RIP Akira Toriyama

Dalam sejarah panjang belanja online, aku hanya mengalami satu kali ditipu.

Untuk urusan belanja online, aku memang selalu hati-hati. Belanja di marketplace terpercaya, di medsos pun beli yang meyakinkan, dan selalu ingat petuah: if it’s too good to be true, it probably fraud. Aku selalu mengamalkan itu semua, dan berhasil membuatku terhindar dari penipuan.

Kecuali hari itu, tanggal 13 Februari 2019, ketika aku tergoda membeli satu set komik Dragon Ball seharga Rp350 ribu di Instagram. Semua pertahananku runtuh ketika melihat satu set komik buatan Akira Toriyama itu.

Aku langsung tanya apa barang masih ada. Dan ketika penjual bilang ada, aku langsung transfer tanpa berpikir panjang. Seperti terhipnotis.

Setelah transfer, tiba-tiba perasaan tak enak. Benar saja, nomorku diblok, begitu pula di akun Instagram. Asuuuu.

Dragon Ball jadi bagian penting dalam hidupku, bahkan sampai sekarang. Mengenalnya pertama via terbitan Rajawali Grafiti, dengan terjemahan ugal-ugalan dan nama karakternya yang diubah sesuka hati. Son Goku jadi Son Wu Kong, Yamucha/ Yamcha jadi Lhok Pin, Ten Shin Han jadi Aizu, Kuririn jadi Kholin, dan yang paling lucu: Burma jadi… Putri.

Cuk 🤣

Ayah lantas tak pernah absen membeli Dragon Ball tiap terbit. Ketika aku operasi amandel, ayah langsung membelikan beberapa jilid sebagai teman pasca operasi. Tapi tentu saja, dengan lekas jilid-jilid itu hilang tiada bekas karena dipinjam tetangga. Berkali-kali aku berusaha mengumpulkan lagi, sebanyak itu juga hilang lagi.

Maka tiap ada kesempatan dan dana, kalau ada yang menjual komik Dragon Ball cetakan lama, aku pasti beli.

Dragon Ball jadi menarik buatku karena bagaimana Toriyama Sensei mengemas karakter dan dunianya. Ia memenuhi imajinasi bocah kecil tentang perjalanan antar galaksi, juga berhasil membuat aku membayangkan punya kekuatan super yang datang dengan latihan dan kerja keras —bukan karena gift atau garis keturunan, misalkan.

Begitu pula arc yang ada di Dragon Ball. Tiap pembabakan terasa punya kekuatan khas, juga karakter ikonik. Ini lengkap dengan character development yang seringkali menikung tajam. Piccolo, dari monster ambisius dan kejam, bisa menjadi sosok kebapakan bagi Gohan. Atau Bhu dari emotionless monster pelan-pelan jadi sosok penuh empati dan rela mengorbankan diri demi orang yang dikasihi. Dan tentu saja Bezita, rival sekaligus sahabat Go Ku yang setelah beberapa kelokan hidup jadi protagonis yang penuh kejutan.

Aku juga suka bagaimana Toriyama seolah memisahkan problem hidup ketika Go Ku masih kecil, remaja, dan ketika dewasa. Ketika kecil, masalah Go Ku terkesan sepele (walau ini debatable), dan semua kepelikan hidup dan musuhnya menjadi lebih besar dan berbahaya seiring berjalannya waktu.

Maka tak salah mengatakan kalau Dragon Ball adalah manga yang bertumbuh dengan baik, dan diakhiri dengan pantas pula (meski banyak orang tak puas dengan akhirnya).

Akira Toriyama berpulang tanggal 1 Maret, dan baru diumumkan pada publik tanggal 8 Maret. Sontak, banyak orang sedih dan mengisahkan betapa karya-karya Toriyama begitu berpengaruh dalam hidup mereka.

Aku juga ingin ikut menulis pendek tentang beliau, sembari membaca ulang Dragon Ball, entah ini sudah keberaparatus kali.

Terima kasih Akira Toriyama atas karyamu yang menemani sepanjang hidup!

Leave a Reply

Your email address will not be published.