<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Musik Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/musik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/musik/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Aug 2022 15:12:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Lulung dan John Myung</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/lulung-dan-john-myung/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/lulung-dan-john-myung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2022 14:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Dream Theater]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=4713</guid>

					<description><![CDATA[<p>Waktu SMA, aku punya sahabat perempuan. Namanya Ayu Luhing, tapi kami kawan-kawannya biasa memanggilnya Lulung. Aku dan Lulung kenal sejak kami berdua masuk kelas yang sama, 1.2. Ada beberapa hal [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/lulung-dan-john-myung/">Lulung dan John Myung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Waktu SMA, aku punya sahabat perempuan. Namanya Ayu Luhing, tapi kami kawan-kawannya biasa memanggilnya Lulung. </p>



<p>Aku dan Lulung kenal sejak kami berdua masuk kelas yang sama, 1.2. Ada beberapa hal yang bikin kami nyambung dan akhirnya jadi kawan akrab. Kami suka guyon slapstick, kadang sedikit mesum, dan Lulung relatif santai serta bisa membaur di antara teman laki-lakinya. </p>



<p>Suatu hari aku main ke rumah Lulung untuk kali pertama. Rumahnya bergaya jengki, letaknya sepelemparan batu saja dari SD Kepatihan I. Ini rumah keluarga besarnya. Di sana, Lulung tinggal bareng kakak lelakinya, Bayu, dan neneknya. Ayah ibu Lulung merantau di Kalimantan. </p>



<p>Satu lagi yang kemudian membuat kami akrab. Musik. </p>



<p>Lulung dan Mas Bayu suka musik. Mas Bayu punya dua gitar: satu gitar akustik, dan satu gitar elektrik. </p>



<p>Gitar akustik mereka mereknya Yamaha, warna hitam. Saat itu, aku yang biasanya cuma main gitar KW, terperangah mendengar bunyi <em>criiing</em> dari gitar Yamaha itu. Saat itu, gitar milik Mas Bayu jadi yang paling enak di kuping. Dasar gitar mahal, memainkannya pun enak. Empuk. Tak bikin jari lekas memerah dan meninggalkan bekas menggaris. </p>



<p>Aku sempat berpikir Mas Bayu adalah gitaris suka-suka. Artinya tak jago-jago amat. Cuma genjrang-genjreng di waktu luang. Di mataku, Mas Bayu tampak seperti <em>nerd</em> biasa. Tak banyak omong, agak malas bersosialisasi, dan lebih senang mengurung diri di kamar yang ada komputer, seperangkat sound, ampli, dan gitar listrik yang digantung di tembok. </p>



<p>Oh, betapa anggapan saya salah besar. </p>



<p>Suatu sore Mas Bayu memainkan lagu rock. Suaranya terdengar hingga depan rumah. Aku tak tahu itu musik siapa. </p>



<p>&#8220;Itu band favoritnya Mas Bayu. Dream Theater,&#8221; kata Lulung. </p>



<p>Musik apaan ini. Njlimet. Vokalisnya harus menunggu lama hanya untuk membuka mulut. Lalu semua sibuk unjuk skill. Bikin pusing. </p>



<p>Ketika aku mau mengambil air minum di dapur, dari sisi pintu yang terbuka, aku bisa melihat jelas Mas Bayu duduk di kursinya, memangku gitarnya &#8211;aku benar-benar lupa merek dan warnanya. Dia mengulik lagu. Dari Lulung aku tahu lagu itu judulnya &#8220;Metropolis&#8221;.</p>



<p>Di atas fret, jemari Mas Bayu berpindah seperti kilat. Saya bengong. Ini toh yang namanya <em>shredding</em>. Aku baru usia 14, dan tak pernah melihat gitaris <em>ngebut</em> di depan mataku secara langsung. </p>



<p>Belakangan aku baru tahu kalau Mas Bayu dan bandnya sering ikut festival musik. Dan ia kerap dapat penghargaan The Best Guitarist. Seorang kakak kelas kami yang agak belagu karena bisa main gitar lebih jago ketimbang kawan-kawan seangkatannya, pernah menemui Lulung ketika kami lagi di kantin. </p>



<p>&#8220;Kamu adiknya Bayu, toh. Masmu itu jago banget. Salamin, yo!&#8221;</p>



<p>Saat itu aku memang yakin bahwa Mas Bayu memang jago hingga kemampuannya lintas sekolah. </p>



<p>Beda dengan Mas Bayu yang mengidolakan John Petrucci, Lulung menggilai John Myung. Selain jago main bass, Myung, menurut Lulung, adalah epitome pria keren. Lulung mungkin merasa pria kalem dan tak banyak omong cocok untuk dirinya yang ceriwis dan banyak tingkah. </p>



<p>&#8220;Dia <em>cool</em> banget bro, gak banyak gaya. Gak pernah atraksi, tapi keren pol!&#8221; pujinya. </p>



<p>Biasanya aku langsung mengadu Myung dengan bassist favoritku: Duff McKagan. Dan biasanya perdebatan kami akan panjang, sampai Nova, kakak angkatan tak naik kelas yang akhirnya sekelas di 1.2 dan kelak mau-maunya ngeband bareng kami, memberi hak vetonya. </p>



<p>&#8220;Tetep Duff yang paling keren,&#8221; kata Nova yang sering menulis namanya sebagai Nova McKagan. </p>



<p>Setelah itu Lulung akan ngomel. Tak terima. Aku dan Nova cuma bisa ngekek, ogah ambil pusing. </p>



<p>Aku merasakan apa yang dibilang Lulung itu 19 tahun kemudian. </p>



<p>Setelah nyaris dua dekade, ada banyak yang berubah dari hidup kami. Lulung &#8220;menghilang&#8221;, dalam artian <em>lost contact</em> sejak kami lulus SMA. Kami sempat bertemu lagi via Facebook. Saling bertukar kabar, dan ternyata dia sudah menikah, punya satu anak, dan tinggal di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Tapi setelah itu tak ada obrolan lagi. Dia tak lagi aktif main medsos, dan aku kehilangan jejaknya. </p>



<p>Kenangan soal Lulung dan Mas Bayu ikut mengiringi ketika aku akhirnya perdana menonton Dream Theater di Stadion Manahan, Solo. Ini tugas dari kantor, dan kebetulan aku serta empat wartawan lain dapat akses untuk memotret band yang dibentuk di Boston ini di depan panggung. </p>



<p>&#8220;15 menit saja. Setelah itu harus balik ke tenda wartawan, ya,&#8221; kata Mas Chandra, yang jadi koordinator wartawan, sembari menempel stiker khusus di ID kami. </p>



<p>Di jadwal, konser dimulai pukul delapan malam. Sama seperti musiknya yang seperti ilmu pasti, nyaris tak ada ruang buat kesalahan dan improvisasi berlebih, begitu pula jadwal mereka. Presisi. </p>



<p>Petrucci naik panggung duluan. Jenggotnya berkibar, macam Merlin versi jenggot warna hitam. Lalu diikuti Mangini, Rudess, dan Myung. Setelah mereka main beberapa menit, baru LaBrie sang vokalis naik dengan menenteng mikrofon dan tiang mik dengan ornamen tengkorak. </p>



<p>Saya memilih ke sebelah kiri panggung. Itu posko milik Myung. Benar seperti kata Lulung, Myung tak banyak bergerak. Dia seperti punya dunia sendiri yang tak bisa dimasuki oleh orang lain, bahkan kawan satu bandnya. </p>



<p>Ia banyak merunduk. Membiarkan rambut panjang lurusnya tergerai menutupi wajah. Perhatian hanya dipusatkan ke bass enam senarnya. Lain tidak. Sepanjang aku memperhatikannya, Myung bahkan tak menatap penonton. Seolah tak peduli ada 10 ribu pasang mata yang menyaksikannya. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img width="1024" height="683" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-4711" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-1024x683.jpg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-300x200.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-768x512.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-1536x1024.jpg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-2048x1365.jpg 2048w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-696x464.jpg 696w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-1068x712.jpg 1068w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/08/DSC_2896-630x420.jpg 630w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kadang-kadang ia pergi ke tengah panggung. Bertemu dengan Petrucci, lalu ngobrol via alat musik masing-masing. Selebihnya, ya balik ke posisinya. </p>



<p>Tepukan di bahu kanan bikin saya keluar dari lamunan. </p>



<p>&#8220;Sudah 15 menit,&#8221; kata salah satu petugas media. &#8220;Ayo mundur, Mas.&#8221;</p>



<p>Aku mengangguk, melihat Myung sekali lagi, berjanji akan mencari kontak Lulung, lalu mengabarinya bahwa aku sudah menonton idolanya, dan setuju dengan perkatannya pada 2003 silam, bahwa Myung memang <em>cool</em> dan keren. </p>



<p>Tapi tentu saja, Duff McKagan lebih keren. </p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/lulung-dan-john-myung/">Lulung dan John Myung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/lulung-dan-john-myung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4713</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Watermelon Sugar&#8230; Ugh!</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/watermelon-sugar-ugh/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/watermelon-sugar-ugh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2020 23:04:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=4533</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oh, betapa algoritma ini kurang ajar. Hari itu tertanggal 23 Maret 2020, dan YouTube menyuguhkan rekomendasi yang sekonyong-konyong: video Harry Styles manggung di NPR Music Tiny Desk. Sebenarnya rekomendasi itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/watermelon-sugar-ugh/">Watermelon Sugar&#8230; Ugh!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Oh, betapa algoritma ini kurang ajar. Hari itu tertanggal 23 Maret 2020, dan YouTube menyuguhkan rekomendasi yang sekonyong-konyong: video Harry Styles manggung di <a href="https://www.youtube.com/watch?v=jIIuzB11dsA">NPR Music Tiny Desk</a>.</p>



<p>Sebenarnya rekomendasi itu tak aneh-aneh banget, mengingat saya nyaris rutin menyimak acara konser kecil nan intim itu. Beberapa favorit saya adalah <a href="https://www.youtube.com/watch?v=hxsJvKYyVyg">ini</a> (siapa yang tidak?)</p>



<p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=NGsgb8m0Yns">ini</a> (bayangkan minum es limun di siang yang panas),</p>



<p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=bdneye4pzMw">ini</a> (macam bersantai di pantai dengan matahari terik Karibia),</p>



<p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=FoPoI1IwcTw">ini</a> (membuat sederet kenangan masa kecil berjejalan di kepala),</p>



<p><a href="https://www.youtube.com/watch?v=SjFo6l4c-oc">ini</a> (Ketika kamu mencari blues di sebuah bar kecil di Mississippi, ini yang akan kamu dapat),</p>



<p>dan juga <a href="https://www.youtube.com/watch?v=XfzpYcwiUrA">ini</a> (suatu sore pintu rumahmu diketuk oleh seorang diva dan dia minta dibuatkan secangkir teh Earl Grey dengan dua sendok makan gula, lalu dengan senang hati menyanyikan ode-ode patah hati sebagai bayaran atas teh enak itu).</p>



<p>Tapi&#8230; Harry Styles? Saya bahkan tak pernah mendengarkan lagunya, satu kali pun.</p>



<p>Masalahnya adalah: sekira tahun lalu, saya iseng berjanji pada diri sendiri untuk lebih berani mengikuti intuisi, termasuk perkara algoritma. Sebelumnya saya nyaris tak pernah ikut saran kecerdasan buatan itu, memilih  musik yang nempel dengan nyaman di kuping dan otak sejak 20 tahunan terakhir. Alias selera saya mentok di sana-sana saja.</p>



<p>Iya iya, kebiasaan itu tak baik. Karenanya saya ingin lebih berani mengikuti saran algoritma, terutama di babagan musik. Kalau tidak suka, tinggal matikan. Kalau suka, ya anggap saja bonus dan variasi buat kuping.</p>



<p>Maka dengan alasan itu, saya pasang headphone dan langsung klik video Harry. Sepertinya itu adalah salah satu keputusan penting yang saya ambil di tahun 2020.  </p>



<p>Tampil dengan format full band &#8211;tiga gitaris (satu merangkap pianis), satu bassist, dan satu drummer&#8211; Harry tampak seperti pria yang tersesat dari jagat musik 70-an. Dia beserta rombongannya terdengar seperti David Crosby dari pedesaan Worcestershire. Saya terkesiap. </p>



<p>Yang lebih bikin saya senang &#8211;selain kesadarannya untuk memilih sweater biru yang lebih buruk dari Cosby sweater!&#8211; adalah bagaimana Harry tampil organik ketimbang versi albumnya. Musik yang mereka mainkan hari itu hanya hadir dari alat musik yang dimainkan full oleh tangan, bukan musik dari mesin dan perangkat lunak. </p>



<p>Saya lupa siapa yang mengatakan, kalau tidak salah Paul Stanley dari Kiss, bahwa untuk mengetahui kualitas sebenarnya dari seorang musisi, cukup kasih dia gitar akustik. Biarkan dia bermain, dan kamu bisa melihat kualitas aslinya.</p>



<p>Salah satu contoh yang berhasil membuat saya yakin opini itu valid adalah penampilan Nirvana di MTV Unplugged. Meskipun saya tidak terlalu suka Nirvana, tapi busettt, penampilan mereka bikin saya paham dan maklum kenapa dunia memalingkan muka dari gemerlap Los Angeles dan memilih melongok ke Seattle yang muram dan dingin. </p>



<p>Momen seperti itu terjadi lagi ketika saya menonton Harry sejak YouTube merekomendasikannya lima hari lalu. Harry dan kawan-kawan tampil seolah kedap dari bunyi-bunyian elektronik yang sering bikin kesal, dan justru itu yang menampilkan kekuatan terbesar alumnus X Factor ini.</p>



<p>Cukup empat lagu, mereka berhasil membuat saya membuka Spotify dan mengetikkan Harry Styles di kolom pencarian (dan membuat saya tergerak menulis postingan pertama di 2020 yang blangsak ini). </p>



<p>Kemungkinan besar bulan ini, bulan depan, entah sampai kapan, dua album Harry akan menemani hari-hari saya di masa kerja dari rumah ini. Oya, lagu &#8220;Watermelon Sugar&#8221; &#8211;terutama yang versi NPR&#8211; itu rasa-rasanya mengandung opium dosis tinggi.</p>



<p>Jancuk koen, Har!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/watermelon-sugar-ugh/">Watermelon Sugar&#8230; Ugh!</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/watermelon-sugar-ugh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4533</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Musik Untuk Rumah Kopi</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/musik-untuk-rumah-kopi/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/musik-untuk-rumah-kopi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2015 05:24:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Continuum]]></category>
		<category><![CDATA[Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[John Mayer]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Starbucks]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2563</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apa yang paling penting bagi sebuah rumah kopi? Kualitas kopi, tentu saja. Kalau menyebut diri sebagai rumah kopi tapi tak menyediakan kopi yang baik, ya sama saja bohong. Kebersihan? Tentu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/musik-untuk-rumah-kopi/">Musik Untuk Rumah Kopi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang paling penting bagi sebuah rumah kopi? Kualitas kopi, tentu saja. Kalau menyebut diri sebagai rumah kopi tapi tak menyediakan kopi yang baik, ya sama saja bohong. Kebersihan? Tentu saja. Tak ada tamu yang betah di rumah kopi yang kotor. Furniture yang nyaman? Itu juga termasuk. Tamu bakal merasa makin betah kalau tempat duduknya nyaman.</p>
<p>Tapi di luar itu semua, ada satu lagi faktor penting yang harus dipunyai oleh warung kopi, dan juga diketahui bagi para pemilik atau pengelola rumah kopi: musik.</p>
<p>Setidaknya itu yang ditulis dalam penelitian Doktor Lisa Waxman dari Universitas Negeri Florida. Ia menyusun penelitian yang sangat menarik. Judulnya, <em>The Coffee Shop: Social and Physical Factor Influencing Place Attachment</em>. Ia meneliti faktor apa saja yang membuat pengunjung merasa betah di warung kopi.</p>
<p>Hasilnya lumayan mengejutkan, walau sudah bisa ditebak secara kasar. Lima besar faktornya adalah hal yang memang harus wajib dipunyai oleh semua rumah kopi: kebersihan; aroma (dan kualitas kopi); pencahayaan yang cukup; furniture yang nyaman (interior); dan pemandangan di luar rumah kopi alias posisi rumah kopi itu sendiri.</p>
<p>Soal interior kafe, saking pentingnya, sampai ada istilah <em>coffee house</em>. Rumah kopi. Yakni tempat ngopi yang diatur sedemikian rupa hingga pengunjung merasa nyaman. Ibarat ngopi di rumah sendiri. Salah satu pelopor <em>coffee house</em> adalah Starbucks.</p>
<p>Nah, di posisi keenam, bukan koneksi internet nirkabel atau pelayan cantik &#8211;seperti yang pernah dialami Puthut EA yang naksir salah satu pelayan cantik di sebuah kafe&#8211; yang wajib dipunyai sebuah rumah kopi. Melainkan pengetahuan tentang musik yang diputar. Ini sangat berpengaruh dan bisa menentukan rasa nyaman seorang pengunjung.</p>
<p>Saya memang tak punya rumah kopi. Tapi berdasar pengalaman saya menjadi pengunjung rumah kopi, pemutaran musik yang salah akan membuat saya, dan mungkin banyak pengunjung lain, merasa terganggu. Ujung-ujungnya tak betah, pulang, dan memutuskan tak akan pernah mampir lagi.</p>
<p>Jadi menurut saya, selain memiliki pengetahuan tentang kopi, seorang pemilik atau pengelola rumah kopi seharusnya memiliki pengetahuan yang memadai tentang musik apa yang seharusnya diputar.</p>
<p>Sekarang sudah banyak sekali rumah kopi di Indonesia. Di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, hingga Jember. Mereka punya kesamaan: menyediakan kopi yang baik, nuansa yang tenang, furniture yang nyaman, dan musik yang enak didengar.</p>
<p>Mengenai pentingnya musik dalam rumah kopi, sampai muncul lema coffee house music. Ini sebenarnya bukan genre musik baru. Melainkan pengelompokan musik-musik yang cocok diputar di rumah kopi. Ini karena musik memang berperan penting dalam kepuasan pelanggan di rumah kopi.</p>
<p>Bahkan seorang bernama Ng Tsu Jin melakukan penelitian berjudul, T<em>he Correlation between the Genre of Background Music and the Customer Experience of Coffee Drinking in a Cafe</em>. Kalau diterjemahkan: Hubungan Antara Genre Musik dan Pengalaman Konsumen Mengenai Minum Kopi di Kafe.</p>
<p>Tsu Jin melakukan penelitian dengan serius. Ia memakai literatur yang lumayan banyak. Seperti memakai teori pengaruh musik terhadap persepsi dan perilaku konsumen. Ia juga memakai dalil <em>Musical Fit</em> dalam dunia pemasaran. Yakni musik haruslah sesuai dengan konteks waktu dan tempat diputar, untuk memperbesar pengaruh pada konsumen. Tsu Jin membatasi penelitiannya pada rumah kopi independen. Bukan rumah kopi waralaba yang sudah jadi besar.</p>
<p>Hipotesa Tsu Jin menarik, walau sebenarnya tak baru-baru amat. Yakni, memutarkan genre musik yang tepat, bisa mempengaruhi kepuasan konsumen dalam sebuah kafe, dan bisa meningkatkan penjualan. Tsu Jin menulis bahwa jazz dan indie pop adalah dua genre musik paling pas diputar di rumah kopi, terutama rumah kopi independen.</p>
<p>Ini karena rumah kopi independen punya keunggulan ketimbang rumah kopi waralaba. Rumah kopi independen biasanya menawarkan suasana yang lebih hangat, ramah, bersahabat, dan lebih santai. Ini cocok dengan musik jazz dan indie pop. Ini juga ada penelitiannya. Coba cari penelitian berjudul <em>Personality of Jazz Music Fans</em>.</p>
<p>Sementara itu, situs Noise Addicts pernah menulis artikel berjudul <em>Coffee House As A Musical Genre</em>. Situs ini menuliskan, bahwa dewasa ini kecenderungan ngopi bersama teman-teman atau kolega semakin meningkat. Karena itu menyusun musik yang bisa disukai oleh semua kalangan itu penting.</p>
<p>&#8220;Intinya, musik <em>coffee house</em> adalah lebih pada kombinasi dari semua genre yang bisa dimainkan di rumah kopi.&#8221;</p>
<p>Genre-nya tentu saja bisa beragam. Dari jazz, soft rock, indie pop, blues, atau alternatif. Tapi yang patut dingat: lagunya harus bisa membuat pengunjung merasa rileks; tidak menganggu obrolan atau pekerjaan; tapi sekaligus tidak terlalu pelan dan mendayu sehingga bikin pengunjung mengantuk.</p>
<p>Situs ini juga merilis 10 musisi yang musiknya paling sering diputar di rumah kopi. Silahkan dicari dan didengar. Siapa tahu bisa menjadi referensi tambahan bagi kamu.</p>
<p>1. <strong>Ben Harper</strong>. Musisi Amerika Serikat kelahiran California. Ia memainkan musik rock alternatif, folk, juga blues. Sebagai putra asli California, ia memainkan musik yang punya tiga ciri California: pantai, matahari, dan selancar.</p>
<p>2. <strong>Joshua Radin</strong>. Musisi Amerika juga. Musiknya kebanyakan rock akustik. Lagu-lagunya banyak dipakai sebagai musik latar film-film romantis.</p>
<p>3. <strong>Death Cab for Cutie</strong>. Musiknya juga enak.</p>
<p>4. <strong>Coldplay</strong>. Musik pop, sudah sangat terkenal. Bisa memberikan perasaan nyaman. Kecuali kalau kamu mendengarkannya ke Arman Dhani, yang punya kenangan buruk dengan lagu mereka.</p>
<p>5. <strong>R.E.M</strong>. Band alternatif yang sudah aktif sejak dekade 80-an. Salah satu lagunya yang paling terkenal adalah &#8220;Losing My Religion&#8221; dan &#8220;Everybody Hurts&#8221;.</p>
<p>6. <strong>Crowded House</strong>. Band pop asal Australia. Tipikal band yang mudah sekali disukai lagu-lagunya. Salah satu lagu paling terkenalnya adalah &#8220;Don&#8217;t Dream Its Over&#8221;. Lagu itu pernah dinyanyikan ulang oleh Sixpence None the Richer.</p>
<p>7. <strong>Lenka</strong>. Ini penyanyi pop yang terkenal sejak beberapa tahun belakangan. Pop-nya asyik. Tidak terlalu pasaran.</p>
<p>8. <strong>John Mayer</strong>. Ini salah satu musisi terbaik setelah era millenium. Suaranya enak. Musiknya melodius. Ia memainkan musik pop dan blues sama baiknya. Secara personal, saya menyarankan album <em>Continuum</em>. Album itu merupakan pencapaian terbaik beliau.</p>
<p>9. <strong>KT Tunstall</strong>. Musisi asal Skotlandia. Salah satu musisi yang kreatif sekaligus paling selo. Ia memainkan semua instrumen di albumnya. Ia memainkan musik pop, folk, dan alternatif.</p>
<p>10. <strong>Snow Patrol</strong>. Band alternatif dari dekade 90-an. Lumayan lah buat diputar di kafe.</p>
<p>Dari artis-artis itu, kamu mungkin bisa menarik benang merah, seperti apa musik yang enak diputar di rumah kopi. Tentu itu bukan daftar yang paten. Musik itu sama seperti kopi, kok. Sangat lentur, bisa dinikmati dengan berbagai cara. Mungkin lain kali saya akan menyusun playlist versi saya sendiri dan akan membagikannya di sini. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/musik-untuk-rumah-kopi/">Musik Untuk Rumah Kopi</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/musik-untuk-rumah-kopi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2563</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dua Toko Kaset Terakhir di Kota Jember</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2015 08:04:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blur]]></category>
		<category><![CDATA[Cangkrukan]]></category>
		<category><![CDATA[Dewa 19]]></category>
		<category><![CDATA[Is This It]]></category>
		<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Kaset]]></category>
		<category><![CDATA[Melody]]></category>
		<category><![CDATA[Muse]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Pandawa Lima]]></category>
		<category><![CDATA[Pinokio]]></category>
		<category><![CDATA[Poison]]></category>
		<category><![CDATA[Radiohead]]></category>
		<category><![CDATA[Senam Kesehatan Jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[The Darkness]]></category>
		<category><![CDATA[The Strokes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1048</guid>

					<description><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu, saat pulang ke Jember, saya menyempatkan mampir ke toko kaset Melody dan Metal. Itu adalah dua toko kaset yang tersisa di Jember. Saat masa jaya kaset, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/">Dua Toko Kaset Terakhir di Kota Jember</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr">
<div>
<p>Beberapa hari lalu, saat pulang ke Jember, saya menyempatkan mampir ke toko kaset Melody dan Metal. Itu adalah dua toko kaset yang tersisa di Jember. Saat masa jaya kaset, ada banyak sekali toko kaset di Jember. Tapi yang paling terkenal ada tiga: Pinokio, Metal, dan Melody.Uniknya, ketiga toko kaset ini berada dalam ruas jalan yang sama.</p>
<p>Saya pertama mampir ke Melody. Toko ini pernah jadi toko kaset terbesar di Jember. Berdiri sejak 1986, toko ini berdiri dengan modal yang besar. Karena itu bisa sangat ekspansif.</p>
<p>Semasa masih laris, Melody sampai punya tiga cabang. Salah satunya ada di Johar Plaza Jember, atau orang Jember menyebutnya sebagai Matahari.</p>
<p>Saya membayangkan koleksi kaset Melody masih banyak. Sewaktu terakhir berkunjung ke sini tahun 2010-an, koleksi kasetnya masih banyak. Sayang, harganya masih tetap normal. Saya sebagai mahasiswa tak bisa belanja sesuka hati.</p>
<p>Sebelum datang ke Melody, saya sudah membayangkan kaset-kaset yang akan saya borong. Warrant. Bon Jovi. Cinderella. Steelheart. The Black Crowes. Wah, saya gembira.</p>
<p>Tapi kecewa segera datang karena ternyata Melody sudah tak jual kaset lagi.</p>
</div>
<div>&#8220;Itu tinggal yang ada di sana,&#8221; ujar Cik Linda, pemilik Melody, sembari menunjuk rak di ujung toko.</div>
<div>
<p>Buyar semua bayangan kaset yang akan saya beli. Dengan langkah gontai saya berjalan ke pojokan. Melewati beberapa tape deck dan headsetnya. Dulu, ada banyak orang duduk di kursi dan mencoba kaset sembari mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>Koleksi kaset Melody tinggal beberapa ratus. Jauh menurun ketimbang dulu yang mencapai ribuan kaset.</p>
<p>&#8220;Dulu karena saya distributor Billboard, saya setiap tahun diundang ke acara penghargaan musik di Jakarta,&#8221; kata Cik Linda.</p>
<p>Saya melongok kaset yang tersisa. Ada Mike Tramp, albumnya <em>Remembering White Lion</em>. Sama sekali tak menarik. Ada pula kaset<em> Greatest Hits Blondie</em>, saya sudah punya, mengambil dari koleksi kaset Mas Taufiq beberapa tahun silam.</p>
<p>Sempat mau mengambil kaset Tracy Chapman, mata saya terbentur oleh kaset berwarna biru pucat, dengan garis kuning di pinggir kiri.</p>
<p><em>To Records Only Water for Ten Days by John Frusciante.</em></p>
<p>Saya akhirnya mengambil kaset ini. Saya suka John Frusciante, tentu karena karya-karyanya bersama Red Hot Chili Peppers. Beberapa kali saya mendengarkan proyek solonya. Cukup menyenangkan didengar, walau tak sampai meninggalkan kesan mendalam.</p>
<p>Di kasir, saya sempat ngobrol dengan Cik Linda yang turun tangan langsung. Cik Linda, yang merupakan generasi kedua pemilik toko, adalah orang yang ramah. Ia selalu menyiapkan air mineral gelas dan sekantung permen untuk para pembeli.</p>
<p>&#8220;Sekarang omzet jauh menurun. Sekarang tinggal 25 persen saja,&#8221; kata Cik Linda.</p>
<p>Saya membayangkan di masa kejayaan Melody. Andai toko ini beromzet Rp 10 juta per bulan, sekarang hanya mendapat Rp 2,5 juta per bulan. Berat sekali memang. Ini berpengaruh besar pada jumlah karyawan yang ia punya.</p>
<p>&#8220;Dulu ada lima karyawanku, sekarang cuma dua,&#8221; katanya.</p>
<p>Sekarang Melody banyak menjual CD dan VCD original. Walau koleksinya juga tak terlalu mengagumkan. Pembelinya adalah orang-orang bermobil yang masih setia memutar cakram di dalam mobil. Selain itu, kaset-kaset pengajian dan burung berkicau juga masih lumayan laris. Malah menempati rak paling depan di dalam toko.</p>
<p>&#8220;Sudah lama mau ganti bisnis, tapi masih terkendala modal,&#8221; kata Cik Linda.</p>
<p>Saya sempat menanyakan apakah ia menjual Walkman, ternyata ia sudah tak ada. Dulu Walkman adalah salah satu barang yang laris manis di Melody.</p>
<p>&#8220;Coba kamu ke Metal, siapa tahu ada,&#8221; ujar Cik Linda.</p>
<p>Saya menyebrang jalan. Iya, Melody dan Metal memang cuma dipisah seruas jalan saja. Benar-benar berhadapan. Tapi setahu saya mereka tak pernah saling sikut.</p>
<p>Metal dimiliki oleh satu keluarga besar Tionghoa. Selain kaset, mereka juga membuka usaha fotografi dengan nama yang sama. Usaha fotografinya cenderung tahan lama. Sampai sekarang masih ada dan tetap besar. Tokonya pas di samping Melody.</p>
</div>
<div></div>
<div><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/02/B80fJAYCAAAshqF.jpg"><img loading="lazy" class=" aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2015/02/B80fJAYCAAAshqF.jpg" alt="" width="400" height="300" border="0" /></a></div>
<div></div>
<div>
<p> Metal sudah banyak berubah. Dulu toko ini mentereng dengan cat warna putih yang cemerlang, dan papan nama besar berlampu neon. Sekarang, cat pudar dan lampu neon sudah lama mati. Temboknya pun dimamah lumut.Om Willy, pemiliknya, adalah satu-satunya karyawan yang tersisa. Ia menyilahkan saya melihat kaset-kaset yang tersisa.&#8221;Masuk ae, lihat-lihat,&#8221; ajaknya sembari membuka pintu.</p>
<p>Koleksi kaset Metal sekarang jauh lebih sedikit ketimbang Melody. Dulu, Metal sempat berjaya. Maklum, toko kaset ini pecahan dari toko kaset yang lebih lama, Pinokio. Toko kaset itu sudah ada sejak tahun 70-an. Bisa dibilang toko kaset pertama di Jember. Nama awalnya adalah Maranz. Entah kenapa diubah jadi Pinokio.</p>
<p>Pinokio merupakan tempat bersejarah bagi saya. Masih lekat dalam ingatan, sepulang dari Johar Plaza, kami sekeluarga berjalan kaki. Saya melihat poster promo album <em>Pandawa Lima</em> milik Dewa 19. Beberapa malam sebelumnya, saya melihat video klip &#8220;Kirana&#8221; yang tampak aneh, sekaligus mengagumkan. Musiknya enak.</p>
<p>Saya meminta kaset itu, dan ayah dengan senang hati mengabulkannya. Jadilah Pandawa Lima sebagai kaset pertama yang saya punya.</p>
<p>Tapi Pinokio lantas pecah kongsi. Om Willy akhirnya mendirikan toko kaset baru, Metal pada tahun 1983. Pinokio sendiri lebih dulu menemui ajal. Ia bangkrut sekitar 3-4 tahun lalu.</p>
<p>Saya menengok koleksi kaset di rak Metal. Tak ada yang istimewa. Ada beberapa album Blur, Muse, Radiohead, tapi tak saya ambil karena bukan favorit saya. Plus, saya sudah punya beberapa album mereka. Hasil merampok mas Taufiq. Hehe.</p>
<p>Lalu ada pula kaset-kaset Senam Kesehatan Jasmani. Saya sempat tergoda membelinya karena pernah membaca tulisan mas Budi Warsito soal kaset senam ini. Dalam tulisan itu, seakan-akan lagu senam zaman Orde Baru ini begitu menghipnotis dan membuat kita otomatis bersemangat.</p>
<p>Tapi saya ternyata tak sehipster mas Budi, jadinya batal membeli kaset ajaib ini.</p>
<p>Pilihan akhirnya diputuskan sewaktu melihat kaset <em>Native Tongue</em> milik Poison. Ini album keren. Kebetulan saya belum punya kaset ini. Langsung saja saya sambar.</p>
<p>Saat mau membayar, lha kok ndilalah saya lihat album <em>Permission to Land</em>-nya The Darkness. Ini album yang menyelamatkan rock n roll di awal tahun 2000. Iya, album ini. Bukan album <em>Is This It</em> milik The Strokes yang biasa saja itu.</p>
<p>Akhirnya saya beli dua album itu. Harganya masih harga lama. Native Tongue dihargai Rp 19 ribu, Permission to Land Rp 23 ribu. Lebih murah ketimbang harga kaset di Melody.</p>
<p>Selepas membayar, saya sempat menengok bagian dalam Metal. Bagian kanan toko, yang dulu dipenuhi kaset lintas genre, kini dipenuhi oleh pigura foto dan kardus-kardus berisi pigura dan album foto.</p>
<p>&#8220;Ya sekarang lebih banyak bantu-bantu kakak di studio foto sih,&#8221; kata Om Willy.</p>
<p>Saya tak pernah membayangkan bisa menjadi saksi surutnya sebuah kebudayaan, sebuah cara menikmati musik. Iya surut, bukan mati total. Di Jakarta, kini sedang demam mendengarkan kaset kembali. Tata niaga kaset bekas kembali menggeliat. Beberapa band bawah tanah juga mulai kembali merilis album dalam bentuk kaset. Walau dalam skala kecil.</p>
<p>Tapi di Jember, kota kecil berjarak ratusan kilometer dari Jakarta, mendengarkan musik melalui kaset sepertinya sudah akan menemui ujungnya. Gaung bangkitnya kaset di Jakarta, seperti tak terdengar di sini.</p>
<p>Melody dan Metal kini seperti sedang menghela satu-dua napas terakhir. Sebelum akhirnya menunduk kalah dan menutup tirai. []</p>
</div>
<div></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/">Dua Toko Kaset Terakhir di Kota Jember</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1048</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
