<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Uncategorized Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/category/uncategorized/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Mar 2016 07:51:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Yusi</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/yusi/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/yusi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 May 2015 11:03:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Yusi Avianto Pareanom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2681</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya selalu membayangkan mas Yusi Avianto Pareanom lebih cocok tinggal di New York, San Fransisco, atau Paris. Lelaki flamboyan ini rasa-rasanya kok terlalu elok tinggal di Jakarta yang bising dan ramai [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/yusi/">Yusi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu membayangkan mas Yusi Avianto Pareanom lebih cocok tinggal di New York, San Fransisco, atau Paris. Lelaki flamboyan ini rasa-rasanya kok terlalu elok tinggal di Jakarta yang bising dan ramai tanpa ampun.</p>
<p>Malam itu, saya seperti menemui pembenaran anggapan itu.</p>
<p>Mas Yusi duduk dengan anteng di atas kursi kayu. Di meja depannya, tergeletak cangkir kopi yang sudah mulai kosong, lepek kecap dengan irisan cabai untuk teman tempe mendoan, asbak yang sudah penuh puntung, botol-botol air mineral yang tinggal berisi udara, beberapa bungkus rokok dan koreknya, serta berbotol bir yang hanya menyisakan buih di dasarnya.</p>
<p>Dengan tenang, lelaki berkacamata itu mengambil tembakau rajangan yang terletak dalam kaleng berbentuk bundar. Tembakau yang punya aroma vanilla itu adalah rajangan tembakau jenis Dark Cavendish dari Denmark, yang bercampur dengan tembakau Burley serta Virginia. Pelengkapnya adalah tembakau lauk, Samsun dari Turki, satu dari sedikit sekali tembakau lauk di dunia.</p>
<p>Selain Samsun, tembakau lauk yang terkenal adalah tembakau srinthil dari Temanggung, kasturi dari Jember dan Madura, serta krosok dari Lombok.</p>
<p>Mas Yusi meletakkan sejumput tembakau di mulut cangklong yang bertangkai panjang itu. Ia menghisap dengan sangat dalam dan panjang. Lalu dengan satu sentakan tenang, asap dihembuskan ke udara. Wangi vanilla yang tajam langsung menguar.</p>
<p>Elegan sekali. Hanya bisa ditandingi oleh Nody Arizona kala menenggak sebotol bintang sembari merokok dan mendengarkan Tom Waits.</p>
<p>Saya membayangkan adegan seperti ini terjadi di kafe-kafe kecil nan hangat di pinggir kota California. Di depan pantai Venice, mungkin.  Tempat Jim Morrison bercakap dengan Ray Manzarek untuk pertama kalinya. Di mana Jim, lelaki pemalu berambut ombak itu, menyanyikan beberapa larik puisi &#8220;Moonlight Drive&#8221;, dan membuat Ray terpukau.</p>
<p>Lalu di kafe yang penuh dengan para lelaki dan perempuan yang terjebak masa generasi bunga itu, Mas Yusi akan mengenalkan diri:</p>
<p>&#8220;Namaku Yusi Avianto Pareanom, penulis, pemerhati seni rupa, dan punya penerbitan buku.&#8221;</p>
<p>Tapi itu hanya bayangan saya. Mas Yusi, malam itu, dengan santai menemani para pemuda yang bisa dengan mudah dibenci calon mertua: Dea Anugrah, Gita Wiryawan, dan tentu nabi kita Dave Priyanto Siahaan. Saya tentu tak mau ketinggalan ikut jamuan malam agung malam itu.</p>
<p>Gita datang jauh-jauh dari Jambi untuk bertemu Nabi Dave, meminta syafaat dan nasehat. Pria kurus ini begitu berbinar saat bertemu dengan Nabi Dave. Sedangkan Pak Nabi, seperti biasa, bersikap tenang, berwibawa, dan lapang dada. Tak jauh beda responnya saat diputus sang kekasih beberapa tahun lalu.</p>
<p>Kami tertawa tertiwi saja malam itu. Menertawakan kisah jaket yang tertinggal di Salihara, atau kunci motor yang ketinggalan di meja kekasih yang baru saja minta putus, juga tentang tulisan-tulisan yang begitu perlu banyak perbaikan, termasuk tentang betapa takutnya seorang sastrawan terkenal asal Semarang dengan jarum suntik.</p>
<p>Mas Yusi sedang tak enak hati. Beberapa orang kawan baik sekaligus penggemarnya terus-terusan menanyakan kabar novel terbarunya, <em>Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi</em>. Novel ini sudah diperam begitu lama. Mirip Axl Rose memeram Chinese Democracy.</p>
<p>&#8220;Pokoknya tahun ini selesai lah,&#8221; ujarnya pendek.</p>
<p>Ia coba mengalihkan pembicaraan itu dengan keinginannya untuk menghidupkan kembali usaha penerbitan bukunya, Penerbit Banana. Saya suka sekali dengan karya-karya yang dicetak oleh penerbit ini.</p>
<p>Terjemahnnya tak biasa. Seringkali nakal dan kurang ajar. Misal, tak segan menerjemahkan &#8220;Fuck You&#8221; dengan &#8220;Pukimak kau!&#8221;, alih-alih memakai &#8220;dasar sialan&#8221; yang normatif dan sopan.</p>
<p>Saya punya tiga karya favorit Banana Publisher: <em>Catcher in the Rye</em>, <em>The Motorcycle Diaries</em>, serta <em>Million Dollar Baby</em>. Semuanya memuaskan.</p>
<p>Tahun ini Banana akan punya hajat besar. Pertama, menerbitkan ulang <em>Catcher in the Rye</em>. &#8220;Sampulnya akan lebih minimalis,&#8221; kata Mas Yusi. Sebelumnya, gambar sampul depannya adalah seorang remaja dengan rambut njenggirat dan memasang tampang marah. Terlalu ramai.</p>
<p>Hajat besar kedua adalah&#8230; sila tahan nafas: menerbitkan <em>On the Road</em> karya Al Mukarrom Jack Kerouac. Saya mendegut ludah. Kitab para pengelana bohemian itu akan hadir dalam Bahasa Indonesia. Sungguh sangat menggembirakan.</p>
<p>&#8220;Tapi naskahnya sedang aku baca dan aku periksa. Soalnya ada beberapa kata dan kalimat yang agak susah diterjemahkan.&#8221;</p>
<p>Saya sih sabar saja menunggu.</p>
<p>Malam itu kami bercengkrama hingga dini hari. Kami semakin bahagia karena kedatangan seorang mata-mata dari Korea Utara, Kim Yo Onno, yang menyaru sebagai seorang pegawai pajak sekaligus guru les bagi mereka yang ingin tes Pegawai Negeri Sipil.</p>
<p>Ketawa-ketawa tanpa sadar, jarum pendek sudah menunjukkan angka satu. Seperti biasa, Mas Yusi, sebagai satu-satunya jutawan di antara kami, dengan gagah berani mengambil alih kewajiban membayar. Sedangkan kami hanya tersipu sembari mengingat tanggal gajian yang masih lama.</p>
<p>Ah, malam yang menyenangkan. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/yusi/">Yusi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/yusi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2681</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Karena Fury Road Harus Ditonton Berkali-kali</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/karena-fury-road-harus-ditonton-berkali-kali/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/karena-fury-road-harus-ditonton-berkali-kali/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2015 07:14:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2670</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari Jumat lalu, saya dan Rani pergi menonton Mad Max: Fury Road. Saya awalnya mengira akan menonton sendiri saja. Karena Rani kurang suka film dengan latar belakang post apocalyptic, atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/karena-fury-road-harus-ditonton-berkali-kali/">Karena Fury Road Harus Ditonton Berkali-kali</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Jumat lalu, saya dan Rani pergi menonton <em>Mad Max: Fury Road</em>. Saya awalnya mengira akan menonton sendiri saja. Karena Rani kurang suka film dengan latar belakang <em>post apocalyptic</em>, atau film yang pemainnya dandan aneh-aneh.</p>
<p>Tapi ternyata Rani girang pas diajak nonton. Tentu alasannya karena Tom Hardy yang berperan jadi Max. Dia memang fans berat Tom Hardy. Padahal menurut saya, si Tom aktingnya belum ada yang menonjol. Cuma ham hem ham hem aja. Karakternya juga kebanyakan gitu-gitu aja. Yang paling menonjol mungkin ya waktu dia maen <em>Bronson</em> atau <em>Locke</em>.</p>
<p>Ya sudahlah. Akhirnya kami nonton Mad Max. Saya awalnya sempat keder tak kebagian tiket, atau dapat kursi di deretan bawah. Maklum, baru pemutaran hari kedua. Saya pikir bioskop akan sangat penuh.</p>
<p>Ternyata saya salah. Tak penuh-penuh amat, kalau tak mau dibilang sepi. Bahkan saya masih leluasa memilih bangku di deretan atas.</p>
<p>Untuk Mad Max edisi keempat ini, saya memasang ekspektasi tinggi. Saya beberapa kali menonton trailernya, dan terpukau. George Miller, sang sutradara, berhasil menampilkan dunia setelah kiamat kecil dengan sangat baik.</p>
<p>Max Rockatansky adalah seorang pengelana, sendirian, tanpa tujuan. Ia hanya punya satu insting: bertahan hidup.</p>
<p>Dalam sebuah pengejaran, Ia ditangkap oleh War Boys, pemuda-pemuda gundul dengan cat putih di sekujur tubuh, untuk dijadikan pemasok darah segar. Max dibawa ke Citadel, sebuah daerah di tengah gurun, dengan gunung-gunung batu yang menjulang, dan pepohonan hijau di atasnya.</p>
<p>Di sana, Immortan Joe, pemimpin tiran dan bengis berkuasa. Ia menguasai air dan sumber makanan. Karena itu ia dipuja bagai tuhan. War Boys misalkan, begitu ingin mati demi Joe. &#8220;Apakah kami sudah ditunggu di Valhalla?&#8221; begitu pertanyaan mereka saat sudah siap mati. Kematian untuk Joe adalah sebuah kebanggaan.</p>
<p>Di tempat itu pula, Immortan Joe punya banyak sekali &#8220;properti&#8221;. Ada ibu-ibu gemuk nan montok yang menyuplai air susu ibu, ada pula istri-istri yang akan melahirkan calon panglima perang.</p>
<p>Joe punya panglima perang kebanggan: Imperator Furiosa, seorang perempuan dengan tangan kiri <em>bionic</em>. Hari itu, Furiosa akan mengemudikan War Rig &#8211;sebuah kendaraan perang berbentuk truk besar tahan goncangan, kendaraan terkuat milik Joe&#8211; untuk mengambil pasokan bensin.</p>
<p>Tapi Furiosa punya rencana lain. Ternyata ia membawa serta lima orang istri Joe yang ingin kabur karena tak ingin jadi pabrik anak. Maka Furiosa melenceng dari jalur untuk menuju Green Palace, sebuah tempat yang konon masih hijau dan melimpah sumber daya alamnya.</p>
<p>Joe yang tahu rencana ini, marah dan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mengejar Furiosa. Turut pula seorang War Boys bernama Nux, yang sedang menerima donor darah dari Max. Nux, begitu ingin mati demi Joe. &#8220;Kalau aku mati, maka kematianku akan diingat dalam sejarah,&#8221; ujarnya. Maka Ia memaksa untuk ikut meski masih kekurangan darah. Solusinya: Max diajak ikut serta. Ini satu kesalahan fatal.</p>
<p>Dari sana film berjalan, penuh aksi, ledakan, dan juga musik yang kencang. Kejar-kejaran, lempar tombak, letusan pistol, hadir di hampir sekujur film.</p>
<p>Apalagi di 20 menit bagian akhir film. Itu kampret benar. Saya berulang kali menahan nafas. Adegan aksi dan kejar-kejaran itu benar-benar menguras adrenalin. Ekspektasi saya terpenuhi, bahkan meluber.</p>
<p>Seusai film habis, saya tak hendak langsung berdiri. Masih mengumpulkan nyawa. Seperti habis baru saja diajak tamasya yang begitu menegangkan. Impresi film ini sangat melekat. Susah sekali dilepaskan.</p>
<p>&#8220;Aku mau nonton lagi,&#8221; kata Rani.</p>
<p>Dan kemarin, akhirnya kami nonton film ini lagi. Ini pertama kalinya saya menonton film bioskop dua kali. Hebatnya film ini: ketegangannya masih tetap sama, melekat, meski kamu sudah menontonnya dua, atau tiga kali.</p>
<p>Secara premis cerita, film ini sederhana. Tipikal<em> fugitive movie</em>. Kabur, dikejar, lari. Seperti itu saja. Namun soal adegan aksi, luar biasa.</p>
<p>Salut juga untuk Miller yang berhasil dengan sangat baik menampilkan dunia yang mendekati kehancuran. Air tak ada, tanah tercemar. Maka barang siapa yang bisa menguasai air, dia jadi tuhan baru.</p>
<p>Belum lagi realisasi imajinasi liar ala Miller. Salah satu yang paling menggidikkan adalah saat War Rig dan pengejarnya masuk ke dalam badai pasir. Waduuuh, itu edan bener.</p>
<p>Lalu karakter-karakternya yang begitu komikal, tapi tetap terasa dekat. Ada War Boys, yang kalau di dunia nyata mirip seperti pasukan berani mati organisasi radikal manapun. Atau pasukan The Bullet Farmer &#8211;yang paling asyik adalah karakter pasukan yang lihai mengendalikan bilah panjang untuk bermanuver. Ada pula gerombolan pengendara motor di tebing batu.</p>
<p>Karakter yang juga mencuri perhatian adalah seorang War Boys buta yang bertugas untuk mencabik gitar. Ia jadi penyemangat para pasukan, bersama dengan para penabuh drum. Gitarnya unik: double neck, dengan api yang menyembur-nyembur.</p>
<p>Senjata dan kendaraan di Fury Road juga nyaris tak terbayangkan sebelumnya. Tombak dengan ujung yang bisa meledak. Ada pula penjerat leher dari paskan The Bullet Farmer. Mobil dengan roda tank. Mobil dengan ban big foot. Hingga mobil dengan duri-duri tajam mirip landak. Semua brutal, gagah, kuat, sekaligus mengerikan dan hanya bisa ditemui di imajinasi liar ala George Miller.</p>
<p>Miller tentu sangat terbantu dengan teknologi zaman sekarang, plus budget yang besar. Saat pertama membuat Mad Max tahun 1979, semua sangat sederhana. Rani melongo waktu saya perlihatkan film yang dibintangi oleh Mel Gibson itu.</p>
<p>&#8220;Geje banget,&#8221; katanya. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/karena-fury-road-harus-ditonton-berkali-kali/">Karena Fury Road Harus Ditonton Berkali-kali</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/karena-fury-road-harus-ditonton-berkali-kali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2670</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mending Mana #1: Appetite for Destruction vs Use Your Illusion</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/mending-mana-1-appetite-for-destruction-vs-use-your-illusion/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/mending-mana-1-appetite-for-destruction-vs-use-your-illusion/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2015 05:28:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Appetite for Destruction]]></category>
		<category><![CDATA[Guns Roses]]></category>
		<category><![CDATA[Use Your Illusiom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2656</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salah satu pekerjaan tersulit di dunia adalah memilih mana yang terbaik: Appetite for Destruction atau Use Your Illusion. Dua-duanya album Guns N Roses, dan keduanya sama-sama dahsyat. Appetite for Destruction [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/mending-mana-1-appetite-for-destruction-vs-use-your-illusion/">Mending Mana #1: Appetite for Destruction vs Use Your Illusion</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu pekerjaan tersulit di dunia adalah memilih mana yang terbaik: <em>Appetite for Destruction</em> atau <em>Use Your Illusion</em>. Dua-duanya album Guns N Roses, dan keduanya sama-sama dahsyat.</p>
<p><em>Appetite for Destruction</em> adalah album debut Guns N Roses. Dirilis pada 1987. Album ini menjadi album debut paling laris sepanjang sejarah, terjual sekitar 20 juta keping. Hingga sekarang, album klasik yang masuk dalam 500 Album Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone ini terjual hingga 30 juta keping di seluruh dunia.</p>
<p>Sedangkan <em>Use Your Illusion</em> adalah dobel album yang dirilis pada 1991. Sebagai album yang diperam lama, album ini sangat berhasil. Nominasi Grammy Award adalah salah satu buktinya. Album ini juga berhasil mengeluarkan lagu cemerlang, &#8220;November Rain&#8221;.</p>
<p>Sekarang pekerjaan beratnya adalah kamu harus menentukan album mana yang paling bagus. Setelah melalui pertimbangan panjang, diselingi puasa mutih 7 hari, maka saya dengan berat hati harus memilih: <em>Appetite for Destruction</em>.</p>
<p>Kenapa saya memilih album ini? Pertimbangannya sederhana: ini album yang tidak bisa ditandingi dan diulangi. Bahkan kalau saja Axl Rose berdamai dengan Slash, lalu mengadakan reuni dengan Izzy, Duff, dan Steve, album seperti <em>Appetite</em> tak akan bisa dibuat lagi.</p>
<p>Alasannya tentu adalah umur. Iya, umur. <em>Appetite</em> adalah album yang punya kekuatan yang tak akan bisa diulangi: darah muda.</p>
<p>Segala <em>teenage angst</em> (maaf saya memakai istilah ini, karena diksi kemarahan rasanya kurang pas), keberingasan, kebrutalan, kebengalan, kegelisahan, hingga romantisme remaja 20-an tahun ada di album ini. Dan segala sifat serta karakter remaja 20-an ini tidak akan bisa diulangi. Sederhana, karena waktu tak bisa diputar kembali.</p>
<p>Album <em>Appetite</em> nyaris tak punya kelemahan. Skornya 10/10. Tak ada lagu yang jadi anak bawang. Semua lagu punya kekuatan masing-masing. &#8220;Welcome to the Jungle&#8221; yang kotor dan brutal; &#8220;Sweet Child O&#8217; Mine&#8221; yang manis tapi menyimpan hulu ledak dahsyat di bagian solo gitar; &#8220;Night Train&#8221; dan &#8220;Mr. Browstone&#8221; dengan baik memamerkan <em>groove</em> yang susah dipunyai band segenerasinya; &#8220;Paradise City&#8221; yang megah dan jadi lagu stadium rock, hingga &#8220;Rocket Queen&#8221; yang menyajikan hubungan romansa binal, tapi berakhir dengan elegan dan indah.</p>
<p><em>Use Your Illusion</em> memang album yang tak kalah paten. Album ini berhasil menyajikan Guns N Roses dalam spektrum yang lebih luas. Kamu bisa menemukan hard rock, blues, punk rock, hingga art rock ala Guns N Roses di album ini. Tapi tetap saja, album ini, menurut saya, masih tak bisa mengalahkan <em>Appetite for Destruction</em>.</p>
<p><em>Appetite for Destruction</em> adalah tipikal album yang bakal dikenang hingga jangka waktu yang panjang. Saat ini sudah 27 tahun berlalu, dan album ini masih jadi perbincangan. Saya yakin, hingga 50 tahun kemudian, atau bahkan 100 tahun lagi, album ini masih akan tetap jadi perbincangan. Intro &#8220;Sweet Child O Mine&#8221; masih akan tetap jadi pelajaran penting bagi mereka yang berlatih gitar, para vokalis baru akan terus belajar menyanyikan &#8220;Welcome to the Jungle&#8221;, dan para pria penyuka rock akan memakai bait-bait terakhir &#8220;Rocket Queen&#8221; untuk merayu calon pasangannya.</p>
<p>Iya, <em>Appetite for Destruction</em> memang album yang sekuat itu. []</p>
<p><em>Post scriptum: Mending Mana adalah rubrik iseng yang saya buat, terinpirasi dari permainan antar kawan. Nantinya saya akan memilih antara dua pilihan. Entah itu dari musik, film, buku, dan banyak hal lain.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/mending-mana-1-appetite-for-destruction-vs-use-your-illusion/">Mending Mana #1: Appetite for Destruction vs Use Your Illusion</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/mending-mana-1-appetite-for-destruction-vs-use-your-illusion/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2656</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Buah Kediri Berdaun Probolinggo</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/buah-kediri-berdaun-probolinggo/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/buah-kediri-berdaun-probolinggo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2015 11:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Nody Arizona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2618</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dini hari sudah mampir di Kaliurang. Kami baru saja selesai menandaskan dua botol bir. Saya sudah siap untuk memasrahkan diri pada kasur. Hingga&#8230; &#8220;Can. Aku minta tolong diantar ke Janti [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/buah-kediri-berdaun-probolinggo/">Buah Kediri Berdaun Probolinggo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dini hari sudah mampir di Kaliurang. Kami baru saja selesai menandaskan dua botol bir. Saya sudah siap untuk memasrahkan diri pada kasur. Hingga&#8230;</p>
<p>&#8220;Can. Aku minta tolong diantar ke Janti ya. Aku mau ke Kediri,&#8221; ujar lelaki berambut ombak dan pemilik mata sendu itu.</p>
<p>&#8220;Lha, kok ndadak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tadi nenekku sms. Katanya kangen. Aku disuruh ke Kediri,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Saya tergeragap. Susah sekali mencari pemuda sepertinya di masa seperti sekarang. Nenek rindu, ia segera datang. Meski itu artinya harus naik bis di dini hari, lintas kota lintas provinsi.</p>
<p>Tentu mana bisa saya menolak keinginan pemuda pendiam ini. Ia begitu baik. Pun, tulus. Maka saya mengambil jaket dan bersiap untuk mengantarnya ke Janti, sekitar 7-8 kilometer dari tempat tinggal kami.</p>
<p>Saya mengamati lelaki puitis ini memasukkan beberapa helai baju. Juga celana panjang. Serta jaket yang lumayan tebal. Saya heran. Buat apa jaket tebal? Bukankah Kediri kota yang panas? Tapi saya menyimpan pertanyaan ini untuk saya sendiri.</p>
<p>Maka berangkatlah kami dari Kaliurang yang sedang memasuki musim kemarau, tahun itu. Sepanjang perjalanan kami tak banyak berbincang. Ia, tetap sama seperti lelaki yang dulu saya kenal. Pendiam. Tak banyak omong. Tapi bisa sangat berbisa jika mulai menyerang.</p>
<p>Konon, ada banyak perempuan yang sudah ia taklukan. Bekalnya sederhana: mata sayu, aura misterius lelaki pendiam dan tak banyak cakap, sebatang rokok kretek di tangan yang membuat ia macam Rangga versi dewasa, secangkir kopi, buku puisi atau filsafat, serta rentetan puisi yang dikirim melalui pesan pendek.</p>
<p>Seperti laiknya para pecinta sejak zaman dahulu, sejak Caligulla hingga Cassanova, ia lebih suka menikmati proses mengejar perempuan incarannya. Begitu kena, maka ia akan berkelit. Ia merasa telah menang. Korbannya sudah bergelimpangan. Dari Jember, Jogja, hingga Jakarta.</p>
<p>Kami sudah sampai di Janti. Ia, sebagai cucu yang baik, membeli beberapa buah tangan untuk sang nenek terkasih. Menunggu sekitar 15 menit, datang juga akhirnya bis malam yang ditunggu. Lelaki itu masuk dan saya balik.</p>
<p>Sekitar tiga hari kemudian, ada foto lelaki itu di Gunung Bromo, Probolinggo. Ditandai oleh seorang perempuan di Facebook. Saya terkaget. Bukannya lelaki itu harusnya sedang di Kediri? Saya mengira yang menandainya itu adalah saudara perempuannya. Ternyata bukan. Sama sekali bukan.</p>
<p>&#8220;Lho, katanya kamu ke Kediri? Kok bisa sampai ke Bromo?&#8221;</p>
<p>Lelaki yang saya tanya itu hanya cengengesan. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/buah-kediri-berdaun-probolinggo/">Buah Kediri Berdaun Probolinggo</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/buah-kediri-berdaun-probolinggo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2618</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pindah</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pindah/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pindah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2015 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Better Call Saul]]></category>
		<category><![CDATA[Cipaku]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[Waduk Jatigede]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1042</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setelah setahun tinggal di Rumah Susun Berlian Tebet, saya dan Rani akhirnya memutuskan pindah. Ada banyak alasan kenapa kami harus pindah dari tempat yang menyenangkan ini. Rusun kami tak bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pindah/">Pindah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah setahun tinggal di Rumah Susun Berlian Tebet, saya dan Rani akhirnya memutuskan pindah. Ada banyak alasan kenapa kami harus pindah dari tempat yang menyenangkan ini.</p>
<p>Rusun kami tak bisa dibayar bulanan. Ini cukup memberatkan bagi pasangan yang baru menikah seperti kami. Kami mencari kontrakan yang bisa bulanan, atau setidaknya dibayar per 6 bulan. Sayang, di Tebet sangat susah cari kontrakan yang bisa dibayar bulanan, maupun setengah tahunan.</p>
<p>Lalu unit yang kami tempati sudah banyak kerusakan. Sadarnya sih waktu musim hujan datang. Kalau sudah deras, maka tembok akan dirembesi air hujan. Karena rembesan itu, kami seringkali tak sadar. Tahu-tahu lantai sudah banjir.</p>
<p>Lalu perihal rayap yang menggerogoti kusen jendela. Sewaktu tidur, tahu-tahu saja kusen kami lepas dan kaca jatuh. Pecah berantakan. Ternyata ini tak menimpa unit kami saja. Beberapa hari setelah kusen kami lepas, tetangga paling atas juga mengalami hal yang sama. Suara kacah jatuh menarik perhatian banyak orang. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan itu, kami memutuskan untuk pindah. Mulai lah saya dan Rani mencari kontrakan. Tak mudah, memang.</p>
<p>Di Jakarta, ada dua pilihan kontrakan. Tinggal pilih yang mana.</p>
<p>1. Lokasi strategis dan hunian nyaman? Harganya pasti mahal.</p>
<p>2. Murah. Lokasi jauh, dan seringkali tak manusiawi.</p>
<p>Karena tak mungkin membayar mahal untuk kontrakan, akhirnya kami memilih opsi nomer dua. Sebelumnya kami sempat keliling Tebet. Kenapa harus lokasi ini? Karena Tebet lokasinya pas sekali. Dekat ke kantor Rani atau pun saya. Karenanya, lokasi ini jadi pilihan pertama kami.</p>
<p>Sayang, kami tak dapat kontrakan yang kami cari. Ada beberapa kontrakan yang bisa bulanan, murah, tapi masuk gang sempit hanya cukup satu motor, dan tak mendapat sinar matahari.</p>
<p>Daerah Mampang, Kalibata, Jalan Bangka, hingga Cilandak sempat kami lirik. Tapi akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah kontrakan di Jalan Mujair, di TB Simatupang.</p>
<p>Rani yang menemukan lokasi ini. Waktu itu saya sedang ada di luar kota. Rani yang melihat kontrakan ini dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah saya sampai di Jakarta lalu melihat kontrakannya, saya juga setuju. Enaknya lagi, kontrakan ini bisa dibayar bulanan. Bahkan, memang sistemnya bayar bulanan.</p>
<p>Setelah menemukan lokasi ini, kerja berikutnya adalah yang paling berat dan akan saya benci seumur hidup: pindahan.</p>
<p>Saya tak sangka kalau barang kami berdua lumayan banyak. Buku, baju, lemari, peralatan dapur, gitar, mesin cuci, kulkas, hingga rak buku. Plus, unit kami di Rumah Susun ada di lantai 3. Ini artinya tiga kali kerja keras.</p>
<p>Untung ada Arif Budiarto, kawan karib saya sejak SMP yang tinggal dekat kami. Ia banyak membantu mengangkat dan menurunkan barang. Kalau tak ada Budi, mungkin saya sudah mati kelelahan duluan. Akibat pindahan ini, tangan saya seperti kram selama 4 hari. Luar biasa.</p>
<p>Rumah kontrakan baru kami cukup luas. Modelnya seperti kosan. Ada 8 unit kontrakan di satu area. Tiap unit ukurannya sama. Satu kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi.</p>
<p>Tak seperti di Tebet yang selalu ramai, daerah kontrakan kami cukup tenang. Tak banyak penjual makanan. Tak banyak lalu lintas. Kalah jauh kalau dibandingkan dengan di Tebet yang nyaris tak pernah sepi. Namun ini artinya hidup jadi lebih tenang. Karena banyak pohon besar, kalau pagi, ada banyak burung gereja yang mampir dekat rumah. Nikmat sekali bung.</p>
<p>Namun setelah beberapa hari naik motor ke kantor, kami baru sadar satu hal: TB Simatupang itu jauh!</p>
<p>Biasanya, dari Tebet ke kantor Rani hanya makan waktu 10-15 menit saja. Kalau tak macet malah bisa cuma 5 menit. Ke kantor saya pun cuma 15 menit. Sekarang, kami butuh 40-50 menit ke kantor Rani.</p>
<p>Kerak inti neraka dunianya ada di Mampang Prapatan. Dulu sewaktu saya belum jadi Homo Jakartaensis, Andrey Gromico, kawan baik saya, pernah ngomong sesuatu saat terjebak kemacetan di Mampang.</p>
<p>&#8220;Mampang iki ncen neroko. Asu tenan.&#8221;</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, saya merasakan kemacetan yang sama. Juga memaki hal yang sama. Tapi mau gimana lagi, ya harus dinikmati. Ini adalah konsekuensi tinggal di rumah yang jauh dari tempat kerja. Di Jakarta pula.</p>
<p>Tapi penderitaan saya menghadapi pindahan dan konsekuensinya ini tentu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah pindahan Pak Natahendra.</p>
<p>Beliau adalah penduduk Desa Cipaku, Sumedang, yang saya temui sewaktu tugas liputan ke Sumedang beberapa waktu lalu. Bagi yang belum tahu, Cipaku adalah salah satu desa yang akan ditenggelamkan untuk proyek waduk Jatigede. Selain Pak Hendra, ada 700 lebih kepala keluarga yang akan dipindah dari desa itu.</p>
<p>Proyek ini sebenarnya sudah dimulai sejak 1963. Kala itu Soekarno yang punya ide. Sempat mangkrak selama belasan tahun, Soeharto akhirnya memulai pembebasan lahan di Desa Cipaku pada tahun 1982. Tahun 1983, lahan mulai diukur. Setahun setelahnya, pembayaran dimulai.</p>
<p>Masalahnya, pengukuran dan pemberian harga sama sekali tak melibatkan warga. Waktu itu, tahun 1984, pemerintah membeli sawah warga seharga Rp 8 ribu per tumbak (14 meter persegi). Alias cuma Rp 500 rupiah lebih sedikit untuk tiap meter persegi sawah produktif. Padahal waktu itu harga pasaran sawah mencapai Rp 20 ribu, hingga Rp 30 ribu per tumbak.</p>
<p>Belum lagi salah kelas. Sawah produktif, yang harusnya harganya lebih mahal, acap dimasukkan ke kelas tanah darat, yang jauh lebih murah karena berupa lahan tak produktif atau hutan belantara.</p>
<p>Penduduk yang melawan atau protes, langsung saja digelandang ke markas Komando Distrik Militer. Bukan disuruh makan combro, tapi dihajar habis-habisan.</p>
<p>&#8220;Ada Pak Rahmad, dihajar sampai tangan dan kakinya patah. Ia lumpuh seumur hidup. Beberapa ada yang tuli karena telinganya dipukuli,&#8221; kata Pak Hendra.</p>
<p>Toh proyek pembangunan waduk Jatigede ini mangkrak lagi hingga puluhan tahun kemudian. Beberapa penduduk yang sudah terlanjur pindah, kembali lagi ke Cipaku. Namun, tahun itu juga, Bupati Sumedang memerintahkan tak boleh ada pembangunan apapun di Desa Cipaku. Tidak jalan beraspal, tidak pula listrik. Desa yang seperti lukisan mooi indie ini baru dialiri listrik pada tahun 2000.</p>
<p>Pembangunan waduk ini dilanjutkan lagi di era Susilo. Lalu Presiden Jokowi baru saja menandatangani Peraturan Presiden soal waduk Jatigede ini.</p>
<p>Menteri Pekerjaan Umum bilang waduk Jatigede yang menelan biaya hampir Rp 6 triliun ini sudah siap 99 persen. Sisa 1 persennya? Ya persoalan sosial warga yang enggan pindah. Kenapa harus pindah, kalau mereka merasa dirampok oleh pemerintah sendiri?</p>
<p>Selain persoalan ganti rugi yang belum menemui titik temu, para penduduk Cipaku juga menuntut pemerintah merelokasi mereka dan memberikan konsep pengembangan ekonomi. Mayoritas penduduk Desa Cipaku bekerja sebagai petani. Kalau pindah, mereka akan kerja apa? Nah, penduduk Cipaku inginnya pemerintah punya kejelasan soal ini.</p>
<p>Sayang, Peraturan Presiden yang diteken Jokowi sama sekali tak mengatur pengembangan ekonomi masyarakat setelah dipindah nanti.</p>
<p>Pun, rumah yang disiapkan untuk penduduk Cipaku ini jauh dari kata layak. Kata Hendra, selain sempit, bahan bangunannya juga berkualitas buruk. Kusen jendelanya, misalkan, dibuat dari kayu mangga yang masih basah. Sama sekali tak pantas.</p>
<p>&#8220;Orang desa ini, bahkan kalau mindah sapi pun selalu disiapkan dengan baik. Nanti kandangnya di mana, sumber makanan dari mana, bagaimana membuang kotorannya. Setelah semua siap, baru sapi dipindah. Lha, ini pemerintah mau mindah manusia lho. Kok kesannya serampangan,&#8221; kata Hendra kesal.</p>
<p>Saya jadi ingat adegan di film <em>Better Call Saul</em>. Ketika  Michael &#8220;Mike&#8221; Ehrmantraut berkata pada James Mc Gill. &#8220;It&#8217;s human nature to want to stay close to home. Nobody wants to leave home.&#8221; Sudah naluri manusia untuk ingin berada dekat rumah. Tak ada seorang pun yang ingin meninggalkan rumah.</p>
<p>Menyaksikan polemik relokasi warga ini, pindahan kontrakan saya jadi terasa begitu sepele. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pindah/">Pindah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pindah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1042</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kunci</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/kunci/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/kunci/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2015 06:07:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hujan baru saja usai, di sebuah malam nan dingin di kota yang tak perlu disebut namanya. Tokoh Kita punya janji dengan kekasihnya. Sebuah kafe disepakati sebagai tempat bertemu. Mereka tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kunci/">Kunci</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan baru saja usai, di sebuah malam nan dingin di kota yang tak perlu disebut namanya. Tokoh Kita punya janji dengan kekasihnya. Sebuah kafe disepakati sebagai tempat bertemu. Mereka tidak bareng. Sang Tokoh Kita yang punya senyum cemerlang, mengingatkan khalayak pada Rizal Ramli muda, membawa motor sendiri dari bilik kosnya. Begitu pula kekasihnya yang membawa motor dari tempat tinggalnya.</p>
<p>Hubungan mereka sedang memburuk belakangan ini. Frekuensi pertengkaran meningkat. Sang Tokoh Kesayangan Kita berharap pertemuan ini bisa menjadi titik penting untuk memperbaiki hubungan dengan sang kekasih.</p>
<p>Sayangnya begitu berserobok, dengan beberapa argumen yang bisa dianggap sebagai omong kosong tingkat tinggi, si kekasih malah minta putus. Sang tokoh terhenyak. Bingung mau bereaksi apa. Ia impulsif. Dengan cepat bangkit dari tempat duduk. Menyambar kunci motor, meninggalkan selembar uang biru di meja.</p>
<p>&#8220;Untuk kopi dan hidangan yang kita pesan.&#8221;<br />
Meski kalut, ia sama sekali tidak membuang sikap gentleman-nya. Sang gadis cuma bisa terdiam sembari menatap nanar selembar uang di meja. Kurang mas, begitu batinnya.</p>
<p>Tokoh kita yang berkacamata, menandakan hobi baca, keluar kafe. Langkahnya gontai. Saat ia menghidupkan motor, hujan kembali turun. Sang tokoh kita menyetir motor dengan masygul. Baru beberapa ratus meter meninggalkan kafe, suara dering telepon seluler menerabas dari saku celananya. Semula ia biarkan saja. Tapi panggilan itu terus berulang. Membuatnya tak tenang. Tapi sekaligus membikinnya senang.</p>
<p>Pasti ada yang minta balikan. Harga dirinya membuncah. Hidungnya kembang kempis. Insting pejantannya melarang untuk mengangkat panggilan itu. Biarlah ia yang memohon dan merasa kehilangan, pikirnya.</p>
<p>Maka ia biarkan telepon mati. Berdering lagi. Lalu mati lagi. Hingga akhirnya ia tak tahan juga. Detik itu, ia membuat keputusan: kalau si kekasih ingin minta balikan, ia akan menyanggupi. Lagipula ia masih sangat mencintainya. Ia meminggirkan motor dan mengangkat panggilan itu.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Dek?&#8221; sapanya, tenang dan hangat. Seperti angin musim panas di Hokkaido yang turun perlahan dari lereng gunung Fuji.</p>
<p>&#8220;Anu mas, kunci motorku kebawa sampean.&#8221;</p>
<p>Sang tokoh kesayangan kita, dengan muka masam menutup panggilan sialan itu, lantas memutar motor. Kalian sudah tahu kemana ia pergi. []</p>
<p>Post-scriptum: Cerita yang sekilas tak bisa dipercaya ini saya ceritakan ulang dari legenda pemuda penyayang, yang awalnya diceritakan secara oral oleh Pamanda Yusi Avianto Pareanom.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kunci/">Kunci</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/kunci/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1043</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menyambut Moviemetalithicum</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/menyambut-moviemetalithicum/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/menyambut-moviemetalithicum/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2014 08:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1054</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ibarat motor, grup heavy metal asal Yogyakarta, Sangkakala, sekarang sedang menginjak gigi empat. Band yang digawangi oleh Baron Kapulet Araruna sebagai vokalis, Ikbal Lubys pada gitar, Rudy Atjeh pada bass [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/menyambut-moviemetalithicum/">Menyambut Moviemetalithicum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr" style="text-align: left;">
<div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; text-align: center;">
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Ibarat motor, grup heavy metal asal Yogyakarta, Sangkakala, sekarang sedang menginjak gigi empat. Band yang digawangi oleh Baron Kapulet Araruna sebagai vokalis, Ikbal Lubys pada gitar, Rudy Atjeh pada bass dan Tatsoy pada drum ini sedang mempersiapkan perilisan DVD bertajuk Moviemetalithicum yang akan dirilis akhir Desember 2014.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">&#8220;DVD ini berawal dari launching album Heavymetalithicum yang didukung oleh Mas Bandist Shaggy Dog,&#8221; kata Baron Capulet, vokalis Sangkakala.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Untuk menyegarkan ingatan, grup band yang beranggotakan lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini merilis album penuh pertama mereka, Heavymetalithicum, pada Desember tahun lalu.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Acara yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta ini berlangsung dengan meriah. Menjelang pertengahan set, para penonton turut naik ke atas panggung untuk ikut bernyanyi dengan Sangkakala. Kemeriahan semakin terasa dengan dentuman kembang api yang selalu jadi ciri khas Sangkakala. Kemeriahan acara ini yang lantas didokumentasikan dalam bentuk DVD dokumenter.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Proyek pembuatan DVD ini banyak dibantu oleh Doggyhouse Record. Ini adalah label rekaman milik band legendaris Yogyakarta, Shaggy Dog. Kerjasama antara Doggy House Records dan Sangkakala sudah terjalin sejak lama. Selain saling mengenal secara pribadi, mereka sudah bekerja sama dalam album kompilasi Doggybark! yang berisikan lagu-lagu dari band Yogyakarta. Album ini dirilis pada bulan September silam.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Kali ini Doggy House Records secara khusus mendelegasikan tugas pendokumentasian Moviemetalithicum pada Djati Wowok Pambudi, alias Wowok Erwe. Selama ini Wowok lebih dikenal sebagai gitaris cum vokalis band Erwe.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Proses pembuatan DVD ini memakan waktu yang lumayan panjang. Terhitung sejak perilisan album, pembuatan DVD ini menghabiskan waktu satu tahun. Beberapa aral memang muncul dalam proses pembuatan ini.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">&#8220;Ya kita lumayan kagok karena interview, jadi agak serius,&#8221; kata Baron sembari tertawa.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Selain tak biasa diwawancara, kendala lain adalah Wowok mempunyai beberapa kesibukan lain. Ditambah, vokalis Erwe ini sempat mengalami kecelakaan yang membuat dirinya harus istirahat beberapa lama. Kendala klasik seperti pendanaan, sudah bisa dikover dengan baik oleh Doggy House Records.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">&#8220;Jadi kita gak mikirin dana, kita bisa maksimal dalam membuat karya. Doggy House juga membebaskan urusan artistik,&#8221; tambah Baron.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">DVD Moviemetalithicum ini sudah pasti akan jadi karya yang menarik. Pasalnya, selama ini di Indonesia belum banyak film dokumenter tentang perjalanan sebuah band atau tentang pesta pora perilisan album dari sebuah band. Dalam scene musik Yogyakarta pun, nyaris nihil, atau bahkan belum ada, band yang punya dokumentasi berformat film.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Sangkakala sendiri merupakan band yang sangat menarik untuk dijadikan film. Rentang waktu berkarya mereka sudah panjang. Band yang terpengaruh musik-musik heavy metal dan dandanan 80-an ini sudah aktif sejak 2005. Berawal dari pinggiran kota Bantul, mereka menggebrak scene musik Yogyakarta.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Pada tahun 2010, mereka sukses membuat gelaran Macanista Workshop dalam Biennale Yogyakarta. Mereka memberikan workshop tentang glam rock, potongan rambut ala glam rock, sablonase, hingga pementasan tunggal di Taman Budaya Yogyakarta. Bootleg penampilan Sangkakala ini lantas dirilis dalam bentuk EP berjudul Macanista yang bisa diunduh gratis via situs netlabel Yes No Wave.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Di tahun 2013, &nbsp;kuartet heavy metal circus ini merilis album penuh pertama kali dan disambut dengan gegap gempita. Mereka juga sempat mengadakan dua konser bersama band heavy metal asal Jakarta, GRIBS di Yogyakarta dan Jakarta.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dalam Moviemetalithicum ini, sedikit demi sedikit misi Sangkakala akan tersibak. Mereka memang tidak sekedar bermain band. Mereka punya misi tersembunyi. Semisal mempopulerkan kembali heavy metal dan glam rock yang sempat hiatus saat grunge muncul. Workshop glam rock di tahun 2010 menjadi bukti bagaimana Sangkakala menjalankan propaganda memasyarakatkan heavy metal dan meng-heavy metalkan masyarakat.&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Di film ini juga akan terlihat bagaimana pentingnya artwork, sisi artistik, dan estetika Sangkakala dalam berkarya. Latar belakang mereka sebagai mahasiswa institut kesenian jelas tak bisa dipisahkan dari karya-karya musik dan artwork Sangkakala.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Yang lebih unik lagi, meski Sangkakala memainkan musik heavy metal yang notabene dari belahan dunia barat, tapi mereka tak abai dengan unsur-unsur kelokalan. Simak saja artwork pandai besi yang jadi kover album Heavymetalithicum. Atau bagaimana Sangkakala dengan gagah menjadikan Reog Ponorogo sebagai maskot yang selalu dipajang di setiap panggung; atau harimau yang banyak muncul dalam artwork Sangkakala.&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Belum lagi bicara soal rambut mullet –gaya rambut yang populer dengan sebutan gondes, alias gondrong ndeso, di kalangan para preman terminal—serta penghormatan terhadap tong setan, sebuah atraksi sirkus yang tak pernah absen di setiap pasar malam. Sangkakala membawa itu semua dalam setiap karya dan penampilan mereka.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Dengan masa aktif yang panjang, musik yang rancak, penampilan yang mencolok, propaganda yang menggentarkan, dan atraksi panggung yang beringas, tak heran kalau Sangkakala menjadi band yang punya basis massa sangat besar di Yogyakarta. Sebutannya beragam. Mulai Macanista, Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Sangkakala), Alutsista (Alat Utama Sistem Macanista), hingga SPG (Sangkakala Promotion Girl).</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">DVD Moviemetalithicum akan dirilis sebanyak 500 kopi. Rinciannya, 100 kopi adalah edisi boxset yang dibanderol Rp 150 ribu. Selain berisi DVD, paket ini akan berisi bendera dan pin Sangkakala. Sedangkan paket reguler sejumlah 400 kopi akan dibanderol seharga Rp 50 ribu.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Pelepasan DVD ini akan turut dimeriahkan oleh penampilan Sangkakala dalam format akustik, yang tiketnya akan dibatasi untuk 200 orang saja. Lagi-lagi ini hal yang menarik. Karena sepanjang karirnya, Sangkakala baru satu kali tampil dalam format akustik. Dalam penampilan live kali ini, gitaris Iqbal akan memakai gitar khusus yang ia buat sendiri. Selain itu, penampilan akustik ini akan direkam secara live dan akan dirilis dalam bentuk kaset dalam proyek Sangkakala berikutnya.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Jadi bersiaplah! []</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><span style="font-size: x-small;"><i>Post-scriptum: ini rilis pers yang saya tulis untuk acara konfrensi pers Sangkakala beberapa hari lalu. Ayo yang belum pesan DVD &nbsp;ini, segera pesan. Rugi kalau tak punya film dokumenter keren dari band keren ini.</i></span></div>
</div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/menyambut-moviemetalithicum/">Menyambut Moviemetalithicum</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/menyambut-moviemetalithicum/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1054</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kecanduan August Eve</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/kecanduan-august-eve/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/kecanduan-august-eve/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2014 09:54:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1055</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak beberapa waktu belakangan, saya sedang khusyuk mendengarkan lagu-lagu August Eve. Ini artis muda dari California, Amerika Serikat. Awalnya saya tahu August waktu menonton beberapa video Richie Kotzen, gitaris band [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kecanduan-august-eve/">Kecanduan August Eve</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr" style="text-align: left;">
<div style="text-align: justify;">Sejak beberapa waktu belakangan, saya sedang khusyuk mendengarkan lagu-lagu August Eve. Ini artis muda dari California, Amerika Serikat. Awalnya saya tahu August waktu menonton beberapa video Richie Kotzen, gitaris band rock The Winery Dogs. Richie adalah salah satu gitaris favorit saya. Lagu-lagunya paten punya. Ditambah ia juga punya karakter vokal yang mengasyikkan.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">August beberapa kali tampil bersama Richie. Usut punya usut, August adalah anak kandung Richie. Beberapa penampilan mereka sangat menyenangkan dan hangat. Kehangatan itu makin terasa kalau istri Richie yang merupakan pemain bass dari Brasil ikut manggung. Jadi semacam band keluarga.&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Setelah beberapa kali mencari nama August, saya menemukan akun twitter dan laman Soundcloud-nya. Ternyata lagu-lagu August itu enak! Saya jadinya malah kecanduan. Lagunya saya dengarkan, berselingan dengan album baru Richie,<i> The Essentials of Richie Kotzen</i>.&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Suara August itu <i>hauntingly beautiful</i>. Indah yang menghantui. Suaranya terngiang-ngiang di telinga saya nyaris tiap hari. Mini album August sudah dirilis via Soundcloud. Judulnya <i>Party for Wallflowers</i>. Ada empat lagu di album itu. Favorit saya adalah track pertama, &#8220;Heart of Gold&#8221;.&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Coba dengarkan lagu-lagu gadis yang masih umur 17 tahun ini. Jangan salahkan saya kalau kalian jatuh cinta. []</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><iframe loading="lazy" frameborder="no" height="450" scrolling="no" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/168817308&amp;auto_play=false&amp;hide_related=false&amp;show_comments=true&amp;show_user=true&amp;show_reposts=false&amp;visual=true" width="100%"></iframe></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kecanduan-august-eve/">Kecanduan August Eve</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/kecanduan-august-eve/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1055</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pada Selembar Sobekan Kertas</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pada-selembar-sobekan-kertas/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pada-selembar-sobekan-kertas/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2014 21:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untuk Rani Kau pernah bilangRinduku serupa abuIa mudah hilang, gampang tempiasTergenang airAtau terseret arusMenuju sungai, lautAtau berakhir di comberan hitamdi gang buntu yang riuh dengan bocah dekil beringus Namun barangkali [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pada-selembar-sobekan-kertas/">Pada Selembar Sobekan Kertas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr" style="text-align: left;"><i>Untuk Rani</i></p>
<p>Kau pernah bilang<br />Rinduku serupa abu<br />Ia mudah hilang, gampang tempias<br />Tergenang air<br />Atau terseret arus<br />Menuju sungai, laut<br />Atau berakhir di comberan hitam<br />di gang buntu yang riuh dengan bocah dekil beringus</p>
<p>Namun barangkali rindu memang sudah tak semenarik dulu<br />Ia terlalu banyak diobral</p>
<p>Dalam lagu cinta eceran,<br />dalam puisi romansa kapiran,<br />hingga stanza dangdut kacangan</p>
<p>Rindu memang sudah jadi barang kodian<br />Rindu tak lagi menarik<br />Usang, kuno, dan tak layak dibicarakan</p>
<p>Padahal rindu menarik ketika ia tak berisik<br />Terlahir dari kesunyian yang menyayat<br />Ditakik dari jarak yang semakin jauh<br />Digurat seiring melambatnya waktu<br />Dirapal bersama deru roda kereta</p>
<p>Rindu seperti ini<br />Rindu yang ditulis hanya pada sobekan kertas</p>
<p></p>
<div style="text-align: right;"><i>Ditulis di kereta Jaka Tingkir</i></div>
<div style="text-align: right;"><i>Pasar Senen-Gubeng</i></div>
<div style="text-align: right;"><i>18 November 2014, selepas dini hari</i></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pada-selembar-sobekan-kertas/">Pada Selembar Sobekan Kertas</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pada-selembar-sobekan-kertas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1057</post-id>	</item>
		<item>
		<title>E-book Selamat Datang Presiden Jokowi</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/e-book-selamat-datang-presiden-jokowi/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/e-book-selamat-datang-presiden-jokowi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2014 07:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1058</guid>

					<description><![CDATA[<p>Semua berawal dari tulisan untuk mamak perihal Prabowo dan Jokowi. Tulisan itu ternyata dibaca Wisnu Prasetyo, kawan saya yang bekerja jadi editor di Bentang Pustaka. Beberapa hari selepas pemilihan presiden, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/e-book-selamat-datang-presiden-jokowi/">E-book Selamat Datang Presiden Jokowi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr" style="text-align: left;">
<div style="clear: both; text-align: center;"><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2014/10/B0NmIRGCYAESUdO.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img loading="lazy" border="0" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2014/10/B0NmIRGCYAESUdO.jpg" height="400" width="400" /></a></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Semua berawal dari<a href="http://nuranwibisono.net/?p=1076" target="_blank"> tulisan untuk mamak perihal Prabowo dan Jokow</a>i. Tulisan itu ternyata dibaca Wisnu Prasetyo, kawan saya yang bekerja jadi editor di Bentang Pustaka. Beberapa hari selepas pemilihan presiden, Wisnu menghubungi saya. Ia meminta izin untuk memuat tulisan saya dalam sebuah buku bunga rampai persembahan pada Jokowi. Saya tentu tak menolak. Apalagi buku itu dibagi secara gratis dalam format e-book. Pun, yang minta Wisnu <i>jeh</i>, kawan saya. Ya gak mungkin saya menolaknya.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Kabar baik itu akhirnya datang kemarin. Hari ketika presiden ketujuh Indonesia dilantik. Bentang Pustaka akhirnya merilis e-book berjudul <i>Selamat Datang Presiden Jokowi</i> yang bisa diunduh dengan bebas.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Ada banyak penulis lain yang ikut dalam penulisan buku ini. Beberapa sudah saya kenal namanya. Bahkan saya mengidolakan mereka. Agus Mulyadi, Mas Ari Perdana, Eka Kurniawan, hingga Mas Puthut EA. Sebagian besar tulisan di di buku ini bercita rasa personal. Tentu, karena awalnya, kebanyakan tulisan ini dimuat di blog pribadi. Justru karena itu, harapan pada presiden baru jadi lebih terasa. Soalnya yang menulis ya rakyat-rakyat biasa, yang memilihnya dan menaruh harapan besar pada pundaknya.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Singkat kata, selamat bekerja Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla!</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><i>Post-scriptum: bukunya bisa diunduh di <a href="http://bentangpustaka.com/selamat-datang-presiden-jokowi-e-book-edition/?utm_source=Bentang+Pustaka+-+Catalog+Newsletter&amp;utm_campaign=57f1ace88f-Free+E-book+Selamat+Datang+Presiden+Jokowi&amp;utm_medium=email&amp;utm_term=0_4722ba394c-57f1ace88f-194985397" target="_blank"><span style="color: red;">sini</span></a></i></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/e-book-selamat-datang-presiden-jokowi/">E-book Selamat Datang Presiden Jokowi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/e-book-selamat-datang-presiden-jokowi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1058</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
