<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Foi Fun!</title>
	<atom:link href="https://nuranwibisono.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nuranwibisono.net/</link>
	<description>Segala Tentang Cara Bersenang-senang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2026 09:44:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.0.11</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">91952844</site>	<item>
		<title>Catatan dari Fuji Rock 2025 #2</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 09:23:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=6008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kenapa Fuji Rock?  Jawabannya punya dua kata kunci yang saling bertaut: pengalaman dan reputasi. Kata kunci pertama: pengalaman. Umumnya, motivasi terbesar orang datang ke festival musik tentu saja adalah musik/ [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Kenapa Fuji Rock? </span></p>
<p>Jawabannya punya dua kata kunci yang saling bertaut: pengalaman dan reputasi.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kata kunci pertama: pengalaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umumnya, motivasi terbesar orang datang ke festival musik tentu saja adalah musik/ bintang tamu, seperti yang pernah ditulis Bowen dan Daniels (2005). Tapi buatku dan jutaan orang yang pernah mengunjungi Fuji Rock, festival yang sudah diadakan sejak 1997 ini sudah melampaui soal bintang tamu dan perkara musik.  </span><span style="font-weight: 400;">Fuji Rock berhasil memadukan keasyikan kemping, keindahan alam, ramah anak dan keluarga, dan tentu saja kuratorial musik yang jarang gagal. </span><span style="font-weight: 400;">Mau cerah, mau hujan, mau badai, semua menghasilkan cerita seru. Hasilnya: pengalaman dan kenangan yang menyenangkan. </span></p>
<p>Kata kunci kedua: reputasi.</p>
<p>Ini yang agak tricky. Di banyak buku manajemen, petuahnya jelas: membangun itu mudah, menjaga lebih susah. Ini berhasil dijalankan oleh Fuji Rock. Berjalan nyaris tiga dekade, Fuji Rock berhasil menjaga reputasi sebagai festival musik yang inklusif, ramah anak dan lansia, rapi, juga teratur. Ini pada akhirnya saya saksikan sendiri, mulai dari akses yang mudah, pilihan genre musik yang beragam, dan yang juga mengesankan: kebersihan dan keteraturannya.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan kata lain: Fuji Rock berhasil membangun (dan menjaga) reputasinya secara gemilang. Hasilnya berkelindan dengan kata kunci pertama, bahwa orang akan tertarik datang karena reputasi baik Fuji Rock akan menjamin pengalaman yang mengasyikkan.</span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika aku menelusuri riwayat percakapan di WhatsApp, keinginan untuk pergi ke Fuji Rock sudah tertanam bahkan sejak 2019 silam. Seperti biasa, orang yang paling sering kurongrong adalah Rani. Tapi dia juga orang paling realistis soal rencana-rencanaku yang kerap kali lebih mirip khayalan, atau bahkan igauan siang bolong, ketimbang rencana yang diperam hingga matang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seiring aku yang semakin sering ngoceh soal Fuji Rock ke Rani di malam-malam jelang kami tertidur, semakin kuat keinginanku. Maka, pada 2023, aku mencanangkan: aku mau pergi ke Fuji Rock 2025, entah sendiri, atau bareng Rani, atau bareng kawan lain. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika akhirnya memutuskan akan pergi di 2025, aku tak peduli siapa yang akan jadi penampil. Waktu membuat tabungan di awal 2024, tentu saja belum ada pengumuman line up untuk 2025. Reputasi Fuji Rock membuatku percaya ini adalah festival yang layak disambangi kalau mampu, terlepas dari siapa yang bermain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu saja, akan selalu ada orang yang mau saja menyambut ajakan bodoh, sama seperti di film-film </span><i><span style="font-weight: 400;">buddies</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">coming of age.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dan dalam kasus ini, kawan yang dengan senang hati mau ikut petualangan kurang akal ini adalah Faisal Irfani. Nanti kapan-kapan kuceritakan soal Ical –panggilan kesayangan kawan-kawannya untuk pria tetangga Jokowi ini.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-6012 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-582x1024.jpeg" alt="" width="582" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-582x1024.jpeg 582w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-171x300.jpeg 171w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-768x1351.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o-873x1536.jpeg 873w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/3C98A20A-31AF-43AF-B796-1CC0D82488C6_1_102_o.jpeg 1161w" sizes="(max-width: 582px) 100vw, 582px" /></a></p>
<h1><b>Mulai Pondasi</b></h1>
<p><span style="font-weight: 400;">Pondasi dari semua rencana ini adalah uang. Dalam skema yang kubuat, ada tiga komponen utama perjalanan ini:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Transportasi</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Fuji Rock</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Tokyo Stay</span></li>
</ol>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-6009 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-1024x915.png" alt="" width="790" height="706" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-1024x915.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-300x268.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-768x686.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-1536x1372.png 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2026/01/NotebookLM-Mind-Map-1-2048x1830.png 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sana aku memastikan jumlah hari, dan ketemulah hitungan kasarnya. Kira-kira waktu itu aku dan Ical menganggarkan seperti ini:</span></p>
<h2><strong>1. Transportasi: </strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu itu sedang ada promo akhir tahun. Jadi kami beli tiket di Desember 2024, dapat Garuda Indonesia, </span><i><span style="font-weight: 400;">direct flight </span></i><span style="font-weight: 400;">berangkat Rabu 23 Juli 2025 dan kepulangan Kamis 31 Juli 2025, dengan harga Rp6,2 juta. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini harga yang menurut kami terjangkau. Sebagai perbandingan, di akhir 2022 aku dan Rani sempat membeli tiket ke Tokyo, dapat Singapore Airlines, transit di Singapura, dengan harga Rp7,5 juta.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain tiket pesawat Jakarta-Tokyo, komponen transportasi yang harganya cukup tinggi adalah kereta Shinkansen dari Stasiun Tokyo menuju Echigo Yuzawa, stasiun terdekat dari venue Fuji Rock di Naeba. Tiket ini bisa dibeli di aplikasi Klooks, harga sekali jalan sekitar 6.900 Yen, atau sekitar Rp750 ribu ditambah pajak dll. Jadi PP sekitar Rp1,5 juta. Dari Echigo Yuzawa, transportasi menuju venue adalah shuttle bus yang harganya 2.000 yen PP, atau sekitar Rp215 ribu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, komponen transportasi yang juga harus dianggarkan adalah transportasi lokal. Aku membeli Tokyo Subway Ticket 72 Hour Pass di Klook, harganya sekitar Rp320 ribuan.</span></p>
<h2><strong>2. Fuji Rock</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua pengeluaran utama untuk Fuji Rock adalah tiket dan <em>campsite</em>. Fuji Rock menjual tiket harian dan juga 3 <em>day pass</em>. Aku dan Ical sempat gundah, apakah cukup menonton hari Jumat-Sabtu, atau Sabtu-Minggu, atau mau sekalian tiga hari. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami memilih 3 <em>day pass</em>, tapi praktiknya kami sudah ada di venue sejak hari Kamis dan menonton pesta pembukaannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga tiket 3 <em>day pass</em> Fuji Rock 2025 adalah 59.400 Yen, sudah termasuk pajak dan segala tetek bengeknya. Ketika itu kurs Rupiah cukup membaik, 1 yen ada di kisaran Rp105 hingga Rp107. Jadi kalau diambil patokan Rp107, harga tiket 3 day pass adalah Rp6.355.800.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu untuk <em>campsite</em>, banderolnya adalah 5.500 Yen atau sekitar Rp588 ribu. Dengan tiket ini, aku bisa masuk ke area kemping sejak hari Kamis untuk mendirikan tenda (sekaligus bisa nonton pesta pembukaannya) sampai dengan maksimal hari Senin siang (total 5 hari 4 malam). <em>Campsite</em> adalah pilihan menginap yang harganya paling terjangkau sekaligus yang memberi pengalaman khas Fuji Rock. Di luar kemping, ada pilihan hotel di sekitar venue atau di sekitar Echigo Yuzawa. Tapi harganya lumayan <em>ngamplengi raimu</em>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di luar itu, ada biaya merch, dan FnB (ini yang ternyata anggarannya melar. Aku meremehkan rasa lapar yang timbul berkali-kali karena jalan kaki seharian).</span></p>
<h2><strong>3. Tokyo Stay</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku dan Ical sepakat menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di Tokyo setelah selesai Fuji Rock. Komponen terbesar di part ini adalah penginapan. Yang menarik dari Tokyo adalah, meski kota ini adalah salah satu kota termahal di dunia, termasuk perkara menginapnya, kalau pesan jauh-jauh hari via aplikasi (aku pakai Agoda), harganya bisa cukup terjangkau. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Booking pada Desember 2024 selama 5 hari 4 malam untuk akhir Juli 2025, aku dapat harga Rp3,7 juta di hotel APA Hotel Roppongi Six atau sekitar Rp740 ribuan per hari, atau Rp370 ribu per orang.  APA adalah jaringan hotel cukup populer di Jepang, dan biasanya berlokasi di kawasan turis, jadi dekat dengan stasiun kereta atau bus, dan tentu saja aneka konbini dan tempat makan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kenapa aku booking 5 hari? Ini karena dari linimasa, aku beli hotel terlebih dulu, ketika masih gundah mau nonton Fuji Rock 2 hari atau 3 hari. Jadi kami booking check in hari Minggu, dan check out hari Kamis. Kenyataannya, kami baru check in hari Senin. Tapi lagi-lagi, untuk ukuran hotel di kawasan strategis Tokyo, Rp370 ribu per orang ini bisa dibilang murah. Di luar penginapan, komponen Tokyo Stay juga mencakup Food and Drinks.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah mendapat anggaran kasar itu, aku berhitung. Jika mulai menabung bulan Februari atau Maret 2024, aku ada waktu 17 bulan sebelum berangkat. Dari sana aku bisa melakukan kalkulasi berapa dana yang harus kutabung setiap bulan, atau target akhir agar bisa berangkat dengan nyaman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan target di kepala yang terasa begitu jauh dan bikin aku mbatin piye carane, aku mulai menaruh beberapa ratus ribu yang kuambil dari uang saku bulananku. Aku membuat rekening bLu, lalu membuka dompet yang dinamakan Fuji Rock 2025. Jalan masih panjang. []</span></p>
<p>Baca juga <a href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan #1</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #2</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">6008</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2025 17:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Fuji Rock 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5685</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">“Aku tau ndelok tendo ngawang, cuk!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph Sudiro, dengan gaya Suroboyoan yang khas dan berapi-api lengkap dengan cak-cuknya, mengisahkan pengalaman menonton Fuji Rock Festival pada 2019 silam. Hitung maju enam tahun kemudian, kami berdua ada di satu gondola dengan Aya dan Faisal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aya adalah partner hidup sekaligus rekan terbaik Joseph menonton festival musik. &#8220;Wis teruji arek iki,&#8221; puji Joseph. </span><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Faisal adalah kawan baikku sejak lama, partner dalam banyak kebodohan. Salah satu buktinya, ya, Fuji Rock 2025 ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Faisal adalah anak rumahan, lebih suka mendengar musik di kamar atau membaca buku ketimbang datang ke festival musik penuh manusia. Entah setan belantara mana yang nemplok di bahunya sepulang liputan, kok tiba-tiba saja dia mau ikut pas aku cerita rencana datang ke Fuji Rock 2025. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ical padahal jarang keluar kamar kos, sekali-kalinya keluar kamar kok malah langsung ke Fuji Rock,” ujar seorang kawan, membalas <em>story</em> Instagram-ku ketika kami baru mendirikan tenda di permukaan tanah yang tak terlalu landai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi di sini lah kami, dua tahun semenjak kami membicarakan Fuji Rock di Glam Rock Kitchen. Naik gondola dengan rute terpanjang di dunia. Dua puluh lima menit perjalanan naik turun di gondola berkapasitas empat orang, dengan roda di bagian atas yang terkait dengan kabel baja. Gondola berwarna biru yang kami tumpangi berjalan perlahan, dengan decit yang kadang bikin bulu tengkuk meremang, puluhan meter di atas tanah. Kami sepenuhnya menyerahkan nyawa pada teknologi dan standar keamanan Nippon.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5688 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0865-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bawah kami, tampak rimbun pohon pinus. Hijau. Ada sungai mengalir. Saking beningnya, bebatuan di dasar terlihat jelas. Aku membayangkan di suhu 34 derajat, betapa surgawinya nyemplung di sungai itu. Di sebelah kanan, ada dua panggung yang satu per satu terlihat. </span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5686 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0900-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Itu White Stage,” ujar Aya menunjuk panggung di arah jam 3.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau itu Field of Heaven.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Iku deloken rek, danau.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Danau opo?” tanya Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Gak eruh, cuk, lali aku,” kata Aya ketawa.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-5687 size-large" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg" alt="" width="790" height="444" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1024x576.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-300x169.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-768x432.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-1536x864.jpeg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0891-2048x1152.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Josep dan Aya bisa dibilang veteran perihal Fuji Rock. Sembari meraba ingatan –cuk, mereka bahkan lupa sudah berapa kali nonton– mereka sepertinya sudah sembilan kali menonton perhelatan musik tahunan yang diadakan di Naeba ini. Banyak yang berkesan bagi mereka. Di 2023 line up-nya seru, ada Foo Fighter, The Strokes, Alanis Morisette, Weezer, Slowdive, Yeah Yeah Yeahs, hingga Lizzo. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan Fuji Rock 2024 berkesan karena mereka ngobrol dengan sepasang suami istri berusia lanjut yang mengagumi kaus Ash (halo Jelly!) yang dipakai Joseph. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu tibalah momen Fuji Rock 2019 disebut. Chemical Brothers dan The Cure jadi penampil pamungkas. Itu bikin hati girang, tentu saja. Namun ada lagi yang lebih lekat di ingatan mereka: topan! </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di beberapa video yang pernah kutonton, termasuk video dari Fujirocker Indonesia, aku melihat para penonton yang menginap di tenda harus dievakuasi ke lobi hotel Prince Naeba saking dahsyatnya topan menghajar kawasan Naeba.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan di situlah Joseph dan Aya menyaksikan tenda terbang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sepuluh menit di dalam gondola, aku masih merasakan </span><i><span style="font-weight: 400;">ndok ngerenyeng </span></i><span style="font-weight: 400;">jika melongok ke bawah. Gimana kalau terjadi adegan khas </span><i><span style="font-weight: 400;">Final Destination</span></i><span style="font-weight: 400;"> di gondola ini? Seorang petugas lupa memberi pelumas pada roda, menghasilkan gesekan ke kabel baja yang berlebihan, putus, lalu kami terjatuh ke bawah, ditangkap oleh bebatuan. Warna merah kemudian mengalir mengikuti arus.</span></p>
<p>Tapi aku mengusir pikiran goblok itu.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gondola merayap naik, kemudian setelah sampai di puncak kabel, dia turun lagi pelan-pelan seperti seorang kakek yang terserang rematik di seluruh sendirinya.  </span><span style="font-weight: 400;">Angin berhembus pelan. Tapi tak ayal gondola kami goyang. Bajingan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku melongok ke atas. Mendung. Aku membayangkan naik gondola puluhan meter dari bumi kemudian dihantam hujan badai, jelas bikin jeri dan jantung seperti ditarik. Tapi pikiranku justru ke kawasan kemping. </span><span style="font-weight: 400;">Pasalnya: Joseph bercerita soal obsesinya pada kemping. Karena itu, Fuji Rock adalah festival paling menyenangkan baginya, sebab ajang yang sudah diadakan sejak 1997 ini memadukan dua hal paling dia cintai: musik dan kemping.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku <em>invest</em> nang tendo dan pasak. <em>Puenting</em> iku,” kata Joseph.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph lantas berkisah bagaimana dia kerap menghimpun teman-temannya untuk nonton Fuji Rock. Yang diperlukan hanya meeting online satu kali dan menentukan titik ketemu di Tokyo. Joseph biasanya sampai di Tokyo pada Kamis pagi, lalu naik Shinkansen ke Stasiun Echigo-Yuzawa, untuk kemudian nyambung naik bis <em>shuttle</em> ke area Naeba Ski Resort, kawasan yang jadi area Fuji Rock ketika musim panas, dan akan berganti menjadi kawasan ski ketika memasuki musim dingin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Hari Kamis, sehari sebelum Fuji Rock resmi dimulai, area kemping sudah dibuka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di momen itu, Joseph akan mencari lokasi datar –bersaing dengan ribuan orang lain– meletakkan <em>footprint</em> (alas agar bagian bawah tenda tak langsung bersentuhan dengan tanah, berfungsi mencegah dingin atau air tembus ke bagian bawah tenda), memasang tenda-tenda kualitas apik miliknya, memalu pasak hingga dalam dan ajek, dipungkasi dengan memasang <em>flysheet</em> sampai rapi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Joseph, pemain bass Vox yang sering cekakakan, selalu jadi serius ketika bicara tempat tinggal serta kenyamanan selama Fuji Rock. Dia akan jadi komandan bagi kawan-kawan yang dia pimpin, tapi juga tak segan turun tangan ketika ada sesuatu yang terasa kurang pas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mangkane tendoku selalu aman, gak tau </span><i><span style="font-weight: 400;">teles</span></i><span style="font-weight: 400;">,” kata Joseph cengengesan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kalau soal tenda dan kenyamanan Fuji Rock, dia bukan lagi Joseph Sudiro,” kata Aya. “Tapi sudah jadi Joseph Stalin.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cerita Joseph tak ayal bikin aku tambah tercenung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ratusan meter dari Day Dreaming dan Silent Breeze, kawasan puncak yang rata, dingin, berangin, tapi juga syahdu; tempat satu restoran besar, tenda yang menampilkan beberapa pertunjukan seni kecil-kecilan, dua kedai kopi dan kudapan; tempat </span><span style="font-weight: 400;">kami menginjakkan kaki setelah menempuh dua puluh lima menit perjalanan dengan gondola yang menegangkan, tenda kuning kami sudah pasti bergoyang letoy kena angin sepoi.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5690 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-576x1024.jpeg 576w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-169x300.jpeg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-768x1365.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-864x1536.jpeg 864w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-1152x2048.jpeg 1152w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2025/08/IMG_0736-scaled.jpeg 1440w" sizes="(max-width: 576px) 100vw, 576px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aku tak memasang tenda dengan ideal. Maklum, sudah lama tidak. Pasak kupasang sekenanya, asal masuk ke tanah. <em>Flysheet</em> juga dihela dengan ala kadarnya. <em>Footprint</em> jelas tak ada. Bagaimana kalau hujan topan? Hampir bisa dipastikan: dalam sedetik sejak topan lewat, tenda pinjaman dari Muhammad Harmein itu sudah terbang entah ke mana, memuntahkan semua isinya ke tanah –<em>carrier</em>, <em>sleeping bag</em>, matras, dan segala obat-obatan untuk aku yang makin ringkih ini– mungkin bisa sampai ke Echigo Yuzawa dan pasrah disapu untuk kemudian dimusnahkan bersama sampah-sampah jalanan hari itu.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bersambung</span></i><span style="font-weight: 400;">…</span></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/">Catatan dari Fuji Rock 2025 #1</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-fuji-rock-2025-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5685</post-id>	</item>
		<item>
		<title>RIP Akira Toriyama</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/rip-akira-toriyama/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/rip-akira-toriyama/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Mar 2024 08:01:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/rip-akira-toriyama/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam sejarah panjang belanja online, aku hanya mengalami satu kali ditipu. Untuk urusan belanja online, aku memang selalu hati-hati. Belanja di marketplace terpercaya, di medsos pun beli yang meyakinkan, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/rip-akira-toriyama/">RIP Akira Toriyama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam sejarah panjang belanja online, aku hanya mengalami satu kali ditipu.</p>



<p>Untuk urusan belanja online, aku memang selalu hati-hati. Belanja di marketplace terpercaya, di medsos pun beli yang meyakinkan, dan selalu ingat petuah: if it’s too good to be true, it probably fraud. Aku selalu mengamalkan itu semua, dan berhasil membuatku terhindar dari penipuan.</p>



<p>Kecuali hari itu, tanggal 13 Februari 2019, ketika aku tergoda membeli satu set komik Dragon Ball seharga Rp350 ribu di Instagram. Semua pertahananku runtuh ketika melihat satu set komik buatan Akira Toriyama itu.</p>



<p>Aku langsung tanya apa barang masih ada. Dan ketika penjual bilang ada, aku langsung transfer tanpa berpikir panjang. Seperti terhipnotis.</p>



<p>Setelah transfer, tiba-tiba perasaan tak enak. Benar saja, nomorku diblok, begitu pula di akun Instagram. Asuuuu.</p>



<p>Dragon Ball jadi bagian penting dalam hidupku, bahkan sampai sekarang. Mengenalnya pertama via terbitan Rajawali Grafiti, dengan terjemahan ugal-ugalan dan nama karakternya yang diubah sesuka hati. Son Goku jadi Son Wu Kong, Yamucha/ Yamcha jadi Lhok Pin, Ten Shin Han jadi Aizu, Kuririn jadi Kholin, dan yang paling lucu: Burma jadi… Putri.</p>



<p>Cuk 🤣</p>



<p>Ayah lantas tak pernah absen membeli Dragon Ball tiap terbit. Ketika aku operasi amandel, ayah langsung membelikan beberapa jilid sebagai teman pasca operasi. Tapi tentu saja, dengan lekas jilid-jilid itu hilang tiada bekas karena dipinjam tetangga. Berkali-kali aku berusaha mengumpulkan lagi, sebanyak itu juga hilang lagi.</p>



<p>Maka tiap ada kesempatan dan dana, kalau ada yang menjual komik Dragon Ball cetakan lama, aku pasti beli. </p>



<p>Dragon Ball jadi menarik buatku karena bagaimana Toriyama Sensei mengemas karakter dan dunianya. Ia memenuhi imajinasi bocah kecil tentang perjalanan antar galaksi, juga berhasil membuat aku membayangkan punya kekuatan super yang datang dengan latihan dan kerja keras —bukan karena g<em>ift </em>atau garis keturunan, misalkan. </p>



<p>Begitu pula arc yang ada di Dragon Ball. Tiap pembabakan terasa punya kekuatan khas, juga karakter ikonik. Ini lengkap dengan character development yang seringkali menikung tajam. Piccolo, dari monster ambisius dan kejam, bisa menjadi sosok kebapakan bagi Gohan. Atau Bhu dari emotionless monster pelan-pelan jadi sosok penuh empati dan rela mengorbankan diri demi orang yang dikasihi. Dan tentu saja Bezita, rival sekaligus sahabat Go Ku yang setelah beberapa kelokan hidup jadi protagonis yang penuh kejutan.</p>



<p>Aku juga suka bagaimana Toriyama seolah memisahkan problem hidup ketika Go Ku masih kecil, remaja, dan ketika dewasa. Ketika kecil, masalah Go Ku terkesan sepele (walau ini debatable), dan semua kepelikan hidup dan musuhnya menjadi lebih besar dan berbahaya seiring berjalannya waktu.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="768" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2024/03/img_7459-2-1-1024x768.jpg" class="wp-image-5541" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2024/03/img_7459-2-1-1024x768.jpg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2024/03/img_7459-2-1-300x225.jpg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2024/03/img_7459-2-1-768x576.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2024/03/img_7459-2-1-1536x1152.jpg 1536w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2024/03/img_7459-2-1.jpg 2000w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Maka tak salah mengatakan kalau Dragon Ball adalah manga yang bertumbuh dengan baik, dan diakhiri dengan pantas pula (meski banyak orang tak puas dengan akhirnya). </p>



<p>Akira Toriyama berpulang tanggal 1 Maret, dan baru diumumkan pada publik tanggal 8 Maret. Sontak, banyak orang sedih dan mengisahkan betapa karya-karya Toriyama begitu berpengaruh dalam hidup mereka.</p>



<p>Aku juga ingin ikut menulis pendek tentang beliau, sembari membaca ulang Dragon Ball, entah ini sudah keberaparatus kali.</p>



<p>Terima kasih Akira Toriyama atas karyamu yang menemani sepanjang hidup!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/rip-akira-toriyama/">RIP Akira Toriyama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/rip-akira-toriyama/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5539</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menjadikan Hujan Sebagai Bagian dari Festival di Joyland</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/menjadikan-hujan-sebagai-bagian-dari-festival-di-joyland/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/menjadikan-hujan-sebagai-bagian-dari-festival-di-joyland/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Nov 2023 18:05:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5499</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam jumpa pers di sebuah kafe di Senayan, Jakarta Selatan, Mas Herlambang Jaluardi, wartawan Kompas cetak, melempar pertanyaan apik pada Ferry Dermawan, pendiri sekaligus Direktur Program Joyland. Intinya: apa mitigasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/menjadikan-hujan-sebagai-bagian-dari-festival-di-joyland/">Menjadikan Hujan Sebagai Bagian dari Festival di Joyland</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam jumpa pers di sebuah kafe di Senayan, Jakarta Selatan, Mas Herlambang Jaluardi, wartawan Kompas cetak, melempar pertanyaan apik pada Ferry Dermawan, pendiri sekaligus Direktur Program Joyland.</p>



<p>Intinya: apa mitigasi jika terjadi hujan badai seperti tahun lalu?</p>



<p>Mas Lambang menonton Joyland tahun lalu. Dia jadi saksi betapa kencang angin dan hujan yang terjadi, sampai salah satu panggung (atau tenda merchandise?) roboh. Selain itu, Mas Lambang menyebut soal tempat berteduh yang kurang, sehingga membuat banyak penonton harus berdesakan di beberapa booth.</p>



<p>Pertanyaan menarik pasti akan menghasilkan jawaban yang juga asyik.</p>



<p>Ferry, dengan gaya khasnya yang lugas tapi terlihat canggung, menjawab pendek.</p>



<p>“Apa ya mitigasinya? Gak ada. Ya nikmatin aja pertunjukannya?” </p>



<p>Kurang lebih seperti itu jawaban Ferry.</p>



<p>Kenapa pertanyaan dan jawaban ini jadi sama-sama asoy? Karena ini bisa memantik diskusi, dan semua yang memantik diskusi itu bagus buat perkembangan.</p>



<p>Ini perspektifku.</p>



<p>Aku pikir, penonton Joyland harus belajar menjadikan hujan sebagai bagian dari festival. Ini adalah festival musik outdoor yang diadakan di musim hujan, apa yang kamu harapkan?</p>



<p>Jika boleh membandingkan, coba tengok Fuji Rock. Salah satu festival musik outdoor paling masyhur ini sudah sejak lama menjadikan hujan dan badai sebagai identitasnya.</p>



<p>Karena itu, penonton sudah bisa membayangkan apa yang akan mereka temui dan bersiap sedari awal: membawa jas hujan, memasang tenda dengan lapisan anti air, pakai boots/ sandal gunung, hingga memakai pakaian yang praktis dan cepat kering.</p>



<p>Kenapa kita, para penonton, tidak menjadikan Joyland seperti itu?</p>



<p>Aku membayangkan mitigasi yang bisa dilakukan pihak Joyland adalah lebih untuk bagian penyelenggaraan festival. Misal membuat panggung lebih kokoh, dengan atap yang tak membuat alat basah meski hujan angin sekalipun.</p>



<p>Pertanyaan Mas Lambang mungkin dijawab oleh Ferry dan segenap penyelenggara Joyland di bagian itu. </p>



<p>Di hari pertama, pertunjukan David Bayu tetap jalan meski hujan turun. Penonton pun tetap ada di depan panggung, meski sebagian memutuskan berteduh. Kamaal Williams sempat main dua atau tiga lagu sebelum akhirnya berhenti karena hujan makin deras.</p>



<p>Aku juga melihat banyak area yang dibuka untuk berteduh, seperti di stadion dekat smoking area (atau memang tahun-tahun sebelumnya begitu). Kupikir ini jalan tengah yang cukup baik, sih. Mengingat belum semua penonton Joyland siap untuk basah-basahan, belum lagi mereka yang kesehatannya rawan.</p>



<p>Bagaimana mitigasi untuk penonton? Mungkin lebih tepatnya, jika ingin menjadikan hujan sebagai bagian dari pertunjukan, bagaimana mitigasi oleh penonton.</p>



<p>Itu mungkin bisa lebih ke persiapan menonton acara yang kemungkinan besar akan disiram hujan . Mulai dari bawa payung dan jas hujan (ini sudah disarankan oleh penyelenggara sejak jauh-jauh hari), sedia baju ganti, memakai baju yang lekas kering, dan alas kaki yang kedap air dan tak gentar menerjang becek. Boots anti air mungkin cocok. Jangan lupa bawa suplemen anti masuk angin dan minum minuman hangat, dan menghangatkan (IYKWIM).</p>



<p>Oh ya, sama satu lagi PR: mencari jalan tengah bagaimana tetap <em>stylish</em> sekaligus anti badai.</p>



<p>Aku sendiri terinspirasi oleh satu anak kecil yang melintas dengan riang gembira di tengah hujan. Memakai jas hujan, dia <em>keceh-keceh</em> genangan dan tertawa keras. Aku iri sekali dengan keriangan polos ala anak kecil itu, yang menjadikan hujan sebagai alasan untuk bersenang-senang. </p>



<p>Di sebelah saya, Rio Jo Werry dari tadi ngoceh pengen beli kopi tapi enggan melepas sepatu Doc Mart yang ia banggakan betul.</p>



<p>Aku lantas melepas sepatu, memasukkannya ke tas, dan telanjang kaki hingga festival hari pertama selesai. Aku ingin jadi anak kecil tadi.</p>



<p>*<em>ditulis ketika Mew membawakan “Comforting Sounds” sebagai encore. Saya menonton mereka pertama kalinya kemarin. Takjub. Takjub. Takjub</em>.</p>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/menjadikan-hujan-sebagai-bagian-dari-festival-di-joyland/">Menjadikan Hujan Sebagai Bagian dari Festival di Joyland</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/menjadikan-hujan-sebagai-bagian-dari-festival-di-joyland/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5499</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Nov 2023 22:18:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=5476</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seperti yang banyak orang tahu, konser Bring Me the Horizon (BMTH) yang berlangsung di Beach  City International Stadium pada 10 November 2023 berakhir dengan kurang baik. Di tengah set, setelah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/">Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Seperti yang banyak orang tahu, konser Bring Me the Horizon (BMTH) yang berlangsung di Beach  City International Stadium pada 10 November 2023 berakhir dengan kurang baik. Di tengah set, setelah membawakan 11 lagu dan rencananya masih ada delapan lagu lagi, BMTH memutuskan undur diri dari panggung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Promotor bilang bahwa mereka ingin <em>break</em> sejenak. Ternyata, setelah 30 menit, BMTH tak kunjung kembali. Yang hadir malah Ravel Junardy, pendiri Ravel Entertainment, promotor kelas internasional yang punya signature show Hammersonic.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ravel menjelaskan bahwa konser harus selesai lebih cepat, karena BMTH tidak bersedia melanjutkan set. Tanpa ada penjelasan detail, Ravel menyudahi pidatonya dengan kata sederhana: <em>chill</em>. Tenang. Namun apa daya, bujukan itu gagal. Barang-barang mulai melayang ke atas panggung. Puncaknya, massa menyerbu panggung.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pihak Ravel lantas buka suara. Konser yg tadinya dibilang cuma break, tapi katanya ga bisa dilanjutin. Alasannya? Mereka bilang ada masalah di stage. Sampe dua kali kasih klarifikasi dengan alasan yg sama. <a href="https://t.co/AbbVirH1oa">pic.twitter.com/AbbVirH1oa</a></p>
<p>&mdash; Celvin M. Sipahutar (@celvinms7) <a href="https://twitter.com/celvinms7/status/1723032744509255934?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di media sosial, banyak beredar video kejadian itu. Bahkan, ada pula yang mengunggah video kejadian antrean masuk yang kacau, dan orang-orang berhamburan tanpa mengikuti panduan. Ini artinya bibit kekacauan sudah terjadi bahkan jauh sebelum konser mulai.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">nonton DROWN repeat 1 jam!</p>
<p>salah satu knapa skip bmth selain garapan blm cair ya karena kebanyakan fomo doang begini deh jadi nya, tiket mahal kirain pinter eh ternyata gini <a href="https://t.co/5fkvHtwm7B">pic.twitter.com/5fkvHtwm7B</a></p>
<p>&mdash; kesayanganmu 🫠 (@luckytsar) <a href="https://twitter.com/luckytsar/status/1723010105208136084?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inti tulisan ini hanya catatan sporadis dari pikiran yang sekelebat, bukan sebagai analisis utuh yang bersifat ilmiah. Tujuan utama tulisan ini dibuat adalah sebagai arsip yang kelak akan saya pakai untuk buku saya soal festival dan event musik (buset gak selesai-selesai, bhaaang), juga agar pikiran saya segera kosong dan bisa tidur. Kalau ada salah kronologis, atau ada kalimat yang kurang tepat, saya dengan senang hati akan menerima koreksi.</span></p>
<p>Saya juga menulis ini bukan bermaksud ingin menyalahkan pihak tertentu, apalagi sok menggurui.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Postingan ini diketik mulai pukul 02.30 dini hari, dan tim Fantasy Premier League saya dapat 72 poin. Pemain terbaik adalah kapten saya, Mo Salah, 26 poin, belum dihitung bonus poin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<h3><b>Teori yang Patah atau Anomali?</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu teori yang jadi “pegangan” banyak pembuat event di Indonesia adalah: harga tiket akan menjadi titik seleksi awal penonton. Dengan kata lain, semakin mahal harga tiket, maka penonton yang datang akan semakin terseleksi, dianggap lebih <em>well behaved</em> (karena berkaitan dengan tingkat pendapatan, pendidikan, dll), dan karenanya event akan berjalan lebih lancar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di atas kertas, ini sekilas masuk akal (walaupun </span><i><span style="font-weight: 400;">classist</span></i><span style="font-weight: 400;"> banget, alias ada bias kelas atas teori ini).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang mau membeli tiket mahal (tentu kategori mahal ini bisa dibahas lebih lanjut, misal definisi mahal ini berapa persen dari pendapatan seseorang, dll), motivasi utamanya adalah menonton pertunjukan musik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang sering dijadikan antitesanya tentu pertunjukan gratis. Seringnya di konser gratis, atau malah selalu, akan ada perkelahian di sana-sini. Di Instagram, bahkan ada beberapa akun (saya juga follow mereka) yang khusus mendokumentasikan perkelahian dan tawuran di acara dangdut gratisan. Intinya, penonton event gratisan punya lebih banyak motivasi, tak hanya bersenang-senang menikmati musik, tapi juga, salah satunya, mencari keributan.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">(Catatan, soal motivasi penonton dalam menonton konser/ festival musik bisa merujuk, di antaranya, Pitts, S.E (2014), Alicia Kulczynski dkk (2016), Alysa Eve Brown (2019), juga Lily-Ann Perrin (2020). Sedangkan soal demografi penonton salah satunya bisa baca paper Steve Oakes (2003)).</span></em></p>
<p>Pemisahan penonton ini bahkan bisa terbawa ke ranah genre dan imejnya. <span style="font-weight: 400;">Misal penonton jazz dan opera/ musik klasik, akan dianggap lebih “kalem”, “teratur”, dll. Sedangkan penonton musik metal, dangdut, relatif berisiko lebih tinggi. T</span><span style="font-weight: 400;">api bahasan ini lebih baik dibahas di tulisan yang lain lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Intinya: musik menyatukan, harga tiket (dan genre) yang memisahkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu, di setiap teori akan selalu ada anomali. Ada event musik gratisan yang berjalan tertib dan selalu bebas dari kericuhan, misal Ngayogjazz. Beberapa acara musik yang diadakan di seputaran Blok M juga tak pernah ada masalah berarti, meski gratis. Baru kemarin, Joyland membuat acara road to di Taman Martha Tiahahu, gratis. Semua lancar dan sama sekali tak ada kericuhan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, anomali untuk tiket mahal tapi ricuh ini ya terjadi di kasus BMTH. Bahkan kericuhan yang terjadi benar-benar di luar ekspektasi: penonton sampai naik ke atas panggung. Beberapa video sempat melahirkan asumsi adanya vandalisme terhadap alat-alat musik BMTH –walau ternyata tidak terbukti, alat aman. Tapi rasa-rasanya dalam dua dekade terakhir, tak banyak konser musik yang melahirkan kemarahan penonton hingga berani naik ke atas panggung (kerusuhan Musikologi 2019 mungkin mirip-mirip kadarnya).</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">disappointed in the fans&#8230; <a href="https://t.co/zL2vFMkWCX">pic.twitter.com/zL2vFMkWCX</a></p>
<p>&mdash; -. .- … 🗝 (@CUTMYLIPBKLYN) <a href="https://twitter.com/CUTMYLIPBKLYN/status/1723056254719775109?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">&#8212; A THREAD &#8212;</p>
<p>KLARIFIKASI Stand Mic Oliver Sykes &quot;di curi&quot;</p>
<p>Saya pemilik dari akun instagram <a href="https://twitter.com/hi?ref_src=twsrc%5Etfw">@hi</a>.kal20 atau Pasla Haikal Pirgiawan</p>
<p>Disini saya akan menjelaskan kejadian yang sebenar nya dan beberapa bukti bukti dari apa yang akan saya ucapkan <a href="https://t.co/C0S8l5oZAK">pic.twitter.com/C0S8l5oZAK</a></p>
<p>&mdash; Pasla Haikal Pirgiawan (@Hi_kal20) <a href="https://twitter.com/Hi_kal20/status/1723327156762325183?ref_src=twsrc%5Etfw">November 11, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu, apakah tiket konser BMTH ini bisa dibilang mahal? Lagi-lagi, perlu ada bahasan khusus terkait definisi harga mahal ini ada di rentang berapa.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari info yang beredar, harga tiket termurah konser ini adalah Rp1.250.000, dan yang termahal Rp2.750.000. Bagi orang yang punya pendapatan Rp5 juta per bulan, ini artinya harga tiket termurah sama dengan 25 persen pendapatan. Mahal? Bisa jadi. Kenapa begitu? Karena biaya cicilan KPR saja biasanya maksimal 30 persen dari pendapatan. Kementerian Keuangan juga pernah memberikan tips mengatur keuangan, dan 30 persen biasanya adalah alokasi untuk cicilan (rumah/kendaraan dsb).</span></p>
<p>Oke, itu intermezzo.</p>
<p>Selain itu, untuk kelas konser tunggal band rock/ metal, harga tiket BMTH termasuk tinggi.<span style="font-weight: 400;"> Saya iseng mengingat siapa saja band rock/metal yang konser tunggal di Indonesia, coba cari tiket kelas termurahnya, lalu bikin perbandingan sederhana. Hasilnya kira-kira seperti ini:</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5480 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-1024x626.png" alt="" width="790" height="483" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-1024x626.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-300x183.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1-768x469.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/sO13H-harga-tiket-kelas-termurah-1.png 1240w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Harga tiket termurah konser BMTH adalah termahal ketiga dari daftar di atas. </span><span style="font-weight: 400;">Ada tambahan siapa lagi band rock/ metal yang konser tunggal di Indonesia sepanjang 2023 ini?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaannya, kericuhan di konser BMTH ini adalah patahnya teori soal harga tiket, atau ini anomali belaka? Jawabannya tentu harus dicari lebih lanjut. Yang jelas, ada banyak <em>insight</em> menarik yang bermunculan di media sosial soal kericuhan ini. Yang saya tangkap dari percakapan di medsos, juga dengan obrolan bersama beberapa kawan, antara lain:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Pengaruh usia. Penonton lebih muda punya energi lebih besar, termasuk energi kemarahan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">FOMO: katanya, lagu-lagu BMTH yang populer di kalangan Gen Z belum sempat dibawakan, dan ini bikin banyak penonton usia muda jadi ngamuk.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Paylater. Sistem pembayaran ini membuat orang lebih mudah beli tiket. Artinya, ada kemungkinan teori harga tiket mahal dan seleksi awal penonton jadi tak berlaku lagi, karena semua orang bisa membeli tiket dengan cara nyicil. Ini juga membawa dampak lumayan ngeri, sih, karena sistemnya nonton dulu bayar belakangan, bikin orang ada kemungkinan terjerat utang.</span></li>
</ol>
<h3><b>Kekurangan Promotor</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ravel Entertainment bukan promotor kacangan, bukan juga kemarin sore. Mereka salah satu promotor kelas internasional di Indonesia, dan jadi bagian <em>Magnificent Seven</em> pendiri Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI). Bahkan tahun ini mereka berhasil mengadakan festival metal internasional Hammersonic dan mengundang Slipknot ke Indonesia untuk pertama kalinya.</span></p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia.png"><img loading="lazy" class="size-large wp-image-5481 aligncenter" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-1024x809.png" alt="" width="790" height="624" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-1024x809.png 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-300x237.png 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia-768x607.png 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/11/V8VOz-pendiri-asosiasi-promotor-musik-indonesia.png 1240w" sizes="(max-width: 790px) 100vw, 790px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaannya, jika bisa mengadakan Hammersonic yang secara skala dan jumlah penampil lebih banyak dan karenanya jauh lebih kompleks ketimbang konser tunggal, kenapa BMTH bisa ricuh dan berhenti di tengah jalan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang bisa menjawab secara pasti hanya Ravel Entertainment. Sampai ketika tulisan ini dibuat, setahu saya Ravel belum memberikan penjelasan detail selain postingan klarifikasi di IG mereka dan soal <em>refund</em>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya coba merangkum beberapa percakapan yang saya baca di media sosial. Sekali lagi, tak ada maksud menuding dan menimpakan kesalahan sepenuhnya pada Ravel Entertainment.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya (dan juga banyak orang) melihat ada satu kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, dan jika ini bisa dilakukan maka hasilnya akan berbeda pula: p</span><span style="font-weight: 400;">enjelasan detail ke para penonton.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika mendengar pidato Ravel, rasanya banyak orang sepakat kalau dia cenderung “meremehkan” dan menganggap enteng dampak berhentinya BMTH di tengah set. Dua kali dia muncul ke atas panggung, dua kali memberikan penjelasan, dan dua kali pula penonton merasa tak ada penjelasan yang memuaskan. Ravel dianggap lebih fokus meminta penonton untuk bubar.</span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pihak Ravel lantas buka suara. Konser yg tadinya dibilang cuma break, tapi katanya ga bisa dilanjutin. Alasannya? Mereka bilang ada masalah di stage. Sampe dua kali kasih klarifikasi dengan alasan yg sama. <a href="https://t.co/AbbVirH1oa">pic.twitter.com/AbbVirH1oa</a></p>
<p>&mdash; Celvin M. Sipahutar (@celvinms7) <a href="https://twitter.com/celvinms7/status/1723032744509255934?ref_src=twsrc%5Etfw">November 10, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal penonton pasti ingin penjelasan detail: apa yang sedang terjadi? Kenapa konser berhenti? Terus penonton harus bagaimana? Apakah akan ada <em>refund</em> atau ganti rugi? Dan sebagainya. Ini yang sayangnya luput dilakukan oleh Ravel.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun di satu sisi, saya juga memaklumi betapa besar tekanan yang dialami oleh Ravel. Tekanan seringkali membuat manusia tak bisa bertindak seperti yang direncanakan. Saya membayangkan Ravel sudah merancang penjelasan sebaik mungkin, tapi semua bubar ketika dihadapkan dengan ribuan penonton yang ngamuk dan melempar barang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai pembelajaran (ceile pembelajaran), ada dua hal yang saya tangkap dari omelan penonton terkait jalannya konser BMTH:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;">Mereka merasa panitia dan tenaga keamanan cenderung tidak proporsional dibanding dengan jumlah penonton. Petugas kewalahan membendung para penonton dan akhirnya hanya bisa pasrah. Hal ini bisa dilihat di setidaknya dua kejadian: antrean masuk yang amburadul, dan penonton yang merangsek ke atas panggung.</span></li>
<li>Keamanan venue. BMTH merasa panggung bergetar dan dianggap tak aman. Saya pernah dua kali menonton konser di tempat yang sama, pertama konser Guns N Roses (2012), dan Arctic Monkeys (2023). Secara keseluruhan, venue Beach City ini rasanya kurang pas, baik dari segi lokasi maupun dari segi keamanan kerumunan. Gedungnya bertingkat, dengan lorong yang relatif sempit, bikin ngeri kalau bubaran konser. Waktu konser GNR dan AM pun, saya merasakan getaran yang cukup bikin gentar.</li>
</ol>
<p>Tambahan dari Mas Wendi Putranto, venue ini pernah ditutup oleh Ahok pada 2014 karena beberapa penyebab. Jika <a href="https://www.medcom.id/nasional/metro/0kpeLr6K-alasan-ini-yang-bikin-meis-ancol-ditutup">dibaca lagi</a>, alasannya lebih banyak terkait sengketa kontrak dan permasalahan pendapatan. Terima kasih buat seorang teman yang memberi masukan terkait penutupan Beach City International Stadium (dulu MEIS) INI.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Gak tahu pastinya. Mungkin kondisi venue yang gak layak untuk crowd sebanyak itu dan gerak semua, pas tengah konser pihak manajemen BMTH merasa gak safe buat penonton dan terpaksa berhentiin shownya, daripada tragedi. Jangan lupa, venue ini tahun 2014 pernah ditutup sama Ahok. <a href="https://t.co/NNAQqhJRsx">https://t.co/NNAQqhJRsx</a></p>
<p>&mdash; Wendi Putranto 🇵🇸 (@wenzrawk) <a href="https://twitter.com/wenzrawk/status/1723225308613292521?ref_src=twsrc%5Etfw">November 11, 2023</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<h3><b>Penonton Norak</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Manusia punya emosi, semua sepakat. Konser BMTH berhenti di tengah jalan bikin ngamuk dan marah, semua setuju. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun menyerbu naik ke atas panggung, itu tak bisa, dan tak boleh, dibenarkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada alasan kenapa panggung itu harus steril dari mereka yang tak berkepentingan. Dari segi keamanan, salah satunya. Tentu sudah ada hitungan berapa beban maksimal yang bisa ditanggung sebuah panggung. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misal, katakanlah, panggung kuat menampung beban hingga 700 kilogram. Lalu tiba-tiba datang puluhan orang yang membawa beban tambahan ke atas panggung, siapa yang bisa menjamin tak ada kecelakaan? Kalau panggung ambruk, penonton jatuh dan terluka, alat-alat rusak, kerugian pasti jadi lebih besar, baik buat penonton maupun penyelenggara acara.</span></p>
<p><iframe loading="lazy" title="VIRAL ! Asik Goyang Berdesakan Sampai Panggung Roboh di Tebidah, Sintang" width="790" height="444" src="https://www.youtube.com/embed/LdCdEflrgAo?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan lain kenapa menyerbu panggung itu tak boleh dibenarkan: ini bisa berbuntut panjang. Mulai dari kemungkinan properti panggung atau alat yang hilang, kerusakan properti dan barang, juga dampak terhadap keberlangsungan event musik di masa depan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Belum lagi, dalam kasus BMTH ini, penyerbuan ke atas panggung ini menunjukkan ego sesaat, <em>kardi</em> (<em>karepa dibhik</em>, alias mau menang sendiri) dan tak memikirkan penonton di hari kedua. Padahal, mari berandai-andai, jika tak ada kasus penyerbuan, bisa saja ada perbaikan masalah teknis dan konser hari kedua bisa terselenggara dengan baik.</span></p>
<p>Sayangnya nasi sudah jadi bubur, mau tak mau ya harus ditelan saja.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Konser BMTH yang sayangnya berjalan dengan tidak baik, menyisakan banyak <em>what if</em> dan pertanyaan. Salah satu pertanyaan terpenting: seperti apa efek kegagalan ini, termasuk efek penyerbuan penonton ke atas panggung, terhadap masa depan event musik internasional di Indonesia?</p>
<p>Sampai saat ini tak ada yang bisa menjawab pasti. Semua baru bisa menerka dan menduga. Jawabannya mungkin bisa ditanya ke para promotor yang akan mengadakan event musik internasional di tahun depan. Saya sih berharap semoga efeknya tak besar, tak ada ketakutan untuk manggung di Indonesia. Terdengar naif, memang. Namanya juga berharap.</p>
<p>Namun kalau boleh memberi catatan, kegagalan konser ini memberikan banyak pelajaran.</p>
<p>Promotor harus terus rendah hati, senantiasa mau belajar, dan meningkatkan kapasitas diri dan organisasi dalam membuat event. Ravel Entertainment memang nama besar di dunia showbiz Indonesia, tapi bukan berarti mereka tak bisa melakukan kesalahan. Saya berharap kejadian ini bisa membuat mereka melongok sebentar ke belakang, evaluasi, kembali dengan manajemen event yang jauh lebih baik, dan menghadirkan kembali festival dan konser berkualitas.</p>
<p>Untuk penonton event musik, termasuk saya, kita semua harus belajar menahan diri dan menyampaikan keluhan atau kekesalan dengan cara yang tidak merusak dan melanggar hukum. Merusak itu sama sekali tidak memberikan jalan keluar, malah bikin masalah baru. Omelan di medsos saya pikir salah satu saluran penyampaian kekesalan yang pas dan punya dampak.</p>
<p>Memang semua akan terasa sulit, namanya juga belajar. Saya saja sekarang mau tidur kerasa sulit, makanya nulis biar ngantuk. Apalagi belajar rendah hati dan menahan diri, pasti lebih sukar. Namun demi masa depan event musik yang lebih baik di Indonesia, ini harus diupayakan (juga perizinan satu pintu, sertifikasi promotor, sertifikasi event and safety management, dll, alias banyak banget yang harus ditingkatkan).</p>
<p>Sekarang jam 5 pagi, ternyata tulisan ini jadi lebih panjang ketimbang yang saya rencanakan. Tulisan ini belum sempat saya baca dan sunting, jadi kalau ada salah-salah harap dimaafkan. Nanti kalau bangun akan coba saya baca ulang dan sunting seperlunya.</p>
<p>Ciao!</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/">Catatan dari Menyimak Kegagalan Konser BMTH</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/catatan-dari-menyimak-kegagalan-konser-bmth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">5476</post-id>	</item>
		<item>
		<title>39</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/39/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/39/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2023 20:01:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/?p=4961</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Ayo ke Korea.&#8221; Aku bengong. Ke Korea? Ngapain? Aku tahu belakangan ini dia lagi gandrung serial Korea. Dia punya satu grup WA dengan seorang kawan baiknya, gambar profile picture grup [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/39/">39</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ayo ke Korea.&#8221;</p>
<p>Aku bengong. Ke Korea? Ngapain? Aku tahu belakangan ini dia lagi gandrung serial Korea. Dia punya satu grup WA dengan seorang kawan baiknya, gambar <em>profile picture</em> grup ini adalah seorang aktor Korea yang aku tak tahu namanya. <em>Vibe</em> bapak paruh baya yang kalem dan ganteng gitu. Dia bahkan memutuskan beli tiket konser Blackpink, Maret 2023.</p>
<p>Namun bukan itu semua yang membuatnya ingin ke Korea.</p>
<p>&#8220;Aku baca, pemerintah <a href="https://fortune.com/2022/12/09/south-korea-officially-making-everyone-year-or-two-younger-starting-june-2023/">Korea bikin kebijakan buat mengurangi umur warganya, setahun lebih muda</a>,&#8221; ujarnya saat kami sedang mencari makan.</p>
<p>Aku terkekeh.</p>
<p>Kenapa dia, dan banyak temanku, suka sekali dengan usia muda? Apa salahnya jadi tua, sih?</p>
<p>Dia bicara ihwal pemerintah Korea dan kemudaan sehari sebelum dia berulang tahun. Usianya akan jadi 39. Terpaut sekitar 3 tahun, 11 bulan, 17 hari denganku, kalau aku tak salah hitung. Ia selalu menekankan bahwa usia kami beda tiga tahun. Iya, tiga tahun, bukan empat tahun, kok. Aku selalu menghiburnya seperti itu. Padahal apa masalahnya sih lebih tua ketimbang pasanganmu?</p>
<p>Aku selalu suka perempuan yang berada di fase lewat 30 tahun. Bagiku, ini adalah usia perempuan yang matang, dan akan lebih matang seiring waktu. Di fase ini, berdasarkan pengalamanku menjalani hubungan sejak usianya 28 tahun (dan aku lebih muda 3 tahun, 11 bulan, dan 17 hari darinya), dia sudah lebih tenang, kalem, dan perlahan tahu apa yang dia mau.</p>
<p>Hubungan kami tak mulus, tentu saja. Di usia 28 itu, hidupnya seperti digelayuti awan gelap dari masa lalu. Awan yang sudah mengikutinya seperti bayangan sejak bertahun lampau itu berpengaruh besar dalam caranya menjalani hubungan. Termasuk denganku. Kadang, kalau kami sedang menengok ke belakang, kami takjub juga bagaimana kami bisa bertahan sampai sejauh ini.</p>
<p>Dua tahun kemudian, kami menikah. Usianya 30 lebih beberapa bulan. Entah pengaruh umur atau karena awan gelapnya sudah perlahan hilang, dia jadi lebih kalem. Hubungan kami tak lagi seperti roller coaster, melainkan jadi seperti kereta lori yang jalan perlahan, tak perlu ketergesaan, di jalur yang rata dan mendatar.</p>
<p>&#8220;Hidup sama kamu itu kalo dipikir-pikir datar banget, ya,&#8221; ujarnya suatu ketika.</p>
<p>Aku menganggap itu pujian, mengingat betapa berantakan cerita tentang masa lalunya.</p>
<p>Di usia 30, dia juga sudah tahu apa yang dia mau. Dia bekerja keras untuk itu. Kadang kami bertengkar karena perbedaan cara kami memandang tujuan. Aku berpikir hidup yang berarti dan layak dijalani itu adalah kerja sedikit, banyak mainnya. Dia sebaliknya. Sangat ingin pekerjaannya selesai dengan cepat, untuk kemudian disiram pekerjaan lain (yang akan dikerjakannya dengan lekas, dan tentu punya dampak besar pada kesehatannya, baik fisik maupun mental).</p>
<p>Belakangan, setelah melewati banyak debat dan pertengkaran, aku menyadari bahwa dia yang memilih jalan itu dengan sadar dan penuh pertimbangan. Lagipula, kan memang aku yang sejak awal sudah memutuskan akan menemaninya dan &#8220;&#8230;be here standing until the bitter end.&#8221;</p>
<p>Usia kami merambat naik dengan melewati banyak hal bersama. Juga tak melewatinya bersama, alias menjalani momen kami sendiri-sendiri. Tak apa. Kami tak harus bersama setiap saat, dan memang seharusnya seperti itu kan? Aku percaya padanya, dan dia percaya padaku. Dalam beberapa masa, kami merasa perlu menjalani hidup masing-masing, merdeka melakoni kesukaan dan kegemaran yang berbeda, serta nongkrong dengan teman-teman berbeda pula. Itu jarak yang kupikir amat perlu. Membiarkan kami menjalani hidup seperti ketika belum saling kenal.</p>
<p>Suatu waktu, dia mengirimiku tautan di Twitter. Isinya sebuah utas singkat tentang hubungan gitu, lah. Dan tanpa disangka, dia mengirimi pesan yang bikin aku senyum-senyum macam bocah SMA lagi jatuh cinta.</p>
<p><a href="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/01/Screenshot_2023-01-09-02-21-42-990_com.whatsapp-01.jpeg"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-4962 size-medium" src="http://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/01/Screenshot_2023-01-09-02-21-42-990_com.whatsapp-01-245x300.jpeg" alt="" width="245" height="300" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/01/Screenshot_2023-01-09-02-21-42-990_com.whatsapp-01-245x300.jpeg 245w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/01/Screenshot_2023-01-09-02-21-42-990_com.whatsapp-01-837x1024.jpeg 837w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/01/Screenshot_2023-01-09-02-21-42-990_com.whatsapp-01-768x939.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2023/01/Screenshot_2023-01-09-02-21-42-990_com.whatsapp-01.jpeg 902w" sizes="(max-width: 245px) 100vw, 245px" /></a></p>
<p>Aku selalu bilang padanya kalau usianya yang semakin beranjak tidak akan mengubah apapun penilaianku terhadapnya. Usia bertambah hanya akan menambah pesonanya. Yaaa, paling tidak buatku ya, yang memang sejak dulu menyukai perempuan usia 30 ke atas. <em>Pure mature (</em><em>if you know, you know</em>). Maka di mataku dia punya daya pikat yang berbeda ketika kami pertama kenal di usia 20-an. Di usianya sekarang, walau dia masih suka bermanja-manja dan amat menggantungkan diri padaku (terutama soal makan), dia adalah perempuan yang matang. Dia punya keanggunan alamiah, sekaligus menguarkan aura ketangguhan yang lahir berkat tempaan waktu.</p>
<p>Dan semakin usianya bertambah, aku yakin kematangan itu akan bertambah pula. <em>Aged like fine wine</em>.</p>
<p>Setelah menulis sampai sini dan membacanya ulang, aku merasa tulisan ini lebih cocok sebagai tulisan untuk ulang tahun pernikahan, ya? Tapi tak apa lah, lanjut saja.</p>
<p>Akhir tahun lalu, aku mengambil keputusan penting dalam hidup sejak tujuh tahun terakhir. Awalnya aku ragu, tapi satu dan lain hal membuatku yakin untuk mengambil keputusan ini. Sebenarnya keputusan sudah kuketok di dalam hati, tapi aku merasa wajib memberi tahunya soal keputusan ini, disertai argumen-argumen kenapa aku mengambil langkah ini.</p>
<p>Aku sudah menduga dia akan setuju, walau mungkin akan mempertanyankan alasanku. Ternyata aku salah.</p>
<p>Dia setuju, tanpa mempertanyakan alasanku.</p>
<p>&#8220;Kamu gak pernah bersikap seperti ini. Kalau sekarang kamu seperti ini, maka alasanmu sudah pasti kuat,&#8221; katanya lewat pesan pendek.</p>
<p>Kami sedang terpisah jarak seribuan kilometer. Bateraiku sekarat, tinggal 1 persen, tapi pesan pendeknya membuatku yakin.</p>
<p>&#8220;Gasss!&#8221; katanya memberi semangat.</p>
<p>Dia sudah bukan perempuan usia 28 tahun, seperti saat kami bertemu sebelas tahun silam. Dia sekarang berusia 39, kokoh seperti karang, dan teguh seperti pohon beringin. Kekuatannya menopangku saat sedang doyong dan limbung. Ia sering mengeluhkan lemak di lengan, yang selalu kubalas bahwa lemak itu bikin semua tambah lezat.</p>
<p>Tahun depan usianya 40, dan aku masih akan lebih muda 3 tahun, 11 bulan, dan 17 hari. Aku tak tahu sampai kapan kami sanggup hidup bersama. Karena seperti kata Andy Liany: hanya waktu yang bisa jawab semua itu, sampai kapan? Aku tak tahu.</p>
<p>Meski aku mengamini petuah Om Andy itu, aku selalu berharap, kami masih akan saling menyayangi, mengasihi, melengkapi, dan menemani, sampai nanti, sampai usia kami berhenti: entah dia yang makin jauh lebih tua daripadaku, atau usia kami jadi sama dan aku lebih tua darinya.</p>
<p>Selamat ulang tahun ke 39, Ran. Ayo menua dan bersenang-senang bersama.</p>
<p><em>P.S: Tak usah ke Korea, ya, jauh, mending ke Krukut, makan ikan bakar Sulawesi dan soto Betawi Bang Yadih. Dekat, enak, murah.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/39/">39</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/39/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4961</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bodoh</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/bodoh/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/bodoh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2022 17:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/bodoh/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Karakter fiktif yang selalu bikin aku selalu ngikik adalah Thomson dan Thompson, duo detektif inkompeten &#8211;aku lebih suka menyebut mereka bodoh&#8211; dalam komik Tintin. Aku tak pernah menyangka kalau bisa [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/bodoh/">Bodoh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Karakter fiktif yang selalu bikin aku selalu ngikik adalah Thomson dan Thompson, duo detektif inkompeten &#8211;aku lebih suka menyebut mereka bodoh&#8211; dalam komik Tintin.</p>



<p>Aku tak pernah menyangka kalau bisa ketemu dengan karakter non fiksi yang sedikit banyak mirip duo Thom itu. </p>



<p>Perkenalkan, Rio Tantomo dan Rio Jo Werry.</p>



<p>Aku memanggil mereka Rio 1 dan Rio 2. Kadang Bodoh 1 dan Bodoh 2.</p>



<p>Bodoh 1, alias Tantomo, sudah lama dikenal di dunia jurnalisme, terutama jurnalisme musik. Dia pernah kerja di majalah Trax, MRA, dan jadi kontributor berbagai media sejak 2008/ 2009 silam. Bayangkan, aku masih kuliah si Sarjana Hukum ini sudah jadi wartawan.</p>



<p>Bodoh 2 lebih muda. Dulu bercita-cita mengubah dunia pakai tulisan. Sekarang dia bilang cita-cita itu bodoh. Dia gak sadar kalau masih bodoh sampai sekarang. Kadang dia menyesal jadi wartawan, susah sejahtera katanya. Padahal dulu Ibunya menyuruhnya jadi akuntan. Itulah nasib Malin Kundang modern.</p>



<p>Bodoh yang kupakai untuk mereka kadang harfiah, kadang kiasan. Sebab, meski mereka tak sedungu Thom bersaudara, kelakuannya kadang-kadang bikin aku ngakak.</p>



<p>Tantomo, misalkan. Kapan hari keluar bareng aku, dan kami parkir di sebuah gedung di Sudirman. Melihat gedung yang lagi dibangun, tiba-tiba saja dia nyeletuk, &#8220;Busettt, pembangunan.&#8221;</p>



<p>Wkwkwk. Dia bilang itu dengan nada kagum seperti orang yang baru pertama datang ke Jakarta. Padahal dia dari lahir sampai sekarang, ya ada di Jakarta.</p>



<p>Nasib membawa kami berteman. Kami sepertinya cocok dalam hal melakukan banyak kebodohan, dan kesediaan menertawakan ini dan itu, terutama yang paling sepele.</p>



<p>Kemarin aku jadi ikutan bodoh kayak mereka.</p>



<p>Jadi Bodoh 1 kapan hari kasih kabar: IFI, lembaga kebudayaan Prancis &#8211; Indonesia akan bagi-bagi buku. Gratis, diambil di perpustakaan mereka.</p>



<p>&#8220;Let&#8217;s go kawan, kita gerogoti perpustakaan IFI,&#8221; kata Bodoh 1.</p>



<p>&#8220;Yuk lah!&#8221; sahut Bodoh 2.</p>



<p>&#8220;Jangan disebar lagi lah nih berita biar gak banyak saingan,&#8221; ujar Bodoh 1.</p>



<p>&#8220;Leeee, lihat leee, sifat Chairil-nya muncul Leeee,&#8221; kata Bodoh 2 ke aku yang cuma ketawa-ketawa saja.</p>



<p>Singkat kata, baru dua hari kemudian kami berangkat ke sana. Aku jemput Tantomo, dan Jo Werry naik motor dari kantornya.</p>



<p>Sebenarnya sebelum berangkat aku sudah agak curiga. Perpustakaan Prancis seharusnya banyak berisi buku-buku Bahasa Prancis, kan? Sebab aku pernah main ke Goethe Institute, dan isinya ya 95 persen buku Bahasa Jerman. Tapi agar tak mematahkan semangat Chairil Muda itu, aku diam saja.</p>



<p>Kami masuk IFI, dan ditunjukkan perpustakaan di lantai 2. Di luar, hujan mulai turun rintik. Kami khawatir Jo Werry yang sudah di jalan akan kehujanan. Tapi biar lah.</p>



<p>Ketika sampai di perpustakaannya, ada beberapa orang yang lagi belajar Bahasa Prancis. Firasatku memburuk. Bodoh 1 menuju meja informasi, bertanya di mana buku yang dibagikan gratis. Resepsionis perpustakaan menunjuk bagian kanan kami.</p>



<p>&#8220;Yang ada di meja itu ya, Mas.&#8221;</p>



<p>Kami jalan ke sana, dan melihat meja yang dibentuk melingkar. Di atasnya ada beberapa buku, tabloid, dan majalah.</p>



<p>Semuanya tentu saja&#8230;</p>



<p>Berbahasa Prancis.</p>



<p>Cuk. Sudah kuduga, batinku.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="577" height="1024" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-577x1024.jpg" alt="" class="wp-image-4875" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-577x1024.jpg 577w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-169x300.jpg 169w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-768x1364.jpg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-865x1536.jpg 865w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-1153x2048.jpg 1153w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/11/img_20221123_14340362264913245938643-scaled.jpg 1442w" sizes="(max-width: 577px) 100vw, 577px" /></figure>



<p>Aku resmi menjadi Si Bodoh 3. Kami berdua tertawa-tawa mengutuki kepolosan dan keserakahan kami.</p>



<p>&#8220;Jo Werry gimana nih, perlu kita kasih tahu gak kalau buku-bukunya Bahasa Prancis?&#8221; tanyaku.&#8221;</p>



<p>&#8220;Gak usah, lah. Bilang aja bukunya bagus-bagus.&#8221;</p>



<p>Dan di luar hujan makin deras.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/bodoh/">Bodoh</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/bodoh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4877</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Amatir</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/amatir/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/amatir/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2022 20:30:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/amatir/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejak sekira enam bulan lalu, aku mulai mendata nama-nama festival musik di Indonesia. Ini adalah bagian dari penulisan buku soal festival musik yang kurencanakan bisa terbit tahun depan. Dari data [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/amatir/">Amatir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak sekira enam bulan lalu, aku mulai mendata nama-nama festival musik di Indonesia. Ini adalah bagian dari penulisan buku soal festival musik yang kurencanakan bisa terbit tahun depan.</p>



<p>Dari data yang kukumpulkan pelan-pelan dan terus menerus kuperbarui, aku cukup kaget juga: hingga per November, ada lebih dari 40 festival musik di Indonesia. Tentu ada beberapa catatan, semisal penggunaan festival yang seringkali serampangan (seperti Colour Music Fest di Karawang yang lebih cocok disebut konser). </p>



<p>Perkara definisi festival, dan bedanya dengan konser, adalah sesuatu yang bisa jadi topik obrolan lain kali.</p>



<p>Sekarang aku cuma ingin mencatat dua hal soal festival musik di Indonesia. Ini adalah catatan yang dibuat di ponsel, dengan tujuan mengeluarkan isi kepala, dan belum melewati proses editing. Jadi harap maklum kalau tulisannya terasa seperti omelan, kurang runut, atau ada satu dua salah ketik/ eja. </p>



<p>1. <strong>GELEMBUNG</strong></p>



<p>Sekarang Indonesia sedang masuk dalam tahap awal gelembung festival musik. Jumlah festival adalah salah satu indikator. Rasanya belum pernah ada tahun yang begitu ramai festival musik seperti 2022.</p>



<p>Apakah gelembung ini berbahaya? Seperti namanya, ia akan terus membesar, tapi sulit menduga kapan ia akan meletus. Satu yang pasti: meletus adalah keniscayaan bagi gelembung.</p>



<p>Tapi biasanya akan muncul gejala-gejala awal ketika akan meletus, sama seperti yang terjadi di gelembung properti. Kapan gelembung festival musik akan meletus? Entah. </p>



<p>Efek dari gelembung ini, banyak promotor dan EO menganggap bikin festival adalah bisnis yang semata menguntungkan. Mereka sama seperti orang yang ikutan di awal gelembung properti: menganggap properti adalah investasi, menguntungkan, tak ada ruginya, bla bla bla.</p>



<p>Secara kasat mata, bisnis bikin festival musik memang menggiurkan. Sekarang, ada kelompok besar di Indonesia, didominasi mereka yang berusia 17-40an, yang menganggap nonton festival atau konser musik sebagai kebutuhan sekunder, bahkan primer. Ia sudah beranjak dari kebutuhan tersier. Kelompok ini, terutama yang sudah bekerja atau mapan, jelas tak segan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tiket event musik.</p>



<p>Dalam pandangan promotor, ini adalah pangsa pasar yang harus digarap. Tak salah, memang. Sayangnya, membuat festival musik tak semudah itu. </p>



<p>Bisnis festival musik, sama seperti kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dalam satu tempat, adalah jenis bisnis berisiko tinggi. Salah-salah nyawa bisa melayang. Dan ini sudah pernah terjadi sebelumnya.</p>



<p>Maka, yang sekarang perlu disebarkan ke promotor atau khalayak yang ingin jadi promotor: bikin festival musik yang baik dan benar serta aman dan nyaman itu ultra sulit, rumit, dan jelas tak selalu menguntungkan.</p>



<p>Jadi jangan gampang tergiur!</p>



<p>2. <strong>AMATIR</strong></p>



<p>Promotor yang tergiur dengan keuntungan semata, cenderung menganggap remeh halangan dan tantangan bikin festival musik. Berbekal pernah bikin event satu dua kali, mereka dengan nekad mencoba peruntungan bikin festival.</p>



<p>Mereka mungkin tak membayangkan bahwa <em>habit</em>, alias sifat festival itu berbeda dengan event seperti konser. Secara hari acara, jumlah penampil, jumlah panggung, hingga pengurusan izin, festival punya kerumitan yang lebih besar ketimbang konser.</p>



<p>Repotnya, karena masih dalam tahap awal penggelembungan, belum ada satu badan yang bisa jadi semacam <em>event watch</em>. Akibatnya, semua orang yang punya modal kapital, bisa dengan mudah membuat festival musik meski mereka gak punya pengalaman dan kemampuan bikin festival.</p>



<p>Hasilnya ya sudah bisa ditebak. Kacau. Acara tak berjalan lancar. Penampil dibatalkan. Festival tak sesuai SOP, dll. Dalam catatanku, sudah ada beberapa festival musik yang gagal atau berjalan dengan buruk hingga memancing kekecewaan dan kemarahan banyak orang. </p>



<p>Sebut saja Tegal Amazing Festival yang dibatalkan H- beberapa jam. Berdendang Bergoyang yang hebohnya bikin efek domino: banyak festival terancam dibatalkan atau ditunda. Playlist Live Festival di Bandung yang juga bikin ngamuk banyak penonton. Hingga yang terbaru: Fosfen Festival di Bandung yang tak memenuhi kewajiban pada para penampil, dan berujung penyelenggara menghapus semua konten di Instagram mereka, menyisakan satu postingan minta maaf bahwa acara ditunda.</p>



<p>Kehadiran Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) adalah langkah awal yang bagus. Sebagai asosiasi promotor musik satu-satunya di Indonesia dan berisikan promotor besar dengan segudang pengalaman, mereka bisa menghadirkan pengetahuan dan diseminasi ide serta wawasan soal festival. Mereka harusnya juga bisa saling membantu satu sama lain, kolaborasi, bukan kompetisi. </p>



<p>Tapi mereka belum punya kewenangan besar, seperti mem-<em>blacklist</em> nama promotor/ EO amatir nan curang nan culas nan nakal nan brengsek. Sampai sekarang, sistem yang berlaku ya seleksi alam dan hukum rimba. Jika ada event gagal, media sosial ramai, penonton marah-marah, tapi ya sebatas di situ saja. Belum ada upaya menunjuk orang-orang yang bertanggung jawab terhadap kegagalan/ keruwetan sebuah festival/event musik.</p>



<p>Aku membayangkan beberapa tahun ke depan APMI bisa bekerjasama dengan pemberi izin (idealnya satu pintu, diurus oleh orang-orang berkompeten), untuk membuat semacam standar jenjang pemberian izin bagi promotor/EO yang mau bikin acara.</p>



<p>Misalkan ada satu promotor baru ingin membuat event dengan jumlah penonton 10.000 orang. Pihak pemberi izin bisa punya kewenangan memeriksa latar belakang promotor ini: apakah mereka pernah bikin event sebelumnya, berapa jumlah penonton di acara sebelumnya, seperti apa jalannya acara di masa lalu, apakah event mereka sukses atau tidak, dll. Lalu mereka juga bisa memeriksa apakah penyelenggara sudah punya cukup sponsor atau dana untuk bikin festival. </p>



<p>Jika <em>background check </em>sudah beres, maka kasih lampu hijau izin. Dan setelah sukses bikin beberapa event dengan skala sama, maka mereka bisa naik tingkat: berhak mengadakan konser dengan 15.000 penonton.</p>



<p>Sebaliknya, jika beberapa kali bikin event gagal, promotor bisa di-<em>banned</em>, bahkan bisa sampai ke nama pendiri yang izin menyelenggarakan acaranya bisa dicabut.</p>



<p>Lagi-lagi, ini baru bayangan. Sebab bikin SOP seperti itu perlu penggodokan yang matang dan perencanaan yang tak sebentar.</p>



<p>Tapi kupikir semua sepakat, bahwa promotor amatir, semaunya sendiri, serampangan, culas, nekad, itu seharusnya tak diberi ruang gerak. Sebab mereka tak hanya merugikan penonton, artis, atau vendor. Mereka juga membahayakan ekosistem festival dan event musik di Indonesia yang sekarang sedang kembali berkembang.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/amatir/">Amatir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/amatir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4849</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dobel</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/dobel/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/dobel/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2022 12:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/dobel/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Satu waktu, aku pernah membeli komik dalam jumlah banyak dari sebuah rental yang tutup di Jember. Agar menghemat ruang di rumah yang luasnya terbatas itu, aku menaruh sebagian besar komik [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/dobel/">Dobel</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Satu waktu, aku pernah membeli komik dalam jumlah banyak dari sebuah rental yang tutup di Jember. Agar menghemat ruang di rumah yang luasnya terbatas itu, aku menaruh sebagian besar komik itu di kantor.</p>



<p>Kesalahan besar.</p>



<p>Entah siapa yang jadi pelaku, sebab maling tak ada yang mau mengaku, sebagian komik itu lenyap. Yang paling bikin sebal: salah satu yang diciak adalah satu set <em>Monster</em> karya Naoki Urasawa. Itu komik langka yang sampai sekarang tak pernah dicetak ulang di Indonesia.</p>



<p>Tahu kabar itu, Mas Zen yang amat menghargai buku sekaligus kuncen di kantor, ngamuk bukan kepalang. Dia sampai menumpahkan kemarahan itu di grup kantor. Marahnya melebihi omelan kalau reporter luput menulis berita penting. Tak ada yang berani merespons tentu saja.</p>



<p>Kalau maling ngaku, penjara bakal penuh.</p>



<p>Pengalaman buruk itu kemudian menanamkan satu paham yang mengakar di alam bawa sadar. Sampai sekarang.</p>



<p>Kalau ada rejeki, bolehlah punya buku/ komik bagus dobel.</p>



<p>Sebelum pengalaman <em>Monster</em> yang raib itu, aku hampir tak pernah punya buku/ komik dobel. Buat apa? Pemborosan sekaligus mubazir, toh yang dibaca hanya satu. Meski mungkin sampulnya bisa berbeda, hampir pasti isinya sama.</p>



<p>Dari sana pelan-pelan aku mengumpulkan buku atau komik dobelan. Tentu tak semua akan kudobel. Kriteria paling penting: kelangkaan. Kalau buku atau komik itu mudah ditemui di lapak offline maupun online, kupikir tak perlu didobel.</p>



<p>Kriteria penting kedua: harga. Ada buku atau komik langka yang layak untuk kudobel karena langka, tapi sering kuurungkan karena harganya menembus langit.</p>



<p>Ambil contoh: <em>Master Keaton</em>. Ini komik favoritku sepanjang masa. Punyaku adalah warisan dari ayah, dibeli di medio 90-an, kini masih dalam kondisi baik dan layak baca, tapi dengan sobek dan lecek di sana-sini karena keseringan dibaca.</p>



<p>Untuk beli dobelannya, aku masih enggan. Harga pasaran satu set <em>Master Keaton</em> berisi 10 jilid bisa lebih dari Rp800 ribu. Kalau dalam kondisi ekstra prima, bisa lebih dari Rp1 juta. Aku masih belum mau menebusnya dengan harga segitu, lebih baik kupakai untuk membeli komik lain.</p>



<p>Kebiasaan mencari dobelan ini kemudian membawa aku menekuni hobi baru: mengetik nama penulis/ pengarang favoritku di Tokopedia. Hampir tiap hari itu aku lakukan. Hasilnya menakjubkan, sih. Kadang aku nemu buku atau komik yang tak kupikir ada, kadang dapat buku atau komik untuk dobelan yang harganya murah.</p>



<p>Seperti buku langka <em>Di Etalase </em>karya Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch yang kharismatik itu. Dulu aku dapat eksemplar pertamaku dengan cara yang terbilang ajaib: ia terserak begitu saja di satu tumpukan sebuah pameran buku murah di Jogja. Hanya satu eksemplar, tak ada yang lain. Langsung aku sambar. Harganya: Rp10 ribu.</p>



<p>Nasib baik menaungi buku itu. Sebab meski ada beberapa klepto buku yang main ke kontrakanku dan mengincar buku itu, tak ada yang benar-benar mengambilnya. Buku itu sekarang ada di Jember bersama buku-buku yang kukirim dari Jogja waktu aku selesai kuliah.</p>



<p>Beberapa hari lalu, sembari menunggu kantuk, aku iseng mengetik Ugoran Prasad di bilah pencarian. Selain buku <em>Kumpulan Budak Setan</em> yang beberapa kali dicetak ulang itu, mataku menumbuk <em>Di Etalase</em>. Hanya ada dua eksemplar <em>Di Etalase</em> di seluruh penjuru Tokopedia (aku sering mengandaikan lokapasar berwarna hijau itu sebagai toko buku yang luas dan besar, mungkin seperti kumpulan Waterstones di satu tempat). </p>



<p>Satu penjual membanderolnya Rp200 ribu. Satu lagi, seperlimanya.</p>



<p>Dalam waktu kurang dari 2 menit, buku itu sudah aku bayar. Sehari kemudian, ia sampai. Asli, baru, masih segel.</p>



<p>Di hari bersamaan, aku juga mengetik Sri Owen, salah satu pandit yang mula-mula mengenalkan kuliner Indonesia ke dunia dari era 1970-an. Bukunya yang paling legendaris adalah <em>Indonesian Regional Food &amp; Cookery</em>, pertama terbit pada 1980 (kalau gak salah).</p>



<p>Lha, ternyata ada. Harganya murah pula, jauh di bawah Rp100 ribu. Aku kemudian langsung menebusnya tanpa perlu pikir panjang. Sekarang ada dua judul itu di rak kami. </p>



<p>Anggap saja ini langkah pencegahan, juga jaga-jaga kalau ada alap-alap buku yang mengintai dan menggondolnya diam-diam.</p>



<p></p>



<p></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/dobel/">Dobel</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/dobel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4825</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Rio</title>
		<link>https://nuranwibisono.net/rio/</link>
					<comments>https://nuranwibisono.net/rio/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nuran Wibisono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2022 17:32:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nuranwibisono.net/rio/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalau ada orang kiri paling rileks yang kukenal, Rio Apinino mungkin ada di daftar paling atas &#8211;baru disusul Windu. Suatu hari, Rio datang sebagai editor di Kemang Timur. Kupikir dia [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/rio/">Rio</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kalau ada orang kiri paling rileks yang kukenal, Rio Apinino mungkin ada di daftar paling atas &#8211;baru disusul Windu.</p>



<p>Suatu hari, Rio datang sebagai editor di Kemang Timur. Kupikir dia lebih tua dari aku. Kumis dan rambut gondrongnya membuat penampilannya tampak lebih dewasa ketimbang usia sebenarnya.</p>



<p>Aku kaget ketika tahu dia masuk kuliah angkatan 2010. Lima tahun di bawahku. Bahkan Rio lebih muda ketimbang Taher, reporter #01 di sini.</p>



<p>Dengan segera, Rio menemukan habitatnya. Dia setipe dengan bromocorah di sini. Baik bacaannya, hingga sifatnya.</p>



<p>Aku kemudian tahu kalau Rio adalah editor IndoProgress, situs kiri yang amat populer dan konsisten itu. Ia tak sendirian di sana. Ada Fildzah, istrinya, yang turut jadi editor.</p>



<p>Dua orang ini pasangan yang lucu dan menyenangkan. Kalau ingatanku belum lapuk, Fildzah adalah senior Rio di kampus jaket kuning. Mereka kemudian aktif menentang penggusuran para pedangang di Stasiun Universitas Indonesia. Perlawanan mereka berjalan cukup lama. Sempat ramai diberitakan di berbagai media juga, ketika mereka menggalang para pedagang untuk menutup Stasiun UI (?)</p>



<p>Pada akhirnya, mereka kalah. Para pedagang terusir. Tapi toh mereka sudah melawan sebaik-baiknya. </p>



<p>Meski demo usai, tidak demikian dengan kisah Rio dan Fildzah. Mereka pacaran, kemudian menikah. Lulus dari kampus, mereka berjalan di ranah berbeda. Fildzah yang memang sangat suka sekolah &#8211;memang ada jenis-jenis manusia begini&#8211; memutuskan untuk jadi peneliti dan berlabuh di lembaga riset milik negara. Sedangkan Rio yang lebih bebas dan agak nyeni, jadi wartawan.</p>



<p>Singkat kata, setelah bekerja di sebuah perusahaan media di bilangan Senayan, Rio melipir makin ke Selatan. Ke kantor kami yang secara ukuran sumber daya, juga daya jangkau di dunia maya, jauh lebih kecil.</p>



<p>Rio sepertinya lebih betah di kantor baru ini. Kultur kerjanya memang melenakan. Kamu seperti jadi mahasiswa lagi. </p>



<p>&#8220;Gak kerasa ya, gue sudah lima tahun kerja di sini,&#8221; ujar Rio semalam.</p>



<p>Salah satu momen yang paling aku ingat dari Rio adalah ketika rombongan KemTim ini melancong ke Bali. Itu sepertinya jadi perjalanan kantor yang melenceng jauh sekali. Tak ada agenda-agenda klise seperti outbond, renungan malam, dsb dst.</p>



<p>Ketika rombongan sampai, Bhaga, Gery, juga Panjul sudah melipir cari bar. Mereka baru keluar dari nirwana bagi para peminum itu ketika sudah waktunya check in hotel.</p>



<p>Kami semua mencar sesuai agenda masing-masing. Ada yang khusyuk minum. Ada yang mencari babi guling. Ada yang ke pusat perbelanjaan. Ada juga yang pacaran. Bebas. Kami seperti rombongan anak TK yang dilepas di taman bermain nan besar. </p>



<p>Malamnya, banyak dari kami yang kumpul di pantai belakang hotel. Tentu saja ada alkohol di sana. Para bos yang sungkan ikut minum bareng, korsa dengan menyodorkan lembaran Pak Soekarno-Hatta ke bendahara. </p>



<p>Di sana aku melihat Panji yang sudah miring-miring, main tebak chord lagu dengan Gery dan Pepeb. Panjul, seperti biasa, berjalan sendirian, matanya menerawang, entah mikir apa.</p>



<p>Lalu Rio?</p>



<p>Rio yang matanya sudah setengah menutup itu, berceramah soal Karl Marx, Hegel, dan siapa lah itu. Gobloknya, racauan itu dibantah oleh yang lain. Lalu mereka debat dengan ketawa-ketawa.</p>



<p>Di tengah perdebatan itu, tiba-tiba Rio berdiri, lalu meragakan orang sedang surfing sembari nyengir lebar sekali.</p>



<p>&#8220;Wuiii. Gue bisa surfing nih. Anjing, hebat banget gue.&#8221;</p>



<p>Aku yang sadar, berguling-guling ketawa sampai sakit perut.</p>



<p>Rio dan Fildzah sepertinya dua dari sedikit sekali orang kiri muda yang rileks. Mereka masih bisa bicara ideologi dengan santai dan ketawa-ketawa. Mereka cuma cengengesan sambil mendebat kecil, kalau ada yang bilang gerakan kiri di Indonesia sudah mentok dan susah berkembang.</p>



<p>Kupikir perlu ada orang-orang seperti Rio dan Fildzah yang pembawaannya lebih rileks jika bicara ideologi, sembari terus memasok ide-ide kiri progresif, dan turba, tentu saja. </p>



<p>Fildzah sendiri orangnya sangat komikal. Berkebalikan dengan Rio yang lebih tenang dan kalem, istrinya lebih ekspresif, lebih lantang, tegas, berani (Rio cerita kalau istrinya pernah mengacungkan jari tengah ke rombongan partai penguasa Depok yang saat itu sedang <em>long march</em> di Margonda. Rio ketakutan sepertinya, haha, tapi Fildzah cuek saja), tapi doyan banget tertawa. </p>



<p>Kadang kami meledek Rio sebagai suami yang takut istri. Tentu kebenarannya tidak seperti itu. Rio sayang sekaligus menghormati istrinya sebagai partner setaranya, dan mungkin rekan satu ideologinya.</p>



<p>Tapi tentu saja kami masih suka meledeknya seperti itu. Namanya juga berkawan. Keluar sedikit dari jalur <em>political correctness</em> boleh, lah. Kalau sudah begitu, Fildzah akan membela diri plus suaminya, dan Rio akan cengengesan saja.</p>



<p>Semalam kami mengadakan perpisahan di Madrasah &#8211;kantor baru kami yang ditempati sejak awal pandemi. Di lantai dua yang sudah dijalari tumbuhan merambat itu, kami beli sate ayam, martabak telur dan manis, juga minuman bergula tinggi, sembari ngobrol ngalor ngidul. Dari kripto, sampai calon Presiden 2024.</p>



<p>Fildzah akan mengambil studi doktoral di SOAS, London. Ini sekolah yang sama ketika dia mengambil master. Jika dulu Rio tak ikut karena durasi studi yang cuma setahun, kali ini Rio ikut. Empat tahun terlalu lama untuk dijalani berjauh-jauhan terpisah zona waktu.</p>



<p>Kami menodong Rio untuk pidato. Padahal ya sebenarnya dia tidak resign. Dia masih akan bekerja di kantor ini, tapi ya dia dari London. Di pidatonya, Rio bilang kami semua lebih dari sekadar kolega, melainkan teman. Ini sesuatu yang belum pernah dia alami sebelumnya.</p>



<p>Kupikir ini adalah pujian yang paling menyenangkan. Sebab pekerjaan dan jabatan itu fana, perkawanan itu abadi (yaaa, walau banyak juga yang enggak, sih).</p>



<p>Selamat jalan, Rio dan Fildzah. Selamat menempuh petualangan baru di London. Sehat selalu, stay cengengesan. Sampai jumpa di London. Tahun depan, mungkin?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" width="1024" height="813" src="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_2022-09-08-00-34-41-476_com.instagram.android-01-1024x813.jpeg" alt="" class="wp-image-4819" srcset="https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_2022-09-08-00-34-41-476_com.instagram.android-01-1024x813.jpeg 1024w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_2022-09-08-00-34-41-476_com.instagram.android-01-300x238.jpeg 300w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_2022-09-08-00-34-41-476_com.instagram.android-01-768x610.jpeg 768w, https://nuranwibisono.net/wp-content/uploads/2022/09/Screenshot_2022-09-08-00-34-41-476_com.instagram.android-01.jpeg 1079w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net/rio/">Rio</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://nuranwibisono.net">Foi Fun!</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nuranwibisono.net/rio/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4818</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
