<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Festival Musik Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/festival-musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/festival-musik/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Aug 2025 17:41:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 17:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5685</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tau ndelok tendo ngawang, cuk!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph Sudiro, dengan gaya Suroboyoan yang khas dan berapi-api lengkap dengan cak-cuknya, mengisahkan pengalaman menonton Fuji Rock Festival pada 2019 silam. Hitung maju enam tahun kemudian, kami berdua ada di satu gondola dengan Aya dan Faisal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aya adalah partner hidup sekaligus rekan terbaik Joseph menonton festival musik. &#8220;Wis teruji arek iki,&#8221; puji Joseph. </span><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Faisal adalah kawan baikku sejak lama, partner dalam banyak kebodohan. Salah satu buktinya, ya, Fuji Rock 2025 ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faisal adalah anak rumahan, lebih suka mendengar musik di kamar atau membaca buku ketimbang datang ke festival musik penuh manusia. Entah setan belantara mana yang nemplok di bahunya sepulang liputan, kok tiba-tiba saja dia mau ikut pas aku cerita rencana datang ke Fuji Rock 2025. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ical padahal jarang keluar kamar kos, sekali-kalinya keluar kamar kok malah langsung ke Fuji Rock,” ujar seorang kawan, membalas <em>story</em> Instagram-ku ketika kami baru mendirikan tenda di permukaan tanah yang tak terlalu landai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg"><img class="size-large wp-image-5688 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bawah kami, tampak rimbun pohon pinus. Hijau. Ada sungai mengalir. Saking beningnya, bebatuan di dasar terlihat jelas. Aku membayangkan di suhu 34 derajat, betapa surgawinya nyemplung di sungai itu. Di sebelah kanan, ada dua panggung yang satu per satu terlihat. </span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5686 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Itu White Stage,” ujar Aya menunjuk panggung di arah jam 3.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau itu Field of Heaven.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iku deloken rek, danau.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Danau opo?” tanya Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gak eruh, cuk, lali aku,” kata Aya ketawa.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-5687 size-large" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Josep dan Aya bisa dibilang veteran perihal Fuji Rock. Sembari meraba ingatan –cuk, mereka bahkan lupa sudah berapa kali nonton– mereka sepertinya sudah sembilan kali menonton perhelatan musik tahunan yang diadakan di Naeba ini. Banyak yang berkesan bagi mereka. Di 2023 line up-nya seru, ada Foo Fighter, The Strokes, Alanis Morisette, Weezer, Slowdive, Yeah Yeah Yeahs, hingga Lizzo. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Fuji Rock 2024 berkesan karena mereka ngobrol dengan sepasang suami istri berusia lanjut yang mengagumi kaus Ash (halo Jelly!) yang dipakai Joseph. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu tibalah momen Fuji Rock 2019 disebut. Chemical Brothers dan The Cure jadi penampil pamungkas. Itu bikin hati girang, tentu saja. Namun ada lagi yang lebih lekat di ingatan mereka: topan! </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di beberapa video yang pernah kutonton, termasuk video dari Fujirocker Indonesia, aku melihat para penonton yang menginap di tenda harus dievakuasi ke lobi hotel Prince Naeba saking dahsyatnya topan menghajar kawasan Naeba.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan di situlah Joseph dan Aya menyaksikan tenda terbang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepuluh menit di dalam gondola, aku masih merasakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ndok ngerenyeng </span></i><span style="font-weight: 400;">jika melongok ke bawah. Gimana kalau terjadi adegan khas </span><i><span style="font-weight: 400;">Final Destination</span></i><span style="font-weight: 400;"> di gondola ini? Seorang petugas lupa memberi pelumas pada roda, menghasilkan gesekan ke kabel baja yang berlebihan, putus, lalu kami terjatuh ke bawah, ditangkap oleh bebatuan. Warna merah kemudian mengalir mengikuti arus.</span></p>
<p>Tapi aku mengusir pikiran goblok itu.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gondola merayap naik, kemudian setelah sampai di puncak kabel, dia turun lagi pelan-pelan seperti seorang kakek yang terserang rematik di seluruh sendirinya.  </span><span style="font-weight: 400;">Angin berhembus pelan. Tapi tak ayal gondola kami goyang. Bajingan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku melongok ke atas. Mendung. Aku membayangkan naik gondola puluhan meter dari bumi kemudian dihantam hujan badai, jelas bikin jeri dan jantung seperti ditarik. Tapi pikiranku justru ke kawasan kemping. </span><span style="font-weight: 400;">Pasalnya: Joseph bercerita soal obsesinya pada kemping. Karena itu, Fuji Rock adalah festival paling menyenangkan baginya, sebab ajang yang sudah diadakan sejak 1997 ini memadukan dua hal paling dia cintai: musik dan kemping.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku <em>invest</em> nang tendo dan pasak. <em>Puenting</em> iku,” kata Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph lantas berkisah bagaimana dia kerap menghimpun teman-temannya untuk nonton Fuji Rock. Yang diperlukan hanya meeting online satu kali dan menentukan titik ketemu di Tokyo. Joseph biasanya sampai di Tokyo pada Kamis pagi, lalu naik Shinkansen ke Stasiun Echigo-Yuzawa, untuk kemudian nyambung naik bis <em>shuttle</em> ke area Naeba Ski Resort, kawasan yang jadi area Fuji Rock ketika musim panas, dan akan berganti menjadi kawasan ski ketika memasuki musim dingin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Hari Kamis, sehari sebelum Fuji Rock resmi dimulai, area kemping sudah dibuka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di momen itu, Joseph akan mencari lokasi datar –bersaing dengan ribuan orang lain– meletakkan <em>footprint</em> (alas agar bagian bawah tenda tak langsung bersentuhan dengan tanah, berfungsi mencegah dingin atau air tembus ke bagian bawah tenda), memasang tenda-tenda kualitas apik miliknya, memalu pasak hingga dalam dan ajek, dipungkasi dengan memasang <em>flysheet</em> sampai rapi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph, pemain bass Vox yang sering cekakakan, selalu jadi serius ketika bicara tempat tinggal serta kenyamanan selama Fuji Rock. Dia akan jadi komandan bagi kawan-kawan yang dia pimpin, tapi juga tak segan turun tangan ketika ada sesuatu yang terasa kurang pas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mangkane tendoku selalu aman, gak tau </span><i><span style="font-weight: 400;">teles</span></i><span style="font-weight: 400;">,” kata Joseph cengengesan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau soal tenda dan kenyamanan Fuji Rock, dia bukan lagi Joseph Sudiro,” kata Aya. “Tapi sudah jadi Joseph Stalin.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cerita Joseph tak ayal bikin aku tambah tercenung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ratusan meter dari Day Dreaming dan Silent Breeze, kawasan puncak yang rata, dingin, berangin, tapi juga syahdu; tempat satu restoran besar, tenda yang menampilkan beberapa pertunjukan seni kecil-kecilan, dua kedai kopi dan kudapan; tempat </span><span style="font-weight: 400;">kami menginjakkan kaki setelah menempuh dua puluh lima menit perjalanan dengan gondola yang menegangkan, tenda kuning kami sudah pasti bergoyang letoy kena angin sepoi.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5690 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku tak memasang tenda dengan ideal. Maklum, sudah lama tidak. Pasak kupasang sekenanya, asal masuk ke tanah. <em>Flysheet</em> juga dihela dengan ala kadarnya. <em>Footprint</em> jelas tak ada. Bagaimana kalau hujan topan? Hampir bisa dipastikan: dalam sedetik sejak topan lewat, tenda pinjaman dari Muhammad Harmein itu sudah terbang entah ke mana, memuntahkan semua isinya ke tanah –<em>carrier</em>, <em>sleeping bag</em>, matras, dan segala obat-obatan untuk aku yang makin ringkih ini– mungkin bisa sampai ke Echigo Yuzawa dan pasrah disapu untuk kemudian dimusnahkan bersama sampah-sampah jalanan hari itu.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bersambung</span></i><span style="font-weight: 400;">…</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5685</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Nov 2023 22:18:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5476</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang banyak orang tahu, konser Bring Me the Horizon (BMTH) yang berlangsung di Beach  City International Stadium pada 10 November 2023 berakhir dengan kurang baik. Di tengah set, setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/">Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Seperti yang banyak orang tahu, konser Bring Me the Horizon (BMTH) yang berlangsung di Beach  City International Stadium pada 10 November 2023 berakhir dengan kurang baik. Di tengah set, setelah membawakan 11 lagu dan rencananya masih ada delapan lagu lagi, BMTH memutuskan undur diri dari panggung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Promotor bilang bahwa mereka ingin <em>break</em> sejenak. Ternyata, setelah 30 menit, BMTH tak kunjung kembali. Yang hadir malah Ravel Junardy, pendiri Ravel Entertainment, promotor kelas internasional yang punya signature show Hammersonic.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ravel menjelaskan bahwa konser harus selesai lebih cepat, karena BMTH tidak bersedia melanjutkan set. Tanpa ada penjelasan detail, Ravel menyudahi pidatonya dengan kata sederhana: <em>chill</em>. Tenang. Namun apa daya, bujukan itu gagal. Barang-barang mulai melayang ke atas panggung. Puncaknya, massa menyerbu panggung.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pihak Ravel lantas buka suara. Konser yg tadinya dibilang cuma break, tapi katanya ga bisa dilanjutin. Alasannya? Mereka bilang ada masalah di stage. Sampe dua kali kasih klarifikasi dengan alasan yg sama. <a href="https://t.co/AbbVirH1oa">pic.twitter.com/AbbVirH1oa</a></p>
<p>&mdash; Celvin M. Sipahutar (@celvinms7) <a href="https://twitter.com/celvinms7/status/1723032744509255934?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di media sosial, banyak beredar video kejadian itu. Bahkan, ada pula yang mengunggah video kejadian antrean masuk yang kacau, dan orang-orang berhamburan tanpa mengikuti panduan. Ini artinya bibit kekacauan sudah terjadi bahkan jauh sebelum konser mulai.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">nonton DROWN repeat 1 jam!</p>
<p>salah satu knapa skip bmth selain garapan blm cair ya karena kebanyakan fomo doang begini deh jadi nya, tiket mahal kirain pinter eh ternyata gini <a href="https://t.co/5fkvHtwm7B">pic.twitter.com/5fkvHtwm7B</a></p>
<p>&mdash; kesayanganmu 🫠 (@luckytsar) <a href="https://twitter.com/luckytsar/status/1723010105208136084?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inti tulisan ini hanya catatan sporadis dari pikiran yang sekelebat, bukan sebagai analisis utuh yang bersifat ilmiah. Tujuan utama tulisan ini dibuat adalah sebagai arsip yang kelak akan saya pakai untuk buku saya soal festival dan event musik (buset gak selesai-selesai, bhaaang), juga agar pikiran saya segera kosong dan bisa tidur. Kalau ada salah kronologis, atau ada kalimat yang kurang tepat, saya dengan senang hati akan menerima koreksi.</span></p>
<p>Saya juga menulis ini bukan bermaksud ingin menyalahkan pihak tertentu, apalagi sok menggurui.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Postingan ini diketik mulai pukul 02.30 dini hari, dan tim Fantasy Premier League saya dapat 72 poin. Pemain terbaik adalah kapten saya, Mo Salah, 26 poin, belum dihitung bonus poin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<h3><b>Teori yang Patah atau Anomali?</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu teori yang jadi “pegangan” banyak pembuat event di Indonesia adalah: harga tiket akan menjadi titik seleksi awal penonton. Dengan kata lain, semakin mahal harga tiket, maka penonton yang datang akan semakin terseleksi, dianggap lebih <em>well behaved</em> (karena berkaitan dengan tingkat pendapatan, pendidikan, dll), dan karenanya event akan berjalan lebih lancar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di atas kertas, ini sekilas masuk akal (walaupun </span><i><span style="font-weight: 400;">classist</span></i><span style="font-weight: 400;"> banget, alias ada bias kelas atas teori ini).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mau membeli tiket mahal (tentu kategori mahal ini bisa dibahas lebih lanjut, misal definisi mahal ini berapa persen dari pendapatan seseorang, dll), motivasi utamanya adalah menonton pertunjukan musik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang sering dijadikan antitesanya tentu pertunjukan gratis. Seringnya di konser gratis, atau malah selalu, akan ada perkelahian di sana-sini. Di Instagram, bahkan ada beberapa akun (saya juga follow mereka) yang khusus mendokumentasikan perkelahian dan tawuran di acara dangdut gratisan. Intinya, penonton event gratisan punya lebih banyak motivasi, tak hanya bersenang-senang menikmati musik, tapi juga, salah satunya, mencari keributan.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">(Catatan, soal motivasi penonton dalam menonton konser/ festival musik bisa merujuk, di antaranya, Pitts, S.E (2014), Alicia Kulczynski dkk (2016), Alysa Eve Brown (2019), juga Lily-Ann Perrin (2020). Sedangkan soal demografi penonton salah satunya bisa baca paper Steve Oakes (2003)).</span></em></p>
<p>Pemisahan penonton ini bahkan bisa terbawa ke ranah genre dan imejnya. <span style="font-weight: 400;">Misal penonton jazz dan opera/ musik klasik, akan dianggap lebih “kalem”, “teratur”, dll. Sedangkan penonton musik metal, dangdut, relatif berisiko lebih tinggi. T</span><span style="font-weight: 400;">api bahasan ini lebih baik dibahas di tulisan yang lain lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Intinya: musik menyatukan, harga tiket (dan genre) yang memisahkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu, di setiap teori akan selalu ada anomali. Ada event musik gratisan yang berjalan tertib dan selalu bebas dari kericuhan, misal Ngayogjazz. Beberapa acara musik yang diadakan di seputaran Blok M juga tak pernah ada masalah berarti, meski gratis. Baru kemarin, Joyland membuat acara road to di Taman Martha Tiahahu, gratis. Semua lancar dan sama sekali tak ada kericuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, anomali untuk tiket mahal tapi ricuh ini ya terjadi di kasus BMTH. Bahkan kericuhan yang terjadi benar-benar di luar ekspektasi: penonton sampai naik ke atas panggung. Beberapa video sempat melahirkan asumsi adanya vandalisme terhadap alat-alat musik BMTH –walau ternyata tidak terbukti, alat aman. Tapi rasa-rasanya dalam dua dekade terakhir, tak banyak konser musik yang melahirkan kemarahan penonton hingga berani naik ke atas panggung (kerusuhan Musikologi 2019 mungkin mirip-mirip kadarnya).</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">disappointed in the fans&#8230; <a href="https://t.co/zL2vFMkWCX">pic.twitter.com/zL2vFMkWCX</a></p>
<p>&mdash; -. .- … 🗝 (@CUTMYLIPBKLYN) <a href="https://twitter.com/CUTMYLIPBKLYN/status/1723056254719775109?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">&#8212; A THREAD &#8212;</p>
<p>KLARIFIKASI Stand Mic Oliver Sykes &quot;di curi&quot;</p>
<p>Saya pemilik dari akun instagram <a href="https://twitter.com/hi?ref_src=twsrc%5Etfw">@hi</a>.kal20 atau Pasla Haikal Pirgiawan</p>
<p>Disini saya akan menjelaskan kejadian yang sebenar nya dan beberapa bukti bukti dari apa yang akan saya ucapkan <a href="https://t.co/C0S8l5oZAK">pic.twitter.com/C0S8l5oZAK</a></p>
<p>&mdash; Pasla Haikal Pirgiawan (@Hi_kal20) <a href="https://twitter.com/Hi_kal20/status/1723327156762325183?ref_src=twsrc%5Etfw">November 11, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu, apakah tiket konser BMTH ini bisa dibilang mahal? Lagi-lagi, perlu ada bahasan khusus terkait definisi harga mahal ini ada di rentang berapa.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari info yang beredar, harga tiket termurah konser ini adalah Rp1.250.000, dan yang termahal Rp2.750.000. Bagi orang yang punya pendapatan Rp5 juta per bulan, ini artinya harga tiket termurah sama dengan 25 persen pendapatan. Mahal? Bisa jadi. Kenapa begitu? Karena biaya cicilan KPR saja biasanya maksimal 30 persen dari pendapatan. Kementerian Keuangan juga pernah memberikan tips mengatur keuangan, dan 30 persen biasanya adalah alokasi untuk cicilan (rumah/kendaraan dsb).</span></p>
<p>Oke, itu intermezzo.</p>
<p>Selain itu, untuk kelas konser tunggal band rock/ metal, harga tiket BMTH termasuk tinggi.<span style="font-weight: 400;"> Saya iseng mengingat siapa saja band rock/metal yang konser tunggal di Indonesia, coba cari tiket kelas termurahnya, lalu bikin perbandingan sederhana. Hasilnya kira-kira seperti ini:</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5480 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-1024x626.png" alt="" width="790" height="483" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-1024x626.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-300x183.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-768x469.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1.png 1240w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga tiket termurah konser BMTH adalah termahal ketiga dari daftar di atas. </span><span style="font-weight: 400;">Ada tambahan siapa lagi band rock/ metal yang konser tunggal di Indonesia sepanjang 2023 ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaannya, kericuhan di konser BMTH ini adalah patahnya teori soal harga tiket, atau ini anomali belaka? Jawabannya tentu harus dicari lebih lanjut. Yang jelas, ada banyak <em>insight</em> menarik yang bermunculan di media sosial soal kericuhan ini. Yang saya tangkap dari percakapan di medsos, juga dengan obrolan bersama beberapa kawan, antara lain:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Pengaruh usia. Penonton lebih muda punya energi lebih besar, termasuk energi kemarahan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">FOMO: katanya, lagu-lagu BMTH yang populer di kalangan Gen Z belum sempat dibawakan, dan ini bikin banyak penonton usia muda jadi ngamuk.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Paylater. Sistem pembayaran ini membuat orang lebih mudah beli tiket. Artinya, ada kemungkinan teori harga tiket mahal dan seleksi awal penonton jadi tak berlaku lagi, karena semua orang bisa membeli tiket dengan cara nyicil. Ini juga membawa dampak lumayan ngeri, sih, karena sistemnya nonton dulu bayar belakangan, bikin orang ada kemungkinan terjerat utang.</span></li>
</ol>
<h3><b>Kekurangan Promotor</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ravel Entertainment bukan promotor kacangan, bukan juga kemarin sore. Mereka salah satu promotor kelas internasional di Indonesia, dan jadi bagian <em>Magnificent Seven</em> pendiri Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI). Bahkan tahun ini mereka berhasil mengadakan festival metal internasional Hammersonic dan mengundang Slipknot ke Indonesia untuk pertama kalinya.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5481 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-1024x809.png" alt="" width="790" height="624" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-1024x809.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-300x237.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-768x607.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia.png 1240w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaannya, jika bisa mengadakan Hammersonic yang secara skala dan jumlah penampil lebih banyak dan karenanya jauh lebih kompleks ketimbang konser tunggal, kenapa BMTH bisa ricuh dan berhenti di tengah jalan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang bisa menjawab secara pasti hanya Ravel Entertainment. Sampai ketika tulisan ini dibuat, setahu saya Ravel belum memberikan penjelasan detail selain postingan klarifikasi di IG mereka dan soal <em>refund</em>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya coba merangkum beberapa percakapan yang saya baca di media sosial. Sekali lagi, tak ada maksud menuding dan menimpakan kesalahan sepenuhnya pada Ravel Entertainment.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya (dan juga banyak orang) melihat ada satu kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, dan jika ini bisa dilakukan maka hasilnya akan berbeda pula: p</span><span style="font-weight: 400;">enjelasan detail ke para penonton.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika mendengar pidato Ravel, rasanya banyak orang sepakat kalau dia cenderung “meremehkan” dan menganggap enteng dampak berhentinya BMTH di tengah set. Dua kali dia muncul ke atas panggung, dua kali memberikan penjelasan, dan dua kali pula penonton merasa tak ada penjelasan yang memuaskan. Ravel dianggap lebih fokus meminta penonton untuk bubar.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pihak Ravel lantas buka suara. Konser yg tadinya dibilang cuma break, tapi katanya ga bisa dilanjutin. Alasannya? Mereka bilang ada masalah di stage. Sampe dua kali kasih klarifikasi dengan alasan yg sama. <a href="https://t.co/AbbVirH1oa">pic.twitter.com/AbbVirH1oa</a></p>
<p>&mdash; Celvin M. Sipahutar (@celvinms7) <a href="https://twitter.com/celvinms7/status/1723032744509255934?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal penonton pasti ingin penjelasan detail: apa yang sedang terjadi? Kenapa konser berhenti? Terus penonton harus bagaimana? Apakah akan ada <em>refund</em> atau ganti rugi? Dan sebagainya. Ini yang sayangnya luput dilakukan oleh Ravel.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun di satu sisi, saya juga memaklumi betapa besar tekanan yang dialami oleh Ravel. Tekanan seringkali membuat manusia tak bisa bertindak seperti yang direncanakan. Saya membayangkan Ravel sudah merancang penjelasan sebaik mungkin, tapi semua bubar ketika dihadapkan dengan ribuan penonton yang ngamuk dan melempar barang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai pembelajaran (ceile pembelajaran), ada dua hal yang saya tangkap dari omelan penonton terkait jalannya konser BMTH:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;">Mereka merasa panitia dan tenaga keamanan cenderung tidak proporsional dibanding dengan jumlah penonton. Petugas kewalahan membendung para penonton dan akhirnya hanya bisa pasrah. Hal ini bisa dilihat di setidaknya dua kejadian: antrean masuk yang amburadul, dan penonton yang merangsek ke atas panggung.</span></li>
<li>Keamanan venue. BMTH merasa panggung bergetar dan dianggap tak aman. Saya pernah dua kali menonton konser di tempat yang sama, pertama konser Guns N Roses (2012), dan Arctic Monkeys (2023). Secara keseluruhan, venue Beach City ini rasanya kurang pas, baik dari segi lokasi maupun dari segi keamanan kerumunan. Gedungnya bertingkat, dengan lorong yang relatif sempit, bikin ngeri kalau bubaran konser. Waktu konser GNR dan AM pun, saya merasakan getaran yang cukup bikin gentar.</li>
</ol>
<p>Tambahan dari Mas Wendi Putranto, venue ini pernah ditutup oleh Ahok pada 2014 karena beberapa penyebab. Jika <a href="https://www.medcom.id/nasional/metro/0kpeLr6K-alasan-ini-yang-bikin-meis-ancol-ditutup">dibaca lagi</a>, alasannya lebih banyak terkait sengketa kontrak dan permasalahan pendapatan. Terima kasih buat seorang teman yang memberi masukan terkait penutupan Beach City International Stadium (dulu MEIS) INI.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Gak tahu pastinya. Mungkin kondisi venue yang gak layak untuk crowd sebanyak itu dan gerak semua, pas tengah konser pihak manajemen BMTH merasa gak safe buat penonton dan terpaksa berhentiin shownya, daripada tragedi. Jangan lupa, venue ini tahun 2014 pernah ditutup sama Ahok. <a href="https://t.co/NNAQqhJRsx">https://t.co/NNAQqhJRsx</a></p>
<p>&mdash; Wendi Putranto 🇵🇸 (@wenzrawk) <a href="https://twitter.com/wenzrawk/status/1723225308613292521?ref_src=twsrc%5Etfw">November 11, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<h3><b>Penonton Norak</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Manusia punya emosi, semua sepakat. Konser BMTH berhenti di tengah jalan bikin ngamuk dan marah, semua setuju. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun menyerbu naik ke atas panggung, itu tak bisa, dan tak boleh, dibenarkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada alasan kenapa panggung itu harus steril dari mereka yang tak berkepentingan. Dari segi keamanan, salah satunya. Tentu sudah ada hitungan berapa beban maksimal yang bisa ditanggung sebuah panggung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misal, katakanlah, panggung kuat menampung beban hingga 700 kilogram. Lalu tiba-tiba datang puluhan orang yang membawa beban tambahan ke atas panggung, siapa yang bisa menjamin tak ada kecelakaan? Kalau panggung ambruk, penonton jatuh dan terluka, alat-alat rusak, kerugian pasti jadi lebih besar, baik buat penonton maupun penyelenggara acara.</span></p>
<p><iframe loading="lazy" title="VIRAL ! Asik Goyang Berdesakan Sampai Panggung Roboh di Tebidah, Sintang" width="790" height="444" src="https://www.youtube.com/embed/LdCdEflrgAo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan lain kenapa menyerbu panggung itu tak boleh dibenarkan: ini bisa berbuntut panjang. Mulai dari kemungkinan properti panggung atau alat yang hilang, kerusakan properti dan barang, juga dampak terhadap keberlangsungan event musik di masa depan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Belum lagi, dalam kasus BMTH ini, penyerbuan ke atas panggung ini menunjukkan ego sesaat, <em>kardi</em> (<em>karepa dibhik</em>, alias mau menang sendiri) dan tak memikirkan penonton di hari kedua. Padahal, mari berandai-andai, jika tak ada kasus penyerbuan, bisa saja ada perbaikan masalah teknis dan konser hari kedua bisa terselenggara dengan baik.</span></p>
<p>Sayangnya nasi sudah jadi bubur, mau tak mau ya harus ditelan saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Konser BMTH yang sayangnya berjalan dengan tidak baik, menyisakan banyak <em>what if</em> dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan terpenting: seperti apa efek kegagalan ini, termasuk efek penyerbuan penonton ke atas panggung, terhadap masa depan event musik internasional di Indonesia?</p>
<p>Sampai saat ini tak ada yang bisa menjawab pasti. Semua baru bisa menerka dan menduga. Jawabannya mungkin bisa ditanya ke para promotor yang akan mengadakan event musik internasional di tahun depan. Saya sih berharap semoga efeknya tak besar, tak ada ketakutan untuk manggung di Indonesia. Terdengar naif, memang. Namanya juga berharap.</p>
<p>Namun kalau boleh memberi catatan, kegagalan konser ini memberikan banyak pelajaran.</p>
<p>Promotor harus terus rendah hati, senantiasa mau belajar, dan meningkatkan kapasitas diri dan organisasi dalam membuat event. Ravel Entertainment memang nama besar di dunia showbiz Indonesia, tapi bukan berarti mereka tak bisa melakukan kesalahan. Saya berharap kejadian ini bisa membuat mereka melongok sebentar ke belakang, evaluasi, kembali dengan manajemen event yang jauh lebih baik, dan menghadirkan kembali festival dan konser berkualitas.</p>
<p>Untuk penonton event musik, termasuk saya, kita semua harus belajar menahan diri dan menyampaikan keluhan atau kekesalan dengan cara yang tidak merusak dan melanggar hukum. Merusak itu sama sekali tidak memberikan jalan keluar, malah bikin masalah baru. Omelan di medsos saya pikir salah satu saluran penyampaian kekesalan yang pas dan punya dampak.</p>
<p>Memang semua akan terasa sulit, namanya juga belajar. Saya saja sekarang mau tidur kerasa sulit, makanya nulis biar ngantuk. Apalagi belajar rendah hati dan menahan diri, pasti lebih sukar. Namun demi masa depan event musik yang lebih baik di Indonesia, ini harus diupayakan (juga perizinan satu pintu, sertifikasi promotor, sertifikasi event and safety management, dll, alias banyak banget yang harus ditingkatkan).</p>
<p>Sekarang jam 5 pagi, ternyata tulisan ini jadi lebih panjang ketimbang yang saya rencanakan. Tulisan ini belum sempat saya baca dan sunting, jadi kalau ada salah-salah harap dimaafkan. Nanti kalau bangun akan coba saya baca ulang dan sunting seperlunya.</p>
<p>Ciao!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/">Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5476</post-id>	</item>
		<item>
		<title>EFG London Jazz Festival</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/efg-london-jazz-festival/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/efg-london-jazz-festival/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Nov 2019 23:56:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[30 Hari Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[London Jazz Festival]]></category>
		<category><![CDATA[Residensi Penulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/2019/11/efg-london-jazz-festival/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mencari festival musik di Inggris pada November itu adalah pekerjaan yang bisa dibilang terlambat. Karena kebanyakan festival musik di sini berlangsung pada musim panas, berawal sekitar bulan Mei, dan biasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/efg-london-jazz-festival/">EFG London Jazz Festival</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mencari festival musik di Inggris pada November itu adalah pekerjaan yang bisa dibilang terlambat. Karena kebanyakan festival musik di sini berlangsung pada musim panas, berawal sekitar bulan Mei, dan biasanya berakhir sekitar bulan Agustus.</p>
<p>Tapi apa sama sekali tak ada festival setelah itu? Ada, tapi tak banyak. Dua dari yang sedikit itu antara lain London Jazz Festival (LJF)dan London Roots Festival. Yang ingin saya ceritakan kali ini adalah festival pertama.</p>
<p>Tahun ini, LJF diadakan pada 15 November sampai 24 November. EFG adalah nama bank besar yang jadi sponsor utama sejak 2013, makanya jadi <em>title na</em>me. Mirip bank BNI yang jadi sponsor Java Jazz gitu lah.</p>
<p>Konsep festival ini tidak terpusat di satu venue, melainkan menyebar di beberapa lokasi. Dari gedung besar macam London Barbican (kapasitas 1.100-an kursi), Southbank Centre (kapasitas 900-an kursi), hingga di pub atau bar atau klub kecil seperti Pizza Express Jazz Club, Ronnie Scott&#8217;s, hingga Karamel, sebuah bar, galeri seni, dan kafe vegetarian di pinggiran London Utara.</p>
<p>Konsep festival dengan panggung menyebar ini sebenarnya bukan hal baru. Festival Camden, yang merupakan cikal bakal LJF, sudah melakukannya sejak era 1970-an.</p>
<p>Saya pertama kali dengar konsep seperti ini malah dari Wok the Rock, pendiri Yes No Wave, pada 2013 silam. Saat itu, kami ngobrol soal Lockstock Festival yang berakhir tragis. Obrolan itu kemudian melebar ke soal festival musik, dan keinginan Wok untuk bikin festival dengan venue yang tersebar di beberapa titik. Waktu itu, kawasan yang dianggap bisa menampung beberapa panggung adalah sekitar Malioboro hingga ke arah Prawirotaman.</p>
<p>Waktu itu saya tidak membayangkan konsep itu bisa terlaksana di Jakarta, hingga Archipelago Festival bikin konsep seperti itu. Dengan cerdik, penyelenggara mengokupansi kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dan bikin gigs di beberapa lokasi.</p>
<p>Balik lagi ke LJF. Tahun ini bintang tamu utamanya adalah Herbie Hancock dan Corinne Bailey Rae. Saya sempat ingin menonton Corinne, tapi tiketnya terjual habis cepat sekali. Hadah.</p>
<p>Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak penampilan gratis. Saya lantas menonton beberapa secara acak, yang jamnya sesuai saja. Oh ya, beberapa konser diadakan pas jam makan siang, terutama yang lokasinya ada di restoran.</p>
<p>Saya sempat menonton kuartet asal Jerman yang dipimpin pianis Julia Hulsmann di Southbank Centre. Suasanaya hangat. Beberapa orang usia lanjut menonton di bagian depan sembari memegang segelas wine.</p>
<p><img loading="lazy" class="size-large alignnone wp-image-4469" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211.jpg" width="1024" height="768" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211.jpg 3000w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-300x225.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-768x576.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-1024x768.jpg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-80x60.jpg 80w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-265x198.jpg 265w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-696x522.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-1068x801.jpg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1727072830235682419930211-560x420.jpg 560w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Saya juga sempat menonton O-Janna dan Hubby Horse, duo musisi asal Italia. Mereka main di Barbican Centre. Sama seperti di South Bank, suasanya selo. Bangku dijejer, penonton menyimak sambil menyesap wine atau menenggak bir. Musik duo ini agak campur aduk, ada bossa nova, jazz, bahkan techno. Saya gak begitu mudeng. Haha.</p>
<p>Tapi saya lebih gak mudeng lagi musik yang dimainkan Numb Mob, duo musisi elektronik, atau lebih tepatnya seniman audio visual. Jadi konsep konser mereka adalah perpaduan musik dan video. Mereka tidak main berdua, melainkan dibantu beberapa orang personel tambahan, termasuk yang main drum dan terompet.</p>
<p><img loading="lazy" class="size-large wp-image-4470 alignnone" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739.jpg" width="768" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739.jpg 3024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739-225x300.jpg 225w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739-768x1024.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739-696x928.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739-1068x1424.jpg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/img_20191117_1839314109311396858802739-315x420.jpg 315w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></p>
<p>Ketika mereka mulai bermain, diputarlah video di dua layar yang terletak di kanan-kiri panggung. Gambarnya berganti tiap beberapa detik. Ikan mati. Pabrik. Lapangan. Sutet. Matahari. Video itu panjangnya 24 menit, untuk menggambarkan siklus satu hari: dari matahari terbit sampai terbit lagi, alias 24 jam.</p>
<p>Saya bengong, juga ngantuk banget, mendengarkan komposisi elektronik selama 24 menit itu. Bingung juga gimana mau menikmatinya. Haha.</p>
<p>Lalu barusan, alias 20 November malam, saya pergi ke Karamel untuk menonton Noah Stoneman, pianis jazz muda. Dia juga rutin manggung dan bikin jam session di Karamel tiap hari Senin.</p>
<p>Usai kerja di British Library, saya pergi ke Utara London, alias ke kawasan Wood Green yang terletak di Zona 3. Kalau dari pusat kota, waktu tempuhnya cukup 30 menit. Tapi kalau dari kawasan saya tinggal di Willesden Green, butuh waktu satu jam.</p>
<p>Stoneman, mantan finalis BBC Young Musician of the Year, mengajak tiga orang kawannya: satu drummer, satu bassist, dan satu vokalis. Stoneman sempat mengenalkan personelnya, tapi karena logatnya seperti kumur-kumur, saya tak bisa menghapalnya. Yang saya ingat adalah, vokalisnya mirip Alexandra Daddario, hehe.</p>
<p>Mereka memainkan beberapa lagu jazz, lengkap pakai improvisasi dan solo. Yang saya tahu cuma &#8220;Autumn in New York&#8221; yang pernah disenandungkan Billie Holiday.</p>
<div style="width: 640px;" class="wp-video"><!--[if lt IE 9]><script>document.createElement('video');</script><![endif]-->
<video class="size-full" id="video-4472-1" width="640" height="360" preload="metadata" controls="controls"><source type="video/mp4" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28800305_021024_510.mp4?_=1" /><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28800305_021024_510.mp4">https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28800305_021024_510.mp4</a></video></div>
<div style="width: 640px;" class="wp-video"><video class="size-full" id="video-4472-2" width="640" height="360" preload="metadata" controls="controls"><source type="video/mp4" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28450917_172514_039.mp4?_=2" /><a href="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28450917_172514_039.mp4">https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28450917_172514_039.mp4</a></video></div>
<p>Konser intim ini berakhir setelah 50 menit. Setelah membayar cider kiwi dan salted caramel cheesecake yang enak sekali, saya bergegas pulang agar tak kemalaman.</p>
<p>Festival jazz ini masih akan berlangsung hingga 24 November. Harus jaga kesehatan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/efg-london-jazz-festival/">EFG London Jazz Festival</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/efg-london-jazz-festival/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		<enclosure url="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28800305_021024_510.mp4" length="4371379" type="video/mp4" />
<enclosure url="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2019/11/VID_28450917_172514_039.mp4" length="4344366" type="video/mp4" />

		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4472</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nostalgia, Kolaborasi, dan Keberagaman di Java Jazz 2015</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/nostalgia-kolaborasi-dan-keberagaman-di-java-jazz-2015/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/nostalgia-kolaborasi-dan-keberagaman-di-java-jazz-2015/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2015 05:02:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Deddy Dhukun]]></category>
		<category><![CDATA[Dian Pramana Poetra]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Matajiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Mus Mujiono]]></category>
		<category><![CDATA[Sheila On 7]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2567</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; &#8220;Wah, pasti kangen nih ya?&#8221; Mus Mujiono tersenyum lebar malam itu. Dengan kaos lengan panjang bergambar macan tutul di bagian tengah, ia dengan mantap menyandang gitar Les Paul warna [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/nostalgia-kolaborasi-dan-keberagaman-di-java-jazz-2015/">Nostalgia, Kolaborasi, dan Keberagaman di Java Jazz 2015</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Wah, pasti kangen nih ya?&#8221;</p>
<p>Mus Mujiono tersenyum lebar malam itu. Dengan kaos lengan panjang bergambar macan tutul di bagian tengah, ia dengan mantap menyandang gitar Les Paul warna hitam. Pria yang akrab dipanggil Nono ini tampak gembira melihat penonton aktif bernyanyi dan bertepuk tangan di setiap lagu yang ia mainkan. Mus, yang dijuluki George Benson-nya Indonesia, pun tak ingin mengecewakan penonton. Ia tampil maksimal demi penggemarnya. Kebanyakan penontonnya malam itu berusia 30-40an. Mereka yang melewati masa remaja dengan lagu-lagu Mus.</p>
<p>Malam itu Mus menunjukkan bahwa ia masih prima. Tetap mahir melakukan <em>scat singing</em>, mengikuti liukan melodi gitar. Jarinya pun masih lincah menari di atas fret gitar. Musisi kelahiran Surabaya ini memainkan beberapa lagu terkenalnya, seperti dua lagu ciptaan Oddie Agam,  &#8220;Arti Kehidupan&#8221; dan &#8220;Tanda-Tanda&#8221; yang dinyanyikan Mus pada 1988.</p>
<p>Nostalgia menjadi benang merah yang benderang pada pagelaran Java Jazz tahun ini. Selain Mus, penyanyi lain yang merasakan manisnya nostalgia adalah Dian Pramana Poetra.</p>
<p>Penyanyi kelahiran Medan ini tampil segar malam itu. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Klimis. Ia mengenakan jas berwarna cokelat, membungkus kemeja berwarna putih yang masih tampak pas di badannya, yang sama sekali tak tampak melebar sejak masa kejayaannya di era 80-an. Dian menyanyikan banyak lagu hitsnya. Mulai dari &#8220;Melayang&#8221;, yang merupakan kisah tentang penggunaan obat terlarang; &#8220;Oh Ya&#8221;, hingga &#8220;Keraguan&#8221;. Para penonton yang kebanyakan tumbuh besar di era 80-an dengan gembira ikut bernyanyi.</p>
<p>&#8220;Saya senang sekali masih banyak yang ingat lagu-lagu saya. Malam ini kita bernostalgia ya,&#8221; ajak Dian, yang langsung memainkan lagu &#8220;Bohong&#8221;.</p>
<p>Lagu ini adalah lagu yang dibawakan oleh grup K3S. Grup K3S terdiri atas Dian Pramana Poetra, Bagoes AA, dan Deddy Dhukun. Lagu &#8220;Bohong&#8221; merupakan lagu andalan dari album berjudul sama yang dirilis pada 1988. Lagu ini diaransemen oleh Addie MS. Karena lagu ini pernah sangat populer, tak heran kalau hampir semua penonton ikut bernyanyi.</p>
<p>Malam itu juga Dian mengajak Deddy Dhukun, lelaki yang menurutnya &#8220;&#8230;saya anggap sebagai kakak sendiri.&#8221; Deddy juga merupakan partner setia Dian dalam berkesenian. Mereka pernah membentuk duo 2D, yang namanya diambil dari inisial nama mereka berdua. Duo ini sempat mengeluarkan tiga album yang menjadi hits. <em>Keraguan</em> (1987), <em>Masih Ada</em> (1988), dan<em> Sebelum Aku Pergi</em> (1996).</p>
<p>Salah satu lagu mereka yang paling termasyhur adalah &#8220;Masih Ada&#8221;, yang juga dibawakan oleh mereka. Lagi-lagi penonton menyambutnya dengan koor di sepanjang lagu. Mumpung sedang nostalgia, dua lelaki ini sempat mengenang momen masa lalu. Seperti saat menceritakan tentang kisah di balik lagi “Aku Ini Punya Siapa”.</p>
<p>&#8220;Waktu itu saya dan Deddy naksir cewek yang sama. Akhirnya kita kencan bertiga di bioskop. Saya memegang tangan si cewek itu.  Pas saya lirik, eh Deddy juga megang tangan si cewek itu,&#8221; kata Dian sembari tertawa. Deddy yang berdiri di sebelahnya ikut terbahak.</p>
<p>Suasana nostalgia memang selalu menyenangkan. Nostalgia di Java Jazz pun tak hanya didominasi oleh generasi 80-an. Para generasi 90-an pun ikut merasakan manisnya nostalgia dengan Sheila on 7. Ribuan penonton hadir dan menonton penampilan band asal Yogyakarta ini.</p>
<p>&#8220;Kami sebenarnya merasa tersanjung karena bermain di sini. Di festival jazz, padahal kami bukan band jazz. Dan kalian masih setia menunggu kami sampai jam segini, ini penghargaan buat kami,&#8221; kata Duta.</p>
<p>Sheila on 7 memang bermain di penampilan terakhir pada hari pertama. Yakni dari pukul 00.30 hingga 01.45. Tapi toh itu tak menghalangi para Generasi X &#8211;sebutan untuk generasi 90-an&#8211; untuk berteriak dan bernyanyi bersama Sheila On 7. Mereka memainkan lagu-lagu hits mereka. Seperti &#8220;Sahabat Sejati&#8221;, &#8220;Dan&#8221;, hingga &#8220;Tahukah&#8221;.</p>
<p>Sesuai janji Presiden Direktur Java Festival Production Dewi Gontha, Java Jazz tahun ini akan menghadirkan lebih banyak kolaborasi. Sheila On 7 salah satunya. Mereka bermain bersama Ron King Big Band. Kolaborasi ini membawa efek yang lumayan mengejutkan. Lagu “Pejantan Tangguh”, misalnya, terasa lebih gagah dengan tiupan <em>brass section</em>.</p>
<p>Selain Sheila on 7 dan Ron King, masih ada banyak sekali kolaborasi. Seperti Chaka Kan yang berkolaborasi dengan Incognito. Lalu ada Glenn Freddy yang berkolaborasi dengan Marcell Siahaan, Sandy Sandhoro, dan Is Payung Teduh. Mereka menghadirkan penampilan bertajuk Tribute to Michael Jackson. Secara bergantian mereka menyanyikan lagu hits penyanyi yang berjuluk The King of Pop itu. Dari &#8220;Rock With You&#8221;, &#8220;She&#8217;s Out of My Life&#8221;, &#8220;One Day in Your Life&#8221;,&#8221;Billie Jean&#8221;, hingga &#8220;Heal the World&#8221;.</p>
<p>&#8220;Saya ingat jiwa kemanusiaan kalau bicara tentang Michael Jackson. Banyak sekali lagu Michael yang menginspirasi saya,&#8221; kata Glenn yang diikuti tepuk tangan meriah ribuan penonton yang duduk anteng di kursi.</p>
<p>Lalu ada penyanyi pendatang baru, Tulus, yang berkolaborasi dengan Maurice Brown, pemain terompet yang pernah mendapat Grammy Awards bersama Tedeschi Trucks Band.</p>
<p>Jangan lupakan pula, kolaborasi tiga penyanyi legendaris Indonesia: Ermy Kulit, Margie Segers, dan Rien Djamain. Penampilan ketiga diva yang mengusung nama The Ladies of Jazz ini sangat langka karena mereka lumayan jarang tampil di depan publik. Apalagi tampil bersama.</p>
<p>Konsep kolaborasi ini lumayan berhasil mengangkat festival Java Jazz tahun ini, mengingat tak ada nama bintang tamu yang terlalu spesial. Di samping konsep kolaborasi ini, Java Jazz masih menunjukkan kelasnya sebagai festival musik terbesar di Indonesia, dan salah satu yang terbesar di Asia. Tata suara yang dihadirkan kelas dunia. Panggung dan pencahayaannya pun patut dipuji. Tahun ini, ada 16 panggung yang dihadirkan dengan 470 musisi yang bermain.</p>
<p>Walau demikian, kritik tetap harus dilayangkan perkara ketepatan waktu. Di hari pertama, nyaris semua pertunjukkan dimulai tepat waktu. Namun entah kenapa, di hari kedua dan ketiga, sepertinya mulai kedodoran. Ada yang terlambat 10, 15 menit. Bahkan hingga 30 menit lebih. Di penampilan terakhir di hari terakhir, saya dan ratusan penonton menunggu lebih dari 30 menit sebelum akhirnya Mondo Gascaro naik panggung.</p>
<p>Selain itu, masih ada kesalahan tata suara, sebuah hal buruk yang seharusnya bisa dihindari oleh festival sekelas Java Jazz. Hal seperti ini menimpa Matajiwa saat memainkan lagu terakhir mereka, “Inti”. Saat seharusnya mencapai klimaks, suasana jadi canggung karena gitar Anda Perdana, gitaris dan vokalis Matajiwa, mendadak hilang suara. Untung grup yang terdiri dari Anda dan Reza Achman ini masih bisa berimprovisasi dengan mulus. Walau begitu, kesalahan minor seperti ini seharusnya bisa dihilangkan.</p>
<p>Kritik lain yang muncul sebenarnya merupakan kritik klise dan tak tepat sasaran: bintang tamu. Tahun ini Sheila On 7 yang jadi sasaran tembak kritik dan dipertanyakan. Banyak orang menanyakan di mana letak jazz-nya Sheila On 7?</p>
<p>Pertanyaan dan cibiran semacam ini sebenarnya selalu ada setiap tahun. Pernah menimpa JKT 48 dan Agnes Monica di tahun 2014, atau bahkan Slank di tahun 2009. Padahal,setiap tahun pula, panitia Java Jazz selalu memberikan pengertian bahwa Java Jazz tidak melulu mengundang musisi jazz.</p>
<p>&#8220;Ada beberapa pertimbangan, seperti <em>jazz name</em>, <em>legend names</em>, <em>popular names</em>, dan beberapa lagi,&#8221; ujar Eki Puradiredja, koordinator program Java Jazz, tahun lalu.</p>
<p>Hal yang perlu dipahami: festival musik adalah bagian dari industri musik. Dan industri musik adalah salah satu industri paling lentur di sepanjang sejarah peradaban. Sebagai industri pula, festival musik tentu tak bisa melulu &#8220;keras kepala&#8221; dan enggan menghadirkan bintang tamu lintas genre. Apalagi untuk sebuah pagelaran musik jazz, yang notabene belum terlalu memasyarakat di Indonesia, pun sangat <em>segmented</em>.</p>
<p>Seharusnya para pengkritik mengenai bintang tamu ini harus menengok ulang festival musik di belahan dunia lain. Festival Jazz Montreux, misalkan. Salah satu festival jazz terbesar di dunia ini pernah mengundang band heavy metal Led Zeppelin. Juga maestro psychedelic rock Frank Zappa. Di New Orleans, kota yang dianggap sebagai tempat lahirnya musik jazz, New Orlean Jazz Festival pun bisa dianggap sebagai festival lintas genre. Ada blues, gospel, hingga <em>world music</em> di setiap tahun penyelenggaraannya.</p>
<p>Saat ini, kebanyakan festival di dunia memang lebih merayakan keberagaman ketimbang merayakan murninya sebuah genre. Dan memang seperti itulah semestinya Java Jazz. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/nostalgia-kolaborasi-dan-keberagaman-di-java-jazz-2015/">Nostalgia, Kolaborasi, dan Keberagaman di Java Jazz 2015</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/nostalgia-kolaborasi-dan-keberagaman-di-java-jazz-2015/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2567</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
