soal <em>refund</em>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya coba merangkum beberapa percakapan yang saya baca di media sosial. Sekali lagi, tak ada maksud menuding dan menimpakan kesalahan sepenuhnya pada Ravel Entertainment.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya (dan juga banyak orang) melihat ada satu kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, dan jika ini bisa dilakukan maka hasilnya akan berbeda pula: p</span><span style="font-weight: 400;">enjelasan detail ke para penonton.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika mendengar pidato Ravel, rasanya banyak orang sepakat kalau dia cenderung “meremehkan” dan menganggap enteng dampak berhentinya BMTH di tengah set. Dua kali dia muncul ke atas panggung, dua kali memberikan penjelasan, dan dua kali pula penonton merasa tak ada penjelasan yang memuaskan. Ravel dianggap lebih fokus meminta penonton untuk bubar.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pihak Ravel lantas buka suara. Konser yg tadinya dibilang cuma break, tapi katanya ga bisa dilanjutin. Alasannya? Mereka bilang ada masalah di stage. Sampe dua kali kasih klarifikasi dengan alasan yg sama. <a href="https://t.co/AbbVirH1oa">pic.twitter.com/AbbVirH1oa</a></p>
<p>&mdash; Celvin M. Sipahutar (@celvinms7) <a href="https://twitter.com/celvinms7/status/1723032744509255934?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal penonton pasti ingin penjelasan detail: apa yang sedang terjadi? Kenapa konser berhenti? Terus penonton harus bagaimana? Apakah akan ada <em>refund</em> atau ganti rugi? Dan sebagainya. Ini yang sayangnya luput dilakukan oleh Ravel.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun di satu sisi, saya juga memaklumi betapa besar tekanan yang dialami oleh Ravel. Tekanan seringkali membuat manusia tak bisa bertindak seperti yang direncanakan. Saya membayangkan Ravel sudah merancang penjelasan sebaik mungkin, tapi semua bubar ketika dihadapkan dengan ribuan penonton yang ngamuk dan melempar barang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai pembelajaran (ceile pembelajaran), ada dua hal yang saya tangkap dari omelan penonton terkait jalannya konser BMTH:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;">Mereka merasa panitia dan tenaga keamanan cenderung tidak proporsional dibanding dengan jumlah penonton. Petugas kewalahan membendung para penonton dan akhirnya hanya bisa pasrah. Hal ini bisa dilihat di setidaknya dua kejadian: antrean masuk yang amburadul, dan penonton yang merangsek ke atas panggung.</span></li>
<li>Keamanan venue. BMTH merasa panggung bergetar dan dianggap tak aman. Saya pernah dua kali menonton konser di tempat yang sama, pertama konser Guns N Roses (2012), dan Arctic Monkeys (2023). Secara keseluruhan, venue Beach City ini rasanya kurang pas, baik dari segi lokasi maupun dari segi keamanan kerumunan. Gedungnya bertingkat, dengan lorong yang relatif sempit, bikin ngeri kalau bubaran konser. Waktu konser GNR dan AM pun, saya merasakan getaran yang cukup bikin gentar.</li>
</ol>
<p>Tambahan dari Mas Wendi Putranto, venue ini pernah ditutup oleh Ahok pada 2014 karena beberapa penyebab. Jika <a href="https://www.medcom.id/nasional/metro/0kpeLr6K-alasan-ini-yang-bikin-meis-ancol-ditutup">dibaca lagi</a>, alasannya lebih banyak terkait sengketa kontrak dan permasalahan pendapatan. Terima kasih buat seorang teman yang memberi masukan terkait penutupan Beach City International Stadium (dulu MEIS) INI.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Gak tahu pastinya. Mungkin kondisi venue yang gak layak untuk crowd sebanyak itu dan gerak semua, pas tengah konser pihak manajemen BMTH merasa gak safe buat penonton dan terpaksa berhentiin shownya, daripada tragedi. Jangan lupa, venue ini tahun 2014 pernah ditutup sama Ahok. <a href="https://t.co/NNAQqhJRsx">https://t.co/NNAQqhJRsx</a></p>
<p>&mdash; Wendi Putranto 🇵🇸 (@wenzrawk) <a href="https://twitter.com/wenzrawk/status/1723225308613292521?ref_src=twsrc%5Etfw">November 11, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<h3><b>Penonton Norak</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Manusia punya emosi, semua sepakat. Konser BMTH berhenti di tengah jalan bikin ngamuk dan marah, semua setuju. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun menyerbu naik ke atas panggung, itu tak bisa, dan tak boleh, dibenarkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada alasan kenapa panggung itu harus steril dari mereka yang tak berkepentingan. Dari segi keamanan, salah satunya. Tentu sudah ada hitungan berapa beban maksimal yang bisa ditanggung sebuah panggung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misal, katakanlah, panggung kuat menampung beban hingga 700 kilogram. Lalu tiba-tiba datang puluhan orang yang membawa beban tambahan ke atas panggung, siapa yang bisa menjamin tak ada kecelakaan? Kalau panggung ambruk, penonton jatuh dan terluka, alat-alat rusak, kerugian pasti jadi lebih besar, baik buat penonton maupun penyelenggara acara.</span></p>
<p><iframe loading="lazy" title="VIRAL ! Asik Goyang Berdesakan Sampai Panggung Roboh di Tebidah, Sintang" width="790" height="444" src="https://www.youtube.com/embed/LdCdEflrgAo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan lain kenapa menyerbu panggung itu tak boleh dibenarkan: ini bisa berbuntut panjang. Mulai dari kemungkinan properti panggung atau alat yang hilang, kerusakan properti dan barang, juga dampak terhadap keberlangsungan event musik di masa depan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Belum lagi, dalam kasus BMTH ini, penyerbuan ke atas panggung ini menunjukkan ego sesaat, <em>kardi</em> (<em>karepa dibhik</em>, alias mau menang sendiri) dan tak memikirkan penonton di hari kedua. Padahal, mari berandai-andai, jika tak ada kasus penyerbuan, bisa saja ada perbaikan masalah teknis dan konser hari kedua bisa terselenggara dengan baik.</span></p>
<p>Sayangnya nasi sudah jadi bubur, mau tak mau ya harus ditelan saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Konser BMTH yang sayangnya berjalan dengan tidak baik, menyisakan banyak <em>what if</em> dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan terpenting: seperti apa efek kegagalan ini, termasuk efek penyerbuan penonton ke atas panggung, terhadap masa depan event musik internasional di Indonesia?</p>
<p>Sampai saat ini tak ada yang bisa menjawab pasti. Semua baru bisa menerka dan menduga. Jawabannya mungkin bisa ditanya ke para promotor yang akan mengadakan event musik internasional di tahun depan. Saya sih berharap semoga efeknya tak besar, tak ada ketakutan untuk manggung di Indonesia. Terdengar naif, memang. Namanya juga berharap.</p>
<p>Namun kalau boleh memberi catatan, kegagalan konser ini memberikan banyak pelajaran.</p>
<p>Promotor harus terus rendah hati, senantiasa mau belajar, dan meningkatkan kapasitas diri dan organisasi dalam membuat event. Ravel Entertainment memang nama besar di dunia showbiz Indonesia, tapi bukan berarti mereka tak bisa melakukan kesalahan. Saya berharap kejadian ini bisa membuat mereka melongok sebentar ke belakang, evaluasi, kembali dengan manajemen event yang jauh lebih baik, dan menghadirkan kembali festival dan konser berkualitas.</p>
<p>Untuk penonton event musik, termasuk saya, kita semua harus belajar menahan diri dan menyampaikan keluhan atau kekesalan dengan cara yang tidak merusak dan melanggar hukum. Merusak itu sama sekali tidak memberikan jalan keluar, malah bikin masalah baru. Omelan di medsos saya pikir salah satu saluran penyampaian kekesalan yang pas dan punya dampak.</p>
<p>Memang semua akan terasa sulit, namanya juga belajar. Saya saja sekarang mau tidur kerasa sulit, makanya nulis biar ngantuk. Apalagi belajar rendah hati dan menahan diri, pasti lebih sukar. Namun demi masa depan event musik yang lebih baik di Indonesia, ini harus diupayakan (juga perizinan satu pintu, sertifikasi promotor, sertifikasi event and safety management, dll, alias banyak banget yang harus ditingkatkan).</p>
<p>Sekarang jam 5 pagi, ternyata tulisan ini jadi lebih panjang ketimbang yang saya rencanakan. Tulisan ini belum sempat saya baca dan sunting, jadi kalau ada salah-salah harap dimaafkan. Nanti kalau bangun akan coba saya baca ulang dan sunting seperlunya.</p>
<p>Ciao!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/">Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5476</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
