<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Rani Basyir Archives - Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/tag/rani-basyir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/tag/rani-basyir/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Nov 2019 22:32:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Sejauh Las Vegas Memandang</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/sejauh-las-vegas-memandang/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/sejauh-las-vegas-memandang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Nov 2019 22:26:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[30 Hari Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[Rani Basyir]]></category>
		<category><![CDATA[Residensi Penulis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=4390</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saat tulisan ini dibuat, London baru jelang pukul 10 malam. Sedang di Indonesia, sudah mau masuk pukul 3 pagi. Sejak tiga puluh menit lalu, Rani mengabari dirinya baru saja melewati [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/sejauh-las-vegas-memandang/">Sejauh Las Vegas Memandang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saat tulisan ini dibuat, London baru jelang pukul 10 malam. Sedang di Indonesia, sudah mau masuk pukul 3 pagi. Sejak tiga puluh menit lalu, Rani mengabari dirinya baru saja melewati imigrasi.</p>
<p>Sebelumnya, lima jam lalu, dia mengabari tidak bisa check in online. Alasannya selalu sama: nama. Setiap pergi ke negara Paman Sam, Rani selalu dihentikan imigrasi karena namanya dicurigai punya keterkaitan dengan salah satu ustadz yang berjejaring dengan kelompok teroris.</p>
<p>Hari ini Rani akan kembali terbang ke AS. Sebelumnya dia beberapa kali menolak berangkat meski diminta. Sudah setahun Rani enggan kembali ke sana. Baginya, AS tidak semenarik seperti yang digambarkan di film, buku, atau cerita.</p>
<p>&#8220;Mungkin karena kamu di sana kerja ya, bukan liburan,&#8221; kataku suatu ketika.</p>
<p>Tapi bahkan ketika hari libur pun, Rani tidak menikmatinya. Dulu saya menganggap karena penempatan Rani di Florida, yang sepertinya lebih banyak dihuni aligator ketimbang manusia. Tapi lalu dia ke Vegas, yang menghadirkan banyak gemerlap. Tak betah juga.</p>
<p>Mungkin Rani tidak punya keterikatan emosional dengan AS. Musik, iya. Film, jelas. Tapi tidak lantas membuatnya jadi ingin sekali tinggal dan hidup di sana.</p>
<p>Saya sedikit berbeda dengannya. Saya punya <em>On the Road</em>, <em>Travels with Charley</em>, hair metal, Guns N Roses, Sunset Strip, <em>Harley Davidson and the Marlboro Man</em>, Anthony Bourdain, Franklin BBQ, dan ratusan alasan lain yang menempatkan AS &#8211;bersama dengan Inggris dan Jepang&#8211; sebagai sesuatu yang memantik fantasi dari tanah jauh.</p>
<p>Tapi melihat kondisi negara itu yang sepertinya tambah ruwet, mungkin Rani ada benarnya. Dan sepanjang tujuh tahun bersama, dari semua perdebatan kami: memang Rani yang benar. Yah, walau saya sering nyolot dan gak mau mengakui kalau dia benar.</p>
<p>Kali ini dia akan ke dua kota, Las Vegas dan Boston. Dan tak lama seperti sebelum-sebelumnya, kali ini cukup tiga minggu. Semoga perjalanan ini bisa memberikan suasana yang sedikit berbeda.</p>
<p>Perjalanan ini mendadak. Rani hanya punya satu minggu untuk persiapan, itu pun setelah Rani keberatan disuruh berangkat cepat-cepat. Sebelumnya, Rani sedang mengurus visa ke Inggris. Dia ingin liburan bareng saya di sini, merayakan tiga hari besar: ulang tahun saya, Natal, dan tahun baru.</p>
<p>Tapi perjalanan ke Las Vegas sedikit mengubah rencana kami. Tapi semoga semua lancar dan kami bisa liburan bareng di sini.</p>
<p>Sedikit intermezzo. Dulu waktu kami masih ngontrak di rusun di Tebet, kami beberapa kali kehujanan di atas motor Mio butut yang sangat berjasa itu. Kalau sudah gitu, biasanya saya dan Rani akan berkelakar.</p>
<p>&#8220;Wah, cuacanya kayak di London ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya nih, mirip-mirip di Paris juga.&#8221;</p>
<p>Jadi kami sudah memimpikan betul bisa liburan bareng di London sejak beberapa tahun lalu. Guyonan itu terus kami lontarkan setiap kehujanan.</p>
<p>Semoga tahun ini guyonan itu benar jadi kenyataan (walaupun Rani akan menggigil sepanjang hari di sini), semoga kami juga bisa hujan-hujanan di sini, plus berkelakar.</p>
<p>&#8220;Nah, ini baru cuaca di London.&#8221;</p>
<p>Omong-omong, saya rindu Rani. Sialan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/sejauh-las-vegas-memandang/">Sejauh Las Vegas Memandang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/sejauh-las-vegas-memandang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4390</post-id>	</item>
		<item>
		<title>3 Tahun Tak Tahu Arah dan Tak Tahu di Mana Kaus Kaki</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/3-tahun-tak-tahu-arah-dan-tak-tahu-di-mana-kaus-kaki/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/3-tahun-tak-tahu-arah-dan-tak-tahu-di-mana-kaus-kaki/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Apr 2017 18:43:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Rani Basyir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3868</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seminggu lalu saya kesal bukan buatan. Saya sedang di Cilandak, kerja sembari numpang internetan gratis buat mengunduh film. Rani mengabari mau pulang, minta dijemput. Saya bilang kita ketemuan di halte [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/3-tahun-tak-tahu-arah-dan-tak-tahu-di-mana-kaus-kaki/">3 Tahun Tak Tahu Arah dan Tak Tahu di Mana Kaus Kaki</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Seminggu lalu saya kesal bukan buatan. Saya sedang di Cilandak, kerja sembari numpang internetan gratis buat mengunduh film. <a class="profileLink" href="https://www.facebook.com/ranibasyir" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100000513995768" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Rani</a> mengabari mau pulang, minta dijemput. Saya bilang kita ketemuan di halte TransJak Kementrian Pertanian. Dulu waktu ngontrak di TB Simatupang, saya sering mengantar Rani di halte itu. Dia setuju.</p>
<p>Sekitar 30 menit kemudian dia ngabari udah hampir sampai. Saya bergegas menuju halte sembari sedikit berhujan-hujanan. Sampai halte, saya tunggu. 5 menit. 10 menit. 15 menit. Asem, mana bocah ini. Lalu dia telepon.</p>
<p>&#8220;Aku gak jadi di halte Pertanian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lhaaa, di mana?&#8221;</p>
<p>Suaranya tampak kebingungan. &#8220;Di Trakindo,&#8221; katanya dari balik telepon. He? Halte Trakindo, tanya saya. Dia tambah bingung. Saya tambah kesal. Hujan tambah deras. Kampret.</p>
<p>&#8220;Tadi gak naik bis biasa. Naik bis kecil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya udah, dijemput di mana jadinyaaaa,&#8221; kata saya sembari agak menegangkan urat leher.</p>
<p>&#8220;Ini lho di tempat kamu sering makan kerang bau itu.&#8221;</p>
<p>Saya bingung. Kerang bau apaan, Bang???</p>
<p>&#8220;Kerang kiloan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya itu pokoknya yang kamu suka.&#8221;</p>
<p>Lha. Kerang kiloan yang dimaksud itu ada di Fatmawati. Dan seingat saya, kami cuma sekali makan di sana karena harganya mahal dan gak bikin kenyang blas.</p>
<p>&#8220;Pokoknya halte setelah Pertanian,&#8221; kata Rani.</p>
<p>Saya sudah ngut-merengut. Seingat saya setelah Pertanian, tak ada halte lain kecuali halte terakhir, Ragunan. Saya pun pergi ke sana. Benar, tak ada halte lagi. Saya telepon Rani dengan kesal yang sudah nyaris di ubun-ubun.</p>
<p>&#8220;Kamu di manaaaaaa?&#8221;</p>
<p>Saya pernah membaca idiom menarik tentang perbedaan lelaki dan perempuan: perempuan tak bisa baca peta, lelaki tak tahu letak kaos kaki. Meski idiom itu tak perlu dipercaya sepenuhnya, ia berlaku untuk kami berdua. Rani buta arah. Saya sering meledeknya direction retarded. Jahat memang, tapi Rani mengiyakannya. Sedangkan saya &#8211;kalau sedang kumat ingin pakai sepatu&#8211; selalu bertanya di mana kaus kaki.</p>
<p>Saya tahu Rani pasti gugup. Baginya yang imbisil soal arah, berada di tempat asing itu pasti menakutkan. Jangankan disuruh menjelaskan arah menuju ke sana, dia bahkan tak tahu lokasinya di mana. Tapi kekesalan saya menutupi rasa memahami itu.</p>
<p>&#8220;Ini dekat tempat kamu makan kerang bau ituuuu,&#8221; katanya setengah panik.</p>
<p>Saya pingin makan orang.</p>
<p>Saya tetap mencecarnya. Menuntut agar memberikan, paling tidak, patokan arah. Itu cara paling mudah untuk menemukan orang yang tersesat. Asal jangan kasih patokan Indomaret atau Alfamart aja.</p>
<p>&#8220;Itu di perempatan yang arah mau ke Cilandak,&#8221; katanya.</p>
<p>Lalu saya dengar suara Rani bertanya ke orang di dekatnya.</p>
<p>&#8220;Arah ke Cilandak KKO.&#8221;</p>
<p>Masyaallah. Tadi saya lewat sana. Coba dari tadi kasih petunjuk begitu. Lalu segera saya ke sana. Benar, 5 menit setelah saya tutup telepon, saya melihat Rani di pinggir jalan. Mukanya ketakutan. Bukan karena takut diculik. Tapi takut karena muka saya seram.</p>
<p>Di perjalanan saya diam saja. Masih amat kesal. Gini amat istriku. Sudah 5 tahun tinggal di Jakarta masih gak tahu nama daerah. Dan asal tahu saja, Cilandak KKO itu jalan yang kami lewati setiap malam kalau pulang kantor, sudah berjalan sejak 6 bulan, sejak kami tinggal di Depok. SETIAP MALAM! Bisa kau bayangkan Rani bahkan tak bisa menyebutkan nama daerah yang dilewati SETIAP MALAM selama 6 bulan itu?</p>
<p>Sampai rumah, kekesalan saya sudah lumayan menguap. Rani merayu supaya saya tak marah.</p>
<p>&#8220;Kan tadi udah aku bilang, itu tempatmu suka makan kerang bau itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kerang bau apaan sih woyyy,&#8221; kata saya kesal.</p>
<p>Rani lalu mendeskripsikannya: kecil, warna kuahnya gelap, dimakan pakai lontong.</p>
<p>&#8220;Ya tuhan. Itu namanya lontong kupang wooooy.&#8221;</p>
<p>Dan asal tahu saja, lontong kupang langganan saya itu ada di Fatmawati, bukan di Cilandak. Demi Toutatis.</p>
<p>&#8220;Tapi kamu baik ya, meski aku bikin kesel tetep aja kamu jemput,&#8221; kata Rani merayu.</p>
<p>Dasar perempuan perayu.</p>
<p>***</p>
<p>Apakah bahagia itu? Entah. Tapi menurut fisuf Inggris, Richard Ashcroft, kebahagiaan itu cuma perkara perubahan dalam diri. Perubahan dalam kebebasan. Kebahagiaan, sama seperti kesedihan atau kemarahan atau kebosanan atau kekesalan, datang dan pergi.</p>
<p>Ada banyak hal yang berubah sejak saya menikah. Banyak. Mulai cara bersikap. Cara mengendalikan kemarahan. Berdamai dengan banyak hal. Tapi saya juga belajar banyak cara sederhana untuk berbahagia. Sukses memasang rak susun. Rumah tak lagi bocor. Koleksi buku tambah banyak. Tomat murah. Telur asin masir. Banyak hal.</p>
<p>Satu yang pasti, saya merasa sebagai lelaki beruntung karena punya pasangan seperti Rani. Ia tabah benar menghadapi seonggok lemak penuh dosa dan egoisme seperti saya. Soal betapa sabarnya dia menghadapi saya yang kemproh ini tak usah diceritakan lah ya, sudah pada tahu sepertinya.</p>
<p>Hari ini adalah peringatan 3 tahun kami menikah. Ini memang durasi yang masih amat pendek. Tapi ada satu dua hal yang memang sepertinya patut dirayakan. Mungkin salah satunya momen pernikahan. Tahun lalu kami terpaksa merayakan via layar ponsel, terpisah jarak dan zona waktu. Kali ini pun kami belum bisa merayakan bersama. Saya memilih menginap di kantor karena besok pagi harus liputan. Pilkada memang sialan. Ia tak hanya memecah belah banyak orang, tapi juga membuat banyak orang gagal kelonan. Wkwk.</p>
<p>Tapi malam nanti, setelah semua kerjaan selesai, saya berencana memasak untuk kami berdua. Putra, chef cabul itu, memberi saya rekomendasi toko daging murah. Saya ingin memasak sekerat daging saus jamur kesukaan Rani.</p>
<p>&#8220;Terus ayam goreng ungkep.&#8221;</p>
<p>Saya mengiyakan.</p>
<p>&#8220;Terus ceker dimsum.&#8221;</p>
<p>Saya mengiyakan.</p>
<p>Dan pasti ada telur masir dari warung langganan kami. Saya yang bikin propaganda kalau telur asin itu enak. Rani pertama kali makan telur asin gara-gara saya paksa. Sejak saat itu, ia kecanduan telur asin. Kasus yang sama juga terjadi dengan ceker. Seumur hidup, sebelum bertemu saya, Rani tak pernah makan ceker. Setelah saya rayu, baru dia mau. Rekornya: satu panci ceker (sekira 1 kilogram) buatan saya pernah ia tandaskan.</p>
<p>Tapi saya harus beli beras pulen dulu. Di rumah berasnya pera&#8217;, tipe kesukaan Rani. Saya kurang cocok. Ah pernikahan memang sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya saja.</p>
<p>Selamat 3 tahun pernikahan, Cuk!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/3-tahun-tak-tahu-arah-dan-tak-tahu-di-mana-kaus-kaki/">3 Tahun Tak Tahu Arah dan Tak Tahu di Mana Kaus Kaki</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/3-tahun-tak-tahu-arah-dan-tak-tahu-di-mana-kaus-kaki/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3868</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Orange Skies</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/orange-skies/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/orange-skies/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Aug 2016 13:13:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Arthur Lee]]></category>
		<category><![CDATA[Love]]></category>
		<category><![CDATA[Rani Basyir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3768</guid>

					<description><![CDATA[<p>Langit yang berwarna oranye selalu mengingatkan saya waktu kami pergi ke Bali. Berdua saja. Dengan motor, selepas lebaran. Saya suka pantai. Tapi tidak di siang hari. Apalagi pantai di negara [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/orange-skies/">Orange Skies</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Langit yang berwarna oranye selalu mengingatkan saya waktu kami pergi ke Bali. Berdua saja. Dengan motor, selepas lebaran.</p>
<p>Saya suka pantai. Tapi tidak di siang hari. Apalagi pantai di negara tropis macam Indonesia. Rani yang jarang pergi ke Bali selalu bersemangat mengajak keluar. Tak peduli matahari serasa mencakar muka. Saya enggan. Malas. Berkali-kali cari alasan untuk tidak pergi. Tapi toh akhirnya saya menyerah.</p>
<p>Akhirnya kami pergi ke Jimbaran. Pukul 1 siang. Mata saya mengerjap berkali-kali. Dipicingkan agar tidak terlalu perih. Rani tetap bersemangat, saya berkali-kali mendecak kesal.</p>
<p>&#8220;Ke pantai itu sore kek, enak sambil minum bir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya masa ke Bali tidur terus di hotel.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukannya itu ya tujuan bulan madu? Bikin anak?&#8221;</p>
<p>Kami sampai. Saya menyuruh Rani jalan menyusuri pantai sendirian. &#8220;Aku di sini saja,&#8221; kataku sembari duduk di gazebo. Sudah ada rencana memesan es kelapa muda. Biarlah Rani yang memakai baju hitam itu merasakan jahatnya matahari pada pukul 1 siang. Saya sih ogah dipanggang. Tapi ternyata Rani juga enggan jalan sendirian. Matanya menyipit. Pasti kepanasan, kata saya dalam hati. Ingin saya ledek, tapi kasihan. Salah sendiri tak percaya.</p>
<p>Akhirnya setelah 10 menit foto-foto, Rani mau diajak pulang ke hotel. Dengan iming-iming cari tempat belanja yang ada diskon. Perempuan mana yang tak suka belanja barang diskonan. Kami mampir ke gerai Volcom dan Rip Curl yang memajang tanda diskon besar-besar di pinggir jalan. Tapi hasilnya nihil. Tak ada yang kami bawa pulang.</p>
<p>Di hotel kami istirahat. Tidak bercinta. Sudah kecapaian kena panggang matahari. Hanya tidur bergulingan sembari menonton televisi dan berkomentar tentang apapun. Saya menjanjikan Rani pergi ke Kuta sore hari.</p>
<p>Saya selalu suka suasana Kuta di sore hari. Sewaktu remaja, saya mengagumi perempuan-perempuan Kaukasian dengan bikini dua helai. Saya tak pernah melihat yang seperti itu di Arjasa. Menginjak lepas 20-an, saya lebih suka bengong sembari melihat langit. Kadang bermodal sebotol bir, atau kadang soda. Kalau ada teman, ya ngobrol ngalor ngidul.</p>
<p>Seperti itulah kami menghabiskan waktu kemudian. Rani membawa sehelai kain Bali. Dijadikan alas. Saya memesan dua botol bir berperisa jeruk. Di depan, ada puluhan orang yang asyik bermain air. Saya malas basah-basahan. Kami mulai ngobrol tanpa arah. Perkara cinta, masa lalu, masa depan, dan makanan yang akan kami santap. Sepele memang.</p>
<p>Kemudian matahari perlahan tergelincir. Orang-orang mulai mentas dari air laut. Beberapa ada yang duduk-duduk. Lainnya beralih membilas badan. Ada yang memesan bakso dan kelapa muda. Langit jadi oranye, Kuta jadi mirip karnaval. Sama seperti yang ditulis Arthur Lee di lagu &#8220;Orange Skies&#8221;.</p>
<p>Saya beberapa kali mencuri pandang ke arah Rani. Perempuan ini sering membuat saya pusing kepala dan marah. Tapi tak terhitung berapa kali dia membuat saya tertawa dan menjadikan hidup saya lebih tenang dan menyenangkan. Saya menenggak porsi terakhir bir saya, mengajak Rani pulang dengan menggamit tangannya. Kami bersihkan pasir yang menempel di kain Bali dan kaki. Kemudian kami beranjak pulang.</p>
<p>Saya bahagia. Semoga Rani juga, walau saya benci pergi ke pantai pada pukul 12 siang dan akan selamanya begitu. Tapi semoga kami selalu bahagia.</p>
<p><em>You make me happy</em><br />
<em>Laughing, glad, and full of glee</em><br />
<em>And you dont have to try, girl</em><br />
<em>For you it comes so naturally</em><br />
<em>Right here in my arms</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/orange-skies/">Orange Skies</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/orange-skies/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3768</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pada Dini Hari yang Biasa</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/pada-dini-hari-yang-biasa/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/pada-dini-hari-yang-biasa/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2016 18:49:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Rani Basyir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=3412</guid>

					<description><![CDATA[<p>Rani mengabari dia sudah di TB Simatupang. Itu berarti 5 menit lagi dia sudah sampai di gang kontrakan kami. Hujan masih lumayan deras. Saya mengambil jaket, menggunakannya sebagai penutup kepala. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pada-dini-hari-yang-biasa/">Pada Dini Hari yang Biasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rani mengabari dia sudah di TB Simatupang. Itu berarti 5 menit lagi dia sudah sampai di gang kontrakan kami. Hujan masih lumayan deras. Saya mengambil jaket, menggunakannya sebagai penutup kepala. Kami tak punya payung. Saya menghilangkannya sewaktu pergi ke Bandung, sekira setahun silam. Waktu itu juga musim hujan. Rani memaksa saya membawa payung. Padahal saya sudah bilang tak usah. Saya kerap ceroboh. Benar saja, saya baru sadar kalau payung hilang saat sudah sampai di rumah. Mungkin jatuh sewaktu saya turun dari travel, dan saya tak sadar. Sejak saat itu kami alpa terus untuk membeli payung baru.</p>
<p>Rani datang dengan taksi. Dia menulis voucher yang diberikan kantor. Memberikannya pada supir. Lalu kami berdua setengah berlari menuju kontrakan. Menganggapnya romantis. Membayangkan jaket adalah daun pisang. Dan kami berdua adalah sepasang lelaki dan perempuan desa yang berlarian di pematang sawah. Tentu bukan di sana tempat kami berlari. Tapi di sebuah gang yang dindingnya dirambati lumut dan dimamah usia, yang kalau siang rimbun karena banyak pohon namun kalau malam bikin Rani takut sehingga saya harus selalu menjemputnya di bibir gang.</p>
<p>Sesampai di rumah, saya menunjukkan Rani semangkok margarin yang saya campur dengan cacahan bawang putih dan rosemary. Itu bahan untuk membuat roti bawang putih. Biasanya saya pakai oregano dan basil. Tapi dua bahan itu sedang habis.</p>
<p>Saya melanjutkan mencuci piring. Setelah ganti baju, Rani mulai mengoles adonan bumbu bawang putih ke roti tawar dan memanggangnya. Kemudian ia mulai bercerita. Tentang kantornya. Tentang istilah-istilah IT yang tak saya ketahui. Saya juga mulai berkicau tentang utang dua buku ke Eka Keong, hingga <em>chord</em> &#8220;God Only Knows&#8221; yang akhirnya saya kuasai. Kunci gitar lagu itu kepalang susah. Sampai-sampai saya harus mengunduh video tutorial yang diampu oleh Marty Schwartz. Sewaktu saya merasa sudah bisa memainkannya, saya jemawa.</p>
<p>Aroma bawang putih dan rosemary mulai tercium di udara. Rani membuka toples berisi saus keju yang saya buat. Dia kemudian bertanya saus apa yang ada di teflon. Marinara, kata saya. Sudah sekitar seminggu lalu saya membuatnya. Awalnya untuk menghabiskan sisa tomat di kulkas. Tapi karena tomat lokal tidak merah merona seperti di Mediterania, makanya hasilnya jadi agak gelap. Apalagi tadi saya iseng menambahi paprika bubuk dan sedikit madu. Rani mencolek saus itu. Dia menunjukkan muka meledek. Rani memang kurang suka rasa asam.</p>
<p>Setelah roti dioles saus keju, kami berdua masuk kamar. Rani ingin mengkudeta laptop, melanjutkan episode <em>Desperate Housewives</em>. Tapi saya tak setuju. Saya sedang asyik menonton episode pertama <em>The Man in the High Castle</em>. Serial ini amat menarik. Berkisah tentang pengandaian yang tak kalah asyik untuk dibayangkan: Amerika Serikat kalah di Perang Dunia II. Nazi berjaya. Begitu pula Jepang. Negara Paman Sam kemudian dibagi, jadi milik Fuhrer dan Kaisar Matahari Terbit.</p>
<p>Tapi, dasar suami menyebalkan, kemudian saya malah pamer keahlian memainkan &#8220;God Only Knows&#8221;. Ealah, ternyata beberapa kunci masih membuat jari terpeleset. Sialan betul si Brian Wilson dan kompatriotnya itu. Bikin lagu kok kuncinya rumit bener. Rani yang sudah bosan mendengar permainan gitar yang <em>tot pletot</em>, melengos. Ia memilih melanjutkan membaca komik <em>Shanaou Yoshitsune</em>. Saya kembali menekuri jurus gitar yang bikin jari tergelincir terus sejak semingguan silam. Em6. Bm6. D#/G dan entah apa lagi. Kalau gini saya jadi ingin belajar gitar ke Antruefunk. Laptop masih menyala. Film saya hentikan sejenak.</p>
<p>Di luar masih hujan. Ini dini hari yang biasa. []</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/pada-dini-hari-yang-biasa/">Pada Dini Hari yang Biasa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/pada-dini-hari-yang-biasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3412</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Setelah 1 Tahun</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/setelah-1-tahun/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/setelah-1-tahun/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2015 12:58:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Dave Grohl]]></category>
		<category><![CDATA[Rani Basyir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=2632</guid>

					<description><![CDATA[<p>There&#8217;s a big difference between falling in love with someone and falling in love with someone and getting married. Usually, after you get married, you fall in love with the [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/setelah-1-tahun/">Setelah 1 Tahun</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>There&#8217;s a big difference between falling in love with someone and falling in love with someone and getting married. Usually, after you get married, you fall in love with the person even more.</strong></em></p>
<p><em><strong>(Dave Grohl)</strong></em></p>
<p>Saya tak pernah membayangkan bisa menikah dengan Rani Wulandari Basyir. Saat awal menjalani hubungan, kami terpisah jarak. Saya di Yogyakarta, dan Rani di Jakarta.</p>
<p>Kami sempat menjalani masa pacaran selama dua tahun sebelum akhirnya menikah. Masa pacaran itu masa yang bisa dibilang lumayan menguji kesabaran. Ternyata masa itu lumayan jadi bekal saat menghadapi pernikahan.</p>
<p>Saya dan Rani sangat berbeda. Baik sifat, kesukaan,maupun kebiasaan. Salah satu contoh sederhananya adalah kebiasaan ketika bangun tidur.</p>
<p>Rani, yang lebih cekatan dan gesit, setiap habis bangun tidur selalu langsung mengerjakan sesuatu. Entah itu cuci baju, masak, atau menyapu. Sedangkan saya yang lebih santai dan selo, sehabis bangun tidur ya duduk dulu. <em>Tingak tinguk</em> sembari mengumpulkan nyawa. Kalau misal tak ada kegiatan lain, ya saya tidur-tiduran sembari membaca.</p>
<p>Ini kadang memicu gesekan di antara kami berdua. Apalagi kalau misal Rani sedang diburu kerjaan kantor dan harus masuk pagi. Seringkali saya marah, mendecak kesal. Saya paling tidak suka jadi tergesa dan diburu-buru. Apalagi kalau misal harus menunaikan hajat pagi di toilet. Saya selalu membawa buku atau ponsel, sekedar membaca linimasa. Kalau gitu Rani biasanya mengomel. Sedang saya cuma cuek.</p>
<p>Menikah, bagi saya, memberikan banyak perspektif baru mengenai hidup. Ada banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Semisal betapa pentingnya negosiasi dan kerendahan hati. Rani mengajarkan banyak tentang itu.</p>
<p>Negosiasi misalnya begini. Rani membebaskan saya untuk menjalani hobi. Semisal membeli buku, atau cd musik, atau nongkrong bersama teman. Tapi tentu saya tak bisa seenaknya seperti waktu bujang dulu. Saya kini sudah jadi kepala rumah tangga. Di sini Rani berperan besar menjadi penyeimbang. Misalkan bulan ini, pengeluaran sudah banyak, Rani yang akan mengingatkan saya untuk tidak boros. Saya, meski kadang manyun, memaklumi itu.</p>
<p>Sedangkan kerendahan hati, banyak diajarkan oleh Rani. Sejak menikah, Rani banyak berubah. Ia jadi lebih sering meminta maaf. Dulu, ia kepala batu. Jarang mau mengakui salah. Saya, yang lebih lunak, yang biasa mendinginkannya. Meminta maaf ini pekerjaan susah, lho. Saya sangat menghargai kerendahan hati istri saya yang mau belajar untuk meminta maaf.</p>
<p>Printilan kecil dalam rumah tangga ini juga lucu. Sekali lagi, perbedaan karakter membuat pernikahan ini terasa menyenangkan. Semisal cara menunjukkan kasih sayang. Saya, bukan tipikal orang yang romantis. Saya tak pernah setiap saat bilang &#8220;Aku sayang kamu&#8221;. Sedangkan Rani, suka dengan orang yang ekspresif, sesuatu yang bukan saya blas.</p>
<p>&#8220;Ah aku malas sama kamu. Aku mau cari suami baru lebih ekspresif.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cari lah sana, aku mau nikah lagi sama Olla Ramlan.&#8221;</p>
<p>Tapi mungkin Rani tidak sadar, saya sering mengelus rambutnya dan mengecup kepalanya saat ia tidur dan saya masih terjaga. Hehehehe. Dan saya tak pernah bilang masalah ini. Biar ia tidak tahu. Ya, kecuali kalau ia membaca tulisan ini.</p>
<p>Kehidupan rumah tangga kami berjalan normal, laiknya orang biasa di mana saja. Kalau sedang gajian, kami suka memanjakan diri sendiri. Entah itu nonton bioskop atau makan di luar. Kalau sudah tanggal tua, kami mulai pusing dan mengencangkan ikat pinggang. Makan cukup telur dan tempe plus kecap dan sambal.</p>
<p>Sama seperti pasangan baru lain, masalah finansial adalah masalah terbesar dan hutang adalah teman paling akrab. Kadang kami bisa menabung barang beberapa ratus ribu setiap bulan. Tapi setiap bulan juga tabungan itu terus tergerus untuk keperluan mendadak.</p>
<p>Di saat seperti ini lah, bala bantuan terbaik biasanya datang: mertua. Hehehe. Saya dan Rani beberapa kali berhutang pada mertua. Pembayaran bisa dicicil, tanpa agunan, dan jelas tanpa bunga. Jauh lebih baik ketimbang pinjam uang di bank bukan?</p>
<p>Beberapa bulan lalu, kulkas kami lunas. Rasanya lega. Sekaligus bangga. Dulu, semasa saya bujang, mana pernah kepikiran mencicil untuk beli kulkas. Kepikirannya malah mencicil motor Triumph buat keliling Indonesia.</p>
<p>Hidup yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan ternyata memberikan kejutan di setiap keloknya. Menyenangkan.</p>
<p>Tanggal 19 April kemarin, saya merayakan satu tahun pernikahan. Tak ada selebrasi yang berlebihan. Rani mencoba bikin brownies, tapi gagal. Kurang mengembang dan rasanya agak wagu. Dia merasa bersalah, tapi tetap sambil ketawa ketiwi. Saya apalagi, semakin senang karena punya amunisi untuk merisak Rani. Hehehe.</p>
<p>Pada ulang tahun pernikahan itu, saya punya dua pertanyaan yang jawabannya langsung ketemu saat itu juga.</p>
<p>Apakah saya bahagia? Iya.</p>
<p>Apakah setelah menikah saya jadi lebih mencintai Rani? Ternyata iya.</p>
<p>Hidup saja sudah berat. Apalagi hidup di Jakarta. Saya jelas butuh teman untuk itu. Saya rasa, Rani adalah kawan perjalanan yang sangat cocok. Dan saya tak pernah menyesal sedikit pun menikah dengannya.</p>
<p>Selamat ulang tahun pernikahan Rani. Mungkin ini sedikit klise dan terlampau memuakkan: semoga kita terus bersama, masih bisa bercanda dan bertukar kentut, setia membayar kredit tanpa cacat, terus lah menjadi lawan debat yang tangguh, dan semoga kita tetap bisa menertawakan hal-hal kecil nan aneh di sekitar kita. Jaga kesehatan. Kurangi lembur di Sabtu dan Minggu. Kalau ente lembur terus, kapan kita bikin anaknya?</p>
<p style="text-align: right;"><em>Lembang 47</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>7.51</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Saat deadline sudah nyaris selesai.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/setelah-1-tahun/">Setelah 1 Tahun</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/setelah-1-tahun/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2632</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kado Ulang Tahun Untuk Rani</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/kado-ulang-tahun-untuk-rani/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/kado-ulang-tahun-untuk-rani/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2015 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Rani Basyir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://nuranwibisono.net/?p=1052</guid>

					<description><![CDATA[<p>Istri saya berulang tahun hari ini. Umurnya berapa, tak usah disebutkan. Toh umur hanyalah angka. Tak lebih, tak kurang. Kebalikan dari saya, istri menganggap ulang tahun adalah hal penting. Ia [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kado-ulang-tahun-untuk-rani/">Kado Ulang Tahun Untuk Rani</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="ltr" style="text-align: left;">
<div style="text-align: justify;">Istri saya berulang tahun hari ini. Umurnya berapa, tak usah disebutkan. Toh umur hanyalah angka. Tak lebih, tak kurang.</p>
<p>Kebalikan dari saya, istri menganggap ulang tahun adalah hal penting. Ia selalu rajin membelikan kado tiap saya ulang tahun. Dan selalu beragam jenisnya.</p>
<p>Lha, saya sendiri suka kesusahan kalau beli kado buat orang lain.</p>
<p>Saya ingat, saat isteri ulang tahun di tahun pertama kami berpacaran, saya belikan ia buku biografi Janis Joplin, penyanyi favoritnya. Di tahun kedua pacaran, saya tak memberi kado apa-apa selain doa. Pancen aku pacar sing asu banget.</p>
<p>Nah, di tahun ini, saya kembali bingung mau beli kado apa. Rencananya mau beli kaos Janis Joplin. Lha ndilalah saya lupa. Akhirnya saya kemarin semburat, nyari kado apa yang pas buat istri saya.</p>
<p>Akhirnya saya pergi ke pusat perbelanjaan terdekat. Baru 20 menit keliling saya sudah tak kuat. Kepala pusing. Kaki gempor. Makanya saya selalu salut sama perempuan yang betah cuci mata berjam-jam.</p>
<p>Kemudian saya memutuskan masuk ke toko serba ada, toko yang sering dimasuki istri saya untuk cuci mata. Barang di toko itu memang luar biasa banyak. Tapi harganya kadang ngajak berantem.</p>
<p>Saya keliling. Bingung mau beli apa. Piring? Ah, kurang penting jeh. Pot dan bibit tanaman? Ah, itu di rumah ada tiga pot dan satu sak tanah yang tidak terpakai. Alat masak? Itu mah cocoknya buat saya.</p>
<p>Hingga saya ingat kalau istri saya pernah mengeluh tangannya perih sewaktu mencuci piring.</p>
<p>Akhirnya dengan langkah mantap, saya pergi ke bagian kebersihan.</p>
<p>Saya beli&#8230; dua pasang sarung tangan karet untuk cuci piring. Hehehe. Warnanya ungu dan kuning.</p>
<p>Iya, awalnya saya mau ngasih kado itu saja. Sampai akhirnya, saat mau bayar, ada tumpukan lampu tidur bergambar lambang tim sepak bola. Saya ingat kalau istri saya suka AC Milan. Akhirnya saya beli satu untuk dia.</p>
<p>Waktu saya kasih kadonya, saya sok-sok misterius gitu. Ketika kado dibuka, istri saya ngakak gak ketulungan.</p>
<p>&#8220;Ya emang sih, aku nyari sarung tangan plastik. Tapi ya gak buat kado ulang tahun juga kalik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus kenapa kamu beliin lampu Milan? Kan aku sudah gak ngikuti sepak bola lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anu, itu lagi diskonan 50 persen. Lumayan jeh,&#8221; kata saya.</p>
<p>Istri saya tambah ngakak.</p>
<p>&#8220;Ah, untung ada kartunya. Ucapannya manis. Kamu tertolong, karena kamu pintar merangkai kata,&#8221; kata isteri saya.</p>
<p>Lalu saya jadi mikir, jangan-jangan kalau saya gak bisa nulis, saya gak akan punya isteri? Bisa jadi sih.</p>
<p>Ah sudahlah, selamat ulang tahun Rani. Semoga terus sehat.</p>
<p>Dan mari kita buat kebahagiaan kita sendiri.</p></div>
</div>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/kado-ulang-tahun-untuk-rani/">Kado Ulang Tahun Untuk Rani</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/kado-ulang-tahun-untuk-rani/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1052</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
